Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

The Effect of Oxygen Therapy With Nasal Cannula to Oxygen Saturation Through Oximetry Examination For Patients With Heart Failure At Emergency Departmemt of RSUD Ulin Banjarmasin 2018 Hidayat, Rifky; Aprilia, Hanura
Journal Of Nursing Practice Vol. 2 No. 2 (2019): April
Publisher : Universitas STRADA Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30994/jnp.v2i2.53

Abstract

Background: Heart Failureis a major cause of morbidity and mortality worldwide. In recent years the incidence of HF has increased and the risk of heart failure is increasing all the time. Purpose: To find outthe effect of oxygen therapy by nasal cannula to the oxygen saturation through the examination oximetry in patients with HF in the ER Hospital Ulin Banjarmasin. Method: The study design with pre-experimental design to design one group pretest-posttest design, hearth Failure population all patients with shortness of breath in the emergency room, the study sample using accidental sampling technique. Istrumen using observation sheets, examination using pulse oximetry using univariate and bivariate analysis by paired T-test. Results: The average oxygen saturation before treatment is given after 88.87% and 95.96% obtained by the treatment, an increase in oxygen saturation. There is the influence of oxygen therapy by nasal cannula to the oxygen saturation through the examination oximetry in patients with HF obtained value? value= 0,000 ? ? = 0.05 Conclusion: By giving oxygen therapy, it can increase saturation oxygen for patients with heart failure
Pengaruh Edukasi Interaktif tentang Evakuasi Kecelakaan Lalu Lintas terhadap Pemahaman dan Emosional dalam Belajar pada Mahasiswa Keperawatan Galuh Heni Adelia; Hanura Aprilia; Diah Retno Wulan; Mira Mira
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 1 (2026): Volume 8 Nomor 1 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i1.22148

Abstract

ABSTRACT Traffic accidents are a serious public health issue in Indonesia, highlighting the importance of nursing students’ preparedness in providing first aid and conducting victim evacuation. Preliminary studies have shown limited knowledge and emotional readiness among fourth-semester students. This study aimed to analyze the effect of interactive education on traffic accident evacuation in improving students’ knowledge and emotional readiness. A pre-experimental design with one group pretest–posttest was conducted involving 30 fourth-semester Bachelor of Nursing students at Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, selected through simple random sampling. The intervention consisted of interactive education using the windows shopping method and quizzes. Knowledge was assessed with a multiple-choice questionnaire, while emotional readiness was measured using the AEQ-S questionnaire. Data were analyzed using the Wilcoxon test and paired t-test. The results showed a significant improvement in knowledge, with the passing rate increasing from 76.7% to 100% (p 0.001). Emotional readiness also improved significantly, with more students categorized as high and no students remaining in the low category (p = 0.001). These findings demonstrate that interactive education effectively enhances both knowledge and emotional readiness of nursing students in traffic accident evacuation. Keywords:   Interactive Education, Traffic Accident Evacuation, Knowledge, Emotional Readiness, Nursing Students  ABSTRAK Kecelakaan lalu lintas merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia, sehingga menuntut kesiapan mahasiswa keperawatan dalam memberikan pertolongan pertama dan melakukan evakuasi korban. Studi pendahuluan menunjukkan masih terbatasnya pemahaman dan kesiapan emosional pada mahasiswa semester empat. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh edukasi interaktif tentang evakuasi kecelakaan lalu lintas terhadap pemahaman dan kesiapan emosional mahasiswa keperawatan. Desain penelitian menggunakan pre-eksperimen dengan one group pretest–posttest pada 30 mahasiswa semester empat Program Studi Sarjana Keperawatan Universitas Muhammadiyah Banjarmasin yang dipilih melalui simple random sampling. Intervensi berupa edukasi interaktif dengan metode windows shopping dan kuis. Pengetahuan diukur menggunakan kuesioner pilihan ganda, sedangkan kesiapan emosional diukur dengan kuesioner AEQ-S. Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon dan paired t-test. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan, dengan kelulusan meningkat dari 76,7% menjadi 100% (p 0,001). Kesiapan emosional juga mengalami peningkatan, ditandai dengan bertambahnya mahasiswa dalam kategori tinggi dan tidak ada lagi yang berada pada kategori rendah (p = 0,001). Temuan ini membuktikan bahwa edukasi interaktif efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesiapan emosional mahasiswa keperawatan pada evakuasi kecelakaan lalu lintas. Kata Kunci:    Edukasi Interaktif, Evakuasi Kecelakaan Lalu Lintas, Pemahaman, Kesiapan Emosional, Mahasiswa Keperawatan
Efektivitas RTS dan Rems untuk Memprediksi Outcome Pasien Cedera Kepala di Ruang Instalasi Gawat Darurat RSUD Ulin Banjarmasin Nuzula Elfa Salama; Mira Mira; Julianto Julianto; Hanura Aprilia
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i12.21742

