Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Kontribusi Pemikiran Al-Farabi dalam Membentuk Karakter Netizen di Media Sosial Auliya, Fikri; Masykur; Gufron, Iffan Ahmad
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 1: April (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i1.1074

Abstract

Era digital membawa perubahan besar dalam cara manusia berinteraksi, terutama dalam media sosial. Tekhnologi digital menawarkan manfaat yang luas, tetapi juga menimbulkan tantangan etis, seperti penyalahgunaan informasi, perundungan siber, dan hilangnya privasi. Artikel ini mengeksplorasi pemikiran Al-Farabi terkait etika digital, dengan focus pada konsep kebajikan, keadilan, dan kebijaksanaan. Menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini menganalisis bagaimana prinsip-prinsip etika Al-Farabi dapat diterapkan dalam perilaku pengguna media sosial. Hasilnya menunjukan bahwa penerapan etika Al-Farabi dalam dunia digital dapat membantu menerapkan suasana daring yang lebih adil, bertanggung jawab, dan harmonis. Dengan demikian, pemikiran Al-Farabi memberikan kontribusi penting dalam membangun kesadaran etis di era digital.
OPOSISI BINER ILMU PENGETAHUAN DALAM ISLAM (SEBUAH REFLEKSI PENDIDIKAN MASA KINI) Muchdor, Ahmad; Gufron, Iffan Ahmad
Al-Mabsut: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 18 No 2 (2024): SEPTEMBER
Publisher : Institut Agama Islam Ngawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56997/almabsutjurnalstudiislamdansosial.v18i2.1302

Abstract

In this article, we will explore the dualistic paradigm of Islamic science, characterized by the separation of religious awareness from general education. Examine the emergence of the binary opposition, the historical process, and its impact on Islamic society. Historically, the origins of this binary opposition in science lie in the period when Islam came into contact with other cultures. This continued to develop and eventually led to a dichotomy between popular scientific thought and religion. The result of this contrast is clearly visible, namely that Islamic society is increasingly lagging behind Western civilization whose effects are still felt today. This research was compiled using descriptive analysis techniques, namely by examining several books and articles as primary sources. This research was conducted to reflect on the problems of Islamic education, whether there is still a dichotomy between science and religion or starting to rise to integrate the two. Keywords: Dichotomy, integration, science
KONTRIBUSI NAHDLATUL ULAMA TERHADAP PEMIKIRAN ISLAM MODERAT DI INDONESIA Faiza Nur Khalida; Kaesul Ma’arif; Saripah; Agus Gunawan; Iffan Ahmad Gufron
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 9 No. 04 (2024): Volume 09, Nomor 04, Desember 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v9i04.19362

Abstract

Moderate Islam is regarded as a middle ground between overly conservative and overly liberal attitudes. This approach highlights the importance of implementing Islamic teachings that consider humanitarian values and social harmony, such as peace, tolerance, and respect for diversity. This article aims to analyze the contributions of Nahdlatul Ulama to moderate Islamic thought in Indonesia, focusing on how the organization formulates the concept of religious moderation and its influence on social, political, and religious developments in Indonesia. The research method employed by the researcher is qualitative, using a literature study approach. The research findings indicate that Nahdlatul Ulama (NU) has a significant contribution to the development of moderate Islamic thought in Indonesia, manifested through various fields such as education, politics, social issues, and preaching. In education, NU introduces a curriculum that integrates Islamic teachings with local values, focusing on character development that reflects moderation, tolerance, and pluralism. In the political and social realms, NU plays a role in promoting stability and diversity through moderate attitudes, as well as actively engaging in public policy advocacy that supports tolerance and national unity. NU's social and preaching movements strive to build a harmonious society through economic empowerment programs, humanitarian activities, and interfaith dialogue. NU also has strategic policies to reject extremism by promoting religious moderation, enhancing public understanding, and creating constructive dialogue spaces.
KAJIAN AKSIOLOGI PEMEBELAJARAN BERBASIS DEEP LEARNING PADA PENDIDIKAN DASAR Gufron, Iffan Ahmad; Suryahadikusumah, Ahmad Rofi
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 9 No. 04 (2024): Volume 09 No. 04 Desember 2024 Press
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v9i04.21041

