Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Strategi Integrated Triple-Helix Pesantren dalam Pemberdayaan Masyarakat: Sinergi Pendidikan, Ekonomi, dan Keagamaan di Ponpes Anwaarul Hidayah Choirunisa, Arifah; Hidayat, Fahri
Solidaritas: Jurnal Pengabdian Vol. 5 No. 1 (2025): Solidaritas: Jurnal Pengabdian
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengabdian ini dilatarbelakangi oleh eksistensi pondok pesantren sebagai representasi dariproses pengembangan pendidikan nasional. Kehadiran pesantren di tengah masyarakat jugamemberikan berbagai warna dalam interaksi dengan masyarakat sekitar. Pondok PesantrenAnwaarul Hidayah di Desa Karangnangka, Kabupaten Banyumas, tidak hanya berperan sebagailembaga pendidikan, tetapi juga sebagai pusat pengabdian masyarakat yang menciptakantransformasi sosial nyata. Pengabdian ini mengkaji secara mendalam kontribusi pesantrendalam memberdayakan masyarakat melalui berbagai program konkret. Metode yang digunakandalam pengabdian ini adalah PAR (Participatory Action Research) metode ini dipilih karenapada dasarnya aktor-aktor dalam pesantren bukanlah objek tetapi mitra aktif dalam prosespengabdian yang paling memahami konteks dan kebutuhan. Hasil pengabdian ini menunjukkanbahwa pesantren telah memberikan dampak signifikan di tiga bidang utama yaitu pendidikan,ekonomi, dan keagamaan. Di bidang pendidikan, pesantren melakukan proses pembelajaran baikdi sekolah formal maupun nonformal, Dalam aspek ekonomi, pesantren menginisiasi pelatihankewirausahaan berupa industri galon. Di ranah keagamaan, pesantren mengadakan pengajianrutin yang dihadiri rata-rata 100 warga tiap pekan
PERAN ADOBE ILLUSTRATOR DALAM MEMBANGUN KETERAMPILAN KREATIF UNTUK MEMPERKUAT PESAN PERDAMAIAN: TINJAUAN PENDEKATAN VISUAL KOMUNIKASI ANTARBUDAYA Hidayat, Fahri; Nurur Ramadani, Zahrotun
Jurnal Grafis Vol 3, No 1 (2024): Jurnal Grafis Volume 3, Nomor 1
Publisher : Universitas Catur Insan Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi telah memperluas interaksi antarbudaya di era globalisasi, namun juga menghadirkan kompleksitas konflik yang memerlukan pendekatan holistik. Komunikasi antarbudaya menjadi krusial dalam mempromosikan pemahaman, toleransi, dan kerjasama di tengah perbedaan yang semakin kompleks. Artikel ini mengkaji peran Adobe Illustrator sebagai alat untuk mengembangkan keterampilan kreatif dalam komunikasi antarbudaya, dengan fokus pada potensinya dalam memperkuat pesan perdamaian melalui pendekatan visual yang efektif. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam dan observasi langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Adobe Illustrator mampu meningkatkan kreativitas visual, mempengaruhi emosi audiens, dan memfasilitasi kolaborasi antarbudaya dalam membangun pesan perdamaian. Kesimpulan menyoroti pentingnya inovasi dalam komunikasi visual untuk mempromosikan harmoni dalam keragaman budaya.
The Internalizing Principles of Religious Moderation in Creating a Moderate Islamic Generation Syarifah, Sabilatus; Hidayat, Fahri
Nizham Jurnal Studi Keislaman Vol 12 No 02 (2024): Nizham: Jurnal Studi Keislaman
Publisher : Pascasarjana IAIN Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/nizham.v12i02.8185

Abstract

This research aims to examine the role of internalizing the values of religious moderation in forming generation Z who practice wasathiyah Islam in understanding and implementing their religion. The research method is literaturestudy, a research technique that focuses on collecting data through analysis of literature from various sources relevant to the research topic. Research findings show that religious education that encourages the internalization of the values of religious moderation has a significant impact in forming generation Z who tends to instill wasathiyah Islam. Generation Z who are involved in religious education tend to have a tolerant and inclusive attitude in religious practices, and are able to carry out religious demands in a balanced manner with the values ofmoderation. Overall, religious education that prioritizes the internalization of the principles of religious moderation plays a key role in forming generation Z who understands and practices wasathiyah Islam, which in the end cancontribute to the creation of a more harmonious and inclusive society in a comprehensive context . 
Karakteristik Pendidikan dan Ilmuwan Muslim Periode Keemasan 750-950 M Fahri Hidayat
IQRO: Journal of Islamic Education Vol. 7 No. 1 (2024): JULI 2024
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam FTIK IAIN Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24256/iqro.v7i1.5267

