Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

OPTIMALISASI PEMIJAHAN IKAN LELE (Clarias gariepinus) SECARA ALAMI: PENGALAMAN PRAKTIS DARI KELOMPOK BUDIDAYA CERIA Laoli, Destriman; Halawa, Alfriend John Saotama; Telaumbanua, Cindy Ardita; Telaumbanua, Enjel Delahowuhowu; Lase, Rosevelt Cerdas; Gea, Rosmawati; Halawa, Vebriman Jaya
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 13 No 2 (2025): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29406/jr.v13i2.8023

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan dan mengevaluasi proses pemijahan ikan lele (Clarias gariepinus) secara alami melalui praktik langsung di lapangan bersama Kelompok Budidaya Ceria di Desa Tugalagawu, Kecamatan Sirombu, Kabupaten Nias Barat. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan pendekatan observasi partisipatif dan wawancara lapangan. Pemijahan dilakukan tanpa induksi hormon, menggunakan kolam terpal, ijuk sebagai media penempel telur, serta penambahan daun ketapang sebagai penstabil pH alami. Hasil menunjukkan bahwa dari empat ekor induk betina, diperoleh total telur sebanyak ±8.925 butir dengan tingkat pembuahan ±70% (sekitar 6.247 telur terbuahi), dan tingkat penetasan ±65% (sekitar 4.061 larva menetas). Meskipun masih berada di bawah standar literatur, hasil ini menunjukkan bahwa pemijahan alami dapat berhasil jika didukung oleh pemilihan induk yang tepat dan pengelolaan lingkungan yang baik. Penggunaan daun ketapang terbukti membantu menurunkan pH dan mencegah infeksi telur. Penelitian ini menegaskan bahwa optimalisasi pemijahan alami berbasis kearifan lokal dapat menjadi strategi berkelanjutan bagi pembudidaya ikan air tawar. Kata kunci: (Clarias gariepinus, pemijahan alami, daun ketapang, pH air, fertilisasi, daya tetas.)
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERLANGSUNGAN MIKROORGANISME DALAM LINGKUNGAN PERAIRAN Laoli, Destriman; Telaumbanua, Betzy Victor; Zebua, Ratna Dewi; Zebua, Nistiarni
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 13 No 2 (2025): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29406/jr.v13i2.8151

Abstract

ABSTRAK Mikroorganisme memegang peran penting dalam ekosistem perairan sebagai agen utama dalam proses dekomposisi, siklus nutrien, dan simbiosis. Studi ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis faktor biotik dan abiotik yang memengaruhi kelangsungan hidup mikroba di lingkungan perairan. Metode yang digunakan adalah studi literatur yang memfokuskan pada parameter lingkungan seperti suhu, pH, salinitas, oksigen terlarut (DO), BOD, COD, serta interaksi antar mikroorganisme dan organisme akuatik lain. Hasil analisis menunjukkan bahwa keseimbangan faktor abiotik dan biotik sangat menentukan struktur dan fungsi komunitas mikroba. Perubahan lingkungan seperti peningkatan suhu, pencemaran, dan eutrofikasi berpotensi mengganggu stabilitas mikroba dan ekosistem perairan secara keseluruhan. Studi ini memberikan landasan ilmiah dalam pengelolaan kualitas air dan konservasi ekosistem perairan. Kata kunci : Ekosistem perairan, Faktor abiotic, Faktor biotik, Kelangsungan hidup mikroba, Mikroorganisme akuatik.
PENGARUH JUMLAH MATA PANCING LONGLINE TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN TUNA SIRIP KUNING (Thunnus albacares) Zebua, Nistiarni; Halawa, Vince Kurniawan; Zebua, Ratna Dewi; Telaumbanua, Betzy Victor; Laoli, Destriman; Sanora Laia, Dian Agung
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 13 No 2 (2025): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29406/jr.v13i2.8222

