Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Relevansi Tafsir Al-Qur'an Terhadap Isu Sosial Kontemporer di Indonesia: Pendekatan Tematik dan Kontribusi Pemikiran Islam Modern Edi Hermanto; Vera Seftia; Siska Juliana Putri; Zazkia Fara Dinda Rahayu
Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan Vol. 9 No. 1 (2025): Al-Iman Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan
Publisher : STID Raudlatul Iman Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research discusses the relevance of Qur'anic tafsir to contemporary social issues in Indonesia with a qualitative approach based on literature study. The main focus is the exploration of thematic-contextual approach, integration of pluralism values, and collaboration with social sciences and humanities. The thematic-contextual approach allows the mufasir to bridge the eternal values of the Qur'an with modern social reality, providing practical solutions to the challenges of social justice, education, and humanitarian solidarity. In the context of pluralism, tafsir plays a strategic role in promoting tolerance, social harmony and preventing extremism, essential for Indonesia's multicultural society. The integration of modern theories, such as social justice and human rights, enriches the dimension of tafsir in addressing social and economic inequality. This research confirms that Qur'anic tafsir is not only a spiritual guide but also a strategic tool to create a more just and inclusive society, despite the challenges of conservatism and low literacy. Penelitian ini membahas relevansi tafsir Al-Qur'an terhadap isu-isu sosial kontemporer di Indonesia dengan pendekatan kualitatif berbasis studi literatur. Fokus utama adalah eksplorasi pendekatan tematik-kontekstual, integrasi nilai pluralisme, dan kolaborasi dengan ilmu sosial serta humaniora. Pendekatan tematik-kontekstual memungkinkan mufasir menjembatani nilai-nilai abadi Al-Qur'an dengan realitas sosial modern, memberikan solusi praktis untuk tantangan keadilan sosial, pendidikan, dan solidaritas kemanusiaan. Dalam konteks pluralisme, tafsir berperan strategis dalam mempromosikan toleransi, harmoni sosial, dan mencegah ekstremisme, penting bagi masyarakat multikultural Indonesia. Integrasi teori modern, seperti keadilan sosial dan hak asasi manusia, memperkaya dimensi tafsir dalam mengatasi ketimpangan sosial dan ekonomi. Penelitian ini menegaskan bahwa tafsir Al-Qur'an bukan hanya panduan spiritual tetapi juga alat strategis untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan inklusif, meski tetap menghadapi tantangan konservatisme dan literasi yang rendah.
Al-Qur’an dan Urgensinya di dalam Kehidupan Manusia Ahmad Fachri Agustian; Muhammad Ali Hanafi; Ali Akbar; Edi Hermanto
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 1 No. 3 (2025): MEI
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/59mb8h94

Abstract

Al-Qur’an berperan sebagai pedoman utama bagi umat manusia; oleh karena itu, maknanya harus dipahami dengan sepenuh hati. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka, dengan mengumpulkan dan menganalisis karya-karya ilmiah yang relevan dengan topik yang dibahas. Tujuannya adalah untuk menjelaskan pentingnya Al-Qur’an bagi umat manusia. Sebagai wahyu ilahi dari Allah SWT yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, Al-Qur’an adalah kitab yang kebenarannya tidak dapat disangkal dan kaya akan petunjuk untuk semua aspek kehidupan. Al-Qur’an merupakan sumber ajaran Islam yang paling esensial dan berfungsi sebagai petunjuk, tidak hanya bagi umat Islam tetapi juga bagi seluruh umat manusia. Al-Qur’an tidak hanya memberikan bimbingan dalam hubungan antara manusia dengan Tuhan, tetapi juga mengatur interaksi antar sesama manusia serta hubungan manusia dengan alam semesta. Memahami Islam secara menyeluruh (kâffah) memerlukan pemahaman mendalam terhadap Al-Qur’an, disertai dengan pengamalan yang tulus dan konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Allah dan Rasul-Nya telah menjamin bahwa siapa pun yang mengikuti petunjuk-Nya tidak akan tersesat. Oleh karena itu, manusia harus tetap teguh dan membiarkan Al-Qur’an membimbing mereka, karena hanya Allah yang benar-benar mengetahui segala sesuatu tentang manusia dan bumi yang Dia ciptakan.
Keajaiban Al-Qur'an yang Terbukti dalam Sains Modern Anisa Fitriyani; Salsa Rahma Kumala; Sindi Nadirah; Ali Akbar; Edi Hermanto
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 1 No. 4 (2025): JULI
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/s7vzhf22

