Pratama Herry Herlambang
Fakultas Hukum, Universitas Negeri Semarang

Published : 29 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Granting Clemency to Antasari Azhar as the Object of a State Administrative Law Dispute Ary Muktian Syah; Pratama Herry Herlambang; Bayangsari Wedhatami; Chirstoverus Marco
Indonesian State Law Review Vol. 6 No. 2 (2023): Indonesian State Law Review, 2023
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/islrev.v6i2.23147

Abstract

This study provides an overview of the state administrative law dispute surrounding the granting of clemency to Antasari Azhar, a prominent figure involved in a high-profile legal case. The controversy stems from the exercise of executive power and the application of clemency within the framework of state administrative law. Antasari Azhar, a former Indonesian Corruption Eradication Commission (KPK) chairman, was convicted in a notable corruption case. Subsequently, his request for clemency sparked debates, legal challenges, and concerns about the integrity of the administrative process. This study delves into the legal dimensions of Antasari Azhar’s clemency case, examining the constitutional and administrative law aspects involved. Key issues include the discretionary powers of the executive in granting clemency, the potential influence of political considerations, and the adherence to legal procedures during the decision-making process. The research aims to shed light on the broader implications of this case for the rule of law, the separation of powers, and the accountability of public officials. Through a comprehensive analysis of relevant legal frameworks, court decisions, and scholarly perspectives, this study seeks to contribute to the understanding of the complex interplay between executive powers and the legal principles governing clemency in the context of state administrative law. Furthermore, it addresses the implications of such disputes for the overall legal and political landscape, emphasizing the importance of transparency, due process, and accountability in the exercise of executive clemency.
Positivisme Dan Implikasinya Terhadap Ilmu Dan Penegakan Hukum Pratama Herry Herlambang
Indonesian State Law Review Vol. 2 No. 1 (2019): Indonesian State Law Review, October 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/islrev.v2i1.23197

Abstract

Lahirnya positivisme merupakan langkah awal dari modernisasi karena mundurnya pengaruh agama dan raja sebagai wakil Tuhan. Era renaissance membuat manusia bukan hanya percaya pada Hukum Tuhan semata. Hal tersebutlah yang melandasi lahirnya paham positivisme. Positivisme hanya mendasarkan pada kenyataan dan hanya menggunakan metode secara ilmiah. Pola berfikir positivisme yang mengandalkan empirisme filosofis mulai dibawa masuk ke wilayah hukum pada abad ke-19, dimana positivisme mengedepankan adanya kepastian hukum dengan mengambil sumber hukum formal berupa peraturan perundang-undangan. Tidak selamanya positivisme hukum mengabaikan moral begitu saja, ia masih terbuka untuk perbaikan menjadi yang lebih baik namun tetap diperlukan prosedur yang berlaku. Namun apa yang dianggap kebaikan oleh positivisme hukum itulah keburukan dari positivisme hukum ini. Positivisme yang mempunyai aspek ontologis dalam positivisme yang dianggap sebagai norma positif dalam sistem perundang-undangan suatu negara sehingga terlepas dari masalah moral. Di sisi lain, implikasi dari positivisme terhadap hukum dan penegakkannya adalah dipakainya hukum sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan pemerintah untuk terus membuat kedudukan itu menjadi langgeng dan abadi
Juridical Disparity in Interfaith Inheritance Law: A Comparative Study Between Islamic Law and Positive Law in Indonesia Herlambang, Pratama Herry; Wulandari, Fenny
INKLUSIF (JURNAL PENGKAJIAN PENELITIAN EKONOMI DAN HUKUM ISLAM) Vol 10, No 1 (2025): June 2025
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/inklusif.v10i1.20071

