p-Index From 2021 - 2026
7.083
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Jurnal Teologi Berita Hidup Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan STT BNKP Sundermann The Way: Jurnal Teologi dan Kependidikan Manna Rafflesia PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi Jurnal Amanat Agung KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Luxnos : Jurnal Sekolah Tinggi Teologi Pelita Dunia Phronesis: Jurnal Teologi dan Misi LOGIA : Jurnal Teologi Pentakosta Vox Dei : Jurnal Teologi dan Pastoral Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi dan Pendidikan IMMANUEL: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Sola Gratia: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Transformasi Fondasi Iman Kristen dalam Pelayanan Pastoral di Era Society 5.0 Predica Verbum Sabda : Jurnal Teologi Kristen Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial, dan Budaya DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Jurnal Teologi & Pelayanan Kerusso Mitra Sriwijaya: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) THRONOS: Jurnal Teologi Kristen CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama Voice of HAMI Jurnal Arrabona Saint Paul's Review Lentera Nusantara EKKLESIA: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani Jurnal Teologi Pambelum Jurnal Yada Khamisyim : Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Views: Jurnal Teologi dan Biblika Jurnal Teologi Rai JUITA SEJATI Jurnal Pistis: Teologi dan Praktia
Claim Missing Document
Check
Articles

Prinsip Perintisan Jemaat Sebagai Refleksi Gereja Tuhan Masa Kini Andris Kiamani; Aska Aprilano Pattinaja
Jurnal Pistis: Teologi dan Praktika Vol. 23 No. 2 (2023): Vol. 23 No. 2 (2023): Jurnal Pistis: Teologi dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51591/pst.v23i2.138

Abstract

Perintisan jemaat merupakan sesuatu yang sangat penting bagi pelayanan masa kini. Sekalipun penting, namun pada kenyataannya terdapat gereja-gereja yang memandang bahwa perintisan jemaat adalah tugas dari penginjil, hamba Tuhan, bagian gereja atau denominasi tertentu saja. Hal ini dikarenakan gereja berada dalam zona nyaman untuk lebih sibuk untuk memperhatikan pelayanan kedalam dan mengabaikan perintisan jemaat-jemaat baru. Banyak penelitian yang telah dilakukan dalam mengkaji tentang perintisan gereja atau jemaat, tetapi penelitian ini menemukan, belum adanya penelitian yang secara khusus dan komprehensif, mengenai prinsip perintisan gereja. Oleh sebab itu, penelitian ini dilakukan untuk meletakkan dasar bagi pemahaman yang benar, berdasarkan kebenaran Alkitab terhadap pentingnya prinsip perintisan jemaat sebagi sebuah refleksi gereja Tuhan masa kini. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, maka penelitian ini menemukan, lima prinsip penting perintisan jemaat, yakni: pertama visi dari Tuhan; kedua tempat tujuan untuk memulai; ketiga mengikuti perintah Tuhan; keempat menunggu waktu Tuhan; dan kelima memiliki iman yang radikal akan janji-Nya. Iman adalah bagian terpenting untuk menarik janji Tuhan agar terjadi secara nyata.
Dampak Jebakan Kesombongan Bagi Generasi Milenial: Kajian Struktur Paralelisme Dalam Amsal 16:18-19 Dewi Latupeirissa; Aska Aprilano Pattinaja
Jurnal Pistis: Teologi dan Praktika Vol. 24 No. 1 (2024): Vol. 24 No. 1 (2024): Jurnal Pistis: Teologi dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51591/pst.v24i1.161

