Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Kajian Sosiologi Sastra pada Cerita Rakyat Lingga dan Purba Etnik Batak Toba Sihotang, Alexander; Tampubolon, Flansius; Herlina, Herlina; Sinulingga, Jekmen; Purba, Asriaty R
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini berjudul Kajian Sosiologi Sastra pada Cerita Rakyat Lingga dan Purba. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui unsur intrinsik cerita rakyat Lingga dan Purba, nilai-nilai sosiologi sastra yang terkandung dalam cerita rakyat Lingga dan Purba, dan pandangan masyarakat terhadap cerita rakyat Lingga dan Purba. Cerita Rakyat Lingga dan Purba merupakan salah satu bentuk cerita yang dimiliki masyarakat Batak Toba, tepatnya yang berada di desa Pulo Godang, Kecamatan Pakkat, Kabupaten Humbang Hasundutan. Metode yang digunakan dalam menganalisis masalah penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan teori struktural dan teori sosiologi sastra. Adapun unsur-unsur intrinsik yang ada dalam cerita ini meliputi: tema, alur atau plot, latar atau setting, dan perwatakan atau penokohan. Adapun nilai-nilai sosiologi sastra yang terdapat dalam cerita ini meliputi : Kasih Sayang, Pertentangan, Religi/Kepercayaan, Sistem Mata Pencaharian, Kesehatan, Tolong Menolong, Material, Kesabaran dan Konsekuensi, Kerendahan Hati, dan religius.
Alih Kode Pada Interaksi Jual Beli di Pasar Tradisional Balige Kabupaten Toba Kajian : Sosiolinguistik Pasaribu, Eva; Purba, Asriaty R; Sinulingga, Jekmen; Damanik, Ramlan; Herlina, Herlina
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini berjudul Alih Kode Pada Interaksi Jual-Beli Di Pasar Tradisional Balige Kabupaten Toba: Kajian Sosiolinguistik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis alih kode, fungsi alih kode, dan faktor-faktor terjadinya alih kode dalam interaksi jual-beli di Pasar Tradisional Balige, Kabupaten Toba. Teori yang menjadi panduan dalam penelitian ini adalah teori sosiolinguistik yang dikemukakan oleh Suwito. Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Hasil yang ditemukan dari penelitian ini adalah adanya variasi jenis alih kode intern: Alih kode dari bahasa Batak Toba ke bahasa Indonesia. Jenis alih kode ekstern: Alih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Fungsi alih kode meliputi: Untuk menghormati penutur, untuk menegaskan atau meyakinkan suatu hal, untuk membuat percakapan lebih santai. Faktor terjadinya alih kode meliputi: Kehadiran orang ketiga, penutur, perubahan topik pembicaraan, lawan tutur, untuk sekedar bergensi, untuk membangkitkan rasa humor.
Turi-Turian Ultop Si Jonaha Etnik Batak Toba: Kajian Sosiologi Sastra Simamora, Eveline Mangerbang; Sinulingga, Jekmen; Sinaga, Warisman; Herlina, Herlina; Purba, Asriaty R
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul "Turi-Turian Ultop Si Jonaha Etnik Batak Toba: Kajian Sosiologi Sastra." Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan elemen-elemen intrinsik dan nilai-nilai sosiologi sastra dalam cerita "Turi-Turian Ultop Si Jonaha." Teori yang digunakan adalah teori sosiologi sastra dari) (Ratna, 2004), dengan metode penelitian kualitatif deskriptif yang diuraikan oleh (Sugiyono, 2012).Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa unsur-unsur intrinsik dalam cerita ini mencakup tema utama tentang tipu daya dan kelicikan, yang direpresentasikan oleh tokoh Jonaha yang menggunakan kecerdikannya untuk menipu orang lain demi keuntungannya sendiri. Alur cerita bergerak maju secara kronologis, mulai dari pengenalan karakter, mencapai puncak cerita dengan peristiwa sumpit sakti, dan berakhir dengan resolusi yang menegaskan tema utama. Latar cerita yang beragam, seperti rumah Jonaha, arena judi, dan hutan, memberikan konteks yang memperkaya perkembangan plot dan karakter. Karakter-karakter seperti Jonaha, istrinya, Parenggabulu, dan Sobur, memperlihatkan konflik internal yang memperdalam narasi. Cerita ini disampaikan dari sudut pandang orang ketiga serba tahu, yang memungkinkan pemahaman mendalam terhadap kompleksitas karakter dan alur cerita secara keseluruhan. Pesan moral dari cerita ini menekankan bahwa kecerdikan dan strategi berpikir Jonaha dapat membantu menghadapi situasi sulit, meskipun tidak selalu dengan cara yang etis. Namun, pengalaman Jonaha juga mengingatkan kita akan dampak negatif dari kebohongan, yang dapat merusak kepercayaan dan hubungan sosial. Selain itu, analisis sosiologi sastra dalam penelitian ini mengungkapkan nilai-nilai sosial, sistem nilai ide, dan alat budaya sosial dalam masyarakat Batak Toba yang tercermin dalam cerita tersebut.
