Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

PEMANFAATAN BISKUIT PMT LOKAL DALAM UPAYA PENANGGULANGAN MASALAH GIZI BURUK DI WILAYAH LAHAN KERING KEPULAUAN ROTE NDAO Intje Picauly; Marselinus Laga Nur; Diana Aipipidely; Grouse Oematan; Mega Liufeto; Welresna Rupiasa
Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Kepulauan Lahan Kering Vol. 3 No. 2 (2022): Volume 3 Nomor 2 Edisi Oktober 2022
Publisher : Pergizi Pangan DPD NTT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51556/jpkmkelaker.v3i2.210

Abstract

Masa balita merupakan periode penting dalam proses pembentukan dan perkembangan manusia yang ditandai dengan tumbuh kembang yang sangat pesat. Periode ini merupakan periode yang kritis bagi anak-anak dimana terjadi pertumbuhan yang akan berpengaruh pada perkembangan periode berikutnya. Kebutuhan zat gizi pada masa ini sangat tinggi untuk mendukung proses pertumbuhan dan perkembangan balita selama kehidupan janin dan 2 tahun pertama setelah lahir. Gizi kurang dan kesehatan yang buruk pada balita selama periode tersebut akan memberikan dampak buruk kehidupan bayi di masa mendatang yang bersifat permanen dan tidak dapat dikoreksi, sehingga diperlukan pemenuhan gizi yang adekuat pada rentang usia ini. Pola asuh ibu dalam mengatur konsumsi pangan keluarga sangat menentukan kecukupan asupan gizi seorang anak. Kegiatan pengabdian ini bertemakan : peningkatan pengetahuan ibu rumah tangga melalui kegiatan pelatihan pengolahan biskuit PMT lokal dalam mendukung upaya preventif masalah gizi buruk di wilayah lahan kering kepulauan Rote Ndao. Kegiatan dilaksanakan di Desa Helebeik Puskesmas Baa Kabupaten Rote Ndao dengan tujuan untuk memberikan dukungan pengetahuan ibu rumah tangga tentang memanfaatkan pangan local menjadi produk biscuit bergizi sebagai makanan selingan kaya gizi. Target atau Sasaran kegiatan ini adalah : Kelompok Ibu hamil dan ibu-ibu yang mempunyai anak balita. Kegiatan dilaksanakan pada 7-8 Oktober 2022 dengan jumlah peserta penyuluhan sebanyak 35 orang ibu (Ibu hamil dan ibu balita). Adapun informasi yang akan diberikan adalah informasi tentang langkah penting dalam menyiapkan makanan selingan yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman dari cemaran mikroba untuk anggota keluarga terutama anak balita. Sehingga, diharapkan dari kegiatan ini semua ibu balita mengetahui cara memilih dan menyiapkan makanan termasuk mengolah biscuit menjadi makanan bergizi bagi keluarga. Metode pelaksanaan kagiatan ini adalah “Penyuluhan Masyarakat” berbentuk penyuluhan yang bertujuan meningkatkan pemahaman dalam bidang kesehatan dan lingkup terkait didalamnya sehingga menyadarkan masyarakat akan pentingnya memelihara kesehatan dan hidup sehat. Menurut Wahjuti (2014) bahwa metode penyuluhan yang dilakukan dengan pendekatan kelompok seperti : Ceramah dan Demonstrasi Cara/Hasil. Hasil yang diperoleh adalah ibu balita dan ibu hamil dapat mengetahui cara mengolah pangan lokal menjadi makanan selingan (biscuit) yang bergizi; terjadinya perubahan pengetahuan, presepsi dan tindakan dari ibu rumah tangga tentang pemanfaatan dan pemberian makanan beragam, bergizi, sehat, dan aman berbasis pangan lokal.
Peningkatan Pengetahuan Gizi Pada Siswa Sekolah Dasar Negeri Tanah Putih Sebagai Upaya Pencegahan Malnutrisi Grouse Oematan; Christin Nabuasa; Eryc Haba Bunga; Grace Maku; Mega Liufeto; Yudishinta Missa
Indonesia Berdaya Vol 4, No 3 (2023)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.2023539