Abstract

Banyak orang percaya bahwa Al-Qur’an tidak berkaitan dengan dunia ilmu pengetahuan, tetapi sebenarnya terdapat banyak ayat yang menunjukkan keselarasan dengan penemuan ilmiah saat ini. Meskipun bukan merupakan buku ilmiah, Al-Qur’an memberikan petunjuk mengenai berbagai bidang ilmu seperti embriologi, kosmologi, dan geologi yang baru sepenuhnya dipahami bertahun-tahun kemudian. Penelitian ini bertujuan untuk memperjelas hubungan antara wahyu dan ilmu pengetahuan, serta menyoroti bahwa keduanya saling melengkapi. Dalam penelitian ini, digunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan literatur serta analisis konten dari sumber sekunder seperti buku, artikel ilmiah, dan jurnal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an mendorong pencarian ilmu dan pengamatan terhadap alam sebagai bagian dari keimanan. Para ilmuwan, seperti Dr. Maurice Bucaille dan Prof. Dr. Zaghloul El-Naggar, mengungkapkan bahwa tidak ada pertentangan antara isi Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan modern. Hal ini semakin menegaskan posisi Al-Qur’an sebagai buku yang memberikan inspirasi dalam aspek spiritual dan intelektual.  
Studi Tentang Tempat dan Waktu Turun Ayat-Ayat atau Surah Al-Qur'an (Makkiah-Madaniah) Raudatul Ilmi; Sefti Sri Amanda; Ali Akbar; Edi Hermanto
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 1 No. 4 (2025): JULI
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/rwz8dz36

Abstract

Kajian mengenai klasifikasi ayat-ayat Al-Qur'an menjadi ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah merupakan salah satu bidang penting dalam studi Ulumul Qur’an. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengertian, kriteria, dan karakteristik dari ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah, serta urgensinya dalam memahami konteks historis, sosial, dan tematik ayat-ayat Al-Qur’an. Dengan menggunakan metode kualitatif kepustakaan, penelitian ini menelaah pendapat para ulama klasik dan kontemporer terkait perbedaan waktu dan tempat turunnya wahyu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klasifikasi Makkiyah dan Madaniyah bukan hanya berdasarkan lokasi geografis, tetapi lebih pada konteks dakwah Rasulullah, yaitu sebelum dan sesudah hijrah ke Madinah. Studi ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam terhadap struktur dan isi Al-Qur’an serta memperkuat metode tafsir tematik dan kontekstual.
Politik dalam Al Qur'an Ikrar Hakiki; Edi Hermanto; Ali Akbar; M. Ziyan Adabi; Ferdi Hasayangan Dalimunthe
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 1 No. 4 (2025): JULI
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/9qcjke66

Abstract

Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam tidak hanya membahas persoalan akidah dan ibadah, namun juga mencakup berbagai aspek kehidupan sosial, termasuk persoalan politik dan pemerintahan. Dalam pandangan Islam, politik bukan sekadar perebutan kekuasaan atau permainan elit, melainkan suatu bentuk amanah besar yang bertujuan mewujudkan keadilan, kesejahteraan, dan kemaslahatan umat. Politik Qur’ani memiliki karakteristik yang khas, karena dibangun di atas nilai-nilai tauhid, keadilan (`adl), musyawarah (syura), tanggung jawab (amanah), dan kepemimpinan yang berorientasi pada pelayanan dan perlindungan terhadap rakyat. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji konsep-konsep dasar politik dalam Al-Qur’an dan bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi pustaka dengan menelaah berbagai ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang politik secara langsung maupun tidak langsung, serta merujuk pada tafsir ulama klasik dan kontemporer. Analisis dilakukan secara tematik terhadap isu-isu sentral seperti kepemimpinan, keadilan hukum, pengambilan keputusan kolektif, serta integritas kekuasaan. Hasil kajian menunjukkan bahwa Al-Qur’an memiliki panduan politik yang integral dan berkelanjutan. Nilai-nilai politik Qur’ani tidak hanya relevan pada masa Nabi Muhammad SAW dan Khulafaur Rasyidin, tetapi juga sangat aplikatif dalam menjawab berbagai tantangan zaman modern seperti krisis moral dalam politik, praktik korupsi, dan sistem pemerintahan yang tidak berpihak pada rakyat.
Perumpamaan dalam Alquran: Analisis Makna dan Fungsi Retoris (Studi atas Al-Baqarah: 17-20) Ali Akbar; Edi Hermanto; Salsabila Putri Zalianty; Selly Fitriani; Rila Apriana Wati
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 1 No. 4 (2025): JULI
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/p7e2wh28

