Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Mengungkap Keindahan Alam Sumatera Utara: Aek Siraisan Muthia Ayyuni Helmi; Rahma Andien Arezsya; Salma Nursyah Billa; Azwa Khalisa Nasution; Resti Andini; Nailah Faizah S Rambe; Nadra Amalia
Journal of Management Education Social Sciences Information and Religion Vol. 3 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/mesir.v3i1.8190

Abstract

Sektor pariwisata saat ini mengalami pergeseran tren menuju pengalaman eksploratif di lokasi yang masih terjaga keasliannya guna memberikan ketenangan psikologis bagi wisatawan. Sumatera Utara memiliki potensi besar dalam tren ini, salah satunya melalui objek wisata Aek Siraisan di Kabupaten Padang Lawas. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan menganalisis secara mendalam potensi wisata alam Aek Siraisan, termasuk aspek keindahan alam dan faktor pendukung pengembangannya. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi, wawancara mendalam, serta studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Aek Siraisan memiliki daya tarik utama berupa karakteristik riparian yang unik dengan aliran air jernih bersuhu rendah yang berasal langsung dari hulu pegunungan Bukit Barisan. Meskipun menghadapi tantangan infrastruktur karena lokasinya yang relatif terpencil, kondisi ini justru membantu menjaga kelestarian ekosistem hutan tropis di sekitarnya dari erosi dan polusi. Keberhasilan pengembangan destinasi ini sangat bergantung pada integrasi antara potensi sumber daya alam, partisipasi masyarakat lokal, dan prinsip konservasi agar nilai estetika orisinalitasnya tetap terjaga. Simpulan penelitian menegaskan bahwa pengungkapan potensi Aek Siraisan merupakan langkah strategi untuk memperkaya peta pariwisata Sumatera Utara sekaligus mendorong pemerataan ekonomi di wilayah selatan melalui sektor pariwisata yang berkelanjutan.
Peranan Cimpa Makanan Khas Karo Dalam Merajut Harmoni Sosial Dalam Kegiatan Adat dan Budaya Masyarakat Karo Taufik Kusuma Panjaitan; Putri Alicya; Syafina Ramadani; Gizka Febrianka; Sarah K Br Regar; Putri Anggini; Nadra Amalia
Journal of Management Education Social Sciences Information and Religion Vol. 3 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/mesir.v3i1.8202

Abstract

Penelitian ini mengkaji peranan Cimpa sebagai makanan khas masyarakat Karo dalam merajut dan mempertahankan harmoni sosial melalui kegiatan adat dan budaya di Tanah Karo, Sumatera Utara. Menggunakan metode studi pustaka, penelitian ini menganalisis berbagai sumber sekunder terkini (2021–2025), termasuk jurnal ilmiah, artikel etnografi, dan laporan pelestarian warisan kuliner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Cimpa bukan sekadar hidangan kuliner, melainkan simbol budaya yang sarat makna filosofis dan fungsi sosial. Proses pembuatan Cimpa, yang melibatkan bahan alami lokal (beras ketan, kelapa parut, gula merah/aren, daun singkut/marasi) dan sering dilakukan secara gotong royong, mencerminkan nilai kesabaran, kerjasama, dan penghormatan terhadap alam serta leluhur. Kelima varian utama Cimpa Unung Unung, Tuang, Matah, Labar, dan Gulamei memiliki perbedaan signifikan dalam komposisi bahan, teknik pembuatan, tekstur, rasa, serta konteks penggunaan dalam acara adat. Cimpa Unung Unung mendominasi pesta besar (Merdang Merdem, pernikahan) sebagai simbol syukur formal; Cimpa Tuang berfungsi praktis untuk pergaulan sehari hari; Cimpa Matah mewakili kemurnian dalam ritual intim; Cimpa Labar menggambarkan ketahanan agraris; sedangkan Cimpa Gulamei menyimbolkan kemanisan hidup yang lembut. Secara sosial, Cimpa berperan sebagai “bahasa bersama” yang memperkuat sistem kekerabatan Rakut Si Telu, memfasilitasi pembagian kebahagiaan, mengurangi potensi konflik, dan membangun solidaritas antarindividu, keluarga, serta komunitas di masyarakat Karo yang multireligius. Cimpa merupakan metafor harmoni sosial masyarakat Karo: manis namun berlapis, tradisional namun adaptif, sederhana namun kaya makna. Pelestarian dan pemahaman mendalam terhadap peran Cimpa bukan hanya upaya menjaga kuliner tradisional, melainkan investasi strategis untuk keberlanjutan harmoni sosial, solidaritas komunal, dan identitas budaya etnis Karo di tengah arus modernisasi dan globalisasi.