Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Kolektif Pemuda dan Placemaking: Penciptaan Ruang Alternatif oleh Heartcorner Collective, Purwokerto Rizkidarajat, Wiman; Rahmadona, Asti Eka; Geminove, Miracle Janissa
Jurnal Penelitian Inovatif Vol 4 No 2 (2024): JUPIN Mei 2024
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jupin.290

Abstract

Kegiatan kepemudaan identik dengan kreativitas, kemandirian, dan kolektivitas. Salah satu contoh kegiatan kepemudaan yang melibatkan hal-hal tersebut adalah praktik bermusik indie. Praktik bermusik tersebut merupakan fenomena global yang juga melibatkan kultur do-it-yourself (selanjutnya disingkat menjadi DIY) dalam pelaksanaannya. Artikel ini bertujuan untuk menyajikan kajian praktik penciptaan ruang atau placemaking yang dilakukan oleh sebuah kolektif pemuda di Purwokerto, Jawa Tengah bernama Heartcorner Collective. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Sumber data dalam artikel ini berasal dari lima pamflet gigs atau konser musik indie berskala kecil yang pernah diadakan oleh Heartcorner Collective dalam rentang tahun 2013-2023. Data melalui pamflet tersebut kemudian diperkuat dengan wawancara mendalam dengan representasi Heartcorner Collcetive dan dua penyedia ruang alternatif. Proses pengambilan data dilakukan selama empat bulan mulai dari bulan Agustus-Desember 2023. Data yang terkumpul kemudian dibaca melalui konsep triadik penciptaan ruang milik Henri Lefebvre dan disajikan dengan menggunakan cara critical insider milik Paul Hodkinson. Temuan dari artikel ini adalah praktik kreatif kolektif pemuda dalam menciptakan ruang alternatif yang disebabkan karena ketiadaan ruang yang dapat mendukung kreativitas mereka dalam menyebarkan wacana musik indie di Purwokerto.
Persepsi Seks Bebas di Kalangan Mahasiswa Berstatus Pacaran di Fisip Unsoed Angkatan 2020 Mahdiyah, Hana Luthfiyah; Sutoyo, Ignatius Suksmadi; Rizkidarajat, Wiman; Wulan, Tyas Retno
Jurnal Penelitian Inovatif Vol 4 No 3 (2024): JUPIN Agustus 2024
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jupin.301

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi mahasiswa laki-laki dan perempuan yang memiliki status pacaran di FISIP UNSOED angkatan 2020 mengenai seks bebas. Penelitian ini juga berkaitan dengan grand theory dari Sutherland yaitu teori asosiasi diferensial. Jenis penelitian ini adalah metode kuantitatif deskriptif untuk mendeskripsikan hasil temuan yang ada di lapangan. Sasaran penelitian yaitu mahasiswa laki-laki dan perempuan yang memiliki status pacaran di FISIP UNSOED angkatan 2020 dengan menggunakan simple random sampling. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner dan wawancara terstruktur. Analisis data menggunakan analisis distribusi frekuensi dan kategorisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Persepsi laki-laki berstatus pacaran mengenai seks bebas didominasi oleh petting dan oral seksual dengan persentase 100,0%, selanjutnya yaitu bersenggama dengan persentase 95,7%, 2) persepsi perempuan berstatus pacaran mengenai seks bebas didominasi oleh petting, oral seksual, dan bersenggama dengan persentase 100,0%.
Perilaku Menyontek di Purwokerto: Studi Kuantitatif Perbandingan Perilaku Menyontek pada Siswa SMA Berbasis Umum dan Agama Nafis, Aulia Hakqi; Martono, Nanang; Rizkidarajat, Wiman
Jurnal Penelitian Inovatif Vol 4 No 2 (2024): JUPIN Mei 2024
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jupin.354

