Claim Missing Document
Check
Articles

Manajemen Kampanye Pencegahan Eksploitasi Seksual Komersial Anak Oleh “Kompak” Jakarta Aries Buana; Hanny Hafiar; Anwar Sani
J-IKA : Jurnal Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas BSI Bandung Vol 4, No 1 (2017): JURNAL J-IKA
Publisher : Lembaga Penelitian & Pengabdian Masyarakat Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31294/kom.v4i1.1788

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah  untuk mengetahui proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kampanye pencegahan Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) oleh KOMPAK di DKI Jakarta. Metodologi yang digunakan adalah kualitatif dengan studi deskriptif. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan cara observasi, wawancara terstruktur, dan studi literatur. Hasil penelitian menjelaskan bahwa : proses perencanaan umumnya sudah sesuai, namun ada beberapa elemen yang perlu ditingkatkan seperti penentuan tujuan masih belum berdasarkan skala prioritas, identifikasi sasaran hanya berdasarkan asumsi dan mengandalkan link, penentuan strategi & taktik belum komprehensif dan matang, alokasi waktu belum memiliki pertimbangan yang jelas, dan evaluasi perencanaan luput dalam tahapan ini. Proses pelaksanaan dimulai dengan realisasi unsur kampanye, kenyatannya masih banyak pelaku yang belum menjadikan kegiatan ini prioritasnya, pelatihan kampanye belum mengacu pada setiap tugas divisi yang ada, pesan pada setiap khalayak sama dan tidak dibedakan, komunikator dan saluran dipertimbangkan sesuai kebutuhan namun kurang efektif karena tidak diperhitungkan dengan baik, implementasi masih mundur dari timeline seharusnya. Proses evaluasi menggunakan metode evaluasi yang belum tepat dan sesuai dengan rencana. Hal tersebut berdampak pada efek yang ditimbulkan kurang optimal. Kata kunci: Manajemen, Kampanye, Komunitas, Deskriptif, Kualitatif. ABSTRACT The research aims to determine the planning, actuating, and evaluating process of this campaign by KOMPAK in DKI Jakarta. The methodology used in this research is qualitative with descriptive study. Data of the research was collected with some observations, structural interviews, and study of literature. The results of the study explained that: the planning process generally appropriate, but there are some elements that need to be improved as the goal-setting is still not based on priorities, target identification based only on assumptions and relying on the link, the determination of strategies and tactics have not been comprehensive and detail, time allocation yet have clear consideration and planning evaluation spared in this stage. The implementation process begins with the realization of the elements of the campaign, the facts are there are many campaigners who have not make this event their priority, a training campaign has not been based on each task divisions, a message on each audience are alike and not differentiated, communicators and channel considered as necessary but less effective because it it is not taken into account properly, the implementation timeline is still delayed. The evaluation process does not use proper evaluation method and not according to plan. So that,  It has less impact. Keywords: Management, Campaign, Community, Descriptive, Qualitative
Karakteristik Public Relation pada Departemen Marketing Public Relations CNN Indonesia TV Ayu Puspa Yurita; Anwar Sani
Jurnal Ilmiah Komunikasi Makna Vol 7, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi FBIK Unissula

