Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

ANALISIS FAKTOR RISIKO KELUHAN NYERI PUNGGUNG PADA PEMBUAT BATU BATA DI DESA BULOGADING KECAMATAN BONTONOMPO KABUPATEN GOWA Zaenab, Zaenab; Ahmad, Hamsir; Nurwalasriani, Nurwalasriani
Media Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar Vol 18, No 1 (2023): Media Kesehatan
Publisher : Politeknik Kesehatan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/medkes.v18i1.3255

Abstract

Industri batu bata merupakan salah satu industri yang bergerak di bidang tradisional yang dalam proses pembuatannya batu bata dibuat dari tanah liat yang dicetak menggunakan cetakan lalu dijemur kemudian disusun setelah itu di bakar hingga matang. Dalam proses pembuatan batu bata seringkali pekerjanya melakukan sikap atau posisi kerja yang kurang ergonomis yang dapat menyebabkan keluhan fisik berupa nyeri pada otot contohnya nyeri pinggang.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan keluhan nyeri punggung pada pembuat Batu Bata di Desa Bulogading Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 160 responden dengan metode total sampling. Analisis data diolah menggunakan uji statistik.Hasil penelitian pada pembuat batu bata menggunakan uji person corelation memiliki hubungan yang signifikan antara umur (p value = 0,000), lama kerja (p value = 0,002), sikap tubuh (p value = 0,000) dengan keluhan nyeri punggung.Kesimpulan yang didapatkan ada hubungan antara umur, lama kerja dan sikap tubuh dengan keluhan nyeri punggung pada pembuat batu bata. Disarankan bagi pembuat batu bata yang sudah berumur 60 tahun untuk mengurangi jam kerja, kemudian disarankan untuk bekerja maksimal 8 jam/hari dan tidak tidak melebihi jam kerja, kemudian bagi pembuat batu bata disarankan pada saat proses pengangkatan batu bata harus mengangkat beban sedekat mungkin dengan tubuh.Kata Kunci : Batu Bata, Ergonomi, Nyeri Punggung, Industri
Hubungan Antara Penggunaan Alat Pelindung Diri APD Dengan Kejadian Keracunan Pestisida Pada Petani Bawang Merah di Desa Tampo Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang Zaenab, Zaenab; Mulyadi, Mulyadi; Sulastri, Sulastri
Media Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar Vol 17, No 2 (2022): Media Kesehatan
Publisher : Politeknik Kesehatan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/medkes.v17i2.3053

Abstract

Penyemprotan pestisida yang tidak memenuhi aturan atau tidak dikelola dengan baik dan diperparah dengan ketidakpedulian petani bawang merah tentang bahaya pestisida, menyebabkan resiko paparan pestisida, jika penyemprotan tanpa menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang lengkap. Penelitian ini bertujuan untuk adalah Untuk mengetahui hubungan antara penggunaan alat pelindung diri (APD) masker, sarung tangan, penutup kepala, baju kerja, dan sepatu boot dengan kejadian keracunan pada petani penyemprot hama di Desa Tampo, Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang. Jenis penelitian yang di gunakann adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional, dan sampel 120 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu Cluster Sampling yang diperoleh melalui lembar kuesioner. Hasil penelitian di Desa Tampo Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang menunjukan distribusi responden berdasarkan penggunaan masker dengan menggunakan uji Pearson Korelasi diperoleh nilai P= 0,001 (p<0,05), penggunaan sarung tangan dengan menggunakan uji Pearson Korelasi diperoleh nilai P= 0,130 (p>0,05), penggunaan penutup kepala dengan menggunakan uji Pearson Korelasi diperoleh nilai P= 0,010 (p<0,05), penggunaan baju kerja dengan menggunakan uji Pearson Korelasi diperoleh nilai P= 0,003 (p<0,05), dan penggunaan sepatu boot dengan menggunakan uji Pearson Korelasi diperoleh nilai P= 0,001 (p<0,05). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara alat peindung diri, masker, penutup kepala, baju kerja dan sepatu boot dengan kejadian keracunan, dan tidak ada hubungan sarung tangan dengan kejadian keracunan di Desa Tampo Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang.Kata Kunci: Alat Pelindung Diri (APD), Keracunan, Pestisida
Pemanfaatan Limbah Ikan Sebagai Pupuk Organik Cair (POC) Dengan Penambahan Kulit Buah Nanas Dan Air Cucian Beras Rafidah rafidah; Ayu Apriliyanti; Hidayat; Zaenab
Sulolipu: Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat Vol 23 No 2 (2023): Jurnal Sulolipu: Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat
Publisher : Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/sulo.v23i2.68

