Proverbs 31, functioning as the epilogue of the book, carries a significant instructional dimension, particularly in shaping character. The portrayal of the wise woman (eshet hayil) serves as a concrete example of how a person of wisdom embodies quality character traits. A review of existing literature indicates a research gap: most studies have emphasized ethical values, idealized female morality, or general themes of wisdom literature, yet have not sufficiently examined its didactic dimension. Utilizing a hermeneutical approach appropriate to the wisdom literature sub-genre, this research identifies four pedagogical elements that contribute to character formation: (1) exemplifying and modeling (vv. 15a, 16, 18, 19); (2) providing instruction (v. 15b); (3) imparting teaching and counsel (v. 26); and (4) exercising supervision and evaluation (v. 27). The findings of this study offer a valuable contribution to the process of personal maturation and the cultivation of virtuous character. Amsal 31 sebagai epilog memiliki unsur didaktik yang sangat kuat, khususnya dalam pembentukan karakter. Narasi ini menyajikan perwujudan kehidupan wanita bijak (eshet hayil) dalam bahasa hikmat sebagai panduan untuk membentuk karakter yang berkualitas. Dalam penelusuran literatur, terdapat kesenjangan penelitian yang terfokus hanya kepada kajian nilai etika, moralitas perempuan ideal, atau aspek literatur hikmat, sementara tidak terlalu mengeksplorasi bagian didaktik ini. Dengan pendekatan hermeneutik yang sesuai dengan subgenre sastra hikmat, maka empat unsur didaktik sebagai pembentuk karakter, adalah pertama, menjadi contoh dan teladan (Ay. 15a, 16, 18, 19), kedua, memberi petunjuk atau instruksi (Ay. 15b); ketiga, memberi pelajaran dan nasihat (Ay. 26); dan keempat, melakukan pengawasan dan evaluasi (Ay. 27). Hasil penelitian ini menunjukkan kontribusi signifikan terhadap proses pendewasaan individu dengan menguraikan bagaimana nilai-nilai yang dikaji berperan dalam pembentukan karakter yang baik.