Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

2D Modeling for Structural Flood Mitigation and Normalization with HEC-RAS: A Case Study of Tabelo River Agastya, Dewandha Mas; Kusuma, Rr. Widyawati Tresna; Jayanegara, I Dewa Gede; Yasa, I Wayan; Sulistiyono, Heri
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering Vol. 16 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pengairan.2025.016.02.9

Abstract

Changes in land use for the development of the Mandalika Special Economic Zone (SEZ) have led to increased flooding. A rainfall intensity of 35 mm recorded at the ARR KEK Mandalika station led to a flood event, with a water level reaching 1.2 meters on March 23, 2022. Therefore, a study is needed to determine the flood discharge that affects the Tabelo Watershed and to identify the appropriate structural mitigation measures for flood management. After conducting frequency analysis with Hydrognomon and Generalized Extreme Value (GEV), the flood discharge for the 50, 100, and 200-year return periods was 149.5 m3/s, 162.5 m3/s, and 175.2 m3/s. Structural mitigation by river normalization and levees construction on the Tabelo River was carried out along 1882.5 m at stationing P0 – P101 and 468.5 m at stationing S0 – S30. The levee construction is planned to be 14 m wide for the upstream section, up to the junction, and 16 m wide for the junction to the river mouth. The river levee is designed to be 3.30 meters high and 16 meters wide. The stability of the levee is calculated by considering its stability against overturning, sliding, and reactions from the foundation soil under both normal and seismic conditions. Based on the results of the stability calculations, the safety factor values for stability against shear forces under normal and earthquake conditions were obtained, namely, Fs (3.81 > 2.00) and Fs (1.27 > 1.25).
Pelatihan Identifikasi Potensi Bencana Banjir dan Tanah Longsor di Desa Santong Kecamatan Kayangan Kabupaten Lombok Utara Yasa, I Wayan; Karyawan, I Dewa Made Alit; Jayanegara, I Dewa Gede; Saidah, Humairo; Hasyim; Rohani; Agastya, Dewandha Mas
Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA Vol 8 No 4 (2025): Oktober-Desember 2025
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jpmpi.v8i4.13556

Abstract

Desa Santong merupakan salah satu desa di Kecamatan Kayangan Kabupaten Lombok Utara memiliki potensi sumberdaya alam seperti pertanian, perkebunan dan hutan yang berlimpah. Didukung dengan kondisi topografis yang berbukit dengan suhu yang dingin menjadikan Desa Santong wilayah yang sangat subur dengan tingkat perekonomian masyarakat di atas rata-rata. Demikian pula halnya dengan lokasi Desa Santong yang merupakan kaki gunung Rinjani, Desa Santong juga menjadi salah satu jalur alternatif pavorit yang sering menjadi pilihan bagi pendaki untuk melakukan pendakian ke Gunung Rinjani. Selain potensi yang dimiliki Desa Santong yang strategis bagi masyarakat tersimpan potensi berbagai bencana hidroklimatologi dan geologi. Kondisi wilayah yang didomonasi perbukitan potensi terjadinya tanah longsor sangat besar. Demikian juga dengan intensitas dan frekuensi hujan yang cukup tinggi menjadikan Desa Santong salah satu desa yang memiliki peluang terjadinya bencana banjir cukup besar. Dalam upaya mengurangi dampak dari potensi bencana hidroklimatologi dan tanah longsor sangat penting seluruh masayarakat Desa Santong mempunyai pengetahuan terhadap wilayah rawan bencana serta strategi mengurangi dampak jika terjadi bencana. Pelatihan identifikasi bencana banjir dan tanah longsor merupakan salah satu upaya menambah pengetahuan masyarakat terhadap bencana, termasuk melakukan mitigasi, penyiapan jalur evakuasi serta pemulihan pasca terjadi bencana. Pelatihan dilakukan di Kantor Desa Santong yang diikuti oleh berbagai unsur masyarakat seperti: perangkat Desa, Kadus, Tokoh Masyarakat, Karang Taruna, PKK, Mahasiswa KKN Unram dan kelompok Sadar Wisata (PokDarWis). Besar harapan masyarakat Desa Santong untuk melakukan pendampingan dalam menyiapkan dan memasang tanda-tanda untuk jalur evakuasi dan penentuan titik kumpul jika terjadi bencana.
Simulasi Tanggap Darurat Keruntuhan Bendungan Meninting untuk Meningkatkan Kesiapsiagaan Masyarakat Agastya, Dewandha Mas; Hasyim; Rohani; Pradjoko, Eko; Dewi, Evrianti Syntia; Muhtadi, Muhammad Fauzan
Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA Vol 8 No 4 (2025): Oktober-Desember 2025
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jpmpi.v8i4.13667

Abstract

Bendungan Meninting merupakan infrastruktur strategis yang memiliki potensi risiko tinggi apabila terjadi kegagalan struktur atau keruntuhan. Keruntuhan bendungan dapat mengakibatkan banjir bandang yang berdampak langsung terhadap keselamatan jiwa, kerusakan lingkungan, dan kerugian sosial ekonomi masyarakat di wilayah hilir. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat melalui simulasi tanggap darurat keruntuhan Bendungan Meninting di Kabupaten Lombok Barat. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi tahapan persiapan dan koordinasi dengan pemerintah desa dan BBWS Nusa Tenggara I, sosialisasi kebencanaan kepada masyarakat, pelaksanaan simulasi evakuasi darurat, serta evaluasi pasca kegiatan. Simulasi dilakukan dengan skenario keruntuhan bendungan saat muka air tinggi, melibatkan masyarakat, perangkat desa, relawan dan instansi terkait. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, kuesioner sebelum dan sesudah kegiatan, serta diskusi kelompok terfokus. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat terhadap risiko keruntuhan bendungan, jalur evakuasi, titik kumpul, serta sistem peringatan dini. Masyarakat juga menunjukkan peningkatan respon cepat terhadap sirene peringatan dan kemampuan mengikuti prosedur evakuasi dengan lebih terorganisir. Secara keseluruhan, simulasi tanggap darurat terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi bencana keruntuhan bendungan. Kegiatan ini direkomendasikan untuk dilaksanakan secara berkelanjutan dan terintegrasi dalam program desa Tangguh bencana guna membangun budaya sadar risiko di wilayah terdampak.