Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

A HISTORICAL AND JURIDICAL REVIEW OF THE DEVELOPMENT OF ISLAMIC EDUCATION WITHIN THE NATIONAL EDUCATION SYSTEM IN INDONESIA Khasanah, Farida Nurul; Yusuf, Moh.; Fidiya, Nadira Putri; Adibah, Ida Zahara; Kahfi, Nazih Sadatul
FAJAR Jurnal Pendidikan Islam Vol. 5 No. 1 (2025): FAJAR Jurnal Pendidikan Islam (Maret)
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56013/fj.v5i1.4068

Abstract

The urgency of integrating Islamic education in Indonesia's national education system is becoming increasingly important amid the challenges of globalisation, digital transformation, and the need to strengthen the nation's cultural identity. This article aims to examine the development of Islamic education in Indonesia through historical and juridical approaches and examine its contemporary dynamics. The method used is qualitative research based on library research with a descriptive-analytical approach. Data sources were obtained from the latest relevant academic literature, analysed through thematic review techniques. The results of the study show that Islamic education has strong historical roots, is juridically recognised, but faces implementative challenges and the need for innovation in curriculum and learning technology. This article contributes to the strengthening of educational integration theory and offers a new perspective in designing educational policies that are inclusive and responsive to the times. Future research is expected to be able to examine the practice of Islamic education integration empirically in various local contexts.
Pendekatan Sosiologis Dalam Studi Islam Adibah, Ida Zahara
INSPIRASI (Jurnal Kajian dan Penelitian Pendidikan Islam) Vol 1, No 1 (2017): Inspirasi
Publisher : Fakultas Agama Islam UNDARIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.452 KB) | DOI: 10.61689/inspirasi.v1i1.1

Abstract

Abstrak Pentingnya pendekatan sosiologis dalam memahami agama dapat dipahami karenabanyak sekali ajaran agama yang berkaitan dengan masalah sosial. Jalaludin Rakhmattelah menunjukkan betapa besarnya perhatian agama yang dalam hal ini adalah Islamterhadap masalah sosial. Namun dewasa ini, sosiologi agama mempelajari bagaimanaagama mempengaruhi masyarakat, dan boleh jadi agama maysrakat mempengaruhikonsep agama. Pendekatan sosiologi memiliki peranan yang sangat penting dalam usahauntuk memahami dan menggali makna-makna yang sesungguhnya dikehendaki oleh al-Qur’an. Selain disebabkan oleh Islam sebagai agama yang lebih mengutamakan hal-halyang berbau sosial daripada individual yang terbukti dengan banyaknya ayat al-Qur’andan Hadis yang berkenaan dengan urusan muamalah (sosial), hal ini juga disebabkanbanyak kisah dalam al-Qur’an yang kurang bisa dipahami dengan tepat kecuali denganpendekatan sosiologi. Kata kunci: paradigma, sosiologis, islam Sosiological Approach In Islamic Study The importance of the sociological approach to understanding religion is understandablebecause many religious teachings related to social problems. Jalaluddin Rahmat has shownhow much attention to religion in this case is Islam against social problems. But today, thesociology of religion studying how religion affects the community, and may be religionmaysrakat affect the concept of religion. Sociological Approaches have a very important rolein efforts to understand and explore the true meanings intended by the Koran. Besidescaused by Islam as a religion that prefers things that smelled of social rather than individualevidenced by the many verses of the Koran and the Hadith concerning muamalah affairs(social), it also caused a lot of stories in the Qur'an less can be understood properly unlesswith a sociological approach.
METODOLOGI GROUNDED THEORY Adibah, Ida Zahara
INSPIRASI (Jurnal Kajian dan Penelitian Pendidikan Islam) Vol 2, No 1 (2018): INSPIRASI
Publisher : Fakultas Agama Islam UNDARIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (766.08 KB) | DOI: 10.61689/inspirasi.v2i1.50

