p-Index From 2021 - 2026
8.256
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Kurios Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Jurnal Teologi Berita Hidup Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan STT BNKP Sundermann The Way: Jurnal Teologi dan Kependidikan Manna Rafflesia PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Jurnal Amanat Agung KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Luxnos : Jurnal Sekolah Tinggi Teologi Pelita Dunia Phronesis: Jurnal Teologi dan Misi Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi LOGIA : Jurnal Teologi Pentakosta Vox Dei : Jurnal Teologi dan Pastoral Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi dan Pendidikan IMMANUEL: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Sola Gratia: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Transformasi Fondasi Iman Kristen dalam Pelayanan Pastoral di Era Society 5.0 Predica Verbum Sabda : Jurnal Teologi Kristen Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial, dan Budaya DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Journal Didaskalia Jurnal Teologi & Pelayanan Kerusso Mitra Sriwijaya: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) THRONOS: Jurnal Teologi Kristen CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama Voice of HAMI Jurnal Arrabona Saint Paul's Review Lentera Nusantara EKKLESIA: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani Jurnal Teologi Pambelum Khamisyim : Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Views: Jurnal Teologi dan Biblika Jurnal Teologi Rai JUITA SEJATI Jurnal Pistis: Teologi dan Praktia Jurnal Lampo GLOSSAIS: Jurnal Teologi & Pendidikan Kristiani
Claim Missing Document
Check
Articles

Pentakosta Sebagai Transformasi Karakter Orang Percaya: Kajian Etnoskopik Dalam Kisah Para Rasul 2:1-11 Aska Aprilano Pattinaja
Logia Vol 7, No 1 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v7i1.310

Abstract

Tujuan penelitian ini, adalah untuk mengkaji peristiwa Pentakosta sebagai transformasi karakter  yang mengubahkan para murid yang biasa menjadi pemberita injil yang luar biasa. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode etnoskopik untuk mengkaji kisah Pentakosta dalam Kisah Para Rasul 2:1-11 melalui empat lensa utama: budaya, Kitab Suci, misiologis, dan pendidikan. Temuan utama dari kajian ini adalah bahwa peristiwa Pentakosta tidak hanya sebagai awal misi gereja, tetapi juga sebagai titik transformasi karakter murid-murid untuk menjadi pemberita injil. Penelitian ini menemukan, empat karakter penting, yakni: pertama, karakter kerendahan hati interkultural; kedua, karakter solidaritas lintas batas; ketiga, karakter keberanian profetik; dan keempat, karakter inklusivitas kasih. Diharapkan karakter-karakter ini, menjadi aspek penting yang bisa diadopsi oleh gereja dan orang percaya untuk mengalami transfromasi karakter dalam bermisi.
MENGGALI MAKNA ”KASIH MENUTUPI BANYAK DOSA”: STUDI INTERTEKSTUAL AMSAL 10:12 DAN 1 PETRUS 4:8 Aska Aprilano Pattinaja
Voice of HAMI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 8, No 2 (2026): Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Hagiasmos Mission

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59830/voh.v8i2.147

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengeksplorasi makna frase kasih menutupi banyak dosa” dari perpspektif Salomo dalam Amsal 10:12 dan Petrus yang kembali mengutip nasihat tersebut untuk menguatkan jemaat dalam 1 Petrus 4:8. Penelitian sebelumnya sering difokuskan kepada menggali makna dari frase ini secara teologis, tetapi mengabaikan apa yang mendasari kedua penulis kitab ini menggunakan frase dimaksud. Berdasarkan metode hermeneutik eksegesis dan analisisi intertekstual maka penelitian ini menemukan bahwa perspektif Salomo dalam Amsal 10:12 menyoroti kontras antara kebencian yang memicu pertikaian dan kasih yang meredakan konflik dengan menutupi pelanggaran. Sementara itu, Petrus dalam 1 Petrus 4:8 menekankan pentingnya kasih dalam komunitas Kristen yang menghadapi penderitaan, dengan menyoroti peran kasih yang aktif sebagai respons terhadap realitas dosa dan kelemahan manusia. Sehingga tiga makna utama yang ditemukan dari frase ini, adalah: Pertama, rekonsiliasi sosial; Kedua, pengampunan aktif; Ketiga, dimensi penebusan-eskatologis. Studi ini juga menyoroti relevansi praktis dari konsep kasih yang menutupi dosa dalam membangun hubungan yang sehat dan komunitas yang saling mendukung di tengah tantangan zaman.
Analisis Frasa “Menimbun Bara Api” terhadap Pembentukan Karakter: Kajian Hermeneutik Berdasarkan Kitab Amsal 25:21-22 Aska Aprilano Pattinaja; Farel Yosua Sualang
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 6, No 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v6i1.309

