Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

PKM Implementasi Teknologi Smart Irrigation dan Sirkulasi Udara Otomatis Melalui Pertanian Presisi Berbasis IoT pada Kelompok Tani Bukit Lombu Muhammad Naim; Safwan Kasma; Rosmiati Rosmiati; Baso Ali
Abdimas Langkanae Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/jpm.v6i2.831

Abstract

Kegiatan ini bertujuan untuk mentransformasi sistem pertanian pada Kelompok Tani Bukit Lombu yang merupakan salah satu kelompok tani di Desa Marinding, Kecamatan Bajo Barat, Kabupaten Luwu. Masyarakat di wilayah ini memiliki potensi besar dalam sektor pertanian, terutama dalam budidaya tanaman hortikultura. Kelompok tani ini telah memiliki infrastruktur pendukung berupa greenhouse yang lengkap dengan bak instalasi penanaman sayur dan area pembibitan yang cukup luas. Greenhouse ini memungkinkan petani mengembangkan berbagai jenis tanaman, antara lain Selada, Sawi, Pakcoy, dan Melon. Dengan fasilitas tersebut, kelompok tani menunjukkan potensi besar dalam mengadopsi teknologi modern untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Kelompok tani telah mengoptimalkan penggunaan Greenhouse sebagai ruang produksi modern yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung. Greenhouse tersebut menyediakan bak penanaman sebagai area utama budidaya sayur, area pembibitan yang skalanya cukup besar untuk mendukung produksi tanaman. Penerapan sistem teknologi pertanian presisi, melalui melalui penggunaan sensor kelembapan tanah, sensor suhu dan kelembapan udara, sistem irigasi otomatis, serta sistem sirkulasi udara otomatis yang dapat dipantau menggunakan perangkat digital secara real-time. Program akan difokuskan untuk memperkuat manajemen usaha melalui pelatihan pengemasan produk hasil panen, desain label kemasan dan teknik pemasaran digital, pengembangan produk brand unggulan, dan peningkatan jejaring pemasaran. Pelaksanaan kegiatan ini dibagi kedalam beberapa tahapan yaitu : Survey lokasi awal, Sosialisasi Program kepada kelompok tani, memberikan bantuan alat dan bahan untuk menjalankan program, Pelatihan pembuatan instalasi bak Hidroponik, pelatihan penyemaian benih, penanaman hingga perawatan tanaman, dan pelatihan pengoprasian perangkat IoT di dalam Greenhouse. Dari pelaksanaan kegiatan ini dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatkan pendapatan petani perlu menanam tanaman secara berkelanjutan, agar bisa bermitra dengan Swalayan dan perlu manajemen pengelolaan yang baik agar masyarakat dapat produktif.
PKM Transfer Teknologi Tepat Guna Mesin Penarik dan Perontok Rumput Laut Otomatis Berbasis Forward-Reverse untuk Peningkatan Pascapanen Abdul Rais; Baso Ali; Safwan Kasma; Erwin Sukma
Abdimas Langkanae Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/jpm.v6i2.833

