Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Pemberian Jus Mix Lidah Buaya  (Aloe Vera) dan Jambu Biji (Psidium Guajava) Terhadap Kadar Gula Darah Puasa Pada Penderita Hiperglikemia Sahanaya, Grace; Nopriantini; Agusanty, Shelly Festilia
Media Gizi Khatulistiwa Vol. 2 No. 3 (2025): Media Gizi Khatulistiwa Edisi September 2025
Publisher : Jurusan Gizi Poltekkes Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Pangan fungsional adalah makanan yang bermanfaat untuk kesehatan di luar zat gizi dan nutrisi yang tersedia. Berdasarkan definisi pangan fungsional, penambahan bahan untuk nilai kesehatan telah ditambahkan ke makanan. Snack bar merupakan produk baru bagi masyarakat Indonesia. Snack bar adalah penganan padat yang berbentuk batang dan merupakan campuran dari berbagai bahan kering seperti sereal, kacang-kacangan, buah-buahan kering yang digabungkan menjadi satu dengan bantuan binder. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya terima dan nilai gizi formulasi snackbar berbasis tepung ampas kelapa dengan penambahan konsentrat daun kelor (Moringa oleifera L) sebagai makanan selingan. Metode: penelitian ini menggunakan eksperimen. Perlakuan yang digunakan dengan tepung ampas kelapa dengan penambahan konsentrat daun kelor adalah F1 (45gr:5gr), F2 (40gr:10gr), F3 (35gr:15gr), F4 (30gr:20gr), F5 (25gr:25gr). Uji yang digunakan ada 2 yaitu uji organoleptik dan uji proksimat. Hasil: Berdasarkan hasil uji organoleptik meliputi warna, aroma, rasa dan tekstur yang dihitung berdasarkan pangkat dari jumlah percobaan menunjukkan pada perlakuan F5 25gr tepung ampas kelapa dan 25gr konsentrat daun kelor, dengan jumlah 410. Untuk hasil uji proksimat, dari 100 gr dengan kandungan kadar protein 12%, lemak 15.75%, karbohidrat 20.25%, serat 4%, kadar abu 1.35%, dan kadar air 13.05%. Kesimpulan: Tidak terdapat pengaruh daya terima warna, aroma, rasa, tekstur, dan tidak terdapat pengaruh terhadap nilai gizi snackbar tepung ampas kelapa dengan penambahan konsentrat daun kelor. Saran: Perlu dilakukan modifikasi formula snackbar dan perlu penambahan zat gizi atau sumber bahan pangan lain untuk meningkatkan penerimaan panelis dan untuk dijadikan makanan selingan yang sehat dan praktisatar belakang : Sarapan penting bagi anak sekolah untuk Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan dan sikap seseorang. Penggunaan media flashcard merupakan upaya peningkatan pengetahuan yang diharapkan dapat memberikan perubahan pengetahuan dan sikap.
PENGARUH PENGGUNAAN KARTU EDUKASI SEHAT TANPA ANEMIA (SETAMI) TERHADAP PENGETAHUAN DAN ASUPAN PROTEINHEWANI DALAM MENCEGAH ANEMIA PADA REMAJA DI SMP NEGERI 01 TELUK BATANG Redha Listya Dwiningrum; Lakshmi Puspita, Widyana; Nopriantini
Media Gizi Khatulistiwa Vol. 2 No. 3 (2025): Media Gizi Khatulistiwa Edisi September 2025
Publisher : Jurusan Gizi Poltekkes Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Remaja adalah salah satu yang rawan terhadap masalah gizi salah satunya adalah defisiensi zat besi. Masalah gizi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius karena berdampak pada perkembangan fisik, psikis, perilaku, dan etos kerja seseorang. Upaya untuk meningkatkan pengetahuan anemia dapat dilakukan dengan media yang tepat, menarik dan mudah dipahami oleh remaja putri. Salah satunya dengan media visual. Tujuan: Penelitian kajian literatur ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media visual terhadap pengetahuan anemia pada remaja putri. Metode: Menggunakan PICO framework, yang terdiri dari Population/problem yaitu masalah remaja putri. Intervention yaitu penatalaksanaan terhadap pengetahuan anemia dengan media visual. Outcome yaitu hasil yang diperoleh adalah pengaruh media visual terhadap pengetahuan anemia. Hasil: Persentase selisih pengetahuan anemia tertinggi sebesar 69,88% dengan media visual flash card, sedangkan persentase selisih terendah yaitu sebesar 1,96% dengan media visual booklet. Rata-rata persentase selisih kenaikan pengetahuan anemia sebesar 20,07%. Kesimpulan : Terdapat perbedaan peningkatan pengetahuan anemia remaja putri sebelum dan sesudah diberikan menggunakan media visual.