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh jumlah mata pancing pada alat tangkap longline terhadap hasil tangkapan ikan tuna sirip kuning (Thunnus albacares) melalui pendekatan tinjauan pustaka. Data diperoleh dari berbagai literatur ilmiah yang relevan dan dianalisis secara deskriptif untuk memahami hubungan antara jumlah mata pancing, efisiensi operasional, serta faktor lingkungan terhadap produktivitas tangkapan. Hasil kajian menunjukkan bahwa peningkatan jumlah mata pancing, khususnya hingga 1592 unit, secara signifikan meningkatkan hasil tangkapan dibandingkan jumlah yang lebih rendah. Namun demikian, penggunaan jumlah mata pancing yang berlebihan dapat menurunkan efisiensi dan meningkatkan risiko overfishing serta tangkapan sampingan (by-catch). Faktor-faktor lain seperti suhu, salinitas, arus laut, serta kemampuan operasional kapal turut memengaruhi keberhasilan penangkapan. Oleh karena itu, pengelolaan jumlah mata pancing harus mempertimbangkan aspek teknis, ekologis, dan keberlanjutan sumber daya ikan tuna. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengambilan keputusan dalam pengelolaan alat tangkap longline yang lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan. Kata kunci: longline, mata pancing, tuna sirip kuning, hasil tangkapan, keberlanjutan.
Optimization of Local Feed Ingredient Composition to Achieve 30% Protein Levels in Cultivated Fish Feed Production Zebua, Ratna Dewi; Laoli, Destriman; Telaumbanua, Betzy Victor; Dawolo, Januari; Zebua, Okniel
Journal of Fish Health Vol. 5 No. 1 (2025): Journal of Fish Health
Publisher : Aquaculture Department, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jfh.v5i1.6312

Abstract

Aquaculture plays a vital role in meeting the global demand for animal protein, yet the dependency on expensive imported feed ingredients remains a significant challenge. Optimizing the use of local feed ingredients is a strategic approach to enhance sustainability and cost-efficiency in fish farming. This research aims to optimize the composition of local feed ingredients to achieve 30% protein content in farmed fish feed. The formulation involves rice bran, corn bran, fish meal, and tofu dregs, selected based on local availability and protein content. The methodology includes analysis of the protein content of raw materials, formulation testing, and physical evaluation of feed. The results show that the pellets produced have nutritional quality that meets the target, good physical stability, and cost efficiency of up to 40% compared to commercial feed. This research makes a significant contribution in supporting the sustainability of the fish farming industry and reducing dependence on imported raw materials.
Pelatihan Pembuatan Pakan Alami Maggot BSF (Hermetia Illucens) Untuk Pakan Budidaya Ikan Sebagai Bentuk Pengabdian Kepada Masyarakat di Desa Tugalagawu, Kecamatan Sirombu, Kabupaten Nias Barat Enjel Delahowuhowu Telaumbanua; Alfriend John Saotama Halawa; Rosmawati Gea; Rosevelt Cerdas Lase; Cindy Ardita Telaumbanua; Vebriman Jaya Halawa; Destriman Laoli
JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol. 4 No. 2 (2025): Juni : Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI)
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jpmi.v4i2.5555

Abstract

A major problem in the fisheries sector in rural areas is the high cost of fish feed, which can reach 60-70% of total production costs. Training on making natural feed based on Black Soldier Fly (BSF) maggot is an innovative solution in reducing dependence on commercial feed. This community service activity was carried out in Tugalagawu Village, Sirombu District, West Nias Regency using a participatory approach. Activities involved lectures, discussions, and hands-on practice regarding maggot cultivation and its utilization as an alternative fish feed. The results of the training showed an increase in community knowledge and skills in maggot farming, as well as increased enthusiasm in adopting the technology to improve the efficiency of farmed fish production. The training also had a positive impact on household organic waste management and encouraged the economic independence of local communities.
Studi Kelimpahan Fitoplankton Dan Zooplankton Di Perairan Nou, Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara Laoli, Destriman; Telaumbanua, Betzy Victor; Zebua, Ratna Dewi; Dawolo, Januari; Zebua, Nistiarni
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 14 No 01 (2026): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29406/jr.v14i01.8665

