Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Pengembangan Paradigma Integrasi Ilmu: Harmonisasi Islam dan Sains dalam Pendidikan Hidayat, Fahri
Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 2 (2015): Pendidikan Islam dan Sains (Islamic Education and Science)
Publisher : Faculty of Tarbiyah and Education, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpi.2015.42.299-318xxx

Abstract

Secularism that separates religion from mundane aspects, including science andknowledge, that appeared and applied in the West turned out to present themselves asa different face when applied in the Islamic world. In the West, secularism became areason for science breeding. Meanwhile, in the Islamic world, secularism actually triggerthe birth of science dichotomy that led to the neglect of science. In turn, the practiceof science dichotomy is precisely the cause of the deterioration of Islamic civilization.Muslim community has a different cultural history with the West. Historically, Islambecame the main driver of progress of science in the golden age. This is different withWestern history that marred by tensions between science and religion. Therefore, Islamiceducation should be developed in accordance with its integrative and nondichotomousculture. Therefore, religion and science in Islam is a unity. Epistemology of Islamiceducation is built by making sciences as part of its supporting pillars.
Strategi Integrated Triple-Helix Pesantren dalam Pemberdayaan Masyarakat: Sinergi Pendidikan, Ekonomi, dan Keagamaan di Ponpes Anwaarul Hidayah Choirunisa, Arifah; Hidayat, Fahri
Solidaritas: Jurnal Pengabdian Vol. 5 No. 1 (2025): Solidaritas: Jurnal Pengabdian
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengabdian ini dilatarbelakangi oleh eksistensi pondok pesantren sebagai representasi dariproses pengembangan pendidikan nasional. Kehadiran pesantren di tengah masyarakat jugamemberikan berbagai warna dalam interaksi dengan masyarakat sekitar. Pondok PesantrenAnwaarul Hidayah di Desa Karangnangka, Kabupaten Banyumas, tidak hanya berperan sebagailembaga pendidikan, tetapi juga sebagai pusat pengabdian masyarakat yang menciptakantransformasi sosial nyata. Pengabdian ini mengkaji secara mendalam kontribusi pesantrendalam memberdayakan masyarakat melalui berbagai program konkret. Metode yang digunakandalam pengabdian ini adalah PAR (Participatory Action Research) metode ini dipilih karenapada dasarnya aktor-aktor dalam pesantren bukanlah objek tetapi mitra aktif dalam prosespengabdian yang paling memahami konteks dan kebutuhan. Hasil pengabdian ini menunjukkanbahwa pesantren telah memberikan dampak signifikan di tiga bidang utama yaitu pendidikan,ekonomi, dan keagamaan. Di bidang pendidikan, pesantren melakukan proses pembelajaran baikdi sekolah formal maupun nonformal, Dalam aspek ekonomi, pesantren menginisiasi pelatihankewirausahaan berupa industri galon. Di ranah keagamaan, pesantren mengadakan pengajianrutin yang dihadiri rata-rata 100 warga tiap pekan
PERAN ADOBE ILLUSTRATOR DALAM MEMBANGUN KETERAMPILAN KREATIF UNTUK MEMPERKUAT PESAN PERDAMAIAN: TINJAUAN PENDEKATAN VISUAL KOMUNIKASI ANTARBUDAYA Hidayat, Fahri; Nurur Ramadani, Zahrotun
Jurnal Grafis Vol 3, No 1 (2024): Jurnal Grafis Volume 3, Nomor 1
Publisher : Universitas Catur Insan Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi telah memperluas interaksi antarbudaya di era globalisasi, namun juga menghadirkan kompleksitas konflik yang memerlukan pendekatan holistik. Komunikasi antarbudaya menjadi krusial dalam mempromosikan pemahaman, toleransi, dan kerjasama di tengah perbedaan yang semakin kompleks. Artikel ini mengkaji peran Adobe Illustrator sebagai alat untuk mengembangkan keterampilan kreatif dalam komunikasi antarbudaya, dengan fokus pada potensinya dalam memperkuat pesan perdamaian melalui pendekatan visual yang efektif. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam dan observasi langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Adobe Illustrator mampu meningkatkan kreativitas visual, mempengaruhi emosi audiens, dan memfasilitasi kolaborasi antarbudaya dalam membangun pesan perdamaian. Kesimpulan menyoroti pentingnya inovasi dalam komunikasi visual untuk mempromosikan harmoni dalam keragaman budaya.
The Internalizing Principles of Religious Moderation in Creating a Moderate Islamic Generation Syarifah, Sabilatus; Hidayat, Fahri
Nizham Jurnal Studi Keislaman Vol 12 No 02 (2024): Nizham: Jurnal Studi Keislaman
Publisher : Pascasarjana IAIN Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/nizham.v12i02.8185

