Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

SRS Multistaged sebagai Tatalaksana AVM Berukuran Besar Rhandyka Rafli; Soehartati Argadikoesoema Gondhowiardjo; Sri Mutya Sekarutami
Radioterapi & Onkologi Indonesia Vol 4, No 1 (2013): Volume 4 No. 1 Januari 2013
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Indonesia (PORI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (832.267 KB) | DOI: 10.32532/jori.v4i1.13

Abstract

Seorang pria 38 tahun dengan keluhan sakit kepala dan perdarahan intrakranial. Pada DSA memperlihatkan AVM regio parietal kiri Spletzer martin IV dengan ukuran 16,9 cc. Pasien menjalani Stereotactic RadioSurgery Multistaged. SRS stage 1 dilakukan  pada bagian superior AVM dengan ukuran 10 cc dan diberikan dosis marginal 16 Gy. Evaluasi MRI 3 bulan setelah stage 1 memperlihatkan pengecilan nidus, dan  5 bulan setelah SRS staged 1 dilakukan SRS stage 2 pada seluruh nidus yang berukuran 10 cc dengan dosis marginal 14 Gy. Pasien mengalami satu kali kejang diantara SRS tanpa defisit neurologis.
Aplikasi Teknik Field Junction pada Radioterapi Rhandyka Rafli; Irwan Ramli
Radioterapi & Onkologi Indonesia Vol 5, No 1 (2014): Volume 5 No.1 Januari 2014
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Indonesia (PORI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2288.861 KB) | DOI: 10.32532/jori.v5i1.21

Abstract

Dalam praktek radioterapi, sering dipakai dua atau lebih lapangan yang terhubung  dengan field junction. Berkas sinar (beam) bersifat divergen dan dapat menimbulkan dosis yang heterogen pada field junction. Hal ini menimbulkan daerah dengan dosis kurang (underdose) atau lebih (overdose) yang tidak diinginkan. Berbagai teknik dikembangkan untuk mengatasi persoalan ini, baik dengan menghilangkan divergensi berkas sinar, menyebarkan titik perbatasan (junction) atau dengan memperlebar penumbra. Setiap teknik memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pertimbangan yang tepat diperlukan dalam pemilihan teknik field junction yang sesuai dengan keadaan pada masing-masing pusat radioterapi.
Peningkatan kualitas hidup pasien kanker dengan metastasis tulang yang menjalani radiasi paliatif Rhandyka Rafli; Mutiara Anissa
Majalah Kedokteran Andalas Vol 42, No 1 (2019): Published in January 2019
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.042 KB) | DOI: 10.25077/mka.v42.i1.p1-10.2019

Abstract

Tujuan: Radioterapi dapat mengurangi gejala yang ditimbulkan oleh kanker dengan metastasis tulang. Penilaian hasil pengobatan berdasarkan informasi klinis sedangkan informasi kualitas hidup jarang dilaporkan. Penelitian bertujuan untuk menilai peningkatan kualitas hidup pasien yang menjalani radiasi paliatif untuk metastasis tulang. Metode: penelitian kohort prospektif dengan sampel pasien kanker metastasis tulang yang berkunjung ke-4 pusat radioterapi di Sumatera, dari bulan Mei-September 2018. Jumlah sampel adalah 18 orang dengan teknik pengambilan total  sampling. Perbaikan kualitas hidup dinilai dengan kuesioner EORTC QLQ C-30. Analisis statistik dengan uji T berpasangan. Hasil: Rerata Global Health Status sebelum dan sesudah terapi adalah 39,81 dan 64,81 dengan perbedaan kuat dan bermakna (r=0,75; p<0,001) dengan rerata peningkatan skala adalah 25.  Rerata Functional Scales sebelum dan sesudah adalah 44,32 dan 58,27 dengan perbedaan sedang dan bermakna (r=0,48; p=0,042) . Peningkatan rerata Functional Scales adalah 13,95. Rerata Symptoms Scales sebelum dan sesudah adalah 46,15 dan 29,48 dengan perbedaan rerata yang kuat dan bermakna (r=0,743; p<0,001). Rerata penurunan Symptoms Scale sesudah terapi adalah 16,67. Simpulan: Radioterapi dapat meningkatkan kualitas hidup pasien dan menurunkan gejala secara signifikan, namun memperbaiki fungsi pada sebagian sampel.
Hubungan parameter dosis 3-Dimensional Conformal RadioTherapy dengan kejadian dermatitis radiasi pada pasien kanker payudara setelah pembedahan Rhandyka Rafli
Majalah Kedokteran Andalas Vol 44, No 1 (2021)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/mka.v44.i1.p41-48.2021

