Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Struktural Cerpen “Bengawan Solo” Karya Danarto Melalui Pendekatan Objektif Tomi Pratama; Roma Kyo Kae Saniro
Vilvatikta: Jurnal Pengembangan Bahasa dan Sastra Daerah Vol. 3 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/vilvatikta.v3i1.240

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan keterkaitan unsur intrinsik cerpen “Bengawan Solo” karya Danarto melalui pendekatan objektif. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan sumber data primer berupa teks cerpen “Bengawan Solo”. Data berupa kata, frasa, kalimat, dialog, dan rangkaian peristiwa dikumpulkan melalui teknik baca dan catat. Analisis dilakukan dengan menyeleksi, mengelompokkan, menafsirkan, serta menghubungkan data berdasarkan kategori tema, tokoh dan penokohan, alur, sudut pandang, latar, gaya bahasa, dan amanat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerpen mengangkat tema kepedulian sosial yang berhadapan dengan kekerasan, ketidakpedulian, dan kecemasan kolektif bernuansa mistis. Tokoh Aku digambarkan sederhana, peduli, dan empatik; Nining tampil polos dan rentan; Pak Darkin temperamental; sedangkan Kiai Kintir misterius. Cerita menggunakan alur maju dan sudut pandang orang pertama pelaku utama. Latar Pasar Kliwon, Bengawan Solo, dan waktu malam tidak hanya menjadi tempat peristiwa, tetapi juga membentuk atmosfer sosial dan mistis. Gaya bahasa metaforis, ironis, dan imajis memperkuat daya sugesti cerita. Keseluruhan unsur tersebut membangun amanat bahwa kepedulian tidak ditentukan oleh kekayaan, empati perlu diwujudkan dalam tindakan, dan kekerasan terhadap pihak yang lemah harus ditolak. Kebaruan penelitian terletak pada pembacaan hubungan antarelemen secara terpadu, melengkapi kajian terdahulu yang lebih banyak menyoroti tindak tutur dan nilai moral cerpen.
Literary Festival as a Space for Tourism Literature: An Analysis of the Borobudur Writers and Cultural Festival Ivan Adilla; Roma Kyo Kae Saniro; Bayu Ade Prabowo; Andina Meutia Hawa; Putri Ayiendra Dinanti
Jurnal Pembelajaran Bahasa dan Sastra Vol. 4 No. 6 (2025): November 2025
Publisher : Raja Zulkarnain Education Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55909/jpbs.v4i6.1108

Abstract

Contemporary cultural tourism increasingly emphasizes narrative- and knowledge-based experiences, thus literature plays a strategic role as a medium for shaping destination meaning. In this context, literary festivals have the potential to function as tourism literary practices that integrate texts, places, and cultural experiences. This article aims to examine the Borobudur Writers and Cultural Festival as a tourism literary practice through a literary festival and explain its role in building literary and cultural-based tourism experiences. This research uses a qualitative approach with a descriptive-interpretive design. Data collection tools are sourced from documentation of the Borobudur Writers and Cultural Festival for the 2017–2024 period, covering the festival's theme, location, core program, and value orientation. Analysis is conducted through identification, classification, and interpretation of data using the theoretical framework of tourism literature and literary festival theory. The results show that the Borobudur Writers and Cultural Festival consistently places literary themes as the main narrative of tourism, positions the place as a literary place, and builds a knowledge-based tourism experience. The festival's thematic evolution demonstrates a shift from a symbolic-textual approach to heritage-based tourism literature and destination networks through the concept of a moving festival. The festival also expands the literary experience through intellectual figures, artistic transformations, and public academic dialogue.
Developing Intercultural Competence through Children’s Literature in German Language Learning Andina Meutia Hawa; Anne Pratiwi; Dyani Prades Pratiwi; Fakhria Nesa; Roma Kyo Kae Saniro; Ahmad Hamidi
Jurnal Bahastra Vol 10, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/bahastra.v10i2.13201

