Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Development of Knowledge and Attitude Measurement Tools in Disaster Preparedness Schools Theresita Herni Setiawan; Gregorio Hernando Salim; Mia Wimala; Andreas Franskie Van Roy; Yohanes Liem Dwi Adianto
International Journal of Disaster Management Vol 3, No 1 (2020): June
Publisher : TDMRC, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.905 KB) | DOI: 10.24815/ijdm.v3i1.17298

Abstract

Indonesia is the largest archipelago country in the world located at the confluence of four tectonic plates. This condition makes Indonesia potentially and become vulnerable to natural hazard that have a significant impact and reach various sectors. One of the impacts of natural hazard that occurred in Indonesia is the education sector. This natural hazard has an impact on the physical building of schools and also hinders the process of teaching and learning, causing trauma, and even fatalities at school. The Indonesian Institute of Sciences (LIPI) through the Community Preparedness (COMPRESS) program inaugurated disaster preparedness education at the school community level. In 2008, LIPI began implementing disaster risk reduction by developing a model of disaster preparedness schools. Then LIPI published Guidelines for Implementing Disaster Preparedness Schools in 2013. This guide does not yet have a specific Knowledge and Attitude category and can be used as a reference. Therefore, the development of the Disaster Preparedness School Implementation Manual needs to be done. The development of this measuring instrument was analysed by compiling a comparison matrix using the AHP method so as to produce a new development system from the Knowledge and Attitude assessment category. This study produced 3 sub-categories of Knowledge and Attitude assessment, namely (1) Standard Operating Procedure (SOP) for Teaching and Learning Disasters with a weight of 33%, (2) Knowledge about Disasters and Disaster Management with a weight of 43%, and (3) Knowledge Access About Disasters and Disaster Management with a weighting of 24%. Such approach can be used in advancement of others variables of measuring tool for school preparedness.
Eksplorasi Posisi Sambungan dan Penambahan Elemen Pengaku Untuk Meningkatkan Kekakuan pada Balok RISHA Carissa Carissa; Dewi Larasati; Sugeng Triyadi; Mia Wimala; Altho Sagara; Adhie Irham
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 9, No 1: Maret 2023
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v9i1.25

Abstract

ABSTRAKRangkaian panel RISHA menciptakan ruangan maksimal 3 m x 3 m. Beberapa penelitian yang dilakukan membuktikan ukuran tersebut belum nyaman jika digunakan sebagai rumah tinggal Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Pada perkembangannya, teknologi RISHA digunakan untuk bangunan dengan bentang balok yang lebih lebar, sehingga kekakuan balok harus ditingkatkan, oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi posisi sambungan dan penambahan elemen pengaku dalam upaya meningkatkan kekakuan pada sambungan antar panel struktur RISHA. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif. Metode pengumpulan data menggunakan simulasi software beam calculator untuk mendapatkan uji gaya momen, gaya geser, dan defleksi. Analisis menggunakan metode weighted product (WP) untuk mendapatkan posisi sambungan dan elemen pengaku terbaik. Simulasi dilakukan dengan eksplorasi posisi sambungan dan elemen pengaku untuk meningkatkan kekakuan pada sambungan antar panel struktur RISHA. Hasil pengujian menunjukan balok yang terdiri dari tiga panel memiliki kekakuan yang lebih besar dari dua panel dan elemen pengaku splice lebih unggul dibandingkan corbel, maka penambahan elemen pengaku terbukti dapat meningkatkan kekakuan pada sambungan antar panel struktur RISHA.Kata kunci: RISHA, kekakuan, corbel, splice, momen, gaya geser ABSTRACTThe RISHA series of panels creates a room of up to 3 m x 3 m. Several studies have been conducted to prove that this size is not comfortable when used as a low-income community residence. In its development, RISHA technology is used for buildings with wider span beams, so that beam stiffness must be increased, therefore this study aims to review the position of joints and the addition of stiffener elements to increase stiffness in joints between RISHA structural panels. This research was conducted using a quantitative approach. The data collection method uses beam calculator software simulation to obtain moment force, shear, and deflection tests. The analysis uses the weighted product (WP) method to get the best joints and stiffener elements. The simulation was carried out by exploring the position of the joints and the stiffening of the elements to increase the stiffness of the joints between the RISHA structural panels. The test results show that the beam consisting of three panels has greater stiffness than the two panels and the splice stiffener element is more than the corbel, so the addition of the stiffener element is proven to increase the elasticity at the joints between the RISHA structural panels.Keywords: RISHA, stiffener, corbel, splice, moment, shear force
Kajian Kebutuhan Ventilasi Alami Ruangan pada Bangunan Gedung Mia Wimala; Kennardy Winardo
Rekayasa Sipil Vol. 17 No. 2 (2023): Rekayasa Sipil Vol. 17 No. 2
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.rekayasasipil.2023.017.02.2

