Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Rekonstruksi Pendidikan Karakter Islami Berbasis Nilai Adab di Era Digital dan Artificial Intelligence Putri Azani; Siti Rahma Ardini; Herlini Puspika Sari
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 3 No. 05 (2026): MEI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kompleksitas tantangan era digital dan artificial intelligence yang berimplikasi pada degradasi nilai-nilai karakter, khususnya aspek adab peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi pendidikan karakter Islami berbasis nilai adab sebagai landasan normatif dalam pembentukan akhlak. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif melalui analisis terhadap literatur ilmiah, Al-Qur’an, dan Hadis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai adab memiliki posisi fundamental dalam pendidikan Islam yang mencakup relasi manusia dengan Allah, sesama, dan lingkungan. Implementasi nilai adab dalam konteks pendidikan kontemporer dilakukan melalui penguatan kurikulum, keteladanan pendidik, serta optimalisasi pemanfaatan teknologi secara etis. Dengan demikian, rekonstruksi pendidikan karakter berbasis adab menjadi strategi yang relevan dalam merespons tantangan moral di era digital dan artificial intelligence.
Moderasi Beragama Sebagai Basis Pendidikan Multikultural dalam Mewujudkan Harmoni Sosial: Penelitian Nur Annisa; Ruhul Zikraini Syafitri; Herlini Puspika Sari
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 4 April - Juni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i4.5903

Abstract

Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat keberagaman yang tinggi baik dari segi agama, suku, budaya, maupun bahasa. Keberagaman tersebut menjadi kekayaan sosial, namun juga berpotensi menimbulkan konflik apabila tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, diperlukan suatu pendekatan yang mampu menumbuhkan sikap saling menghargai dan toleransi dalam masyarakat yang multikultural. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji moderasi beragama sebagai basis pendidikan multikultural dalam mewujudkan harmoni sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research), yaitu dengan mengkaji berbagai sumber literatur seperti buku, jurnal ilmiah, dan hasil penelitian yang relevan dengan moderasi beragama, pendidikan multikultural, dan harmoni sosial. Hasil kajian menunjukkan bahwa moderasi beragama memiliki peran strategis dalam membangun pendidikan multikultural yang menekankan nilai-nilai toleransi, keadilan, saling menghargai, dan sikap inklusif terhadap perbedaan. Integrasi nilai-nilai moderasi beragama dalam pendidikan dapat membentuk karakter peserta didik yang terbuka terhadap keberagaman serta mampu hidup berdampingan secara damai dalam masyarakat yang plural. Pendidikan multikultural berbasis moderasi beragama juga berkontribusi dalam memperkuat persatuan dan menciptakan harmoni sosial di tengah keberagaman budaya dan agama. Dengan demikian, penguatan moderasi beragama melalui pendidikan menjadi langkah penting dalam membangun masyarakat yang toleran, inklusif, dan harmonis.
Isu Gender Dalam Pendidikan Islam: Tantangan Dan Strategi Mewujudkan Keadilan Akses Belajar Hafizah Indriany; Apriani Putri Fajtriansyah; Herlini Puspika Sari
Al-Abshor : Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 3 No. 2 (2026): Pendidikan Agama Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/djvf2g95