Abstract

The plurality of religions in Indonesia presents significant challenges to the multidimensional implementation of the existing inheritance law. A particularly complex issue arises when heirs hold differing religious beliefs, which may occur due to interfaith marriages among their parents or individual conversions by the heirs themselves. This divergence in faith introduces a dualism of norms, as it contrasts the exclusive normative provisions of Islamic law with the inclusive approach espoused by Indonesian positive law, which seeks to promote substantive justice. This current research aims to investigate juridical disparities within interfaith inheritance law through a normative and comparative juridical approach. The findings suggest that the absence of an integrated legal framework leads to legal uncertainty, creating interpretative gaps that adversely affect individual civil rights. Consequently, this research advocates for the reformulation of national inheritance law arrangements and policies, emphasizing a foundation of sustainable and equitable legal pluralism.
Peranan Pengadilan Tata Usaha Negara dalam Upaya Peningkatan Eksekusi Putusan Pengadilan Herlambang, Pratama Herry; Muhtada, Dani; Yudhanti, Ristina; Pratama, Nugroho Wahyu; Wiguna, Candra Aditya; Santalia, Miftah; Suwinda, Suwinda; Safarin, Muhammad Habiby Abil Fida
Bookchapter Hukum dan Politik dalam Berbagai Perspektif Vol. 3 (2024)
Publisher : Bookchapter Hukum dan Politik dalam Berbagai Perspektif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/hp.v3i1.216

Abstract

Peraturan hukum di Indonesia tidak hanya mengatur warga negara pada umumnya, tetapi pejabat negara juga ikut masuk dalam peraturan hukum. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari sebuah bentuk negara hukum yang di anut oleh para the founding fathers dan mothers Republik Indonesia. Pejabat Tata Usaha Negara atau sering kali disebut dengan Pejabat TUN, tidak bisa lepas dari tanggung jawab hukum bilamana pejabat TUN melaksankan kebijakan bertentangan dengan undang-undang. Undang-Undang No. 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas UndangUndang No. 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara (UU Peradilan Tata Usaha Negara) mengatur terdapat dua jenis eksekusi putusan pengadilan tata usaha negara yang dalam doktrin biasa dikenal sebagai eksekusi otomatis dan eksekusi hierarkis. Dalam eksekusi hierarkis maka dibutuhkan kesadaran hukum dari pejabat pemerintahan untuk melaksanakan putusan peradilan tata usaha negara yang telah berkekuatan hukum tetap. Seringkali pejabat pemerintahan tidak bisa atau tidak mau melaksanakan putusan tersebut dengan berbagai alasan yang membuat seolah-olah peradilan tata usaha negara tidak memiliki wibawa untuk memaksa pemerintah melaksanakan putusannya.
Kepatuhan Terhadap Standar Bahasa Indonesia Bagi Dosen Asing Dalam Perspektif Hukum Ketenagakerjaan Putri Asari, Talitha Faya; Pratama Herry Herlambang
Law Research Review Quarterly Vol. 11 No. 3 (2025): Various Issues on Law and Development
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/llrq.v11i3.26295

Abstract

The internationalization of higher education encourages Indonesian universities to recruit foreign lecturers to enhance academic quality and global collaboration. However, foreign lecturers must comply with legal requirements regarding Indonesian language use as stipulated in Law No. 24 of 2009, Government Regulation No. 57 of 2014, Government Regulation No. 34 of 2021, and Ministerial Regulation of Education and Culture No. 70 of 2016. These regulations mandate foreign lecturers to obtain the Indonesian Language Proficiency Test (UKBI) certificate as official proof of language competence. This study investigates the regulation and implementation of Indonesian language proficiency standards for foreign lecturers, analyzing their legal implications within employment law. Using a normative juridical approach, the research analyzes legal materials through library research, assessing norm compliance and practical implementation. Findings indicate weak enforcement of language proficiency requirements due to unclear sanctions and regulatory inconsistencies. Hiring foreign lecturers without language proficiency certification results in defective employment contracts, potential administrative penalties, and industrial relations imbalances. Furthermore, inadequate language skills among foreign lecturers negatively impact educational quality and students' rights. The study recommends harmonizing language and employment regulations, reinforcing oversight of UKBI implementation, and mandating language proficiency certification for foreign lecturer recruitment. These actions are vital to ensure legal certainty, protect local workforce rights, and uphold Indonesian as a key national language for academic and legal purposes.
Can Advocates’ Legal Culture in Civil Law Enforcement Drive Reform in Indonesia’s Modern Justice System? Latifiani, Dian; Baidhowi, Baidhowi; Herlambang, Pratama Herry; Winarno, Farkhan Radyafani; Habiburrahman, Ahmad
Journal of Law and Legal Reform Vol. 5 No. 3 (2024): Various Issues on Law Reform in Indonesia and Beyond
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jllr.v5i3.12988

