Claim Missing Document
Check
Articles

ETNOBOTANI AKAR BAJAKAH STUDI KASUS DESA TABUK HULU KALIMANTAN BARAT Andika, Sergio Rendy; Kartikawati, Siti Masitoh; Muflihati, Muflihati
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 1 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v13i1.87809

Abstract

The bajakah plant is a liana that belongs to Fabaceae family. The bajakah plant has characteristics of a large, sturdy, strong trunk and has various color of sap such as yellow, red, and white, and can grow to a height of up to 50 meters. The Mualang Dayak tribe in Tabuk Hulu Village possesses ancestral local knowledge in utilizing bajakah plants, from their usage to the processing methods employed by the community in Tabuk Hulu Village. Therefore, the aim of this research is to describe the local knowledge of the Mualang Dayak tribe in Tabuk Hulu Village, Sekadau Regency, in utilizing bajakah plants. The method used in this research is a survey method with respondent sampling using the purposive sampling technique. The research results from 194 respondents identified 3 types of bajakah plants in Tabuk Hulu Village, namely yellow bajakah, red bajakah, and white bajakah. However, currently, only 2 types of bajakah are utilized by the community, namely red bajakah and white bajakah. The form of utilization of the bajakah plant by the community is for traditional medicine and the making of bajakah tea. Based on the UV analysis results, it shows that the most widely used bajakah plant by the community is the red bajakah with a percentage of (0.91%). Keywords: Bajakah Plant, Tabuk Hulu Village, Utilization. Abstrak Tumbuhan bajakah merupakan tumbuhan liana yang termasuk ke dalam famili Fabaceae. Tumbuhan bajakah memiliki karakteristik batang yang besar, kokoh, kuat dan memiliki warna getah yang bervariasi seperti warna kuning, merah dan putih serta dapat tumbuh dengan ketinggian hingga 50 meter. Masyarakat Suku Dayak Mualang di Desa Tabuk Hulu memiliki pengetahuan lokal yang sudah turun-temurun dalam memanfaatkan tumbuhan bajakah baik dari bentuk pemanfaatannya hingga bentuk pengolahan dari tumbuhan bajakah oleh masyarakat di Desa Tabuk Hulu sehingga tujuan dari penelitian ini yaitu mendeskripsikan pengetahuan lokal masyarakat Suku Dayak Mualang di Desa Tabuk Hulu Kabupaten Sekadau dalam memanfaatkan tumbuhan bajakah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dengan pengambilan sampel responden menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian dari 194 responden ditemukan 3 jenis tumbuhan bajakah yang ada di Desa Tabuk Hulu yaitu bajakah kuning, bajakah merah dan bajakah putih. Namun untuk sekarang hanya 2 jenis bajakah yang dimanfaatkan oleh masyarakat yaitu bajakah merah dan bajakah putih. Bentuk pemanfaatan tumbuhan bajakah oleh masyarakat yaitu digunakan untuk pengobatan tradisional dan pembuatan teh bajakah. Berdasarkan hasil analisis UV menunjukkan bahwa tumbuhan bajakah yang paling banyak digunakan oleh masyarakat adalah bajakah merah dengan persentase sebesar 0,91%. Kata kunci: Tumbuhan Bajakah, Desa Tabuk Hulu, Pemanfaatan
IDENTIFIKASI SPESIES BEGONIA DI KAWASAN CAGAR ALAM GUNUNG NYIUT DESA PISAK KECAMATAN TUJUH BELAS KABUPATEN BENGKAYANG Yusup, Dandi; Kartikawati, Siti Masitoh; Tavita, Gusti Eva
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 3 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i3.71652

