Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Adab sebagai Indikator Mutu: Membaca Ulang Total Quality Management dalam Perspektif Evaluasi Dwi-Dimensi Pendidikan Pesantren Irsyad Taufieq Rahman; Muhammad Rosyad Huda; Lenny Siratna Dewi; Anzas Asmara; Anie Rohaeni
Jurnal Syntax Fusion Vol 6 No 07 (2026): Jurnal Syntax Fusion: Jurnal Nasional Indonesia
Publisher : CV RIFAINSTITUT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54543/fusion.v6i07.527

Abstract

A B S T R A K Paradigma manajemen mutu terpadu (Total Quality Management/TQM) yang berkembang dalam wacana pendidikan, termasuk pendidikan Islam, umumnya berpijak pada logika kepuasan pelanggan dan perbaikan berkelanjutan ala Sallis. Nilai-nilai Islam seperti ihsan, itqan, dan amanah kerap dihadirkan sebagai pelengkap spiritual atas kerangka tersebut, namun jarang ditempatkan sebagai indikator mutu yang berdiri sejajar dengan capaian akademik. Artikel ini mengkaji secara konseptual bagaimana tradisi pendidikan pesantren, melalui prinsip adab sebelum ilmu sebagaimana diajarkan Az-Zarnuji, menawarkan struktur mutu yang berbeda: evaluasi dwi-dimensi yang memisahkan sekaligus mensejajarkan capaian kognitif dan capaian akhlak. Dengan metode kepustakaan dan pendekatan deskriptif-analitis, artikel ini membandingkan struktur TQM konvensional dengan struktur evaluasi adab-ilmu pesantren, serta menjadikan praktik rapor ganda (Rapor Pendidikan dan Rapor Adab) di lingkungan Mu’allimin Pesantren Persatuan Islam sebagai ilustrasi konseptual. Hasil kajian menunjukkan bahwa adab, dalam tradisi ini, bukan nilai tempelan melainkan indikator struktural yang menentukan keabsahan mutu itu sendiri. Temuan ini menawarkan reorientasi bagi manajemen mutu pendidikan Islam agar tidak sepenuhnya larut dalam logika output dan kepuasan stakeholder semata
Strategi Manajemen Mutu Pendidikan dalam Mewujudkan Budaya Akademik yang Berdaya Saing Indriani Aisyah Saadiyah; Yusuf Taufik; Dikdik Wahyudin Ashidik; Farhan Ainurofiqofiq; Anie Rohaeni
Jurnal Syntax Fusion Vol 6 No 07 (2026): Jurnal Syntax Fusion: Jurnal Nasional Indonesia
Publisher : CV RIFAINSTITUT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54543/fusion.v6i07.530

Abstract

Budaya akademik yang berdaya saing menjadi salah satu indikator penting dalam peningkatan kualitas lembaga pendidikan di era globalisasi. Namun, berbagai lembaga pendidikan masih menghadapi tantangan dalam membangun sistem mutu yang konsisten, terstruktur, dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi manajemen mutu pendidikan dalam mewujudkan budaya akademik yang kompetitif dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan melalui analisis berbagai sumber ilmiah, kebijakan pendidikan, dan hasil penelitian terdahulu yang relevan. Data dianalisis secara deskriptif-analitis untuk mengidentifikasi pola, strategi, dan implementasi manajemen mutu dalam konteks pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi manajemen mutu yang efektif meliputi penguatan kepemimpinan visioner, peningkatan kompetensi pendidik, evaluasi berkelanjutan, pengembangan budaya kolaboratif, serta optimalisasi sistem penjaminan mutu internal. Implementasi strategi tersebut berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kualitas pembelajaran, produktivitas akademik, serta daya saing lembaga pendidikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa manajemen mutu pendidikan yang terencana dan berorientasi pada perbaikan berkelanjutan mampu membentuk budaya akademik yang unggul, inovatif, dan responsif terhadap tantangan pendidikan modern.
Pengaruh Menghafal Al Quran Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) NIta Hanifah; Anie Rohaeni; Naih Nurjanah
Islamic Journal of Education Vol. 2 No. 2 (2023): IJED: Islamic Journal Of Education
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54801/ijed.v2i2.212