Abstract

Based on the literature review, there are two groups of scholars discussing Proverbs 25:21-22: the group that links the writing of this verse to Jesus' teachings on love and forgiveness, and the group that focuses only on the teachings of Paul, who quoted this verse as an exhortation to the Romans to do good to their enemies and that there is a reward for every good deed. The research attempts to examine to analyze the meaning of the phrase "heaping coals of fire" and its implications for character development. The research used a qualitative method with sub-interpretive design, specifically, wisdom literature hermeneutics. This study found three related implementations of this phrase to character building, namely: first, deciding to do the right thing; second, overcoming ego and hatred; third, deciding to live an exemplary life. The results of this study are very important in character building so that believers can apply the values of truth in life and lead exemplary lives, and provide understanding in the development of wisdom literature research. AbstrakAda dua kelompok penelitian dalam pembahasan Amsal 25:21-22 yakni, pertama, kelompok yang menghubungkan tulisan Amsal ini dengan ajaran Yesus mengenai kasih dan kedua, kelompok yang hanya terfokus kepada ajaran Paulus, yang mengutip Amsal ini, sebagai nasihat kepada jemaat Roma, untuk berbuat baik kepada kepada musuh-musuhnya dan ada upah bagi setiap perbuatan baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna frasa “menimbun bara api” serta implikasinya terhadap pembentukan karakter. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif dengan sub interpretative design khususnya hermeneutika sastra hikmat. Penelitian ini menemukan tiga implementasi yang berkaitan dari frasa ini terhadap pembentukan karakter, yakni: pertama, memutuskan berbuat benar; kedua, mengatasi ego dan kebencian; ketiga, memilih hidup menjadi teladan. Hasil penelitian ini sangat penting dalam sebuah pembentukan karakter agar orang percaya dapat menerapkan nilai-nilai kebenaran dalam hidup dan hidup menjadi teladan serta memberikan pemahaman dalam perkembangan penelitian sastra hikmat.
Integrasi Iman, Pendidikan Moral Dan Ilmu Pengetahuan Dalam Perspektif Kristen: Sebuah Studi Teologi Filsafat Pendidikan Mikhail Mabaha; Aska Aprilano Pattinaja
SAINT PAUL'S REVIEW Vol. 5 No. 2 (2025): December
Publisher : STT Saint Paul Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56194/spr.v5i2.135

