Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Tingkat Kecemasan Berbicara Di Depan Umum Pada Mahasiswa Nurhasanah, Dini; Mukhyi, Talitha Fatiyah; Wirda, Raudhatul; Nadhira, Munifa; Tsabitah, Ghina; Salsabila, Andra; Amna, Zaujatul
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 1, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v1i2.28436

Abstract

Kecemasan bebicara di depan umum merupakan masalah psikologis yang sering dialami mahasiswa pada tahun pertama karena merupakan masa peralihan dari lingkungan sekolah ke perguruan tinggi. Hal ini menjadi tantangan tersendiri yang dihadapi baik mahasiswa laki-laki maupun perempuan saat dihadapkan pada tugas untuk berbicara di depan umum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa laki-lai dan perempuan. Sebanyak 120 mahasiswa baru yang terdiri dari 60 mahasiswa laki-laki dan 60 mahasiswa perempuan terlibat sebagai sampel penelitian ini yang dipilih menggunakan non-probability dengan teknik convinience sampling. Intrumen Personal Report Public Speaking Anxiety Scale (PRPSA) menjadi alat pengumpulan data penelitian yang bersifat unidimensi dengan jumlah item sebanyak 34 ( = 0.84). Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tingkat kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa laki-laki dan perempuan di Banda Aceh. Data menunjukkan secara signifikan mahasiswa perempuan memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan mahasisiswa laki-laki. Di sisi lain, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tingkat kecemasan berbicara di depan umum juga lebih tinggi pada mahasiswa dengan rentang usia remaja dibandingkan dengan usia dewasa awal.Public speaking anxiety is a psychological problem that students often experience in their first year because it is a transition period from school to college. This is a challenge faced by both male and female students when faced with the task of speaking in public. This study aims to determine the differences in public speaking anxiety in male and female students. A total of 120 new students consisting of 60 male students and 60 female students were involved as samples for this research who were selected using non-probability with convenience sampling techniques. The Personal Report Public Speaking Anxiety Scale (PRPSA) instrument is a unidimensional research data collection tool with a total of 34 items ( = 0.84). The results of the research analysis show that there are differences in the level of public speaking anxiety among male and female students in Banda Aceh. Data shows that female students have significantly higher levels of anxiety compared to male students. On the other hand, the research results also show that the level of public speaking anxiety is also higher among students in the teenage age range compared to early adulthood.
THE RELATIONSHIP BETWEEN MINDFULNESS AND ACADEMIC RESILIENCE IN STUDENTS OF SYIAH KUALA UNIVERSITY, INDONESIA: CROSS-SECTIONAL STUDY Sarah, Siti; Sari, Kartika; Iskandar; Amna, Zaujatul
Journal of Community Mental Health and Public Policy Vol. 6 No. 2 (2024): APRIL
Publisher : Lembaga Penelitian dan Terapan untuk Kesehatan Jiwa (Lenterakaji)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51602/cmhp.v6i2.151