Abstract

This research aims to examine the role of internalizing the values of religious moderation in forming generation Z who practice wasathiyah Islam in understanding and implementing their religion. The research method is literaturestudy, a research technique that focuses on collecting data through analysis of literature from various sources relevant to the research topic. Research findings show that religious education that encourages the internalization of the values of religious moderation has a significant impact in forming generation Z who tends to instill wasathiyah Islam. Generation Z who are involved in religious education tend to have a tolerant and inclusive attitude in religious practices, and are able to carry out religious demands in a balanced manner with the values ofmoderation. Overall, religious education that prioritizes the internalization of the principles of religious moderation plays a key role in forming generation Z who understands and practices wasathiyah Islam, which in the end cancontribute to the creation of a more harmonious and inclusive society in a comprehensive context . 
Karakteristik Pendidikan dan Ilmuwan Muslim Periode Keemasan 750-950 M Fahri Hidayat
IQRO: Journal of Islamic Education Vol. 7 No. 1 (2024): JULI 2024
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam FTIK IAIN Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24256/iqro.v7i1.5267

Abstract

Artikel ini menganalisis karakteristik pendidikan dan ilmuwan muslim pada periode keemasan (750-950M) dan merumuskan paradigma pendidikan Islam yang generalis. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah sejarah pemikiran dengan fokus pada pemikiran tentang ilmu pengetahuan dan karakteristik ilmuwan muslim pada periode keemasan. Artikel ini menghasilkan kesimpulan bahwa karakteristik ilmuwan muslim pada periode keemasan adalah ilmuwan generalis. Mereka tidak hanya menguasai monodisiplin ilmu. Hampir semua ilmuwan muslim pada periode keemasan adalah ilmuwan yang menguasai berbagai disiplin ilmu. Fakta ini menjadi dasar dari paradigma pendidikan Islam generalis. Paradigma pendidikan Islam generalis adalah sebuah paradigma untuk melahirkan insan kamil yang menguasai multidisiplin ilmu. Paradigma ini sejalan dengan kebijakan “kampus merdeka” yang menghendaki setiap sarjana mampu menguasai multidisiplin ilmu.
Peran Pemikiran Pendidikan K. H. Hasyim Asy’ari dalam Dinamika Pemikiran Pendidikan Islam di Indonesia Majiid, Muhammad Luthful; Hidayat, Fahri
Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 5 No. 8 (2024): Jurnal Pendidikan Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/japendi.v5i8.3283