Abstract

ABSTRACT Head injury is a major consequence of traffic accidents and significantly contributes to global morbidity and mortality. Rapid and accurate initial assessment is essential for predicting clinical outcomes, especially in emergency departments. The Revised Trauma Score (RTS) and Rapid Emergency Medicine Score (REMS) are commonly used predictive tools. To evaluate and compare the effectiveness of RTS and REMS in predicting the outcomes of head injury patients in the Emergency Department of RSUD Ulin Banjarmasin. This was an analytical observational study with a retrospective cohort approach involving data from 75 head injury patients recorded between January and December 2024. Samples were selected based on inclusion criteria: patients aged ≥19 years with complete vital signs data. AUROC and the Youden index were used to assess predictive accuracy. Most patients were aged 19–44 years (54.7%) and male (72%). The most common injury mechanism was traffic accidents (70.7%). RTS categorized 90.7% of patients as low-risk, while REMS identified 56% as high-risk. RTS showed an AUC of 0.932 (sensitivity 82.6%; specificity 100%), and REMS showed an AUC of 0.954 (sensitivity 85.5%; specificity 100%). Results indicated that both RTS and REMS were significantly associated with patient outcomes (p0.05). RTS and REMS are effective in predicting outcomes of head injury patients; however, REMS offers slightly better predictive accuracy and may serve as a more comprehensive early evaluation tool. Keywords: Head Injury, RTS, REMS, Patient Outcome, Trauma Score, Emergency Care.  ABSTRAK Cedera kepala merupakan dampak utama kecelakaan lalu lintas dan berkontribusi terhadap morbiditas dan mortalitas global. Penilaian awal yang cepat dan akurat diperlukan untuk memprediksi outcome klinis, khususnya di instalasi gawat darurat. Revised Trauma Score (RTS) dan Rapid Emergency Medicine Score (REMS) merupakan instrumen prediksi yang umum digunakan. Menilai dan membandingkan efektivitas RTS dan REMS dalam memprediksi outcomepasien cedera kepala di IGD RSUD Ulin Banjarmasin. Penelitian observasional analitik dengan pendekatan kohort retrospektif menggunakan data 75 pasien cedera kepala Januari–Desember 2024. Sampel ditentukan berdasarkan kriteria inklusi usia ≥19 tahun dengan data tanda vital lengkap. Analisis AUROC dan Youden index digunakan untuk mengukur akurasi prediktif. Sebagian besar pasien berusia 19–44 tahun (54,7%) dan laki-laki (72%). Mekanisme cedera terbanyak adalah kecelakaan lalu lintas (70,7%). RTS mengkategorikan 90,7% pasien pada risiko mortalitas rendah, sedangkan REMS menunjukkan 56% berisiko tinggi. RTS memiliki AUC 0,932 (sensitivitas 82,6%; spesifisitas 100%) dan REMS AUC 0,954 (sensitivitas 85,5%; spesifisitas 100%). Hasil menunjukkan bahwa RTS dan REMS memiliki hubungan yang signifikan terhadap outcome pasien (p0,05). RTS dan REMS efektif dalam memprediksi outcome pasien cedera kepala, namun REMS memberikan akurasi prediksi yang lebih unggul dan dapat digunakan sebagai alat evaluasi awal yang lebih komprehensif. Kata Kunci: Cedera Kepala, RTS, REMS, Outcome Pasien, Prediksi Mortalitas, Instalasi Gawat Darurat.
Hubungan Dukungan Sosial dengan Psychological Well-Being Pada Remaja SMA Negeri 8 Banjarmasin Rina Aisya Septia; Muhammad Anwari; Hanura Aprilia
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i2.41105