Abstract

Perilaku menyontek masih menjadi permasalahan di lembaga pendidikan. Fenomena perilaku menyontek ini mengindikasikan masih terdapat keabsenan sekolah dalam mewujudkan tujuan lembaga pendidikan yang berintegritas. Penelitian ini berupaya mengidentifikasi pengaruh stigmatisasi yang diberikan kepada laki-laki dan perempuan terhadap perilaku menyontek pascapandemi Covid-19. Serta, mengkomparasikan pengaruh jenis sekolah terhadap perilaku menyontek. Metode penelitian yang digunakan adalah survei. Peneliti mengambil 313 (15% dari populasi) responden berasal dari SMA berbasis umum dan SMA berbasis agama di Purwokerto dengan menggunakan teknik sampling proportionate stratified random sampling. Analisis data menggunakan tabel silang dan Chi Kuadrat K sample. Hasil penelitian menunjukkan hasil nilai Chi Square adalah dengan 2.189 Asymp. Sig. 0.139 >  0.05, nilai Asymp.Sig. menunjukkan hasil yang lebih besar dibandingan dengan nilai : 0.05. Maka dapat disimpulkan, tidak ada perbedaan signifikan antara siswa laki-laki dan perempuan dalam melakukan perilaku menyontek. Sementara, hasil nilai Chi Square adalah 3.518 dengan nilai Asimp. Sig sebesar 0.061 yang akan dibandingkan dengan nilai  : 0.1. Terlihat nilai Asimp. Sig 0.061 > 0.10, dapat disimpulkan terdapat pengaruh signifikan antara jenis sekolah dengan perilaku menyontek. Artinya, penelitian ini membuktikan bahwa SMA berbasis agama dan SMA berbasis umum memiliki perbedaan yang signifikan. Hasil penelitian menunjukkan SMA berbasis umum mendominasi perilaku menyontek yang terjadi saat mengerjakan ujian dibandingkan dengan SMA berbasis agama.
Gentrifikasi dan Ketimpangan Sosial di Kelurahan Pabuwaran, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah Rizkidarajat, Wiman; Nabilla Arifputri, Aiza; Ariyanti, Margi; Hanny Puspitaningtyas, Isna; Hafizha, Aulia
Jurnal Ilmu Sosial Humaniora Indonesia Vol 4 No 1 (2024): JISHI - Juni 2024
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jishi.137

Abstract

Studi mengenai fenomena sosial bernama gentrifikasi di Kabupaten Banyumas belum banyak dilakukan. Sedangkan, pada kenyataannya fenomena gentrifikasi semakin banyak ditemukan di ibukota Kabupaten Banyumas, Purwokerto sejak tahun 2013 melalui wacana desa wisata dan pembangunan fisik besar-besaran di wilayah utara daerah tersebut. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan mengenai fenomena gentrifikasi beserta efek buruknya bagi wilayah yang mengalami fenomena tersebut. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Sumber data berupa hasil wawancara dengan 2 pengurus Rukun Tetangga (RT) kelurahan Pabuwaran, 4 tempat makan yang berdiri di wilayah utara kelurahan Pabuwaran yang merupakan bagian dari wilayah administratif kecamatan Purwokerto Utara dan 10 informan warga kelurahan Pabuwaran yang bekerja serabutan pada masing-masing tempat makan tersebut. Data dikumpulkan mulai bulan Januari sampai Maret 2024 dan diolah serta ditranskrip mulai bulan April hingga Mei 2024. Hasil dari artikel ini adalah ditemukannya bentuk gentrifikasi di kelurahan Pabuwaran dalam bentuk pelepasan lahan pertanian aktif. Pelepasan lahan pertanian aktif tersebut dialihgunakan menjadi tempat makan milik perorangan. Pengalihgunaan tersebut kemudian mendorong munculnya ketimpangan sosial akibat gentrifikasi. Ketimpangan sosial tersebut hadir dalam bentuk pembangunan fisik yang mengedepankan paham developmentalisme, perebutan ruang dalam bentuk asumsi identitas ruang yang lekat dengan satu kelas sosial tertentu, dan ketidakmerataan ketersediaan lapangan pekerjaan dalam bentuk pemisahan antara lapangan pekerjaan untuk tenaga terlatih dan tenaga serabutan.
Analisis Semiotika Roland Barthes pada Representasi dan Konstruksi Sosial Perempuan dalam Serial Gadis Kretek Nahda, Lilla Mushfiya; Hariyadi, Hariyadi; Rizkidarajat, Wiman
Jurnal Ilmu Sosial Humaniora Indonesia Vol 4 No 1 (2024): JISHI - Juni 2024
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jishi.164