Abstract

The amount of fish waste in the form of fish washing water used by the community resulted in the disposal of more fish waste per day the more increased. Disposal of fish waste to the environment in a manner direct without existing processing no only will raise the smell of very rotten sting but also can bother the environment. Study this aims to know the utilization of fish waste into POC with the addition of skin pineapple and washing water rice. Type research used in the study this is experiment pseudo (Quasi-Experimental) with conducted trials on fish waste with the addition of skin pineapple and washing water rice. The results of research on the manufacture of fish waste POC, fish waste POC with the addition of skin pineapple and washing water rice for 21 days is in quality physique smell fishy (no fulfill terms) and color yellow brownish (fill condition) whereas quality chemistry on POC fish waste with addition skin pineapple fruit yield NPK value (N+P2O5 +K2O) = 0.35%, in POC fish waste with adding washing water rice results NPK value (N+P2O5 +K2O) = 0.28%, and POC fish waste NPK value (N+P2O5 +K2O) = 0.55% stated low or No fulfill standards and pH complied standard. Deep conclusion study this is fish waste with the addition of skin pineapple and washing water rice can be used as POC. It is hoped that researchers furthermore vary time decomposition to become material measuring in the process of becoming POC and selecting material organic containing a high NPK value
ANALISIS FAKTOR RISIKO NYERI PUNGGUNG PADA PEMBUAT BATU BATA DI DESA BULOGADING KECAMATAN BONTONOMPO KABUPATEN GOWA Zaenab Zaenab; Hamsir Ahmad; Nurwalasriani Nurwalasriani
Media Kesehatan Politeknik Makassar Vol 18 No 1 (2023): Media Kesehatan
Publisher : Direktorat Politeknik Kesehatan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/medkes.v18i1.439

Abstract

Industri batu bata merupakan salah satu industri yang bergerak di bidang tradisional yang dalam proses pembuatannya batu bata dibuat dari tanah liat yang dicetak menggunakan cetakan lalu dijemur kemudian disusun setelah itu di bakar hingga matang. Dalam proses pembuatan batu bata seringkali pekerjanya melakukan sikap atau posisi kerja yang kurang ergonomis yang dapat menyebabkan keluhan fisik berupa nyeri pada otot contohnya nyeri pinggang.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan nyeri punggung pada pembuat Batu Bata di Desa Bulogading Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 240 orang. Jumlah sampel sebanyak 160 responden dengan metode total sampling. Analisis data diolah menggunakan uji statistik. Hasil penelitian pada pembuat batu bata menggunakan uji person corelation memiliki hubungan yang signifikan antara umur (p value = 0,000), lama kerja (p value = 0,002), sikap tubuh (p value = 0,000) dengan keluhan nyeri punggung. Kesimpulan yang didapatkan ada hubungan antara umur, lama kerja dan sikap tubuh dengan keluhan nyeri punggung pada pembuat batu bata. Disarankan bagi pembuat batu bata yang sudah berumur 60 tahun untuk mengurangi jam kerja, kemudian disarankan untuk bekerja maksimal 8 jam/hari dan tidak tidak melebihi jam kerja, kemudian bagi pembuat batu bata disarankan pada saat proses pengangkatan batu bata harus mengangkat beban sedekat mungkin dengan tubuh. Kata Kunci : Batu Bata, Ergonomi, Nyeri Punggung, Industri
Perbandingan Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya) dan Daun Srikaya (Annona squamosa) Dalam Mematikan Lalat Rumah (Musca domestica) Kasim, Khiki Purnawati; Zaenab, Zaenab; Riskyah, Nurul
Sulolipu: Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat Vol 24 No 1 (2024): Jurnal Sulolipu: Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat
Publisher : Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/sulo.v24i1.472