Abstract

Background: Students can persist in pursuing education even though there are many demands which are a source of stress and even anxiety and depression. One of the factors of academic resilience comes from within the individual, namely mindfulness. Mindfulness is a state of being attentive and aware of the events at hand. Purpose: This study aims to determine the relationship between mindfulness and academic resilience in Syiah Kuala University students. Method: This study design used quantitative research with a sample of 330 students selected using the probability sampling method with disproportionate stratified random sampling technique. The Mindful Attention Awareness Scale (MAAS) and the Academic Resilience Scale (ARS-30) were used as research data collection instruments. Results: hypothesis testing using statistical analysis showed a significance value (p)=0.000 (p<0.05). This means that there was a positive relationship between mindfulness and academic resilience in Syiah Kuala University students. It means that the higher the student's mindfulness, the higher the academic resilience, and conversely. On the other hand, the lower the mindfulness, the lower the student's academic resilience ability. Conclusion: This study provides recommendations for future researchers to analyze other factors that influence academic resilience in the hope of producing more comprehensive data. Abstrak Latar Belakang: Mahasiswa mampu bertahan menempuh pendidikan meskipun banyak tuntutan yang menjadi sumber stress hingga kecemasan dan depresi. Salah satu faktor ketahanan akademik berasal dari dalam diri individu, yaitu mindfulness. Mindfulness adalah keadaan penuh perhatian dan sadar terhadap kejadian yang sedang dihadapi. Tujuan: penelitian ialah untuk mengetahui hubungan mindfulness dengan resiliensi akademik pada mahasiswa Universitas Syiah Kuala. Metode: Desain penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan sampel sebanyak 330 mahasiswa yang dipilih menggunakan metode probability sampling dengan teknik disproportionate stratified random sampling. Mindful Attention Awareness Scale (MAAS) dan the Academic Resilience Scale (ARS-30) digunakan sebagai instrumen pengumpulan data penelitian. Hasil: uji hipotesis menggunakan analisis statistik menunjukkan nilai signifikansi (p)=0,000 (p<0,05). Artinya terdapat hubungan positif antara mindfulness dan resiliensi akademik pada mahasiswa Universitas Syiah Kuala, yang artinya semakin tinggi mindfulness pada mahasiswa maka semakin tinggi resiliensi akademik, dan sebaliknya semakin rendah mindfulness, maka semakin rendah kemampuan resiliensi akademik mahasiswa. Kesimpulan: Penelitian ini menyajikan rekomendasi bagi peneliti selanjutnya agar dapat menganalisis faktor lain yang mempengaruhi resiliensi akademik dengan harapan dapat menghasilkan data yang lebih komprehensif.
FAKTOR-FAKTOR RISIKO DEPRESI PADA IBU PASCABERSALIN : The Risk Factors for Depression in Postpartum Moms Amna, Zaujatul; Khairani, Maya
Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen Vol. 17 No. 1 (2024): JURNAL ILMU KELUARGA DAN KONSUMEN 17.1
Publisher : Department of Family and Consumer Sciences, Faculty of Human Ecology, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24156/jikk.2024.17.1.28

Abstract

Persalinan membawa berbagai perubahan yang dapat menyebabkan perempuan rentan mengalami depresi pascabersalin. Hal ini tidak hanya berdampak pada ibu tetapi juga pada individu lainnya seperti anak yang baru saja dilahirkan, anak lainnya, pasangan, bahkan anggota keluarga lainnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko psikologis depresi pascabersalin. Pengumpulan data dilakukan melalui survei sejak April-September 2022 pada ibu pascabersalin yang dipilih dengan teknik convenience sampling. Instrumen pengumpulan data berupa Alat Asesmen Ibu Postpartum (ASIP), Multidimensional of Perceived Social Support (MPSS), dan Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) yang diberikan kepada 359 sampel penelitian dengan kriteria perempuan berusia 18-40 tahun, pascamelahirkan dengan rentang waktu 4 minggu hingga 1 tahun, dan tidak pernah didiagnosis mengalami gangguan mental oleh profesional. Hasil analisis menunjukkan bahwa regulasi emosi, kepuasan pernikahan, dan dukungan sosial menjadi faktor risiko depresi pascabersalin dalam penelitian ini. Sementara itu, lebih dari sepertiga ibu pascabersalin mengalami depresi kategori ringan (34,2%), sedangkan yang lainnya mengalami depresi kategori sedang (19,8%), bahkan depresi berat (5,6%). Implikasi penelitian terhadap faktor risiko depresi dibahas lebih lanjut dalam artikel ini
Perbedaan motivasi akademik pada mahasiswa laki-laki: studi komparatif berdasarkan penjurusan mahasiswa Dira Silviana; Mahira, Zakia; Amna, Zaujatul; Zuhra, Nabila; Naufal Hakim; Jam’an Jamil; Nadira Chaharani
Jurnal Integrasi Riset Psikologi Vol 4 No 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Mercu Buana Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26486/intensi.v4i1.4671

