Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Representasi Toxic Parents dalam Film What Will People Say (2017) Setyadi, Hafiza Ardani; Wiman, Rizkidarajat Wiman
Jurnal Interaksi Sosiologi Vol 2 No 2 (2023): Jurnal Interaksi Volume 2 Nomor 2 April 2023
Publisher : Laborataorium Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Artikel ini membahas representasi toxic parents dalam film What Will People Say (2017). Fenomena toxic parents masih marak terjadi dan digambarkan melalu media di sekitar kita, salah satunya film. Film berfungsi sebagai media hiburan, informatif, edukatif, persuasif, dan kritik. Kisah yang disajikan dalam film tidak hanya dimaknai sebagai hiburan semata tetapi juga sebagai representasi dan kritik terhadap realitas sosial. Film What Will People Say menceritakan sebuah keluarga diaspora Pakistan yang tinggal di Norwegia. Konflik keluarga terjadi melalui hubungan antara orang tua dengan anak sebagai korban toxic parents. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis semiotika Roland Barthes. Terdapat 8 potongan adegan sebagai bahan kajian penelitian. Adegan yang dipilih dianalisis menggunakan semiotika Roland Barthes melalui 3 unsur yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi toxic parents dalam film What Will People Say adalah kekerasan baik secara fisik maupun simbolik, tidak mau mendengarkan anak, manipulatif, gemar menyalahkan anak, melabeli anak secara negatif, merendahkan anak, terlalu mengontrol anak, dan sikap over protective. Kata Kunci: Toxic Parents, Representasi Film, Film What Will People Say, Semiotika Roland Barthes ABSTRACT This article discusses the representation of toxic parents in the film What Will People Say (2017). The phenomenon of toxic parents is still rampant and portrayed through the media around us, one of which is film. Film serves as a medium of entertainment, informative, educational, persuasive, and criticism. The story presented in the film is not only interpreted as entertainment but also as a representation and criticism of social reality. What Will People Say tells the story of a Pakistani diaspora family living in Norway. Family conflict occurs through the relationship between parents and children as victims of toxic parents. This research using descriptive qualitative methods with Roland Barthes' semiotic analysis approach. There are 8 pieces of scenes as material for research studies. The selected scene is analyzed using Roland Barthes semiotics through 3 elements: denotation, connotation, and myth. The results showed that the representation of toxic parents in the film What Will People Say are physical and symbolic violence, unwilling to listen to children, manipulative, fond of blaming children, labeling children negatively, degrading children, over-controlling children, and over protective attitudes. Keywords : Toxic Parents, Film Representation, What Will People Say Film, Roland Barthes Semiotics
Perilaku Konsumtif Kalangan Remaja Penggemar Korean Pop (K-Pop) di Bogor Rusdi, Araminta Samara; Masrukin, Masrukin; Rizkidarajat, Wiman
Jurnal Interaksi Sosiologi Vol 3 No 1 (2023): Jurnal Interaksi Volume 3 Nomor 1 2023
Publisher : Laborataorium Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/jis.v3i1.9202

Abstract

Kehadiran K-Pop menciptakan gaya hidup baru yang konsumtif di kalangan penggemarnya yang didominasi oleh remaja. Rasa cinta yang berlebihan terhadap idola K-Pop membuat para penggemar ingin membeli segala sesuatu yang berhubungan dengan idolanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku konsumtif kalangan remaja penggemar K-Pop di Bogor yang ditinjau dari aspek pembelian impulsif, pemborosan, dan pembelian tidak rasional. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif deskriptif dengan kuesioner sebagai teknik pengumpulan data. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 96 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggemar K-Pop di Bogor terindikasi melakukan pembelian tidak rasional pada kategori tinggi (58,3%). Indikasi pembelian tidak rasional didasari oleh motif kesenangan yang didapatkan dari membeli merchandise. Sedangkan pada aspek pembelian impulsif dan pemborosan menunjukkan hasil bahwa penggemar K-Pop di Bogor terindikasi pada kategori sedang dengan persentase masing-masing sebesar 62,5% dan 65,6%. Indikasi pembelian impulsif dan pemborosan dilihat dari ketertarikan mengikuti kegiatan atau membeli merchandise, pengaruh member favorit terhadap keputusan pembelian, kepahaman terhadap tujuan mengikuti kegiatan atau pembelian merchandise, dan tidak mempermasalahkan biaya yang dikeluarkan untuk membeli merchandise.
Analisis Ketidakadilan Perempuan pada Film Dokumenter Keep Sweet, Pray and Obey Amirah, Praya Ariffa; Mutahir, Arizal; Dadan, Sulyana; Rizkidarajat, Wiman
Jurnal Dinamika Sosial Budaya Vol. 25 No. 2 (2023): Desember (2023)
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jdsb.v25i4.7975