Abstract

The Indonesian National Standard (SNI) 6572:2001 on natural ventilation in buildings has not been updated in the last 20 years, while similar standards in other countries have been periodically improved. The development of science and technology, environmental conditions, coupled with the COVID-19 pandemic that affects the entire world are the basis for consideration of the adjustment of related standards. The purpose of this study is to look at the standards for natural ventilation in several countries, namely the United States, Singapore, Malaysia, and Australia, as well as identify criteria that can be applied according to conditions in Indonesia. The results showed that the need for natural ventilation in buildings in Indonesia by 5% has met the existing conditions. However, further studies regarding the need for natural ventilation that are adjusted based on the function of the room as determined by ASHRAE 62.1 need to be carried out.
INOVASI BENTANG MODUL STRUKTURAL UNTUK PENERAPAN TEKNOLOGI RUMAH INSTAN SEDERHANA SEHAT (RISHA) PADA KONSTRUKSI RUMAH SUSUN KAMPUNG DERET PETOGOGAN Carissa Carissa; Dewi Larasati; Sugeng Triyadi; Mia Wimala; Virginia Slamat
Tesa Arsitektur Vol 21, No 1: Juni 2023
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/tesa.v21i1.10179

Abstract

Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA) adalah teknologi prapabrikasi beton yang awalnya dikembangkan untuk perumahan masyarakat berpenghasilan rendah di Indonesia. Penerapannya yang diperluas hingga ke konstruksi rumah susun Kampung Deret Petogogan di Jakarta menunjukkan bahwa RISHA ternyata belum mampu memfasilitasi seluruh aktivitas di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentang optimal modul struktural yang harus disediakan pada studi kasus ini dan mengkaji kesesuaian RISHA dalam memfasilitasi bentang optimal tersebut. Kajian kuantitatif akan dilakukan dalam bentuk simulasi untuk setiap dimensi ruang di Kampung Deret Petogogan berdasarkan beberapa parameter yaitu organisasi ruang, relasi antar ruang, dan standar dimensi ruang. Agar RISHA dapat digunakan dengan baik, penataan ruang pada Kampung Deret Petogogan masih perlu diperbaiki, demikian pula dengan hubungan antar ruang dan juga ukuran standar ruangnya. Selanjutnya, hanya tiga ukuran bentang, yaitu 1,8 m, 2,7 m, dan 2,9 m yang dapat diakomodasi oleh RISHA saat ini, sedangkan bentang lain dengan ukuran 3,3 m dan 3,6 m masih perlu dikembangkan untuk kepentingan proyek serupa di masa mendatang
Pembelajaran Berbasis Masalah: Penerapan Teknologi Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA) di Indonesia Zefanya Handika Mulyawan; Mia Wimala; Carissa Carissa
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 9, No 2: Juli 2023
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v9i2.13