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jikm.7.2.37-47

Abstract

Banyaknya penggunaan nama pada divisi atau departemen public relations memberikan kesan bahwa tugas dan fungsi divisi atau departemen public relation di sebuah perusahaan kemudian berbeda dengan perusahaan lain. Perbedaan pada fungsi, tugas, peran, dan kegiatan yang dilakukan oleh divisi atau departemen public relations itu dapat menentukan karakteristik public relations pada perusahaan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tujuan, fungsi, peran, juga aktivitas departemen marketing public relations di CNN Indonesia TV. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menjelaskan bahwa perbedaan tujuan, fungsi, dan peran tergantung dari kebijakan perusahaan masing- masing. CNN Indonesia TV melakukan efisiensi pada tujuan dan fungsi perusahaan, sedangkan peran departemen marketing public relations-nya sejalan dengan misi PR perusahaan yaitu ikut berkontribusi langsung dalam revenue perusahaan. Sedangkan aktivitas yang diinisiasi oleh CNN Indonesia ada 3, yaitu Dialog, Monolog, dan Meet Up. Dari 3 poin pada pembahasaan tersebut akhirnya dapat diketahui seperti apa karakteristik public relations pada departemen marketing public relations CNN Indonesia TV. Kata Kunci: Media Massa; Karakteristik; Public Relations; Marketing Public Relations; Fungsi  ABSTRACTThe many uses of names in the division or department of public relations that give the impression that the tasks and functions of the division or department are not the same as at first. Differences in functions, tasks, roles, and activities carried out by the division or public relations department can determine public relations in company. This  the background of the writer will describe characteristics of public relations in the public relations marketing departement CNN Indonesia TV. The purpose of this study was to determine the objectives, functions, roles, and also the marketing business relations department at CNN Indonesia TV. The research method is descriptive qualitative. The results of the study explain that the number of goals, functions, and roles depends on each company. CNN Indonesia TV transfers the functions and functions of the company, while the marketing office relations of public relations are within the mission of the company's public relations incorporated in the company's revenue. While the activities initiated by CNN Indonesia are 3, namely Dialogue, Monologue, and Meet Up. Of the 3 points in the discussion, it can finally be seen as what public relations in the CNN Indonesia TV marketing public relations department.
PELATIHAN LITERASI KOMUNIKASI POLITIK PEMILIH PEMULA SMA DARUL HIKAM BANDUNG Syauqy Lukman; Anwar Sani; Centurion Chandratama Priyatna
Dharmakarya Vol 6, No 4 (2017): Desember
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (848.532 KB) | DOI: 10.24198/dharmakarya.v6i4.14811

Abstract

Potensi pemilih pemula dalam tiap pemilu memang besar, terbukti KPU pun memberikan perlakuan khusus terhadap segmentasi ini dengan memberikan sejumlah kegiatan sosialisasi khusus pada pemilih pemula . Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa skeptisme dan antipasti politik dari kaum pemilih pemula memang masih sangat tinggi, dapat menghasilkan implikasi yang tidak baik terhadap partisipasi politik di masa yang akan datang. Dari pra-riset yang dilakukan, Pemilih pemula banyak yang merasa bahwa komunikasi politik yang dilakukan sejumlah actor politik dirasa berbau pencitraan dan kotor, hal ini berkontribusi terhadap pengetahuan dan sikap mereka terhadap aktvitas pemilu dan pilkada, bentuk nyata partisipasi politik bagi pemilih pemula. Solusi masalah ini adalah literasi komunikasi politik, khususnya bagi para pemilih pemula. Maka dari itu, tim kami dalam kegiatan pengabdian pada masyarakat, sebagai bagian dari tridharma perguruan tinggi memutuskan untuk melakukan kegiatan pelatihan literasi komunikasi politik di SMA Darul Hikam Bandung. Banyak partisipan kegiatan ini yang awalny kurang terinformasikan mengenai sejumlah pengetahuan dasar tentang komunikasi politik, menjadi lebih kenal tentang fenomena tersebut. Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 300-an peserta.
Hubungan Persepsi terhadap Perilaku Swamedikasi Antibiotik: Studi Observasional melalui Pendekatan Teori Health Belief Model Annisa N. Insany; Dika P. Destiani; Anwar Sani; Ivan S. Pradipta; Lilik Sabdaningtyas
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6879.36 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2015.4.2.77

