Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Kandungan Fenolik Dan Flavonoid Total Pada Ekstrak Daun Srikaya (Annona squamosa L.) Terfermentasi dyah aryantini; Fita Sari; Citra Rahma Wijayanti
Farmasains : Jurnal Ilmiah Ilmu Kefarmasian Vol. 7 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/farmasains.v7i2.5635

Abstract

Daun srikaya mengandung senyawa fenolik dan flavonoid yang dapat digunakan sebagai antioksidan, antidiabetik, hepatoprotektif, antitumor. Fermentasi menyebabkan perubahan senyawa kimia sehingga mempengaruhi bioaktivitas tanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan total fenolik dan flavonoid pada ekstrak daun srikaya dan ekstrak daun srikaya terfermentasi probiotik dengan lama fermentasi 24, 48 dan 72 jam. Ekstraksi daun srikaya dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Penetapan kandungan total fenolik dan flavonoid menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Kandungan total fenolik ditetapkan dengan asam galat konsentrasi baku seri 40, 55, 70, 85, 100 ppm, penentuan kandungan total flavonoid dengan kuersetin konsentrasi 40, 65, 90, 115, 140 ppm. Hasil penetapan kandungan total fenolik ekstrak adalah 4,028±0,064 mgGAE/g, sedangkan kandungannya pada ekstrak terfermentasi berturut-turut pada 24, 48, 72 jam yaitu 8,817±0,079; 7,391±0,018 dan 5,997±0,078 mgGAE/g. Kandungan total flavonoid ekstrak 3,861±0,041 mgQE/g, pada ekstrak terfermentasi jam ke-24, 48, 72 berturut-turut yaitu 17,022±0,392; 11,691±0,268 dan 9,227±0,243 mgQE/g. Kesimpulan yang diperoleh adalah proses dan lama fermentasi mempengaruhi kandungan total fenolik dan flavonoid pada ekstrak daun srikaya dan ekstrak daun srikaya terfermentasi.
Karakter Spesifik Ekstrak Daun Belimbing Wuluh Dari Tiga Tempat Tumbuh Dan Penghambatan Terhadap Staphyllococcus aureus dan Escherichia coli Dyah Aryantini
Pharmauho: Jurnal Farmasi, Sains, dan Kesehatan Vol 7, No 2 (2021): Pharmauho
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/pharmauho.v7i2.13925

Abstract

Daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) merupakan tanaman yang dapat digunakan sebagai alternatif pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakterisasi spesifik ekstrak untuk menjamin keajegan kandungan kimia ekstrak yang bertanggungjawab dalam aktivitas farmakologidan menguji aktivitas ekstrak etanol 80% dalam menghambat bakteri Staphylococcus aureus dan Escherricia coli. Metode ekstraksi dilakukan secara maserasi dengan pelarut etanol 80%. Ekstrak berasal dari 3 tempat tumbuh yang berbeda, pengujian parameter spesifik meliputi identitas ekstrak, organoleptis, skrining fitokimia, kadar senyawa yang larut dalam air, uji kandungan kimia dengan metode KLT. Uji aktivitas antibakteri dengan metode difusi sumuran. Hasil skrining fitokimia ekstrak etanol buah belimbing wuluh menunjukan adanya kandungan flavonoid, saponin, tanin, dan terpenoid. Karakter ekstrak terhadap parameter spesifik kadar larut etanol dan kadar larut air dari masing-masing 3 tempat tumbuh di Jawa Timur, cara penetapannya sesuai dengan yang tercantum dalam Farmakope Herbal Indonesia 2008. Uji aktivitas menggunakan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus yang dibagi menjadi 5 kelompok, dengan ekstrak daun belimbing wuluh dengan konsentrasi kontrol positif dan negatif, 25%, 50%, 100%. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun belimbing wuluh memiliki aktivitas menghambat kedua bakteri tersebut dan memiliki nilai rentang pada karakterisasi parameter spesifik yang disyaratkan dalam Farmakope Herbal 2008  
KARAKTER SPESIFIK EKSTRAK DAUN YODIUM (Jatropha multifida L.) DARI TIGA LOKASI TEMPAT TUMBUH DI JAWA TIMUR Dyah Aryantini; Erni Anika Sari; Dani Nanda S.W
JOURNAL OF PHARMACY SCIENCE AND TECHNOLOGY Volume 2 No. 2: Desember 2021
Publisher : Prodi Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/pst.v3i1.109

