Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA BERBASIS KOMUNITAS MELALUI PENDIRIAN BANK SAMPAH Wulandari, Windi; Astuti, Dwi; Werdani, Kusuma Estu; Asyfiradayati, Rezania; Aryani, Ima; Purnamasari, Salsabila; Casimira, Athania Diva; Nindyasari, Jenita Berlian; Muslim, Widya Kusuma
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 2 (2026): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i2.38288

Abstract

Abstrak: Pengelolaan sampah masih menjadi masalah serius di Indonesia, termasuk di Desa Batan, Boyolali. Keterbatasan fasilitas pemilahan dan sistem pengelolaan sampah di tingkat desa menyebabkan masyarakat masih mengelola sampah secara individu melalui pembakaran, penimbunan, atau pembuangan ke sungai yang berdampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mitra dalam pengelolaan sampah rumah tangga secara berkelanjutan melalui pendirian bank sampah. Metode yang digunakan meliputi sosialisasi dengan media powerpoint, Focus Group Discussion (FGD) dan pelatihan praktis. Sasaran dari kegiatan pengabdian ini adalah ibu PKK sebanyak 21 peserta. Evaluasi kegiatan dilakukan dengan membandingkan hasil antara skor pre-test dan post-test sejumlah 10 soal yang disertai dengan observasi selama sesi pelatihan, indikator keberhasilan dilihat dari adanya peningkatan pengetahuan dan pengurus bank sampah bisa menjalankan tahapan pengelolaan bank sampah. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa program ini berhasil meningkatkan pengetahuan pengelolaan sampah dengan rata-rata skor meningkat sebesar 13.45%, bersamaan dengan peningkatan kemampuan mitra dalam mengelola bank sampah sebesar 41%. Pendirian bank sampah dan pelatihan ekoenzim menjadi solusi nyata masyarakat bagi permasalahan sampah di Desa Batan.Abstract: Waste management remains a critical challenge in Indonesia, including in Batan Village, Boyolali. The lack of sorting facilities and village-level management systems has led residents to manage waste individually through burning, burying, or disposing of it into rivers, all of which adversely affect health and the environment. This community service initiative aims to enhance the knowledge and skills of partners in sustainable household waste management through the establishment of a waste bank. The methods employed included socialization using PowerPoint presentations, Focus Group Discussions (FGD), and practical training. The target participants were 21 members of the local Family Welfare Movement (PKK). Activity evaluation was conducted by comparing pre-test and post-test scores via a 10-item questionnaire, supplemented by observations during the training sessions. Success indicators were defined by an increase in knowledge and the ability of the waste bank management team to execute operational stages. Results demonstrate that the program successfully improved waste management knowledge, with average scores increasing by 13.45%, alongside a 41% enhancement in the partners' capacity to manage the waste bank. The establishment of the waste bank and eco-enzyme training serve as tangible solutions for the community to address waste-related issues in Batan Village.
Hubungan persepsi masyarakat terkait ketersediaan fasilitas kesehatan dengan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi banjir Agustin, Salisa Darma; Purnamasari, Salsabila; Kurnia, Sri Indra
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2490