Abstract

Penelitian ini memfokuskan kajiannya pada bentuk objektifikasi perempuan yang belum terungkap melalui film dokumenter Keep Sweet, Pray and Obey. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan bentuk objektifikasi perempuan dalam film Keep Sweet Pray and Obey.Berdasarkan paradigmanya, maka penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif-interpretatif Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah semiotika. Hal ini dikarenakan semiotika merupakan studi terkait tanda. Teknik analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah semiotika model Roland Barthes. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data-data dokumentatif yang dibutuhkan oleh peneliti. Terdapat berbagai bentuk objektifikasi perempuan mulai dari rambut, pakaian, pandangan laki-laki yang melihat perempuan abu-abu sehingga perempuan tidak memiliki batasan pasti tentang hak dan kewajiban mereka sebagai manusia. Penindasan terhadap perempuan adalah sasaran empuk dengan mengedepankan narasi agama yang dogmatis. Faktor pendukung bentuk objektifikasi perempuan dimulai dari adanya pengaruh media, hubungan personal, dan hubungan sosial. Terdapat berbagai cara manipulasi perempuan yang terlihat pada film ini.
Urban space spatiality in Purwokerto, Jawa Tengah: Case from Gedung Soetedja Rizkidarajat, Wiman; Mutahir, Arizal; Hanny, Isna; Correa, Ismael Caceres
SOSIOHUMANIORA: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 10 No 1 (2024): Februari 2024
Publisher : LP2M Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/sosio.v10i1.16641

Abstract

This article attempts to trace the spatiality of urban space in Purwokerto using Lefebvian theory. The main urban space in this article is Gedung Soetedja which was previously located on Jalan Gatot Soebroto, Purwokerto Barat. As long as it was an urban space, the central discourse of Gedung Soetedja was underground music which was born from the movements of urban youth in Indonesia in the early 2000s. The method used in this article is descriptive qualitative. The data was obtained through interviews with 2 actors and organizers of underground gigs in early 2000s, 2 actors of a youth collective called Heartcorner Collective, 2 cafe owners who were often used to Heartcorner Collective organize gigs (micro scale underground music concert), and 1 journalist. This data was obtained from May-August 2023. The findings of this article are the efforts of a collective, the Heartcorner Collective, to create urban spatiality through re-reading underground music discourse, placemaking, and spatiality of urban spaces. Furthermore, this article also presents things that caused Gedung Soetedja to lose its inclusiveness when Pemerintah Daerah Kabupaten Banyumas moved it to its new location.
Kerja atau karier: Studi biografi pada strategi musisi DIY dalam menghadapi pilihan kemiskinan di Purwokerto, Jawa Tengah Rizkidarajat, Wiman; Mutahir, Arizal; Restuadhi, Hendri; Julianti, Shinta
SOSIOHUMANIORA: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 11 No 1 (2025): February 2025
Publisher : LP2M Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/sosio.v11i1.18061

