Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Membingkai Masa Depan: Konstruksi Sosial Pendidikan Inklusi Melalui Vokasi dalam Membangun Keterampilan Ekonomi Mandiri (Studi di SLBN Purbalingga) Jasmine Husna Nurmaulidya; Tyas Retno Wulan; Shinta Julianti
Journal of Science and Education Research Vol. 5 No. 2 (2026): Journal of Science and Education Research
Publisher : Yayasan Pendidikan Insan Mulia Utan Sumbawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62759/jser.v5i2.467

Abstract

Pendidikan memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta memperluas kesempatan individu untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Bagi penyandang disabilitas, pendidikan vokasi di Sekolah Luar Biasa (SLB) menjadi salah satu strategi untuk mengembangkan keterampilan yang mendukung kemandirian. Rendahnya keterlibatan penyandang disabilitas dalam dunia kerja menunjukkan bahwa lulusan SLB masih menghadapi hambatan dalam proses transisi menuju kehidupan ekonomi mandiri. Penelitian ini bertujuan menganalisis konstruksi sosial pendidikan vokasi dalam membentuk keterampilan ekonomi mandiri siswa di SLBN Purbalingga. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara semi-terstruktur, dan studi pustaka. Informan penelitian ditentukan melalui purposive sampling yang melibatkan guru vokasi, guru kehumasan, siswa, dan orang tua. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman serta diuji melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan vokasi di SLBN Purbalingga terbentuk melalui proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi yang melibatkan sekolah, keluarga, siswa, serta mitra dunia usaha dan dunia industri. Program vokasi tidak hanya mengembangkan keterampilan kerja, tetapi juga membangun nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan identitas kerja siswa. Penguatan kemandirian ekonomi dilakukan melalui pembelajaran berbasis produk bernilai jual, pengalaman memperoleh pendapatan, pelaksanaan PKL, serta kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri. Dengan demikian, pendidikan vokasi di SLBN Purbalingga berfungsi sebagai proses konstruksi sosial yang mendukung terbentuknya kompetensi kerja sekaligus kemandirian ekonomi siswa penyandang disabilitas.
Kerja atau karier: Studi biografi pada strategi musisi DIY dalam menghadapi pilihan kemiskinan di Purwokerto, Jawa Tengah Wiman Rizkidarajat; Arizal Mutahir; Hendri Restuadhi; Shinta Julianti
SOSIOHUMANIORA: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 11 No 1 (2025): February 2025
Publisher : LP2M Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/sosio.v11i1.18061

Abstract

Pemuda selalu memiliki distingsi dalam memilih jenis pekerjaan dan karier untuk melanjutkan lintasan hidupnya. Contoh pilihan tersebut adalah melanjutkan karier sebagai musisi DIY. Dalam praktiknya, pilihan untuk melanjutkan karier di musik DIY seringkali harus dinegosiasikan dengan berbagai hal, mulai dari latar belakang sosial ekonomi pemuda yang mempraktikkannya hingga demografi kota tempat mereka tinggal. Artikel ini bertujuan untuk menyajikan strategi musisi DIY di kota kabupaten, Purwokerto yang terletak di Jawa Tengah. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan biografi. Informan dalam artikel ini adalah 20 orang praktisi musik DIY di Purwokerto yang diwawancarai secara mendalam pada bulan Mei 2023 hingga Mei 2024. Data yang diperoleh kemudian diolah dengan metode critical insider, dan menghasilkan 9 data representasi dari 2 kolektif yang diteliti dalam artikel yaitu Heartcorner Collective dan Voicehell. Temuan artikel ini adalah pilihan kemiskinan disebakan karena dua hal. Pertama kegagalan transisi pendidikan menuju kerja dan kedua keadaan kota yang tidak bisa menyediakan ruang untuk bekerja bagi para pemuda yang memilih menggunakan modal sosialnya sebagai musisi DIY. Keadaan tersebut membuat para pemuda harus menerapkan pemaknaan kerja dan karier dalam praktik bermusik mereka. Hasil dari penelitian adalah terdapatnya strategi yang diterapkan oleh para musisi DIY berupa melakukan juggling work dan menegosiasikan otentisitas DIYnya. Hal tersebut merupakan pilihan paling wajar untuk memisahkan pemaknaan terhadap kerja atau karier terhadap praktik bermusik DIY, sehingga para musisi DIY tetap dapat melanjutkan lintasan hidupnya melalui praktik bermusik DIY.
Vandalism as a Social Expression: A Theoretical Study of the Dynamics of Individual-Public Space Relations in Railway Infrastructure Shinta Julianti; Puri Septiana Nursetiyawati; Frida Nurrahma Masturi; Tissa Silvia; Titi Rahmawati
Deviance Jurnal Kriminologi Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/djk.4254