Abstract

Jatropha multifida L. is a plant that has many medicinal properties. The active compounds of this plant include tannins, saponins, flavonoids, and phenols. However, the content of active compounds and the quality of extracts of a medicinal plant cannot be guaranteed to be in the same amount, and this is due to the influence of different growing sites. Therefore it is essential to do standardization. This study aims to characterize iodine leaf extracts from the cities of Kediri, Nganjuk, and Madiun. Specific parameter tests include the section's identity, organoleptic, content of soluble compounds in water and ethanol 96%, and screening for phytochemical flavonoids, tannin alkaloids, and saponins. This study can be concluded that extracts from Kediri, Nganjuk, and Madiun have a thick extract form with a blackish-brown color and have a distinctive odor and bitter taste. Based on phytochemical screening, all extracts contain alkaloids, flavonoids, tannins, saponins. Furthermore, the test levels of soluble compounds in ethanol 96% from Kediri, Nganjuk, and Madiun were 74; 77.70; 73.52%, and the class of soluble compounds in water were 40.90; 31,78, 41.87%.
Sifat Fisik dan Uji Iritasi Akut Dermal Soothing Gel Kombinasi Lidah Buaya dan Buah Naga Dyah Aryantini; Ida Kristianingsih; Evi Kurniawati; Amalia Ralita Lanuru
Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 9, No 1 (2020): Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/pjif.v9i1.1671

Abstract

Soothing gel merupakan kosmetika yang banyak digemari oleh masyarakat yang berfungsi untuk mengatasi kulit kering. Sediaan ini mengandung bahan aktif dengan konsentrasi tinggi dalam formula gel yang dianggap mampu melembabkan kulit. Bahan aktif terdiri dari lidah buaya (Aloe vera L.) dan buah naga (Hylocereus polyrhizus (Weber) BrittonRose) dengan konsentrasi total Formula I 85% dan Formula II 95%. Penelitian ini bertujuan menguji sifat fisik sediaan soothing gel dan iritasi akut dermal kelinci (Lepus Sp.). Metode penelitian ini meliputi pengujian sifat fisik gel yaitu, organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, daya lekat, viskositas. dan uji iritasi akut dermal. Analisa data statistik dengan SPSS 24.0. Hasil skrining bahan aktif lidah buaya positif mengandung alkaloid, fenolik, flavonoid dan saponin. Sedangkan sari buah naga positif mengandung alkaloid, fenolik, antosian, flavonoid dan terpenoid. Sediaan memiliki bau khas buah naga, langu, warna magenta tua khas warna buah naga. Kedua formula homogen dengan pH pada formula I dan II (5,3 dan 5.9), daya sebar 5,7cm dan 5,8cm, daya lekat 3,8 detik dan 2detik, viskositas 281 cP dan 142 cP. Sedangkan pada uji iritasi akut dermal diperoleh rerata nilai 0,3. Dapat disimpulkan bahwa daya lekat dan viskositas sediaan tidak memenuhi syarat dan uji iritasi akut dermal masuk dalam kategori iritasi sangat ringan.Kata kunci— uji sifat fisik, soothing gel, lidah buaya, buah naga, iritasi akut dermal
Formulasi dan Evaluasi Stabilitas Suhu yang Berbeda pada Sabun Padat Ekstrak Daun Sirih (Piper betle Linn) Muslikh, Faisal Akhmal; Aryantini, Dyah; Sari, Fita; Hesturini, Rosa Juwita; Latarissa, Nayla Annida; Imanda'ar, Pavitra Meilina; Sya'adah, Puri Zumrotul; Reza, Putri Firdaus Shafiera; Priyantri, Risma Virgian
Journal of Islamic Pharmacy Vol 9, No 2 (2024): J. Islamic Pharm.
Publisher : Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/jip.v9i2.26897