Abstract

Konstruksi sosial merupakan produk yang dihasilkan dari masyarakat dalam membentuk representasi dan pandangan mengenai ketidaksetaraan gender. Serial film sebagai produk budaya populer turut mengkaji fenomena mengenai perjuangan perempuan dalam melawan stigma masyarakat. Penelitian ini difokuskan untuk mengkaji representasi dan konstruksi sosial pada perempuan dalam serial "Gadis Kretek". Serial ini menggambarkan representasi perempuan Jawa yang diperankan oleh Dasiyah, sebagai tokoh yang memiliki keterkaitan erat dengan industri kretek. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna dalam serial "Gadis Kretek" melalui metode penelitian kualitatif interpretatif dengan pendekatan semiotika model Roland Barthes. Penelitian ini menggunakan sumber data primer yaitu adegan dan dialog yang terdapat dalam serial "Gadis Kretek" dan sumber data sekunder yang diperoleh dari novel, buku, jurnal, artikel, dan dokumen lainnya. Hasil dari penelitian ini menggambarkan serial "Gadis Kretek" yang merepresentasikan perempuan sebagai makhluk yang dibentuk dan dibatasi oleh konstruksi sosial, budaya patriarki, dan diskriminasi gender. Penelitian ini memperoleh kesimpulan bahwa serial "Gadis Kretek" mengimplementasikan konstruksi sosial melalui representasi yang dicerminkan masyarakat terhadap perempuan. Serial ini turut menggambarkan mengenai perjuangan perempuan dalam menghadapi konstruksi sosial sehingga dapat memberikan makna bahwa serial ini turut menyampaikan keterlibatan peran gender dan persepsi masyarakat yang perlu dibangun untuk mencapai kesetaraan gender.
Identitas Sosial Dalam Pola Circle Mahasiswa Ramadhan, Fajrianan Lutfi; Mutahir, Arizal; Restuadhi, Hendri; Rizkidarajat, Wiman
Jurnal Sosiologi Kontemporer Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Sosiologi Kontemporer, Desember 2025
Publisher : Program Studi Sosiologi Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/jsk.v5i2.6359

Abstract

Fenomena circle pertemanan di kalangan mahasiswa menunjukkan bagaimana identitas sosial terbentuk melalui proses interaksi sosial dalam kehidupan kampus. Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai individu akademik, tetapi juga sebagai aktor sosial yang membangun jaringan pertemanan sebagai sarana pembentukan jati diri dan nilai sosial. Penelitian ini bertujuan memahami proses pembentukan identitas sosial mahasiswa melalui circle pertemanan di ruang fisik dan digital. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka (library research) berdasarkan teori Identitas Sosial Tajfel dan Turner serta teori Interaksionisme Simbolik Mead dan Blumer. Analisis dilakukan secara interpretatif dan komparatif terhadap literatur primer dan sekunder yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas sosial mahasiswa terbentuk melalui proses kategorisasi, identifikasi, dan perbandingan sosial yang menumbuhkan rasa memiliki terhadap kelompok (in-group) serta membedakan diri dari kelompok lain (out-group). Circle pertemanan menjadi arena negosiasi makna sosial dan pembentukan solidaritas, sementara ruang digital seperti grup WhatsApp dan media sosial memperluas interaksi simbolik yang memperkuat kohesi serta ekspresi identitas kolektif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa circle pertemanan berperan penting dalam membentuk identitas sosial mahasiswa yang adaptif, reflektif, dan inklusif, sekaligus mencerminkan perubahan pola interaksi sosial generasi muda di era digital. The phenomenon of friendship circles among students shows how social identity is formed through the process of social interaction in campus life. Students not only act as academic individuals, but also as social actors who build a network of friends as a means of forming identity and social values. This study aims to understand the process of social identity formation of students through the circle of friends in the physical and digital space. The method used is descriptive qualitative with library research approach based on social identity theory of Tajfel and Turner and symbolic interactionism theory of Mead and Blumer. The analysis was carried out in an interpretative and comparative manner to the relevant primary and secondary literature. The results showed that the social identity of students is formed through the process of categorization, identification, and social comparison that fosters a sense of belonging to the group (in-group) and distinguish themselves from other groups (out-group). Friendship circles become arenas for negotiating social meaning and forming solidarity, while digital spaces such as WhatsApp groups and social media expand symbolic interactions that strengthen cohesion as well as the expression of collective identity. This study concludes that the circle of friends plays an important role in shaping the social identity of students who are adaptive, reflective, and inclusive, as well as reflecting the changing patterns of social interaction of the younger generation in the digital age.
Socio Cultural Dynamics and Double Precarity from the DIY Music Scene in Purwokerto, Indonesia Rizkidarajat, Wiman; Mutahir, Arizal; Chusna, Aidatul; Saadah, Kholifatus
Humaniora: Journal of Indonesia Culture and Society Vol. 16 No. 2 (2025): Humaniora
Publisher : Bina Nusantara University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21512/humaniora.v16i2.13351

