Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Melacak Lokasi Risiko dalam Transisi Pemuda Menuju Dewasa di Purwokerto: Sebuah Kajian Literatur Rizkidarajat Wiman Wiman; Laila Sabrina; Aisha Cahyarani Nabila
Jurnal Interaksi Sosiologi Vol 4 No 1 (2024): Jurnal Interaksi Volume 4 Nomor 1 2024
Publisher : Laborataorium Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/jis.v4i1.13467

Abstract

ABSTRAK Pemuda sering kali menjumpai “perjalanan zig-zag” dalam memasuki masa adulthood dalam hidupnya. Perjalanan tersebut terjadi ketika pemuda berupaya untuk bergerak menuju tahapan adulthood melalui konversi modal sosial yang didapatkan melalui pendidikan tinggi untuk memperoleh pekerjaan yang layak atau sesuai. Artikel ini bertujuan untuk menunjukkan letak konsep risiko menurut Beck dalam proses transisi yang dilakukan oleh pemuda di Purwokerto, Indonesia. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Sumber data primer dalam artikel ini adalah 4 artikel yang diterbitkan oleh penulis pada tahun 2023-2024 dengan tema pemuda dan risiko tidak tuntasnya proses pendidikan tinggi, pemuda dan risiko kerja digital, serta pemuda dan risiko karya kreatif dalam ranah seni kontemporer. Temuan dari artikel ini adalah bahwa risiko transisi pemuda menuju masa dewasa dapat ditemukan pada kegagalan pendidikan tinggi untuk terhubung dengan “jenis pekerjaan yang layak”, yaitu jenis pekerjaan baru yang melibatkan ruang baru yang disebut ruang digital dan pekerjaan kreatif pemuda. Temuan ini membuktikan bahwa premis Beck mengenai timbulnya risiko global terbukti Kata Kunci: Pemuda, Kerja Digital, Kerja Kreatif, Masyarakat Risiko, Indonesia. ABSTRACT Young people often encounter zig-zag journey to entering adulthood stage in their life. After finishing their stage from higher education, it is common that young people transform into an adult through the mechanism of work. This article aims to show the location of the concept of risk according to Beck in this transition process carried out by young people in Purwokerto, Indonesia. The method used in this article is descriptive qualitative with a literature study approach. The primary data sources in this article are 4 articles with the themes of young people and the risks of incomplete higher education process, young people and the risks of digital work and young people and the risks of creative work in the realm of contemporary arts. The findings of this article are that risks within the young people transition into adulthood can be found within the failure of higher education to connect with “proper kind of work”, the new type of work that involving new space called digital space and the creative work of young people. This finding proofed that Beck’s premise regarding the global generation of risk is proven. Keywords: Young People, Digital Work, Creative Work, Risk Society, Indonesia
TRANSGRESIVITAS DAN PANDANGAN MASA DEPAN: STUDI BIOGRAFI PADA TUTUNG HITAM ANGGOTA PUNK PURWOKERTO Indira Luthvia Injani; Wiman Rizkidarajat; Arizal Mutahir
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 12, No 8 (2025): Nusantara : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v12i8.2025.3522-3529

Abstract

Masyarakat sering memandang punk sebagai hal yang negatif dan menyimpang, penelitian ini justru menemukan narasi yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini mengeksplorasi kisah pengalaman Tutung Hitam sebagai punk  yang mempraktikkan ideologi DIY (Do It Yourself) dan menunjukkan pandangan mengenai masa depan. penelitian ini akan menyelami bagaimana transgresivitas yang dianut justru membentuk pandangan masa depan yang berbeda dan bukan sekedar pelabelan negatif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi biografi oleh salah satu anggota komunitas punk Purwokerto yaitu Tutung Hitam. Teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Kemudian dilanjut dengan teknik analisis data menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Tutung Hitam tidak hanya menjadikan punk sebagai ekspresi  penampilan, melainkan juga berpegang pada prinsip kemandirian DIY (Do It Yourself). Transgresivitas ditunjukan melalui perlawanan terhadap norma sosial yang dominan. Tutung Berhasil membuktikan bahwa Punk tidak selalu dikaitkan dengan penyimpangan dan masa depan yang negatif. Artikel ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai komunitas punk melihat masa depan mereka dan mengurangi stigma negatif yang melekat pada mereka.
Urban space spatiality in Purwokerto, Jawa Tengah: Case from Gedung Soetedja Wiman Rizkidarajat; Arizal Mutahir; Isna Hanny; Ismael Caceres Correa
SOSIOHUMANIORA: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 10 No 1 (2024): Februari 2024
Publisher : LP2M Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/sosio.v10i1.16641