Abstract

Artikel ini menganalisis karakteristik pendidikan dan ilmuwan muslim pada periode keemasan (750-950M) dan merumuskan paradigma pendidikan Islam yang generalis. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah sejarah pemikiran dengan fokus pada pemikiran tentang ilmu pengetahuan dan karakteristik ilmuwan muslim pada periode keemasan. Artikel ini menghasilkan kesimpulan bahwa karakteristik ilmuwan muslim pada periode keemasan adalah ilmuwan generalis. Mereka tidak hanya menguasai monodisiplin ilmu. Hampir semua ilmuwan muslim pada periode keemasan adalah ilmuwan yang menguasai berbagai disiplin ilmu. Fakta ini menjadi dasar dari paradigma pendidikan Islam generalis. Paradigma pendidikan Islam generalis adalah sebuah paradigma untuk melahirkan insan kamil yang menguasai multidisiplin ilmu. Paradigma ini sejalan dengan kebijakan “kampus merdeka” yang menghendaki setiap sarjana mampu menguasai multidisiplin ilmu.
Diseminasi Filsafat Pendidikan Islam Berdasarkan Pengalaman Praktis di Indonesia pada Forum Internasional di KIDU Malaysia Fahri Hidayat; Binti Khairuddin, Haniza; Sumarto, Sumarto; Syafryadin, Syafryadin; Yahya, Slamet; Pratiwi, Risa
KOMUNITA: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 4 No 4 (2025): November
Publisher : PELITA NUSA TENGGARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60004/komunita.v4i4.332

Abstract

Malaysia is one of the countries with the largest Muslim population in Southeast Asia after Indonesia. Kedah, often referred to as the “Serambi Makkah,” has a strong tradition of Islamic education. However, modernization requires institutions such as Kolej Islam Darul Ulum (KIDU) to renew their curricula to stay relevant to contemporary scientific development. The main challenge faced by the partner institution is designing an integrated curriculum that connects Qur’anic sciences with modern disciplines. Indonesia has extensive experience in knowledge integration through conceptual frameworks and institutional practices. This dissemination program aims to provide academic insights on democracy, the philosophical framework of Islamic education, and integrated curriculum development relevant to KIDU’s needs. The method used is collaborative and participatory through academic lectures, dialogic forums, and institutional exchange. The program began with the signing of a Memorandum of Understanding (MoU) between the Postgraduate School of UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU) and KIDU as a basis for strengthening the tridharma collaboration. KIDU presented its current academic policy through the development of an integrated curriculum based on a scientific exegesis of Juz 30. The presenter delivered three key themes: democracy and Islamic education in post-reform Indonesia, integrative curriculum characteristics, and the religious-nationalist orientation of Indonesian Islamic education. The results show strategic contributions to institutional capacity building, academic networking, and collaborative research prospects. The program implies the applicability of integrative models and the sustainability of transnational academic dialogue. In conclusion, this dissemination successfully created an exchange platform for developing modern Islamic curricula in Southeast Asia.
Pendekatan Epistemologi Immanuel Kant dalam Pembelajaran Pendidikan Pancasila di MI Ma’arif 02 Bajing Kulon Aditya Suryani, Dian; Hidayat, Fahri
Jurnal Nusantara Raya Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/jnr.v4i1.15476

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih dominannya pola pembelajaran Pendidikan Pancasila di sekolah dasar yang bersifat hafalan dan belum menumbuhkan kemampuan berpikir reflektif serta kritis peserta didik. Kondisi ini menunjukkan adanya persoalan epistemologis dalam proses pembentukan pengetahuan mengenai nilai-nilai Pancasila. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan pendekatan epistemologi dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila di MI Ma’arif 02 Bajing Kulon serta mengkaji relevansinya dengan pemikiran Immanuel Kant. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan epistemologi diterapkan melalui tiga aspek utama, yaitu pengalaman empiris, penalaran rasional, dan refleksi moral. Peserta didik tidak hanya menerima materi secara verbal, tetapi dilatih mengamati fenomena nyata, menganalisis kasus, berdiskusi, serta merefleksikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan ini sejalan dengan epistemologi rasional-transendental Immanuel Kant yang menekankan keterpaduan antara pengalaman dan akal budi dalam membentuk pengetahuan dan kesadaran moral. Implikasi penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran Pancasila berbasis epistemologi mampu mendorong terbentuknya peserta didik yang kritis, berkarakter, dan memiliki kesadaran moral yang lebih matang. Temuan ini dapat menjadi rujukan bagi guru dalam merancang pembelajaran Pancasila yang lebih reflektif, kontekstual, dan berorientasi pada penguatan karakter, sekaligus memberikan kontribusi bagi pengembangan praktik pendidikan nilai yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman.
Minority of Male Teachers in Kindergartens as a Result of Gender Stereotypes in Society Nur Rohmah; Fahri Hidayat
Edumaspul: Jurnal Pendidikan Vol 7 No 2 (2023): Edumaspul: Jurnal Pendidikan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Enrekang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33487/edumaspul.v7i2.7274