Abstract

Begonia is a herbaceous plant from the Begoniaceae family that grows in terrestrial and lithophytic habitats, i.e. lives on the banks of streams, limestone and sandstone and moist rock cliffs near airflow. Begonia plants can be found in lowland forests to hill forests. The distribution of begonias on the island of Borneo is estimated at 600 species. This study aims to identify the types of Begonias in the Gunung Nyiut Nature Reserve area, Pisak Village, Seventeen District, Bengkayang Regency by describing the morphological characteristics of the generative and vegetative organs. This study uses the exploratory method, namely exploring every corner of the research location that is in accordance with the object under study. Exploration was carried out by exploring research locations based on begonia habitats and by collecting and documenting the types of begonias found. The results of this study found 3 species of begonias, namely Begonia inobongensis Kiew., Begonia sp and Begonia congesta Ridl. Keywords: Begonia, Identification, Gunung Nyiut Nature Reserve. Abstrak Begonia merupakan tumbuhan terna dari famili Begoniaceae yang tumbuh pada habitat teresterial dan litofit, yaitu hidup pada tepian aliran sungai, batuan kapur dan batuan berpasir serta tebing-tebing batu yang lembab dekat aliran air. Cagar Alam Gunung Nyiut dengan hutan tropis dan keadaan ekosistem daerah rendah, ekosistem perbukitan serta tipe vegetasi tipe pegunungan yang berpotensi sebagai preferensi habitat begonia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis Begonia pada kawasan Cagar Alam Gunung Nyiut Desa Pisak Kecamatan Tujuh Belas Kabupaten Bengkayang dengan mendeskripsikan ciri morfologi organ generatif dan vegetatif. Penelitian ini menggunakan metode eksplorasi yaitu menjelajahi setiap sudut lokasi penelitian yang sesuai dengan habitat begonia. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah ditemukannya 3 spesies begonia yaitu Begonia inobongensis Kiew., Begonia sp dan Begonia congesta Ridl. Kata kunci: Begonia, Identifikasi, Cagar Alam Gunung Nyiut.
PENGETAHUAN LOKAL DAN PEMANFAATAN KRATOM DI DESA GURUNG KECAMATAN SEBERUANG KABUPATEN KAPUAS HULU Herawatiningsih, Ratna; Resti, Brigita Novita; Kartikawati, Siti Masitoh
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 1 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v13i1.98654

Abstract

Kratom is a type of endemic plant originating from Kalimantan which has been used traditionally for a long time. This research aims to examine local knowledge and explore the characteristics of the community in using kratom in Gurung Village. The benefits of this research are expected to be able to provide information regarding local knowledge and use of kratom in Gurung Village. The method used is a survey method with a census technique, namely by conducting interviews with all kratom farmers, it is known that the total number of kratom farmers is 23 people. Based on the age characteristics of the respondents who own and manage kratom land in this village, most are in the age group between 16-64 years (86.96%) where in this case the respondents are in a productive age. There are three local knowledge and uses of kratom studied, namely knowledge, norms and beliefs. The knowledge of the Gurung Village community regarding the use of kratom includes properties, habitat types, forest area determination, cultivation techniques, harvesting, post-harvest processes, processing, marketing and selling prices. The norms that apply in the use of kratom are that it is prohibited to pick kratom leaves during menstruation, it is forbidden to take kratom that grows around other people's yards or gardens without the permission of the owner because it can be subject to customary sanctions. the belief that there is that is presented at the time of gawai Dayak, and has the belief of pruning a kratom tree that is already tall. Keywords: Gurung Village, kratom, local knowledge. Abstrak Kratom merupakan salah satu jenis tumbuhan endemik yang berasal dari Kalimantan yang sejak dahulu sudah dimanfaatkan secara tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengetahuan lokal dan menggali karakteristik masyarakat dalam pemanfaatan kratom di Desa Gurung. Manfaat dari penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi mengenai pengetahuan lokal dan pemanfaatan kratom di Desa Gurung. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan teknik sensus yaitu dengan melakukan wawancara terhadap seluruh petani kratom, diketahui bahwa jumlah dari seluruh petani kratom berjumlah 23 orang. Berdasarkan karakteristik usia responden yang memiliki dan mengelola lahan kratom di desa ini paling banyak berada dalam kelompok usia antara 16-64 tahun (86,96%) dimana dalam hal ini responden berada pada usia yang produktif. Pengetahuan lokal dan pemanfaatan kratom yang diteliti ada tiga yaitu pengetahuan, norma dan keyakinan. Pengetahuan masyarakat Desa Gurung terhadap pemanfaatan kratom meliputi khasiat, jenis habitat, penentuan kawasan hutan, teknik budidaya, pemanenan, proses pasca panen, pengolahan, pemasaran dan harga jual. Norma yang berlaku dalam pemanfaatan kratom yaitu dilarang memetik daun kratom pada saat datang bulan, dilarang mengambil kratom yang tumbuh disekitaran pekarang rumah atau kebun orang lain tanpa seijin dari pemiliknya karena bisa dikenakan sanksi adat. keyakinan yang ada yaitu disajikan pada saat gawai dayak, dan memiliki kepercayaan memangkas pohon kratom yang sudah tinggi. Kata kunci: Desa Gurung, Kratom,Pengetahuan lokal.
STRATEGI PENGEMBANGAN EKOWISATA DI DESA ENSAID PANJANG KABUPATEN SINTANG Pradika, Carteus Bima; Kartikawati, Siti Masitoh; Muflihati, Muflihati
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 2 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v13i2.87788