MODEL PEMBERDAYAAN KADER POSYANDU DALAM PENGENDALIAN STUNTING PADA ANAK USIA 0-24 BULAN MELALUI PELATIHAN PENGUKURAN ANTROPOMETRI : POSYANDU CADRE EMPOWERMENT MODEL TO CONTROL STUNTING IN CHILDREN AGED 0-24 MONTHS THROUGH ANTHROPOMETRIC MEASUREMENT TRAINING Desi; Ayu Rafiony; Didik Hariyadi; Nopriantini; petrika, yanuarti; Kristiana Yulianingsih
GEMA KESEHATAN Vol. 15 No. 2 (2023): Desember 2023
Publisher : POLTEKKES KEMENKES JAYAPURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/gk.v15i2.426

Abstract

Kekerdilan (stunting) pada anak mencerminkan kondisi gagal tumbuh pada anak Balita (Bawah Lima Tahun), sehingga anak menjadi terlalu pendek untuk usianya. Hal ini disebabkan karena kekurangan gizi kronis yang terjadi sejak 1000 HPK. Pemberdayaan kader adalah strategi yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan serta mewujudkan kemandirian kader dalam melakukan peran dan fungsinya dalam pembangunan kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberdayaan kader posyandu dalam mendeteksi stunting bagi balita usia 0-24 bulan di Desa Kapur Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen dengan menggunakan pendekatan one grup pre-test dan post-test. Sebelum perlakuan diberikan diberikan pre-test dan di akhir diberi post-test, jumlah sampel sebanyak 35 orang. Data diambil dengan menggunakan kuesioner dan lembar obsevasi. Hasil penelitian ini menunjukkan ada pengaruh pemberdayaan kader posyandu melalui pendampingan ibu hamil terhadap keterampilan kader dalam pengendalian stunting bagi balita usia 0-24 bulan dengan nilai signifikan (p=<0,001).  Kesimpulan hasil penelitian menunjukkan perbedaan pengetahuan kader tentang stunting sebelum dan sesudah pendampingan, dengan peningkatan rata-rata pengetahuan dari 72,0 menjadi 93,31. Keterampilan menentukan status gizi ibu hamil melalui pengukuran LILA juga meningkat signifikan (7,71 menjadi 19,43). Kader cukup baik dalam menentukan status anemia berdasarkan nilai HB ibu hamil setelah pelatihan (mean 9,71 menjadi 15). Pelatihan pengukuran penjang badan berpengaruh signifikan terhadap keterampilan kader dalam mengukur balita (p<0,001), dengan peningkatan kemampuan mendeteksi stunting dari 0% menjadi 100%. Kata kunci: Balita, Model Pemberdayaan, Stunting   Stunting in children reflects the failure to thrive in children under five. So, the child becomes too short for his age. This is due to chronic malnutrition that occurs at 1000 HPK. Empowerment of cadres is a strategy used to increase the ability and realize the independence of cadres in carrying out their roles and functions in the development of public health. This study aims to determine the effect of empowering posyandu cadres in detecting stunting for toddlers aged 0-24 months in Desa Kapur, Sungai Raya District, Kubu Raya Regency. The research design used was experimental research using a one-group pre-test and post-test approach. Before the treatment, a pretest was given, and a posttest was presented at the end. The number of samples was as many as 35 people. Data were taken using questionnaires and observation sheets. The results of this study indicate that there is an effect of training in measuring body length