Claim Missing Document
Check
Articles

NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN (Telaah Surat Luqman Ayat 13-19 dalam Tafsir al-Misbah Karangan M. Quraish Shihab) Syofrianisda Syofrianisda; Moh. Suardi
Al-TA'DIB: Jurnal Kajian Ilmu Kependidikan Vol. 11 No. 1, Januari-Juni 2018
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/atdb.v11i1.947

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena akhlak masyarakat yang terjadi pada zaman sekarang ini yang penulis lihat tidak lagi mencerminkan akhlak yang Allah SWT ajarkan dalam kitab suci Al-Qur’an. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pendidikan Akhlak dalam Perspektif Al-Qur’an (Telaah Surat Luqman Ayat 13-19 Dalam Tafsir al-Misbah Karangan M. Quraish Shihab). Pertanyaan utama yang dijawab melalui penelitian ini adalah: 1. Bagaimana Pendidikan Akhlak  keimanan yang terdapat dalam kitab tafsir al-Misbah karangan M. Quraish Shihab. 2. Bagaimana pendidikan Akhlak tentang berbakti kepada kedua orang tua yang terdapat dalam kitab tafsir al-Misbah karangan M. Quraish Shihab. 3. Pendidikan Akhlak tentang intelektual menurut M. Quraish Shihab yang terdapat dalam kitab tafsir al-Misbah. 4. Pendidikan Akhlak tentang perintah melaksanakan shalat dalam kitab tafsir al-Misbah karangan M. Quraish Shihab. 5. Pendidikan Akhlak tentang perintah Amal Ma’ruf dan Nahi Mungkar dalam kitab al-Misbah karangan M. Quraish Shihab. 6. Pendidikan Akhlak tentang larangan Takabbur/ Sombong dalam kitab al-Misbah karangan M. Quraish Shihab. Kata Kunci : Pendidikan Akhlak; Perspektif Al-Qur’an; Tafsir al-Misbah.
RELEVANSI DAN KORELASI QAW’ID AL-TAFSIR DENGAN USHUL AL-FIQH Syofrianisda Syofrianisda
Alhurriyah Vol 2, No 2 (2017): Juli-Desember 2017
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (735.795 KB) | DOI: 10.30983/alhurriyah.v2i2.368

Abstract

Dinamika penafsiran al-Qur’an dan beragam upaya untuk memahami maksud tersirat dibalik ayat-ayatnya hingga hari ini masih tetap menarik perhatian dan minat para cendikiawan muslim maupun non muslim. Satu hal yang menjadi salah satu faktor mengapa al-Qur’an tetap menjadi the most wanted hingga saat ini mungkin saja adalah posisi al-Qur’an sebagai sumber primer ajaran Islam dengan kajian yang cukup holistik. Segala masalah yang dihadapi muslim dapat dikembalikan dan dicari solusinya dalam al-Qur’an. Pesatnya upaya penafsiran al-Qur’an pada dinamikanya diimbangi oleh berkembangnya ilmu bantu penafsiran yang juga menunjukkan pertumbuhan yang cukup menjanjikan. Hal ini menjadi logis dan rasional sebab untuk memiliki pemahaman yang komprehensif, seorang mufassir haruslah menguasai beberapa ilmu bantu seperti ilmu bahasa, balaghah, qawaid, fiqih, ushul fiqih dll.
Karakteristik Pakaian Wanita Muslimah dalam Tinjauan Al-Qur’an dan Hadis Syofrianisda Syofrianisda
Istinarah: Riset Keagamaan, Sosial dan Budaya Vol 2, No 1 (2020): Istinarah: Riset Keagamaan, Sosial dan Budaya
Publisher : IAIN Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (511.091 KB) | DOI: 10.31958/istinarah.v2i1.2160