Abstract

Melalui pembahasan ini bisa kita ambil pelajaran terkait profil Hasyim Asy'ari, dengan nama lengkap Muhammad Hasyim Asy'ari ibn 'Abd Al-Wahid bin Abdul Halim. Menurutnya, di Gedang Jombang Jawa Timur, Selasa 24 Dzu Al-Qa'idah 1287 H jatuh pada tanggal 14 Februari 1871 M. Beberapa pemikiran kiai Hasyim Asy'ar tidak lepas dari latar belakang sosio-historis yang melingkupinya. Kyai. Haji. Hasyim Asy'ari adalah sosok yang tahu betul apa yang menjadi kewajiban manusia di muka bumi, sebagai wakil presiden Allah harus selalu mengusahakan kebaikan. Kyai Haji Hasyim terbukti sebagai seorang ulama yang dapat menyampaikan dua hal, yaitu: ilmu dan amal. Pada masanya dikenal dua sistem pendidikan bagi penduduk pribumi Indonesia, yang pertama adalah sistem sekolah asrama Islam Islam dan sistem Barat (Holland Inlandsche Scholen) yang diselenggarakan oleh pemerintah Belanda, yang bertujuan untuk melatih para siswa untuk bekerja dengan upah rendah. tingkat. tingkat Menjabat dan mencampuri administrasi pemerintahan Belanda. Masa belajar di sekolah ini dibatasi tujuh tahun, dan mereka yang ingin melanjutkan sekolah harus pergi ke negeri bunga tulip (Selosoemardjan, 1962). Oleh karena itu, hanya penduduk lokal dari beberapa kabupaten yang mendapatkan kesempatan ini.Pendapat KH Hasyim Asy'ari tentang tasawuf (tasawuf) Hasyim Asy'ari menjelaskan dalam karyanya yaitu dalam kitab Ad-Durar Al-Muntathirah fil Masa'il At-Tis' Asyarah (Taburan Manik-manik lebih dari 19 Bilangan) dan dalam kitab Fin At - Tibyan Nahi' an Muqatha 'atil Arham Wal Aqarib Wal Akhawan (Pernyataan Larangan Pemisahan Kerabat dan Sahabat). Dalam tulisannya ia mengkritik tajam penyimpangan dari studi sufi. Melalui kesimpulan ini dapat kita ambil terkait pola pikir dan ide-ide Kyai Haji Hasyim Asy'ari dari segi kepahlawanan, kependidikan, dan sufi (tasawuf). Yang mana dalam tiga gagasan tersebut Kyai Haji Hasyim Asy'ari memiliki prinsip dan konsep yang logis serta riil, tidak melanggar ketentuan syariat dan bisa diterima oleh banyak kalangan.
Diseminasi Filsafat Pendidikan Islam Berdasarkan Pengalaman Praktis di Indonesia pada Forum Internasional di KIDU Malaysia Fahri Hidayat; Binti Khairuddin, Haniza; Sumarto, Sumarto; Syafryadin, Syafryadin; Yahya, Slamet; Pratiwi, Risa
KOMUNITA: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 4 No 4 (2025): November
Publisher : PELITA NUSA TENGGARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60004/komunita.v4i4.332

Abstract

Malaysia is one of the countries with the largest Muslim population in Southeast Asia after Indonesia. Kedah, often referred to as the “Serambi Makkah,” has a strong tradition of Islamic education. However, modernization requires institutions such as Kolej Islam Darul Ulum (KIDU) to renew their curricula to stay relevant to contemporary scientific development. The main challenge faced by the partner institution is designing an integrated curriculum that connects Qur’anic sciences with modern disciplines. Indonesia has extensive experience in knowledge integration through conceptual frameworks and institutional practices. This dissemination program aims to provide academic insights on democracy, the philosophical framework of Islamic education, and integrated curriculum development relevant to KIDU’s needs. The method used is collaborative and participatory through academic lectures, dialogic forums, and institutional exchange. The program began with the signing of a Memorandum of Understanding (MoU) between the Postgraduate School of UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU) and KIDU as a basis for strengthening the tridharma collaboration. KIDU presented its current academic policy through the development of an integrated curriculum based on a scientific exegesis of Juz 30. The presenter delivered three key themes: democracy and Islamic education in post-reform Indonesia, integrative curriculum characteristics, and the religious-nationalist orientation of Indonesian Islamic education. The results show strategic contributions to institutional capacity building, academic networking, and collaborative research prospects. The program implies the applicability of integrative models and the sustainability of transnational academic dialogue. In conclusion, this dissemination successfully created an exchange platform for developing modern Islamic curricula in Southeast Asia.
Pendekatan Epistemologi Immanuel Kant dalam Pembelajaran Pendidikan Pancasila di MI Ma’arif 02 Bajing Kulon Aditya Suryani, Dian; Hidayat, Fahri
Jurnal Nusantara Raya Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/jnr.v4i1.15476