Abstract

ABSTRACTGrounded theory was first introduced by Glasser and Strauss in The Discovery of Grounded Theory (1967). The main purpose, first rationalizing the theory that is grounded, processed and developed by data processing activities during the research process takes place. According to Glaser and Strauus, this type of theory "bridges the gap between theoretical research and empirical research. The second objective is to formulate the logic and characteristics of grounded theory. Whereas the third is to legitimize qualitative research. Grounded theory is a systematic qualitative research procedure, in which the researcher is a theory that explains concepts, processes, actions, or interactions regarding a topic at a broad conceptual level. For that purpose, what is needed in the process towards theory is a planned and systematic procedure. Grounded theory is a general methodology for developing theory.Grounded theory is almost the same as other theories used in qualitative research. The data sources needed are the same, which includes interviews and field observations. The difference between this methodology and other qualitative methodologies lies in the development of theory. Researchers can achieve any theoretical goal when using grounded theory procedures. It's just that some grounded theory research tends to lead to the development of substantive theories. Grounded theory diperkenalkan pertama kali oleh  Glasser dan Strauss dalam The Discovery of Grounded Theory (1967). Tujuan utamanya, pertama merasionalisasikan teori yang digroundedkan ,diolah dan dikembangkan oleh aktivitas pengolahan data  selama proses penelitian berlangsung. Menurut Glaser dan Strauus ,teori jenis ini “menjembatani kesenjangan yang terjadi antara penelitian teoritis  dengan penelitian empiris. Tujuan kedua adalah merumuskan logika dan ciri khas dari grounded theory. Sedangkan ketiga adalah melegitimasi penelitian kualitatif. Grounded theory merupakan prosedur penelitian kualitatif yang sistematik, dimana peneliti suatu teori yang menerangkan konsep, proses, tindakan, atau interaksi mengenai suatu topic pada level konseptual yang luas. Untuk maksud itu, yang diperlukan dalam proses menuju teori itu adalah prosedur yang terencana dan teratur (sistematis). Grounded theory  adalah metodologi umum untuk mengembangkan teori. Grounded theory hampir sama  dengan teori-teori lain yang digunakan di dalam penelitian kualitatif. Sumber data yang diperlukan sama yakni meliputi wawancara dan observasi lapangan. Perbedaan metodologi ini dengan metodologi kualitatif lain terletak pada pengembangan teori. Para peneliti bisa mencapai tujuan teoritis apa saja ketika menggunakan prosedur grounded teory. Hanya saja sebagian penelitian grounded theory cenderung mengarah pada pengembangan teori substantive. 
NUSYUZ DAN DISHARMONI RUMAH TANGGA Adibah, Ida Zahara
INSPIRASI (Jurnal Kajian dan Penelitian Pendidikan Islam) Vol 2, No 2 (2018): Inspirasi
Publisher : Fakultas Agama Islam UNDARIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (702.137 KB) | DOI: 10.61689/inspirasi.v2i2.16

Abstract

The purpose of this research is to answer the question of how the description of nusyus and gender violence in islam and what factors cause it and also about gender violence among muslims in Indonesia. This research also wants to express the efforts to overcome the discourse of gender violence among the muslims of Indonesia.this type of research is content analyst research. That is a form of research that aims to explore the contents or meaning of symbolic message in abook or other work. The researcher tried to review the contents of book of fiqh circulating in indonesia especially related to women which resulted in the discourse of gender violence. In thes case will be expressed various religious interpretations of the scholars of both the salaf and the khalaf, so that looks root case of the discourse of gender violence occured in almost all place and countries that lasted for a long time. In the book of Fiqh, gender violence influences the mind and pattern of religious behaviour of most muslims in our country. Some of the books of fiqh circulating in pesantren, schools and other. Islamic studies institution still do not show any gender equality. Abstrak Penelitian ini bertujuan ingin menjawab permasalahan bagaimana gambaran wacana nusyuz dan kekerasan gender dalam Islam dan faktor-faktor apa yang menyebabkan terjadinya nusyuz dan kekerasan gender di kalangan umat Islam di Indonesia. Penelitian ini juga ingin mengungkap upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi wacana kekerasan gender di kalangan umat Islam di Indonesia. Jenis penelitian ini adalah penelitian analisis konten (content analysis), yaitu suatu bentuk penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk menggali isi atau makna pesan simbolik dalam sebuah buku atau hasil karya lainnya. Dengan penelitian analisis konten peneliti mencoba mengkaji kembali isi kitab-kitab fikih yang beredar di Indonesia terutama yang terkait dengan perempuan yang mengakibatkan terjadinya wacana kekerasan gender. Dalam hal ini akan diungkap berbagai tafsir keagamaan dari para pakar (ulama) baik dari kalangan salaf (ulama terdahulu) maupun kalangan khalaf (ulama modern), sehingga terlihat akar penyebab terjadinya wacana kekerasan gender dalam Islam.Temuan hasil penelitian, secara umum kekerasan gender (tepatnya: kekerasan berperspektif gender) terjadi di hampir semua tempat dan negara dan berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama. Kekerasan gender dalam Islam yang ditunjukkan dalam kitab fikih banyak mempengaruhi pola pikir dan pola perilaku keagamaan sebagian besar umat Islam di belahan bumi ini, termasuk di kalangan masyarakat Muslim di negara kita, Indonesia. Sebagian dari buku-buku fikih yang beredar di pesantren, sekolah (madrasah), dan lembaga-lembaga pengkajian Islam lainnya masih belum menunjukkan adanya kesetaraan gender.
Struktural Fungsional Robert K. Merton: Aplikasinya Dalam Kehidupan Keluarga Adibah, Ida Zahara
INSPIRASI (Jurnal Kajian dan Penelitian Pendidikan Islam) Vol 1, No 2 (2017): Inspirasi
Publisher : Fakultas Agama Islam UNDARIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (608.294 KB) | DOI: 10.61689/inspirasi.v1i2.12