Abstract

The type of fly that is able to reproduce quickly is the house fly (Musca domestica). Flies can act as a cause of digestive diseases such as diarrhea. Data from the South Sulawesi Provincial Health Office in 2020 showed as many as 19,592 cases of diarrhea. The high incidence of diarrheal disease caused by flies so it needs to be controlled. Control of house flies can use vegetable insecticides such as papaya leaves and srikaya leaves which have chemical compounds of flavonoids, alkaloids,S tannins, and saponins. These compounds can cause the death of flies. This study aims to compare the ability of papaya leaf extract (Carica papaya) and srikaya leaves (Annona squamosa) to kill houseflies (Musca domestica). The type of research used is experimental using the spray method. The samples in this study were 20 house flies which were exposed to papaya leaf extract and srikaya leaf extract with concentrations of 35%, 40%, and 45% for 60 minutes with each control on papaya leaves and srikaya leaves. The results showed that the average death rate of house flies on papaya leaves with a concentration of 35% was 14 (70%) while on srikaya leaf it was 16 (80%). At a concentration of 40% on papaya leaves as many as 16 heads (80%) while in srikaya leaves as many as 17 tails (85%). And at a concentration of 45% papaya leaves, the average death rate of flies was 17 (85%) and the srikaya leaf was 18 (90%). As for the conclusion in this study, papaya leaf extract at 40% concentration and 45% effective lethal home fly, while the sri leaf extract was sri at 35% concentration, 40%, and 45% effective off house flies. Keywords : Papaya leaf extract; srikaya leaf exttact; house fly
Faktor Personal Hygiene Penjamah dan Kondisi Sanitasi TPM Terhadap Kualitas Bakteriologis Makanan Jajanan di Kuliner Pasar Cidu Kota Makassar Zaenab, Zaenab; Nurhaidah, Nurhaidah; Chalizhah, Izhiq; Azizah, Nurfitriani
Sulolipu: Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat Vol 24 No 2 (2024): Jurnal Sulolipu: Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat
Publisher : Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/sulo.v24i2.952

Abstract

The most popular snack culinary center in the city of Makassar currently is Pasar Cidu Culinary in Makassar City. However, food and drink snacks sold by street vendors do not apply hygiene and sanitation factors in the processing process, which can cause biological contamination which can cause digestive problems in the community. This research aims to determine the relationship between the personal hygiene of handlers and the bacteriological quality of germ numbers in snacks at Pasar Cidu Culinary, Makassar City. Using an analytical observational method with a cross-sectional approach, this research involved 20 snack samples and 20 respondents selected by purposive sampling. Handlers' personal hygiene data was obtained through direct observation based on questionnaires, while data on the number of germs was obtained through ALT examination, and analyzed using Fisher's correlation. The research results showed that 95% of respondents had poor personal hygiene and 19 samples did not meet the requirements based on BPOM Regulation No. 13 of 2019, the maximum limit for germ numbers in processed meat foods is 104 colonies/g and fruit juice drinks are 10 colonies/ml. Statistical tests show that there is a relationship between the personal hygiene of the handler and the bacteriological quality of the snacks with a p value = 0.050. The conclusion of this research is that the personal hygiene of handlers is related to the bacteriological quality of germ numbers in snacks at Pasar Cidu Culinary. For this reason, it is hoped that traders can improve personal hygiene practices such as keeping their hands and nails clean and using PPE such as hand aprons and head coverings.
Pengaruh Eco Enzyme Kulit Nanas (Ananas Comosus) Dan Kulit Jeruk (Citrus Sinesis L.) Terhadap Penurunan Angka Kuman Udara Zaenab, Zaenab; Azizah, Nurfitriani; S, Syamsuddin
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 3 (2024): Oktober 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.3.341-348

