Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Representation of Women's Struggle against Violence and Gender Discrimination in the Film “Women from Rote Island” Wulandari, Wulandari; Christine, Anastasya; Reftantia, Ghina; Sartika, Diana Dewi; Saraswati, Erlisa
Saree: Research in Gender Studies Vol. 7 No. 2 (2025): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v7i2.6136

Abstract

ABSTRACT ENGLISH: Film is a mass communication media that combines audio and visual elements to convey messages to a wide audience. As a cultural product, film uniquely represents social realities, shapes public opinion, and serves as a platform for reflecting on various human issues. In the modern era, film has evolved into an effective tool for voicing social criticism and highlighting marginalized issues in public discourse, including violence and gender discrimination. One such film is Women from Rote Island, which focuses on the experiences of women in Eastern Indonesia who face domestic violence and structural discrimination. The film portrays how women fight to uphold their rights and dignity amid strong patriarchal cultural pressures. Through emotional storytelling and symbolic visuals, the film delivers messages of resistance against the injustices experienced by women. This article aims to analyse the representation of women's struggles in Women from Rote Island using Roland Barthes' semiotic theory. This theory is applied to explore the denotative (literal) and connotative (symbolic or cultural) meanings of the signs presented in the film—ranging from imagery, character expressions, and dialogue to setting. The research employs a qualitative method with a descriptive approach, allowing the researcher to interpret the hidden messages and meaning structures constructed by the film. The analysis reveals that this film not only represents the social realities faced by women but also serves as a symbolic resistance to an unjust social system. It succeeds in building audience empathy and encouraging critical awareness of issues related to gender-based violence and discrimination. Thus, film can be seen as an effective alternative medium in voicing women's struggles and advocating for gender equality. ABSTRACT INDONESIAN: Film merupakan salah satu bentuk media komunikasi massa yang menggabungkan elemen audio dan visual untuk menyampaikan pesan. Sebagai produk budaya, film memiliki kemampuan unik dalam merepresentasikan realitas sosial, membentuk opini publik, serta menjadi wadah refleksi terhadap berbagai isu kemanusiaan. Di era modern, film berkembang menjadi alat yang efektif dalam menyuarakan kritik sosial dan mengangkat persoalan-persoalan yang sering kali terpinggirkan dalam wacana publik, termasuk isu kekerasan dan diskriminasi gender. Salah satu film yang mengangkat isu tersebut adalah Women from Rote Island, sebuah film yang berfokus pada pengalaman perempuan di wilayah Timur Indonesia yang menghadapi kekerasan dalam rumah tangga dan diskriminasi struktural. Film ini menggambarkan bagaimana perempuan berjuang mempertahankan hak dan martabatnya di tengah tekanan budaya patriarkis yang kuat. Melalui narasi yang emosional dan visual yang simbolis, film ini menyampaikan pesan-pesan perlawanan terhadap ketidakadilan yang dialami perempuan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis representasi perjuangan perempuan dalam film Women from Rote Island dengan menggunakan teori semiotik Barthes. Teori ini digunakan untuk menggali makna denotatif (makna literal) dan konotatif (makna simbolik atau kultural) dari tanda-tanda yang muncul dalam film, baik berupa gambar, ekspresi tokoh, dialog, maupun latar tempat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, yang memungkinkan peneliti untuk menginterpretasikan pesan-pesan tersembunyi dan struktur makna yang dibangun oleh film. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa film ini tidak hanya merepresentasikan kenyataan sosial yang dihadapi perempuan, tetapi juga menjadi sarana perlawanan simbolik terhadap sistem sosial yang tidak adil. Film ini berhasil membangun empati penonton dan mendorong kesadaran kritis terhadap isu kekerasan dan diskriminasi gender. Dengan demikian, film dapat dilihat sebagai media alternatif yang efektif dalam menyuarakan perjuangan perempuan serta memperjuangkan kesetaraan gender.
Perubahan Sosial dalam Prespektif Wanita: Melawan Patriaki Kontemporer Acintya, Anggie Elma; Ranandityas, Keysha Mutia; Lestari, Gea; Yusnaini, Yusnaini; Reftantia, Ghina; Sari, Kurnia Asni
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i1.26389