Abstract

Perkembangan psikologis remaja merupakan hasil dari interaksi kompleks antara faktor internal dan eksternal, di mana dukungan sosial berfungsi sebagai mekanisme perlindungan yang fleksibel dan adaptif. Dukungan sosial membantu remaja menghadapi stressor dan tantangan perkembangan menjadi esensial dalam membangun psychological well-being yang baik. Data dari Dinkes Kota Banjarmasin menunjukkan prevalensi depresi mencapai 316 orang pada populasi usia ≥15 tahun. Studi pendahuluan pada 10 siswa SMA Negeri 8 Banjarmasin mengungkapkan bahwa meskipun mayoritas menerima dukungan sosial dari berbagai sumber, sebagian signifikan masih mengalami kekurangan yang berpotensi mempengaruhi psychological well-being mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara dukungan sosial dengan psychological well-being pada remaja SMA Negeri 8 Banjarmasin. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif korelasional dengan desain cross-sectional melibatkan 175 responden dari kelas XI. Dukungan sosial diukur menggunakan Skala CASSS dengan 40 item mencakup dukungan dari orang tua, guru, teman sekelas, dan teman dekat. Psychological well-being diukur dengan Ryff's Psychological Well-Being Scale (43 item) mengukur enam dimensi: penerimaan diri, hubungan positif, kemandirian, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi. Analisis data menggunakan uji Spearman Rank dengan tingkat signifikansi p<0,05. Penelitian ini menunjukkan sebagian besar responden menerima dukungan sosial tinggi (53,7%), sementara psychological well-being mayoritas berada pada kategori cukup (96,6%). Analisis mengungkapkan korelasi positif signifikan antara dukungan sosial dan psychological well-being mengindikasikan bahwa semakin tinggi dukungan sosial yang diterima, semakin baik psychological well-being remaja.
Studi Kasus: Gambaran Onset Blok Motorik pada Pasien Bedah Urologi dengan Spinal Anestesi di Rsud Dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin Nike Aprilia Putri; Hanura Aprilia; Evy Noorhasanah
Jurnal Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2026): September: Jurnal Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/klinik.v5i3.7607

Abstract

Spinal anesthesia is widely used in urological surgery because it provides effective sensory and motor blockade of the lower extremities. Motor block onset, defined as the interval between intrathecal anesthetic administration and the development of motor blockade, is an important indicator of anesthetic effectiveness. This study aimed to describe patient characteristics, motor block onset time, and the degree of motor blockade based on the Bromage Scale in patients undergoing urological surgery. A descriptive case study was conducted on five patients who received spinal anesthesia at Dr. H. Moch. Ansari Saleh Regional Hospital, Banjarmasin. Data were collected through direct observation of patient characteristics, motor block onset, and Bromage Scale scores. All patients were adults aged 18 years or older, consisting of one male and four females, with body mass index categories ranging from normal weight to obesity class II. Motor block onset varied between 1 and 7 minutes. Despite this variation, all patients achieved complete motor blockade with a Bromage Score of 3. The findings indicate that motor block onset differs among individuals, while complete motor blockade can still be achieved consistently, providing useful clinical information for evaluating the effectiveness of spinal anesthesia in urological surgery.
Pengaruh Edukasi Melalui Media Leaflet Tentang Pertolongan Pertama Luka Bakar Terhadap Tingkat Pengetahuan Ibu Dengan Anak Balita: The Effect of Education Through Leaflet Media on First Aid for Burns on the Knowledge Level of Mothers with Toddlers Maulid, Maulid; Aprilia, Hanura; Heriani, Novia; iswantoro, H.
Jurnal Abdi Keperawatan dan Kedokteran Vol 5 No 2 (2026): Jurnal Abdi Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Chakra Brahmanda Lentera Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55018/jakk.v5i2.225

