Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Al-Qalam

KONTESTASI KEAGAMAAN DALAM MASYARAKAT MUSLIM URBAN Saprillah Saprillah; Hamdan Juhannis; Nurman Said; Hamzah Harun Al-Rasyid
Al-Qalam Vol 26, No 1 (2020)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.626 KB) | DOI: 10.31969/alq.v26i1.844

Abstract

Kontestasi keagamaan menjadi salah satu ciri penting dalam sejarah masyarakat Islam. Latar belakang ide dan pemikiran keagamaan menjadi pemicu yang meledakkan berbagai perdebatan keagamaan. Berbagai kelompok keagamaan muncul dan menawarkan perspektif keagamaan yang berbeda-beda. Munculnya media digital mengamplifikasi berbagai mode perdebatan dengan jumlah massa yang lebih besar. Kontestasi yang bersifat dialektis ini pada prinsipnya dibutuhkan untuk membangun peradaban Islam yang dialogis. Sepanjang kontestasi wacana keagamaan berlangsung dalam suasana debat intelektual. Hal itu justru berpengaruh positif bagi lahirnya kreasi-kreasi keagamaan baru. Salah satu implikasi menarik dari kontestasi keagamaan adalah munculnya berbagai gerakan keagamaan populer dalam kerangka merebut panggung di media sosial. Kelompok salafi pun tidak ketinggalan merebut panggung modernitas, bahkan sedang membentuk satu bentuk gerakan keagamaan baru yang disebut urban salafisme.
DAKWAH ISLAM DI ERA GLOBALISASI: REVITALISASI PRINSIP MODERASI ISLAM Hamzah Harun al-Rasyid
Al-Qalam Vol 20, No 3 (2014)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.806 KB) | DOI: 10.31969/alq.v20i3.337

Abstract

Dalam pandangan Islam, ajaran normatif yang tidak boleh berhenti untuk dilaksanakan olehpenganutnya adalah mengajak umat manusia ke j a l an yang baik dengan melakukan hal-hal yang makrufdan menghindari perkara-perkara yang buruk dan keji dan ini yang dimaksud dengan terma "DakwahIslam". Menjalankan ajaran ini selalu menghadapi tantangan di semua babak sejarah terutama sekali diera globalisasi saat ini karena karakteristik-karakteristiknya yang unik. Penelitian ini akan membahasbagaimana cara menghadapi tantangan dakwah di era globalisasi dengan mengajukan gagasanrevitalisasi prinsip moderasi Islam sebagai cara yang dapat menarik simpati komunitas dakwah b a ik darikalangan muslim maupun nonmuslim. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan karakteristikkarakteristikera globalisasi yang berpotensi menjadi tantangan dakwah Islam kemudian mencobamengemukakan prinsip moderasi Islam sebagai sebuah cara yang tepat untuk menghadapi tantanganyang dimaksud. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode diskriptif-kualitatif dengancara mencoba menggambarkan era globalisasi dengan spesifikasi spesifikasinya begitu pula prinsipmoderasi Islam dengan menganalisis karya-karya atau artikel-artikel yang berbentuk naskah dan bukubukuyang terkait dengan isu yang dimaksud. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa era globalisasiadalah merupakan era yang sangat kompleks dan rumit dan sangat berbeda dengan zaman awal Islam,dan dengan demikian era ini mesti diperlakukan dengan perlakuan yang berbeda. Karena sifatnyayang sanga spesifik gerakan "Dakwah Islam" harus lebih merevitalisasi prinsip Moderasi Islam dalammenghadapi tantangan globalisasi.
ISLAMIC SCHOLARS’ NETWORK IN SOUTH SULAWESI AT THE 20th CENTURY: A Note in Wajo and Soppeng Hamzah Harun Al-Rasyid; Husnul Fahima Ilyas
Al-Qalam Vol 28, No 1 (2022)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/alq.v28i1.1025

Abstract

This article discussed about the network of scholars in South Sulawesi concentrated in Wajo and Soppeng districts. This research was significant to reconstruct and introduce scholars at the local level who were almost publicized, even though they had dedicated themselves in creating, educating, and attacking the nation's children with adequate religious knowledge. The primary concerns of this study were: how was the formation of the Islamic scholars (Ulama)’s network in South Sulawesi, and what were the roles of the Ulama in the formation of the network? This study aimed at reconstructing the network of Ulama over the achipleago, South Sulawesi, and Middle Eastern during  the twentieth century. The results of this study revealed that the Ulama’s network in South Sulawesi, especially Wajo and Soppeng, highly relied on the Haramain network. Haramain alumni had a major influence on the development of traditional Islamic education in the form of halaqah (traditional teaching). For example, the halaqah center was formed in the early twentieth century at Salemo, Ajjakang/Mangkoso, Cabalu, and Wajo. Especially in Wajo KH. Muhibuddin or populary known as Ambo Emme, the initiator who encouraged KH. As'ad from Mecca to visit Sengkang Wajo in 1928, to teach about the Islamic values through halaqah developed by Ambo Emme. Halaqah had been changed into MAI (now the Islamic Boarding School of Asadiyah) which had produced a number of known scholars in building the halaqah and pesantren networks in the South Sulawesi region. They are, for example, KH. Daud Ismail from Soppeng who formed the YASRIB Islamic University Soppeng, KH. Yunus Martan in MAI-Wajo, KH. Abdurrahman Ambo Dalle from Wajo at MAI Mangkoso (now DDI), KH. Abduh Pabbaja from Sidenreng Rappang in DDI Ujung Lare and PP Al-Furqan, KH. Abdul Kadir Khalid MA from Wajo established MDIA Bontoala, KH. Asyri in developing the Darul Arqam Gombara Islamic Boarding School and Darul Aman.