Abstract

Ensaid Panjang Village is one of the villages in Sintang Regency that has various natural and local cultural potentials that can be developed into ecotourism destinations.. Research was conducted to examine strategic issues, examine internal and external factors and formulate development strategies based on SWOT analysis. The research was conducted in Ensaid Panjang Village, Sintang Regency, Kelam Permai District, West Kalimantan. Data collection was carried out by observation, documentation and interviews obtained from Key Person and Accidental Sampling used to interview visitors. The results showed that Ecotourism in Ensaid Panjang Village is in quadrant 1 which shows that the right strategy to develop tourism is to use strengths as opportunities such as making tour packages, using government support to improve facilities, and utilizing tourism as educational material. Keywords: Ecotourism, Ensaid Panjang, and SWOT Abstrak Desa Ensaid Panjang merupakan salah satu desa di Kabupaten Sintang yang memiliki berbagai potensi alam dan budaya lokal yang potensial dikembangkan untuk destinasi ekowisata. Penelitian dilakukan untuk mengkaji isu-isu strategi, mengkaji factor internal dan eksternal dan merumuskan strategi pengembangan berdasarkan analisis SWOT. Penelitian dilaksanakan di Desa Ensaid Panjang Kabupaten Sintang, Kecamatan Kelam Permai, Kalimantan Barat. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, dokumentasi dan wawancara yang diperoleh dari Key Person dan Accidental Sampling yang digunakan untuk mewawancarai pengunjung.Hasil Penelitian menunjukan bahwa Ekowisata yang berada di Desa Ensaid Panjang berapada pada kuadran 1 yang menunjukan bahwa Strategi yang tepat untuk mengembangkan wisata adalah menggunakan kekuatan sebagai peluang seperti membuat paket wisata, menggunakan dukungan pemerintah untuk meningkatkan fasilitas, dan memanfaatkan wisata sebagai bahan edukasi. Kata kunci: Ekowisata, Ensaid Panjang, dan SWOT
PENILAIAN POTENSI DAYA TARIK WISATA ALAM RIAM PALAYO DESA CIPTA KARYA KECAMATAN SUNGAI BETUNG KABUPATEN BENGKAYANG Siahaan, Sarma; Meriyana, Meriyana; Kartikawati, Siti Masitoh
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 2 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v13i2.82248

Abstract

Riam Palayo is mostly known to the people of Bengkayang Regency, but there has been no study assessing the potential of the Riam's tourist attraction. The aim of the research is to obtain the potential value of natural tourist attractions. The method used is a survey method with observation and interview techniques using a questionnaire. The sample was taken as many as 66 respondents using accidental sampling and purposive sampling techniques. Data processing uses the data scoring method in accordance with the 2003 Natural Tourism Objects and Attractions (ODTWA PHKA) guidelines. The results of the assessment of Riam Palayo's natural tourism potential consist of Tourist Attraction (B), Accessibility (B), Socio-Economic Conditions (A), Accommodation (A), Visitor Facilities and Infrastructure (A), Availability of Clean Water (A). The ODTWA Alam Riam Palayo calculation results obtained a score of 561.29, meaning that it has enough potential to be developed as a natural tourist attraction, but it still needs to improve accessibility and maintain the existence of the attraction. Keyword: Cipta Karya Village, Riam Palayo, Tourist Attraction, Tourism Potential Abstrak Riam Palayo sebagian besar dikenal masyarakat Kabupaten Bengkayang namun belum ada kajian penilaian potensi daya tarik wisata Riam tersebut. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan nilai potensi daya tarik wisata alam. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan teknik observasi dan wawancara menggunakan kuesioner. Pengambilan sampel sebanyak 66 responden menggunakan teknik Accidental sampling dan Purvosive sampling . Pengolahan data menggunakan metode Skoring data sesuai pedomana Objek dan Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA PHKA) tahun 2003. Hasil penilaian potensi wisata alam Riam Palayo terdiri dari Daya Tarik Wisata (B), Aksesibilitas (B), Kondisi Sosial Ekonomi (A), Akomodasi (A), Sarana dan Prasarana Pengunjung (A), Ketersediaan Air Bersih (A). Hasil perhitungan ODTWA Alam Riam Palayo diproleh skor 561,29, artinya cukup potensial untuk dikembangkan sebagai objek wisata alam, namun masih perlu peningkatan perbaikan aksessibilitas dan mempertahankan keberadaan daya tarik . Kata kunci: Desa Cipta Karya, Riam Palayo, Daya Tarik Wisata, Potensi Wisata
PENINGKATAN PEMAHAMAN MASYARAKAT DESA SEKITAR KAWASAN HUTAN DENGAN TUJUAN KHUSUS MENGENAI FUNGSI, MANFAAT DAN NILAI HUTAN Roslinda, Emi; Kartikawati, Siti Masitoh; Widiastuti, Tri
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 1 (2025): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i1.28253