Abstract

Gender issues in Islamic education have become an important topic in contemporary educational discourse, especially in efforts to achieve equitable access to learning for men and women. Normatively, Islamic teachings emphasize the principles of justice and equality in obtaining education. However, in practice, there are still various challenges that affect the implementation of gender equality in Islamic education environments, such as social stereotypes, the influence of patriarchal culture, and limited understanding of gender-responsive education. This article aims to analyze gender issues in Islamic education and identify various challenges and strategies in realizing equitable access to learning. This study uses a qualitative approach with library research. Data were collected through documentary studies of various scientific literature sources in the form of books, journal articles, and relevant research results published in recent years. Data analysis was conducted using content analysis techniques to critically examine various concepts, ideas, and research findings related to gender equality in Islamic education. The results of the study indicate that gender inequality in Islamic education is more influenced by social and cultural constructs than by Islamic teachings themselves. Therefore, it is necessary to strengthen gender-responsive curricula, improve educator competencies, and support inclusive education policies. These findings contribute conceptually to the development of a more equitable and inclusive Islamic education, and emphasize the importance of integrating a gender perspective into the education system to achieve equitable access to learning. Abstrak Isu gender dalam pendidikan Islam menjadi salah satu topik penting dalam diskursus pendidikan kontemporer, terutama dalam upaya mewujudkan keadilan akses belajar bagi laki-laki dan perempuan. Secara normatif, ajaran Islam menegaskan prinsip keadilan dan kesetaraan dalam memperoleh pendidikan. Namun, dalam praktiknya masih terdapat berbagai tantangan yang memengaruhi implementasi kesetaraan gender di lingkungan pendidikan Islam, seperti stereotip sosial, pengaruh budaya patriarki, serta terbatasnya pemahaman tentang pendidikan yang responsif gender. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis isu gender dalam pendidikan Islam serta mengidentifikasi berbagai tantangan dan strategi dalam mewujudkan keadilan akses belajar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data dikumpulkan melalui studi dokumentasi terhadap berbagai sumber literatur ilmiah berupa buku, artikel jurnal, dan hasil penelitian relevan yang diterbitkan dalam beberapa tahun terakhir. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis isi untuk menelaah secara kritis berbagai konsep, gagasan, dan temuan penelitian yang berkaitan dengan kesetaraan gender dalam pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketimpangan gender dalam pendidikan Islam lebih banyak dipengaruhi oleh konstruksi sosial dan budaya daripada ajaran Islam itu sendiri. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kurikulum responsif gender, peningkatan kompetensi pendidik, serta dukungan kebijakan pendidikan yang inklusif. Temuan ini memberikan kontribusi konseptual bagi pengembangan pendidikan Islam yang lebih adil dan inklusif, serta menegaskan pentingnya integrasi perspektif gender dalam sistem pendidikan untuk mewujudkan keadilan akses belajar.
Filsafat Pendidikan Islam Sebagai Pondasi Pendidikan Karakter dalam Membangun Generasi Unggul sitisarohhasibuan; Dena Aulia Harani; Rusdiah Roitona Nasution; Herlini Puspika Sari
GHIROH Vol 4 No 2 (2025)
Publisher : MGMP PAI SMP BINTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61966/ghiroh.v4i2.89

Abstract

This study aims to analyze the philosophy of Islamic education as the main foundation in the formation of character education to build a superior generation that is faithful, knowledgeable, and has noble morals. This study focuses on the weak implementation of the values ​​of Islamic educational philosophy in the character formation of the younger generation amidst moral degradation and the challenges of globalization. The study used a library research method by reviewing various literature sources such as books, scientific journals, and relevant academic articles. The results show that the philosophy of Islamic education, which is based on the values ​​of monotheism, noble morals, knowledge, and wisdom, plays a significant role in shaping the perfect human being through a balance of spiritual, moral, intellectual, and social aspects. Its implementation is proven effective when integrated into the curriculum, learning methods, teacher role models, and the habituation of Islamic values ​​in the educational environment.
Filsafat Pendidikan Islam sebagai Landasan Penguatan Peran Gender dalam Pendidikan Agama Muhammad Khairi Azhar; A. Julizar; Said Najibul Hariri; Herlini Puspika Sari
Robbayana: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 3 No. 2 (2025): Robbayana
Publisher : Institut Attaqwa KH. Noer Alie Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71029/robbayana.v3i2.118

Abstract

Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah masih terjadinya ketimpangan peran gender dalam pendidikan agama Islam yang berakar pada pemahaman yang sempit terhadap teks-teks keagamaan dan kurangnya pendekatan filosofis dalam perumusan nilai-nilai pendidikan. Ruang lingkup penelitian ini mencakup analisis konseptual terhadap filsafat pendidikan Islam sebagai kerangka dasar untuk memperkuat kesetaraan dan keadilan gender dalam konteks pendidikan agama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji hakikat filsafat pendidikan Islam sebagai landasan normatif dan epistemologis yang mampu melahirkan paradigma pendidikan yang adil, inklusif, serta berorientasi pada kemanusiaan universal. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif-deskriptif, melalui analisis terhadap literatur klasik dan kontemporer yang relevan, baik dari sumber keislaman maupun teori pendidikan modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa filsafat pendidikan Islam menempatkan nilai-nilai tauhid, keadilan, dan kesetaraan sebagai dasar dalam membangun kesadaran gender dalam pendidikan. Dengan menginternalisasi prinsip-prinsip tersebut, pendidikan agama Islam dapat menjadi sarana pembebasan dari bias patriarki dan sekaligus meneguhkan peran laki-laki dan perempuan secara proporsional dalam proses pendidikan dan pembangunan moral masyarakat.
Relevansi Pemikiran Al-Ghazali, Ibnu Sina, dan Al-Farabi Sebagai Solusi Terhadap Krisis Moral dan Intelektual Generasi Digital Sekar Sianly; Nadia Nabila; Herlini Puspika Sari
Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman Vol. 13 No. 2 (2025): Desember
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM BANI FATTAH (IAIBAFA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/tafaqquh.v13i2.4094