Abstract

Children are an integral part of national development. In the future children will play a role as the next generation of the nation that determines its quality. School-age is a phase where growth and development occur very quickly, to be able to achieve optimal growth and development, an adequate intake of nutrients is necessary. However, the fulfillment of nutrients in this age group is often not properly met. This condition happens because of many factors, one of them is that children have a low level of knowledge and understanding about nutrition. The nutrition counseling activity was attended by 80 students. The activities are effective in increasing children’s knowledge and understanding of the importance of balanced nutrition. If the material was presented in an interesting form, accompanied by animated video, it will increase the enthusiasm of students in receiving information. In addition, the existence of a balanced nutrition pocket book for students helped them to understand the importance of balanced nutrition.
Edukasi Gizi dan Pemberdayaan Masyarakat melalui Kebun Sayur Bersama sebagai Upaya Peningkatan Gizi Keluarga Maku, Grace; Oematan, Grouse; Nabuasa, Christin; Bunga, Eryc Haba; Liufeto, Mega; Missa, Yudishinta
Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol 9 No 1 (2024): Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Universitas Mathla'ul Anwar Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30653/jppm.v9i1.674

Abstract

Rendahnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat mengenai gizi merupakan salah satu penyebab munculnya persoalan gizi dan kesehatan, selain itu minimnya akses terhadap pangan yang sehat dan bergizi juga juga menjadi salah satu pemicu yang ikut andil dalam menambah kompleksitas persoalan gizi di masyarakat. Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan sekaligus memberdayakan masyarakat melalui kebun sayur bersama sehingga mereka memiliki akses yang lebih baik terhadap pangan yang sehat dan bergizi. Metode yang digunakan dalam pengabdian ini adalah penyuluhan dengan ceramah disertai diskusi sementara untuk pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan menginisiasi kebun sayur. Kegiatan ini dipandang sebagai solusi yang efektif untuk mengatasi persoalan rendahnya pengetahuan dan minimnya akses terhadap pangan sehat. Kegiatan penyuluhan gizi yang dilakukan berhasil meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai gizi hal dibuktikan dengan adanya peningkatan pengetahuan gizi setelah dilakukan edukasi, dimana sebelum edukasi mayoritas peserta masih berpengetahuan kurang dan setelah dilakukan edukasi terdapat 26 peserta (87%) yang pengetahuannya meningkat menjadi baik, sementara untuk kebun sayur bersama yang diinisiasi oleh tim pengabdian berhasil sudah dimanfaatkan dengan baik. Kebun sayur bersama ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pangan keluarga, mendatangkan lebih banyak manfaat ekonomi dan sekaligus menjadi kebun percontohan bagi masyarakat yang ada di Desa Tanah Putih. Low public knowledge and understanding of nutrition is one of the causes of the emergence of nutrition and health problems, apart from that, the lack of access to healthy and nutritious food is also one of the triggers that contributes to increasing the complexity of nutritional problems in society. The aim of this service activity is to increase knowledge while empowering the community through community vegetable gardens so that they have better access to healthy and nutritious food. The method used in this service is outreach with lectures accompanied by discussions, while community empowerment is carried out by initiating vegetable gardens. This activity is seen as an effective solution to overcome the problem of low knowledge and minimal access to healthy food. The nutrition education activities carried out succeeded in increasing public knowledge regarding nutrition, which was proven by an increase in nutritional knowledge after the education was carried out, where before the education the majority of participants still had poor knowledge and after the education there were 26 participants (87%) whose knowledge increased to good, while for gardens The shared vegetables initiated by the community service team have been put to good use. It is hoped that this joint vegetable garden can fulfill the family's food needs, bring more economic benefits and at the same time become a demonstration garden for the community in Tanah Putih Village.
THE ANALYSIS OF RISK FACTORS FOR COMPLIANCE WITH CONSUMPTION OF BLOOD SUPPLEMENTING TABLETS IN ADOLESCENT WOMEN AT SMA NEGERI 5 KUPANG Allo, Ariani Alfonsina; Helga J. N Ndun; Mega O. L. Liufeto
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 6 No 3 (2024): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v6i3.240