Abstract

Permasalahan ini dilatarbelakangi oleh bentuk pengungkapan istilah pakaian dalam al-Qur’an cendrung menggunakan istilah dalam bahasa Arab, jika ditafsirkan dengan bahasa Indonesia, maka pakaian yang harus dipakai oleh semua orang termasuk orang Indonesia harus memakai pakaian yang sesuai dengan budaya Arab. Realita yang terjadi pada masyarakat Indonesia pada saat ini adalah memakai pakaian yang tidak sesuai dengan budaya Arab. Sementara dalam al-Qur’an tidak banyak ayat yang membahas tentang masalah pakaian dan etika dalam berpakaian yang sesuai dengan standar syar’i, perlu rujukan lain yang dapat dijadikan sebagai sumber yang qath’i tentang masalah ini baik dari tafsir, hadis, fiqih dan lain-lain.
Tanawwu' Ma'ani al-Libas fi al-Qur'an (Dirasat al-Tafsir al-Maudu'iy) Syofrianisda Syofrianisda
ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 18 No. 2 (2017)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/esensia.v18i2.1479

Abstract

Penelitian ini ditekankan dan didasarkan pada realita dan pemahaman masyarakat yang penulis temukan bahwa mereka memahami “libas” hanyalah sebatas penutup badan saja, atau dalam artikata “pakaian”. Sementara didalam al-Qur’an, pengungkapan kata libas itu bermacam-macam, ada yang diungkapkan dengan ungkapan “libasul khauf”, ada juga dengan istilah "libasul jû’”. Penelitian ini ditekankan pada kajian penafsiran ayat-ayat “libas” dalam al-Qur’an, di mana lafaz al-Qur’an yang berasal dari pecahan kata yang sama (dalam hal ini ayat-ayat “libas”) sehingga terjadi kekeliruan dan salah tanggap dalam memahami isi dan kandungan al-Qur’an. Dalam kajian ulum al-Qur’an hal ini dinamakan dengan wujuh, yaitu lafaz musytarak yang muncul berulang kali dengan makna yang beragam.
RELEVANSI DAN KORELASI QAW’ID AL-TAFSIR DENGAN USHUL AL-FIQH Syofrianisda Syofrianisda
Alhurriyah Vol 2, No 2 (2017): Juli-Desember 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (735.939 KB) | DOI: 10.30983/alhurriyah.v2i2.368

Abstract

Dinamika penafsiran al-Qur’an dan beragam upaya untuk memahami maksud tersirat dibalik ayat-ayatnya hingga hari ini masih tetap menarik perhatian dan minat para cendikiawan muslim maupun non muslim. Satu hal yang menjadi salah satu faktor mengapa al-Qur’an tetap menjadi the most wanted hingga saat ini mungkin saja adalah posisi al-Qur’an sebagai sumber primer ajaran Islam dengan kajian yang cukup holistik. Segala masalah yang dihadapi muslim dapat dikembalikan dan dicari solusinya dalam al-Qur’an. Pesatnya upaya penafsiran al-Qur’an pada dinamikanya diimbangi oleh berkembangnya ilmu bantu penafsiran yang juga menunjukkan pertumbuhan yang cukup menjanjikan. Hal ini menjadi logis dan rasional sebab untuk memiliki pemahaman yang komprehensif, seorang mufassir haruslah menguasai beberapa ilmu bantu seperti ilmu bahasa, balaghah, qawaid, fiqih, ushul fiqih dll.
AL-QUR'ÂN YUFASSIRU BA'DHUHU BA'DHA ACCORDING TO BINTU SYÂTHI' Syofrianisda Syofrianisda; Dewi Murni
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 11 No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Of the various forms of interpretation methods that exist and the application of these methods in a book of interpretation. The author sees that the rules of al-Qur'ân Yufassiru Ba'dhuhu Ba'dha, although already known by mufassir circles, are not systematic in their application. The application made between one mufassir and other mufassir does not have the same benchmark. That is, the principles of al-Qur'ân Yufassiru Ba'dhuhu Ba'dha are recognized in theory, but in practice they are still global. As an example of the application of the rules of al-Qur'ân Yufassiru Ba'dhuhu Ba'dha in the books of bi al-mâtsur interpretations. Among them, the book al-Dur al-Mânsur and Jami' al-Bayân. These three commentary books, although they agree that al-Qur'ân Yufassiru Ba'dhuhu Ba'dha. However, in applying the principles of the Koran, Yufasîrru Bâ'dhuhu Bâ'dha has different portions. What is the form of the provisions and criteria for which verses will be interpreted with other verses or to what extent there is no limit to the application of this rule in the related book. So how the proper application of this rule is still not systematic. This is the form of application of the rules of the Koran Yufasîrru Bâ'dhuhu Bâ'dha in the classical period.
KAJIAN HADITH TENTANG SALAM DALAM BUKU FIQIH LINTAS AGAMA (FLA) Syofrianisda
UNIVERSUM: Jurnal Keislaman dan Kebudayaan Vol. 11 No. 01 (2017): Januari 2017
Publisher : LPPM IAIN Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/universum.v11i01.724