Abstract

Motivasi akademik adalah keinginan dalam diri seseorang untuk mencapai tujuan akademiknya. Motivasi akademik berperan penting dalam menentukan keberhasilan mahasiswa karena menjadi sumber dorongan untuk belajar dan mencapai tujuan pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan motivasi akademik mahasiswa laki-laki antara Fakultas Kedokteran dan Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala. Sebanyak 100 mahasiswa laki-laki angkatan 2023 berpartisipasi, terdiri dari 50 mahasiswa Fakultas Kedokteran dan 50 mahasiswa Fakultas Teknik. Instrumen yang digunakan adalah Academic Motivation Scale (AMS) – Short Indonesian Version, yang mengukur tiga dimensi motivasi: intrinsik, ekstrinsik, dan amotivasi. Analisis data dilakukan menggunakan Mann-Whitney U Test karena distribusi data tidak normal. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan dalam motivasi intrinsik, ekstrinsik, maupun amotivasi antara mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Fakultas Teknik (p > 0,05). Meskipun demikian, data deskriptif memperlihatkan variasi pola distribusi motivasi pada kedua fakultas. Temuan ini berkontribusi pada literatur motivasi akademik dengan menegaskan bahwa konteks fakultas perlu diperhatikan dalam perancangan program pengembangan motivasi mahasiswa. Kata Kunci: fakultas kedokteran, fakultas teknik, mahasiswa laki-laki, motivasi akademik, perbedaan
RELIGIOSITY DOES NOT MODERATE THE RELATIONSHIP BETWEEN FORGIVENESS AND MENTAL HEALTH OF SURVIVORS OF THE 2004 TSUNAMI INDONESIA: A CROSS-SECTIONAL STUDY Exsa, Priya; Amna, Zaujatul; Dahlia; Riady , Muhamad Antos
Journal of Community Mental Health and Public Policy Vol. 8 No. 2 (2026): APRIL
Publisher : Lembaga Penelitian dan Terapan untuk Kesehatan Jiwa (Lenterakaji)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51602/cmhp.v8i2.312

Abstract

Background: The tsunami that struck Aceh in 2004 had widespread negative impacts, including material losses, physical health problems, and psychological stress experienced by survivors. Twenty years after the event, various mental disorders such as anxiety, depression, and other emotional disorders are still found among the affected communities. In the religious culture of Aceh, religiosity is seen as a form of coping that can aid in psychological recovery. Purpose: This study aims to examine the role of religiosity as a moderate variable in the relationship between forgiveness and mental health among Aceh tsunami survivors. Method: The study used a quantitative approach with multiple regression analysis technique, involving 464 survivors selected through purposive sampling. Participants completed three research instruments, namely the Mental Health Inventory-18, Heartland Forgiveness Scale, and The Centrality of Religiosity Scale. Results: Data analysis used Hayes PROCESS moderation model 1, which showed that religiosity did not act as a moderator variable in the relationship between forgiveness and mental health. Moreover, no significant direct relationship was found between forgiveness and mental health. Conclusion: These findings indicate that forgiveness does not directly influence the level of mental health among tsunami survivors, and that religiosity does not strengthen this relationship in this context. Abstrak Latar Belakang: Tsunami Aceh 2004 menimbulkan dampak negatif luas, termasuk kerugian materiil, gangguan kesehatan fisik, dan tekanan psikologis pada penyintas. Dua puluh tahun setelah kejadian, gangguan mental seperti kecemasan, depresi, dan gangguan emosi masih ditemukan di masyarakat terdampak. Dalam budaya Aceh yang religius, religiusitas dipandang sebagai bentuk koping yang dapat membantu pemulihan psikologis. Tujuan: Penelitian ini menguji peran religiusitas sebagai variabel moderator dalam hubungan antara pemaafan dan kesehatan mental pada penyintas tsunami Aceh. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi linier berganda, melibatkan 464 penyintas yang dipilih melalui purposive sampling. Partisipan mengisi tiga instrumen: Mental Health Inventory-18, Heartland Forgiveness Scale, dan The Centrality of Religiosity Scale. Hasil: Analisis data menggunakan model moderasi PROCESS Hayes model 1 menunjukkan religiusitas tidak berperan sebagai variabel moderator dalam hubungan antara pemaafan dan kesehatan mental. Tidak ditemukan hubungan langsung signifikan antara pemaafan dan kesehatan mental. Kesimpulan: Temuan ini menunjukkan pemaafan tidak secara langsung memengaruhi kesehatan mental penyintas tsunami, dan religiusitas tidak memperkuat hubungan tersebut.