Abstract

This article attempts to trace the spatiality of urban space in Purwokerto using Lefebvian theory. The main urban space in this article is Gedung Soetedja which was previously located on Jalan Gatot Soebroto, Purwokerto Barat. As long as it was an urban space, the central discourse of Gedung Soetedja was underground music which was born from the movements of urban youth in Indonesia in the early 2000s. The method used in this article is descriptive qualitative. The data was obtained through interviews with 2 actors and organizers of underground gigs in early 2000s, 2 actors of a youth collective called Heartcorner Collective, 2 cafe owners who were often used to Heartcorner Collective organize gigs (micro scale underground music concert), and 1 journalist. This data was obtained from May-August 2023. The findings of this article are the efforts of a collective, the Heartcorner Collective, to create urban spatiality through re-reading underground music discourse, placemaking, and spatiality of urban spaces. Furthermore, this article also presents things that caused Gedung Soetedja to lose its inclusiveness when Pemerintah Daerah Kabupaten Banyumas moved it to its new location.
Kerja atau karier: Studi biografi pada strategi musisi DIY dalam menghadapi pilihan kemiskinan di Purwokerto, Jawa Tengah Wiman Rizkidarajat; Arizal Mutahir; Hendri Restuadhi; Shinta Julianti
SOSIOHUMANIORA: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 11 No 1 (2025): February 2025
Publisher : LP2M Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/sosio.v11i1.18061

Abstract

Pemuda selalu memiliki distingsi dalam memilih jenis pekerjaan dan karier untuk melanjutkan lintasan hidupnya. Contoh pilihan tersebut adalah melanjutkan karier sebagai musisi DIY. Dalam praktiknya, pilihan untuk melanjutkan karier di musik DIY seringkali harus dinegosiasikan dengan berbagai hal, mulai dari latar belakang sosial ekonomi pemuda yang mempraktikkannya hingga demografi kota tempat mereka tinggal. Artikel ini bertujuan untuk menyajikan strategi musisi DIY di kota kabupaten, Purwokerto yang terletak di Jawa Tengah. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan biografi. Informan dalam artikel ini adalah 20 orang praktisi musik DIY di Purwokerto yang diwawancarai secara mendalam pada bulan Mei 2023 hingga Mei 2024. Data yang diperoleh kemudian diolah dengan metode critical insider, dan menghasilkan 9 data representasi dari 2 kolektif yang diteliti dalam artikel yaitu Heartcorner Collective dan Voicehell. Temuan artikel ini adalah pilihan kemiskinan disebakan karena dua hal. Pertama kegagalan transisi pendidikan menuju kerja dan kedua keadaan kota yang tidak bisa menyediakan ruang untuk bekerja bagi para pemuda yang memilih menggunakan modal sosialnya sebagai musisi DIY. Keadaan tersebut membuat para pemuda harus menerapkan pemaknaan kerja dan karier dalam praktik bermusik mereka. Hasil dari penelitian adalah terdapatnya strategi yang diterapkan oleh para musisi DIY berupa melakukan juggling work dan menegosiasikan otentisitas DIYnya. Hal tersebut merupakan pilihan paling wajar untuk memisahkan pemaknaan terhadap kerja atau karier terhadap praktik bermusik DIY, sehingga para musisi DIY tetap dapat melanjutkan lintasan hidupnya melalui praktik bermusik DIY.
Identitas Sosial Dalam Pola Circle Mahasiswa Fajrianan Lutfi Ramadhan; Arizal Mutahir; Hendri Restuadhi; Wiman Rizkidarajat
Jurnal Sosiologi Kontemporer Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Sosiologi Kontemporer, Desember 2025
Publisher : Program Studi Sosiologi Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/jsk.v5i2.6359

