Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Ketentuan Qadha dan Qadar dalam Perspektif Al-Quran Surah Al-Ra’d Ayat 8 dan 11 Tiara Patrin; Edi Hermanto; Ali Akbar; Wulan Aryati
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 1 No. 2 (2025): APRIL-JUNI 2025
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/jwstbj95

Abstract

Qadha dan Qadar merupakan bagian fundamental dalam sistem aqidah Islam yang mencerminkan keyakinan terhadap ketetapan dan pengaturan Allah SWT terhadap seluruh aspek kehidupan. Jurnal ini mengkaji makna qadha sebagai ketetapan Allah SWT yang telah ditentukan sejak azali, dan qadar sebagai ukuran dan ketentuan yang berlaku atas setiap peristiwa, baik dalam aspek jasmani maupun ruhani manusia. Melalui penafsiran Surah Ar-Ra'd ayat 8 dan 11, jurnal ini mengungkap bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengatur setiap proses kehidupan manusia, termasuk penciptaan, pertumbuhan janin, perubahan sosial, hingga takdir hidup dan mati. Ayat 8 menekankan ilmu Allah yang sempurna dalam segala ciptaan, sedangkan ayat 11 menyoroti adanya keterkaitan antara kehendak Allah dan usaha manusia dalam meraih perubahan. Kajian ini menunjukkan bahwa keimanan kepada qadha dan qadar tidak meniadakan ikhtiar manusia, melainkan menempatkannya dalam kerangka kehendak dan ilmu Allah SWT yang sempurna. Pemahaman ini memperkuat sikap tawakal, usaha, dan penyerahan diri secara total kepada Allah dalam setiap aspek kehidupan
Al-Qur’an Sebagai Sumber Keajaiban, Mengenal I’jaz dan Kekuasaannya Hilya Mahfuza; Ali Akbar; Edi Hermanto; Suci Maharani
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 1 No. 2 (2025): APRIL-JUNI 2025
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/g1bvhv18

Abstract

Kajian tentang I'jaz dan Mukjizat merupakan bagian penting dalam studi Islam, khususnya dalam memahami keistimewaan al-Qur'ān sebagai wahyu terakhir. I'jaz berasal dari kata a'jaza yang berarti melemahkan, merujuk pada ketidakmampuan manusia untuk menandingi al-Qur'ān. Mukjizat sendiri adalah sesuatu yang luar biasa yang diberikan Allah kepada para nabi sebagai bukti kenabian mereka. Para ulama telah mengemukakan berbagai pandangan mengenai i'jaz, dengan menekankan bahwa keistimewaan al-Qur'ān mencakup aspek bahasa, hukum, ilmu pengetahuan, dan kebenaran berita gaib. Bentuk-bentuk i'jaz dalam al-Qur'ān sangat beragam, termasuk keindahan bahasanya, konsistensi isi, dan kesesuaiannya dengan penemuan ilmiah modern. Seiring perkembangan zaman, muncul pendekatan-pendekatan baru dalam memahami mukjizat al-Qur'ān, tidak hanya dari sisi kebahasaan, tetapi juga melalui pendekatan ilmiah dan kontekstual. Oleh karena itu, penting untuk memperkuat keterkaitan antara kebenaran al-Qur'ān dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), sehingga dapat meningkatkan keimanan dan menjadi landasan dalam membangun peradaban modern.
Toleransi Antar Umat Beragama Dalam Perspektif Al-Quran Ali Akbar; Edi Hermanto; Guslina Siregar; Naila Agnia Ramadhani; Saima Putri Nurfatimah Nst
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 1 No. 2 (2025): APRIL-JUNI 2025
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/5cmvc122