Abstract

Anaemia is a condition in which the number of red blood cells or the haemoglobin concentration within them is lower than normal. High incidence of anemia in adolescent girls is because there are still many adolescent girls who are not accustomed to consuming iron supplement. The purpose of this study was to determine the risk factors for compliance with iron supplementation consumption among adolescent girls at SMA Negeri 5 Kupang. This was an quantitative study with case-control design. There was total of 64 respondents in this study which consisted of 32 case groups and 32 control groups. The independent variables in this study were knowledge, attitude, iron supplement availability, family support and peer support and the dependent variable was iron supplement consumption compliance. It was then analyzed using Chi Square test and Odds Ratio (OR). It was found that there was an association between knowledge (OR=5.0; CI 95%=1.721-14.705), attitude (OR=3.6; CI 95%=1.292-10.263), family support (OR=5.7; CI 95%=1.868-14.703) and peer support (OR=3.1; CI 95%=1.676-14.025) with TTD consumption compliance. Meanwhile, there was no association between iron supplement availability (p-value 0.060) with iron supplement consumption compliance. Schools need to establish programs related to anemia to help students adhere to taking iron supplement.
Determinan Pengetahuan HIV/AIDS pada Siswa SMA Negeri 1 Kambera Kabupaten Sumba Timur Tahun 2024 Maria Vertiany Zefanya Tulus; Marni, Marni; Mega O. L. Liufeto
SEHATMAS: Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat Vol. 3 No. 4 (2024): Oktober 2024
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/sehatmas.v3i4.3789

Abstract

Human Immunodeficiency Virus (HIV) is a virus that attacks the immune system, resulting in a decrease in the body's ability to fight infection and potentially causing AIDS. This study aims to analyze the determinants that influence knowledge about HIV/AIDS among students of SMA Negeri 1 Kambera, East Sumba Regency, in 2024. Given the increasing cases of HIV/AIDS in Indonesia, a good understanding among adolescents is essential for the prevention of this disease. This method uses quantitative research with a cross sectional approach. The sample consisted of 75 students with the sampling technique using stratified random sampling. The analysis in this study used univariate analysis and bivariate analysis by testing the chi square relationship. The questionnaires distributed included aspects of knowledge, information sources, social, and peer influence related to HIV/AIDS. The results showed a significant relationship between knowledge and information sources (p=0.000), social life (p=0.045), and peer support (p=0.0147). It can be concluded that the factors associated with low HIV/AIDS knowledge include lack of accurate sources of information, social life with minimal open dialog about health issues, and lack of support from peers. This study suggests the need for more effective educational interventions, including counseling programs and awareness campaigns.
Kajian Ukuran Lingkar Kepala Dan Kemampuan Kognitif Anak Dengan Stunting Dan Non Stunting Di Kecamatan Sabu Liae Anjelina, Fordiana; Adu, Apris A.; Liufeto, Mega O.L; Jutomo, Lewi
Jurnal Kesehatan Vol 12 No 2 (2025): Jurnal Kesehatan
Publisher : STIKES Bethesda Yakkum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35913/jk.v12i2.632