Abstract

Burn injuries in toddlers frequently occur in the household environment and can cause serious consequences if not treated properly. Mothers, as the primary caregivers, play an important role in providing first aid. However, the low level of knowledge regarding the initial management of burn injuries may lead to inappropriate treatment. Education through leaflet media is one effort to improve mothers’ knowledge about first aid for burn injuries in toddlers. This study aimed to determine the effect of education through leaflet media on the knowledge level of mothers with toddlers. This study used a pre-experimental design with a one-group pretest-posttest approach. The sample consisted of 30 respondents selected using a total sampling technique at Pekauman Public Health Center, Banjarmasin. Data were collected using a questionnaire that had been tested for validity (0.470–0.744) and reliability (Cronbach’s Alpha 0.921), then analyzed using the Wilcoxon test. Before the education was provided, most respondents had a moderate level of knowledge (66.7%). After the education, the majority of respondents were in the good knowledge category (66.7%), and there were no respondents in the poor category. The Wilcoxon test showed a p-value of 0.000 (p < 0.05), indicating that education through leaflet media was effective in improving mothers’ knowledge regarding first aid for burn injuries in toddlers. Education through leaflet media proved effective in increasing mothers’ knowledge about first aid for burn injuries in toddlers at Pekauman Public Health Center, Banjarmasin. This study is expected to be considered by health workers in providing routine education to the community.
MULTIPLE CASE STUDY: GAMBARAN STATUS HEMODINAMIK PADA PASIEN OPERASI EKSTREMITAS BAWAH DENGAN SPINAL ANESTESI DI RSUD ULIN BANJARMASIN: Indonesia Nadzarul Izzatil Ishmah; Hanura Aprilia; Ruslinawati
Journal Ilmiah Rinjani : Media Informasi Ilmiah Universitas Gunung Rinjani Vol. 14 No. 1 (2026): Journal Ilmiah Rinjani: Media Informasi Ilmiah Universitas Gunung Rinjani
Publisher : LPPM Universitas Gunung Rinjani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53952/jir.v14i1.701

Abstract

Anestesi spinal merupakan teknik anestesi regional yang sering digunakan pada operasi ekstremitas bawah karena menghasilkan blokade sensorik dan motorik yang efektif. Namun, blokade saraf simpatis akibat spinal anestesi dapat menyebabkan perubahan status hemodinamik sehingga diperlukan pemantauan selama periode intraoperatif. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran status hemodinamik pasien yang menjalani operasi ekstremitas bawah dengan spinal anestesi di RSUD Ulin Banjarmasin. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan multiple case study. Partisipan penelitian berjumlah tiga pasien yang menjalani operasi ekstremitas bawah dengan teknik spinal anestesi, yaitu dua pasien menjalani operasi Open Reduction Internal Fixation (ORIF) pada kasus Close Fracture Left Subtrochanter Femur dan Post Debridement, serta satu pasien menjalani operasi debridemen pada kasus Necrotic Wound At Anterior Aspect Of Right. Data dikumpulkan melalui observasi dan dokumentasi rekam medis berupa tekanan darah, frekuensi nadi, dan Mean Arterial Pressure (MAP) selama periode intraoperatif, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan status hemodinamik pada seluruh partisipan setelah pemberian spinal anestesi. Pasien pertama mengalami perubahan tekanan darah dari 132/73 mmHg menjadi 125/78 mmHg dengan frekuensi nadi dan MAP yang relatif stabil. Pasien kedua menunjukkan penurunan tekanan darah paling besar dari 143/96 mmHg menjadi 100/62 mmHg disertai penurunan frekuensi nadi hingga 48 kali/menit. Pasien ketiga mengalami perubahan tekanan darah dari 117/47 mmHg menjadi 102/55 mmHg dengan nilai MAP terendah sebesar 65 mmHg selama pengamatan. Perubahan status hemodinamik pada setiap pasien menunjukkan adanya variasi respons fisiologis individu terhadap pemberian spinal anestesi selama operasi ekstremitas bawah.
Peningkatan Pengetahuan Orang Tua Murid tentang Penanganan Tersedak melalui Penyuluhan Demonstratif Teknik Heimlich Maneuver di TK Aisyiyah 31 Banjarmasin Abdus Salam; Desy Satriani; Diah Retno Wulan; Izma Daud; Julianto Julianto; Hanura Aprilia; Noorkhalilati Noorkhalilati
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 2 (2026): Volume 9 Nomor 2 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i2.24124