Abstract

Fenomena circle pertemanan di kalangan mahasiswa menunjukkan bagaimana identitas sosial terbentuk melalui proses interaksi sosial dalam kehidupan kampus. Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai individu akademik, tetapi juga sebagai aktor sosial yang membangun jaringan pertemanan sebagai sarana pembentukan jati diri dan nilai sosial. Penelitian ini bertujuan memahami proses pembentukan identitas sosial mahasiswa melalui circle pertemanan di ruang fisik dan digital. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka (library research) berdasarkan teori Identitas Sosial Tajfel dan Turner serta teori Interaksionisme Simbolik Mead dan Blumer. Analisis dilakukan secara interpretatif dan komparatif terhadap literatur primer dan sekunder yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas sosial mahasiswa terbentuk melalui proses kategorisasi, identifikasi, dan perbandingan sosial yang menumbuhkan rasa memiliki terhadap kelompok (in-group) serta membedakan diri dari kelompok lain (out-group). Circle pertemanan menjadi arena negosiasi makna sosial dan pembentukan solidaritas, sementara ruang digital seperti grup WhatsApp dan media sosial memperluas interaksi simbolik yang memperkuat kohesi serta ekspresi identitas kolektif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa circle pertemanan berperan penting dalam membentuk identitas sosial mahasiswa yang adaptif, reflektif, dan inklusif, sekaligus mencerminkan perubahan pola interaksi sosial generasi muda di era digital. The phenomenon of friendship circles among students shows how social identity is formed through the process of social interaction in campus life. Students not only act as academic individuals, but also as social actors who build a network of friends as a means of forming identity and social values. This study aims to understand the process of social identity formation of students through the circle of friends in the physical and digital space. The method used is descriptive qualitative with library research approach based on social identity theory of Tajfel and Turner and symbolic interactionism theory of Mead and Blumer. The analysis was carried out in an interpretative and comparative manner to the relevant primary and secondary literature. The results showed that the social identity of students is formed through the process of categorization, identification, and social comparison that fosters a sense of belonging to the group (in-group) and distinguish themselves from other groups (out-group). Friendship circles become arenas for negotiating social meaning and forming solidarity, while digital spaces such as WhatsApp groups and social media expand symbolic interactions that strengthen cohesion as well as the expression of collective identity. This study concludes that the circle of friends plays an important role in shaping the social identity of students who are adaptive, reflective, and inclusive, as well as reflecting the changing patterns of social interaction of the younger generation in the digital age.
The risks of developing “Do It Yourself (DIY)” music career in unfinished creative city Wiman Rizkidarajat; Aidatul Chusna; Kholifatus Saadah
Jurnal Sosiologi Dialektika Vol. 20 No. 2 (2025): Jurnal Sosiologi Dialektika
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jsd.v20i2.2025.133-146

Abstract

This article endeavors to present findings on the strategic positioning of career development through DIY music by young people as they confront the late capitalism configurations inherent in the creative economy of the provincial city of Purwokerto. Drawing on data collected with a qualitative method, utilizing a biographical approach from October 2022 to January 2025, the study profiles two youth collectives in Purwokerto: Heartcorner Collective and Voicehell. Both employ strategies such as “catch-all” and “non-stop musicians” to advance their careers. However, these strategies fail due to the inadequate development of a comprehensive creative ecosystem in Purwokerto, especially in the music sector. The lack of infrastructure and support leaves DIY musicians struggling to articulate and sustain their careers. This situation places them within the global risk generation, as they navigate the challenges of developing a DIY music career amidst the unfinished creative city framework. Consequently, their efforts to resist established economic patterns and maintain the authenticity of DIY practices become increasingly precarious, reflecting broader issues faced by young people in the creative economy.
Analisis Ketidakadilan Perempuan pada Film Dokumenter Keep Sweet, Pray and Obey Praya Ariffa Amirah; Arizal Mutahir; Sulyana Dadan; Wiman Rizkidarajat
Jurnal Dinamika Sosial Budaya Vol. 25 No. 2 (2023): Desember (2023)
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jdsb.v25i4.7975

Abstract

Penelitian ini memfokuskan kajiannya pada bentuk objektifikasi perempuan yang belum terungkap melalui film dokumenter Keep Sweet, Pray and Obey. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan bentuk objektifikasi perempuan dalam film Keep Sweet Pray and Obey.Berdasarkan paradigmanya, maka penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif-interpretatif Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah semiotika. Hal ini dikarenakan semiotika merupakan studi terkait tanda. Teknik analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah semiotika model Roland Barthes. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data-data dokumentatif yang dibutuhkan oleh peneliti. Terdapat berbagai bentuk objektifikasi perempuan mulai dari rambut, pakaian, pandangan laki-laki yang melihat perempuan abu-abu sehingga perempuan tidak memiliki batasan pasti tentang hak dan kewajiban mereka sebagai manusia. Penindasan terhadap perempuan adalah sasaran empuk dengan mengedepankan narasi agama yang dogmatis. Faktor pendukung bentuk objektifikasi perempuan dimulai dari adanya pengaruh media, hubungan personal, dan hubungan sosial. Terdapat berbagai cara manipulasi perempuan yang terlihat pada film ini.