Abstract

The research explores the socio-cultural dynamics and double precarity faced by Voicehell, a do-it-yourself (DIY) music scene based in Purwokerto. It provides an in-depth examination of the intersecting forms of precarity experienced by a collective of young people, conceptualized as an intermediate generation navigating their life choices within the broader context of the global risk generation. Using a qualitative method combined with a biographical approach, the research presents a reflective biography of the youth involved with Voicehell. The findings reveal that the collective negotiates various manifestations of capital, which may undermine their authenticity and authority as a DIY music scene. Notably, the research does not present a simplistic account of Voicehell's challenges. Instead, it demonstrates that their distinctive position within both a provincial city and the broader Indonesian context exposes them to double precarity. The research further illustrates how such conditions may also affect other Indonesian youth groups, as well as those in the Global North, where collectives frequently contend with spatial inadequacies rooted in underdeveloped socio-economic contexts. These structural limitations sustain their position within the global risk generation. By analyzing the case of Voicehell, the research contributes to a deeper understanding of youth cultures and their negotiation of authenticity, authority, and precarity in a globalized world.
Transisi Kepemudaan dalam Pilihan Karier: Studi Musisi Do it Yourself (DIY) di Kota Purwokerto Abiyyu, Dany Farhan; Mutahir, Arizal; Rizkidarajat, Wiman; Hariyadi, Hariyadi
PADARINGAN (Jurnal Pendidikan Sosiologi Antropologi) Vol 8, No 02 (2026): PADARINGAN : Jurnal Pendidikan Sosiologi Antropologi
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/pn.v8i02.18201

Abstract

Career choice among Indonesian youth does not occur autonomously but is shaped through negotiation with the surrounding social environment, particularly families that continue to regard formal employment as the primary marker of stability and success. This complexity becomes more pronounced when young people pursue non-conventional career paths such as do-it-yourself (DIY) music, which offers creative autonomy yet is marked by economic uncertainty. This article examines how DIY musicians in Purwokerto navigate their transition into the labour market, negotiate career choices with their families, and develop adaptive strategies to ope with structural constraints and dominant formal-work norms. Employing a descriptive qualitative method with a case study approach and informed by Karl Mannheim’s theory of social generations, data were collected through in-depth interviews and participant-as-observer, observations involving DIY musicians aged 20-24 who are still enrolled in higher education, additional informants who have completed the transition phase, and parents of the main informants. Data were analyzed using Miles and Huberman’s interactive model with source triangulation. The finding reveal that DIY youth transitions involve ongoing negotiation between creative aspirations, familial expectations, and limitations within the local music ecosystem, addressed through adaptive strategies combining creative labour, paid work, and collective networks.
GENTRIFIKASI DI DESA WISATA KARANGSALAM, BATURRADEN, JAWA TENGAH Rizkidarajat, Wiman; Wuryaningsih, Tri; Windiasih, Rili; Perdani, Titis
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 12, No 2 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v12i2.69821

