Hairin Fajeri
Program Studi Agribisnis/Jurusan SEP, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat

Published : 34 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Analisis Pendapatan dan Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga Petani Karet di Desa Sungai Jati Kecamatan Mataraman Anggi Setiawan; Hairin Fajeri; Rifiana Rifiana
Frontier Agribisnis Vol 6, No 4 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v6i4.7874

Abstract

Perkembangan karet di Indonesia baik luas areal maupun produksinya cenderung sedikit meningkat setiap tahunnya sejak tahun 2011 hingga 2020. Tanaman karet di Indonesia sebagian besar dikuasai oleh perkebunan rakyat yaitu sekitar 85,92%. Dari produksi karet tahun 2019 sebesar 3,45 juta ton, sekitar 2,50 juta ton diekspor atau sekitar 72,60% dari produksi karet nasional di ekspor. Volume ekspor karet nasional selama tahun 2010 – 2019 berfluktuasi dengan rata-rata tumbuh 1,06% per tahun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan dan tingkat kesejahteraan rumah tangga petani karet di Desa Sungai Jati Kecamatan Mataraman Kabupaten Banjar. Penelitian dilakukan sejak bulan Agustus 2022 sampai dengan Oktober 2022. Untuk metode penarikan contoh menggunakan metode sensus, yaitu dengan 32 responden. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata pendapatan petani dari hasil karet sebesar Rp 22.995.827/tahun dan rata-rata pendapatan non usahatani sebesar Rp2.901.396/tahun. Pendapatan total petani karet rakyat sebesar Rp 25.897.22/tahun. Adapun tingkat kesejahteraan petani karet di Desa Sungai Jati menurut kriteria World Bank dengan persentase terhadap jumlah total petani responden tingkat kesejahteraan sejahtera adalah sebesar 100% artinya dari 32 responden yang di pilih semuanya termasuk dalam kategori sejahtera. Selanjutnya pemasalahan yang dihadapi petani di Desa Sungai Jati Kecamatan Mataraman Kabupaten Banjar diantaranya perubahan iklim yang tidak menentu, harga yang selalu berubah, dan biaya pupuk yang relatif tinggi.
Dasar Pertimbangan Mahasiswa Program Studi Agribisnis untuk Memilih Berbelanja Online Ulfa Rismania Putri; Djoko Santoso; Hairin Fajeri
Frontier Agribisnis Vol 6, No 4 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v6i4.7852

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui persepsi mahasiswa program studi Agribisnis dalam memilih berbelanja online. Penelitian ini dilakukan pada situs berbelanja online yang paling banyak diminati. Ditunjukkan pada Mahasiswa Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat sebagai subjek penelitian. Populasi pada penelitian ini berjumlah 335 orang Mahasiswa Agribisnis angkatan 2017 - 2020 yang masih aktif. Dari jumlah tersebut yang mendapatkan respon sebanyak 126 orang dan yang tidak merespon sebanyak 209 orang. Dari 126 orang yang merespon hanya dapat diambil 122 orang, dikarenakan 4 orang tidak memenuhi syarat sebagai responden. Berdasarkan hasil penelitian, persepsi mahasiswa program studi Agribisnis dalam memilih belanja online dari hasil perhitungan variabel maka dapat dilihat pada kategori ST (Sangat Tidak Penting) dengan nilai 0% - 20% terdapat pada variabel kebijakan, TP (Tidak Penting) dengan nilai 21% - 40% terdapat pada variabel pengalaman, kepuasan, insentif, dan kemudahan pembayaran. CP (Cukup Penting) dengan nilai 41% - 60% terdapat pada variabel citra situs, kualitas informasi, kualitas pelayanan, kemudahan akses, dan estetika. Kemudian P (Penting) dengan nilai 61% - 80% terdapat pada variabel kepercayaan, lalu tidak terdapat variabel yang tergolong kategori SP (Sangat Penting) 81% - 100%
Kajian Usaha Pengolahan Kerupuk Ikan Gabus (Studi Kasus di Poklak Mawar Kembang Cempaka) Listia Ayu Annisa; Hairin Fajeri; Muhammad Fauzi
Frontier Agribisnis Vol 6, No 4 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v6i4.7861

