Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DISMENORE PRIMER PADA REMAJA PUTRI KELAS VIII DI SMPN 2 GAMPING YOGYAKARTA Kartika Puteri, Istaniah; Rokhanawati, Dewi
KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 12 No 1 (2024): KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Kosala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/kjik.v12i1.317

Abstract

Latar Belakang: angka kejadian dismenore di Indonesia sebesar 64,22% yang terdiri dari 54,89% mengalami dismenore primer. Di salah satu SMP di Bantul didapatkan sebesar 64,4% pelajar mengalami dismenore yang mayoritas berumur 14 tahun. Di salah satu SMK di Moyudan Sleman terdapat 51 dari 72 responden yang mengalami dismenore atau sebesar 70,8%. Dismenore adalah rasa sakit pada saat menstruasi yang cukup parah hingga mengganggu aktivitas yang diakibatkan oleh meningkatnya hormon prostaglandin dalam tubuh. Dismenore primer yang paling sering terjadi lebih dari 50% wanita mengalaminya dan 10-15% diantaranya mengalami nyeri yang hebat yang sampai mengganggu kegiatan dan aktivitas sehari-hari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian dismenore primer pada remaja putri. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebesar 78 siswi kelas VIII di SMP N 2 Gamping Yogyakarta. Teknik pengambilan sampel dengan cara proportional random sampling, pengambilan data menggunakan kuesioner dan analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji chi-square. Hasil penelitian diperoleh 25 (32,1%) siswi mengalami dismenore. Berdasarkan data bivariat diperoleh hasil usia menarche (p value = 0,086), riwayat keluarga (p value = 0,169), lama menstruasi (p value = 1,000), aktivitas fisik (p value = 1,000), status gizi (p value = 0,398), dan tingkat stres (p value = 0,115). Dapat disimpulkan tidak ada hubungan antara usia menarche, riwayat keluarga, lama menstruasi, aktivitas fisik, status gizi, dan tingkat stres dengan kejadian dismenore primer pada remaja putri. Remaja diharapkan dapat meningkatkan pola hidup sehat (makan makanan bergizi, berolahraga dan istirahat yang cukup).   Kata kunci: dismenore, faktor-faktor, hubungan, nyeri haid   Background: the incidence of dysmenorrhea in Indonesia was found to be 64.22%, of which 54.89% experienced primary dysmenorrhea. In one junior high school in Bantul was found to be 64,2% experienced dysmenorrhea majority of whom were 14 years old. In one of the vocational schools in Moyudan Sleman was found to be 51 out of 72 respondents experienced dysmenorrhea or 70,8%. Dysmenorrhea is pain during menstruation that is severe enough to interfare with activities caused by increased prostaglandin hormones in the body. Primary dysmenorrhea most often occurs more than 50% of women experience it and 10-15% of them experience severe pain that interferes with daily activities and activities. The purpose of this study was to determine the factors associated with the incidence of primary dysmenorrhea in adolescent girls. This sudy was a quatitative study with a cross sectional approach. The sample size was 78 students of class VIII at SMPN (State Junior High School) 2 Gamping Yogyakarta. The sampling technique was proportional random sampling, data collection using questionnaires and data analysis was carried out univariate, bivariate with chi-square test. The results showed that 25 (32.1%) female students experienced dysmenorrhea. Based on bivariate data obtained the results of menarche age (p value = 1.000), family history (p value = 0.169), length of menstruation (p value = 1.000), physical activity (p value = 1.000),  nutritional status (p value = 0.398), and stress level (p value = 0.115). it can be concluded that there is no relationship between menarche age, family history, lenght of menstruation, physical activity, nutritional status, and stress level with the incidence of primary dysmneorrhea in adolescent girls. Adolescents are expected to improve a healthy lifestyle (eating nutritious food, exercising and getting enough rest.   Keywords: dysmenorrhea, factors, menstrual pain, relationship
The Effect of Kegel Exercises on the Healing of Perineal Wounds in Normal Postpartum Mothers at Morowali District Hospital Yuliadia, Kartika; Kartini, Farida; Rokhanawati, Dewi; Ari Astuti, Dhesi
STRADA : Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 14 No. 2 (2025): November
Publisher : Universitas STRADA Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30994/sjik.v14i2.1168