Abstract

Abstrak ‘Struktural Fungsional’ merupakan hasil pengaruh yang sangat kuat dari teori sistem umum di mana pendekatan fungsionalisme yang diadopsi dari ilmu alam khususnya ilmu biologi, menekankan pengkajiannya tentang cara-cara mengorganisasikan dan mempertahankan sistem. Dan pendekatan strukturalisme yang berasal dari linguistik, menekankan pengkajiannya pada hal-hal yang menyangkut pengorganisasian bahasa dan sistem sosial. Fungsionalisme struktural atau ‘analisa sistem’ pada prinsipnya berkisar pada beberapa konsep, namun yang paling penting adalah konsep fungsi dan konsep struktur. Dalam pengantarnya, Merton menunjukkan rasa kekhawatiran yang sama tentang fungsionalisme kontemporer yang para antropolog awal gagal untuk menyelesaikannya. Merton dalam pandangan teori fungsional mempertanyakan 3 postulat : (1) kesatuan funsgsional dari sistem sosial, (2) Universalitas fungsional dari sistem sosial, (3) indisipensability fungsional untuk sistem sosial. Masyarakat dianggap terdiri dari bagian-bagian yang secara teratur saling berkaitan. Walaupun skema paradigma Merton merupakan penyempurnaan dari fungsionalisme yang lebih awal, tetapi dia masih tetap saja menekankan kesatuan, stabilitas dan harmoni sistem sosial. Fungsionalisme Struktural tidak hanya berlandaskan pada asumsi-asumsi tertentu tentang keteraturan masyarakat, tetapi juga memantulkan asumsi-asumsi tertentu tentang hakikat manusia. Penerapan teori Struktural Fungsional dalam konteks keluarga terlihat dari struktur dan aturan yang ditetapkan. Keluarga adalah unit universal yang memiliki peraturan, seperti peraturan untuk anak-anak agar dapat belajar untuk mandiri. Tanpa aturan atau fungsi yang dijalankan oleh unit keluarga, maka unit keluarga tersebut tidak memiliki arti (meaning ) yang dapat menghasilkan suatu kebahagiaan.Kata Kunci:     fungsionalisme struktural; aplikasi, keluarga 'Functional Structural' is the result of the powerful influence of general system theory in which the approach of functionalism adopted from the natural sciences, especially biological science, emphasizes its assessment of ways of organizing and maintaining the system. And structuralism approach derived from linguistics, emphasizing its assessment on matters involving the organization of language and social system. Structural functionalism or 'system analysis' in principle revolves around several concepts, but the most important is the concept of function and structure concept. In his introduction, Merton shows the same concern about contemporary functionalism that early anthropologists failed to solve. Merton in the view of functional theory poses three postulates: (1) the functional unity of the social system, (2) the functional universality of the social system, (3) functional indisipensability for the social system. Society is considered to consist of parts that are regularly interrelated. Although Merton's paradigm scheme is a refinement of earlier functionalism, it still emphasizes the unity, stability and harmony of the social system. Structural functionalism is not only based on certain assumptions about the regularity of society, but also reflects certain assumptions about human nature. The application of Functional Structural theory in the context of the family is seen from the structure and rules set. Families are universal units that have rules, such as rules for children to learn to be independent. Without the rules or functions run by the family unit, then the family unit has no meaning (meaning) that can produce a happiness.
DINAMIKA LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA PADA MASA ORDE BARU (1966-1998) Adibah, Ida Zahara
INSPIRASI (Jurnal Kajian dan Penelitian Pendidikan Islam) Vol 4, No 2 (2020): Inspirasi
Publisher : Fakultas Agama Islam UNDARIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61689/inspirasi.v4i2.194

