Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Interpretation of Tawhid Rububiyah in the Qur'an Surah Al-Fatihah: Study of Tafsir Ijmali Muhammad Firman; Muhammad Frandika; Zulkifli; Edi Hermanto
Aslim: Journal of Education and Islamic Studies Vol. 1 No. 3 (2024)
Publisher : Konsultan Jurnal Ilmiah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Surah Al-Fatihah, as the opening of the Al-Quran, contains a deep meaning that covers various aspects of faith, including Tauhid Rububiyah. This research aims to explore the interpretation of Tauhid Rububiyah in Surah Al-Fatihah using the ijmali interpretation methodology. Through analysis of the verses of Al-Fatihah, especially the second verse, "الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ" (Praise be to Allah, the Lord of the worlds), this research reveals the meaning of the oneness of Allah as the Creator and Sustainer of the universe. This research also considers various perspectives from ulama in interpreting Tauhid Rububiyah in the context of Al-Fatihah. This research found that Surah Al-Fatihah explicitly emphasizes the oneness of Allah as Rabb, who has absolute power over everything. This is connected with various internal and external evidence, including other verses in the Koran and the hadith of the Prophet. The importance of understanding Tauhid Rububiyah through Surah Al-Fatihah lies in its practical implications in life. This encourages Muslims to recognize the oneness of Allah as Creator and Sustainer, thereby giving rise to feelings of gratitude, submission and obedience to Him. It is hoped that this research can contribute to a deeper understanding of Tauhid Rububiyah and its relevance in everyday life.
Keadilan sosial dalam perspektif Alquran dan Pancasila Jamiah, Khoiriatal; Edi Hermanto; Reyhan Febriansyah; Wahyu Perdana
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v9i1.4278

Abstract

Social justice has always been the most significant component in determining the orientation and objectives of social life. Issues frequently arise in relation to social discrepancies initiated by ensuing injustices, this further instigates crucial tension among groups, particularly in the field of economic welfare. As a unitary state, Indonesia has high aspirations of accomplishing life goals that rise up from the spirit ideology of Pancasila. As an ideology, Pancasila is not an objective, it functions as a means of achieving an objective. The objective of such mutual perspective of life is nothing but the creation of a developed, prosperous, and wealthy society in which it is embodied in the spirit of social justice. This study attempts to uncover substantial matters pertaining to the concept of social justice according to Al-Qur’an and Pancasila, wherein both are inseparable from the spirit of the Indonesian community in a broad sense. As a Muslim living in Indonesia, Al-Qur’an and Pancasila have become indivisible. They serve as a foundation and guidance in attaining a wealthy and prosperous life. In this context, I try to find the point of agreement on the concept of social justice between Al-Qur’an and Pancasila in order to find similarities or harmony between the two. My aim is to synergize the power of religion and the power of state ideology in order to easily accomplish the objectives and aspirations of civil society.   [Keadilan sosial selalu menjadi komponen paling signifikan dalam menentukan orientasi dan tujuan kehidupan sosial. Isu-isu sering muncul terkait dengan kesenjangan sosial yang diawali oleh ketidakadilan berikutnya, hal ini selanjutnya memicu ketegangan krusial di antara kelompok-kelompok, khususnya di bidang kesejahteraan ekonomi. Sebagai negara kesatuan, Indonesia memiliki aspirasi tinggi untuk mencapai tujuan hidup yang muncul dari semangat ideologi Pancasila. Sebagai sebuah ideologi, Pancasila bukanlah tujuan, ia berfungsi sebagai sarana untuk mencapai suatu tujuan. Tujuan dari perspektif kehidupan bersama tersebut tidak lain adalah terciptanya masyarakat yang maju, sejahtera, dan kaya yang di dalamnya terwujud dalam semangat keadilan sosial. Penelitian ini mencoba untuk mengungkap hal-hal substansial yang berkaitan dengan konsep keadilan sosial menurut Alquran dan Pancasila, di mana keduanya tidak dapat dipisahkan dari semangat masyarakat Indonesia dalam arti luas. Sebagai seorang Muslim yang tinggal di Indonesia, Alquran dan Pancasila telah menjadi tidak terpisahkan. Mereka berfungsi sebagai landasan dan pedoman dalam mencapai kehidupan yang kaya dan sejahtera. Dalam konteks ini, saya mencoba menemukan titik temu mengenai konsep keadilan sosial antara Al-Qur'an dan Pancasila untuk menemukan persamaan atau keselarasan di antara keduanya. Tujuan saya adalah mensinergikan kekuatan agama dan kekuatan ideologi negara agar tujuan dan aspirasi masyarakat sipil dapat tercapai dengan mudah.]
Harmoni Penciptaan Manusia: Kajian Al-Qur'an dan Sains dalam Prespektif Ilmiah dan Spritual Basril, Naili Amaliyah; Mahrunnisa; Mely Septi Wafer; Zulaika; Edi Hermanto
Journal Hub for Humanities and Social Science Vol. 2 No. 1 (2025): 2025: January - June
Publisher : Yayasan Masjid Al-Muhajirin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63847/jqfx0463