Abstract

Permasalahan ini dilatarbelakangi olehhadith riwayat Muslim melalui AbuHurairah tentang larangan Nabi memulai mengucapkan salam kepada Yahudi dan Nasrani“(Janganlah kamu memulai mengucapkan salam kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, jika kamu berjumpa dengan salah seorang dari mereka di jalan, maka desaklah dia ke pinggir)”. Hadith ini dipahami oleh tim penulis mengesankan wajah Islam yang keras, kejam lagi menakutkan. Bahkan mereka menolak dan membatalkan validitas hadith ini. Mereka berpendapat bahwa hadith ini tidak sesuai dengan watak dasar Islam yang menekankan kedamaian. Penulis tertarik untuk membahas masalah ini, karena tidak ada kajian mendalam terhadap pemahaman tim penulis ini, terutama dalam hal menyapa non-Muslim. Meski Hartono Ahmad Ja’iz telah mengkritik gagasan mereka melalui buku-buku yang Mencegah Bahaya Jaringan Islam Liberal (JIL) dan Fiqih Antar Agama (FLA), namun Hartono tampaknya lebih fokus untuk menilai ayat-ayat tentang pluralisme saja. Sementara masalah tradisi pemahamannya sendiri, ia jauh lebih banyak mengomentari hadith yang terkait dengan masalah antaragama. Maka pemikiran seperti ini sangat mungkin berkembang di masa depan. Hal ini terbukti dengan berkembangnya studi pluralisme saat ini
Konsep Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dengan Model Integratif yang Realistis di Madrasah Ibtidaiyah iswandi, iswandi; Novialdi, Novialdi; Syofrianisda, Syofrianisda
Alifbata : Jurnal Pendidikan Dasar Vol 4 No 2 (2024): Alifbata
Publisher : STAI Darul Kamal Darul Kamal NW Kembang Kerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51700/alifbata.v4i2.729

Abstract

Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam  dengan model integratif di madrasah ibtidaiyah memungkinkan peserta didik memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif dan bermakna tentang   perkembangan peradaban Islam. Maka materi Sejarah Kebudayaan Islam Sejarah Kebudayaan Islam diintegrasikan dengan disiplin ilmu lain, seperti Geografi, Ekonomi, dan Bahasa Arab. Integrasi antar mata pelajaran membantu peserta didik melihat keterkaitan antara Sejarah Kebudayaan Islam dengan konteks sosial, ekonomi, dan budaya pada masa perkembangan peradaban Islam, berbasis  ilmu pengetahuan dan teknologi. Pembelajaran integratif mendorong peserta didik untuk berpikir kritis dan analitis dalam mengkaji perkembangan Sejarah Kebudayaan Islam. Mereka     tidak hanya menghafal fakta-fakta sejarah, tetapi juga mampu menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan Sejarah Kebudayaan Islam. Melalui model pembelajaran integratif, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mengembangkan keterampilan, seperti kemampuan komunikasi, kerja sama, dan pemecahan masalah dalam konteks interdisipliner. Metode penelitian ini Pembahasan ini mengunakan Penelitian Kepustakaan (Library Research) dengan mengabungkan beberapa pendapat ahli untuk ditarik kesimpulan, Penilaian pembelajaran integratif Sejarah Kebudayaan Islam dilakukan secara komprehensif. Maka guru untuk memperoleh gambaran yang utuh tentang capaian pembelajaran peserta didik madrasah ibtidaiyah. Penerapan model pembelajaran integratif pada Sejarah Kebudayaan Islam membutuhkan perencanaan yang matang, kolaborasi antar guru mata pelajaran, dan kesiapan sumber daya pembelajaran yang penuh  mendukung. Model ini dapat meningkatkan kualitas pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islamdan memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik madrasah ibtidaiyah. Secara keseluruhan, penerapan model pembelajaran integratif pada Sejarah Kebudayaan Islam dapat membantu peserta didik memperoleh pemahaman yang lebih holistik dan kontekstual tentang perkembangan Sejarah Kebudayaan Islam madrasah ibtidaiyah.
PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN DALAM AL-QUR’AN Syofrianisda, syofrianisda; Ritonga, Mahyudin
Tahsinia Vol 5 No 9 (2024): Desember
Publisher : STIT Rakeyan Santang Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57171/jt.v5i9.593