Abstract

Kegiatan menghafal Al Quran merupakan salah satu program unggulan yang terdapat di sekolah SD Plus Raudhatul Firdaus Bandung. Sekolah tersebut tidak hanya mempelajari pelajaran umum tetapi juga mempelajari pelajaran agama seperti Pendidikan Agama Islam (PAI) dan lainnya. Pada mata pelajaran PAI, didalamnya terdapat ayat Al Quran atau hadits Nabi yang memerlukan kemampuan khusus untuk membaca, menulis, serta menghafalkannya. Dalam kegiatan menghafal Al Quran ini siswa diharapkan, selain memiliki banyaknya jumlah hafalan juga dapat melatih kemampuan membaca Al Quran siswa dengan baik dan benar, sehingga hasil belajar dari tujuan pendidikan dapat tercapai. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui bagaimana proses menghafal Al Quran (2) Untuk mengetahui bagaimana hasil belajar siswa pada pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) (3) Untuk mengetahui adakah pengaruh menghafal Al Quran terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Untuk menunjang keberhasilan siswa dalam kegiatan menghafal Al Quran, maka kelancaran menghafal Al Quran, membaca sesuai dengan kaidah ilmu tajwid dan kafasihan dalam membaca Al Quran harus dimiliki oleh siswa. Selanjutnya untuk memperoleh hasil belajar siswa maka dapat dilihat dari ketiga aspek belajar, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Penelitian ini dilakukan dengan observasi lapangan menggunakan metode kausal komparatif dimana data dikumpulkan setelah fenomena/kejadian yang diteliti berlangsung. Adapun data yang didapatkan peneliti melalui penyebaran angket kepada siswa kelas V dan VI sebagai responden mengenai masalah yang sedang diteliti. Serta dokumentasi data hasil nilai rapot siswa pada mata pelajaran PAI di SD Plus Raudhatul Firdaus. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kegiatan menghafal Al Quran mendapatkan hasil yang baik. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan perolehan nilai angket dari 3 indikator menghafal Al Quran adalah 4,0 berada pada interval kategori tinggi. Begitupun pada mata pelajaran PAI siswa memperoleh nilai diatas rata-rata. Berdasarkan perhitungan uji pengaruh mengahfal Al Quran terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran PAI, memperoleh nilai presentase sebesar 10,82%. Dengan demikian maka hasil tersebut menunjukan bahwa terdapat pengaruh menghafal Al Quran terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajan PAI, dan sisanya 89,18% dipengaruhi oleh variabel lain selain variabel independen (menghafal Al Quran).
The The Law on Marriage for Pregnant Women Due to Adultery in the Socio-Cultural Perspective of Society Anie Rohaeni; Mohd Imraan
The International Journal of Law Review and State Administration Vol. 1 No. 3 (2023): November - December : The International Journal of Law Review and State Adminis
Publisher : PDPI (Perkumpulan Dosen Peneliti Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58818/ijlrsa.v1i3.79

Abstract

This research wants to explore the law, factors and causes, implications, public perception, and efforts to overcome pregnancy in marriage due to adultery. This research method is a qualitative descriptive approach. Data collection techniques through a. Observation at the research location. In-depth interviews with informants. Documentation of existing data such as meeting notes, books, and archives related to research. The conclusion is that the impact of cases of pregnant marriages due to adultery which occur repeatedly has shown that there is a form of announcement that reflects a shift in the socio-cultural perception of society regarding the issue of marriages of pregnant women due to adultery. This reality is contradictory in the context of social law. Efforts to address the problem of pregnant marriages have been carried out by existing social institutions that do not represent comprehensive and systematic efforts. Therefore, reconstruct the societal paradigm regarding the issue of marriage, and pregnancy due to adultery. To resolve problems that must receive attention from various parties.
Implementasi Kurikulum Pesantren Muadalah dalam Bingkai Kurikulum Merdeka: Analisis Kebijakan dan Adaptasi Pedagogis Achmad Muharam Basyari; Ela Komala; Anie Rohaeni
AL-IBANAH Vol. 11 No. 2 (2026): Journal Al-Ibanah artikel on progres
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54801/hbkxyp77