Abstract

Pemuda selalu memiliki distingsi dalam memilih jenis pekerjaan dan karier untuk melanjutkan lintasan hidupnya. Contoh pilihan tersebut adalah melanjutkan karier sebagai musisi DIY. Dalam praktiknya, pilihan untuk melanjutkan karier di musik DIY seringkali harus dinegosiasikan dengan berbagai hal, mulai dari latar belakang sosial ekonomi pemuda yang mempraktikkannya hingga demografi kota tempat mereka tinggal. Artikel ini bertujuan untuk menyajikan strategi musisi DIY di kota kabupaten, Purwokerto yang terletak di Jawa Tengah. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan biografi. Informan dalam artikel ini adalah 20 orang praktisi musik DIY di Purwokerto yang diwawancarai secara mendalam pada bulan Mei 2023 hingga Mei 2024. Data yang diperoleh kemudian diolah dengan metode critical insider, dan menghasilkan 9 data representasi dari 2 kolektif yang diteliti dalam artikel yaitu Heartcorner Collective dan Voicehell. Temuan artikel ini adalah pilihan kemiskinan disebakan karena dua hal. Pertama kegagalan transisi pendidikan menuju kerja dan kedua keadaan kota yang tidak bisa menyediakan ruang untuk bekerja bagi para pemuda yang memilih menggunakan modal sosialnya sebagai musisi DIY. Keadaan tersebut membuat para pemuda harus menerapkan pemaknaan kerja dan karier dalam praktik bermusik mereka. Hasil dari penelitian adalah terdapatnya strategi yang diterapkan oleh para musisi DIY berupa melakukan juggling work dan menegosiasikan otentisitas DIYnya. Hal tersebut merupakan pilihan paling wajar untuk memisahkan pemaknaan terhadap kerja atau karier terhadap praktik bermusik DIY, sehingga para musisi DIY tetap dapat melanjutkan lintasan hidupnya melalui praktik bermusik DIY.
Kolektif Pemuda dan Placemaking: Penciptaan Ruang Alternatif oleh Heartcorner Collective, Purwokerto Rizkidarajat, Wiman; Rahmadona, Asti Eka; Geminove, Miracle Janissa
Jurnal Penelitian Inovatif Vol 4 No 2 (2024): JUPIN Mei 2024
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jupin.290

Abstract

Kegiatan kepemudaan identik dengan kreativitas, kemandirian, dan kolektivitas. Salah satu contoh kegiatan kepemudaan yang melibatkan hal-hal tersebut adalah praktik bermusik indie. Praktik bermusik tersebut merupakan fenomena global yang juga melibatkan kultur do-it-yourself (selanjutnya disingkat menjadi DIY) dalam pelaksanaannya. Artikel ini bertujuan untuk menyajikan kajian praktik penciptaan ruang atau placemaking yang dilakukan oleh sebuah kolektif pemuda di Purwokerto, Jawa Tengah bernama Heartcorner Collective. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Sumber data dalam artikel ini berasal dari lima pamflet gigs atau konser musik indie berskala kecil yang pernah diadakan oleh Heartcorner Collective dalam rentang tahun 2013-2023. Data melalui pamflet tersebut kemudian diperkuat dengan wawancara mendalam dengan representasi Heartcorner Collcetive dan dua penyedia ruang alternatif. Proses pengambilan data dilakukan selama empat bulan mulai dari bulan Agustus-Desember 2023. Data yang terkumpul kemudian dibaca melalui konsep triadik penciptaan ruang milik Henri Lefebvre dan disajikan dengan menggunakan cara critical insider milik Paul Hodkinson. Temuan dari artikel ini adalah praktik kreatif kolektif pemuda dalam menciptakan ruang alternatif yang disebabkan karena ketiadaan ruang yang dapat mendukung kreativitas mereka dalam menyebarkan wacana musik indie di Purwokerto.
Persepsi Seks Bebas di Kalangan Mahasiswa Berstatus Pacaran di Fisip Unsoed Angkatan 2020 Mahdiyah, Hana Luthfiyah; Sutoyo, Ignatius Suksmadi; Rizkidarajat, Wiman; Wulan, Tyas Retno
Jurnal Penelitian Inovatif Vol 4 No 3 (2024): JUPIN Agustus 2024
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jupin.301