Abstract

Penelitian ini mengkaji tema penting mengenai penafsiran ayat penciptaan embrio dalam Al-Qur’an, dengan menggunakan metode penelitian library research dan 2 pendekatan tafsir tematik. Ayat ini mencerminkan hubungan antara aspek ilmiah dan makna spritual dalam penciptaan manusia. Penelitian ini menggabungkan aspek ilmiah dengan pengetahuan modern tentang proses penciptaan embrio manusia dan mengeksplorasi bagaimana ayat-ayat tersebut sejalan dengan temuan ilmiah kontemporer. Melalui metode penelitian library research, kami menganalisis berbagai sumber teks tafsir klasik dan kontemporer, serta literatur ilmiah terkait penciptaan embrio. Kami juga menggali makna spritual dari ayat-ayat tersebut, mengenai bagaimana pemahaman penciptaan dapat memperdalam keimanan manusia. Hasil Penelitian ini mengungkapkan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an menggambarkan dengan akurat berbagai tahap penciptaan embrio manusia, yang sesuai dengan temuan ilmiah modern. Lebih dari itu, ayat-ayat ini juga mengundang refleksi spritual yang mendalam tentang kebesaran Allah sebagai penciptaan Maha Kuasa dan hubungan manusia dengan sang pencipta. Penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih holistik tentang penciptaan embrio manusia, menginteragrasikan aspek ilmiah dan spritual. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi yang berharga untuk meningkatkan pemahaman tentang hubungan antara ilmu pengetahuan dan agama, serta menggugah rasa ingin tahu tentang keajaiban alam semesta dan makna spritual kehidupan manusia.
Toxic Dalam Ukhuwah Islamiyah: Belajar Dari Al-Qur'an Cara Membangun Pertemanan Yang Sehat Hudzaifah, M.; Muhammad Nahdan Syabil; Ali Akbar; Edi Hermanto
Journal Hub for Humanities and Social Science Vol. 2 No. 2 (2025): 2025: July - December
Publisher : Yayasan Masjid Al-Muhajirin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63847/nqs04k40