Abstract

Sulawesi Selatan merupakan provinsi utama di Indonesia Timur dalam produksi rumput laut, dengan total produksi triwulan I 2021 mencapai 935,8 ton, terdiri dari Cottonii (615,5 ton), Gracilaria (246 ton), dan Spinosium (74,2 ton). Kabupaten Takalar, Luwu, Wajo, Pangkep, Bone, dan Luwu Timur menjadi penghasil utama, Desa Bassiang Timur yang merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Ponrang Selatan Kabupaten Luwu Provinsi Sulawesi Selatan, memiliki potensi signifikan dalam budidaya rumput laut, terutama jenis Eucheuma cottonii, sebagai komoditas unggulan perikanan budidaya. Berdasarkan data BPS Kabupaten Luwu tahun 2023, produksi rumput laut di Kabupaten Luwu mencapai 12.500 ton, dengan Desa Bassiang Timur menjadi salah satu sentra utama penyumbang produksi tersebut didukung oleh garis pantai yang optimal dan partisipasi aktif nelayan lokal. Harga jualnya pun cukup menarik, yaitu sekitar Rp6.000 per kg untuk rumput laut basah dan Rp35.000 per kg untuk yang kering. Meskipun prospek ekonomi menjanjikan, mitra menghadapi kendala signifikan, terutama dalam inovasi teknologi. Proses pengangkutan dari lahan ke perahu dan ke lokasi pemisahan masih dilakukan secara manual dengan bantuan bambu, yang memerlukan tenaga ekstra, berisiko cedera, dan mengurangi efisiensi kerja. Selain itu, pemisahan rumput laut dari tali juga masih mengandalkan tenaga manusia, sehingga berpotensi menurunkan kualitas panen dan meningkatkan risiko kecelakaan. Berdasarkan analisis kebutuhan tersebut, solusi yang ditawarkan dalam proposal berupa penerapan inovasi alat mesin penarik dan perontok rumput laut otomatis berbasis sistem forward-reverse dinilai sangat relevan dan tepat sasaran. Teknologi ini dirancang untuk meningkatkan produktivitas kerja petani dengan cara mempercepat proses pemisahan rumput laut langsung dari perahu, tanpa harus dibawa ke darat atau ke rumah petani. Hal ini menjadi nilai tambah signifikan dibandingkan metode konvensional yang selama ini digunakan. Hasil kegiatan pengabdian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa implementasi alat ini memberikan dampak positif yang nyata bagi masyarakat serta kegiatan diversifikasi produk olahan rumput laut yaitu dodol rumput laut dan keripik rumput laut. Petani merasakan kemudahan dalam proses kerja, pengurangan tenaga fisik yang dibutuhkan, serta efisiensi waktu yang cukup signifikan. Selain itu, kualitas rumput laut yang dihasilkan juga cenderung lebih baik karena proses pemisahan dapat dilakukan secara lebih cepat dan minim kerusakan. Temuan ini sejalan dengan tujuan dalam proposal yang menekankan pada peningkatan nilai tambah produk melalui hilirisasi dan pemanfaatan teknologi tepat guna. Untuk mengatasi permasalahan ini, Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) mengusulkan penerapan teknologi inovatif dan pendampingan intensif.
Hilirisasi Rumput Laut Berbasis Teknologi Tepat Guna untuk Meningkatkan Produktivitas dan Keberdayaan Masyarakat Pesisir di Desa Bassiang Timur Baso Ali; Muhammad Naim; Abdul Rais; Risda M
Abdimas Langkanae Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/jpm.v6i2.856

Abstract

Program pemberdayaan di Desa Bassiang Timur, Kecamatan Ponrang Selatan, Kabupaten Luwu, diarahkan pada penguatan rantai nilai rumput laut melalui teknologi tepat guna dan peningkatan kapasitas dua kelompok mitra. Kegiatan bertujuan meningkatkan efisiensi proses produksi, kemampuan pengolahan, standardisasi kerja, dan tata kelola usaha. Pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif dalam lima tahap, yaitu sosialisasi dan diskusi kelompok, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan dan monitoring, serta evaluasi. Sebanyak 41 anggota mitra terlibat, terdiri atas 20 anggota Kelompok Tani Mujur Bersama dan 21 anggota TP PKK Bassiang Timur. Evaluasi sementara menggunakan desain sebelum-sesudah melalui tes kompetensi, observasi pengoperasian teknologi, pengukuran waktu kerja, log produksi dan pengemasan, serta angket kepuasan. Hasil deskriptif menunjukkan skor komposit kompetensi meningkat dari 40,8 menjadi 86,8 dengan nilai gain ternormalisasi 0,78. Partisipasi kegiatan mencapai 94,9%. Pada mitra budidaya, waktu penarikan berkurang 79,2%, pemisahan 60,0%, dan pembersihan tali 56,0%. Pada mitra pengolahan, produksi tepung mencapai 62 kg per bulan, kapasitas pengemasan meningkat menjadi 54,5 pak per jam, dan kegagalan penyegelan turun menjadi 2,5%. Skor keberdayaan rata-rata meningkat dari 1,50 menjadi 3,98 dan kepuasan mitra mencapai 90,8%. Temuan mengindikasikan bahwa kombinasi teknologi, pelatihan, prosedur kerja, dan pendampingan memperkuat produktivitas serta keberdayaan masyarakat pesisir.
Penerapan Teknologi Penarik dan Perontok Rumput Laut Otomatis serta Diversifikasi Produk pada Kelompok Permata Katonik Syafriadi Syafriadi; Rusmala Rusmala; Andi Safitri Sacita; Baso Ali
Abdimas Langkanae Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/jpm.v6i2.865