Abstract

ABSTRAK Tersedak (choking) merupakan kondisi kegawatdaruratan pada anak usia dini yang berpotensi menimbulkan kematian apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat. Tingginya risiko tersedak pada anak prasekolah dipengaruhi oleh keterbatasan kemampuan motorik anak serta rendahnya keterampilan orang tua dan guru dalam melakukan pertolongan pertama yang sesuai prosedur medis. Panduan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dirancang sebagai upaya promotif dan preventif melalui edukasi kesehatan berbasis demonstrasi langsung teknik heimlich maneuver. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta kesiapsiagaan orang tua dan guru TK dalam menangani kejadian tersedak pada anak usia dini. Metode Penelitian yang digunakan berupa penyuluhan kesehatan disertai demonstrasi langsung dan praktik berkelompok, dengan desain evaluasi pre-test dan post-test. Kegiatan dilaksanakan di TK Aisyiyah 31 Kota Banjarmasin dengan melibatkan 50 peserta yang terdiri dari orang tua murid dan guru TK. Evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan kemampuan peserta, di mana kategori pengetahuan dan keterampilan “Baik” meningkat dari 12% pada pre-test menjadi 92% pada post-test, serta tidak ditemukan lagi peserta pada kategori Kurang dan Cenderung Kurang. Metode demonstrasi langsung terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman kognitif dan keterampilan psikomotorik peserta. Penyuluhan kesehatan dengan metode demonstrasi langsung efektif meningkatkan kesiapsiagaan dan kemampuan mitigasi choking emergency pada anak usia dini, sehingga layak direkomendasikan sebagai model edukasi berkelanjutan di lingkungan pendidikan anak. Kata Kunci: Tersedak, Himlick Manuver, Keperawatan Gawatdarurat.   ABSTRACT Choking is an emergency condition in early childhood that can potentially cause death if not treated quickly and appropriately. The high risk of choking in preschool children is influenced by their limited motor skills and the low level of skills of parents and teachers in providing first aid in accordance with medical procedures. This community service activity guide is designed as a promotional and preventive effort through health education based on direct demonstrations of the Heimlich maneuver technique. This activity aims to improve the knowledge, skills, and preparedness of parents and kindergarten teachers in handling choking incidents in young children. Health education accompanied by direct demonstrations and group practice was used, with a pre-test and post-test evaluation design. The activity was carried out at Aisyiyah 31 Kindergarten in Banjarmasin City, involving 50 participants consisting of parents and kindergarten teachers. The evaluation showed a significant improvement in participants' abilities, with the “Good” category for knowledge and skills increasing from 12% in the pre-test to 92% in the post-test, and no participants remaining in the ‘Poor’ and “Tending to be Poor” categories. The live demonstration method proved effective in improving participants' cognitive understanding and psychomotor skills. Health education using the direct demonstration method is effective in improving preparedness and mitigation skills for choking emergencies in young children, making it a recommended model for continuing education in early childhood education settings. Keywords: Choking, Heimlich Manoeuvre, Emergency Nursing.
Pengaruh Penerapan Latihan Range of Motion Terhadap Tingkat Kekuatan Pada Pasien Pasca Stroke Feriska Amalia; Yosra Sigit Pramono; Muhsinin Muhsinin; Hanura Aprilia
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 5 (2026): Volume 8 Nomor 5 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i5.25010