Abstract

In today’s world, characterized by an ever-growing mix of different cultural, religious, and ideological perspectives, it is unavoidable for individuals to engage with one another. This rich diversity serves as a positive force that enhances community bonds and fortifies social cohesion. Nevertheless, religious variances often lead to misunderstandings, strains, and, at times, disputes that threaten fundamental human values. Consequently, it is crucial to reflect on the principles of tolerance highlighted in Islamic teachings, especially those found in the Qur’an. As the sacred text for Muslims, the Qur’an embodies key tenets of tolerance, illustrated in Surah Al-Kafirun verse 6: “To you your religion, and to me mine," alongside Surah Al-Baqarah verse 256: “There is no compulsion in religion.” These passages convey that Islam values religious freedom and recognizes differing beliefs. This spirit of tolerance is not merely theoretical; it was actively demonstrated by the Prophet Muhammad (peace be upon him). Throughout his life, the Prophet coexisted with adherents of other faiths, including Jews and Christians, and fostered harmony through the Charter of Medina, securing the rights and responsibilities of all Medina's inhabitants, irrespective of their faith. In Islam, tolerance does not entail the dilution or merging of beliefs but guides Muslims to uphold their convictions while honoring the faiths of others, fostering a peaceful, just, and harmonious society that is prosperous and civilized.
Interpretation of Tawhid Rububiyah in the Qur'an Surah Al-Fatihah: Study of Tafsir Ijmali Muhammad Firman; Muhammad Frandika; Zulkifli; Edi Hermanto
Aslim: Journal of Education and Islamic Studies Vol. 1 No. 3 (2024)
Publisher : Konsultan Jurnal Ilmiah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Surah Al-Fatihah, as the opening of the Al-Quran, contains a deep meaning that covers various aspects of faith, including Tauhid Rububiyah. This research aims to explore the interpretation of Tauhid Rububiyah in Surah Al-Fatihah using the ijmali interpretation methodology. Through analysis of the verses of Al-Fatihah, especially the second verse, "الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ" (Praise be to Allah, the Lord of the worlds), this research reveals the meaning of the oneness of Allah as the Creator and Sustainer of the universe. This research also considers various perspectives from ulama in interpreting Tauhid Rububiyah in the context of Al-Fatihah. This research found that Surah Al-Fatihah explicitly emphasizes the oneness of Allah as Rabb, who has absolute power over everything. This is connected with various internal and external evidence, including other verses in the Koran and the hadith of the Prophet. The importance of understanding Tauhid Rububiyah through Surah Al-Fatihah lies in its practical implications in life. This encourages Muslims to recognize the oneness of Allah as Creator and Sustainer, thereby giving rise to feelings of gratitude, submission and obedience to Him. It is hoped that this research can contribute to a deeper understanding of Tauhid Rububiyah and its relevance in everyday life.
Keadilan sosial dalam perspektif Alquran dan Pancasila Jamiah, Khoiriatal; Edi Hermanto; Reyhan Febriansyah; Wahyu Perdana
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v9i1.4278