Abstract

Abstrak: Desa Retok adalah salah satu desa di sekililing kawasan hutan dengan tujuan khusus (KHDTK) Universitas Tanjungpura. Untuk mendukung pengelolaan KHDTK yang berkelanjutan, masyarakat Desa perlu mengetahui fungsi, manfaat, dan nilai (ekonomi, sosial dan lingkungan) yang terkandung di dalam hutan, yang selama ini semuanya diperoleh secara gratis, sehingga seringkali terabaikan untuk melestarikan hutannya. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya fungsi dan manfaat hutan dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia. Metode yang diterapkan adalah metode diskusi secara interaktif. Antusiasme peserta untuk memahami materi yang disampaikan dapat dilihat melalui praktek dan diskusi yang berlangsung. Mitra pelatihan adalah Ibu PKK dari 5 dusun sejumlah 25 orang, Dimana lebih mengenal nilai ekonomi yang terkandung dari manfaat hutan yang mereka ambil. Hasil evaluasi kegiatan PKM menunjukkan terjadi perubahan pengetahuan yang sangat signifikan (52%) dari peserta pengabdian kepada masyarakat ini mengenai fungsi, manfaat dan nilai hutan melalui penyebaran kuesioner. Perubahan pengetahuan ini diharapkan dapat mendukung kegiatan pengelolaan KHDTK ke depannya.Abstract: Retok Village is one of the villages around the special purpose forest area (KHDTK) of Tanjungpura University. To support sustainable KHDTK management, the village community needs to know the function, benefits, and values (economic, social, and environmental) contained in the forest, which have been obtained for free, so they are often neglected to preserve their forests. This community service activity aims to provide an understanding of the importance of the function and benefits of forests in meeting human life needs. The method applied is an interactive discussion method. The participants' enthusiasm for understanding the material presented can be seen through practice and discussion. The training partners were PKK mothers from 5 hamlets totaling 25 people, who were more familiar with the economic value contained in the forest benefits they took. The results of the PKM activity evaluation showed a very significant change in knowledge (52%) of the participants in this community service regarding the economic, social, and environmental values of forest benefits through the distribution of questionnaires. This change in knowledge is expected to support KHDTK management activities in the future.
PEMANFAATAN TUMBUHAN LOKAL SEBAGAI OLAHAN PANGAN UNTUK MEMPERKUAT PEREKONOMIAN MASYARAKAT Destiana, Destiana; Azahra, Siva Devi; Lestariningsih, Siti Puji; Kartikawati, Siti Masitoh
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 3 (2024): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i3.23084

Abstract

Abstrak: Umbut kelapa merupakan bagian dari tumbuhan kelapa yang terletak pada bagian ujung batang yang jika terus tumbuh akan menjadi pelepah dan daun, bagian ini berada di empulur batang, bertekstur lembut dan memiliki rasa yang manis. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pemanfaatan umbut kelapa sebagai alternatif produk olahan pangan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat dilakukan di Desa Peniti besar Kecamatan Segedong Kabupaten Mempawah, peserta kegiatan ini diikuti oleh kelompk Ibu-ibu PKK sebanyak 35 orang. Adapun metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah dengan cara menyampaikan sosialisasi kepada masyarakat dan sistem evaluasi dengan menggunakan kuisoner yang dilakukan diawal dan diakhir kegiatan. Hasil pelaksanaan kegiatan menggambarkan adanya perubahan informasi dan pemahaman tentang pemanfaatan umbut kelapa menjadi olahan pangan berbentuk kelapa dari yang sebelumnya 17% menjadi 100%, pemahaman tingkat kesulitan pembuatan umbut kelapa menjadi olahan pangan yanga awalnya sebesar 63% menyatakan sulit menjadi 10% dan ketertarikan berusaha sebesar 27% menjadi 73%.Abstract: The coconut sheath is part of the coconut plant located at the end of the stem, which, if it continues to grow, will become fronds and leaves; this part is in the pith of the stem, has a soft texture, and has a sweet taste. This activity aims to increase the activity aims to increase community knowledge about using coconut tubers as an alternative processed food product to improve the surrounding community's economy. Community service activities were carried out in Peniti Besar Village, Segedong District, and Mempawah Regency, and the participants of this activity were attended by a group of 35 mother Family Empowerment and Welfare (PKK). The method used in this activity is delivering socialization to the community, and the evaluatioj system is used, using questionnaries conducted at the beagining and the end of the activity. The results of the implementation of the activity illustrate a change in information and understanding of the utilization of coconut tubers into processed food in the form of coconut from the previous 17% to 100%, understanding the level of difficulty in making coconut tubers into processed food,which initially 63% to 10%, and interest in trying 27% to 73%.