Abstract

Daun sirih (Piper betle Linn) telah terbukti memiliki sifat antibakteri yang kuat, yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri, termasuk bakteri gram positif dan gram negatif. Mekanisme kerja antibakteri dari ekstrak daun sirih melibatkan beberapa faktor, seperti minyak atsiri, senyawa fenolik, alkaloid, dan flavonoid, yang bekerja secara sinergis untuk menghambat dan mematikan bakteri. Tujuan dari penelitian ini dilakukan untuk merancang dua formula sabun padat yang mengandung ekstrak daun sirih, kemudian dilakukan evaluasi stabilitasnya pada suhu ruang (± 25⁰C), suhu dingin (± 4-8⁰C) serta suhu panas (± 40⁰C). Hasil uji menunjukkan bahwa formula 1 (F1) dan 2 (F2) sediaan sabun padat memenuhi syarat yang ditetapkan, termasuk dalam hal bentuk, warna, aroma, kadar air, pH, dan stabilitas busa. F1 menampilkan organoleptis dengan bentuk yang tidak padat dan berwarna coklat pekat. Sementara itu, F2 menunjukkan organoleptis dengan bentuk padat, berwarna putih kehijauan, dan aroma yang khas seperti daun sirih. Uji pH menunjukkan nilai 11 untuk F1 dan 10 untuk F2. Stabilitas busa F1 mencapai rerata 80,65 ± 1,038%, 90,83 ± 2,929%, dan 93,20 ± 1,200%, sementara F2 memiliki nilai rerata 85,56 ± 8,435%, 84,98 ± 4,392%, dan 93,59 ± 2.114%. Uji kadar air menunjukkan F1 memiliki rerata 3,645 ± 0,010%, 1,761 ± 0,035%, dan 3,081 ± 0,156%, sedangkan F2 memiliki nilai sebesar 1,125 ± 0,108%, 1,310 ± 0,274%, dan 2,142 ± 0,167%. Dapat disimpulkan bahwa formula kedua dipilih karena memenuhi semua kriteria yang ditetapkan. Sabun padat dengan ekstrak daun sirih ini diharapkan dapat menjadi pilihan yang baik bagi individu yang mengutamakan kebersihan dan perlindungan kulit dari infeksi bakteri.
Skrining Fitokimia dan Formulasi Sediaan Masker Gel Peel-Off Ekstrak Etanol Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) Muslikh, Faisal; Aryantini, Dyah; Sari, Fita; Hesturini, Rosa Juwita; Winartiana, Winartiana; Prasetyawan, Fendy
BORNEO JOURNAL OF PHARMASCIENTECH Vol 8 No 1 (2024): Borneo Journal of Pharmascientech
Publisher : Universitas Borneo Lestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/bjp.v8i1.519

Abstract

Skin aging is a natural process influenced by intrinsic and extrinsic factors. This process often leads to various skin problems, including wrinkles, sagging, and hyperpigmentation. One of the main triggers of skin aging is oxidative stress, which produces reactive species oxygen (ROS) that can damage various components of the skin. Temulawak, locally known as Curcuma xanthorrhiza Roxb., has been traditionally used in Indonesia for various skin health conditions due to its antioxidant, antibacterial, and anti-aging properties. This research aims to create a new formula of peel-off gel mask from temulawak extract and evaluate the preparation. Two formulations were made, with the second formulation modified by adding the fragrance oleum rosae to reduce the aroma of temulawak. Evaluation was conducted through a series of tests, including The results showed differences between the two formulations, especially in the organoleptic test where Formula 2 experienced changes in color and aroma. However, other parameters were relatively similar between the two formulations. The developed peel-off gel mask has the potential to improve skin health, further research is needed to understand product acceptance by the public, using approaches such as hedonic testing. This will help in developing products that are more suitable for consumer needs and preferences.
Uji Aktifitas Antioksidan, flavonoid Total dan Formulasi Sediaan Krim Ekstrak Bangle (Zingiber cassumunar) Lailiyah, Munifatul; Andika Saputra, Sony; Aryantini, Dyah
Indonesian Journal of Pharmaceutical Education Vol 4, No 3 (2024): September-Desember 2024
Publisher : Jurusan Farmasi Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37311/ijpe.v4i3.28181

Abstract

Bangle rhizome (Zingiber cassumunar) is a plant with essential oil, flavonoid, and curcumin content which is efficacious as a traditional medicine and has antioxidant activity. The purpose of this study was to determine the antioxidant activity and test the total flavonoid content contained in the rhizome extract (Zingiber cassumunar) using UV-Vis spectrophotometry. Then a cream preparation was made and tested for physical quality including, organoleptic, homogeneity, pH, adhesive power, and spreadability. The extraction method uses the maceration method of bangle rhizomes (Zingiber cassumunar) using an alcohol solvent until a thick extract is obtained, then a quantitative test is carried out for the content of total flavonoid compounds in the form of determining total flavonoid levels and free radical scavenging activity using the DPPH method. The results showed that the bangle rhizome extract (Zingiber cassumunar) had a yield value of 26.25%. The extract of bangle rhizome (Zingiber cassumunar) has a total flavonoid value of 86.7±0.4 mg QE/g extract, which means it contains high flavonoid compounds and has an IC50 value of 48.29±7.9 (µg/mL) with a powerful category. The physical quality test of the three formulations meets the criteria for physical quality test requirements. The total flavonoid compound content value in the 96% ethanol extract of bangle rhizome (Zingiber cassumunar) is 86.7 mg QE / g extract which means it contains high flavonoid compounds. The IC50 value of the 96% ethanol extract of bangle rhizome (Zingiber cassumunar) is 48.29µg/mL which means it has extreme free radical scavenging activity. Formulations, 1, 2, and 3 meet the physical quality test.
Penetapan Kandungan Kurkumin secara KLT Densitometri Ekstrak Temulawak (Curcuma xanthorriza) Berdasarkan Perbedaan Tempat Tumbuh Aryantini, Dyah; Hardini, Pri
KUNIR: JURNAL FARMASI INDONESIA Vol 2 No 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Program Studi Farmasi (S-1), Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Bhamada Slawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36308/kjfi.v2i2.715