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih dominannya pola pembelajaran Pendidikan Pancasila di sekolah dasar yang bersifat hafalan dan belum menumbuhkan kemampuan berpikir reflektif serta kritis peserta didik. Kondisi ini menunjukkan adanya persoalan epistemologis dalam proses pembentukan pengetahuan mengenai nilai-nilai Pancasila. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan pendekatan epistemologi dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila di MI Ma’arif 02 Bajing Kulon serta mengkaji relevansinya dengan pemikiran Immanuel Kant. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan epistemologi diterapkan melalui tiga aspek utama, yaitu pengalaman empiris, penalaran rasional, dan refleksi moral. Peserta didik tidak hanya menerima materi secara verbal, tetapi dilatih mengamati fenomena nyata, menganalisis kasus, berdiskusi, serta merefleksikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan ini sejalan dengan epistemologi rasional-transendental Immanuel Kant yang menekankan keterpaduan antara pengalaman dan akal budi dalam membentuk pengetahuan dan kesadaran moral. Implikasi penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran Pancasila berbasis epistemologi mampu mendorong terbentuknya peserta didik yang kritis, berkarakter, dan memiliki kesadaran moral yang lebih matang. Temuan ini dapat menjadi rujukan bagi guru dalam merancang pembelajaran Pancasila yang lebih reflektif, kontekstual, dan berorientasi pada penguatan karakter, sekaligus memberikan kontribusi bagi pengembangan praktik pendidikan nilai yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman.
Studi Analisis Pemikiran Muhammad Abduh tentang Modernitas Beragama dan Pembaharuan Pendidikan Islam Zahra Mevia Aimerly; Asri; Marwah Novi Dwiyanti; Mayrani Putri Altaf; Suci Nur Awalin; Fahri Hidayat
Keraton: Journal of History Education and Culture Vol 7 No 2 (2025): Desember
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/keraton.v7i2.7717

Abstract

This research seeks to examine Muhammad Abduh’s perspectives on religiousmodernity and the renewal of Islamic education as an effort to overcome theintellectual and social stagnation faced by Muslims from the 19th century up tothe present time. The study adopts a qualitative descriptive method using alibrary research approach, drawing on primary references from Abduh’s ownwritings such as Risalah al-Tauhid and Tafsir al-Manar, alongside secondarysources from scholarly books and academic journals. The results indicate thatAbduh prioritized the role of rational thinking, the revitalization of ijtihad, theharmonization of religious sciences with modern knowledge, and the structuralreform of educational institutions. For Abduh, modernity does not involvecopying Western civilization blindly, but rather harmonizing Islamic teachingswith contemporary realities through reasoned and contextual interpretation. Hisreformist ideas continue to hold strong relevance today, especially in curriculumdevelopment, pedagogical innovation, educational governance, and thecultivation of learners’ moral character in the era of globalization. Consequently,Abduh’s intellectual legacy serves as a pivotal framework for shaping an Islamiceducation model that is dynamic, balanced, and forward-looking.
Minority of Male Teachers in Kindergartens as a Result of Gender Stereotypes in Society Nur Rohmah; Fahri Hidayat
Edumaspul: Jurnal Pendidikan Vol 7 No 2 (2023): Edumaspul: Jurnal Pendidikan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Enrekang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33487/edumaspul.v7i2.7274

Abstract

The phenomenon of the minimum number of male kindergarten teachers is increasingly visible in Indonesia, so that people increasingly think that kindergarten teachers are a woman's profession. This results in an imbalance of gender roles in Kindergarten. Discussion of gender-related issues in kindergarten is considered too commonplace and often escapes society's attention. The aim of this research is to describe and analyze gender stereotypes which result in a minority of male teachers in kindergarten. Not only that, this research also provides an alternative view of the role of a man as a teacher in kindergarten. This research is a literature study that uses a qualitative approach. The results of this research are stereotypes that grow and develop in society regarding male kindergarten teachers, including; firstly, kindergarten teachers are attached to feminine traits, while men are attached to masculine traits, secondly, the assumption is that male kindergarten teachers are "gay", thirdly, the kindergarten profession which is not financially promising is not suitable for men who are charged with the role of "backbone", fourth, men must have challenging work, while the profession of kindergarten teacher is a profession that is not challenging and has low risk.