Abstract

Social justice has always been the most significant component in determining the orientation and objectives of social life. Issues frequently arise in relation to social discrepancies initiated by ensuing injustices, this further instigates crucial tension among groups, particularly in the field of economic welfare. As a unitary state, Indonesia has high aspirations of accomplishing life goals that rise up from the spirit ideology of Pancasila. As an ideology, Pancasila is not an objective, it functions as a means of achieving an objective. The objective of such mutual perspective of life is nothing but the creation of a developed, prosperous, and wealthy society in which it is embodied in the spirit of social justice. This study attempts to uncover substantial matters pertaining to the concept of social justice according to Al-Qur’an and Pancasila, wherein both are inseparable from the spirit of the Indonesian community in a broad sense. As a Muslim living in Indonesia, Al-Qur’an and Pancasila have become indivisible. They serve as a foundation and guidance in attaining a wealthy and prosperous life. In this context, I try to find the point of agreement on the concept of social justice between Al-Qur’an and Pancasila in order to find similarities or harmony between the two. My aim is to synergize the power of religion and the power of state ideology in order to easily accomplish the objectives and aspirations of civil society.   [Keadilan sosial selalu menjadi komponen paling signifikan dalam menentukan orientasi dan tujuan kehidupan sosial. Isu-isu sering muncul terkait dengan kesenjangan sosial yang diawali oleh ketidakadilan berikutnya, hal ini selanjutnya memicu ketegangan krusial di antara kelompok-kelompok, khususnya di bidang kesejahteraan ekonomi. Sebagai negara kesatuan, Indonesia memiliki aspirasi tinggi untuk mencapai tujuan hidup yang muncul dari semangat ideologi Pancasila. Sebagai sebuah ideologi, Pancasila bukanlah tujuan, ia berfungsi sebagai sarana untuk mencapai suatu tujuan. Tujuan dari perspektif kehidupan bersama tersebut tidak lain adalah terciptanya masyarakat yang maju, sejahtera, dan kaya yang di dalamnya terwujud dalam semangat keadilan sosial. Penelitian ini mencoba untuk mengungkap hal-hal substansial yang berkaitan dengan konsep keadilan sosial menurut Alquran dan Pancasila, di mana keduanya tidak dapat dipisahkan dari semangat masyarakat Indonesia dalam arti luas. Sebagai seorang Muslim yang tinggal di Indonesia, Alquran dan Pancasila telah menjadi tidak terpisahkan. Mereka berfungsi sebagai landasan dan pedoman dalam mencapai kehidupan yang kaya dan sejahtera. Dalam konteks ini, saya mencoba menemukan titik temu mengenai konsep keadilan sosial antara Al-Qur'an dan Pancasila untuk menemukan persamaan atau keselarasan di antara keduanya. Tujuan saya adalah mensinergikan kekuatan agama dan kekuatan ideologi negara agar tujuan dan aspirasi masyarakat sipil dapat tercapai dengan mudah.]
Harmoni Penciptaan Manusia: Kajian Al-Qur'an dan Sains dalam Prespektif Ilmiah dan Spritual Basril, Naili Amaliyah; Mahrunnisa; Mely Septi Wafer; Zulaika; Edi Hermanto
Journal Hub for Humanities and Social Science Vol. 2 No. 1 (2025): 2025: January - June
Publisher : Yayasan Masjid Al-Muhajirin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63847/jqfx0463

Abstract

Penelitian ini mengkaji tema penting mengenai penafsiran ayat penciptaan embrio dalam Al-Qur’an, dengan menggunakan metode penelitian library research dan 2 pendekatan tafsir tematik. Ayat ini mencerminkan hubungan antara aspek ilmiah dan makna spritual dalam penciptaan manusia. Penelitian ini menggabungkan aspek ilmiah dengan pengetahuan modern tentang proses penciptaan embrio manusia dan mengeksplorasi bagaimana ayat-ayat tersebut sejalan dengan temuan ilmiah kontemporer. Melalui metode penelitian library research, kami menganalisis berbagai sumber teks tafsir klasik dan kontemporer, serta literatur ilmiah terkait penciptaan embrio. Kami juga menggali makna spritual dari ayat-ayat tersebut, mengenai bagaimana pemahaman penciptaan dapat memperdalam keimanan manusia. Hasil Penelitian ini mengungkapkan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an menggambarkan dengan akurat berbagai tahap penciptaan embrio manusia, yang sesuai dengan temuan ilmiah modern. Lebih dari itu, ayat-ayat ini juga mengundang refleksi spritual yang mendalam tentang kebesaran Allah sebagai penciptaan Maha Kuasa dan hubungan manusia dengan sang pencipta. Penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih holistik tentang penciptaan embrio manusia, menginteragrasikan aspek ilmiah dan spritual. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi yang berharga untuk meningkatkan pemahaman tentang hubungan antara ilmu pengetahuan dan agama, serta menggugah rasa ingin tahu tentang keajaiban alam semesta dan makna spritual kehidupan manusia.
Toxic Dalam Ukhuwah Islamiyah: Belajar Dari Al-Qur'an Cara Membangun Pertemanan Yang Sehat Hudzaifah, M.; Muhammad Nahdan Syabil; Ali Akbar; Edi Hermanto
Journal Hub for Humanities and Social Science Vol. 2 No. 2 (2025): 2025: July - December
Publisher : Yayasan Masjid Al-Muhajirin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63847/nqs04k40