Pembelajaran Aksara Batak Toba melalui Huling-Huling Ansa sebagai Pembentukan Karakter Sagala, Erosima; Sinaga, Warisman; Purba, Asriaty R; Sinulingga, Jekmen; Herlina, Herlina
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini berjudul Pembelajaran Aksara Batak Toba Melalui Huling-huling Ansa Sebagai Pembentukan Karakter. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan model pembelajaran Aksara Batak Toba melalui huling-huling ansa sebagai pembentukan karakter dan menjelaskan nilai-nilai karakter yang terdapat dalam pembelajaran aksara Batak Toba melalui huling-huling ansa sebagai pembentukan karakter. Teori yang digunakan dalam menganalisis data pada penelitian ini ada dua yaitu teori pembelajaran konstrukstivisme yang dikemukakan oleh Sigit Mangun Wardoyo dan teori kearifan lokal yang dikemukakan oleh Robert Sibarani. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Pada penelitian ini ditemukan hasil metode pembelajaran yang digunakan yaitu menggunakan metode pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) melalui pendekatan huling-huling ansa, dan melaksanakan tujuh komponen sebelum memulai kegiatan pembelajaran, yaitu: konstrukstivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi dan pemodelan nyata. Selain itu, enam langkah-langkah yang diterapkan yaitu: tahap pengenalan, tahap pengaitan, tahap penafsiran, tahap implementasi, tahap refleksi ,dan tahap evaluasi. Selanjutnya ditemukan nilai-nilai karakter yang terdapat pada pembelajaran, yaitu: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan tanggung jawab.
Gorga Ruma Bolon Batak Toba di Kecamatan Sigumpar Kajian: Semiotika Simangungsong, Depi; Damanik, Ramlan; Herlina, Herlina; Sinulingga, Jekmen; Purba, Asriaty R
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini diberi judul ``Gorga Ruma Bolon Batak Toba di Kecamatan Sigumpar, Kajian Semiotika''. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagian-bagian Ruma Bolon, jenis-jenis Gorga, bentuk Gorga, fungsi dan makna Gorga pada masyarakat Batak Toba. Teori yang digunakan untuk analisis adalah semiotika.(Charles Sanders Peire) menggemukakan Semiotika adalah cabang ilmu yang mempelajari tentang tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku pada pengguna tanda. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Ada 12 bagian ruma bolon di Kecamatan Sigumpar. yaitu batu ojahan atau pondasi rumah, bahasi atau tiang rumah, rasang, balatuk atau tangga, jendela rumah, bara atau kolong rumah. sokkor, tartaring atau tempat masak, lantai rumah, dinding ruma bolon, pintu ruma bolon, dan atap ruma bolon, 2) terdapat 17 gorga beserta fungsi dan maknanya yaitu Gorga Siture -Ture, Gorga Boraspati, Gorga Adop- Adop atau Susu, Gorga Singa Singa, Gorga Ipon Ipon, Gorga Sompi, Gorga Mataniari atau Matahari, Gorga Desa Na Ualu atau delapan penjuru mata angin, Gorga Simarogung-ogung atau Gong, Gorga Ulupaung, Gorga iran-iran, Gorga Silintong, Gorga Sitangan-tangan, Gorga Simeol Eol, Gorga Dalihan Na Tolu, Gorga Gaja Dompak, Gorga jorngom atau jenggar. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Gorga merupakan ukiran atau ukiran tradisional yang biasa terdapat pada dinding luar rumah atau pada rumah adat atau disebut juga Gorga yang menjelaskan tentang bentuk, fungsi dan makna Gorga Ruma bolon. Hal ini menandakan mengandung unsur mistis. Terletak di Kecamatan Sigumpar.