Abstract

ABSTRAKGuna mengatasi permasalahan backlog hunian di Indonesia, salah satu alternatif yang ditawarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) adalah teknologi modular beton pracetak Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA). Beberapa keunggulan yang ditawarkan meliputi peningkatan efisiensi waktu, peningkatan keamanan konstruksi, pengurangan sampah konstruksi, kebutuhan pekerja yang minimum, desain yang sederhana, dan ramah lingkungan. Sampai saat ini, teknologi ini lebih banyak diterapkan untuk konstruksi rumah darurat bencana dan bukan untuk hunian swadaya. Untuk memenuhi tuntutan kebutuhan hunian yang semakin menantang di masa mendatang, pembelajaran melalui permasalahan-permasalahan yang dihadapi di lapangan perlu dikaji dan dievaluasi lebih lanjut. Penelitian awal ini bertujuan untuk mengidentifikasi permasalahan yang timbul selama penerapan teknologi RISHA baik pada tahap perencanaan, produksi, konstruksi, maupun pemeliharaan. Kajian literatur, bimbingan teknis, dan wawancara dilakukan terhadap beberapa aplikator yang tersebar di seluruh Indonesia dilakukan untuk menjawab tujuan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan berbagai permasalahan yang dapat diklasifikasikan ke dalam empat aspek, yaitu sistem manajerial dan prosedural, arsitektural dan struktural, finansial dan ekonomi, serta sosial dan stakeholders. Setelah itu, beberapa strategi yang dapat bermanfaat bagi upaya pengembangan teknologi RISHA juga dihasilkan berdasarkan analisis SWOT.Kata kunci: RISHA, beton pracetak, teknologi modular, permasalahan penerapan RISHA ABSTRACTTo overcome the housing backlog problem in Indonesia, The Ministry of Public Works, and Public Housing (PUPR) has offered a precast concrete modular technology, Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA). Its advantages include increased time efficiency, enhanced construction safety, reduced wastage, minimal labor requirements, simple design, and eco-friendly. Until now, RISHA is mostly used for disaster emergency housing, and not for self-support houses. To meet the housing demands that will be increasingly challenging in the future, learning through the problems encountered in its application needs to be studied and evaluated further. This initial research aims to identify problems that arise during the application of RISHA technology at various stages, i.e., planning, production, construction, and maintenance. A literature review, technical guidance, and interviews with several applicators spread throughout Indonesia were conducted to answer the objective. The results indicate various problems that can be classified into four aspects, namely managerial system and procedural; architectural, and structural; financial, and economic; and social and stakeholders. Furthermore, several strategies that can be useful for RISHA development efforts are also generated based on a SWOT analysis.Keywords: RISHA, precast concrete, modular technology, RISHA’s implementation issues
Perkembangan Internet of Things di Industri Konstruksi Wimala, Mia; Imanuela, Kineta
Journal of Sustainable Construction Vol 1 No 2 (2022): Journal of Sustainable Construction
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.949 KB) | DOI: 10.26593/josc.v1i2.5701

Abstract

Dalam satu dekade terakhir, belum banyak ditemukan penelitian yang membahas tentang kemajuan penggunaan Internet of Things (IoT) di industri konstruksi Indonesia. Di era industri 4.0 seperti sekarang ini, dibutuhkan sebuah penelitian untuk mengetahui perkembangan IoT di industri konstruksi baik di Indonesia maupun di luar negeri, dan mengetahui kesenjangan di antaranya. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode bibliometrik dengan software Publish or Perish 7. Data akan dikelompokkan dalam lima ranah pada industri konstruksi yang sangat terpengaruh dengan masuknya IoT yaitu: construction safety, machine control, site management, fleet management dan project management. Dari penelitian didapati bahwa Cina merupakan negara dengan kemajuan penggunaan IoT paling pesat dimana ranah yang paling banyak dibahas adalah terkait construction safety. Sementara itu, penerapan IoT di industri konstruksi di Indonesia baru dimulai dalam beberapa tahun terkakhir, yang ditandai dengan masih sedikitnya karya ilmiah yang terkait penerapan IoT di industri konstruksi. Pemerintah Indonesia juga masih belum berinvestasi pada sektor penelitian dan pengembangan sebanyak negara lain yang ditinjau. Temuan ini diharapkan mampu menjadi basis dalam menginisiasi penerapan IoT di industri konstruksi Indonesia.
Pengukuran Tingkat Risiko Aplikator dalam Penerapan Teknologi Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA) di Indonesia Wimala, Mia; Rasta, Theodorus; Carissa, Carissa
Journal of Sustainable Construction Vol 2 No 1 (2022): Journal of Sustainable Construction
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.279 KB) | DOI: 10.26593/josc.v2i1.6196