Abstract

Penelitian ini mengkaji relevansi pemikiran pendidikan Al-Ghazali, Ibnu Sina, dan Al-Farabi sebagai landasan konseptual dalam menghadapi krisis moral dan intelektual generasi digital. Dengan menggunakan metode deskriptif-analitis melalui studi pustaka, penelitian ini mensintesiskan gagasan filosofis ketiganya yang menekankan integrasi antara rasionalitas, moralitas, dan spiritualitas dalam pendidikan. Al-Ghazali memandang pendidikan sebagai proses penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) yang bertujuan membentuk akhlak mulia dan kematangan spiritual. Ibnu Sina menitikberatkan pendidikan pada pengembangan potensi manusia melalui pendekatan rasional, moral, dan sesuai tahap perkembangan untuk mencapai al-insan al-kamil (manusia sempurna). Sementara itu, Al-Farabi melihat pendidikan sebagai instrumen pembentukan al-madinah al-fadhilah (masyarakat utama) yang berlandaskan keadilan, ilmu, dan etika. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemikiran ketiganya tetap relevan di abad ke-21 sebagai panduan dalam menyeimbangkan kemajuan intelektual dengan kesadaran etis dan tanggung jawab digital. Sintesis gagasan Al-Ghazali, Ibnu Sina, dan Al-Farabi memberikan kerangka filosofis sekaligus praktis bagi pembentukan generasi digital yang cerdas, berakhlak, dan berlandaskan nilai spiritual.
Konsep Esensialisme Pendidikan Agama Islam Dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Ari Supriadi; Riri Novia Sari; Herlini Puspika Sari
SURAU : Journal of Islamic Education Vol. 2 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/surau.v2i2.8709

Abstract

Abstract The essentialist school of philosophy is a school of philosophy that wants humans to return to their old culture. The emergence of this ideology was a reaction to the absolute and dogmatic symbolism of the Middle Ages. In this way, a systematic and comprehensive concept regarding humans and the universe is formed that is in accordance with the needs of the times. This essentialism assumes that education based on the core belief in flexibility in all its forms can produce views that are easily changed, easily swayed, directionless, and less stable. Therefore, education must be based on values ​​that are stable, proven, long-term, and have values ​​that enable a country's education to remain stable and focused. The aim of the essentialist educational philosophy is to improve the character of society through existing cultural heritage, so that later students can contribute to improving social life in the face of changing times that can damage character values. The purpose of this paper is to examine the philosophy of essentialism from the perspective of Islamic education using library research methods. Based on the research results, it is stated that essentialist schools have a view of the field of education, namely educational goals, educational curriculum, educators, students and the environment. Apart from that, there are several views that can be used as measuring tools and should be taken seriously. These are the ontological view, epistemological view and axiomatic view. Abstrak Aliran filsafat esensialis merupakan  aliran filsafat yang menginginkan  manusia kembali pada kebudayaan lamanya. Munculnya paham ini merupakan reaksi terhadap simbolisme absolut dan dogmatis Abad Pertengahan. Dengan demikian terbentuklah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta yang sesuai dengan kebutuhan zaman.Esensialisme ini mengandaikan bahwa pendidikan yang didasarkan pada keyakinan inti akan fleksibilitas dalam segala bentuknya dapat menghasilkan pandangan yang  mudah berubah, mudah terombang-ambing, tidak terarah, dan kurang stabil. Oleh karena itu, pendidikan harus didasarkan pada nilai-nilai yang stabil, terbukti, berjangka panjang, dan memiliki nilai-nilai yang memungkinkan pendidikan  suatu negara  tetap stabil dan terarah.Tujuan dari filsafat pendidikan esensialis adalah untuk meningkatkan karakter masyarakat melalui warisan budaya yang  ada, sehingga nantinya peserta didik dapat berkontribusi dalam perbaikan kehidupan bermasyarakat dalam menghadapi perubahan zaman yang dapat merusak nilai-nilai karakter.Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengkaji filsafat esensialisme dalam perspektif pendidikan Islam dengan menggunakan metode  penelitian kepustakaan. Berdasarkan hasil penelitian disebutkan bahwa sekolah esensialis mempunyai  pandangan terhadap bidang pendidikan yaitu tujuan pendidikan, kurikulum pendidikan, pendidik, peserta didik, dan lingkungan hidup. Selain itu, ada beberapa pandangan yang dapat dijadikan  alat ukur dan patut ditanggapi dengan serius.Yaitu pandangan ontologis, pandangan epistemologis, dan pandangan aksiomatik.
Pemikiran Filsafat Pendidikan Rekonstruksionisme: Implikasi terhadap Pendidikan Karakter dan Pendidikan Moral Gema Adhari; Siti Nurhidayatul Marati; Herlini Puspika Sari
SURAU : Journal of Islamic Education Vol. 2 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/surau.v2i2.8714