Abstract

Background: Floods are a frequent disaster in Indonesia, particularly in Central Java Province, and impact the health and livelihoods of the community. Kedung Lumbu Village is an area with high flood vulnerability due to its geographic location and dense residential areas. Health facilities play a crucial role in maintaining public safety, while community preparedness influences community responses and actions during disasters. Purpose: To analyze the relationship between the availability of health facilities and community preparedness for flooding. Method: This study used a quantitative design with a cross-sectional approach. A sample of 113 residents living in flood-prone areas of Kedung Lumbu Village was selected using purposive proportional random sampling. Data were collected through a structured questionnaire that measured the availability of health facilities and community preparedness for flooding. Data analysis was performed using the Chi-Square test with a significance level of p < 0.05. Results: The majority of respondents assessed the availability of health facilities as sufficient (53.1%) and community preparedness as ready (54.9%). Bivariate test results showed no significant relationship between the availability of health facilities and community preparedness for flooding (p = 0.122). Conclusion: Community preparedness is more influenced by other factors such as disaster experience, the existence of an early warning system, residential conditions and location, resource availability, and disaster-related knowledge. Suggestion: Future research suggests that community-based education and simulations play a crucial role in shaping community preparedness behavior. Therefore, active community involvement in flood preparedness outreach and training programs needs to be continuously improved.   Keywords: Community Preparedness; Disaster Mitigation; Flood; Health Facilities.   Pendahuluan: Banjir merupakan bencana yang masih sering terjadi di Indonesia, khususnya di Provinsi Jawa Tengah, dan berdampak pada kesehatan serta kehidupan masyarakat. Kelurahan Kedung Lumbu, merupakan wilayah dengan kerentanan banjir yang tinggi akibat kondisi geografis dan kepadatan pemukiman. Fasilitas kesehatan berperan penting dalam menjaga keselamatan masyarakat, sementara kesiapsiagaan masyarakat berpengaruh terhadap respons dan tindakan masyarakat saat bencana terjadi. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara ketersediaan fasilitas kesehatan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi banjir. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 113 warga yang tinggal di wilayah rawan banjir di Kelurahan Kedung Lumbu, yang diambil menggunakan teknik purposive proportional random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner terstruktur yang mengukur ketersediaan fasilitas kesehatan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi banjir. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan p < 0,05. Hasil: Mayoritas responden menilai ketersediaan fasilitas kesehatan berada pada kategori cukup tersedia (53.1%) dan kesiapsiagaan masyarakat berada pada kategori siap (54.9%). Hasil uji bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara ketersediaan fasilitas kesehatan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi banjir (p = 0.122). Simpulan: Kesiapsiagaan masyarakat lebih dipengaruhi oleh faktor lain seperti pengalamaan menghadapi bencana, keberadaan sistem peringatan dini, kondisi dan lokasi tempat tinggal, ketersediaan sumber daya, serta pengetahuan terkait kebencanaan. Saran: Penelitian selanjutnya disarankan untuk memberikan edukasi berbasis komunitas dan pelaksanaan simulasi berperan penting dalam membentuk perilaku kesiapsiagaan masyarakat. Oleh karena itu, keterlibatan masyarakat secara aktif dalam program sosialisasi dan pelatihan kesiapsiagaan menghadapi banjir perlu terus ditingkatkan.   Kata Kunci: Banjir; Fasilitas Kesehatan; Kesiapsiagaan Masyarakat; Mitigasi Bencana.
Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Computer Vision Syndrome pada Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta Khalisha Ramdhani Santoso; Salsabila Purnamasari
JUMANTIK (Jurnal Ilmiah Penelitian Kesehatan) Vol 11, No 1 (2026)
Publisher : Prodi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/jumantik.v11i1.26830

Abstract

Computer Vision Syndrome (CVS) has become a problem of visual discomfort that might impair a person's physical ability, mental health, and quality of life. The symptoms frequently occur due to a variety of inappropriate factors from the individual, environment, and Visual Display Terminal (VDT). Undergraduate students, as a productive age group with a strong link with VDT usage, are at high risk of developing CVS symptoms. This quantitative cross-sectional study aimed to identify factors associated with Computer Vision Syndrome among Public Health students at Universitas Muhammadiyah Surakarta. The sample consisted of students from the classes of 2022, 2023, and 2024, using a purposive proportional sampling method with a total of 230 people. This research used the Computer Vision Syndrome Questionnaire (CVS-Q) as an instrument and found that 73,5% of Public Health students suffered from CVS. The Chi-Square test showed a relationship between refractive errors (p=<0,001), use of glasses (p=<0,001; OR = 4,1), duration of laptop use (p=<0,001), and viewing distance from the laptop (p=0,017; OR = 0,46) with CVS. In this study, contact lens use was not associated with CVS (p=0,360). This study suggests that effective prevention and control measures should be developed to decrease the prevalence of Computer Vision Syndrome (CVS) among these undergraduate students, especially during their academic period.
Analisis Hubungan Work Family Conflict (WFC) dengan Tingkat Stres Kerja pada Guru Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kota Surakarta Masandra Maydiana Putri; Salsabila Purnamasari
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 2 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i2.1496

Abstract

Work Family Conflict (WFC) merupakan kondisi ketika tuntutan pekerjaan dan keluarga saling bertentangan sehingga mengganggu keseimbangan peran individu. Guru Sekolah Luar Biasa (SLB) memiliki risiko tinggi mengalami WFC dan stres kerja karena beban tugas yang kompleks, tuntutan emosional tinggi, serta kebutuhan pendampingan intensif kepada siswa berkebutuhan khusus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara WFC dengan tingkat stres kerja pada guru SLB di Kota Surakarta. Penelitian dilakukan menggunakan desain kuantitatif dan pendekatan cross-sectional dengan populasi 176 guru SLB. Penentuan sampel dihitung menggunakan rumus Lemeshow dengan tingkat kepercayaan 95% sehingga menghasilkan 125 guru SLB yang kemudian dipilih melalui teknik proportional random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner WFCS dan OSI-R, sedangkan analisis hubungan menggunakan uji Chi-Square dengan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar guru SLB mengalami WFC tingkat sedang (75%) dan stres kerja tingkat sedang (70%). Dimensi WFC tertinggi adalah strain-based conflict, sedangkan dimensi stres kerja tertinggi adalah personal resources. Uji Chi-Square menggunakan SPSS version 24 menghasilkan p-value 0,000 (<0,05), yang berarti terdapat hubungan signifikan antara WFC dan stres kerja pada guru SLB. Temuan ini menegaskan pentingnya dukungan institusi, manajemen beban kerja, serta pelatihan pengelolaan emosi dan coping stress untuk menurunkan stres kerja dan meningkatkan kesejahteraan guru SLB di Kota Surakarta.