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan antara pendidikan moral dan ilmu pengetahuan dalam perspektif Kristen, dengan menekankan peran iman, nilai Alkitabiah, dan pembentukan karakter sebagai landasan integrasi pengetahuan. Kesenjangan penelitian yang ditemukan adalah masih dominannya paradigma pendidikan sekuler yang memisahkan aspek kognitif dan moral, sehingga kurang memperhatikan prinsip integratif iman–pengetahuan yang Alkitab tawarkan. Berdasarkan metode penelitian kajian literatur kualitatif dengan pendekatan teologis-biblis, filsafat pendidikan Kristen, serta analisis terhadap teori pendidikan moral kontemporer, maka hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan Kristen tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada transformasi karakter melalui internalisasi nilai-nilai Injil, sehingga pengetahuan dipahami bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sarana untuk hidup berkenan kepada Allah dan berguna bagi sesama. Implikasi penelitian ini menegaskan perlunya tranformasi kurikulum pendidikan Kristen yang menempatkan moralitas Injili sebagai inti, sinergi pembentukan karakter dan menjawab tantangan era digital sehingga menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan etis dalam menghadapi tantangan zaman. This study aims to analyze the relationship between moral education and science from a Christian perspective, emphasizing the role of faith, Biblical values, and character building as the foundation of knowledge integration. The research gap found is the dominant secular education paradigm that separates cognitive and moral aspects, thus paying less attention to the integrative principle of faith-knowledge that the Bible offers. Based on the qualitative literature review research method with a biblical-theological approach, Christian education philosophy, and analysis of contemporary moral education theories, the results show that Christian education is not only oriented to the transfer of knowledge, but also to character transformation through the internalization of gospel values, so that knowledge is understood not as an end in itself, but as a means to live pleasing to God and useful to others. The implications of this research emphasize the need for curriculum transformation in Christian education that places evangelical morality at the core, synergizing character building and answering the challenges of the digital era so as to produce a generation that is not only intellectually intelligent, but also spiritually and ethically mature in facing the challenges of the times.
Pentingnya Persiapan Diri untuk menjadi Seorang Pemimpin: Studi Hermeneutik Berdasarkan Kisah Samgar dalam Hakim-Hakim 3:31 Aska Aprilano Pattinaja; Steven Robertho Talilah
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 4 No. 1 (2024): SEPTEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54592/nbsbrz10

Abstract

Samgar b. Anath is an unpopular judge in the history of the judges. His story only appears in two verses in the Bible, Judges 3:31 and Judges 5:6. The very limited story of Samgar b. Anat makes him less popular and desirable to discuss.   Therefore, this study aims to explore the origin and leadership of Samgar b. Anath as a judge over Israel, which has an impact on preparing oneself to be a leader.   The research used descriptive qualitative method, hermeneutic study and found three important lessons that impacted the preparation of being a leader, namely: first, leaders must prepare themselves well, because God can use anyone to be His chosen one; second, leaders must have a strong sense of confidence; third, leaders must rely on God. This research is very important and serves as input for leaders to decide to live right and make a difference, as well as develop the resources available to them.
Building character based on cognitive skills: The chiastic structure of Proverbs 31:26 Aska Aprilano Pattinaja; Victor Pattianakotta; Farel Yosua Sualang
KURIOS Vol. 12 No. 2: August 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v12i2.1159

Abstract

Proverbs 31:26 is part of the acrostic poem describing the 'ēšet ḥayil (woman of noble character) and employs a chiastic pattern (A–B–B'–A'). Although this verse has been widely studied from the perspectives of the wise woman, gender, and character formation, limited attention has been given to the rhetorical function of its chiastic structure as a basis for interpretation. This study analyzes the chiastic structure of Proverbs 31:26 and places it in dialogue with the psychological concept of cognitive ability. This qualitative research uses a wisdom-literature hermeneutical approach and employs literal, lexical, and structural analyses of the text. The findings demonstrate that the chiastic structure positions ḥokmâ (wisdom) and tôrath-ḥesed (instruction grounded in steadfast love) as the semantic center of the verse. Three principal implications emerge from this analysis: (1) wisdom reflects the reasoning process that precedes speech; (2) the integration of ḥokmâ and ḥesed indicates that effective communication combines sound reasoning with ethical orientation; and (3) wise communication serves a pedagogical function by transmitting moral values within the community. This study argues that cognitive ability should not be understood as equivalent to biblical wisdom but rather as a dialogical framework for explaining how wisdom is expressed through reasoning and communication within the wisdom tradition.
Komitmen Ezra (Seeking, Doing, Teaching) dan Implikasinya Bagi Para Pemimpin Di Era Disrupsi: Kajian Hermeneutik Berdasarkan Ezra 7:10 Aska Aprilano Pattinaja; Paulus Konto Baskoro
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i2.285