Abstract

Dinamika lembaga pendidikan Islam di Indonesia tidak dapat dipisahkan dengan keadaan bangsa Indonesia sejak zaman kolonial sampai masa sekarang. Dinamika hubungan timbal balik antara pendidikan dan politik dalam suatu masyarakat terus meningkat, seiring dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dinamika lembaga pendidikan Islam di Indonesia pada masa orde baru. Metode penelitian artikel ini adalah deskriptif naratif dengan menggunakan pendekatan sejarah. Hasil penelitiannya adalah Pada masa Orde Baru sejarah lembaga pendidikan Islam yaitu pesantren, madrasah dan sekolah Islam dalam pertumbuhan dan perkembangannya dipengaruhi oleh  aspek kebijakan politik pemerintah. Aspek kebijakan politik di era Orde Baru dapat diidentifikasi dengan 3 hubungan yaitu hubungan antagonistik, resiprokal-kritis dan hubungan akomodatif. Aspek politik sangat mempengaruhi kebijakan pendidikan, sehingga dalam perkembangan lembaga pendidikan Islam di Indonesia menghasilkan tiga paradigma yaitu; paradigma Formisme, paradigma Mekanisme dan paradigma Organisme.  The dynamics of educational institutions islam in indonesia cannot be separated to the state of indonesian since colonial when i now. The dynamics of a reciprocal relation between education and politics in a society continues to rise, along with perubahan-perubahan happened in society. The purpose of this research is to find the dynamics of educational institutions islam in indonesia in the new order era . The methodology of this article is descriptive narrative by adopting history. Her research is in the new order era history islamic education institutions that is islamic boarding schools , madrasah and islamic schools in growth and how things work out influenced by the aspect of the political policy of the government . The aspect of the political policy in the new order era cannot be identified with 3 relationship that is antagonistic relations , accommodating resiprokal-kritis and relations. Political aspects affected education policy , so in the development of educational institutions muslims in indonesia yield three the paradigm paradigm; formisme , the mechanism and the organism.  
PERKEMBANGAN KURIKULUM MADRASAH DI INDONESIA Asrofi, Asrofi; Adibah, Ida Zahara
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i2.5252