Pengenalan Aksara Batak Simalungun bagi Siswa Sekolah Dasar Negeri 091311 Pargampualan Kecamatan Panombean Panei Kabupaten Simalungun Sinaga, Warisman; Damanik, Ramlan; Sinulingga, Jekmen; Purba, Asriaty R; Tampubolon, Flansius; Herlina, Herlina; Mulyani, Rozanna; Fadlin, Fadlin; Baharuddin, Baharuddin; Sembiring, Sugihana
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aksara Batak Simalungun memiliki bentuk yang unik dan berbeda dari aksara Latin yang biasa digunakan dalam sistem pendidikan nasional. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam membaca serta menulis aksara Batak Simalungun di kalangan generasi muda dapat mengancam keberlangsungan aksara ini. Aksara Batak Simalungun memiliki bentuk yang lebih kompleks dan artistik, dengan garis-garis yang lebih meliuk-liuk dan berpola. Kesan ornamen dan hiasan tampak jelas dalam aksara ini. Aksara ini digunakan dalam naskah-naskah adat, cerita rakyat, dan seni ukir oleh suku Simalungun. Aksara Simalungun hanya memiliki 19 huruf dan harus menggunakan 8 tanda bacanya dalam penulisan. Oleh karena itu, pengenalan dan pembelajaran aksara Batak Simalungun di sekolah dasar sangatlah penting. Kegiatan pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk mengenalkan aksara Batak Simalungun kepada siswa Sekolah Dasar Negeri 091311 Pargampualan., meningkatkan kesadaran siswa akan pentingnya melestarikan warisan budaya lokal., membekali siswa dengan keterampilan dasar membaca dan menulis aksara Batak Simalungun. Kegiatan ini sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Hasil Pengabdian ini yakni terdapat 19 induk surat. Dalam Pelaksanaan Pengabdian ini Mengenalkan Aksara Batak Simalungun kepada Siswa Sekolah Dasar Negeri 091311 Pargampualan, Meningkatkan Kesadaran Siswa Akan Pentingnya Melestarikan Warisan Budaya Lokal, Membekali Siswa dengan Keterampilan Dasar Membaca dan Menulis Aksara Batak Simalungun. Dengan pengabdian inidiharap mendapatkan dukungan dari pihak sekolah serta masyarakat, diharapkan siswa dapat mengenali, memahami, dan mencintai aksara Batak Simalungun sebagai bagian dari identitas mereka. Upaya ini tidak hanya akan memperkaya wawasan budaya siswa, tetapi juga menjaga keberlangsungan aksara Batak Simalungun di masa depan.
Jenis dan Fungsi Oles pada Etnik Batak Pakpak : Kajian Kearifan Lokal Toruan, Khaterine A. Lumban; Sibarani, Robert; Sinulingga, Jekmen; Tampubolon, Flansius; Purba, Asriaty R
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian adalah untuk mendeskripsikan jenis-jenis oles dan kearifan lokal yang terdapat pada setiap oles etnik Batak Pakpak. Teori yang digunakan adalah teori kearifan lokal oleh Robert Sibarani. Metode penelitian yang digunakan ialah metode penelitian kualitatif dengan model interaktif. Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan, terdapat 7 jenis oles pada etnik Batak Pakpak, yakni Oles Perdabaitak, Oles Sorisori Sampur, Oles Pelangpelang, Oles Takaltakal, Oles Perbunga Mbacang, Oles Cumancuman, Oles Sidosdos. Fungsi yang terdapat dalam oles etnik Batak Pakpak antara lain ialah (1).Oles Perdabaitak berfungsi sebagai pemberian berkat dalam bentuk “upah puhun” pada upacara adat merbayo “pernikahan” dan sebagai ucapan terima kasih pada upacara adat males bulung sampula , (2) Oles Sorisori Sampur berfungsi sebagai ucapan terima kasih dalam bentuk “kaing siso siat” pada upacara merbayo “pernikahan” dan sebagai pemberian berkat pada upacara mengrumbang, (3) Oles Pelangpelang berfungsi sebagai pemberian dan ucapan terima kasih dalam bentuk upah turang “ saudara laki-laki perempuan” pada upacara merbayo “pernikahan”, dan ucapan terima kasih dalam bentuk penelangken mbellen “saudara perempuan tertua dari ayah” pada upacara merbayo “pernikahan”, (4). Oles Takaltakal berfungsi sebagai pemberian mas kawin dalam bentuk takal ujuken “pemberian kepada pihak perempuan” pada upacara merbayo “pernikahan”, (5). Oles Perbunga Mbacang berfungsi sebagai ucapan terima kasih dalam bentuk upah mendedah “saudara perempuan dari ayah” pada upacara merbayo “pernikahan”, (6). Oles Cumancuman berfungsi sebagai tanda perpisahan dalam bentuk upah anak manjae pada upacara merbayo “pernikahan”, (7). Oles Sidosdos pemberian berkat dalam bentuk upah empung pada upacara merbayo “pernikahan”. Nilai-nilai Kearifan lokal yang terdapat pada Oles etnik Batak Pakpak ialah kerja keras, kesehatan, amanah, dan rasa syukur.
