Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Manajemen Kurikulum Merdeka dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di Smp Negeri 46 Merangin Robby Hidayat; Yulius Efendi; Riska Meisyi Putri; Anggia Pratiwi
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i2.15359

Abstract

The implementation of the Independent Curriculum requires effective management to improve the quality of education at the educational unit level. A curriculum that provides flexibility and is student-oriented requires planned, collaborative, and contextual management for optimal implementation. This study aims to understand the implementation of the Independent Curriculum management in improving the quality of education at SMP Negeri 46 Merangin, as well as to identify supporting and inhibiting factors in its implementation. The study used a qualitative descriptive approach with research subjects including the principal, vice principal for curriculum, and teachers. Data were obtained through interviews, observation, and documentation, then analyzed through the stages of data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results show that the Independent Curriculum management at SMP Negeri 46 Merangin is implemented through contextual curriculum planning, student-centered learning implementation, and the implementation of the Pancasila Student Profile Strengthening Project. This curriculum management contributes positively to increasing learning activity, learning quality, and strengthening student character. These findings confirm that the targeted and adaptive management of the Independent Curriculum plays a crucial role in achieving quality and sustainable education. Independent Curriculum, Curriculum Management, Education Quality
Researcher Reflexivity in the Post-Positivism Paradigm: A Systematic Literature Review Disa Sri Ilma; Andri Ani Suryawijaya; Yulius Efendi; Wahyu Arohman Hidyataullah; Riska Meisyi Putri; Anggia Pratiwi; Elfa Eriyani
Journal of Educational Management Research Vol. 5 No. 5 (2026)
Publisher : Al-Qalam Institue

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61987/jemr.v5i5.2825

Abstract

Researcher reflexivity has become an important principle within the post-positivist paradigm because it enhances transparency, integrity, and the quality of scientific inquiry. This study aims to analyze and synthesize the development of research on researcher reflexivity within the post-positivist paradigm, focusing on its conceptual development, implementation practices, contributions to research quality, and challenges in its application. This study employed a qualitative research design using the Systematic Literature Review (SLR) method based on the PRISMA 2020 guidelines. Relevant literature published between 2022 and 2026 was identified, selected, and analyzed through a thematic synthesis approach to explore patterns and emerging themes related to researcher reflexivity. The findings indicate that reflexivity has developed beyond a personal reflective process into a methodological strategy that strengthens research trustworthiness through credibility, dependability, confirmability, and transferability. The study implies that integrating reflexivity practices systematically can support more transparent, accountable, and rigorous research processes. Furthermore, this synthesis provides a conceptual foundation for researchers and scholars to develop improved methodological frameworks that recognize the researcher’s role in knowledge construction.
Building an Exemplary School Brand: Strategic Approaches to Enhancing Student Recruitment Riska Meisyi Putri; Wahyu Arohman; Nursalimah; Dismawati; Sugimin; Mardalena; Anggia Pratiwi
Journal of Educational Management Research Vol. 5 No. 5 (2026)
Publisher : Al-Qalam Institue

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61987/jemr.v5i5.2838

Abstract

This study aims to analyze strategies for building a school brand image to attract prospective students in the context of Islamic secondary education. A qualitative case study approach was employed to gain an in-depth understanding of institutional branding practices. Data were collected through observations, semi-structured interviews, and documentation, and were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña. The analysis was guided by Keller’s Brand Image theory, encompassing the dimensions of strength, favorability, and uniqueness of brand associations. The findings indicate that a positive brand image is developed through consistent academic and non-academic achievements, distinctive religious and character-building programs, qualified teachers, effective use of social media, and support from alumni and the surrounding community. Nevertheless, the institution continues to face challenges, including intense competition among schools, limited effectiveness of digital promotional strategies, insufficient alumni engagement, and persistent public perceptions regarding madrasah education. These findings imply that strengthening strategic branding, expanding digital communication, and fostering sustainable stakeholder collaboration are essential for enhancing institutional competitiveness and increasing prospective students’ enrollment interest in an increasingly competitive educational environment.
Peran Epistemologi dalam Penguatan Teori dan Praktik Manajemen Pendidikan: Perspektif Filsafat Ilmu Sugimin; Wiji; Himam Nur Wahidin; Anggia Pratiwi
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 6 No. 8 (2026): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v6i8.3586