Abstract

This study was motivated by public skepticism regarding the implementation of deep learning in education, particularly at the elementary level. The research aimed to examine the pedagogical benefits and ethical considerations of implementing deep learning through an axiological lens. A systematic literature review was conducted. The axiological analysis revealed that deep learning empowered students to develop a sense of belonging in their learning through critical thinking and reflection, fostering joyful, mindful, and meaningful learning experiences. The study highlights the importance of active, authentic, and collaborative learning, while also emphasizing the ethical considerations such as adaptability to digital learning environments and the quality of learning materials aligned with students' needs, interests, and life contexts.
PEMAHAMAN FILOSOF AL-FAROBI Fuady, Siti Tsamrortul; Suhaebi, Ebi; Gufron, Iffan Ahmad; Gunawan, Agus
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 7 No. 4 (2024): Special Issue Vol. 7 No. 4 Tahun 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v7i4.36220

Abstract

Al-Farobi was a Muslim philosopher who laid the foundations of Islamic philosophy sequentially and in detail, and then his philosophy was influenced by Greek philosophy. Al-Farobi said this form was created from the cause of the first form (Allah) which is found in many parts, which is called genesis, when philosophers used the power of reason to fulfill the truth while the prophets were filled with reason. Revelation was given to the people they chose. Farabi's political philosophy is similar to Plato's philosophy of idealism. Leaders are the first agents of society who are able to achieve happiness, just as the heart is in the body, other parts of the body also help create the desired happiness.
HUBUNGAN AGAMA, ILMU DAN FILSAFAT Azis, Abdul; Umyanah, Yayan; Gufron, Iffan Ahmad
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 7 No. 4 (2024): Special Issue Vol. 7 No. 4 Tahun 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v7i4.36488

Abstract

Abstrak Penelitian kualitatif berbasis kepustakaan ini mengkaji hubungan antara agama, sains, dan filsafat yang saling melengkapi dalam upaya manusia untuk menemukan kebenaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sains, agama, dan filsafat sangat erat berhubungan dengan potensi utama manusia, yaitu akal budi, pikiran, dan perasaan, yang sangat penting untuk mencapai kebenaran dan kebahagiaan. Dengan mempertimbangkan manusia sebagai makhluk Tuhan, sains dan nalar adalah tolok ukur pencarian kebenaran. Akal budi memungkinkan manusia memahami sesuatu dengan lebih jernih sehingga dapat memanfaatkan lingkungannya secara optimal. Begitu pula dalam filsafat, akal budi dan penalaran merupakan landasan fundamental untuk mengungkap hakikat segala sesuatu atau cara memperolehnya. Akan tetapi, dalam agama, yang kebenarannya telah ada sejak awal waktu, penerjemahan dan penerapan ajaran agama ke dalam kehidupan sehari-hari memerlukan akal budi dan penalaran..
Pemaknaan Konsep Sakinah oleh Pengantin Baru: Studi Pemahaman dalam Konteks Pernikahan Muhamad Arsudin; Sholahuddin Al Ayubi; Iffan Ahmad Gufron
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.701