Abstract

Temulawak merupakan salah satu dari lima anggota famili Zingiberaceae yang oleh WHO telah ditetapkan sebagai prioritas. Salah satu senyawa fitofarmaka yang terkandung dalam rimpang temulawak dan telah banyak dieksplorasi aktivitas biologisnya yaitu senyawa kurkumin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan sampel temulawak Curcuma xanthorrhiza Roxb. yang diperoleh dari pasar Raya Kutorejo (Ku), Mojosari (Mo), dan Materia Medika Indonesia (MMI) Malang Ekstraksi rimpang temulawak dilakukan dengan metode maserasi menggunakan etanol 96% (1:10 b/v). Analisis KLT secara kualitatif dan kuantitatif dianalisis menggunakan KLT Densitometri menggunakan fase gerak kloroform:metanol (95:5 v/v). Secara KLT kualitatif menunjukkan bahwa ketiga ekstrak temulawak dari tempat yang berbeda mengandung kurkumin. Adapun hasil secara kuantitatif kandungan kurkumin dari pasar Kutorejo, Mojosari dan MMI berturut- turut adalah 187,37; 143,3; dan 110,59 μg/mL. Kadar kurkumin dari pasar Kutorejo dan Mojosari tidak berbeda signifikan, artinya rimpang temulawak yang berasal dari kedua pasar tersebut dapat digunakan sebagai bahan baku obat tradisional yang terstandar kurkumin. Dapat disimpulkan bahwa kandungan kurkumin tertinggi adalah dari pasar Kutoarjo dibandingkan dari Mojosari dan MMI. Rimpang dari kedua pasar dapat digunakan sebagai bahan baku obat tradisional.
AKTIVITAS PENGHAMBAT LIPASE AKTIVITAS PENGHAMBAT LIPASE PANKREAS In Vitro dan STANDARISASI EKSTRAK BANGLE (Zingiber cassumunar ROXB.) Aryantini, Dyah
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 49 No. 2 (2024)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A body mass index of ≥30 kg/m2 indicates obesity, which is brought on by an excess of fat deposits. blocking obesity can be achieved in part by blocking the pancreatic enzyme lipase from doing its job. A plant belonging to the Zingiberaceae family, bangle rhizome has been used traditionally for body slimming and stomach reduction. Standardization is required to guarantee the quality of Bangle extract as a basic material for traditional medicine. The study aim were evaluate specific and non-specific character to standardize Bangle extract and to conduct the inhibitory activity of lipase enzyme activity in vitro. Maceration is used to create the extract, and the extract is subsequently examined for loss of drying, microscopic, phytochemical screening and ethanol and water-soluble extract content. In vitro tests were carried out using the colorimetric method to determine the percentage of inhibition of bangle extract against lipase. The ideal lipase incubation conditions were maintained at 37 OC, pH 7, for 10 minutes. The water content and total ash content yield respectively of 9.42% ± 0.36 and 0,7%±0,02 while the water and ethanol soluble extract levels were 16.96 and 15.13%, respectively. When tested against the pancreatic lipase enzyme at a concentration of 100 ppm, the bangle extract shown a 27.21%±1.59 inhibition of the enzyme. Bangle extract exhibits strong activity in suppressing the pancreatic lipase enzyme in vitro, and overall, both specific and non-specific parfameters of the extract have met the standard requirements.
Characterization of Extract, Formulation and Evaluation of Hand Sanitizer from Red Betel Leaf Extract (Piper crocatum L.) Aryantini, Dyah; Muslich, Faisal; Hardini, Pri; Sariwati, Atmira; Lailiyah, Munifatul; Sari, Fita; Hesturini, Rosa
Jurnal Sintesis: Penelitian Sains, Terapan dan Analisisnya Vol 6 No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Fakultas Sains, Teknologi, dan Analsisi Institut ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56399/jst.v6i1.284

Abstract