Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

IMPLEMENTASI SIKAP 5S (SENYUM, SALAM, SAPA, SOPAN, DAN SANTUN) PADA PEMBELAJARAN PANCASILA DI SDN MANGKUBUMEN WETAN NO. 63 KOTA SURAKARTA Alya Azizah; Herlan Rusnanda; Muhammad Alfin Nurul Akbar; Endrise Septina Rawanoko
JURNAL ILMIAH NUSANTARA Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Nusantara Januari 2026
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jinu.v3i1.7492

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun) dalam Pembelajaran Pancasila di kelas 4 SDN Mangkubumen Wetan No. 63 Kota Surakarta. Budaya 5S merupakan bagian penting dari pembentukan karakter peserta didik yang sejalan dengan tujuan Pendidikan Pancasila dalam Kurikulum Merdeka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi guna memperoleh pemahaman mendalam mengenai penerapan 5S dalam interaksi guru dan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru telah menerapkan pembiasaan 5S melalui keteladanan, penguatan berulang, dan pengkondisian rutin sehingga siswa mulai terbiasa menunjukkan sikap ramah, sopan, dan santun. Penerapan 5S berdampak positif terhadap suasana pembelajaran yang lebih hangat, kondusif, serta mendorong keberanian siswa dalam berdiskusi dan berpartisipasi aktif. Meskipun masih terdapat tantangan berupa ketidakkonsistenan siswa, guru mampu mengatasinya melalui pengingat yang lembut dan strategi pembelajaran kreatif seperti role-play dan permainan. Secara keseluruhan, budaya 5S terbukti mendukung internalisasi nilai-nilai Pancasila dan memperkuat karakter peserta didik dalam konteks pembelajaran dan interaksi sosial di sekolah.
Implementasi Pendidikan Kewarganegaraan dalam Menumbuhkan Identitas Bangsa pada Era Globalisasi: Studi Kasus di SDN Bratan 2 Diva Anang Prasetyo; Pratiwi Uswanas; Theodore Ekyan Prasetyo; Endrise Septina Rawanoko
MUARA PENDIDIKAN : Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan & Sosial Humaniora Vol. 1 No. 4 (2025): MURADIK
Publisher : CV MUARA EDUKASI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64365/muradik.v1i4.128

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) diterapkan dalam upaya menumbuhkan identitas bangsa pada siswa sekolah dasar di era globalisasi, dengan fokus pada studi kasus di SDN Bratan 2. Di tengah masuknya berbagai budaya dan informasi dari luar, siswa sekolah dasar perlu dibekali nilai kebangsaan agar tetap mengenal jati diri sebagai bangsa Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui observasi kegiatan belajar, wawancara dengan guru dan siswa, serta telaah dokumen pembelajaran PKn. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menerapkan nilai-nilai kebangsaan melalui pembelajaran yang dekat dengan kehidupan siswa, diskusi tentang keberagaman, contoh kontekstual, serta keteladanan dalam perilaku. Selain itu, kegiatan sekolah seperti upacara bendera, lagu nasional, dan program berbasis budaya lokal ikut memperkuat identitas bangsa pada siswa. Implementasi PKn ini membantu siswa menumbuhkan cinta tanah air, sikap menghargai perbedaan, dan kesadaran berbangsa.
Social learning in karawitan education: contemporary patterns of cultural transmission in elementary schools of Surakarta Karsono Karsono; Khusnul Mutiara Wardani; Joko Daryanto; Endrise Septina Rawanoko; Deni Zein Tarsidi; Moh. Salimi; Brian Rusty Santosa
Jurnal JPSD (Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar) Vol. 12 No. 2 (2025): November
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26555/jpsd.v12i2.a31644