Abstract

Pernikahan dalam Islam dipandang sebagai salah satu institusi yang memiliki tujuan untuk menciptakan kehidupan yang penuh dengan kedamaian dan keberkahan, yang dikenal dengan konsep sakinah, mawadah, dan rahmah. Penelitian ini bertujuan untuk menggali pemaknaan sakinah oleh pengantin baru, dengan mempertimbangkan latar belakang agama, sosial, dan budaya mereka. Berdasarkan tinjauan literatur dan analisis terhadap berbagai studi sebelumnya, penelitian ini mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pemaknaan sakinah dalam pernikahan. Faktor internal meliputi niat yang lurus dalam pernikahan, pemahaman agama, serta ekspektasi terhadap pasangan. Sementara itu, faktor eksternal melibatkan pengaruh lingkungan sosial, dukungan keluarga, serta budaya lokal yang dianut oleh pasangan. Metode penelitian yang digunakan adalah kajian literatur dengan analisis komparatif, yang mengkaji pandangan berbagai ulama dan studi terdahulu mengenai konsep sakinah, serta perbedaan pemaknaan sakinah antara pasangan dengan latar belakang budaya dan agama yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sakinah tidak hanya dipahami sebagai ketenangan fisik, tetapi juga sebagai kedamaian emosional dan spiritual yang tercipta melalui hubungan yang harmonis, baik dalam dimensi agama maupun sosial. Penelitian ini juga menemukan bahwa pemaknaan sakinah sangat bergantung pada konteks individu dan pasangan, di mana pasangan dari latar belakang agama yang kuat cenderung memandang sakinah dalam dimensi spiritual, sementara pasangan dengan latar belakang budaya yang lebih sekuler lebih fokus pada keharmonisan emosional dalam rumah tangga. Temuan ini memberikan wawasan penting tentang bagaimana konsep sakinah dapat diterapkan dalam kehidupan pernikahan yang lebih beragam, dengan mempertimbangkan nilai-nilai agama, budaya, dan sosial yang memengaruhi pemahaman setiap pasangan.
ECO SUFISM: BENTUK RELASI TUHAN DAN ALAM DALAM MENJAGA LINGKUNGAN DARI KERUSAKAN Nadi Nadi; Muhammad Arifin Guti Putra; Iffan Ahmad Gufron
JUTEQ: JURNAL TEOLOGI & TAFSIR Vol. 3 No. 1 (2026): JUTEQ: JURNAL TEOLOGI & TAFSIR
Publisher : Adisam Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper discusses eco-Sufism, a concept that bridges Islamic spirituality with environmental awareness. Amidst the global environmental crisis, an approach based on spirituality and ethics has become essential. Eco-Sufism views nature as a manifestation of God's beauty that must be preserved, adhering to the principle of wahdatul wujud, which sees the universe as a reflection of the Divine existence. Humans, as caliphs on earth, have a mandate to care for His creation with love. The biggest challenge for eco-Sufism today is materialistic lifestyles and secular views, but its growth potential is wide open through increased spiritual awareness and Islamic movements oriented towards environmental preservation. The implementation of eco-Sufism is reflected in a simple lifestyle and increased awareness of the importance of ecology, inspired by figures such as Rabi'ah al-Adawiyah and Jalaluddin Rumi, as well as the teachings of the Prophet Muhammad SAW.Eco-Sufism provides spiritual encouragement for concrete action in protecting the environment and combating the consumerist culture that exacerbates environmental damage. This approach invites us to feel connected to nature as part of a cosmic family under God's love, and encourages the emergence of a strong environmental ethic. This study seeks to present data and analysis that reinforce these ideas.
PERAN SANTRI DALAM PENDIDIKAN AL-QURAN DI MASYARAKAT (Study Kasus Lebak Banten) Yusi Maesuri; Suadi Sa’ad; Naf’an Tarihoran; Sayehu Sayehu; Iffan Ahmad Gufron
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tadjid.v8i2.2198

Abstract

Peran santri dalam pembelajaran Al-Qur'an di masyarakat
Dari Madinah ke Dunia: Spirit Multikulturalisme dalam Ajaran Islam Muhammad 'Alawi Muzhaffar; Syifa’a Ulmuwahhidah; Ade Fakih Kurniawan; Iffan Ahmad Gufron
Imanu: Jurnal Hukum dan Peradaban Islam Vol. 2 No. 01 (2026): IMANU: Jurnal Hukum dan Peradaban Islam
Publisher : IMANU: Jurnal Hukum dan Peradaban Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas spirit multikulturalisme dalam ajaran Islam melalui kajian landasan normatif Al-Qur’an dan praktik historis Nabi Muhammad SAW, khususnya melalui Piagam Madinah. Keberagaman etnis, budaya, bahasa, dan agama dipahami sebagai realitas sosial yang melekat dalam kehidupan manusia, dan Islam hadir sebagai kerangka etis untuk mengelola pluralitas secara adil dan damai. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep multikulturalisme dalam Islam melalui penafsiran QS. Al-Hujurat ayat 13 dan QS. Ar-Rum ayat 22, serta menelaah Piagam Madinah sebagai model konkret pengelolaan masyarakat majemuk. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, dengan menganalisis sumber primer berupa Al-Qur’an dan tafsir klasik serta kontemporer, didukung literatur sekunder yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa Islam secara teologis mengakui keberagaman sebagai sunnatullah dan menekankan prinsip ta‘āruf, kesetaraan, dan ketakwaan sebagai dasar relasi sosial. Piagam Madinah mencerminkan implementasi nilai-nilai tersebut dalam tata kelola masyarakat plural yang menjunjung keadilan, kebebasan beragama, dan tanggung jawab kolektif. Temuan ini menegaskan bahwa multikulturalisme merupakan bagian integral dari visi peradaban Islam dan memiliki relevansi penting dalam menghadapi tantangan global seperti intoleransi dan konflik identitas.