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi mahasiswa laki-laki dan perempuan yang memiliki status pacaran di FISIP UNSOED angkatan 2020 mengenai seks bebas. Penelitian ini juga berkaitan dengan grand theory dari Sutherland yaitu teori asosiasi diferensial. Jenis penelitian ini adalah metode kuantitatif deskriptif untuk mendeskripsikan hasil temuan yang ada di lapangan. Sasaran penelitian yaitu mahasiswa laki-laki dan perempuan yang memiliki status pacaran di FISIP UNSOED angkatan 2020 dengan menggunakan simple random sampling. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner dan wawancara terstruktur. Analisis data menggunakan analisis distribusi frekuensi dan kategorisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Persepsi laki-laki berstatus pacaran mengenai seks bebas didominasi oleh petting dan oral seksual dengan persentase 100,0%, selanjutnya yaitu bersenggama dengan persentase 95,7%, 2) persepsi perempuan berstatus pacaran mengenai seks bebas didominasi oleh petting, oral seksual, dan bersenggama dengan persentase 100,0%.
Perilaku Menyontek di Purwokerto: Studi Kuantitatif Perbandingan Perilaku Menyontek pada Siswa SMA Berbasis Umum dan Agama Nafis, Aulia Hakqi; Martono, Nanang; Rizkidarajat, Wiman
Jurnal Penelitian Inovatif Vol 4 No 2 (2024): JUPIN Mei 2024
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jupin.354

Abstract

Perilaku menyontek masih menjadi permasalahan di lembaga pendidikan. Fenomena perilaku menyontek ini mengindikasikan masih terdapat keabsenan sekolah dalam mewujudkan tujuan lembaga pendidikan yang berintegritas. Penelitian ini berupaya mengidentifikasi pengaruh stigmatisasi yang diberikan kepada laki-laki dan perempuan terhadap perilaku menyontek pascapandemi Covid-19. Serta, mengkomparasikan pengaruh jenis sekolah terhadap perilaku menyontek. Metode penelitian yang digunakan adalah survei. Peneliti mengambil 313 (15% dari populasi) responden berasal dari SMA berbasis umum dan SMA berbasis agama di Purwokerto dengan menggunakan teknik sampling proportionate stratified random sampling. Analisis data menggunakan tabel silang dan Chi Kuadrat K sample. Hasil penelitian menunjukkan hasil nilai Chi Square adalah dengan 2.189 Asymp. Sig. 0.139 >  0.05, nilai Asymp.Sig. menunjukkan hasil yang lebih besar dibandingan dengan nilai : 0.05. Maka dapat disimpulkan, tidak ada perbedaan signifikan antara siswa laki-laki dan perempuan dalam melakukan perilaku menyontek. Sementara, hasil nilai Chi Square adalah 3.518 dengan nilai Asimp. Sig sebesar 0.061 yang akan dibandingkan dengan nilai  : 0.1. Terlihat nilai Asimp. Sig 0.061 > 0.10, dapat disimpulkan terdapat pengaruh signifikan antara jenis sekolah dengan perilaku menyontek. Artinya, penelitian ini membuktikan bahwa SMA berbasis agama dan SMA berbasis umum memiliki perbedaan yang signifikan. Hasil penelitian menunjukkan SMA berbasis umum mendominasi perilaku menyontek yang terjadi saat mengerjakan ujian dibandingkan dengan SMA berbasis agama.
Gentrifikasi dan Ketimpangan Sosial di Kelurahan Pabuwaran, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah Rizkidarajat, Wiman; Nabilla Arifputri, Aiza; Ariyanti, Margi; Hanny Puspitaningtyas, Isna; Hafizha, Aulia
Jurnal Ilmu Sosial Humaniora Indonesia Vol 4 No 1 (2024): JISHI - Juni 2024
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jishi.137