Abstract

The phenomenon of the minimum number of male kindergarten teachers is increasingly visible in Indonesia, so that people increasingly think that kindergarten teachers are a woman's profession. This results in an imbalance of gender roles in Kindergarten. Discussion of gender-related issues in kindergarten is considered too commonplace and often escapes society's attention. The aim of this research is to describe and analyze gender stereotypes which result in a minority of male teachers in kindergarten. Not only that, this research also provides an alternative view of the role of a man as a teacher in kindergarten. This research is a literature study that uses a qualitative approach. The results of this research are stereotypes that grow and develop in society regarding male kindergarten teachers, including; firstly, kindergarten teachers are attached to feminine traits, while men are attached to masculine traits, secondly, the assumption is that male kindergarten teachers are "gay", thirdly, the kindergarten profession which is not financially promising is not suitable for men who are charged with the role of "backbone", fourth, men must have challenging work, while the profession of kindergarten teacher is a profession that is not challenging and has low risk.
KONSEP PEMBINAAN KARAKTER DALAM PEMIKIRAN THOMAS LICKONA DAN SYED MUHAMMAD NAQUIB AL-ATTAS Wisnu Saputra, Fajar; Hidayat, Fahri
Merdeka Indonesia Jurnal International Vol 5 No 2 (2025): MIJI : Merdeka Indonesia Journal International
Publisher : Merdeka Indonesia Jurnal International

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69796/miji.v5i2.441

Abstract

Penelitian ini mengkaji konsep pendidikan karakter Thomas Lickona dan konsep ta’dīb Syed Muhammad Naquib Al-Attas melalui studi komparatif yang dianalisis dengan dialektika Hegel. Lickona menekankan pembentukan karakter melalui pengetahuan, sikap, dan tindakan moral, sedangkan Al-Attas menempatkan adab dan kesadaran spiritual sebagai inti pendidikan serta mengkritik sekularisasi. Melalui proses tesis–antitesis, keduanya menghasilkan sintesis “pendidikan karakter beradab” yang memadukan moralitas rasional dan spiritual. Hasil penelitian menunjukkan titik temu pada pembiasaan moral dan keteladanan, dengan perbedaan pada dasar epistemologis dan orientasi nilai.
Sejarah Gerakan Sosial Keagamaan di Indonesia melalui Kiprah Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama Farah Zakia Badriati; Moch Jaka Lelana; Ahmad Daniel Irsyad; Fahri Hidayat
Keraton: Journal of History Education and Culture Vol 7 No 2 (2025): Desember
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/keraton.v7i2.7739

Abstract

This study examines the historical role of Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama,the two largest socio-religious organizations in Indonesia, which have significantlyshaped the country’s religious landscape and social development since the earlytwentieth century. Rooted in the social reality that both organizations operatethrough extensive networks of education, religious outreach, and communityservices. This research aims to describe their historical origins, patterns ofmovement, and contributions to the modernization of Islam in Indonesia. Thestudy employs a literature review method by analyzing books, academic journals,organizational documents, and relevant previous studies. A comparativeanalytical approach is used to highlight the similarities and differences in thesocial-religious characteristics of Muhammadiyah and NU. The findings reveal thatMuhammadiyah emerged as a reformist movement focusing on educationalmodernization and purification of Islamic teachings, while NU played a crucial rolein preserving pesantren traditions and local religious culture. Together, they havebecome essential pillars in strengthening Islamic moderation and fostering socialcohesion in Indonesia. This study contributes to Indonesian Islamic historiographyby offering a more comprehensive understanding of the socio-religious dynamicsthat have shaped the distinctive character of Indonesian Islam.
Paradigm of integration-interconnection: M. Amin Abdullah and Mehdi Golshani's perspective Fian, Khafifatul; Hidayat, Fahri
FIKRAH Vol 11, No 2 (2023): December 2023
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v11i2.19125

Abstract

The existence of a monodisciplinary approach leaves no room for discussion between the sciences. There needs to be an interconnection and integration approach so that some sciences can reveal ideas to solve the problems faced. The focus of this research is on the comparison of the thoughts of M. Amin Abdullah and Mehdi Golshani on the integration of scientific interconnections. This research is library research through data collection techniques by searching for sources, either articles, books, or other sources relevant to the topic of discussion. After collecting the data, it is selected, analyzed, and conclusions formulated. The results showed that Mehdi Golshani supported the integration of scientific interconnection, but only for religion and science. In contrast to the perspective of M. Amin Abdullah, who created the idea of interconnection between religious science and general science, not only science was described through spider webs. M. Amin Abdullah assumes that religion and general science must be open to each other, even though each science has characteristics. With openness, it can create space for discussion so that what is debated as a problem can be criticized to produce a more comprehensive opinion.