Abstract

Stunting merupakan suatu kondisi di mana anak mengalami gangguan pada pertumbuhan, sehingga berdampak pada tidak optimalnya kemampuan kognitifnya dimasa depan. Berdasarkan data EPPGBM Puskesmas Eilogo, prevalensi stunting di Kecamatan Sabu Liae pada tahun 2021 masih terdapat 30,9%. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif, dengan desain case control perbandingan 1:1 sehingga sampel anak balita stunting sebanyak 39 anak demikian anak non stunting juga sebanyak 39 anak. Analisis perbedaan parameter ukuran lingkar kepala menggunakan independent sampel T-test dan uji Mann-Whitney Test untuk menganalisis perbedaan kemampuan kognitif anak stunting dan non stunting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran lingkar kepala anak balita stunting memiliki ukuran yang lebih kecil (46,23 cm) dibandingkan anak balita non stunting yaitu (47,13 cm) dan perbedaan ini berbeda secara signifikan (0,024 < 0,05). Demikian pula perkembangan kognitif anak balita stunting lebih banyak yang terhambat (76,92 %) dibandingkan dengan anak balita non stunting hanya 43,59 %, dan perbedaan ini berbeda secara signifikan (0,003 < 0,05). Kesimpulan yaitu ukuran lingkar kepala anak non stunting lebih besar dibandingkan ukuran lingkar kepala anak stunting, dan perbedaan ini berbeda secara signifikan. Perkembangan kognitif anak balita stunting lebih banyak yang terhambat dibandingkan dengan anak balita non stunting dan perbedaan ini berbeda secara signifikan.
Edukasi Kesehatan Sebagai Upaya Cegah Penyakit Infeksi Pada Anak Oematan, Grouse; Ndoen, Honey; Haba Bunga, Eryc; Maku, Grace; Liufeto, Mega; Missa, Yudishinta; Nabuasa, Christin
Bakti Cendana Vol 6 No 2 (2023): Bakti Cendana: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Timor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32938/bc.6.2.2023.148-154

Abstract

Worms are one of the most common infectious diseases in children. Worm disease is transmitted through food, especially food that has been contaminated with worm eggs. The community service activities are aimed at increasing the knowledge and understanding of school children, as part of an effort to prevent and reduce the prevalence of intestinal worms in children. The service activity begins with distributing pre-test sheets to be filled in by students, this is done to determine the level of students' initial knowledge and understanding of the material to be delivered. Health education efforts are carried out by providing counseling to students regarding clean and healthy lifestyles as well as intestinal worms and prevention efforts. After the counseling was carried out, the team then carried out a post test, to measure students' understanding regarding the material for a clean and healthy lifestyle and intestinal worms. The results of the post test conducted showed an increase in students' knowledge.
Usia dan Postur Tubuh sebagai Determinan Keluhan Subyektif Gangguan Muskuloskeletal Penari Foti Bobouk Jannes Bastian Selly; Nikodemus Umbu Janga Hauwali; Welhelmina Kameo; Herry Fridolin Lalus; Antonius Suban Hali; Mega O. L. Liufeto
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 2 (2024): April-Juni 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15217

Abstract

Foti bobouk dance is a typical dance that is always performed in every event among the Rote tribe. However, the attractive and lively movements of the foti bobouk dance actually carry the risk of musculoskeletal disorders (MSDs) for dancers. This study aimed to analyze the relationship between body posture, age and body mass index with MSDs of foti bobouk dancers. The design of this study was cross-sectional, involving 30 dancers from the Rote tribe who live in Kupang city. The dancers were selected using a purposive sampling technique. The variable measurement instrument was the Rapid Entire Body Assessment (REBA) to assess the level of MSDs risk in dancers due to body posture while dancing and the Nordic Map Questionnaire (NMQ) to identify subjective complaints of MSDs felt after performing the foti bobouk dance movements. Age was measured by filling out a questionnaire and body mass index was measured by measuring body weight and height directly. The collected data were analyzed using the Spearman correlation test. The results showed that the p value for each independent variable was 0.038 for body posture, 0.021 for age and 0.822 for body mass index. It was concluded that age and body posture were determinants of subjective complaints of MSDs of foti bobouk dancers in Kupang City.Keywords: foti bobouk dance; musculoskeletal disorders; body posture; age ABSTRAK Tari foti bobouk merupakan tarian khas yang selalu ditampilkan dalam setiap acara di kalangan masyarakat suku Rote. Meskipun demikian gerak tari foti bobouk yang atraktif dan bersemangat ternyata menyimpan resiko timbulnya keluhan musculoskeletal disorders (MSDs) bagi penari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara postur tubuh, usia dan indeks massa tubuh dengan MSDs penari foti bobouk. Rancangan penelitian ini adalah cross-sectional, yang melibatkan 30 penari dari suku Rote yang berdomisili di kota Kupang. Para penari tersebut dipilih dengan teknik purposive sampling. Instrumen pengukuran variabel adalah Rapid Entire Body Assessment (REBA) untuk menilai tingkat resiko MSDs pada penari akibat postur tubuh saat menari dan Nordic Map Questionnaire (NMQ) untuk mengidentifikasi keluhan subyektif MSDs yang dirasakan setelah melakukan gerak tari foti bobouk. Usia diukur melalui pengisian kuesioner dan indeks massa tubuh diukur melalui pengukuran berat badan dan tinggi badan secara langsung. Data yang telah terkumpul dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai p untuk masing-masing variabel bebas adalah 0,038 untuk postur tubuh, 0,021 untuk usia dan 0,822 untuk indeks massa tubuh. Disimpulkan bahwa usia dan postur tubuh merupakan determinan keluhan subyektif MSDs penari foti bobouk di Kota Kupang.Kata kunci: tari foti bobouk; musculoskeletal disorders; postur tubuh; usia  
Hubungan Pola Asuh Makan dengan Status Gizi Anak Usia Pra-Sekolah di Kelurahan Oesapa Kota Kupang Julian Massardi Mira Mangngi; Marselinus Laga Nur; Mega O. Liufeto
SEHATMAS: Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2025): April 2025
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/sehatmas.v4i2.4032

