Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Revitalizing Local Moral Teachings: A Study of Islamic Education Values in the Serat Wedhatama and Its Application for Students at Islamic Boarding Schools Zikri Adib Kurnia; Ahmad Barizi; Muhammad In’am Esha
At-Ta'lim : Media Informasi Pendidikan Islam Vol 24, No 2 (2025): DECEMBER
Publisher : Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/attalim.v24i2.9754

Abstract

ENGLISH: Revitalizing Local Moral Teachings: A Study of Islamic Educational Values in the Serat Wedhatama and Its Application for Students at Islamic Boarding SchoolsObjective: This research aims to examine the Islamic education values contained in Serat Wedhatama and its implementation in the learning process at Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan. Method: The research design employs a case study approach, combining hermeneutic text analysis, observation, and interviews with teachers and students. Results: Serat Wedhatama contains values of faith, worship, and ethics that strengthen students' character. The learning process includes planning, conducting lessons twice a week using drill methods, lectures, and text analysis, followed by evaluation at the end of the session for students who have mastered the material. Conclusion: The existence of local literary works such as Serat Wedhatama is crucial in building character and religious identity for students based on Javanese culture, which remains relevant in modern life. Contribution: This research provides a theoretical foundation for the development of contextual Islamic education grounded in local culture, while also encouraging innovation in digital learning media to expand access and foster character development rooted in local traditions in the digital age.Abstract: Revitalisasi Ajaran Moral Lokal: Kajian Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam dalam Serat Wedhatama dan Pembelajarannya bagi Santri di Pondok PesantrenTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai-nilai pendidikan agama Islam yang terkandung dalam Serat Wedhatama dan implementasinya dalam pembelajaran di Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan. Metode: Desain penelitian menggunakan studi kasus, yang menggabungkan analisis hermeneutik teks, observasi, dan wawancara dengan guru dan santri. Hasil: Serat Wedhatama mengandung nilai keimanan, ibadah, dan akhlak yang memperkuat karakter santri. Pembelajaran dilakukan dengan merencanakan, melaksanakan dua kali seminggu menggunakan metode drill, ceramah, dan analisis teks, serta evaluasi di akhir pembelajaran untuk siswa yang telah menguasai materi. Kesimpulan: Keberadaan karya sastra lokal seperti Serat Wedhatama sangat vital dalam membangun karakter dan jati diri keagamaan siswa berbasis budaya Jawa yang relevan dengan kehidupan modern. Kontribusi: Penelitian ini memberikan landasan teori bagi pengembangan pendidikan Islam kontekstual berbasis budaya lokal, sekaligus mendorong inovasi media pembelajaran digital untuk memperluas akses dan memperkuat pengembangan karakter berbasis tradisi lokal di era digital.
Penguatan Etika Pembelajaran Deep Learning Perspektif Hadis Pada Kitab Al-Targhib Wa Al-Tarhib; Tinjauan Metodologi Kritik Hadis Musahadi HAM Fitratul Uyun; Muhammad Walid; Sarkowi Sarkowi; Triyo Supriyatno; Ahmad Barizi
J-PAI: Jurnal Pendidikan Agama Islam JPAI Vol. 12 No. 1 Juli-Desember 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/jpai.v12i1.37558

Abstract

This study aims to examine the sanad validity and to develop a contextual interpretation of a prophetic tradition on learning narrated by Abu Hurayrah and recorded in al-Tirmidzi's Sunan (Kitāb al-Zuhd). Textually, the hadith may give rise to interpretive ambiguity and appears to be in tension with Qur’anic principles and other prophetic traditions concerning the relationship between worldly life and knowledge. This research employs a library-based qualitative method using Musahadi HAM’s hadith-criticism approach, which integrates sanad criticism, matn criticism, and maqāṣid-based contextualization through historical, eidetic, and practical analyses. The findings indicate that the hadith is classified as ṣaḥīḥ and maqbul, despite its status as an āḥād gharīb narration. Eidetic analysis reveals that the hadith does not constitute a total condemnation of the world; rather, it represents a universal critique of materialistic life orientations detached from divine values. The explicit exception granted to scholars (‘ālim) and learners (muta‘allim) affirms that knowledge and the process of learning constitute the ethical foundation that renders worldly life meaningful and enables social transformation. In the context of contemporary education, this hadith provides an ethical framework for deep, meaningful, and transformative learning, resonating with the paradigm of deep learning that emphasizes internalization of values, character formation, and moral transformation.
Nyai yang Menghidupkan dan Kiai yang Dikenang: Invisibilitas Perempuan dalam Narasi Pesantren Nadiatul Maziyyah Attarwiyah; Ahmad Barizi; Roibin
Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an, Tafsir dan Pemikiran Islam Vol. 7 No. 1 (2026): Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur’an, Tafsir dan Pemikiran Islam
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) IAIFA Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The phenomenon of Nyai in pesantren life reveals a paradox between their substantial contributions and their lack of narrative recognition. Nyai often serve as the center of caregiving, moral education, female student development, management of women’s relations, and the emotional support system of the pesantren. However, public narratives of pesantren more frequently position the kiai as the primary figure, the owner of history, and the symbol of institutional authority. Previous studies on pesantren have extensively discussed the kiai as the central figure, yet only limited research has specifically examined how the contributions of Nyai become invisible within pesantren narratives. This article aims to analyze the invisibility of Nyai by employing Pierre Bourdieu’s theory of symbolic capital and Nancy Fraser’s theory of recognition. This study uses a qualitative method with a socio-critical approach. Data were collected through observation, interviews, and analysis of pesantren institutional narratives. The findings show that: (1) there is a separation between the labor of pesantren life and the symbolic ownership of pesantren narratives, in which Nyai sustain the daily life of the pesantren while kiai dominate as the owners of symbolic narratives; (2) the authority of Nyai experiences a gendered conversion failure, namely the failure of Nyai’s social, cultural, religious, and affective capital to be converted into public authority; and (3) the invisibility of Nyai occurs through partial recognition, where Nyai are respected as caregivers and moral figures but are not yet fully acknowledged as central subjects in pesantren history. Academically, this article contributes by offering a new analytical framework for understanding narrative injustice in women’s religious authority within pesantren. Institutionally, this article encourages pesantren to develop more equitable historical documentation, media representation, and formal recognition of Nyai’s contributions.
Hakikat Pembelajaran Matematika dan Integrasinya dengan Nilai Islam di Madrasah Ibtidaiyah (Studi Kasus di MI Darul Falah Kabupaten Kediri) Muhammad Nasir; Ahmad Barizi; Akhmad Nurul Kawakib; Imam Bukhori; Chusnul Chotimah Awalyah
Literasi: Jurnal Ilmu Pendidikan Vol. 16 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Alma Ata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/literasi.2025.16(3).329-341