Abstract

Artikel ini ngebahas ayat-ayat Al-Qur’an yang isinya pakai perumpamaan, khususnya di Surah Al-Baqarah ayat 17 sampai 20. Di ayat-ayat itu, Allah ngegambarin keadaan orang-orang munafik lewat dua perumpamaan, yaitu api yang nyala terus mati, dan hujan deras yang disertai petir dan kilat. Lewat gambaran ini, kita bisa lihat gimana orang munafik itu nggak konsisten dalam keimanan—kadang ikut hidayah, tapi langsung mundur pas ada cobaan. Perumpamaan kayak gini bikin pesan yang disampaikan lebih gampang dimengerti dan berasa banget di hati. Artikel ini juga ngejelasin gimana perumpamaan dalam Al-Qur’an punya kekuatan buat ngajak orang mikir, ngerasa, dan ngerti hal-hal spiritual secara lebih dalam. Jadi, perumpamaan di Al-Qur’an tuh bukan cuma buat memperindah bahasa, tapi juga sebagai cara ngajarin yang keren dan dalem banget.    
Muthlaq dan Muqayyad M. Azmi Ubaidillah; Muhammad Farhan Rozi; Ali Akbar; Edi Hermanto
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 1 No. 2 (2025): APRIL-JUNI 2025
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/3des6h35

Abstract

Al-Qur’an merupakan kitab suci yang menjadi petunjuk bagi seluruh umat manusia dalam menjalani kehidupan di muka bumi. Al-Qur’an merupakan kitab dengan keistimewaan dan rahasia yang luar biasa, tak terkecuali jika ditinjau dari segi lafazhnya, seperti persoalan muthlaq dan muqayyad. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan lebih dalam mengenai lafazh muthlaq dan muqayyad dalam Al Qur’an. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research), yaitu memaparkan permasalahan melalui dasar rujukan berupa literatur-literatur terkait muthlaq dan muqayyad. Adapun hasil dan temuan dalam artikel ini dapat dikelompokkan dalam tiga hal. Pertama, makna muthlaq dan muqayyad. Muthlaq diartikan sebagai suatu lafazh yang tidak terikat oleh suatu karakteristik tertentu, sedangkan muqayyad dimaknai sebagai suatu lafazh yang terikat oleh karakteristik tertentu. Kedua, faktor terbentuknya macam-macam muthlaq dan muqayyad. Faktor faktor tersebut terdiri atas empat hal, yaitu: (1) hukum dan sebabnya sama; (2) hukum berbeda, tetapi sebabnya sama; (3) hukumnya sama, tetapi sebabnya berbeda; dan (4) sebab dan hukum yang ada pada muthlaq berbeda dengan sebab serta hukum yang terdapat pada muqayyad. Ketiga, urgensi lafazh muthlaq dan muqayyad. Urgensi yang dimaksud adalah kedua lafazh tersebut sangat penting diteliti agar dapat menentukan dan menetapkan hukum yang sesuai serta tepat terhadap suatu permasalahan, khususnya persoalan syariat, seperti yang tercermin dalam ilmu ushul fiqh. Selain itu, artikel ini juga diharapkan dapat menjadi acuan dalam memahami lafazh Al Qur’an, khususnya pada ayat-ayat yang mengandung nilai hukum, serta bisa menjadi bagian dalam perkembangan studi Ulumul Qur’an dan Ushul Fiqh.  
Ketentuan Qadha dan Qadar dalam Perspektif Al-Quran Surah Al-Ra’d Ayat 8 dan 11 Tiara Patrin; Edi Hermanto; Ali Akbar; Wulan Aryati
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 1 No. 2 (2025): APRIL-JUNI 2025
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/jwstbj95