Abstract

Tingginya perilaku swamedikasi antibiotik dapat meningkatkan peluang penggunaan antibiotik yang tidak rasional sehingga berdampak pada peningkatan resistensi antibiotik. Perubahan perilaku swamedikasi antibiotik diperlukan untuk menurunkan penggunaan antibiotik yang irasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan persepsi masyarakat terhadap praktik swamedikasi antibiotik yang bermanfaat untuk mengembangkan model intervensi dalam rangka menurunkan praktik swamedikasi antibiotik (SMA). Studi observasional analitik dilakukan pada bulan November–Desember 2014 kepada masyarakat yang berkunjung ke fasilitas kesehatan primer di Kota Bandung. Wawancara terstruktur dengan menggunakan kuesioner tervalidasi dilakukan untuk melihat variabel perilaku swamedikasi serta variabel persepsi ancaman, keuntungan, hambatan, dan kemamampuan bertindak berdasarkan teori perubahan perilaku health belief model (HBM). Wawancara dilakukan terhadap 506 responden dewasa yang diambil secara acak di 43 puskesmas dan 8 apotek. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif dan regresi logistik (CI 95%, α=5%).Validitas kuesioner dinyatakan dengan koefisien korelasi >0,3 dan nilai reabilitas alpha-cronbach sebesar 0,719. Terdapat 29,45% responden yang melakukan swamedikasi antibiotik selama 6 bulan terakhir. Tidak terdapat hubungan signifikan antara variabel HBM (persepsi ancaman, keuntungan, hambatan, dan kemampuan bertindak) dengan perilaku swamedikasi antibiotik (p>0,05). Persepsi ancaman, keuntungan, hambatan, dan kemauan bertindak berdasarkan teori HBM menunjukkan hubungan yang lemah terhadap perilaku swamedikasi antibiotik. Mudahnya akses dalam membeli antibiotik secara bebas diduga menjadi faktor dalam perilaku SMA sehingga regulasi yang ketat diperlukan sebagai dasar intervensi dalam menurunkan perilaku SMA.Kata kunci: Antibiotik, health belief model, swamedikasiAssociation between Perceived Value and Self-Medication with Antibiotics: An Observational Study Based on Health Belief Model TheoryHigh prevalence of self medication with antibiotics can increase the probability of irrational use of antibiotics which may lead antibiotics resistance. Thus, shifting of behavior is required to minimize the irrational use of antibiotics. This study was aimed to determine the association between public perceivedvalue and self-medication with antibiotics which can be used to develop an intervention model in order to reduce the practice of self-medication with antibiotics. An observational study was conducted during the period of November–December 2014.The subjects were patients who visit primary health care facilities in Bandung. A structured-interview that has been validated was used to investigate the association between perceived value and self-medication behavior based on the Health Belief Model theory (perceived susceptibility, benefits, barrier, and cues to action). Approximately 506 respondents were drawn randomly from 43 community healthcare centers and 8 pharmacies. Data was analyzed by using descriptive statistics and logistic regression (CI 95%, α = 5%). Validity and reliability of the questionnaire were shown with a correlation coefficient of >0.3 and a cronbach-alpha value of 0.719, respectively. We found that 29.45% of respondents practiced self-medication with antibiotics over the last six months. Additionally, there was no significant association between the perceived susceptibility, benefits, barrier, and cues to action with self-medication behavior (p>0.05). Easiness to access antibiotics without prescription was presumed as a factor that contribute to self-medication with antibiotics, therefore strict regulation in antibiotics use is very needed as a basic intervention to decrease self-medication with antibiotic.Key words: Antibiotics, health belief model, self-medication
Optimalisasi teknologi informasi oleh lembaga pemerintah dalam aktivitas komunikasi publik Centurion Chandratama Priyatna; FX Ari Agung Prastowo; Fajar Syuderajat; Anwar Sani
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 8, No 1 (2020): June 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.306 KB) | DOI: 10.24198/jkk.v8i1.26115

Abstract

Humas di lembaga pemerintahan berperan penting dalam pengelolaan komunikasi publik. Tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan komunikasi publik saat ini adalah perkembangan teknologi komunikasi dan derasnya arus informasi yang ada di masyarakat. Lembaga-lembaga pemerintah pusat maupun daerah dituntut untuk mengoptimalkan berbagai bentuk kemajuan teknologi komunikasi dalam pengelolaan komunikasi publik agar kebutuhan masyarakat akan informasi mengenai kebijakan dan program pemerintah bisa disampaikan dengan baik sehingga pada akhirnya dapat memperoleh dukungan yang positif dari masyarakat. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengelolaan komunikasi publik pada lembaga pemerintah dengan mengoptimalkan teknologi komunikasi sesuai dengan standar yang tertulis pada Instruksi Presiden No 9 Tahun 2015 tentang pengelolaan komunikasi publik. Penelitian ini menggunakan mix method dengan memadukan data kuantitatif dan kualitatif. Penggunaan mix method dalam penelitian ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan data yang diperlukan secara holistik agar diperoleh gambaran pengelolaan komunikasi publik di Kementerian, Lembaga dan Pemerintah Daerah. Hasil dari penelitian ini adalah mayoritas responden yang terdiri dari tenaga humas Kementerian, Lembaga dan Dinas Kominfo tingkat Provinsi telah melakukan pengelolaan komunikasi publik dengan mengoptimalkan teknologi komunikasi dalam bentuk penyebaran narasi tunggal dan program prioritas pemerintah melalui media online dan media sosial serta melakukan media monitoring dan audit komunikasi sebagai bentuk controlling dan evaluasi. Selain itu, telah dilakukan koordinasi antarlembaga pemerintah dalam pengelolaan komunikasi publik. Rekomendasi yang diberikan oleh peneliti adalah ditingkatkannya kualitas dan kuantitas SDM, infrastuktur komunikasi, melakukan perencanaan strategik yang mengutamakan pada komunikasi interpersonal pada pengelolaan komunikasi publik serta perlu dilakukan penguatan kelembagaan di Lembaga, Kementerian, dan Dinas Komunikasi dan Informatika.
PERSEPSI TERHADAP PICTORIAL HEALTH WARNING IKLAN LUAR RUANG PRODUK ROKOK Centurion Chandratama Priyatna; Anwar Sani
Jurnal Komunikasi Vol 10, No 1 (2016): Maret
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi UTM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3601.578 KB) | DOI: 10.21107/ilkom.v10i1.1832