Abstract

Reconstructionism is a school of educational philosophy that aims to reshape society through radical educational reform. Rooted in a critique of progressivism, it emerged as a response to social and economic stagnation and the desire to make education an agent of social change. Its leading figures, such as George Counts and Harold Rugg, inspired by the thought of John Dewey and Theodore Brameld, advocate for an education that is able to deal with global challenges, including moral, social and environmental issues. Reconstructionism argues that education is not only responsible for shaping individuals, but also plays a role in building a just and equal society. The principles of this school emphasize the important role of education in dealing with the global crisis, as well as the need for a relevant curriculum to foster students' character and morals. This school places teachers as agents of change who play an important role in guiding students to face the challenges of the times, as well as designing a curriculum that prioritizes social interests. Thus, reconstructionism emphasizes the importance of education in saving civilization through the formation of character, morality, and a new, more humanist culture. AbstrakRekonstruksionisme adalah aliran filsafat pendidikan yang bertujuan untuk membentuk kembali tatanan masyarakat melalui reformasi pendidikan yang radikal. Berakar dari kritik terhadap progresivisme, aliran ini muncul sebagai respons terhadap stagnasi sosial dan ekonomi serta keinginan untuk menjadikan pendidikan sebagai agen perubahan sosial. Tokoh utama aliran ini, seperti George Counts dan Harold Rugg, terinspirasi oleh pemikiran John Dewey dan Theodore Brameld, mengadvokasi pendidikan yang mampu menghadapi tantangan global, termasuk isu moral, sosial, dan lingkungan. Rekonstruksionisme berpendapat bahwa pendidikan tidak hanya bertanggung jawab untuk membentuk individu, tetapi jquga berperan dalam membangun masyarakat yang adil dan setara. Prinsip-prinsip aliran ini menekankan pentingnya peran pendidikan dalam menghadapi krisis global, serta perlunya kurikulum yang relevan untuk membina karakter dan moral siswa. Aliran ini menempatkan guru sebagai agen perubahan yang berperan penting dalam membimbing siswa menghadapi tantangan zaman, serta merancang kurikulum yang mengutamakan kepentingan sosial. Dengan demikian, rekonstruksionisme menekankan pentingnya pendidikan dalam menyelamatkan peradaban melalui pembentukan karakter, moralitas, dan budaya baru yang lebih humanis
Media Sosial Dan Pembentukan Karakter Remaja: Tinjauan Pendidikan Islam Firdi Zamdanu; Alfin Rio Kurniawan; Herlini Puspika Sari
NUR EL-ISLAM : Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 13 No. 1 (2026): (April 2026)
Publisher : Institut Agama Islam Yasni Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51311/nuris.v13i1.1376

Abstract

Abstract Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran media sosial dalam pembentukan karakter remaja melalui tinjauan pendidikan Islam. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada tingginya intensitas penggunaan media sosial oleh remaja yang berpotensi memengaruhi perkembangan moral, sosial, dan spiritual mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research), yaitu dengan mengkaji berbagai literatur ilmiah yang relevan terkait media sosial, karakter remaja, dan pendidikan Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa media sosial memiliki dampak ganda terhadap pembentukan karakter remaja, yakni dapat memperkuat nilai-nilai positif seperti kreativitas, komunikasi, dan akses terhadap konten keislaman, namun juga berpotensi melemahkan kontrol diri dan nilai moral apabila tidak disertai literasi digital dan bimbingan yang tepat. Dalam perspektif pendidikan Islam, internalisasi nilai-nilai akhlak, tanggung jawab, dan sikap kritis menjadi kunci dalam mengarahkan penggunaan media sosial agar selaras dengan tujuan pembentukan karakter Islami. Dengan demikian, kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial sangat diperlukan untuk membimbing remaja agar mampu memanfaatkan media sosial secara bijak dan produktif sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Islam.
Tantangan Pendidikan Agama Islam dalam Membentuk Ketahanan Moral Siswa di Era Media Sosial Nur Anisah Nasution; Indryyani Claudia; Herlini Puspika Sari
IHSANIKA : Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 4 No. 1 (2026): Maret : IHSANIKA : Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/ihsanika.v4i1.3658

Abstract

This study aims to analyze the influence of social media on students' moral resilience and to examine the role of Islamic Religious Education (PAI) teachers in addressing the challenges of character building in the digital era. The research employs a qualitative approach, with data collection techniques including observation, interviews, and documentation. The results indicate that social media has a significant impact on students' behavior and morals, particularly in terms of language use, lifestyle, and communication ethics in digital spaces. Low digital literacy has caused some students to be unable to critically filter information, making them easily influenced by trends that are not aligned with Islamic values. PAI teachers face various challenges, such as limited instructional time and the vast access to information available to students. Nevertheless, teachers continue to strive to instill moral values by integrating learning materials with emerging digital phenomena. This study also finds that students' moral resilience can be strengthened through improving digital literacy and fostering collaboration between schools and parents in supervising social media usage.