using a lengthboard on the skills of cadres in taking measurements for toddlers aged 0-24 months with a significant value (p = <0.001). The research results indicate a difference in cadre knowledge about stunting before and after mentoring, with an average knowledge increase from 72.0 to 93.31. Skills in determining the nutritional status of pregnant women through LILA measurement also significantly improved (7.71 to 19.43). Cadres are proficient in determining anemia status based on pregnant women's HB values after training (mean 9.71 to 15). Activity measuring body length significantly influences cadre skills in measuring infants (p<0.001), with an increased ability to detect stunting from 0% to 100%. Keywords: Empowerment Model, Stunting, Toddler
Peningkatan Kapasitas Kader Posyandu Melalui Pelatihan Mendeteksi Stunting Di Desa Rasau Jaya Kecamatan Rasau Jaya Kabupaten Kubu Raya DESI, DESI; Ikawati Sulistyaningsih; Muhammad Jahri; Nopriantini; Yanuarti Petrika; Martinus Ginting; Ayu Rafiony; Dahliansyah; Maulianaulfa
Media Pengabdian Kesehatan Indonesia Vol. 1 No. 2 (2024): JULY
Publisher : Kabar Gizi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62358/6zk41w65

Abstract

Keterbatasannya tenaga kesehatan di Indonesia menyebabkan daya cakup pelayanan kesehatan belum optimal. Sehingga strategi pembangunan partisipatif adalah cara yang efektif untuk menangani masalah stunting ini. Dikatakan partisipatif karena bukan hanya pemerintah yang harus sadar dan beraksi, namun juga masyarakat harus sadar dan bergerak untuk menangani masalah ini. Salah satunya adalah dengan pembedayaan kader kesehatan di posyandu-posyandu yang ada. Kasus stunting terjadi biasanya karena penyakit ini tidak disadari dan diketahui oleh masyarakat. Sehingga masyarakat perlu pemberdayaan agar tahu dan juga mengerti tanda-tanda stunting. Apabila masyarakat tahu karakteristik stunting sejak dini, maka bisa segera dilakukan penanganan agar tidak menimbulkan komplikasi yang buruk. Tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk memberdayakan masyarakat, melalui kader posyandu dalam penanganan dan pencegahan masalah stunting diwilayah Puskesmas Rasau Jaya. Selain itu menerapkan model pemberdayaan masyarakat yang lebih partisipatif dalam penanganan dan pencegahan masalah stunting di wilayah Puskesmas Rasau Jaya. Metode kegiatan pengabdian masyarakat yang akan dilakukan berupa peningkatan kapasitas kader dalam melakukan kegiatan pendampingan. Adapun metode peningkatan kapasitas kader adalah dengan memberikan pelatihan, refresing kader, sosialisasi dan praktek dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader pendampingan. Selain itu untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai stunting, dampak stunting terhadap kesehatan dan dampaknya pada masa depan, menambah wawasan tentang upaya pencegahan dan penanganan stunting. Hasil Pengabmas di Desa Rasau Jaya Tiga, Kubu Raya, menunjukkan pemberdayaan kader posyandu berhasil meningkatkan pengetahuan penanggulangan stunting. Kader mampu antropometri dan menentukan status anemia ibu hamil lebih baik, mencerminkan komitmen dalam mendukung pencegahan stunting sesuai tujuan pengabdian masyarakat.