Abstract

ABSTRACT Madrasahs have existed since before independence and were officially recognized as part of the national education system after Indonesia gained independence. The madrasah curriculum was then adjusted to align with general education without losing its Islamic identity. This article discusses the dynamics and long journey of madrasah curriculum development in Indonesia from the colonial era to the post-independence period. Through a literature study method, this article explores educational policies governing madrasahs as part of the national education system, including the integration of religious and general curricula, by collecting and analyzing relevant written sources from various academic databases using specific keywords. The collected data are then descriptively analyzed to provide an overview. Madrasahs have transformed from religious-based self-help institutions into formal educational institutions legally recognized by the state. Amid challenges such as limited resources and the quality of teaching staff, madrasahs continue to make a significant contribution to the nation's intellectual development. This article emphasizes the importance of developing a madrasah curriculum based on Islamic values that can also respond to global challenges through a holistic and contextual approach. With a strong philosophical, psychological, sociological, and organizational foundation, the madrasah curriculum is expected to meet the needs of an inclusive and quality national education. ABSTRAK Madrasah telah ada sejak sebelum kemerdekaan dan mulai diakui secara resmi sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional setelah Indonesia merdeka. Kurikulum madrasah pun disesuaikan agar selaras dengan pendidikan umum tanpa menghilangkan identitas keislamannya. Artikel ini membahas dinamika dan perjalanan panjang perkembangan kurikulum madrasah di Indonesia sejak masa kolonial hingga era pasca kemerdekaan. Melalui Melalui metode studi literatur, artikel ini menelusuri kebijakan-kebijakan pendidikan yang mengatur madrasah sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional, termasuk integrasi kurikulum agama dan umum, dengan mengumpulkan dan menganalisis sumber-sumber tertulis yang relevan dari berbagai database akademik menggunakan kata kunci tertentu. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif untuk memberikan gambaran. Madrasah mengalami transformasi dari lembaga swadaya berbasis keagamaan menjadi institusi pendidikan formal yang diakui secara yuridis oleh negara. Di tengah tantangan seperti keterbatasan sumber daya dan kualitas tenaga pengajar, madrasah tetap memiliki kontribusi signifikan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Artikel ini menekankan pentingnya pengembangan kurikulum madrasah yang berlandaskan pada nilai-nilai Islam serta mampu merespons tantangan global melalui pendekatan yang holistik dan kontekstual. Dengan landasan filosofis, psikologis, sosiologis, dan organisatoris yang kuat, kurikulum madrasah diharapkan mampu menjawab kebutuhan pendidikan nasional yang inklusif dan berkualitas.
FAKTOR, PRINSIP, DAN DESAIN PENGEMBANGAN KURIKULUM PAI BERBASIS MULTIKULTURAL Sholikah, Mar’atus; Adibah, Ida Zahara; Hidayatullah, Ahmad Syarif; Chumairoh, Lutfi; Nugroho, Wahyu
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i2.5481

Abstract

ABSTRACT The development of Islamic religious education curriculum that is responsive to cultural diversity is an urgent need in Indonesia’s pluralistic society. This study aims to examine the influencing factors, fundamental principles, and the design of a multicultural-based Islamic religious education curriculum. A descriptive qualitative approach was employed, using literature review techniques from recent scholarly sources. Data were analyzed through systematic reduction, presentation, and conclusion drawing. The findings indicate that the development of a multicultural-based curriculum is influenced by the diversity of students' backgrounds, social dynamics, and evolving times. The main principles underlying the development include relevance, flexibility, continuity, and efficiency. Meanwhile, the curriculum design is developed through steps that involve identifying needs, formulating objectives, selecting materials, choosing participatory learning methods, and conducting a comprehensive evaluation. The study concludes that a multicultural-based Islamic religious education curriculum serves as a strategic tool to shape inclusive, tolerant students capable of living harmoniously within a diverse society. ABSTRAK Pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam yang mampu merespons keberagaman budaya menjadi kebutuhan mendesak di tengah pluralitas masyarakat Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor yang memengaruhi, prinsip-prinsip dasar, serta desain pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam berbasis multikultural. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka dari sumber-sumber ilmiah terkini. Data dianalisis melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan kurikulum berbasis multikultural dipengaruhi oleh keberagaman latar belakang peserta didik, dinamika sosial, serta perkembangan zaman. Prinsip-prinsip utama yang mendasari pengembangannya meliputi relevansi, fleksibilitas, kesinambungan, dan efisiensi. Sementara itu, desain kurikulum disusun melalui langkah-langkah yang melibatkan identifikasi kebutuhan, perumusan tujuan, pemilihan materi, pemilihan metode pembelajaran yang partisipatif, serta evaluasi yang menyeluruh. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa kurikulum pendidikan agama Islam berbasis multikultural dapat menjadi instrumen strategis dalam membentuk peserta didik yang inklusif, toleran, dan mampu hidup harmonis dalam masyarakat yang beragam.
DINAMIKA PENGEMBANGAN KURIKULUM DI ERA DIGITAL DALAM MENJAWAB KESENJANGAN KONSEP DAN PRAKTIK Hamilaturroyya, Hamilaturroyya; Adibah, Ida Zahara
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v5i3.6631