Abstract

Mastering a foreign language requires not only linguistic skills but also the development of intercultural competence. This study aims to analyze the use of the German children's novel entitled Emil und die Detektive by Erich Kästner as a medium for developing students' intercultural competence in German language learning in Indonesia. This study uses a descriptive qualitative approach with thematic analysis of literary works. Data in the form of narratives, dialogues, and character actions were collected through listening and note-taking, then analyzed using literary analysis with reference to Michael Byram's Intercultural Communicative Competence (ICC) framework. Data validity was strengthened through triangulation of sources and theories. The results of the study indicate that the novel Emil und die Detektive embodies values of intercultural understanding, such as independence, solidarity, honesty, vigilance, and equal relations between children and adults. These values have the potential to be integrated into German language learning through discussion activities, interpretive writing, and literary appreciation. Therefore, language learning is not only oriented towards linguistic mastery but also contributes to the development of empathy, interpretation skills, cross-cultural interaction, and critical cultural awareness in line with Byram's ICC model.
Representasi Diksi Bermuatan Kebencian dalam Komentar Instagram terhadap Akun Syekh Ahmad Al Misry: Kajian Linguistik Forensik andini; Apriwansyah Rymon Saputra; Andini Sewalra Widuna; Tiara Oktaviana Situmorang; Kelvin Pradifta Riadi; Hafizah Ramadhani; Roma Kyo Kae Saniro; Zahara Amirela Putri
Jurnal Edu Aksara Vol 5 No 1 (2026): Edu Aksara: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
Publisher : CV. Global Aksara Pers