ANALISIS ZAT GIZI KARBOHIDRAT, KALIUM, SERAT DAN DAYA TERIMA FORMULA FLAKES BONGGOL PISANG KEPOK Rezky Kurniawan; Jonni Syah R. Purba; Nopriantini; chairunnisa
Media Gizi Khatulistiwa Vol. 2 No. 4 (2025): Media Gizi Khatulistiwa Edisi Desember 2025
Publisher : Jurusan Gizi Poltekkes Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Flakes merupakan produkmakanan berbentuk pipih atau serpihan, berwarna kuning kecoklatan yang dapat dibuat dari umbi-umbian, kacang-kacangan, biji-bijian, dan tanaman hortikultura. Awalnya flakes dibuat dari biji jagung utuh yang dikenal dengan nama corn flakes, namun pada saat ini telah dikembangkan inovasi dalam pembuatan flakes dimana flakes dapat dibuat dari bahan baku lain guna untuk meningkatkan nilai nutrisi dan kesukaan konsumen. Bahan baku pembuatan flakes umumnya mengandung sumber karbohidrat yang cukup tinggi, salah satu bahan baku yang bisa dimanfaatkan untuk membuat flakes yaitu tepung bonggol pisang.Metode yang dilakukan adalah eksperimen yang bertujuan untuk mengetahui Analisis Zat GiziKarbohidrat, Kalium, Serat Dan Daya Terima Formula Flakes Bonggol Pisang Kepok (Musa Paradisiaca).Adapun perlakuan yang diberikan yaitu penambahan tepung terigu dan tepung bonggol pisang kepok sebanyak P1 (90%+10%), P2 (80%+20%), dan P3 (70%+30%).Hasil uji daya terima pada flakes bonggol pisang kepok menyatakan bahwa ada pengaruh terhadap warna, aroma, tekstur dan rasa pada flakes dengan penambahan tepung bonggol pisang kepok hal ini dikarenakan T hitung > F tabel. Kadar karbohidrat tertinggi pada perlakuan P3 yaitu 10,26%, Kadar kalium tertinggi pada P3 yaitu 0,36%, Dan kadar serat tertinggi pada P2 yaitu 10,26%. Disarankan untuk pembuatan flakes bonggol pisang kepok sebaiknya digunakan dengan penambahan 20%. Untuk hasil penelitian lebih lanjut agar dapat memperbaikiaroma, tekstur, warna dan rasa. Dapat direkomendasikan untuk snack dengan kandungan zat gizi tinggi karbohidrat.
PENGARUH BAHAN PERENDAMAN TERHADAP DAYA TERIMA DAN ANALISIS KANDUNGAN ZAT GIZI PADA MIE BASAH FORMULASI TULANG IKAN TENGGIRI (Scomberomorus Lineeolatus) DAN   SARI  BAYAM (Amaranthus, Spp) Maimunah; Nopriantini; Dewintha, Rezza
Media Gizi Khatulistiwa Vol. 2 No. 4 (2025): Media Gizi Khatulistiwa Edisi Desember 2025
Publisher : Jurusan Gizi Poltekkes Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Mie basah tulang ikan memiliki kendala diantaranya, bau amis yang menyengat pada tulang ikan. Sehingga untuk menghilangkan bau amis pada tulang ikan dengan perendaman menggunakan bahan yaitu jeruk nipis (Citrus aurantiifolia s) dan belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) yang bisa digunakan untuk mengurangi bau amis tulang ikan. Tujuan : Untuk mengetahui daya terima perendaman tulang ikan tenggiri terhadap daya terima warna, aroma, rasa dan tekstur pada pembuatan mie basah Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimen yang terdiri dari dua perlakuan yaitu : P1 perendaman jeruk nipis (1:1) perlakuan kedua P2 perendaman belimbing wuluh (1:1). Uji yang dilakukan ada dua tahap yaitu uji organoleptik untuk melihat tingkat kesukaan panelis terhadap warna, aroma, rasa dan tekstur pada mie basah dan uji proksimat untuk mengetahui kandungan gizi. Hasil : Berdasarkan uji Independent-Samples T-Test menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh mantulang ikan tenggri terhadap daya terima warna, aroma, rasa dan tekstur pada mie basah dari kedua perlakuan tersebut berdasarkan ujiorganoleptik dilihat dari tingkat kesukaannya palingtinggi adalah perlakuan Kesimpulan : Tidak ada pengaruh bahan perendaman jeruk nipis dan belimbing wuluh terhadap warna, aroma, rasa dan teksur perendaman tulang ikan tenggiri.