Abstract

Ukhuwah Islamiyah merupakan salah satu pilar penting dalam ajaran Islam yang menekankan nilai persaudaraan dan solidaritas antar sesama Muslim. Namun, dalam praktiknya, tidak semua hubungan pertemanan mencerminkan nilai-nilai luhur tersebut. Fenomena pertemanan yang bersifat toxic justru kerap muncul, yang ditandai dengan perilaku negatif seperti hasad, merendahkan, ghibah, dan memutus silaturahmi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fenomena toxic dalam ukhuwah Islamiyah serta solusi membangun pertemanan yang sehat berdasarkan Al-Qur’an. Metode yang digunakan adalah studi pustaka (library research) dengan pendekatan kualitatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa Al-Qur’an secara tegas melarang perilaku-perilaku yang merusak ukhuwah dan menganjurkan etika sosial yang luhur seperti saling menasihati, memaafkan, serta berteman dengan orang-orang bertakwa. Dengan memahami nilai-nilai ini, umat Islam diharapkan mampu membina pertemanan yang sehat dan sesuai dengan ajaran agama.
Peran Zikir dan Doa dalam Mewujudkan Ketenangan Jiwa M. Ali Hanafi; Edi Hermanto; M. Hudzaifah; Muhammad Pasha Al Ghifary
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI-MARET
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/ryk5hz36

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran zikir dan doa dalam mewujudkan ketenangan jiwa berdasarkan perspektif Al-Qur’an, khususnya ayat-ayat dalam Juz 2, serta didukung oleh hadis Nabi saw. dan pandangan para mufasir. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research). Data diperoleh dari Al-Qur’an, hadis, kitab tafsir klasik dan kontemporer, serta literatur keislaman yang relevan. Analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis untuk menafsirkan ayat-ayat tentang zikir dan doa serta mengaitkannya dengan upaya membangun ketenangan jiwa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zikir berfungsi sebagai sarana pengingat Allah yang menumbuhkan ketenangan hati, kesabaran, dan kestabilan emosi, sementara doa menjadi media komunikasi spiritual yang memperkuat harapan, ketergantungan, dan penyerahan diri kepada Allah Swt. Dengan demikian, zikir dan doa tidak hanya bernilai ibadah ritual, tetapi juga memiliki dimensi psikospiritual yang berperan signifikan dalam mewujudkan ketenangan jiwa manusia.
Konsep Infaq Dalam Hukum Islam: Pengertian, Rukun, Etika, Dan Implementasinya Edi Hermanto; Guslina Siregar; Naila Agnia Ramadhani; Saima Putri Nurfatimah Nst
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI-MARET
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/9h4ghg58

Abstract

This study examines the concept of infaq in Islamic law as a spiritual obligation and a social instrument aimed at fostering justice, compassion, and communal welfare. Infaq, derived from the Arabic term anfaqa–yunfiqu–infāqan, refers to the voluntary or obligatory expenditure of wealth for purposes commanded by Allah, encompassing both personal responsibilities such as family support and broader societal needs including poverty alleviation, education, healthcare, and community development. Unlike zakat, infaq is not bound by the requirements of nisab and haul, allowing all Muslims regardless of economic capacity to participate in acts of giving. The Qur’an, particularly in Surah Al-Baqarah 2:261–262, emphasizes that the value of infaq lies not merely in the amount given but in the sincerity, humility, and proper ethics of the giver. Classical exegetes such as Ibn Kathir and Al-Maraghi stress that mann (reminding others of one’s gifts) and adza (hurting the recipient) nullify the spiritual merit of infaq, highlighting the moral dimension of giving.The study outlines the pillars and conditions required for the validity of infaq, including the giver, the recipient, the property being given, and the expression of consent. It further categorizes infaq into permissible, obligatory, prohibited, and recommended forms. Ethical principles include secrecy, empathy, consistency, and giving according to one’s means. The research also discusses the spiritual, social, and economic benefits of infaq, such as purifying the soul, eliminating miserliness, enhancing social solidarity, and promoting economic balance. In the contemporary era, infaq is implemented through humanitarian assistance, education programs, health services, disaster relief, and community empowerment initiatives.
Nifaq Politik : Analisis Konseptual dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis Juanda Yusuf Siregar; Edi Hermanto; Ahmad Fachri Agustian; M. Firman Firdaus; Muhammad Farhan Rozi S
Jurnal Teologi Islam Vol. 2 No. 1 (2026): DESEMBER 2025 - MEI 2026
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/d504v338