Abstract

ABSTRACTThis research emphasizes on Pictorial Health Warning (PHW) in outdoor mediaof cigarettes product’s advertisement, focusing on smoker’s perception towardspictorial health warning of “A man smoking with the skull shaped smokes”variant. This study uses qualitative descriptive method exploring the perception on theparticular pictorial health warning variant. Informants in this research arelocated in several big cities in Indonesia. The purpose of this research is toenrich the body of knowledge on health communication, especially on the dangerof smoking, and also enforcing government in the effort of communicating thehazardous of smoking towards its public.Key words: pictorial health warning, cigarette, outdoor advertisement
Proses corporate rebranding TVRI Jawa Barat menuju world class broadcaster Herke Regitadika; Hanny Hafiar; Anwar Sani
ProTVF Vol 4, No 2 (2020): September 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v4i2.27631

Abstract

Rebranding merupakan hal yang tidak mudah karena melakukan perubahan posisi dan kesan masyarakat terhadap perusahaan memerlukan proses yang tepat. TVRI stasiun Jawa Barat memiliki strategi untuk menjadi world class broadcaster semenjak tahun 2017 namun belum tercapai. Strategi tersebut kembali diupayakan dengan melakukan berbagai cara agar membangun brand perusahaan salah satunya dengan melalui rebranding. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses corporate rebanding dalam ketujuh tahapan yaitu triggering, analyzing and decision making, planning, preparing, launching, evaluating dan contiuning. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan jenis data kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan antara lain wawancara mendalam dengan ketujuh informan, dokumentasi dan studi pustaka. Teknik validitas data menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa rebranding ini diawali dengan mengidentifikasi masalah pada corporate strategy, competitive position dan external environment. Kemudian, dilakukan analyzing and decision making seperti market analysis, competitive analysis, competitor analysis dan analisis internal dengan analisis SWOT. Setelah membuat keputusan, keputusan tersebut ditindaklanjuti dengan planning seperti repositioning, renaming dan redesigning. Hasil perencanaan tersebut dilakukan persiapan dan pre-launching. Selanjutnya, launching dilakukan pada internal stakeholders dan external stakeholders. Setelah publikasi, hal yang dilakukan adalah mengevaluasi pelaksanaan pada awareness among stakeholders, customer surveys dan corporate image survey. Fase terakhir pada proses corporate rebranding ini yaitu mempertimbangkan keberlangsungan brand baru pada keseluruhan program dengan melihat pada for customers, for personnel dan management personnel. Simpulan dari penelitian ini adalah proses corporate rebranding yang dilaksanakan oleh TVRI stasiun Jawa Barat sudah baik, namun belum maksimal pada beberapa tahap seperti triggering, planning, preparing, evaluating dan continuing.
Konstruksi Makna Sekolah Islam bagi Orang Tua Siswa Filda Fatimah Tuzzahrah; Kokom Komariah; Anwar Sani
Ilmu Dakwah: Academic Journal for Homiletic Studies Vol 10, No 1 (2016): Ilmu Dakwah: Academic Journal for Homiletic Studies
Publisher : Faculty of Da'wah and Communication, UIN Sunan Gunung Djati, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/idajhs.v10i1.1560