Abstract

Qadha dan Qadar merupakan bagian fundamental dalam sistem aqidah Islam yang mencerminkan keyakinan terhadap ketetapan dan pengaturan Allah SWT terhadap seluruh aspek kehidupan. Jurnal ini mengkaji makna qadha sebagai ketetapan Allah SWT yang telah ditentukan sejak azali, dan qadar sebagai ukuran dan ketentuan yang berlaku atas setiap peristiwa, baik dalam aspek jasmani maupun ruhani manusia. Melalui penafsiran Surah Ar-Ra'd ayat 8 dan 11, jurnal ini mengungkap bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengatur setiap proses kehidupan manusia, termasuk penciptaan, pertumbuhan janin, perubahan sosial, hingga takdir hidup dan mati. Ayat 8 menekankan ilmu Allah yang sempurna dalam segala ciptaan, sedangkan ayat 11 menyoroti adanya keterkaitan antara kehendak Allah dan usaha manusia dalam meraih perubahan. Kajian ini menunjukkan bahwa keimanan kepada qadha dan qadar tidak meniadakan ikhtiar manusia, melainkan menempatkannya dalam kerangka kehendak dan ilmu Allah SWT yang sempurna. Pemahaman ini memperkuat sikap tawakal, usaha, dan penyerahan diri secara total kepada Allah dalam setiap aspek kehidupan
Al-Qur’an Sebagai Sumber Keajaiban, Mengenal I’jaz dan Kekuasaannya Hilya Mahfuza; Ali Akbar; Edi Hermanto; Suci Maharani
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 1 No. 2 (2025): APRIL-JUNI 2025
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/g1bvhv18

Abstract

Kajian tentang I'jaz dan Mukjizat merupakan bagian penting dalam studi Islam, khususnya dalam memahami keistimewaan al-Qur'ān sebagai wahyu terakhir. I'jaz berasal dari kata a'jaza yang berarti melemahkan, merujuk pada ketidakmampuan manusia untuk menandingi al-Qur'ān. Mukjizat sendiri adalah sesuatu yang luar biasa yang diberikan Allah kepada para nabi sebagai bukti kenabian mereka. Para ulama telah mengemukakan berbagai pandangan mengenai i'jaz, dengan menekankan bahwa keistimewaan al-Qur'ān mencakup aspek bahasa, hukum, ilmu pengetahuan, dan kebenaran berita gaib. Bentuk-bentuk i'jaz dalam al-Qur'ān sangat beragam, termasuk keindahan bahasanya, konsistensi isi, dan kesesuaiannya dengan penemuan ilmiah modern. Seiring perkembangan zaman, muncul pendekatan-pendekatan baru dalam memahami mukjizat al-Qur'ān, tidak hanya dari sisi kebahasaan, tetapi juga melalui pendekatan ilmiah dan kontekstual. Oleh karena itu, penting untuk memperkuat keterkaitan antara kebenaran al-Qur'ān dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), sehingga dapat meningkatkan keimanan dan menjadi landasan dalam membangun peradaban modern.
Toleransi Antar Umat Beragama Dalam Perspektif Al-Quran Ali Akbar; Edi Hermanto; Guslina Siregar; Naila Agnia Ramadhani; Saima Putri Nurfatimah Nst
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 1 No. 2 (2025): APRIL-JUNI 2025
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/5cmvc122

Abstract

In today’s world, characterized by an ever-growing mix of different cultural, religious, and ideological perspectives, it is unavoidable for individuals to engage with one another. This rich diversity serves as a positive force that enhances community bonds and fortifies social cohesion. Nevertheless, religious variances often lead to misunderstandings, strains, and, at times, disputes that threaten fundamental human values. Consequently, it is crucial to reflect on the principles of tolerance highlighted in Islamic teachings, especially those found in the Qur’an. As the sacred text for Muslims, the Qur’an embodies key tenets of tolerance, illustrated in Surah Al-Kafirun verse 6: “To you your religion, and to me mine," alongside Surah Al-Baqarah verse 256: “There is no compulsion in religion.” These passages convey that Islam values religious freedom and recognizes differing beliefs. This spirit of tolerance is not merely theoretical; it was actively demonstrated by the Prophet Muhammad (peace be upon him). Throughout his life, the Prophet coexisted with adherents of other faiths, including Jews and Christians, and fostered harmony through the Charter of Medina, securing the rights and responsibilities of all Medina's inhabitants, irrespective of their faith. In Islam, tolerance does not entail the dilution or merging of beliefs but guides Muslims to uphold their convictions while honoring the faiths of others, fostering a peaceful, just, and harmonious society that is prosperous and civilized.