Abstract

Ukhuwah Islamiyah merupakan salah satu pilar penting dalam ajaran Islam yang menekankan nilai persaudaraan dan solidaritas antar sesama Muslim. Namun, dalam praktiknya, tidak semua hubungan pertemanan mencerminkan nilai-nilai luhur tersebut. Fenomena pertemanan yang bersifat toxic justru kerap muncul, yang ditandai dengan perilaku negatif seperti hasad, merendahkan, ghibah, dan memutus silaturahmi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fenomena toxic dalam ukhuwah Islamiyah serta solusi membangun pertemanan yang sehat berdasarkan Al-Qur’an. Metode yang digunakan adalah studi pustaka (library research) dengan pendekatan kualitatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa Al-Qur’an secara tegas melarang perilaku-perilaku yang merusak ukhuwah dan menganjurkan etika sosial yang luhur seperti saling menasihati, memaafkan, serta berteman dengan orang-orang bertakwa. Dengan memahami nilai-nilai ini, umat Islam diharapkan mampu membina pertemanan yang sehat dan sesuai dengan ajaran agama.
Spirit Literasi Ekologi dalam Surah Ali Imran Ayat 190-191: Tafsir, Relevansi, dan Implementasi Untuk Pembangunan Berkelanjutan Edi Hermanto; Wulandari; Rijal Alfaruq; Muhammad Raihan Setiawan; Daud Taqiuddin
Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan Vol. 10 No. 1 (2026): Al-Iman Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan
Publisher : STID Raudlatul Iman Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The environmental crisis is one of the biggest global challenges of the 21st century, with not only ecological but also social and spiritual impacts. Islam, as a comprehensive religion, has profound teachings regarding the relationship between humans and nature, as reflected in Surah Ali Imran verses 190-191, which commands tadabbur of Allah’s creation. This research aims to examine Surah Ali Imran verses 190-191 through classical and contemporary tafsir approaches to explore the values of ecological literacy contained therein, as well as its relevance to sustainable development. The research uses a qualitative method through literature study, with primary sources of the Qur’an and tafsir books, as well as secondary sources of eco-theology literature and global reports. The results show that this verse contains the value of tadabbur nature, recognition that nature is not in vain, ecological spirituality, ethics of balance, and environmental trust. These values are very relevant to support the Sustainable Development Goals (SDGs) agenda. The implementation of these verse-based ecological literacy values can be done through education, da’wah, and social policy. This article concludes that Surah Ali Imran verses 190-191 are important theological foundations for the development of an ecological literacy paradigm in Muslim society. Krisis lingkungan menjadi salah satu tantangan global terbesar abad ke-21, tidak hanya berdampak ekologis tetapi juga sosial dan spiritual. Islam, sebagai agama yang syumul, memiliki ajaran mendalam mengenai relasi manusia dan alam, sebagaimana tercermin dalam Surah Ali Imran ayat 190-191 yang memerintahkan tadabbur terhadap ciptaan Allah. Penelitian ini bertujuan mengkaji Surah Ali Imran ayat 190-191 melalui pendekatan tafsir klasik dan kontemporer untuk menggali nilai-nilai literasi ekologi yang terkandung di dalamnya, serta relevansinya terhadap pembangunan berkelanjutan. Penelitian menggunakan metode kualitatif melalui studi pustaka, dengan sumber primer Al-Qur’an dan kitab tafsir, serta sumber sekunder literatur eco-theology dan laporan global. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayat ini memuat nilai tadabbur alam, pengakuan bahwa alam tidak sia-sia, spiritualitas ekologi, etika keseimbangan, dan amanah lingkungan. Nilai-nilai ini sangat relevan untuk mendukung agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Implementasi nilai-nilai literasi ekologi berbasis ayat ini dapat dilakukan melalui pendidikan, dakwah, dan kebijakan sosial. Artikel ini menyimpulkan bahwa Surah Ali Imran ayat 190-191 merupakan fondasi teologis penting bagi pembangunan paradigma literasi ekologi dalam masyarakat Muslim.
Spirit Literasi Ekologi dalam Surah Ali Imran Ayat 190-191: Tafsir, Relevansi, dan Implementasi Untuk Pembangunan Berkelanjutan Edi Hermanto; Wulandari; Rijal Alfaruq; Muhammad Raihan Setiawan; Daud Taqiuddin
Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan Vol. 10 No. 1 (2026): Al-Iman Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan
Publisher : STID Raudlatul Iman Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The environmental crisis is one of the biggest global challenges of the 21st century, with not only ecological but also social and spiritual impacts. Islam, as a comprehensive religion, has profound teachings regarding the relationship between humans and nature, as reflected in Surah Ali Imran verses 190-191, which commands tadabbur of Allah’s creation. This research aims to examine Surah Ali Imran verses 190-191 through classical and contemporary tafsir approaches to explore the values of ecological literacy contained therein, as well as its relevance to sustainable development. The research uses a qualitative method through literature study, with primary sources of the Qur’an and tafsir books, as well as secondary sources of eco-theology literature and global reports. The results show that this verse contains the value of tadabbur nature, recognition that nature is not in vain, ecological spirituality, ethics of balance, and environmental trust. These values are very relevant to support the Sustainable Development Goals (SDGs) agenda. The implementation of these verse-based ecological literacy values can be done through education, da’wah, and social policy. This article concludes that Surah Ali Imran verses 190-191 are important theological foundations for the development of an ecological literacy paradigm in Muslim society. Krisis lingkungan menjadi salah satu tantangan global terbesar abad ke-21, tidak hanya berdampak ekologis tetapi juga sosial dan spiritual. Islam, sebagai agama yang syumul, memiliki ajaran mendalam mengenai relasi manusia dan alam, sebagaimana tercermin dalam Surah Ali Imran ayat 190-191 yang memerintahkan tadabbur terhadap ciptaan Allah. Penelitian ini bertujuan mengkaji Surah Ali Imran ayat 190-191 melalui pendekatan tafsir klasik dan kontemporer untuk menggali nilai-nilai literasi ekologi yang terkandung di dalamnya, serta relevansinya terhadap pembangunan berkelanjutan. Penelitian menggunakan metode kualitatif melalui studi pustaka, dengan sumber primer Al-Qur’an dan kitab tafsir, serta sumber sekunder literatur eco-theology dan laporan global. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayat ini memuat nilai tadabbur alam, pengakuan bahwa alam tidak sia-sia, spiritualitas ekologi, etika keseimbangan, dan amanah lingkungan. Nilai-nilai ini sangat relevan untuk mendukung agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Implementasi nilai-nilai literasi ekologi berbasis ayat ini dapat dilakukan melalui pendidikan, dakwah, dan kebijakan sosial. Artikel ini menyimpulkan bahwa Surah Ali Imran ayat 190-191 merupakan fondasi teologis penting bagi pembangunan paradigma literasi ekologi dalam masyarakat Muslim.
KEABADIAN SURGA DAN NERAKA DALAM TAFSIR AL-MISBAH:: Relevansinya terhadap Pemahaman Eskatologi Muslim Indonesia Rahmah Hidayati; Ali Akbar; Edi Hermanto; Abd. Ghofur
Nusantara Journal for Southeast Asian Islamic Studies
Publisher : Institute for Southeats Asian Islamic Studies (ISAIS)Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/nusantara.v22i1.39889

Abstract

Konsep keabadian surga dan neraka penting dalam kajian eskatologi Islam, terkait keimanan, amal, dan balasan akhirat. Di Indonesia, pemahaman ini tidak cuma doktrin teologis, tapi juga memengaruhi moral dan perilaku Muslim. Penelitian ini menganalisis Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab dan relevansinya dalam eskatologi Muslim Indonesia, menggunakan pendekatan kualitatif melalui analisis isi dan deskriptif. Hasilnya, M. Quraish Shihab memandang keabadian surga dan neraka sebagai keberlangsungan dan keadilan Allah, bukan hanya kehidupan tanpa akhir. Surga adalah balasan bagi orang beriman dan saleh, neraka sebagai akibat dosa dan penolakan kebenaran. Penafsirannya menyeimbangkan keadilan dan rahmat Allah, membentuk pemahaman eskatologi yang moderat dan kontekstual. Di Indonesia, konsep ini menjadi landasan moral dan kesadaran etis, menyeimbangkan rasa takut azab dan harapan rahmat Tuhan.