Abstract

Perubahan sosial dalam perspektif wanita menjadi kajian yang semakin relevan dalam menyoroti perlawanan terhadap patriarki kontemporer. Studi ini membahas bagaimana perempuan menghadapi dan menantang sistem patriarki yang masih mengakar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan, pekerjaan, dan politik. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini mengeksplorasi pengalaman dan strategi yang digunakan perempuan untuk memperoleh kesetaraan serta meninjau dampak perubahan sosial terhadap peran gender. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun masih terdapat hambatan struktural, kesadaran kolektif dan gerakan feminisme modern telah berkontribusi dalam mempercepat perubahan menuju keadilan gender.
Strategi Berbasis Komunitas dalam Pengelolaan Sub Daerah Aliran Sungai (Sub-DAS) Pusur di Kabupaten Klaten Yuanita Dwi Hapsari; , Deni Aries Kurniawan; Ghina Reftantia; Lisya Septiani Putri; Mallia Hartani
SOSMANIORA: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 3 (2025): September 2025
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/sosmaniora.v4i3.5920

Abstract

Community-based programs and activities aimed at watershed management have been widely promoted and implemented. Social control within the community plays a crucial role in regulating and transforming public behavior in managing rivers. This study aims to explore the strategies employed by community groups in managing the Pusur Sub-Watershed. This research uses a qualitative method with data collected through observation, interviews, and documentation. The results show that the strategies used by the community in managing the Pusur Sub-Watershed include the establishment of conservation field schools through both vegetative methods and the formation of plant cultivation groups in the upstream areas; the Clean River Program (Program Kali Bersih or Prokasih) through optimized waste management via Waste Banks; the River Care Program through the development of river tubing tourism in the midstream area of the Pusur River; environmentally friendly agriculture through agricultural clinics; irrigation management in the downstream area through the formation of the Combined Association of Water-User Farmers (Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air or GP3A); and the emergence of collective actions in managing the Pusur Sub-Watershed through the establishment of the Pusur Institute.
PERUBAHAN SOSIAL EKONOMI DAN EKOLOGI DALAM UPAYA PENGELOLAAN SUB DAERAH ALIRAN SUNGAI PUSUR DI KABUPATEN KLATEN Yuanita Dwi Hapsari; Reftantia, Ghina; Kurniawan , Deni Aries; Masyitoh, Maulida; Rahmawati , Triana
SABANA: Jurnal Sosiologi, Antropologi, dan Budaya Nusantara Vol. 4 No. 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/sabana.v4i2.6104

Abstract

This study examines the social, economic, and ecological transformations in the management of the Pusur Sub-Watershed (Sub DAS) in Klaten Regency, with a focus on the distribution of actor roles and the contribution of local institutional arrangements. The research adopts a qualitative approach, utilizing data collection methods such as observation, in-depth interviews, and documentation across the upstream, midstream, and downstream areas of the sub-watershed. The findings reveal that multi-stakeholder engagement including local communities, regional governments, businesses, and non-governmental organizations has driven significant socio-ecological transformations. Social-institutional changes are evident in the increased collective awareness among residents to establish and participate in river conservation communities, such as the Pusur Institute, which functions as a collaborative platform across actors. Ecologically, improvements are observed through conservation practices in upstream recharge areas, waste reduction through waste banks, eco-friendly agriculture, and river tubing activities, which have transformed the river into both an ecological and recreational asset. Economically, the development of alternative livelihoods such as conservation farming, river tourism, and waste bank initiatives has provided supplementary income for local communities. These findings suggest that Sub-Watershed management based on community participation and strengthened local institutions can serve as an effective strategy for achieving sustainable development at the local level.
Dramaturgi Pada Praktik Sharenting: Peran Orang Tua dalam Membangun Identitas Keluarga Ideal di Sosial Media Hapsari, Yuanita Dwi; Reftantia, Ghina; Rahmawati, Triana; Gunawan, Gunawan; Hendris, Hendris
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 9 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/titian.v9i2.48438