Abstract

Ikan selain dapat dikonsumsi sebagai lauk pauk, ikan dapat diolah menjadi suatu produk seperti kerupuk yang nantinya dapat diusahan untuk menambah pendapatan masyarakat. Di Kelurahan Cempaka Kota Banjarbaru, terdapat industri rumah tangga yang merupakan kelompok pelaksana untuk meningkatkan pendapatan yaitu usaha pengolahan kerupuk ikan gabus Mawar Kembang Cempaka. Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik untuk mengkaji usaha pengolahan kerupuk ikan gabus di POKLAK Mawar Kembang Cempaka. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui besarnya biaya, penerimaan, keuntungan juga kelayakan usaha dan untuk mengetahui permasalahan apa saja yang dihadapi oleh pengusaha kerupuk ikan gabus Mawar Kembang Cempaka. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan analisis data yang digunakan adalah metode kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian Total biaya yang dikeluar oleh usaha pengolahan Kerupuk Ikan Gabus Mawar Kembang Cempaka sebesar Rp 3.219.000 dalam satu bulan, dan penerimaaan yang diperoleh adalah sebesar Rp 4.800.000 dalam satu bulan. Sehingga diperoleh keuntungan dari usaha pengolahan kerupuk ikan gabus dalam satu bulan sebesar Rp 1.543.935. Kelayakan usaha pengolahan kerupuk ikan gabus Mawar Kembang Cempaka berada pada nilai RCR sebesar 1,47, angka tersebut lebih dari 1 yang artinya usaha tersebut layak untuk terus dijalankan. Permasalahan yang dihadapi oleh usaha pengolahan kerupuk ikan gabus miliki Ibu Iyah ada 2 yaitu harga bahan baku yang berubah-ubah serta serangan wabah penyakit covid-19. Hal tersebut mengakibatkan kurangnya pemasaran produk kerupuk ikan gabus tersebut.
Dampak Kegiatan Ekonomi terhadap Lingkungan : Sebuah Analisis Emisi Gas Rumah Kaea Indonesia Hairin Fajeri; Maryunani Maryunani; Zainal Fanani; Luthfi Fatah
AGRIDES: Jurnal Agribisnis Perdesaan Vol 5, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/agrides.v5i2.21946

Abstract

This paper is intended as part of efforts to mitigate climate change through the analysis of both the emission of GHG emissions in the past and future emissions. To detennine the sectors that have the potential to reduce emissions and make the emission reduction scenarios. The analysis was performed by the method of decomposition and emission projections. Emission intensity is a measure of the level of emissions per unit of economic activity (as measured by GDP). By comparing the change in the emission intensity of fossil fuels, and GOP. Indonesia's emissions from burning fossil fuels is growing faster than GDP during the decade 1970-2010, so that the emission intensity increases. But Indonesia's emissions intensity also increased sharply from 1970-2010-2 percent per year.Changes in average annual population, GDP per capita, energy intensity and carbon intensity, that in the long term for C02 emissions in Indonesia is increasing carbon intensity. The average annual growth of carbon intensity in Indonesia is relatively high, the annual energy intensity in Indonesia is in the right direction, albeit less progressive. Indonesia's carbon intensity (kg per kg of fuel use eq. Energy) 1.5 kg in 1990 to 2.1 kg in 2010.Looking at C02 emissions by sector, that industrial activity has become a major source of C02 emissions, one of the reasons is that the increasing number of companies in the industry. C02 emissions from the transportation sector grew steadily but lower than the industrial sector. It is interesting that the emissions from the electricity sector grew most rapidly since the mid-1990s. C02 emissions from the residential sector grew the slowest, perhaps reflecting the growing of household electrification. The share of emissions by sector shows the same thing: is the largest industry, electricity is the fastest growing. While total emissions have grown by about 7.5 percent per year, emissions from electricity grew approximately 11 percent I year in the last two decades.Emission reduction potential in the sector, there are 34 sectors of the economy that have the potential to reduce emissions such as electricity, mining, agriculture, forestry, industry, transport and others. Baseline, through decomposition analysis with known emission rate of change of 9. 5% per year and the amount of emissions by 2010, 410 million tC02e then emissions by 2020 if no intervention would be 799 million tons. Emission reduction scenarios by 2020, without intervention would be 799 million tons, with a reduction of 26% (208 million tC02e) then becomes 591 million tC02e emissions; and a reduction of 41% (328 million tC02e), the emissions would be 471 million tC02e.