Abstract

Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) ini bertujuan meningkatkan efisiensi pascapanen, keselamatan kerja, dan nilai tambah ekonomi Kelompok Permata Katonik di Desa Tirowali, Kecamatan Ponrang, Kabupaten Luwu. Mitra beranggotakan 11 pembudidaya rumput laut Eucheuma cottonii yang sebelumnya melakukan pengangkutan dan pemisahan rumput laut dari tali bentangan secara manual. Proses pemisahan membutuhkan sekitar 2–3 hari untuk 500 tali sepanjang 25 meter dan menimbulkan risiko cedera, sementara pengembangan produk olahan masih terbatas. Metode kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif melalui sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, dan evaluasi. Teknologi yang diterapkan berupa satu unit alat penarik rumput laut dan satu unit alat pemisah/perontok otomatis, disertai pelatihan pengolahan, sanitasi pangan, pengemasan, dan pemasaran. Hasil kegiatan menunjukkan kedua unit teknologi berfungsi 100%, waktu pemisahan dapat ditekan menjadi ≤1 hari per 500 tali, produktivitas meningkat hingga sekitar 80%, dan risiko cedera menurun sekurang-kurangnya 60%. Diversifikasi menghasilkan dua produk siap jual berupa keripik dan dodol rumput laut, dengan peningkatan kemampuan mitra dalam produksi dan pengelolaan usaha. Penerapan teknologi yang dipadukan dengan diversifikasi produk memperkuat efisiensi kerja sekaligus membuka peluang peningkatan nilai tambah ekonomi masyarakat pesisir.
Implementasi Sistem Kontrol Nutrisi Otomatis Berbasis Mikrokontroler pada Rumah Hidroponik Kelompok Tani Hortikultura Latuppa Aulia Azani Umair; Sintia Sintia; Siti Nurfadila Jahrir; Baso Ali
Abdimas Langkanae Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/jpm.v6i2.526

Abstract

Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan menerapkan sistem kontrol nutrisi otomatis berbasis mikrokontroler pada rumah hidroponik Kelompok Tani Hortikultura Latuppa di Kelurahan Murante, Kecamatan Mungkajang, Kota Palopo. Kondisi awal menunjukkan kepekatan larutan nutrisi sekitar 150-250 ppm, pH 4-5, serta proses pemantauan yang masih dilakukan secara manual. Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan partisipatori dan kolaboratif melalui observasi dan wawancara, FGD, perancangan dan pemrograman sistem, perakitan, pemasangan teknologi, pelatihan pengoperasian, pendampingan, serta monitoring dan evaluasi. Sistem memanfaatkan mikrokontroler dan sensor untuk membaca kondisi larutan serta menyediakan pengendalian melalui antarmuka Telegram dalam mode otomatis dan manual. Hasil program menunjukkan peningkatan tanaman yang bertahan sampai panen dari sekitar 500-600 menjadi 1.168 dari 1.200 bibit atau 97,3%. Bobot rata-rata tanaman meningkat dari sekitar 175 gram menjadi 275 gram per tanaman, harga jual meningkat dari Rp3.500 menjadi Rp5.000 per tanaman, dan omzet per siklus meningkat dari Rp1,75-2,10 juta menjadi sekitar Rp5,84 juta. Penerapan teknologi yang disertai pelatihan dan buku pedoman membantu mitra mengurangi ketergantungan pada pemeriksaan manual serta memperkuat pengelolaan budidaya hidroponik yang lebih terukur, efisien, dan produktif.