Abstract

Latar belakang: Aktivitas belajar mengajar di ruangan selama 8-10 jam setiap harinya berpotensi meningkatkan pencemaran udara dalam ruangan, termasuk mikroorganisme. Pengendalian mikroorganisme di dalam ruangan dapat dilakukan dengan disinfeksi menggunakan disinfektan, seperti eco enzyme. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh eco enzyme dari kulit nanas (Ananas comosus) dan kulit jeruk (Citrus Sinesis L.) terhadap penurunan jumlah kuman udara.Metode: Jenis penelitian merupakan eksperimen semu dengan rancangan Pre-Post Test Control Design dengan masing-masing variasi bahan eco enzyme menggunakan konsentrasi 25% dan waktu kontak selama 1 jam. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2023 – April 2024. Variabel bebas dalam penelitian adalah eco enzyme kulit nanas dan kulit jeruk, variabel terikat yaitu angka kuman udara.  Sementara variabel pengganggu yaitu suhu dan kelembaban. Populasi penelitian adalah jumlah kuman udara di ruang kelas SMA Negeri 12 Makassar. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Purposive Sampling di ruang kelas XII MIPA 4, XII MIPA 5, dan XII MIPA 6. Sampel penelitian terdiri dari jumlah kuman udara yang dihitung menggunakan media plate count agar. Pengukuran berdasarkan Permenkes No. 2 Tahun 2023, di mana angka kuman yang memenuhi syarat adalah <700 CFU/m3. Analisis statistik dilakukan menggunakan Uji One Way ANOVA dan Uji Post Hoc Tukey HSD untuk membandingkan kelompok perlakuan secara spesifik. Keputusan diambil berdasarkan nilai p, di mana p-value > 0,05 menunjukkan tidak ada pengaruh, sedangkan p-value < 0,05 menunjukkan adanya pengaruh.Hasil: Pada uji pre-test, jumlah kuman udara tercatat sebanyak 214 CFU/m3, sementara setelah perlakuan dengan eco enzyme kulit nanas (Ananas comosus), jumlahnya menurun menjadi 107 CFU/m3, dengan persentase penurunan sebesar 50%. Sedangkan pada uji dengan eco enzyme kulit jeruk (Citrus Sinesis L.), jumlah kuman udara pre-test tercatat 216 CFU/m3 dan menurun menjadi 144 CFU/m3, dengan persentase penurunan sebesar 33,33%. Uji statistik menunjukkan bahwa eco enzyme kulit nanas memiliki p-value 0,004 (<0,05), sehingga dinyatakan berpengaruh, sedangkan eco enzyme kulit jeruk memiliki p-value 0,057 (>0,05), sehingga dinyatakan tidak berpengaruh signifikan.Simpulan: Disarankan kepada pengelola sekolah untuk menggunakan eco enzyme, terutama eco enzyme kulit nanas (Ananas comosus), sebagai alternatif disinfektan guna mengurangi angka kuman udara. ABSTRACT Title: Effect of Eco Enzyme of Pineapple Peel (Ananas Comosus) and Orange Peel (Citrus Sinesis L.) in Reducing The Number of Air GermsBackground: Classroom learning activities lasting 8-10 hours each day have the potential to increase indoor air pollution, including microorganisms. Microorganism control indoors can be achieved through disinfection using disinfectants such as eco enzyme. This study aims to evaluate the effects of eco enzymes derived from pineapple peel (Ananas comosus) and orange peel (Citrus Sinesis L.) on reducing airborne germ counts.Method: The study is a quasi-experimental with a Pre-Post Test Control Design, using 25% concentrations of eco enzyme variants and a 1-hour contact time. The study was conducted from November 2023 to April 2024. The independent variables were the eco enzymes made from pineapple and orange peels, while the dependent variable was the airborne germ count. Disturbing variables included temperature and humidity. The population of the study consisted of airborne germs in the classrooms of SMA Negeri 12 Makassar. The samples were selected using Purposive Sampling, targeting classes XII MIPA 4, XII MIPA 5, and XII MIPA 6. The sample consisted of the airborne germ count calculated using plate count agar media. Measurements followed Permenkes No. 2 of 2023, where the standard for germ count is <700 CFU/m³. Statistical analysis was carried out using One-Way ANOVA and Post Hoc Tukey HSD to compare the treatment groups in detail. The decision rule was based on p-value, where p-value > 0.05 indicates no effect, while p-value < 0.05 indicates an effect.Result: In the pre-test, the airborne germ count was recorded at 214 CFU/m³, while after treatment with pineapple peel eco enzyme (Ananas comosus), the count decreased to 107 CFU/m³, showing a reduction of 50%. Meanwhile, in the test using orange peel eco enzyme (Citrus Sinesis L.), the pre-test airborne germ count was recorded at 216 CFU/m³ and decreased to 144 CFU/m³, with a reduction of 33.33%. Statistical tests showed that the pineapple peel eco enzyme had a p-value of 0.004 (<0.05), indicating a significant effect, while the orange peel eco enzyme had a p-value of 0.057 (>0.05), indicating no significant effect.Conclusion: It is recommended that school administrators use eco enzymes, especially pineapple peel eco enzyme (Ananas comosus), as an alternative disinfectant to minimize airborne germ counts. 
APLIKASI EKSTRAK DAUN TEH HIJAU SEBAGAI INSEKTISIDA DALAM PENCEGAHAN NYAMUK DEMAM BERDARAH (Aedes aegypti) DI KELURAHAN BANTA-BANTAENG KOTA MAKASSAR Zaenab, Zaenab; Rasjid, Ashari; Haerani, Haerani; Rafidah, Rafidah
GEMAKES: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2025): GEMAKES: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes RI Jakarta I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36082/gemakes.v5i1.1866