Abstract

Amsal 16:18-19 adalah amsal yang banyak dikutip karena berbicara mengenai dampak dari jebakan kecongkakan dan kesombongan. Disebut jebakan, karena tanpa disadari kesombongan menjebak siapa saja dan menggiring mereka ke arah kehancuran dan kejatuhan. Sudah banyak peneliti yang membahas mengenai Amsal 16:18-19, tetapi dalam studi literatur, penelitian ini menemukan bahwa penelitian-penelitian sebelumnya hanya berfokus kepada makna frase kecongkakan dan tinggi hati serta mengabaikan unsur paralelisme yang terdapat dalam teks ini. Oleh sebab itu artikel ini akan melakukan kajian lebih spesifik dan komprehensif mengenai Amsal 16:18-19 dilihat dari lensa kajian paralelisme yang berimplikasi kepada generasi milenial. Berdasarkan metode hermeneutik sub genre sastra hikmat, maka penelitian ini menemukan: Pertama, Kehancuran Hubungan Persahabatan; Kedua, Kejatuhan Akibat Tekanan Mental dan Emosional; Ketiga, Kerusakan Kehidupan Spritual. Penelitian menjadi peringatan kepada semua generasi milenial agar berhati-hati dengan jebakan kesombongan.  
Pencarian Hikmat Dalam Perspektif Ayub 28:20-28: Suatu Kajian Eksposisi Dan Implikasi Teologis Jeffry Keliduan; Marten Luter Maunusu; Hervy Noya; Aska Aprilano Pattinaja
Jurnal Pistis: Teologi dan Praktika Vol. 25 No. 1 (2025): Vol. 25 No. 1 (2025): Jurnal Pistis: Teologi dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51591/pst.v25i1.175

Abstract

Ayub 28:20-28 menghadirkan perenungan mendalam tentang hakikat hikmat dan sumbernya yang sejati. Dalam perikop ini, penulis menegaskan bahwa hikmat tidak dapat ditemukan melalui usaha manusiawi atau kekayaan duniawi, tetapi hanya melalui hubungan yang benar dengan Allah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara eksposisi teks Ayub 28:20-28 dan menemukan implikasi teologi dari perikop ini dalam kaitannya dengan konsep takut akan Tuhan sebagai landasan hikmat. Pendekatan yang digunakan adalah metode kualitatif dengan analisis eksegetis terhadap teks serta kajian teologis yang menghubungkan konsep hikmat dalam kitab Ayub dengan tradisi kebijaksanaan Ibrani secara lebih luas. Berdasarkan metode  kualitatif, studi literatur, maka penelitian ini menemukan beberapa nilai hikmat, yaitu: Pertama, Hikmat tidak dapat ditemukan melalui usaha manusiawi (Ayb. 28:20-22); Kedua, Hikmat bersumber dari Allah dan berakar dalam takut akan Tuhan (Ayb. 28:23-28); Ketiga, Hikmat menjadi prinsip hidup dalam etika moral (Ayb. 28:20-28). Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memahami bagaimana konsep hikmat dalam Ayub 28:20-28 dapat diaplikasikan dalam kehidupan beriman masa kini. Dengan menegaskan bahwa hikmat sejati berasal dari Allah, penelitian ini menyoroti relevansi nilai-nilai takut akan Tuhan dalam membentuk karakter dan kebijaksanaan moral bagi umat percaya.
Reformasi Hati: Dari Kejatuhan Daud Menuju Pemulihan Berdasarkan Mazmur 51 Keren Samar; Imleda Cicilia Salakay; Debby Margareth Taihuttu; Aska Aprilano Pattinaja
Jurnal Pistis: Teologi dan Praktika Vol. 25 No. 2 (2025): Vol. 25 No. 2 (2025): Jurnal Pistis: Teologi dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51591/pst.v25i2.221

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk menelusuri makna reformasi hati sebagai bentuk pembaruan karakter rohani yang berakar pada pengalaman pertobatan Raja Daud sebagaimana tercatat dalam Mazmur 51. Sebagian besar penelitian sebelumnya berfokus pada aspek devosional, etis, atau moral, namun belum mengkaji reformasi hati sebagai paradigma teologis untuk pembentukan karakter. Berdasarkan metode penelitian hermeneutik-teologi, maka tiga temuan penting yang didapat adalah: Pertama, reformasi hati merupakan inti dari pembentukan karakter rohani yang sejati; reformasi dimulai dari kesadaran dosa dan kebutuhan akan anugerah Allah yang mengubah hati manusia. Kedua, pertobatan sejati melahirkan transformasi karakter yang berakar pada kemurnian hati, kerendahan diri, dan ketaatan etis yang dimampukan oleh karya Roh Kudus. Ketiga, reformasi hati harus menjadi paradigma bagi gereja masa kini dalam membentuk karakter umat, dengan menekankan pembaruan rohani dan moral yang berkelanjutan melalui pertobatan, disiplin rohani, dan penyerahan diri kepada Allah. Dengan demikian, reformasi hati berfungsi sebagai fondasi utama dalam pembentukan karakter Kristen yang berintegritas dan berdampak transformasional dalam kehidupan pribadi maupun komunitas iman.
Pentakosta Sebagai Transformasi Karakter Orang Percaya: Kajian Etnoskopik Dalam Kisah Para Rasul 2:1-11 Pattinaja, Aska Aprilano
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 7, No 1 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v7i1.310