Abstract

The purpose of this paper is to examine Ezra's commitment to preparing himself as a teacher of the law, namely seeking, doing, teaching, which has implications for leaders in the era of disruption. This commitment is very important for leaders to face the moral and integrity degradation that is occurring today. The problem that arises is that many leaders seem great, but are not accompanied by a lifestyle that produces good examples. There is a gap in research that specifically and comprehensively examines the explanation and implementation of Ezra's commitment. Therefore, based on the qualitative method with a hermeneutic approach, this research has found several important things, namely, first, learning (seeking), that a leader needs time to equip himself by learning the basic truth of God's Word; second, doing (doing), a leader is required after learning to do or apply first in personal implementation; and third, teaching (teaching), this is the phase where a leader must teach the basic values of the truth of God's Word, which is a combination of what has been learned and the experience of doing the truth. The implication of this commitment is that what is shared is not mere rhetoric or theory, but a testimony of life-changing experience. This study is useful for pastors, shepherds, teachers, lecturers, or anyone called to leadership. AbstrakTujuan penulisan ini adalah meneliti komitmen Ezra dalam mempersiapkan dirinya sebagai pengajar Hukum Taurat, yakni seeking (meneliti), doing (melakukan), teaching (mengajar), yang berimplikasi terhadap para pemimpin dalam era disrupsi. Komitmen ini sangat penting bagi para pemimpin, untuk menghadapi degradasi moral dan integritas yang terjadi pada hari ini. Problematika yang terjadi adalah banyak pemimpin yang kelihatannya hebat, tetapi tidak dibarengi dengan pola hidup yang menghasilkan teladan yang baik. Terdapat kesenjangan penelitian dalam meneliti secara spesifik dan komprehensif terkait penjelasan dan implementasi dari komitmen Ezra tersebut. Oleh sebab itu berdasarkan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutik, maka penelitian ini telah menemukan beberapa hal penting, yakni, pertama, Belajar (seeking), bahwa seorang pemimpin, membutuhkan waktu untuk memperlengkapi dirinya lewat mempelajari dasar kebenaran Firman Tuhan; kedua, Melakukan (doing), seorang pemimpin diharuskan setelah belajar melakukan atau menerapkan dahulu dalam implementasi pribadi; dan ketiga, Mengajar (teaching), inilah fase di mana, seorang pemimpin harus mengajarkan nilai-nilai dasar kebenaran Firman Tuhan yang merupakan gabungan dari apa yang telah dipelajari dan pengalaman melakukan kebenaran tersebut. Implikasi dari komitmen ini adalah, apa yang dibagikan bukan saja menjadi retorika atau teori belaka, tetapi kesaksian dari pengalaman hidup yang mengubah. Penelitian ini berguna bagi para Pendeta, Gembala, Guru, Dosen atau saja yang terpanggil untuk menjadi pemimpin.
Analisis Bentuk Kiastik Mazmur 23 Dalam Hubungan Pencipta Dan Ciptaan Yanes Loraya; Suleman; Aska Aprilano Pattinaja
LAMPO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 2 No. 1 (2025): Juli 2025
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI STAR RIAU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63832/ayh6pd32

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk menganalisis bentuk kiastik yang muncul dalam sturuktur Mazmur 23, sebagai salah satu ciri khas puisi Ibrani. Penelitian struktur puisi ini jarang dilakukan oleh penelitian sebelumnya, karena hanya terfokus kepada tema pastoral dan metafora. Berdasarkan metode hermeneutik sub genre sastra hikmat, maka penelitian ini menemukan, ada 4 peranan Pencipta dalam relasi dengan ciptaan, yakni: pertama, Tuhan Yang Memelihara Dan Menjamin Kehidupan; kedua, Tuhan Yang Membimbing Menuju Ketenangan dan Kelimpahan; ketiga, Tuhan Yang Menuntun Dan Menyediakan; keempat, Tuhan Yang Menyertai Dalam Lembah Kekelaman. Riset ini dapat diimplementasikan dalam perkembangan studi biblika khususnya sastra hikmat dan pembelajaran bagi orang percaya dalam membangun relasi antara pencipta dan ciptaan.