Abstract

The development of digital media has given rise to the phenomenon of sharenting, namely the practice of parents sharing their children’s lives on social media. This activity is not merely an expression of affection but also a social practice that involves identity construction, privacy negotiation, and the potential commodification of children. This study analyzes sharenting through Erving Goffman’s dramaturgical perspective, viewing parents as actors who present an ideal family image on the frontstage while concealing realities in the backstage. The research employs a qualitative approach with a library research strategy, utilizing scholarly articles, academic books, and policy reports. The findings reveal that sharenting serves as a tool of impression management but also generates serious risks such as blurred private–public boundaries, the permanence of digital footprints, the potential for cyberbullying, and commercial exploitation of children. Therefore, sharenting must be understood as a complex phenomenon that demands ethical awareness, clear regulations, and critical reflection from both parents and policymakers. Abstrak Perkembangan media digital memunculkan fenomena sharenting, yakni praktik orang tua membagikan kehidupan anak di media sosial. Aktivitas ini bukan sekadar ekspresi kasih sayang, tetapi juga praktik sosial yang melibatkan konstruksi identitas, negosiasi privasi, dan potensi komodifikasi anak. Penelitian ini menganalisis sharenting melalui perspektif dramaturgi Erving Goffman, dengan melihat orang tua sebagai aktor yang menampilkan citra keluarga ideal di panggung depan sekaligus menyembunyikan realitas di panggung belakang. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi pustaka, memanfaatkan artikel ilmiah, buku akademik, dan laporan kebijakan. Hasil kajian menunjukkan bahwa sharenting berfungsi sebagai sarana manajemen kesan, tetapi juga menimbulkan risiko serius seperti kaburnya batas privat–publik, permanensi jejak digital, potensi cyberbullying, serta eksploitasi komersial anak. Karena itu, sharenting perlu dipahami sebagai fenomena kompleks yang menuntut kesadaran etis, regulasi yang jelas, dan refleksi kritis dari orang tua maupun pemangku kebijakan.
Representation of Women's Struggle against Violence and Gender Discrimination in the Film “Women from Rote Island” Wulandari, Wulandari; Christine, Anastasya; Reftantia, Ghina; Sartika, Diana Dewi; Saraswati, Erlisa
Saree: Research in Gender Studies Vol. 7 No. 2 (2025): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v7i2.6136

Abstract

ABSTRACT ENGLISH: Film is a mass communication media that combines audio and visual elements to convey messages to a wide audience. As a cultural product, film uniquely represents social realities, shapes public opinion, and serves as a platform for reflecting on various human issues. In the modern era, film has evolved into an effective tool for voicing social criticism and highlighting marginalized issues in public discourse, including violence and gender discrimination. One such film is Women from Rote Island, which focuses on the experiences of women in Eastern Indonesia who face domestic violence and structural discrimination. The film portrays how women fight to uphold their rights and dignity amid strong patriarchal cultural pressures. Through emotional storytelling and symbolic visuals, the film delivers messages of resistance against the injustices experienced by women. This article aims to analyse the representation of women's struggles in Women from Rote Island using Roland Barthes' semiotic theory. This theory is applied to explore the denotative (literal) and connotative (symbolic or cultural) meanings of the signs presented in the film—ranging from imagery, character expressions, and dialogue to setting. The research employs a qualitative method with a descriptive approach, allowing the researcher to interpret the hidden messages and meaning structures constructed by the film. The analysis reveals that this film not only represents the social realities faced by women but also serves as a symbolic resistance to an unjust social system. It succeeds in building audience empathy and encouraging critical awareness of issues related to gender-based violence and discrimination. Thus, film can be seen as an effective alternative medium in voicing women's struggles and advocating for gender equality. ABSTRACT INDONESIAN: Film merupakan salah satu bentuk media komunikasi massa yang menggabungkan elemen audio dan visual untuk menyampaikan pesan. Sebagai produk budaya, film memiliki kemampuan unik dalam merepresentasikan realitas sosial, membentuk opini publik, serta menjadi wadah refleksi terhadap berbagai isu kemanusiaan. Di era modern, film berkembang menjadi alat yang efektif dalam menyuarakan kritik sosial dan mengangkat persoalan-persoalan yang sering kali terpinggirkan dalam wacana publik, termasuk isu kekerasan dan diskriminasi gender. Salah satu film yang mengangkat isu tersebut adalah Women from Rote Island, sebuah film yang berfokus pada pengalaman perempuan di wilayah Timur Indonesia yang menghadapi kekerasan dalam rumah tangga dan diskriminasi struktural. Film ini menggambarkan bagaimana perempuan berjuang mempertahankan hak dan martabatnya di tengah tekanan budaya patriarkis yang kuat. Melalui narasi yang emosional dan visual yang simbolis, film ini menyampaikan pesan-pesan perlawanan terhadap ketidakadilan yang dialami perempuan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis representasi perjuangan perempuan dalam film Women from Rote Island dengan menggunakan teori semiotik Barthes. Teori ini digunakan untuk menggali makna denotatif (makna literal) dan konotatif (makna simbolik atau kultural) dari tanda-tanda yang muncul dalam film, baik berupa gambar, ekspresi tokoh, dialog, maupun latar tempat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, yang memungkinkan peneliti untuk menginterpretasikan pesan-pesan tersembunyi dan struktur makna yang dibangun oleh film. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa film ini tidak hanya merepresentasikan kenyataan sosial yang dihadapi perempuan, tetapi juga menjadi sarana perlawanan simbolik terhadap sistem sosial yang tidak adil. Film ini berhasil membangun empati penonton dan mendorong kesadaran kritis terhadap isu kekerasan dan diskriminasi gender. Dengan demikian, film dapat dilihat sebagai media alternatif yang efektif dalam menyuarakan perjuangan perempuan serta memperjuangkan kesetaraan gender.
Bertahan di tengah keterbatasan: studi fenomenologi pemulung di Surabaya Teguh Imami; Deni Aries Kurniawan; Yuanita Dwi Hapsari; Ghina Reftantia; Silvia Annisa
Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi Vol. 14 No. 1 (2025): Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi
Publisher : Departemen Pendidikan Sosiologi FISHIPOL UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/dimensia.v14i1.76751