Abstract

Tujuan penelitian ini, adalah untuk mengkaji peristiwa Pentakosta sebagai transformasi karakter  yang mengubahkan para murid yang biasa menjadi pemberita injil yang luar biasa. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode etnoskopik untuk mengkaji kisah Pentakosta dalam Kisah Para Rasul 2:1-11 melalui empat lensa utama: budaya, Kitab Suci, misiologis, dan pendidikan. Temuan utama dari kajian ini adalah bahwa peristiwa Pentakosta tidak hanya sebagai awal misi gereja, tetapi juga sebagai titik transformasi karakter murid-murid untuk menjadi pemberita injil. Penelitian ini menemukan, empat karakter penting, yakni: pertama, karakter kerendahan hati interkultural; kedua, karakter solidaritas lintas batas; ketiga, karakter keberanian profetik; dan keempat, karakter inklusivitas kasih. Diharapkan karakter-karakter ini, menjadi aspek penting yang bisa diadopsi oleh gereja dan orang percaya untuk mengalami transfromasi karakter dalam bermisi.
SORGA DAN NERAKA SEBAGAI SIMBOL:: KAJIAN BIBLIKA DOKTRIN KRISTEN PROGRESIF DAN IMPLIKASINYA BAGI ORANG PERCAYA Pattinaja, Aska Aprilano; Octavianus, Jonathan; Wau, Hasanema
Jurnal Teologi RAI Vol. 2 No. 3 (2025): Jurnal Teologi RAI - Edisi Desember
Publisher : STT-RAI Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63276/jurnalrai.v2i3.121

Abstract

This article aims to explore a controversial issue in Progressive Christian thought, specifically the rejection or symbolic interpretation of eschatology, especially concerning the reality of heaven and hell. A review of the literature reveals a research gap in this area because studies on Progressive Christianity tend to focus only on soteriology, bibliology, and apologetics. Using a biblical study method with an exegetical analysis approach and historical-systematic theology, this research finds that the symbolic theological approach often weakens the biblical foundation of God's justice and holiness and clouds the eschatological truth as taught by Jesus and the apostles. Therefore, this article presents a biblical reading that affirms a balance between divine love and justice, demonstrating that the doctrines of heaven and hell are not merely moral constructs but essential parts of the salvation story. The results are expected to enhance the discourse of Indonesian contextual theology by illustrating the limits of progressive hermeneutics in relation to the orthodoxy of the Christian faith.
Unsur Didaktik dalam Epilog Amsal 31:15-16, 18-19, 26-27 sebagai Pembentukan Karakter Aska Aprilano Pattinaja; Farel Yosua Sualang
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 8 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/q5q81481