Abstract

Studi mengenai fenomena sosial bernama gentrifikasi di Kabupaten Banyumas belum banyak dilakukan. Sedangkan, pada kenyataannya fenomena gentrifikasi semakin banyak ditemukan di ibukota Kabupaten Banyumas, Purwokerto sejak tahun 2013 melalui wacana desa wisata dan pembangunan fisik besar-besaran di wilayah utara daerah tersebut. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan mengenai fenomena gentrifikasi beserta efek buruknya bagi wilayah yang mengalami fenomena tersebut. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Sumber data berupa hasil wawancara dengan 2 pengurus Rukun Tetangga (RT) kelurahan Pabuwaran, 4 tempat makan yang berdiri di wilayah utara kelurahan Pabuwaran yang merupakan bagian dari wilayah administratif kecamatan Purwokerto Utara dan 10 informan warga kelurahan Pabuwaran yang bekerja serabutan pada masing-masing tempat makan tersebut. Data dikumpulkan mulai bulan Januari sampai Maret 2024 dan diolah serta ditranskrip mulai bulan April hingga Mei 2024. Hasil dari artikel ini adalah ditemukannya bentuk gentrifikasi di kelurahan Pabuwaran dalam bentuk pelepasan lahan pertanian aktif. Pelepasan lahan pertanian aktif tersebut dialihgunakan menjadi tempat makan milik perorangan. Pengalihgunaan tersebut kemudian mendorong munculnya ketimpangan sosial akibat gentrifikasi. Ketimpangan sosial tersebut hadir dalam bentuk pembangunan fisik yang mengedepankan paham developmentalisme, perebutan ruang dalam bentuk asumsi identitas ruang yang lekat dengan satu kelas sosial tertentu, dan ketidakmerataan ketersediaan lapangan pekerjaan dalam bentuk pemisahan antara lapangan pekerjaan untuk tenaga terlatih dan tenaga serabutan.
Analisis Semiotika Roland Barthes pada Representasi dan Konstruksi Sosial Perempuan dalam Serial Gadis Kretek Nahda, Lilla Mushfiya; Hariyadi, Hariyadi; Rizkidarajat, Wiman
Jurnal Ilmu Sosial Humaniora Indonesia Vol 4 No 1 (2024): JISHI - Juni 2024
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jishi.164

Abstract

Konstruksi sosial merupakan produk yang dihasilkan dari masyarakat dalam membentuk representasi dan pandangan mengenai ketidaksetaraan gender. Serial film sebagai produk budaya populer turut mengkaji fenomena mengenai perjuangan perempuan dalam melawan stigma masyarakat. Penelitian ini difokuskan untuk mengkaji representasi dan konstruksi sosial pada perempuan dalam serial "Gadis Kretek". Serial ini menggambarkan representasi perempuan Jawa yang diperankan oleh Dasiyah, sebagai tokoh yang memiliki keterkaitan erat dengan industri kretek. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna dalam serial "Gadis Kretek" melalui metode penelitian kualitatif interpretatif dengan pendekatan semiotika model Roland Barthes. Penelitian ini menggunakan sumber data primer yaitu adegan dan dialog yang terdapat dalam serial "Gadis Kretek" dan sumber data sekunder yang diperoleh dari novel, buku, jurnal, artikel, dan dokumen lainnya. Hasil dari penelitian ini menggambarkan serial "Gadis Kretek" yang merepresentasikan perempuan sebagai makhluk yang dibentuk dan dibatasi oleh konstruksi sosial, budaya patriarki, dan diskriminasi gender. Penelitian ini memperoleh kesimpulan bahwa serial "Gadis Kretek" mengimplementasikan konstruksi sosial melalui representasi yang dicerminkan masyarakat terhadap perempuan. Serial ini turut menggambarkan mengenai perjuangan perempuan dalam menghadapi konstruksi sosial sehingga dapat memberikan makna bahwa serial ini turut menyampaikan keterlibatan peran gender dan persepsi masyarakat yang perlu dibangun untuk mencapai kesetaraan gender.