Abstract

Integrasi nilai positif Kurikulum Merdeka ke dalam ekosistem pesantren muadalah merupakan kondisi ideal pendidikan holistik, namun realitas di lapangan menunjukkan kesenjangan berupa dilema pedagogis dan beban kognitif guru dalam mengadaptasi pembaruan tersebut ke dalam struktur tradisional yang kaku. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana guru memaknai dan mengadaptasi kebijakan kurikulum dalam praktik sehari-hari, serta merumuskan model implementasi kontekstual. Menggunakan pendekatan kualitatif interpretif dengan desain multiple case study, data dikumpulkan dari Pondok Pesantren Al Basyariyah dan Darussalam melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, Focus Group Discussion (FGD), dan studi dokumentasi, dengan instrumen berbasis kerangka Policy Enactment dan Pedagogical Content Knowledge (PCK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun tidak mengadopsi label administratif Kurikulum Merdeka, kedua pesantren secara organik menyerap esensinya—seperti pembelajaran berdiferensiasi dan berbasis projek—ke dalam kurikulum terpadu 24 jam melalui praktik otentik seperti Fathul Kutub dan Amaliyah Tadris. Guru bertransformasi menjadi navigator kultural yang memanfaatkan kekuatan ekologi relasional untuk menavigasi keterbatasan regulasi makro. Temuan ini berkontribusi pada khazanah keilmuan dengan membuktikan konsep Third Space (hibriditas), di mana modernitas pedagogis dan tradisi salaf-khalaf berpadu harmonis tanpa kehilangan jati diri. Implikasi penelitian menegaskan perlunya pemberian otonomi epistemologis bagi pesantren untuk mengakui asesmen kinerja tradisional sebagai ekuivalen kompetensi nasional yang sah. Selain itu, negara perlu menyediakan dukungan sistemik guna mencegah kelelahan profesional guru, alih-alih memaksakan standarisasi administratif yang kaku yang berpotensi menggerus identitas spiritual lembaga.
Implementasi Kurikulum Pesantren Muadalah dalam Bingkai Kurikulum Merdeka: Analisis Kebijakan dan Adaptasi Pedagogis Achmad Muharam Basyari; Ela Komala; Anie Rohaeni
AL-IBANAH Vol. 11 No. 2 (2026): Journal Al-Ibanah artikel on progres
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54801/hbkxyp77

Abstract

Integrasi nilai positif Kurikulum Merdeka ke dalam ekosistem pesantren muadalah merupakan kondisi ideal pendidikan holistik, namun realitas di lapangan menunjukkan kesenjangan berupa dilema pedagogis dan beban kognitif guru dalam mengadaptasi pembaruan tersebut ke dalam struktur tradisional yang kaku. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana guru memaknai dan mengadaptasi kebijakan kurikulum dalam praktik sehari-hari, serta merumuskan model implementasi kontekstual. Menggunakan pendekatan kualitatif interpretif dengan desain multiple case study, data dikumpulkan dari Pondok Pesantren Al Basyariyah dan Darussalam melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, Focus Group Discussion (FGD), dan studi dokumentasi, dengan instrumen berbasis kerangka Policy Enactment dan Pedagogical Content Knowledge (PCK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun tidak mengadopsi label administratif Kurikulum Merdeka, kedua pesantren secara organik menyerap esensinya—seperti pembelajaran berdiferensiasi dan berbasis projek—ke dalam kurikulum terpadu 24 jam melalui praktik otentik seperti Fathul Kutub dan Amaliyah Tadris. Guru bertransformasi menjadi navigator kultural yang memanfaatkan kekuatan ekologi relasional untuk menavigasi keterbatasan regulasi makro. Temuan ini berkontribusi pada khazanah keilmuan dengan membuktikan konsep Third Space (hibriditas), di mana modernitas pedagogis dan tradisi salaf-khalaf berpadu harmonis tanpa kehilangan jati diri. Implikasi penelitian menegaskan perlunya pemberian otonomi epistemologis bagi pesantren untuk mengakui asesmen kinerja tradisional sebagai ekuivalen kompetensi nasional yang sah. Selain itu, negara perlu menyediakan dukungan sistemik guna mencegah kelelahan profesional guru, alih-alih memaksakan standarisasi administratif yang kaku yang berpotensi menggerus identitas spiritual lembaga.