Abstract

Proverbs 31, functioning as the epilogue of the book, carries a significant instructional dimension, particularly in shaping character. The portrayal of the wise woman (eshet hayil) serves as a concrete example of how a person of wisdom embodies quality character traits. A review of existing literature indicates a research gap: most studies have emphasized ethical values, idealized female morality, or general themes of wisdom literature, yet have not sufficiently examined its didactic dimension. Utilizing a hermeneutical approach appropriate to the wisdom literature sub-genre, this research identifies four pedagogical elements that contribute to character formation: (1) exemplifying and modeling (vv. 15a, 16, 18, 19); (2) providing instruction (v. 15b); (3) imparting teaching and counsel (v. 26); and (4) exercising supervision and evaluation (v. 27). The findings of this study offer a valuable contribution to the process of personal maturation and the cultivation of virtuous character.   Amsal 31 sebagai epilog memiliki unsur didaktik yang sangat kuat, khususnya dalam pembentukan karakter. Narasi ini menyajikan perwujudan kehidupan wanita bijak (eshet hayil) dalam bahasa hikmat sebagai panduan untuk membentuk karakter yang berkualitas. Dalam penelusuran literatur, terdapat kesenjangan penelitian yang terfokus hanya kepada kajian nilai etika, moralitas perempuan ideal, atau aspek literatur hikmat, sementara tidak terlalu mengeksplorasi bagian didaktik ini. Dengan pendekatan hermeneutik yang sesuai dengan subgenre sastra hikmat, maka empat unsur didaktik sebagai pembentuk karakter, adalah pertama, menjadi contoh dan teladan (Ay. 15a, 16, 18, 19), kedua, memberi petunjuk atau instruksi (Ay. 15b); ketiga, memberi pelajaran dan nasihat (Ay. 26); dan keempat, melakukan pengawasan dan evaluasi (Ay. 27). Hasil penelitian ini menunjukkan kontribusi signifikan terhadap proses pendewasaan individu dengan menguraikan bagaimana nilai-nilai yang dikaji berperan dalam pembentukan karakter yang baik.
MENGHADAPI FENOMENA FLEXING CULTURE: KAJIAN INTERPRETATIF BERDASARKAN AMSAL 11:28 Aska Aprilano Pattinaja; Farel Yosua Sualang
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 6, No 2 (2026): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v6i2.308

Abstract

Budaya flexing merupakan fenomena masa kini yang sementara berkembang di mana banyak anak muda sampai orang tua, dapat terjebak dalam trend ini. Sebagian besar perilaku flexing sangat berorientasi kepada memamerkan kekayaan secara berlebihan, bahkan ada orang yang sengaja membuat pencitraan agar terlihat kaya. Menariknya Amsal 11:28 secara jelas telah menulis tentang karakter yang mempercayakan diri kepada kekayaan akan berakibat kepada konsekuensi yang dialami, yakni mengalami kejatuhan. Pola karakter-konsekuensi merupakan pola struktur yang ada di dalam kitab Amsal yang memperhatikan adanya karakter yang dilakukan sehingga menghasilkan konsekuensi yang diterima. Belum ada penelitian yang membahas secara khusus tentang hal ini. Karena itulah, artikel ini akan membahas tentang bagaimana menghadapi gempuran budaya flexing berdasarkan peringatan Firman Tuhan lewat analisa pola perkataan karakter-konsekuensi dalam Amsal 11:28 dengan menggunakan metode kualitatif dengan sub interpretative design khususnya hermeneutika sastra hikmat. Penelitian ini menemukan bahwa pertama, mempercayakan diri kepada kekayaan adalah hal yang bodoh dan membawa kepada kejatuhan; kedua, kekayaan tidak bisa menjamin keberlangsungan hidup seseorang tetap baik dan tenteram; dan ketiga, menjadi orang benar (menaruh kepercayaan hanya kepada Tuhan) adalah kunci dari keberhasilan dan kesuksesan. Hasil penelitian ini menjadi peringatan bagi siapa saja yang mau hidup dalam budaya flexing sehingga terhindar dari kejatuhan. The flexing culture is a growing contemporary phenomenon where many young and old people can get caught up in this trend. Most flexing behaviors are very much oriented towards excessive flaunting of wealth, and some people even deliberately create an image to look rich. Interestingly, Proverbs 11:28 clearly states that the act of trusting in wealth will result in the consequence of experiencing a fall. The action-consequence pattern is a structural pattern in the book of Proverbs that takes into account actions based on choices and decisions that result in consequences that will be received. There is no research that specifically discusses this. Therefore, this article will discuss how to deal with the onslaught of flexing culture based on the warning of God's Word through analyzing the pattern of action-consequence words in Proverbs 11:28 using qualitative methods with sub interpretative design, especially wisdom literature hermeneutics. This study found that first, trusting in wealth is foolish and leads to downfall; second, wealth cannot guarantee that one's life will remain good and peaceful; and third, being righteous (trusting only in God) is the key to success and success. The results of this study serve as a warning to anyone who wants to live in a flexing culture so as to avoid the fall.