Abstract

Latar Belakang Dermatitis radiasi menyebabkan penurunan kualitas hidup pasien kanker payudara dan merupakan efek samping tersering pada pasien kanker payudara yang menjalani radiasi adjuvant. Penggunaan teknik 3-Dimensional Conformal Radiotherapy (3DCRT) memungkinkan dilakukan perhitungan parameter dosis dan sebaran dosis pada kulit dinding dada. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan parameter dosis 3DCRT dengan derajat dermatitis radiasi pada pasien kanker payudara setelah pembedahan Metode: Penelitian ini merupakan studi case-control dengan membagi kelompok dermatitis sedang berat sebagai kelompok case dan dermatitis ringan sebagai kelompokm control kemudian dilakukan penelusuran parameter dosis 3DCRT menggunakan “ECLIPS” treatment planning system (TPS). Parameter dosis yang dinilai adalah conformity index (CI), Homogeneity Index (HI) dan dose max sesuai perhitungan menurut standar internasional commission on radiation units and measurements-83 (ICRU-83) Hasil: Uji statistik pada  22 pasien kelompok case dan 22 pasien kontrol menggunakan spearman rho menunjukkan adanya hubungan antara parameter dosis 3DCRT dengan kejadian dermatitis pada pasien kanker payudara setelah pembedahan (p<0,05), OR untuk CI adalah 15,23 (p<0,05), OR untuk HI adalah 6,42 (p<0,05) dan OR untuk dmax adalah 20,25 (p<0,05). Kesimpulan: Parameter dosis 3DCRT berhubungan dengan derajat dermatitis radiasi dan dapat memperkirakan resiko kejadian dermatitis radiasi terutama untuk CI dan Dose max.
The Relationship of Knowledge Level with the Event of Serumen Prop in the Elderly at Puskesmas Lubuk Buaya Padang Seres Triola; Heti Lestari; Rhandyka Rafli; Haves Ashan
Budapest International Research and Critics Institute (BIRCI-Journal): Humanities and Social Sciences Vol 5, No 1 (2022): Budapest International Research and Critics Institute February
Publisher : Budapest International Research and Critics University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birci.v5i1.4275

Abstract

Cerumen prop has a fairly high prevalence and can affect all ages. In the elderly, the cerumen becomes dry due to atrophy of the cerumen glands and the hair in the ear canal becomes coarser. This results in higher cerumen prop levels in elderly patients. The purpose of this study was to determine the relationship between the level of knowledge and the incidence of cerumen prop in the elderly at the Lubuk Buaya Padang Health Center. The scope of this research is health science ENT-KL (Ear Nose Throat Head and Neck surgery) and the elderly. The research was conducted in January 2022. The type of research is analytic. The affordable population in this study were the elderly at the Lubuk Buaya Padang Health Center as many as 37 samples with concecutive sampling technique. Univariate data analysis is presented in the form of frequency distribution and bivariate analysis using chi-square test. The incidence of cerumen prop in the elderly was 19 (51.4%), the highest level of knowledge was bad, namely in 22 (59.5%) elderly, and there was a relationship between the level of knowledge and the incidence of cerumen prop in the elderly at the Lubuk Buaya Padang Health Center (p = 0.032). The number of elderly who experienced cerumen prop was not much different from the number of elderly who did not experience cerumen prop, the highest level of knowledge was poor, and there was a relationship between the level of knowledge and the incidence of cerumen prop in the elderly at the Lubuk Buaya Public Health Center, Padang.
The Relationship of Pregnant Mother's Compliance with Antenatal Care with the Event of Preeclampsia in Tanjung Bingkung Puskesmas Rhandyka Rafli; Indah Salsabila; Ferry Iskandar; Debie Anggraini; Dian Ayu Hamama Pitra
Budapest International Research and Critics Institute (BIRCI-Journal): Humanities and Social Sciences Vol 5, No 1 (2022): Budapest International Research and Critics Institute February
Publisher : Budapest International Research and Critics University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birci.v5i1.4381