Deskripsi Sistem Kekerabatan dan Sapaan Pada Etnik Batak Simalungun Sihotang, Kristina; Sinaga, Warisman; Purba, Asriaty R; Sinulingga, Jekmen; Herlina, Herlina
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul " Deskripsi Sistem Kekerabatan dan Sapaan Pada Etnik Batak Simalungun’’. Penelitian ini tertuju pada kerabatan dalaman bentuk sistem kekerabatan dan sapaan, fungsi sistem kekerabatan, dan sapaan, dan makna sistem kekerabatan dan sapaan pada etnik Batak Simalungun. Penelitian ini dianalisis menggunakan teori sosiolinguistik dari Abdul Chaer dengan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk sistem kekerabtan pada etnik Batak Simalungun terjadi karena tiga jalur, yakni : (1) tuturan manorus ‘langsung’ (2) tuturan holmouan ‘kelompok’ (3) tuturan natipak ‘kehormatan’. Bentuk sapaan pada etnik Batak simalungun ada 6, yaitu (1) bentuk sapaan dalam hubungan kekerabatan, (2) bentuk sapaan kepada orang yang lebih tua di luar hubungan kerabat, (3) bentuk sapaan sebaya di luar hubungan kerabat, (4) bentuk sapaan kepada orang yang lebih muda, (5) bentuk sapaan kata ganti, dan (6) bentuk sapaan nama marga. Fungsi sistem kekerabatan pada etnik Batak Simalungun, yakni: (1) menentukan peran sosial dan status, (2) regulasi pernikahan dan keluarga, (3) warisan dan keturunan, (4) hubungan sosial, dan (5) identitas budaya. Fungsi sapaan pada etnik Batak Simalungun ada 5, yaitu: (1) memberi perhatian lawan bicara, (2) mempersantun bahasa (3) mempertegas lawan bicara (4) menambah keakraban, dan (5) mempertegas identitas. Makna dari sistem kekerabatan pada etnik Batak Simalungun adalah sebagai landasan utama yang mengatur hubungan sosial, identitas, dan peran individu dalam masyarakat. Makna sapaan pada etnik Batak Simalungun ada 5, yaitu: (1)penegasan hierarki sosial, (2) penghormatan kekerabatan, (3) penerapan etika dan adat, (4) penyesuaian dengan konteks sosial, dan (5) makna budaya dan simbolis.
Leksikon -Leksikon dalam Permainan Tradisional Simalungun : Kajian Ekolinguistik Purba, Asriaty R; Sinaga, Warisman; Sinulingga, Jekmen; Herlina, Herlina; Tampubolon, Flansius
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan leksikon-leksikon yang terdapat dalam permainan tradisional masyarakat Simalungun. Melalui pendekatan ekolinguistik, penelitian ini menganalisis hubungan antara bahasa dan lingkungan sosial budaya masyarakat Simalungun yang tercermin dalam permainan tradisional. Peneltian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak bebas libat cakap dengan teknik lanjutan adalah teknik catat merujuk pada metode yang dikemukakan oleh Sudaryanto ( 1993). Adapun teori yang digunakan adalah teori Chaer yang mengatakan bahwa dalam leksikon terdapat beberapa kelas kata kerja yaitu kata benda,kata sifat dan kata bilangan. Data penelitian diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa leksikon dalam permainan tradisional Simalungun tidak hanya sebatas kata, tetapi juga mengandung nilai-nilai budaya, pengetahuan lokal, dan kearifan lokal masyarakat Simalungun. Hasil penelitian ini ditemukan 29 leksikon dalam 9 permainan tradisional masyarakat Simalungun.
Tindak Tutur Ilokusi dalam Film Ibana Manang Ahu Karya Anak Pakkat: Kajian Pragmatik Simbolon, Marta Enjelina; Tampubolon, Flansius; Sinaga, Warisman; Sinulingga, Jekmen; Purba, Asriaty R
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk Mendeskripsikan bentuk tindak tutur ilokusi yang terdapat pada percakapan dalam film Ibana Manang Ahu karya Anak Pakkat dan Mendeskripsikan fungsi tindak tutur ilokusi dalam film Ibana Manang Ahu karya Anak Pakkat. Metode Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif. Data dalam penelitian ini adalah data tulis yang berupa tuturan-tuturan didalamnya terdapat bentuk dan fungsi tindak tutur ilokusi. Metode simak dalam penelitian ini menggunakan metode lainnya berupa metode atau teknik catat. Berdasarkan hasil penelitian dan hasil analisis dialog maka disimpulkan bahwa penggunaan tindak tutur yang paling dominan adalah tindak tutur direktif dan fungsi paling dominan adalah fungsi meminta dan mengajak. Temuan ini mencerminkan variasi cara karakter berkomunikasi dalam berbagai konteks social dan emosional yang tercermin dalam film, yang memperkaya pemahaman tentang peran tindak tutur dalam kontruksi naratif dan interaksi antartokoh. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa fungsi tindak tutur ilokusi dalam film Ibana Manang Ahu memainkan peran penting dalam menciptakan dinamika percakapan dan pengembangan karakter, serta mengungkap beragam tujuan komunikatif dalam interaksi tokoh-tokoh di dalamnya.