Abstract

Karangsalam Village is a tourist village that relies on natural tourism and has become widely known since 2016. The existence of this natural tourism has led to massive capital penetration since 2017. Since 2017 in the north of the natural tourism vehicle in Karangsalam village there have been 47 cafes and an Entertainment area. This study aims to trace the forms and impacts of gentrification that occurred in the tourist village of Karangsalam, Baturraden, Central Java through tourism. The method used in this research is descriptive qualitative. The primary data in this study were obtained by conducting in-depth interviews with informants from cafes/entertainment venues around the Karangsalam tourist village and several tourism village administrators. The findings obtained are that there has been gentrification in the Karangsalam tourist village which was initiated by capital penetration in the form of building cafes/entertainment venues. This phenomenon shifted land use in Karangsalam village from what should prioritize Karangsalam residents by the mandate of Law Number 6 of 2014 concerning Village Administration, to utilization that prioritizes the economic benefits of carriers of capital entering the village. The conclusion from these findings is the discovery of the impact of gentrification in the form of internal migration of citizens, rising land prices, and inequality of employment. Keywords: Gentrification, Tourist village, Banyumas AbstrakDesa Karangsalam merupakan desa wisata yang mengandalkan wisata alam dan mulai dikenal secara luas sejak tahun 2016. Keberadaan wisata alam tersebut menyebabkan terjadinya penetrasi modal secara besar-besaran sejak tahun 2017. Terhitung sejak tahun 2017 di utara wahana wisata alam di desa Karangsalam berdiri 47 kafe dan tempat hiburan. Penelitian ini bertujuan untuk melacak bentuk dan dampak gentrifikasi yang terjadi di desa wisata Karangsalam, Baturraden, Jawa Tengah melalui pariwisata. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Data primer dalam penelitian ini diperoleh dengan melalukan wawancara mendalam dengan informan yang berasal dari kafe/tempat hiburan yang berdiri di sekitar desa wisata Karangsalam dan beberapa pengurus desa wisata. Temuan yang didapatkan adalah terjadi gentrifikasi di desa wisata Karangsalam yang diinisiasi oleh penetrasi kapital berupa pembangunan kafe/tempat hiburan. Fenomena tersebut menggeser pemanfaatan lahan di desa Karangsalam dari yang seharusnya mengutamakan warga Karangsalam sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Desa, menjadi pemanfaatan yang lebih mengedepankan manfaat ekonomi para pembawa masuk modalke dalam desa. Kesimpulan dari temuan tersebut adalah ditemukannya dampak dari gentrifikasi berupa migrasi internal warga, kenaikan harga tanah, dan ketidakmerataan lapangan pekerjaan.Kata Kunci: Gentrifikasi, Desa Wisata, Banyumas
Toxic Productivity Among University Students: The Role of Institutional Policy and Student Experience Perspectives Laila Sabrina; Ratna Dewi; Arizal Mutahir; Wiman Rizkidarajat
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 10 No. 03 (2026): July 2026, G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/g-couns.v10i03.8995

Abstract

Toxic productivity has become increasingly prevalent among university students as academic expectations, social pressures, and institutional policies collectively shape a culture that normalizes continuous activity. This study examines the phenomenon within the Faculty of Social and Political Sciences at Universitas Jenderal Soedirman by exploring how students interpret productivity-oriented academic regulations and how these structures interact with psychological tendencies. Using a descriptive quantitative design, data were collected from 233 undergraduate students through a structured questionnaire employing Likert and Guttman scales and analyzed using frequency distributions and descriptive statistics to identify behavioral patterns, perceptions of institutional policies, and experienced impacts. The findings show that many students experience persistent pressure to remain productive, often accompanied by guilt during rest, academic overload, and declining well-being. Students perceive institutional requirements, such as mandatory organizational involvement and credit-based activity systems, as reinforcing an achievement-oriented environment that promotes excessive productivity. These results demonstrate that toxic productivity arises not only from personal or social factors but also from structural academic expectations that shape bounded rationality in student decision-making. The study concludes that policy adjustments that promote flexibility, balanced performance indicators, and improved mental health support are essential to mitigating excessive productivity pressures and fostering healthier academic conditions. Keywords: burnout, mental health interventions, toxic productivity, university policy, well-being