Abstract

This study examines the urgent need to reform the legal culture of advocates in Indonesia, specifically in relation to the use of e-court and e-litigation systems in civil law enforcement. These systems were designed to streamline legal processes, offering faster, cheaper, and more accessible trials for material parties. However, advocates have been slow to adopt these technologies, often sticking to traditional methods, which undermines their potential effectiveness. The novelty of this research lies in its exploration of how the legal culture of advocates can be reformed to better leverage e-court and e-litigation. Rather than focusing solely on the technical aspects of these systems, the study emphasizes the socio-legal implications of such reforms. Advocates, as both legal professionals and agents of social change, play a critical role in bridging the gap between new technologies and the material parties they represent. This research contributes to the development of civil procedural law and aims to improve the legal culture of both advocates and clients. Using a qualitative, socio-legal approach, the study gathers data through interviews, observations, document analysis, and personal experiences. The urgency of this reform is underscored by the need for advocates to fully embrace their role in Indonesia’s digital transformation of justice. The study also examines how regulatory tools like PERMA No. 1 of 2019 and No. 7 of 2022 can support these reforms, ultimately driving systemic change in Indonesia’s legal culture and enhancing the effectiveness of e-court and e-litigation.
Model Pertanggungjawaban Pemerintah terhadap Perlindungan Pekerja Migran Indonesia di Negara China Sulistiyono, Tri; Herlambang, Pratama Herry; Wedhatami, Bayangsari; Resthiningsih, Lilies; Kusumaningtyas, Oktaverina; Prasetyowati, Noviandra; Afifah , Bayyinatun
Bookchapter Hukum dan Politik dalam Berbagai Perspektif Vol. 5 (2026)
Publisher : Bookchapter Hukum dan Politik dalam Berbagai Perspektif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan mengenai ketenagakerjaan bukan hanya terkait dengan sempitnya lapangan pekerjaan yang ada, namun juga terdapat permasalahan-permasalahan lain seperti permasalahan tenaga kerja migran Indonesia yang berada di luar negeri yang tentu membutuhkan penanganan intensif dari pihak yang bersangkutan dalam hal ini adalah pemerintah. Permasalahan mengenai Tenaga Kerja Indonesia ini disebabkan oleh banyak faktor, dimulai dari proses pemberangkatan, di mana seringkali Tenaga Kerja Indonesia yang berangkat ke luar negeri untuk bekerja menggunakan jasa penyalur tenaga kerja ilegal. Kemudian permasalahan ketika proses pemberangkatan tenaga kerja, di mana permasalahan ini meliputi jaminan akan hak dan penempatan serta kewajiban para Tenaga Kerja Indonesia. Permasalahan ini sering terjadi dan menjadi sorotan publik karena banyak Tenaga Kerja Indonesia yang pada dasarnya mereka melakukan tindakan-tindakan yang dilakukan untuk membela hak-haknya namun dianggap sebagai melanggar aturan yang ada. Penelitian ini berusaha mengkaji mengenai model pertanggungjawaban pemerintah terhadap perlindungan pekerja migran Indonesia di Negara China. Output yang diharapkan dari penelitian ini adalah penelitian ini dapat memberikan kontribusi positif dalam sistem perlindungan hukum terhadap pekerja migran Indonesia di Negara China yang berkesesuaian dengan keadilan secara harmonis serta dapat menciptakan rasa tentram dan aman kepada para pekerja migran Indonesia di Negara China. Penelitian ini dilaksanakan dengan pendekatan yuridis empiris yakni dengan melakukan analisa data primer yang berupa pencarian data dengan cara terjun langsung ke lapangan dan kemudian dilakukan analisis dengan bahan-bahan hukum terutama bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder dengan memahami bahwa hukum merupakan seperangkat aturan yang mengatur mengenai kehidupan manusia. Penelitian dilakukan dengan penelitian lapangan ke lokasi yang penulis anggap relevan dengan masalah yang diangkat. Observasi data akan dilakukan dengan cara observasi data melalui studi lapangan sehubungan dengan pokok permasalahan yang dikaji. Data-data yang diperoleh melalui studi pustaka maupun studi lapangan, dibedah dan diproses menggunakan berbagai teori dan asas-asas hingga menghasilkan hipotesa yang akan baik, relevan, adil dan setara. Kemudian diadakan studi pustaka mengenai obyek kajian yang dibahas yaitu model pertanggungjawaban pemerintah terhadap perlindungan pekerja migran Indonesia di Negara China. Pendekatan ini diharapkan menunjang validitas dari hasil penelitian sebagai keluaran yang bermanfaat.
Perlindungan Hukum Bagi Pekerja Migran Indonesia Di Singapura Dalam Menyikapi Dampak Transisi COVID-19 Sulistiyono, Tri; Herlambang, Pratama Herry; Alkadri, Riska
Bookchapter Hukum dan Politik dalam Berbagai Perspektif Vol. 5 (2026)
Publisher : Bookchapter Hukum dan Politik dalam Berbagai Perspektif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pekerja Migran Indonesia (PMI) merupakan salah satu kelompok tenaga kerja yang memiliki kontribusi signifikan terhadap perekonomian Indonesia dan negara tujuan, termasuk Singapura. Keberadaan PMI di Singapura sangat penting dalam menopang sektor-sektor strategis seperti: konstruksi, manufaktur dan pekerjaan rumah tangga. Namun, di balik kontribusi tersebut, PMI masih menghadapi berbagai permasalahan terkait perlindungan hukum dan pemenuhan hak-hak ketenagakerjaan, yang semakin diperparah dengan terjadinya pandemi COVID-19. Pandemi telah menimbulkan dampak serius berupa pemutusan hubungan kerja, penurunan upah, keterbatasan akses layanan kesehatan, serta meningkatnya kerentanan sosial dan hukum bagi pekerja migran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk perlindungan hukum bagi pekerja migran Indonesia di Singapura dalam menghadapi dampak COVID-19 serta mengkaji hambatan yang dihadapi pekerja migran dalam mengakses perlindungan hukum selama masa transisi pasca-pandemi. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan, konseptual dan kebijakan, yang didukung oleh studi literatur dari regulasi nasional, internasional, serta laporan lembaga terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun pemerintah Indonesia dan Singapura telah menetapkan berbagai kebijakan dan regulasi untuk melindungi pekerja migran, implementasinya masih belum optimal. Hambatan utama yang dihadapi PMI meliputi rendahnya kesadaran hukum, keterbatasan akses terhadap informasi dan bantuan hukum, kendala bahasa, biaya hukum yang tinggi, serta ketidakseimbangan posisi tawar antara pekerja migran dan pemberi kerja. Oleh karena itu, diperlukan penguatan perlindungan hukum melalui peningkatan edukasi hukum, penguatan kerja sama bilateral, optimalisasi peran lembaga non-pemerintah dan organisasi internasional, serta kebijakan yang lebih inklusif dan responsif terhadap situasi krisis. Upaya tersebut diharapkan dapat mewujudkan perlindungan hukum yang adil, efektif dan berkelanjutan bagi Pekerja Migran Indonesia di Singapura.
Absolute Competence of the State Administrative Court over Onrechtmatige Overheidsdaad Disputes in Indonesia’s 2024 Election Azzahra Hifz Aldin Fitrada; Pratama Herry Herlambang; Martitah Martitah
Law Research Review Quarterly Vol. 12 No. 3 (2026): Articles in Press
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lrrq.v12i3.44652