Abstract

Kota Makassar merupakan ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan dan termasuk wilayah terbesar kelima di Indonesia. Pada tahun 2020, Makassar mencatat jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) tertinggi, yaitu 175 kasus. Pengendalian vektor penyakit ini masih mengandalkan metode kimiawi sebagai strategi utama, terutama dalam menekan populasi nyamuk Aedes aegypti. Salah satu alternatif pengendalian yang lebih ramah lingkungan adalah pemanfaatan insektisida alami berbasis ekstrak daun teh hijau (Camellia sinensis). Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan warga Kelurahan Banta-Bantaeng dalam upaya pencegahan penyebaran DBD melalui aplikasi ekstrak daun teh hijau sebagai insektisida alami. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan mengenai penyakit DBD dan pemanfaatan insektisida alami, serta demonstrasi langsung tentang cara aplikasi ekstrak daun teh hijau. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sebanyak 23 peserta (88,46%) memahami tujuan, efektivitas, dan prosedur aplikasi ekstrak daun teh hijau dalam pengendalian nyamuk Aedes aegypti. Selain itu, sebanyak 8 peserta (30,76%) aktif memberikan pertanyaan pada sesi diskusi, sedangkan 16 peserta (61,53%) mampu mendemonstrasikan aplikasi ekstrak daun teh hijau secara mandiri. Oleh karena itu, disarankan agar masyarakat rutin menggunakan produk berbasis ekstrak teh hijau sebagai salah satu metode pencegahan DBD.
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Aplikasi Ekstrak Daun Teh Hijau Sebagai Insektisida Dalam Pencegahan Nyamuk Demam Berdarah (Aedes aegypti) Di Kelurahan Banta-Bantaeng Kota Makassar Rasjid, Ashari; zaenab, Zaenab; Rafidah, Rafidah; Haerani, Haerani; Azizah, Nurfitriani
Jurnal Abdimas Jatibara Vol 3, No 2 (2025): Jatibara Vol.3 No.2 Februari 2025
Publisher : STIKES Yayasan RS.Dr.Soetomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29241/jaj.v3i2.2152

Abstract

Makassar City is the capital of South Sulawesi Province, which is the fifth largest region with the highest number of dengue fever cases, recording 175 cases in 2020. Chemical control remains the primary approach for managing Aedes aegypti mosquitoes. One method of control is using natural insecticides derived from green tea leaf extract. A community service initiative aimed to develop the knowledge and skills of local residents in Banta-Bantaeng Village in preventing the spread of Dengue Fever through the application of green tea leaf extract. The community service methods included education about Dengue Fever and the use of natural insecticides from green tea extract, as well as a demonstration on how to apply the green tea leaf extract. The results of the community service showed that 23 people (88.46%) recognized the purpose, effectiveness, and application procedures of green tea leaf extract for preventing dengue mosquitoes (Aedes aegypti). In conclusion, 8 participants (30.76%) provided feedback through questions during the discussion session, and 16 people (61.53%) were able to demonstrate the application of green tea leaf extract. It is recommended that the community regularly apply the green tea leaf extract product to prevent Aedes aegypti mosquitoes.
Pemanfaatan Etalase Makanan Kombinasi Teknologi Sinar UV Variasi Jarak, Waktu dan Jenis Makanan di Kelurahan Banta-Bantaeng Kota Makassar Zaenab, Zaenab; Rafidah, Rafidah; Haerani, Haerani; Budirman, Budirman; Azizah, Nurfitriani
Media Implementasi Riset Kesehatan Vol 6 No 1 (2025): Media Implementasi Riset Kesehatan (Juni)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mirk.v6i1.1275

Abstract

Data dari BPOM Makassar mencatat sebanyak 211 anak mengalami keracunan pangan sepanjang tahun 2021, dengan 25% kasus terjadi pada kelompok usia sekolah 10–19 tahun. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keamanan pangan dan mengurangi risiko kontaminasi adalah pemanfaatan etalase makanan kombinasi teknologi sinar UV berdasarkan jarak, waktu dan jenis makanan. Metode dalam pengabdian masyarakat berupa observasi, penyuluhan, dan demonstrasi penggunaan sinar UV pada etalase tempat penyimpanan makanan. Hasil kegiatan menunjukkan peserta yang hadir sebanyak 26 orang dan setelah pelaksanaan terjadi perubahan pengetahuan peserta sebelum dan setelah diberikan penyuluhan terkait makanan sehat, personal hygiene penjamah, sanitasi makanan dan demonstrasi penggunaan etalase makanan kombinasi sinar UV. Kesimpulan dari kegiatan adalah peserta turut aktif dalam sesi diskusi sebanyak 4 orang (15,3%) dan peserta yang aktif dalam demonstrasi penggunaan sinar UV pada etalase tempat penyimpanan makanan sebanyak 10 orang (38,46%). Direkomendasikan UMKM memanfaatkan etalase makanan kombinasi teknologi sinar UV sebagai inovasi pengendalian kualitas makanan. Kata Kunci: Tempat Penyimpanan Makanan,  Sanitasi Makanan, Lampu Sinar UV