Abstract

Matematika merupakan ilmu yang diajarkan sejak ditingkat sekolah dasar. Matematika tidak bisa dilepaskan dengan nilai-nilai ilmu keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang hakikat pembelajaran matematika, pembelajaran matematika di madrasah ibtidaiyah, dan bentuk integrasi matematika dengan nilai islam di madrasah ibtidaiyah. Sangat penting bagi umat islam untuk mengetahui tentang hubungan pembelajaran matematika dengan nilai keislaman sejak ditingkat pendidikan dasar. Dengan begitu, umat islam juga dapat lebih memahami bahwa ilmu matematika yang sebelumnya dianggap hanya sebagai ilmu umum, ternyata juga memiliki keterkaitan dengan nilai-nilai keislaman. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Subjek pada penelitian ini yaitu guru matematika di MI Darul Falah Kabupaten Kediri. Teknik pengumpulan data berupa wawancara dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini yaitu pada hakikatnya pembelajaran matematika di tingkat dasar memuat empat hal yaitu 1) Menelusuri pola dan hubungan, 2) Kreatifitas yang membutuhkan (imajinasi, intuisi, dan penemuan), 3) Kegiatan pemecahan masalah dan 4) Sebagai alat komunikasi. Matematika sebagai ilmu deduktif dan abstrak, banyak menggunakan simbol sebagai bahasa, menyebabkan siswa sekolah dasar dengan rentang usia 7 sampai 12 tahun yang masih dalam tahap perkembangan operasional konkret mengalami kesulitan karena belum bisa untuk berpikir secara abstrak atau formal. Dengan demikian Pada Proses mengajarkan matematika, pendidik diharapkan memiliki kemampuan dalam menghubungkan matematika dengan dunia anak yang masih belum bisa berpikir secara deduktif supaya bisa memahami matematika, salah satu caranya melalui benda konkret atau alat praga. Penerapan matematika di madrasah ibtidaiyah mengacu pada KMA No. 450 tahun 2024 tentang implementasi kurikulum merdeka di madrasah..Kata Kunci: Hakikat, Pembelajaran Matematika, Integrasi, Nilai Islam
Rekonstruksi Epistemologis Matriks SWOT: Integrasi Filsafat Islam dalam Manajemen Strategis Lembaga Pendidikan Islam Habibatur Rahmaniyah; Ahmad Barizi; Samsul Susilawati
Abdi Cendekia : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 5 No 3 (2026): September
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/abdicendekia.v5i3.1118

Abstract

Analisis SWOT konvensional berakar pada pemikiran Barat yang berfokus pada keuntungan material dan persaingan ketat, sehingga kurang tepat jika diterapkan pada Lembaga Pendidikan Islam (LPI) karena mengabaikan dimensi keagamaan. Penelitian ini bertujuan memperbarui konsep SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) dengan mengintegrasikan nilai-nilai tauhid, Maqasid Syariah, dan Tazkiyah guna merumuskan model baru bernama "SWOT–Islami Transformatif". Melalui metode kajian pustaka kritis, penelitian ini mentransformasikan makna kekuatan menjadi modal spiritual-material, kelemahan menjadi masalah moral-manajerial, peluang menjadi kesempatan memperluas kemaslahatan, dan ancaman sebagai ujian ketahanan nilai. Model ini menghasilkan empat strategi keputusan (Al-Isti'mar, Al-Tazkiyah, Al-Difa' al-Istiratiji, dan Al-Ishlah) yang mengarahkan pengambil kebijakan LPI agar tidak hanya berorientasi pada keuntungan duniawi, melainkan juga akuntabilitas akhirat. Implikasi praktis penelitian ini menegaskan bahwa perencanaan strategis pada LPI wajib menempatkan keberkahan dan kebaikan bersama sebagai tujuan utama (falah) tanpa mengabaikan prinsip tata kelola yang profesional.