Abstract

During pregnancy and childbirth, women undergo significant physiological changes, including the loosening of the abdominal wall, vaginal canal, and pelvic floor muscles. Approximately 90% of women experience perineal tears during delivery, regardless of whether an episiotomy is performed. One approach to strengthening the pelvic floor muscles postpartum is through Kegel exercises. A quasi-experimental study design with quantitative random sampling was employed to compare the REEDA scale scores of the intervention group and the control group. The data were analyzed using the Mann-Whitney U test. The findings revealed that the intervention group, which performed Kegel exercises, had significantly lower REEDA scores than the control group, indicating faster recovery of perineal lesions in postpartum mothers at Morowali Regional Hospital in 2024 (p = 0.001, Sig. (2-tailed) < 0.05). It is recommended that postpartum mothers regularly engage in Kegel exercises to promote the healing of perineal tears.
Effectiveness Of Tui Na Massage On Increasing Appetite: A Scoping Review Cahya, Sara Eka; Rokhanawati, Dewi
Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 10, No 2 (2025): September
Publisher : Universitas Aisyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30604/jika.v10i2.3253

Abstract

Balita (usia 1–5 tahun) paling rentan terhadap masalah gizi, terutama kurus atau kekurangan berat badan untuk tinggi badan mereka. Menurut WHO (2024), meskipun prevalensi kurus global menurun dari 8,7% (2000) menjadi 6,8% (2022), sekitar 45 juta balita masih terdampak. Di Indonesia, data Profil Kesehatan 2022 mencatat prevalensi balita dengan berat badan sangat kurang sebesar 1,1% dan balita dengan berat badan kurang sebesar 6,2%, dengan disparitas yang signifikan antarprovinsi. Di Provinsi Jambi, prevalensi balita dengan berat badan sangat kurang mencapai 0,77%, dan balita dengan berat badan kurang 3,51%, dengan Kabupaten Batanghari sebagai daerah tertinggi (6,98%). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk memetakan bukti mengenai efektivitas pijat tui na dalam meningkatkan nafsu makan balita. Metode: Penelitian ini merupakan tinjauan cakupan yang mengacu pada langkah-langkah yang diambil oleh Arksey dan O'Maley. Kerangka kerja yang digunakan adalah PICO. Artikel yang dipilih adalah artikel dari tahun 2020 hingga 2025, artikel berbahasa Inggris dan Indonesia, serta artikel yang berfokus pada peningkatan nafsu makan pada balita. Pemilihan artikel menggunakan daftar periksa diagram alir Prisma. Sumber data dari jurnal diakses melalui basis data PubMed, Wiley, Science Direct, dan Google Schoolar dengan kata kunci (Pijat Tuina) atau (Nafsu Makan Anak). Penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dinilai kualitasnya menggunakan pedoman Joanna Briggs Institute (JBI). Penelitian ini melakukan penilaian kritis. Hasil: Tinjauan lingkup 10 jurnal tentang efektivitas pijat tuina dalam meningkatkan nafsu makan pada balita mengidentifikasi tema-tema penelitian utama, yaitu: Pijat tuina dalam meningkatkan nafsu makan, Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pijat tuina, Kendala dalam pelaksanaan terapi pijat tuina, Peran pendukung dalam keberhasilan terapi pijat tuina, Efek fisik pijat tuina pada balita, Efek psikologis pijat tuina pada balita, Pencegahan gangguan nafsu makan jangka panjang, dan berdasarkan hasil dari empat jurnal, dapat disimpulkan bahwa pijat tuina efektif dalam meningkatkan nafsu makan pada balita.