Abstract

Studi ini bertujuan untuk mendalami pengalaman kaum urban yang menjadi pemulung serta tinggal di atas makam Rangkah Surabaya. Studi kualitatif dengan wawancara mendalam digunakan oleh peneliti untuk mendeskripsikan kehidupan mereka. Studi ini menggunakan teori fenomenologi yang digagas oleh Alfred Schutz. Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa subjek studi memiliki pengalaman hidup dalam kondisi yang serba terbatas ketika berada di desa. Kondisi yang serba terbatas itu menjadi alasan untuk mereka melakukan urbanisasi ke kota Surabaya. Akan tetapi, kehidupan mereka ketika di Surabaya juga tidak lebih baik daripada kondisi sebelumnya, karena ketrampilan dan pendidikan yang kurang memadai"”bahkan harus mengalami tantangan baru berupa stigmatisasi atas pekerjaan mereka sebagai pemulung. Pengalaman yang tidak pernah mereka dapatkan ketika tinggal di desa. Pada akhirnya, di tengah kehidupan yang serba terbatas di kota itu, membuat mereka harus tinggal di makam Rangkah dengan berbagai resiko seperti penggusuran dan penyakit sebagai cara mereka untuk bertahan hidup. This study explores the experiences of urbanites who are scavengers and live above the Rangkah grave in Surabaya. Researchers use qualitative studies with in-depth interviews to describe their lives. This study uses the phenomenological theory initiated by Alfred Schutz. The results of this study show that the study subjects had experience of living in limited conditions when they were in the village. These limited conditions became the reason for them to urbanize to the city of Surabaya. However, their lives in Surabaya were no better than before, due to inadequate skills and education - they even had to experience new challenges in the form of stigmatization of their work as scavengers. An experience they never had when living in the village. In the end, amidst the limited life in the city, they had to live in the cemetery area. 
GIZI DAN BUDAYA: EDUKASI PANGAN LOKAL BERBASIS MASYARAKAT DALAM KARANG ASAM FESTIVAL KABUPATEN MUARA ENIM Putra, Decka Pratama; Yanti, Mery; Randi, Randi; Tresno, Tresno; Sununianti, Vieronica Varbi; Istiqoma, Istiqoma; Reftantia, Ghina
Jurnal AbdiMas Nusa Mandiri Vol. 8 No. 2 (2026): Periode April 2026
Publisher : LPPM Universitas Nusa Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33480/abdimas.v8i2.8226