Abstract

Vandalism on railway infrastructure is not merely understood as destructive behavior but also as a form of social expression that reflects the dynamic relationship between individuals and public space. This article examines vandalism as a socially structured phenomenon rooted in social interaction, environmental conditions, and power inequalities within public transportation spaces. The research method in this study is a theoretical study or systematic literature review with a Qualitative-Analytical approach. The data sources in this study are secondary, including sociology and criminology journals that discuss deviation, vandalism, graffiti, public space, and transportation infrastructure. The analysis employs various sociological perspectives, including Anomie Theory to describe collective frustration and weakened normative control; Social Learning Theory to understand peer group influence and the imitation of deviant behavior; Social Control Theory to explore the weakened social bonds that reduce conformity; Conflict Theory to observe vandalism as a symbolic form of resistance against inequality in public space governance; and Social Ecology Theory to highlight the role of environmental disorganization and lack of surveillance in enabling destructive acts. Based on this theoretical mapping, the article argues that vandalism is a multidimensional social phenomenon that requires a comprehensive approach, incorporating not only legal intervention but also strengthened social attachment, community empowerment, and more inclusive public space planning that is responsive to societal needs. It is hoped that this analysis can provide a more comprehensive understanding of the sociological roots of vandalism on railway assets and formulate practical implications for developing more holistic, community-based, and sustainable prevention strategies beyond merely repressive approaches.
DARI SAMPAH KE ENERGI: ANALISIS POLITICAL ECONOMY DALAM TATA KELOLA WASTE-TO ENERGY DI KABUPATEN BANYUMAS Taufan Bintang Sejati; Dimas Purbo Pambudi; Muhammad Riyan Fitria Ramdlani; Titi Rahmawati; Shinta Julianti
GOVERNANCE: Jurnal Ilmiah Kajian Politik Lokal dan Pembangunan Vol. 13 No. 6 (2026): 2026 Juni
Publisher : Lembaga Kajian Ilmu Sosial dan Politik (LKISPOL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56015/gjikplp.v13i6.905

Abstract

Penelitian ini menganalisis transformasi tata kelola pengelolaan sampah menjadi energi (waste-to-energy) di Kabupaten Banyumas dalam perspektif ekonomi politik. Studi ini berangkat dari pergeseran paradigma pengelolaan sampah dari pendekatan end-of-pipe menuju pendekatan berbasis sumber daya melalui pengembangan refuse derived fuel (RDF) dan sistem berbasis masyarakat. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan analisis kualitatif menggunakan model Miles dan Huberman, yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Banyumas relatif berhasil meningkatkan tingkat pengelolaan sampah hingga lebih dari 70% serta mengurangi timbulan sampah secara signifikan melalui desentralisasi pengelolaan dan pemanfaatan energi alternatif. Namun, transformasi tersebut juga memunculkan dinamika ekonomi politik berupa komodifikasi sampah dan ketimpangan relasi kekuasaan antar aktor, di mana sektor industri sebagai offtaker memiliki posisi dominan dalam rantai nilai RDF. Selain itu, distribusi manfaat ekonomi cenderung tidak merata, sementara masyarakat masih menanggung sebagian beban lingkungan. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan waste-to-energy tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis, tetapi juga oleh kualitas tata kelola dan keadilan sosial. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kapasitas kelembagaan, diversifikasi pasar energi, serta pendekatan kebijakan yang lebih inklusif untuk memastikan keberlanjutan sistem pengelolaan sampah berbasis energi.