Abstract

Preeclampsia is an increase in blood pressure experienced by pregnant women, at gestational age above 20 weeks which is treated with routine antenatal visits, this research was conducted at the Tanjung Bingkung Health Center because there is a behavior of young mothers who are ashamed to admit their pregnancy. The purpose of this study was to determine the relationship between pregnant women's adherence to antenatal care with the incidence of preeclampsia at the Tanjung Bingkung Health Center. This research method includes obstetrics and gynecology, conducted at the Tanjung Bingkung Health Center from September to November 2020. The research design was correlation analytic and case control design. The research target population was 54 samples selected by simple random sampling. Data analysis using SPSS application. So the results of this study explain that the compliance of pregnant women in antenatal care is 67% seen from the age of the highest adherence at the age of 20-35 years (80%) and seen from the parity status the highest is multigravida (68%). The incidence of preeclampsia is 13%, judging by age, the highest incidence occurs at the age of 20-35 years (80%) and from multigravida pregnant women (70%). The relationship between adherence of pregnant women to antenatal care with the incidence of preeclampsia, found p value > 0.05 with the conclusion that there is no relationship between adherence of pregnant women to antenatal care with the incidence of preeclampsia.
PENINGKATAN MOTIVASI KADER DAN TOKOH MASYARAKAT KECAMATAN KOTO TANGAH DALAM MENSUKSESKAN SKRINING KANKER SERVIKS DI MASA PANDEMI COVID-19 rhandyka Rafli; Tia Reza; Primadella Fegita
Jurnal Abdimas Saintika Vol 3, No 2 (2021): November Jurnal Abdimas Saintika
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jas.v3i2.1218

Abstract

Cervical cancer is a massive health burden in Indonesia because of its mortality, morbidity, and disability. Most of the cervical cancer deaths were caused by delayed diagnosis and a lack of early screening. Padang city screening program achievement is meager compared to the national standard. During pandemic covid -19, the number is getting worse. One of the strategies is to collaborate with health cadets and community leaders. Our activity focused on boosting their understanding of the danger of cervical cancer and the benefit of early detection. We encourage health cadet and community leaders to be active  to invites women in their community to take an early detection for cervical cancer, but also considering the health protocols during pandemic covid -19 Keyword: cervical cancer, early screening, Covid 19
Tatalaksana Radioterapi pada Kekambuhan Lokal Kanker Ovarium Clear Cell Rhandyka Rafli
Health and Medical Journal Vol 1, No 2 (2019): HEME July 2019
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (893.909 KB) | DOI: 10.33854/heme.v1i2.240

Abstract

Latar belakang: Kanker ovarium clear cell merupakan subtype jarang ditemukan. Kanker ovarium tidak memiliki gejala pada stadium awal sehingga lebih sering ditemukan pada stadium lanjut. Tatalaksana standar adalah dengan operasi sitoreduksi dilanjutkan dengan kemoterapi adjuvant Carboplatinum dan paclitaxel. Daya tahan dari sel punca kanker dan sifat kanker ovarium clear cell yang cenderung resisten berperan dalam kekambuhan lokal.  Radioterapi dapat berperan secara paliatif untuk mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Radioterapi dapat diberikan dengan niat kuratif jika relaps terjadi secara lokal, peningkatan dosis dengan brakhiterapi dapat dipertimbangkan sebagai terapi lokal pada residu tumor terbatas. Laporan kasus: Seorang wanita berusia 34 tahun menjalani proses sectio caesarea pada kehamilan pertama aterm. Dalam durante operasi ditemukan massa berbenjol pada ovarium, sehingga diputuskan untuk dilakukan Histerek-Salphingo Oovorektomi Bilateral (HTSOB). Pemeriksaan histopatologi didapatkan jenis tumor adalah kanker ovarium clear cell. Kesimpulan: Radioterapi berperan secara palliative mengurangi gejala perdarahan, nyeri dan memperbaiki kualitas hidup pasien. Pada kanker ovarium clear cells radioterapi diberikan dengan tujuan kuratif dengan target lokal dan dapat diperttimbangkan pada kasus tertentu pemberian brakhiterapi  untuk peningkatan dosis.
Profil Dan Kesintasan Penderita Kanker Kolorektal Di RSUP Dr. M. Djamil Padang Nurul Septi Arbi Astuti; Rhandyka Rafli; Laura Zeffira
Health and Medical Journal Vol 1, No 1 (2019): HEME January 2019
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.785 KB) | DOI: 10.33854/heme.v1i1.218