Abstract

Dalam upaya pengadaan rumah RISHA, Direktorat Bina Teknik Perumahan dan Permukiman melatih, memberikan lisensi, dan menugaskan para aplikator untuk melakukan produksi dan perakitan. Pada praktiknya, berbagai masalah masih dihadapi oleh para aplikator. Berbagai permasalahan ini perlu diidentifikasikan, dievaluasi, dan dicarikan solusinya agar penerapan RISHA semakin membaik di masa mendatang. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat risiko yang kemungkinan dihadapi oleh para aplikator berdasarkan permasalahan yang ada, dengan mempertimbangkan nilai probabilitas dan dampaknya. Pendekatan kualitatif dan kuantitatif digunakan dalam penelitian ini. Data diperoleh melalui kajian literatur, wawancara serta penyebaran kuesioner kepada aplikator RISHA. Hasil penelitian menunjukkan beberapa masalah yaitu kendala mobilisasi material dan/atau panel RISHA, banyaknya tenaga kerja baru yang senantiasa berubah, belum adanya pedoman yang seragam terkait ukuran cetakan, serta ketidaksesuaian gambar desain dengan kondisi di lapangan termasuk ke dalam kategori risiko tinggi. Sementara itu, risiko yang termasuk ke dalam kategori sedang meliputi permasalahan kenaikan harga baja tulangan dan permintaan calon pengguna yang seringkali tidak dapat diakomodasi oleh teknologi RISHA, sedikitnya tenaga ahli yang tersedia, serta pemasangan panel tidak sesuai standar karena kurangnya pelatihan. Permasalahan yang termasuk dalam kategori rendah terkait dengan ketidakpahaman masyarakat mengenai RISHA, pengadaan panel oleh pihak ketiga, dan besarnya anggaran untuk modal awal.
Lessons Learned from Systematic Review for Circular Economy Adoption in the Indonesian Construction Industry Hidayah, Fitri Nur; Wimala, Mia
Rekayasa Sipil Vol. 18 No. 3 (2024): Rekayasa Sipil Vol. 18 No. 3
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.rekayasasipil.2024.018.03.9

Abstract

As population growth continues, so does consumption and the need for basic human necessities, necessitating ongoing development. This development process often relies on non-renewable resources, generates waste, and emits harmful gases, usually neglecting sustainability. The Circular Economy (CE) concept can be applied to support sustainability in the construction industry. This regenerative system replaces the linear economy, focusing on optimizing material utilization and value throughout the product lifecycle and reducing waste generation. Through a Systematic Literature Review based on the Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-Analysis (PRISMA) guidelines, this research provides an overview of CE practice trends that the construction industry in Indonesia can adopt based on lessons learned from other countries. The results indicate that CE implementation in Indonesia is highly relevant and important for supporting sustainability from economic, environmental, and social perspectives. To achieve these benefits, Indonesia must overcome various barriers, including less supportive policies, low consumer demand, limitations in the supply chain, and technological and infrastructure constraints. The CE principles commonly applied by the Indonesian construction industry in waste are reduction, reuse, and recovery. To ensure the successful implementation of CE in the construction sector, the Indonesian construction industry can learn from the best CE practices implemented in other countries and adopt effective and efficient strategies to achieve sustainability. However, successful implementation requires commitment and collaboration from various stakeholders, including the government, industry, and academia.
Faktor-faktor Pengaruh Besaran Estimasi Biaya Tidak langsung Pada Penawaran Pekerjaan Jalan Oleh Kontraktor X Adianto, Yohanes Lim Dwi; Wimala, Mia; Harun, Aldo Mayla
Jurnal Rekayasa Sipil (JRS-Unand) Vol. 18 No. 1 (2022)
Publisher : Civil Engineering Departement, Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jrs.18.1.52-59.2022