Abstract

Political nifaq refers to a form of hypocrisy manifested in the exercise of power, characterized by a discrepancy between moral rhetoric and actual political conduct. In Muslim societies, political nifaq becomes a critical issue as religious symbols and discourse are often exploited to gain public legitimacy. This article aims to examine the concept of political nifaq from the perspectives of the Qur’an and the Prophetic traditions, as well as its implications for Islamic political ethics. This study employs a qualitative library research method with a normativetheological approach, utilizing the Qur’an, hadith, classical exegesis, and Islamic political thought literature as primary sources. The findings indicate that political nifaq constitutes an ethical deviation from Islamic political principles, leading to declining public trust, a crisis of leadership legitimacy, and moral degradation in political life. Therefore, Islam emphasizes honesty, trustworthiness, and consistency between words and actions as fundamental principles for establishing ethical and responsible political practices.
Co-Authors Ahmad Fachri Agustian Ali Akbar Anisa Fitriyani Annida Siregar Basril, Naili Amaliyah Diah Ramadhani Farhan Hidayat Fauzyl, Muhammad Ferdi Hasayangan Dalimunthe Guslina Siregar Harapan Siregar Hilya Mahfuza Hudzaifah, M. Ikrar Hakiki Iqbal Sur Azizi Irpan Saputra Harahap Jamiah, Khoiriatal Juanda Yusuf Siregar Karnila Br Tarigan Khairil Alwi Rambe Kumpulan Harahap M. Ali Hanafi M. Azmi Ubaidillah M. Febri Rahmadiah M. Firman Firdaus M. Hudzaifah M. Ziyan Adabi Mahmud Muda Hasibuan Mahrunnisa Mansuri Hasyim Mely Septi Wafer Mhd. Febrianda Mina Febriani Muhammad Ali Hanafi Muhammad Farhan Rozi Muhammad Farhan Rozi S MUHAMMAD FIRMAN Muhammad Frandika Muhammad Habib Ahasdiandra Muhammad Hasan Maulana Muhammad Nahdan Syabil Muhammad Pasha Al Ghifary Muhammad Syafii Rangkuti Nadhil Al Farizh Naila Agnia Ramadhani Nurul Wulan Giar Fitria Putri Afrilla Rafina Putri Dewi Sholihah Putri Nurshanda Raudatul Ilmi Ray Alhafiz Munthe Restu Trisnawan Reyhan Febriansyah Rheina Fattah Nadenggan Hasibuan Ridhoni Putra Panginra Rijal Alfaruq Rila Apriana Wati Romi Ananda Saima Putri Nurfatimah Nst Salsa Rahma Kumala Salsabila Putri Zalianty Sari’ul Fahmi Sefti Sri Amanda Selly Fitriani Shintya Ramadhani Sindi Nadirah Siska Juliana Putri Siti Nurdianah Sofia Hani Syamsiar, Syamsiar Syiintia Purnama Taufiq Hidayat Safitra Tiara Amalia Nizamuddin Tiara Patrin Vera Seftia Wahyu Perdana Wulan Aryati Zanzabila, Syarifah Mudhia Zaskia Meila Amanda Zazkia Fara Dinda Rahayu Zulaika Zulkifli