Abstract

The presence of Islamic schools is a revolutionary of the outmoded of Islamic education system to elite and prestigious institutions. Initially, the Islamic school was formed in an effort to create intelligent students who also have a religious character. However, the trend of Islamic schools is growing rapidly along with economic progress of society. The overhauled system that offers many advantages apparently succeeded in making high demand of Islamic schools. Although the price offered is fantastic, the public interest is so high to this model by building positive image and reputation. This study reveals the meaning, motives and experiences of parents in the Internatonal Islamic Schools Jakarta. The method used is qualitative with phenomenology type of study. The result that Islamic school was interpreted by student parents as positive view. Their motives to chosse the Islamic school because Islamic schools could balance between live now and hereafter.
MAKNA TAWURAN SEBAGAI TRADISI BAGI SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 70 JAKARTA Handriyani Cahyaningtyas; Yanti Setianti; Anwar Sani
Widya Komunika Vol 8 No 1 (2018): WIDYA KOMUNIKA - JURNAL KOMUNIKASI DAN PENDIDIKAN
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.389 KB) | DOI: 10.20884/1.wk.2018.8.1.1394

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna tradisi tawuran di SMAN 70 Jakartayangdimiliki oleh siswa pelaku tawuran.Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teorifenomenologi Husserl dan teori konstrusi atas realita sosial oleh Berger & Luckmann. Hasilpenelitian ini menunjukkan bahwa makna tawuran sebagai tradisi bagi siswa pelaku tawuran diSMAN 70 Jakarta dapat dikategorikan sebagai makna afirmatif (tawuran sebagai sebuah nilaikebanggaan) dan negative (stereotype dan insecurities). Pengalaman komunikasi yang merekaalami yaitu cara perkenalan tawuran oleh kakak kelasnya, sehingga menimbulkan motivasi bagimereka untuk melakukan tawuran, serta timbul tanggapan dari mereka untuk meneruskan ataumenghentikan kegiatan tawuran. Pola komunikasi yang dilakukan para siswa pelaku tawuranuntuk menghilangkan reputasi SMAN 70 Jakarta sebagai pegiat tawuran tentunya menempuhberbagai macam usaha dan menimbulkan pertentangan diantara siswa pelaku tawuran karenaadanya dilema antara untuk mempertahankan tradisi dan reputasi atau menghentikan kegiatantawuran di SMAN 70 Jakarta.
MANAJEMEN KAMPANYE ELIMINASI KAKI GAJAH DALAM UPAYA PENINGKATAN KESEHATAN DI KABUPATEN BOGOR Seftia Rahmaning Tyas; Hanny Hafiar; Anwar Sani
PRofesi Humas Vol 2, No 1 (2017): PRofesi Humas
Publisher : LP3 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.084 KB) | DOI: 10.24198/prh.v2i1.12008

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses prakampanye, proses pengelolaan kampanye, dan hasil evaluasi kampanye oleh Kementerian Kesehatan. Penelitian ini menggunakan konsep manajemen kampanye oleh Antar Venus yang dikembangkan berdasarkan Model Kampanye Ostergaard. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan data kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, teknik dokumen, studi kepustakaan, dan angket menggunakan teknik pengumpulan informan dengan purposive sampling. Teknik analisis data menggunakan deskriptif kualitatif, sedangkan teknik validitas data menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian ini mengemukakan bahwa proses kampanye Belkaga dibagi dalam tiga tahap yaitu prakampanye, pengelolaan kampanye, dan evaluasi kampanye. Hasil prakampanye menyatakan bahwa masih banyak daerah di Indonesia yang merupakan daerah endemis dan belum melaksanakan program Pemberian Obat Pencegahan Massal Filariasis (POPMF). Hasil pengelolaan menunjukkan bahwa Kementerian Kesehatan RI tidak melakukan identifikasi segmentasi sasaran berdasarkan klasifikasi warga yang sehat, terduga tertular virus, serta warga yang teridentifikasi penyakit sehingga pesan yang disampaikan dibuat sama rata. Selain itu, penyebaran informasi yang kurang jelas mengakibatkan pesan yang diterima khalayak tidak sesuai dengan apa yang ingin disampaikan komunikator. Kesimpulannya, masalah kampanye Belkaga timbul karena manajemen kampanye yang kurang efektif oleh Kementerian Kesehatan RI. Peneliti menyarankan agar Kementerian Kesehatan RI menyesuaikan pesan berdasarkan klasifikasi warga sehat, terduga tertular virus, serta warga yang teridentifikasi penyakit sehingga pesan tepat sasaran, mengoptimalkan media yang digunakan, memberikan pelatihan penyampaian informasi kepada kader kesehatan.