Abstract

Al-Qur’an dan Al-Sunnah meskipun bukan merupakan buku teks ilmu ekonomi, namun di dalamnya mengandung prinsip-prinsip dasar dan asas-asas ekonomi yang dapat diaplikasikan dalam semua lini kehidupan manusia. Dalam sebuah penelitian International Islamic University Islamabad of Pakistan, terungkap bahwa ayat-ayat Al-Qur’an yang memiliki hubungan langsung dengan ekonomi, diperkirakan berjumlah sekitar 400 an ayat, atau setara dengan 3,5 juz. Kemudian belum lagi ditambah dengan hadits-hadits terkait dengan muamalah, yang hingga saat ini belum ada penelitian mengenai berapa jumlah pasti hadits-hadits Nabi tersebut yang berbicara tentang ekonomi secara khusus. Hal ini menunjukkan bahwa ajaran Islam memiliki perhatian yang sangat serius terhadap persoalan ekonomi atau kewirausahaan. Dalam ajaran Islam bahwa bekerja dan berwirausaha (entrepreneur) merupakan hal penting yang tidak bisa dipisahkan dari tabiat asli manusia itu sendiri dalam menjalani hidup yang normal (way of life), karena keberadaan manusia di muka bumi adalah sebagai khalifah fi al-ardh, yaitu memimpin, memakmurkan dan mengelola bumi serta membawa bumi pada arah yang lebih baik (maslahah). Menurut Mahmud Yunus dalam buku Islam dan Kewirausahaan Inovatif dijelaskan profesi bertani dan mengolah tanah merupakan anjuran para-Nabi dan wasiat Nabi serta orang-orang saleh terdahulu.
RELEVANSI DAN KORELASI QAW’ID AL-TAFSIR DENGAN USHUL AL-FIQH Syofrianisda, Syofrianisda
Alhurriyah Vol 2 No 2 (2017): Juli-Desember 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/alhurriyah.v2i2.368

Abstract

Dinamika penafsiran al-Qur’an dan beragam upaya untuk memahami maksud tersirat dibalik ayat-ayatnya hingga hari ini masih tetap menarik perhatian dan minat para cendikiawan muslim maupun non muslim. Satu hal yang menjadi salah satu faktor mengapa al-Qur’an tetap menjadi the most wanted hingga saat ini mungkin saja adalah posisi al-Qur’an sebagai sumber primer ajaran Islam dengan kajian yang cukup holistik. Segala masalah yang dihadapi muslim dapat dikembalikan dan dicari solusinya dalam al-Qur’an. Pesatnya upaya penafsiran al-Qur’an pada dinamikanya diimbangi oleh berkembangnya ilmu bantu penafsiran yang juga menunjukkan pertumbuhan yang cukup menjanjikan. Hal ini menjadi logis dan rasional sebab untuk memiliki pemahaman yang komprehensif, seorang mufassir haruslah menguasai beberapa ilmu bantu seperti ilmu bahasa, balaghah, qawaid, fiqih, ushul fiqih dll.