Abstract

Fitoplankton dan zooplankton memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga fungsi ekosistem perairan melalui kontribusinya terhadap produktivitas primer dan transfer energi dalam jaring-jaring makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji variasi spasial, komposisi taksonomi, serta interaksi ekologis komunitas fitoplankton dan zooplankton di ekosistem estuari tropis Sungai Nou, Gunungsitoli, Sumatera Utara. Pengambilan sampel dilakukan pada empat stasiun yang mewakili gradien estuari hingga pesisir, disertai pengukuran parameter lingkungan utama seperti suhu, salinitas, oksigen terlarut, pH, nitrat, dan fosfat. Sebanyak 13 genus fitoplankton (didominasi Skeletonema, Thalassiosira, dan Ceratium) serta 5 genus zooplankton (didominasi copepoda) berhasil diidentifikasi. Kelimpahan fitoplankton berkisar antara 5.490 hingga 6.000 ind L⁻¹, sedangkan kelimpahan zooplankton berkisar antara 1.190 hingga 2.030 ind L⁻¹. Nilai indeks keanekaragaman Shannon–Wiener (H’ = 2,20–2,54) menunjukkan stabilitas komunitas sedang hingga tinggi dengan dominansi rendah (C < 0,3). Analisis korelasi Pearson memperlihatkan hubungan positif signifikan antara kelimpahan fitoplankton dan konsentrasi nutrien (NO₃⁻ dan PO₄³⁻), serta hubungan negatif dengan salinitas, yang mengindikasikan bahwa masukan nutrien dari sungai merupakan penggerak utama produktivitas primer. Analisis PCA memperkuat temuan bahwa gradien nutrien dan salinitas menjadi faktor penentu utama struktur komunitas plankton. Dominasi diatom dan copepoda menunjukkan transfer energi yang efisien dalam jaring makanan planktonik serta menegaskan pentingnya Perairan Nou sebagai daerah pembesaran alami yang mendukung perikanan lokal. Temuan ini memberikan dasar ilmiah untuk pengelolaan perikanan berbasis ekosistem serta strategi pemantauan nutrien guna menjaga keseimbangan ekologis dan produktivitas perairan estuari tropis. Kata Kunci: Fitoplankton, Zooplankton, Ekosistem estuari, Dinamika nutrien, Struktur komunitas, Indonesia.
Analysis of the Role of Seagrass Biodiversity in Supporting the Conservation of Marine Ecosystems in the Nias Islands, North Sumatra Zebua, Nistiarni; Zebua, Ratna Dewi; Telaumbanua, Betzy V.; Laoli, Destriman; Dawolo, Januari; Zebua, Okniel
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 14 No. 1 (2026): ISSUE JANUARY-JUNE 2026
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v14i1.65990