Abstract

Di tengah pesatnya integrasi Kecerdasan Buatan dan data raya (big data) dalam tata kelola pendidikan, manajemen pendidikan menghadapi krisis validitas pengetahuan yang menantang otoritas kepemimpinan tradisional sekaligus menuntut reorientasi filosofis yang mendasar. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan rekonstruksi filosofis secara komprehensif terhadap peran epistemologi sebagai pilar filsafat ilmu dalam memperkuat landasan teoritis dan praktis manajemen pendidikan di era disrupsi digital. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif-reflektif melalui studi kepustakaan sistematis, penelitian ini mengevaluasi literatur terkini mengenai filsafat ilmu, epistemologi digital, dan manajemen pendidikan Islam. Temuan menunjukkan bahwa epistemologi berfungsi sebagai jangkar metodologis melalui kriteria kebenaran korespondensi, koherensi, dan pragmatis yang menjamin akuntabilitas manajerial. Munculnya fenomena "epistemologi digital" membawa tantangan black box problem dan bias algoritma yang menuntut reorientasi peran manajer sebagai agen epistemik yang kritis. Hasil kajian menekankan pentingnya integrasi epistemologi yang menyintesis wahyu, akal, dan pengalaman empiris untuk membentuk model manajemen pendidikan yang holistik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan literasi epistemik digital dan kemampuan berpikir kritis sebagai self-regulatory judgment adalah syarat mutlak bagi keberlanjutan kepemimpinan pendidikan di masa depan.
Dari Realitas ke Kebenaran: Bagaimana Ontologi dan Epistemologi Membentuk Paradigma Teori Manajemen Pendidikan Wiji; Sugimin; Himam Nur Wahidin; Anggia Pratiwi
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 6 No. 8 (2026): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v6i8.3587

Abstract

Penelitian ini mengkaji peran krusial ontologi dan epistemologi dalam membentuk paradigma teori manajemen pendidikan. Tujuan utama adalah menganalisis bagaimana asumsi-asumsi filosofis tentang realitas (ontologi) dan pengetahuan (epistemologi) memengaruhi pengembangan teori, praktik, dan penelitian dalam bidang ini. Metodologi yang digunakan adalah tinjauan literatur sistematis, yang mengidentifikasi dan menganalisis berbagai perspektif ontologis (realisme, nominalisme, relativisme) dan epistemologis (positivisme, interpretivisme, konstruktivisme, kritis) yang mendasari teori-teori manajemen pendidikan. Hasil analisis menunjukkan bahwa pilihan paradigma dalam manajemen pendidikan sangat dipengaruhi oleh asumsi ontologis dan epistemologis yang dianut. Artikel ini mengidentifikasi pergeseran paradigma dari pendekatan positivistik ke arah pendekatan yang lebih interpretif dan kritis, serta implikasinya terhadap praktik manajemen, pengembangan kebijakan, dan penelitian. Kesimpulan menekankan pentingnya kesadaran filosofis bagi akademisi dan praktisi manajemen pendidikan untuk mengembangkan teori dan praktik yang lebih relevan dan efektif. Implikasi praktisnya mencakup kebutuhan untuk mempertimbangkan berbagai perspektif ontologis dan epistemologis dalam pengambilan keputusan, perencanaan strategis, dan evaluasi program pendidikan.
Menjelajahi Lapisan Realitas: Keterkaitan Ontologi, Paradigma, dan Metode dalam Ilmu Pengetahuan Himam Nur Wahidin; Wiji Wiji; Anggia Pratiwi
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 6 No. 8 (2026): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v6i8.3596