Abstract

ABSTRACT Stroke is a health problem that often causes motor function disorders in the form of decreased muscle strength, both in the upper and lower extremities. This condition impacts functional activities and increases patient dependence in daily life. Therefore, early rehabilitative intervention is needed to support motor function recovery and prevent complications due to immobilization. One surgical intervention that can be given is range of motion training. This study aims to determine the effect of implementing range of motion training on increasing muscle strength in post-stroke patients. This study used a quantitative approach with a pre-experimental one group pretest-posttest design. The study sample consisted of 32 post-stroke patients treated in the Stroke Center and Seruni Rooms of Ulin Banjarmasin Regional Hospital, who were selected using consecutive sampling techniques. Interventions in the form of active and passive range of motion training were given according to the patient's condition. Muscle strength was measured before and after the intervention using the Manual Muscle Testing (MMT) scale. Data analysis was carried out univariately and bivariately with the Wilcoxon Signed Rank Test p 0,05. The results showed an increase in muscle strength after being given range of motion training. In the upper extremities, the proportion of muscle strength in the good category increased to 53,1%, while in the lower extremities it increased to 59,4%. Bivariate analysis showed a p-value 0,001. The application of range of motion exercises has been shown to increase muscle strength in post-stroke patients and can be used as part of a rehabilitative care intervention to support motor function recovery. Keywords: Stroke, Range of Motion, Muscle Strength, Rehabilitation, Post-Stroke Patients.  ABSTRAK Stroke merupakan masalah kesehatan yang sering menimbulkan gangguan fungsi motorik berupa penurunan kekuatan otot, baik pada ekstremitas atas maupun bawah. Kondisi tersebut berdampak pada keterbatasan aktivitas fungsional dan meningkatnya ketergantungan pasien dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, diperlukan intervensi rehabilitatif sejak dini untuk mendukung pemulihan fungsi motorik serta mencegah terjadinya komplikasi akibat imobilisasi. Salah satu intervensi keperawatan yang dapat diberikan adalah latihan range of motion. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan latihan Range of motion terhadap peningkatan kekuatan otot pada pasien pasca Stroke. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental one group pretest–posttest. Sampel penelitian berjumlah 32 pasien pasca stroke yang dirawat di Ruang Stroke Center dan Ruang Seruni RSUD Ulin Banjarmasin, yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Intervensi berupa latihan range of motion aktif dan pasif diberikan sesuai kondisi pasien. Kekuatan otot diukur sebelum dan sesudah intervensi menggunakan skala Manual Muscle Testing (MMT). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji Wilcoxon Signed Rank Test p0,05. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kekuatan otot setelah diberikan latihan range of motion. Pada ekstremitas atas, proporsi kekuatan otot kategori baik meningkat menjadi 53,1%, sedangkan pada ekstremitas bawah meningkat menjadi 59,4%. Hasil analisis bivariat menunjukkan nilai p-value0,001. Penerapan latihan range of motion menunjukkan adanya pengaruh terhadap peningkatan kekuatan otot pada pasien pasca stroke dan dapat digunakan sebagai bagian dari intervensi keperawatan rehabilitatif dalam mendukung pemulihan fungsi motorik. Kata Kunci: Stroke, Range of Motion, Kekuatan Otot, Rehabilitasi, Pasien Pasca Stroke.
Peningkatan Keterampilan Masyarakat Dalam Pertolongan Pertama Pada Gigitan Ular Melalui Metode Pelatihan Simulasi Novia Heriani; Noor Khalilati; Hanura Aprilia; Julianto Julianto; Indrayadi Indrayadi
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (Maret)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Snake bites are a potentially life-threatening health problem, especially in residential areas near swamps and bushes. Inappropriate initial treatment can worsen the victim's condition and increase the risk of complications. This community service activity aims to improve the community's knowledge and skills in providing first aid for snake bites through simulation training. The activity was held on October 7, 2025, in Kelayan Barat Village, RT 09, Banjarmasin City, with 41 participants. The methods used included education, demonstrations, simulations, and hands-on practice. The results of the activity showed an increase in the community's understanding and skills in recognizing the signs of snake bites, providing correct first aid, and avoiding erroneous actions. This activity is expected to increase community preparedness in dealing with snake bites and reduce the risk of complications due to inappropriate treatment.