Abstract

The nutritional status of toddlers can directly be affected by their dietary and health care patterns. The parenting pattern of parents specifically to toddlers needs to be done in earnest to achieve optimal child nutrition status. If the parenting pattern given to the mother to the child is good then the nutritional status of the child will be good too. Based on the Oesapa Health Center report in 2021-2022, the number of malnourished toddlers was 110 and in May 2024 there were 54 malnourished toddlers, 186 undernourished, 1,067 normal nutrition, 47 risk of overnutrition, 12 overnourished and 6 obesity. This study aims to determine the relationship of dietary parenting to the nutritional status of pre-school children in Oesapa Village, Kupang City. This type of research uses quantitative research with a cross sectional research design. The sampling technique in this study used Cluster sampling technique consisting of 79 samples of preschool children. Data analysis was performed using the Sperman Rank statistical test. The results showed a relationship between democratic parenting and nutritional status (0.338) has a moderate relationship, as well as the relationship between authoritarian parenting and nutritional status has a moderate relationship (0.314). However, there is no significant relationship between permissive parenting and nutritional status (0.011) which shows a very weak relationship. Parents are expected to be able to apply democratic parenting to children, especially in pre-school age children because good parenting can have an impact on children's nutritional status.
Kajian Pelaksanaan Program Penanggulangan Tuberkulosis Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Sikumana Kota Kupang Tahun 2022 Arche E.E Taneo; Dominirsep O. Dodo; Mega O.L Liufeto
SEHATMAS: Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2025): April 2025
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/sehatmas.v4i2.4853

Abstract

Tuberculosis (TB) is one of the most dangerous infectious diseases in the world and is among the top ten causes of death globally. This study aims to analyze the implementation of the pulmonary TB control program at the Sikumana Health Center, Kupang City, in 2022. This research employs a descriptive qualitative method through interviews selected based on purposive sampling. The results indicate that in terms of input, human resources and funding are sufficient, but infrastructure remains inadequate. Regarding the process, program planning is conducted by a special team in collaboration with the head of the health center and healthcare workers during a cross-sectoral mini-workshop. The Sikumana Health Center collaborates with sub-district heads, village heads, health cadres, PMOs, and the military (Babinsa) to monitor medication adherence and track TB contact patients. Case detection is carried out actively and passively, with diagnosis conducted through a Molecular Rapid Test (TCM). The treatment follows the 2016 pulmonary TB control guidelines, while recording and reporting activities are done both manually and electronically. The main challenges include treatment dropout due to patient mobility, low public awareness of TB control, limited cross-sectoral involvement, and an increased workload for analysts due to extensive contact tracing. In conclusion, while the program is running well, several obstacles need to be addressed to enhance the effectiveness of pulmonary TB control at the Sikumana Health Center.