Abstract

Penelitian ini mengkaji secara mendalam keterkaitan fundamental antara ontologi, paradigma keilmuan, dan metode penelitian dalam lanskap ilmu pengetahuan modern. Tujuan utamanya adalah mengelaborasi bagaimana asumsi ontologis yang mendasari pandangan tentang realitas memengaruhi pilihan paradigma keilmuan dan menentukan validitas metode penelitian yang digunakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi pustaka kualitatif dengan analisis filosofis. Temuan menunjukkan bahwa kesadaran ontologis adalah prasyarat penting bagi peneliti untuk mengembangkan sikap kritis dan menghindari "pemiskinan ontologis" (ontological impoverishment) yang sering terjadi akibat dominasi monisme positivistik. Artikel ini mengidentifikasi bahwa perbedaan asumsi antara paradigma positivisme, interpretivisme, dan kritis tidak hanya bersifat teoretis tetapi memiliki konsekuensi praktis terhadap integritas data. Disimpulkan bahwa integrasi refleksivitas peneliti dalam setiap langkah metodologis sangat krusial untuk meningkatkan kedalaman ilmu pengetahuan dan meminimalisir bias yang melekat pada setiap instrumen penelitian.
Filsafat Ilmu dan Integritas Akademik dalam Penggunaan Generative Artificial Intelligence di Pendidikan Tinggi: Analisis Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Siti Hamidah; Anggia Pratiwi
DIKSI: Jurnal Kajian Pendidikan dan Sosial Vol. 7 No. 2 (2026): Diksi: Jurnal Kajian Pendidikan dan Sosial
Publisher : Yayasan Pendidikan Bima Berilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53299/diksi.v7i2.4757

Abstract

Perkembangan Generative Artificial Intelligence (GenAI) telah membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan tinggi. Kehadiran teknologi seperti ChatGPT, Gemini, dan Copilot memberikan kemudahan dalam pencarian informasi, penyusunan karya ilmiah, serta pengembangan proses pembelajaran. Namun demikian, penggunaan GenAI juga menimbulkan berbagai persoalan terkait integritas akademik, orisinalitas karya ilmiah, dan validitas pengetahuan yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan menganalisis penggunaan Generative AI dalam pendidikan tinggi melalui perspektif filsafat ilmu yang mencakup aspek ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research). Data diperoleh dari berbagai artikel ilmiah, buku, dan dokumen akademik yang relevan terbit pada periode 2021–2026. Analisis data dilakukan melalui teknik analisis isi (content analysis) dengan tahapan reduksi data, kategorisasi, interpretasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara ontologis Generative AI merupakan instrumen teknologi yang berfungsi sebagai alat bantu konstruksi pengetahuan, bukan pengganti manusia sebagai subjek utama ilmu pengetahuan. Secara epistemologis, GenAI mampu mempercepat proses pencarian dan pengolahan informasi, namun tetap memerlukan kemampuan berpikir kritis dalam memverifikasi kebenaran informasi. Secara aksiologis, penggunaan GenAI harus diarahkan pada pemanfaatan yang bertanggung jawab, etis, dan menjunjung tinggi integritas akademik. Penelitian ini menegaskan bahwa filsafat ilmu memiliki peran penting dalam membangun kerangka berpikir kritis terhadap penggunaan Generative AI sehingga teknologi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tanpa mengabaikan nilai-nilai akademik. Penelitian mendatang diharapkan tidak hanya mengkaji Generative Artificial Intelligence sebagai fenomena teknologi, tetapi juga sebagai fenomena epistemologi, ontologis, dan aksiologis yang memengaruhi cara manusia memperoleh pengetahuan, membangun kebenaran ilmiah, serta mempertahankan nilai – nilai integritas akademik di pendidikan tinggi. Dengan demikian, pengembangan pemanfaatan GenAI dapat berlangsung secara inovatif sekaligus tetap berlandaskan etika dan tanggung jawab akademik.