Abstract

Latar Belakang: Kanker kolorektal menempati posisi keempat dengan 694.000 kematian. Terdapat 5,7% penderita kanker kolorektal dari semua jenias kanker di Indonesia. Angka kejadian penderita kanker kolorektal masih cukup tinggi serta masih sangat terbatasnya data profil dan kesintasan di Sumatera Barat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil dan kesintasan penderita kanker kolorektal di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Metode: penelitian dengan menggunakan desain deskriptif melalui pendekatan cross-sectional. Sampel dari penelitian ini diambil dari data rekam medis seluruh pasien kanker kolorektal yang memenuhi kriteria inklusi. Data diambil dengan menggunakan metode “Simple Random Sampling”. Hasil penelitian menunjukan bahwa kelompok usia tertinggi adalah kelompok usia 46-55 tahun 38,1%, jenis kelamin terbanyak laki laki 81%, keluhan utama dengan konstipasi 33,3%, stadium B dengan jumlah 47,6%, operasi penatalaksanaan terbanyak dengan 61,9%, dan kesintasan selama 2 tahun sebanyak 54,5%. Kesimpulan: Kelompok usia terbanyak didapatkan pada usia 46-55 tahun. Jenis kelamin laki-laki lebih banyak didapatkan dibandingkan perempuan. Keluhan utama yang paling sering muncul adalah konstipasi. Stadium terbanyak pada penelitian ini adalah stadium B2.
PENGARUH HUBUNGAN SOSIAL DAN POLA BEROBAT PASIEN KANKER KOLORECTAL ETNIS MELAYU rhandyka Rafli; Anggun Luisma; Rasyidin Rasyid
Jurnal Kesehatan Saintika Meditory Vol 4, No 2 (2021): November 2021
Publisher : Stikes Syedza Saintika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jsm.v4i2.1232

Abstract

 Salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia pada pasien kanker kolorectal adalah keterlambatan yang disebabkan oleh pola berobat. Banyak hal yang mempengaruhi  keputusan pasien dalam mengambil keputusan untuk pola pengobatan yang akan dilakukan.  Etnis melayu peran keluarga sangat penting dalam pengambilan keputusan seperti melakukan diskusi untuk memutuskan pola pengobatan pada pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan sosial pada pola berobat pasien kanker kolorectal etnis melayu di RSI. Siti Rahmah Padang tahun 2019. Penelitian ini memerupakan penelitian deskriptif observasional kualitatif dengan metode teknik sampling purposive jenuh dengan menggunakan indepth interview, naskah intervies di kondensasi menajdi tema hubungan sosial dan pola berobat.:Pada penelitian ini didapatkan 19 responden dengan diagnosis kanker kolorectal yang merupakan etnis melayu. Saat pertama kali mengetahui, pengambilan keputusan untuk pengobatan pasien dilakukan dengan berdiskusi bersama anggota keluarga besar, akantetapi setelah lama berobat peran pengambilan keputusan diambil oleh anak tertua atau anak laki-laki dalam anggota keluarga. Sebagian besar pasien yang berobat di rumah sakit siti rahmah ditemani oleh anggota keluarga seperti suami atau istri serta anak  dan anggota keluarga yang lain secara bergantian. Secara sosial pasien kanker kolorectal tidak memiliki perubahan, baik terhadap anggota keluarga ataupun masyarakat  bahkan pasien mendapatkan dukungan secara sosial. Pasien kanker kolorectal sebagian besar merupakan pasien usia lanjut sehingga pasien sangat bergantung pada anak-anak mereka dan anggota keluarga terdekat. Pasien masih bersosialisasi dengan tetangga , masyarakat  dan  terdapat pula pasien yang masih tetap bekerja seperti biasa. Akan tetapi terdapat pula beberapa pasien yang merasa malu dan menutup diri dari orang banyak dikarenakan pasien menggunakan kolonostomi.