Abstract

Estimasi biaya tidak langsung memiliki faktor yang dapat mempengaruhi tingkat akurasi pada harga penawaran kontraktor saat tender. Penelitian terhadap faktor pengaruh estimasi biaya tidak langsung di Indonesia masih terbatas, khususnya pada oleh kontraktor jalan. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjawab permintaan kontraktor jalan X dalam mengidentifikasi faktor apa saja yang berpengaruh pada estimasi biaya tidak langsung sehingga dapat diperkirakan dengan lebih akurat untuk proyek-proyek di masa mendatang. Tahap awal akan dimulai dengan kajian literatur untuk mendapatkan faktor yang berpengaruh dalam estimasi biaya tidak langsung dari berbagai proyek konstruksi baik di Indonesia maupun di luar negeri. Selanjutnya, faktor-faktor tersebut akan disusun dalam bentuk kuesioner dan dinilai  tingkat pengaruhnya terhadap estimasi biaya tidak langsung oleh para responden kontraktor jalan yang beroperasi di Jabodetabek. Hasil kajian literatur menunjukkan 51 faktor pengaruh yang dibagi menjadi empat kelompok, yaitu 11 faktor dalam kelompok Proyek, 20 faktor pengaruh dalam kelompok Organisasi, 13 faktor pengaruh dalam kelompok Klien dan Peraturan Pemerintah, dan tujuh faktor pengaruh dalam kelompok Lingkungan. Berdasarkan hasil analisis RII (Relative Importance Index), didapatkan 15 faktor yang  sangat berpengaruh terhadap estimasi biaya tidak langsung pada kontraktor jalan X yaitu ukuran proyek, lingkup pekerjaan, durasi proyek, ketersediaan modal kontraktor, jadwal pembayaran, site layout, ketersediaan pasokan sumber daya, kemudahan untuk dibangun, metode manajemen proyek, posisi keuangan klien, kondisi ekonomi regional, inflasi atau suku bunga, lokasi proyek, kebutuhan kontraktor untuk pekerjaan dan jumlah uang muka. Ukuran proyek dan lokasi proyek merupakan dua faktor yang memiliki perbedaan tingkat pengaruh yang signifikan pada proyek konstruksi jalan dibandingkan jenis proyek konstruksi lainnya.
Integrasi Green Marketing dalam Strategi Bisnis Pengembang Rumah Tapak: Identifikasi Parameter Penilaian dan Dampaknya Sugijono, Edwin Jordan Wijanto; Wimala, Mia
RekaRacana: Jurnal Teknik Sipil Vol 11, No 2: Juli 2025
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v11i2.197

Abstract

ABSTRAKIndustri konstruksi sebagai kontributor utama emisi gas rumah kaca maka pengembang perumahan bertanggung jawab mendukung program pemerintah net zero emission (NZE) pada tahun 2060. Pengembang berperan penting untuk menghasilkan dan memasarkan hunian yang ramah lingkungan bagi masyarakat Indonesia. Selain berkontribusi terhadap program NZE, konsep green marketing yang muncul beberapa tahun belakangan ini juga bertujuan untuk mempromosikan dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya hunian ramah lingkungan. Namun sampai saat ini, belum ada instrumen yang dapat digunakan untuk menilai kinerja pengembang dalam menerapkan konsep green marketing tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi parameter penilaian green marketing khususnya bagi pengembang hunian rumah tapak karena pengembang yang ramah lingkungan akan menghasilkan produk yang ramah lingkungan. Kajian literatur, observasi, dan wawancara semi-terstruktur dengan 15 pengembang kecil dan besar di Kota Bandung dan DKI Jakarta dilakukan untuk mendapatkan parameter penilaian green marketing. Empat aspek green P yakni green product, green price, green place, green promotion, bersamaan dengan 15 parameter penelitian di dalamnya berhasil diidentifikasi sebagai hasil peneliitian ini.Kata kunci: parameter, green marketing, pengembang, rumah tapak ABSTRACTThe construction industry, a significant source of greenhouse gas emissions, necessitates that housing developers support the government's net zero emission (NZE) initiative by 2060. Developers are essential in the creation and promotion of sustainable housing for the Indonesian populace. Alongside its contribution to the NZE program, the emerging idea of green marketing seeks to promote and enhance public understanding of the significance of ecologically sustainable housing. Until recently, no instrument has existed to evaluate developers' performance in executing the green marketing concept. This study seeks to delineate the evaluation criteria of green marketing specifically for residential property developers, as eco-conscious developers are likely to offer sustainable products. A literature research, observations, and semi-structured interviews with 15 small and large developers in Bandung and DKI Jakarta were performed to gather parameters for evaluating green marketing. This study effectively identified four components of the green P: green product, green pricing, green place, and green promotion, along with 15 associated research criteria.Keywords: parameter, green marketing, developer, landed housing