Abstract

The shift in community consumption patterns toward fast food has led to a decline in the utilization of nutritious local foods. This community service activity aims to provide nutrition education based on a cultural festival to improve nutritional knowledge and increase public interest in consuming healthy local foods in Karang Asam Village, Muara Enim Regency. Academically, this activity contributes to the development of a community service method based on community-based participatory research (CBPR) that integrates aspects of health, culture, and community participation. The method employed a participatory approach with a cultural strategy through the annual Karang Asam Festival (KAF). The intervention was implemented through a Nutrition Education Zone and a Healthy Local Food Innovation Competition involving junior high school students. The evaluation was conducted using a pre-test and post-test design. The results indicate an increase in public interest in consuming healthy local foods, as well as greater awareness of the importance of preserving local food culture. These findings suggest that cultural festivals can serve as an effective medium for nutrition education.
Media Framing Analysis in National News Regarding the Issue of Sending Suspected LGBT Students to Military Barracks Reftantia, Ghina; William, Randy; Prameswari, Ariendra Jamine; Sartika, Diana Dewi; Saraswati, Erlisa; Hapsari, Yuanita Dwi
Saree: Research in Gender Studies Vol. 8 No. 1 (2026): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v8i1.6757

Abstract

This study examines the construction of reality in the online media coverage by Detik.com and Tribunnews.com, from May 2 to 8, 2025 (coverage news period). The coverage focuses on the Regent of Cianjur Regency’s decision to send students alleged to be LGBT to military barracks. Using a qualitative approach and Robert N. Entman's framing analysis method within the constructivist paradigm, this study focuses on four components of framing analysis: problem definition, causal interpretation, moral evaluation, and treatment recommendation. Data were derived in the form of four news stories (two news articles from each media) and were selected purposively to allow for an in-depth analysis of the framing strategies used. The results show that both media frame the issue from different perspectives. The findings suggest that Detik.com constructs its coverage through an informative frame shaped by nationalist ideology and an orientation toward objectivity, while Tribunnews.com frames its reporting by foregrounding moral judgements and controversial aspects. These findings demonstrate that the media not only convey facts but also reconstruct reality according to their respective ideologies and news orientations. This research is significant because the LGBT issue remains a social and political debate in Indonesia, so media framing has been influenced and shaped public opinion, moral perceptions, and the direction of government policy. Thus, by understanding how the media frames this sensitive issue, readers and researchers can be more critical in interpreting information and its impact on the construction of social reality Abstract Indonesian: Penelitian ini menganalisis konstruksi realitas dalam liputan media daring Detik.com dan Tribunnews.com terkait isu pengiriman mahasiswa diduga LGBT ke barak militer oleh Bupati Cianjur dalam kurun waktu 2-8 Mei 2025. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode analisis framing model Robert N. Entman dalam paradigma konstruktivis, penelitian ini berfokus pada empat komponen analisis framing: definisi masalah, interpretasi kausal, evaluasi moral, dan rekomendasi penanganan. Data berupa empat berita (dua artikel berita dari setiap media) dipilih secara purposif untuk memungkinkan analisis mendalam terhadap strategi framing yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua media membingkai isu dari perspektif yang berbeda. Detik.com cenderung menampilkan frame informatif dengan ideologi nasionalis yang menekankan objektivitas, sementara Tribunnews.com menekankan aspek moralitas dan kontroversi. Temuan ini menunjukkan bahwa media tidak hanya menyampaikan fakta, tetapi juga merekonstruksi realitas sesuai dengan ideologi dan orientasi beritanya masing-masing. Penelitian ini penting karena isu LGBT masih menjadi perdebatan sosial dan politik di Indonesia, sehingga pembingkaian media berpotensi memengaruhi opini publik, persepsi moral, dan arah kebijakan pemerintah. Oleh karena itu, dengan memahami bagaimana media membingkai isu-isu sensitif ini, pembaca dan peneliti dapat lebih kritis dalam menafsirkan informasi dan dampaknya terhadap konstruksi realitas sosial.