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64499/eduaksara.v5i1.346

Abstract

Abstrak: Media sosial telah menjadi ruang publik digital yang memungkinkan pengguna mengekspresikan pendapat secara terbuka melalui fitur komentar. Namun, kebebasan berekspresi tersebut juga berpotensi melahirkan praktik komunikasi yang mengandung penghinaan, pelabelan negatif, dan ujaran bermuatan kebencian. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk dan fungsi penggunaan diksi bermuatan kebencian dalam kolom komentar Instagram terhadap akun Syekh Ahmad Al Misry. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan perspektif linguistik forensik. Data penelitian berupa komentar pengguna Instagram yang dikumpulkan melalui teknik observasi nonpartisipatif dan dokumentasi digital pada unggahan yang berkaitan dengan isu publik yang sedang berkembang. Data dianalisis melalui tahapan reduksi data, identifikasi bentuk diksi, kategorisasi berdasarkan fungsi pragmatik, dan interpretasi konteks sosial bahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan diksi dalam komentar cenderung terbagi ke dalam tiga bentuk dominan, yaitu (1) pelabelan negatif dan delegitimasi identitas, (2) sarkasme dan cemoohan melalui pemilihan leksikal bernilai peyoratif, serta (3) provokasi dan ekspresi agresif yang diarahkan pada pembentukan citra negatif terhadap subjek. Selain itu, ditemukan penggunaan istilah eufemistis dan slang sebagai strategi penyamaran ujaran yang tetap mempertahankan muatan evaluatif negatif. Temuan ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya menjadi sarana pertukaran opini, tetapi juga ruang pembentukan persepsi sosial melalui pilihan bahasa tertentu. Kata kunci: ujaran kebencian; linguistik forensik; media sosial; Instagram; diksi   Abstract: Social media has become a digital public space that allows users to express their opinions openly through the comment feature. However, this freedom of expression also has the potential to give rise to communication practices that contain insults, negative labeling, and hate speech. This study aims to analyze the forms and functions of the use of hate-filled diction in the Instagram comment column on the account of Sheikh Ahmad Al Misry. The study uses a descriptive qualitative approach with a forensic linguistic perspective. The research data consists of Instagram user comments collected through non-participatory observation techniques and digital documentation on posts related to developing public issues. The data were analyzed through the stages of data reduction, identification of diction forms, categorization based on pragmatic functions, and interpretation of the social context of language. The results of the study indicate that the use of diction in comments tends to be divided into three dominant forms, namely (1) negative labeling and identity delegitimization, (2) sarcasm and ridicule through the selection of pejorative lexical values, and (3) provocation and aggressive expressions aimed at forming a negative image of the subject. Furthermore, the use of euphemistic and slang terms was found as a strategy to disguise speech while maintaining negative evaluative content. This finding suggests that social media is not only a means of exchanging opinions but also a space for shaping social perceptions through specific language choices. Keywords: hate speech; forensic linguistics; social media; Instagram; diction
Co-Authors Adiputra Pratama, Bintang Aditia, Farel Aditya Rezeki Afifah Atika Afiya Ramadhani Juiza Ahmad Hamidi Ahmad Hamidi Aisya Andesti Alex Darmawan, Alex Alma Sadhrina Shani Alvin Pratama Andes Pernando N andini Andini Sewalra Widuna Angelia Malika Anggun Putri Herlina Anisa Dian Rahayu Anjani, Audrey Syakira Anne Pratiwi Aprilia Wulandari Apriwansyah Rymon Saputra Arbain, Armini Arrohim Tinendung, Salwa Aslinda Aslinda Atika, Afifah Attahira Kholifah Audrey Syakira Anjani Aura Lovery Triazhani Aurenza Triazdy Aviv Musthopa A Aziira, Aina Hubby Bayu Ade Prabowo Cahya Kamila Aulia F. Cesar Welya Refdi Christoper Manalu Damai Zefanya Pasaribu Danial Julianda Delisha Dita Winelda Dian Afifah Dian Rahayu, Anisa Dinda, Mutiara Donny Eros Dyani Prades Pratiwi Fadilla Novyta Sary Fadiyah Mawaddah Fakhria Nesa Felga Zulfia Rasdiana Ferdinand Sundapa Fikri Ahmad Trasuni Firly Fariza Firma Lara Oktavia Firyal Fauziah Ghina Syanmid Fit, Asa Fitri Agustia Friska Ainur Rohmah Habibah Nur Habibburrahman Habibburrahman Hafizah Ramadhani Hanifa, Septiara Harahap, Azhar Luthfiy Hasyif Raqi Al Fadhen Hawa, Andina Meutia Hidayat , Danny Hidayat, Dani Ihsan Hanafi, Muhammad Iqbal Akbar Jennof Ivan Adilla Kelvin Pradifta Riadi Kezie Aurella, Xendria Khairani, Ailla Khairany Aurellia Kurairah Anggun Salsabila M. Aliffio Arya Putra M. Hazim Al-Muafii.K M. Ibnu Jiwa Saputra M. Yusuf M. Yusuf Manalu, Christoper Maulana, Zaky Muhammad Adib Alfikri Muhammad Fhadhillah Akbar Muhammad Ihsan Hanafi Muhammad Ikhsan Muhammad Iqbal Abdi Lubis Muhammad Rifki Ilahi Muhammad Shohibul Wafa Mutiara Azzahra Mutiara Dinda Naila Arlena Putri Namira Azzahra Putriaji Nanda Gita Aurellia Nayaka Artalya Marela Nesa, Fakhria Noni Sukmawati Nurul Hidayah Okta Firmansyah Oktavia Rahmadani Prabowo, Bayu Ade Pujayeti Putri Putri Ayiendra Dinanti Putri, Diantri Seprina Rasya Triansyah Reniwati . reniwati reniwati Rizky Amelya Furqan Rori Islami Sandika Sabrina, Nabila Sadina, Kayana Salsabila, Tiara Salwa Arrohim Tinendung Salwa Hasanah, Nailah Salwa Yumna Faridah Sarah Nabila Ramadhani Sativo Yance, Bova Sensi, Faradilla Putri Septiara Hanifa Shelfi Diani Yustian Silmi Silmi Syafril syafril Tama, Duma Putri Tazkia Zahra Hamdani Tesalonika, Clarissa Tiara Oktaviana Situmorang Tomi Pratama Virgie Kayla Biyentami Vivi Indriyani Wahyu Rafi Aljais Wulan Sari Yulia Yulia Zahara Amirela Putri Zahwalia, Zahwalia Zulfitri, Amelya