Abstract

Decision Number 133/G/TF/2024/PTUN.JKT of the Jakarta State Administrative Court, which declared the lawsuit against the General Election Commission (KPU) inadmissible, has generated debate concerning the limits of the absolute jurisdiction of the State Administrative Court (PTUN) in adjudicating disputes related to onrechtmatige overheidsdaad (OOD) during the electoral process. This article examines the scope of PTUN’s authority over administrative actions undertaken by election management bodies, using the a quo decision as the central object of analysis. This study employs normative legal research through statutory, conceptual, and analytical approaches, based on an examination of the Law on Government Administration, the Election Law, Supreme Court Regulation Number 2 of 2019, and relevant judicial decisions. The findings show that the Jakarta PTUN classified the dispute as an election process dispute governed by the electoral legal regime as lex specialis, thereby excluding the OOD mechanism. The Court reasoned that the KPU’s actions constituted the implementation of Constitutional Court Decision Number 90/PUU-XXI/2023, which is final and binding. This interpretation narrows judicial control over administrative actions in the electoral process. Conceptually, the finality of Constitutional Court decisions attaches to their normative content and operative ruling, not automatically to implementing administrative actions. Therefore, such actions should remain subject to judicial review under the OOD mechanism. Harmonization between the Election Law and the Law on Government Administration is necessary to ensure legal certainty and uphold the rule of law.