Abstract

Seagrass ecosystems are essential components of coastal environments and play a strategic role in maintaining the stability and sustainability of marine ecosystems. This study aimed to analyze seagrass species diversity and the role of seagrass biodiversity in supporting marine ecosystem conservation in the Nias Islands, North Sumatra. The research was conducted at three locations: La’aya Village (North Nias Regency), Fodo Waters (Gunungsitoli City), and waters near Sirombu Port (West Nias Regency), using the quadrat transect method during the lowest low tide. Data analysis included density, frequency, cover, Important Value Index (IVI), and the Shannon–Wiener diversity index (H′). The results identified five seagrass species, namely Syringodium isoetifolium, Cymodocea serrulata, Cymodocea rotundata, Halodule uninervis, and Thalassia hemprichii. Syringodium isoetifolium was the dominant species with the highest IVI across all study sites. The seagrass diversity index values ranged from 1.55 to 1.57, indicating a moderate level of diversity and a relatively stable community structure. These findings suggest that seagrass ecosystems in the Nias Islands are still functioning effectively and play a crucial role in supporting coastal stability, marine biodiversity, and as a scientific basis for sustainable marine ecosystem management and conservation. Keywords: coastal ecosystem; marine conservation; Nias Islands; seagrass biodiversity Abstrak Ekosistem lamun merupakan salah satu komponen penting ekosistem pesisir yang memiliki peranan strategis dalam menunjang keberlanjutan dan konservasi ekosistem laut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat keanekaragaman jenis lamun serta peranan biodiversitas lamun dalam mendukung upaya konservasi ekosistem laut di Kepulauan Nias, Sumatera Utara. Penelitian dilaksanakan pada tiga lokasi, yaitu Perairan Desa La’aya (Kabupaten Nias Utara), Perairan Fodo (Kota Gunungsitoli), dan Perairan dekat Pelabuhan Sirombu (Kabupaten Nias Barat). Metode yang digunakan adalah metode transek kuadrat pada saat surut terendah, dengan analisis struktur komunitas meliputi kerapatan, frekuensi, penutupan, Indeks Nilai Penting (INP), serta indeks keanekaragaman Shannon–Wiener (H′). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lima jenis lamun, yaitu Syringodium isoetifolium, Cymodocea serrulata, Cymodocea rotundata, Halodule uninervis, dan Thalassia hemprichii. Syringodium isoetifolium merupakan spesies dominan di seluruh lokasi dengan nilai INP tertinggi. Nilai indeks keanekaragaman lamun pada ketiga lokasi berada pada kategori sedang, dengan nilai H′ berkisar antara 1,55–1,57. Kondisi ini menunjukkan bahwa struktur komunitas lamun relatif stabil dan masih mampu menjalankan fungsi ekologisnya secara optimal. Keanekaragaman lamun yang masih terjaga berperan penting dalam mendukung stabilitas ekosistem pesisir, penyediaan habitat biota laut, serta menjadi dasar ilmiah dalam perencanaan pengelolaan dan konservasi ekosistem laut di Kepulauan Nias secara berkelanjutan. Kata kunci: Kata kunci: biodiversitas lamun; ekosistem pesisir; konservasi laut; Kepulauan Nias
Manajemen Lingkungan Perairan Dalam Mendukung Keberlanjutan Kualitas Air Bersih: Pendekatan Berbasis Ekosistem, Teknologi, Dan Partisipasi Masyarakat Lombu, Fakta Perjuangan; Laoli, Destriman; Zebua, Ratna Dewi
Jurnal Ilmu Pertanian dan Perikanan Vol. 2 No. 3 (2025): PENARIK - Desember
Publisher : CV. SINAR HOWUHOWU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70134/penarik.v2i3.1345

Abstract

Clean water quality is a fundamental component in sustaining aquatic ecosystems and supporting human life. Increasing pressures from pollution, climate change, and weak water resource management systems require integrated and sustainable environmental management strategies. This article aims to examine various aquatic environmental management strategies that support the sustainability of clean water quality through a literature review approach. The study applies a systematic literature review method by analyzing relevant national and international scientific journals focusing on ecosystem-based management, environmental technology innovations, climate change adaptation, as well as regulatory and community participation aspects. The findings indicate that ecosystem-based approaches, such as mangrove conservation and integrated coastal management, play a significant role in maintaining ecological functions and improving water quality. Furthermore, technological innovations including biofilters, membrane systems, and Internet of Things (IoT)-based real-time monitoring significantly enhance the effectiveness of water quality control and monitoring. However, challenges remain in the form of weak institutional coordination and limited community participation, which hinder effective policy implementation. Therefore, a holistic approach integrating ecological, technological, policy, and social dimensions is essential to achieve sustainable clean water management and long-term aquatic ecosystem resilience