Abstract

This study explores contemporary patterns of cultural transmission of gamelan among children in Surakarta through the interconnection between formal school learning and community-based learning. Using an ethnopedagogical perspective grounded in Social Learning Theory (Bandura, 1986), the research examines how observation, imitation, modeling, and reinforcement function as interconnected processes in karawitan education. Data were collected through an ethnographic approach that included interviews, observations, and visual documentation by observing extracurricular practices and gamelan learning activities in elementary school programs in Surakarta. The findings show that gamelan learning functions not only as musical instruction but also as a moral enculturation process, where collective practices cultivate social values such as rukun (harmony), gotong royong (cooperation), and tata krama (cultural respect). These findings affirm that the sustainability of Javanese musical heritage depends on active collaboration between schools and local communities, which transforms traditional music into a living pedagogical medium. Integrating traditional arts into formal education can foster mindful, meaningful, and joyful learning, a culturally grounded approach that blends skills, empathy, and collective happiness.
Pelaksanaan Internalisasi Karakter Empati Melalui Pembelajaran Pendidikan Pancasila Sebagai Strategi Pencegahan Perilaku Bullying di Sekolah Dasar Restina Salsabilla Eka Widyawati; Endrise Septina Rawanoko; Karsono Karsono Karsono
Didaktika Dwija Indria Vol 14, No 4 (2026): Didaktika Dwija Indria
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan internalisasi karakter empati melalui pembelajaran pendidikan pancasila untuk mencegah perilaku bullying. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dengan kepala sekolah, guru wali kelas, dan peserta didik serta dokumentasi untuk melengkapi data berupa modul ajar, catatan kegiatan, dan foto. Keabsahan data diuji menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik guna memastikan data yang diperoleh valid. Analisis data dilakukan secara interaktif melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan internalisasi dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu transformasi nilai, transaksi nilai, dan transinternalisasi nilai. Internalisasi karakter empati melalui pembelajaran Pendidikan Pancasila memberikan kontribusi yang baik dalam mengurangi dan mencegah perilaku bullying di sekolah
Analisis Peran Wisata Edukasi Kampus Benteng Pancasila dalam Penguatan Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi. Endrise Septina Rawanoko
Education & Learning Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Medan Resource Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57251/el.v5i2.1800

Abstract

Rendahnya internalisasi nilai Pancasila di kalangan mahasiswa menjadi tantangan bagi pendidikan karakter di perguruan tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran Wisata Edukasi Kampus Benteng Pancasila dalam memperkuat pendidikan karakter mahasiswa. Menggunakan metode kualitatif studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap pengelola, dosen, dan mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan wisata edukasi yang memadukan tur berpemandu, diskusi, penugasan reflektif, dan role-play mampu meningkatkan pemahaman, sikap, dan perilaku mahasiswa terhadap nilai Pancasila. Kesimpulannya, Benteng Pancasila efektif sebagai media pembelajaran kontekstual yang mengintegrasikan unsur kognitif, afektif, dan psikomotor, serta berpotensi menjadi model penguatan pendidikan karakter di perguruan tinggi.
Kampus Benteng Pancasila sebagai Laboratorium Pendidikan Kewarganegaraan: Integrasi Nasionalisme dan Kewargaan Global Deni Zein Tarsidi; Bramastia Bramastia; Leo Agung Sutimin; Winarno Winarno; Djono Djono; Endrise Septina Rawanoko; Andrea Salsalova
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 4 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v4i2.7779

Abstract

Gagasan Kampus Benteng Pancasila berangkat dari pertanyaan yang sederhana namun menentukan: bagaimana kampus dapat menjadi laboratorium Pendidikan Kewarganegaraan yang mampu mengintegrasikan nasionalisme dan kewargaan global tanpa menjadikan keduanya saling meniadakan. Artikel ini bertujuan menjelaskan mekanisme integrasi tersebut melalui desain kualitatif dengan metode studi kasus di Universitas Sebelas Maret. Data dihimpun dari analisis dokumen institusional dan dokumen program, observasi pada ruang serta aktivitas kampus yang berfungsi sebagai simpul nilai, dan wawancara semi-terstruktur dengan civitas akademika (pengelola program, dosen, dan mahasiswa lintas latar). Analisis tematik menunjukkan empat temuan utama: (1) Pancasila bekerja sebagai pengalaman ruang yang menormalisasi perjumpaan lintas identitas; (2) integrasi nilai menguat ketika pembelajaran bergerak melalui pengalaman partisipasi yang disertai refleksi moral; (3) kewargaan global paling bermakna saat berjangkar pada tanggung jawab kebangsaan dan diterjemahkan ke isu-isu publik yang dialami mahasiswa; (4) kualitas dialog dan rasa diakui menjadi prasyarat agar keterlibatan tidak jatuh ke kepatuhan seremonial. Berdasarkan temuan tersebut, artikel ini menawarkan konsep “arena integrasi” sebagai model kerja kampus melalui ruang proyek kewarganegaraan, pengalaman, refleksi, dan dialog dirajut sebagai rangkaian cara untuk membentuk nasionalisme yang matang dan kewargaan global yang membumi. Keterbatasan studi ini terletak pada sifatnya sebagai kasus tunggal dan belum menelusuri dampak jangka panjang, sehingga riset komparatif lintas kampus dan studi longitudinal disarankan untuk menguji ketahanan mekanisme integrasi serta menyusun indikator operasional yang lebih tajam.