Abstract

The transformation of education toward digitalization has become an urgent necessity in the era of globalization and technological advancement. However, the implementation of the digital curriculum in Indonesia still faces various challenges, particularly regarding the readiness of urban and rural schools and the lack of systemic support from the government. This study focuses on disparities in infrastructure readiness, digital literacy, teacher training, and incomplete government policies. The method used is descriptive qualitative through literature review and relevant secondary data. The findings show a significant gap in technological access between urban and rural schools, unsustainable teacher training, and inconsistent policies that do not fully support digital curriculum integration. Low digital literacy among students in rural areas exacerbates implementation barriers, as limited access to devices and internet networks prevents meaningful participation in modern learning. Moreover, government policies are often partial and lack proper monitoring and evaluation. The study concludes that without equitable infrastructure and continuous training, the digital curriculum risks widening the educational gap. An integrated strategy involving government, schools, and communities is essential to establish a fair, inclusive, and sustainable digital education system. ABSTRAKTransformasi pendidikan ke arah digital menjadi kebutuhan mendesak di era globalisasi dan perkembangan teknologi informasi. Namun, implementasi kurikulum digital di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait kesiapan sekolah di wilayah perkotaan dan pedesaan serta kurangnya dukungan sistemik dari pemerintah. Penelitian ini berfokus pada ketimpangan kesiapan infrastruktur, literasi digital, pelatihan guru, serta kebijakan pemerintah yang belum menyeluruh. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan (library research) disertai dengan data sekunder yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesenjangan akses teknologi antara sekolah perkotaan dan pedesaan, pelatihan guru yang tidak berkelanjutan, serta kebijakan yang belum konsisten dalam mendukung kurikulum digital. Rendahnya literasi digital siswa di daerah pedesaan memperparah hambatan implementasi, karena keterbatasan perangkat dan jaringan internet menghalangi mereka untuk terlibat dalam pembelajaran modern. Di sisi lain, kebijakan pemerintah sering bersifat parsial dan tidak disertai monitoring serta evaluasi yang memadai. Simpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa tanpa pemerataan infrastruktur dan pelatihan berkelanjutan, kurikulum digital berisiko memperlebar ketimpangan pendidikan. Diperlukan strategi terpadu antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat untuk menciptakan sistem pendidikan digital yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.
Implementasi fiqih sosial dalam kehidupan bermasyarakat "Žmodern di era society 5.0"Ž Adibah, Ida Zahara; Chasanah, Uswatun
Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 24 No. 1 (2024): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v24i1.60885

Abstract

Social fiqh is a means of improving the benefit of the public and the people, Islam has a variety of guidelines, strategies, and even criteria in applying Fiqh in everyday life. Fiqh which is made the basis of life that directs humans to dignity in accordance with the teachings of Islam which already exists in the source of Islamic law, namely the Al-Qur'an and Hadith as a definite guide to life for mankind. Social fiqh aims to create an applicable society with easy access to social, economic and social life values. So that a harmonious society is created. The results showed that social Fiqh in the era of society 5.0 will be an increase in ease of access to problems in community life regarding economy, social, culture. There are three strategies for the development of Fiqh in the era of society 5.0 (1) Fiqh can adapt to any changes (2) The spirit of the changing times (3) The existence of government development policies.Fiqih sosial merupakan sarana dalam meningkatkan kemaslahatan publik maupun umat, Islam mempunyai berbagai macam pedoman, strategi, bahkan kriteria dalam mengaplikasikan Fiqih dalam kehidupan sehari-hari. Fiqih yang di jadikan dasar dalam kehidupan yang mengarahkan manusia kepada martabat yang sesuai dengan ajaran agama Islam yang sudah ada dalam sumberhukum Islam yaitu Al-Qur'an dan Hadist sebagai penoman hidup yang pasti bagi umat manusia. Fiqih sosial bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang aplikatif dengan kemudahan akses dalam bersosial, berekonomi dan mengedepankan nilai-nilai kehidupan bermasyarakat. Sehingga terciptanta masyarakat yang harmonis. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Fiqih sosial pada era society 5.0 akan menjadi peningkatan kemudahan dalam mengakses masalah dalam kehidupan bermasyarakat mengenai ekonomi, sosial, budaya. Terdapat tiga strategi perkembangan Fiqih di era society 5.0 (1) Fiqih bisa beradaptasi dengan setiap perubahan (2) Semangat adanya perubahan zaman (3) Adanya kebijakan pembangunan pemerintah.