Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Hubungan Picky Eater Dengan Status Gizi Pada Anak Usia Pra Sekolah Di Posyandu Apel 2 Puskesmas Rampal Celaket Hatifa Nia Yusinta; Heny Nurmayunita; Shinta Wahyusari
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.564

Abstract

Perilaku picky eater merupakan salah satu permasalahan makan yang sering ditemukan pada anak usia prasekolah dan dapat memengaruhi kecukupan asupan zat gizi. Perilaku ini ditandai dengan kebiasaan memilih-milih makanan, menolak jenis makanan tertentu, serta kurangnya minat untuk mencoba makanan baru, sehingga berpotensi berdampak pada status gizi anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan perilaku picky eater dengan status gizi pada anak usia prasekolah. Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian berjumlah 44 anak usia prasekolah yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data perilaku picky eater dikumpulkan menggunakan kuesioner Child Eating Behavior Questionnare (CEBQ), sedangkan status gizi anak ditentukan berdasarkan indikator berat badan berdasarkann tinggi badan (BB/TB). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi anak dengan status gizi kurus lebih banyak ditemukan pada kelompok anak dengan perilaku picky eater dibandingkan dengan anak yang tidak picky eater. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p-value sebesar 0,002 (p < 0,05), yang menandakan adanya hubungan yang signifikan antara perilaku picky eater dengan status gizi anak usia prasekolah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perilaku picky eater berhubungan dengan status gizi anak usia prasekolah. Oleh karena itu, perilaku makan anak perlu mendapatkan perhatian sebagai salah satu faktor dalam pemantauan dan upaya pencegahan masalah gizi pada anak usia prasekolah.
Hubungan Peran Orang Tua Dengan Sikap Dan Prilaku Kesehatan Reproduksi Remaja MTS Darul Huda Ayu Ananda; Shinta Wahyusari; Rif’atul Fani; Ratna Roesardhyati
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.571

Abstract

Kesehatan reproduksi merupakan kondisi yang menyangkut masalah kesehatan organ reproduksi, kesiapan yang dimulai sejak usia remaja. Kesehatan reproduksi remaja meliputi fungsi, proses, dan sistem reproduksi remaja. Berdasarkan hasil survei awal yang telah dilakukan peneliti dengan wawancara pada siswa remaja Mts Darul Huda setelah bertemu dan berinteraksi dengan responden. Dalam 10 murid yang diwawancarai, ditemukan bahwa orang 5 siswi mengatakan tidak mendapat informasi mengenai kebersihan organ genetalia dari orang tua mereka dan 3 orang siswi mengatakan mereka merasa malu dan merupakan hal yang porno untuk diungkapkan, selain itu 2 orang siswi mengatakan hanya mendapat pengetahuan tentang menggunakan pembalut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan peran orang tua dengan sikap dan perilaku kesehatan reproduksi pada remaja Mts Darul Huda. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Lokasi penelitian ini dilakukan di MTS Darul Huda Jl. KH Ahmad Dahlan, Sumber Wuni, Codo, Kec. Wajak, Kabupaten Malang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2025. Populasi penelitian adalah seluruh siswi Mts Darul Huda pada tingkat kelas VII, VIII, dan IX yang berusia antara 12–15 tahun dengan jumlah populasi 53. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan total sampling.  Hasil penelitian ini berupa peran orang tua (khususnya dalam aspek komunikasi) pada remaja MTs Darul Huda mayoritas berada pada kategori rendah atau bermasalah, yaitu sebesar 62,3% hingga 64,2%, Mayoritas remaja memiliki sikap kesehatan reproduksi dalam kategori kurang (69,8%), perilaku kesehatan reproduksi remaja menunjukkan kondisi yang memprihatinkan, di mana 73,6% responden memiliki perilaku berisiko. Kondisi ini mencakup aspek higiene reproduksi yang rendah serta kurangnya pengendalian diri dalam interaksi sosial.  Kesimpulan Terdapat hubungan yang signifikan antara peran orang tua dengan sikap kesehatan reproduksi remaja (p-value = 0,015). Kekuatan hubungan bersifat negatif (r = -0,331) dan terdapat hubungan yang signifikan antara peran orang tua dengan perilaku kesehatan reproduksi remaja (p-value = 0,002).  
Hubungan Peran Orang Tua Dengan Sikap Dan Prilaku Kesehatan Reproduksi Remaja MTS Darul Huda Ayu Ananda; Shinta Wahyusari; Rif’atul Fani; Ratna Roesardhyati
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.571

Abstract

Kesehatan reproduksi merupakan kondisi yang menyangkut masalah kesehatan organ reproduksi, kesiapan yang dimulai sejak usia remaja. Kesehatan reproduksi remaja meliputi fungsi, proses, dan sistem reproduksi remaja. Berdasarkan hasil survei awal yang telah dilakukan peneliti dengan wawancara pada siswa remaja Mts Darul Huda setelah bertemu dan berinteraksi dengan responden. Dalam 10 murid yang diwawancarai, ditemukan bahwa orang 5 siswi mengatakan tidak mendapat informasi mengenai kebersihan organ genetalia dari orang tua mereka dan 3 orang siswi mengatakan mereka merasa malu dan merupakan hal yang porno untuk diungkapkan, selain itu 2 orang siswi mengatakan hanya mendapat pengetahuan tentang menggunakan pembalut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan peran orang tua dengan sikap dan perilaku kesehatan reproduksi pada remaja Mts Darul Huda. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Lokasi penelitian ini dilakukan di MTS Darul Huda Jl. KH Ahmad Dahlan, Sumber Wuni, Codo, Kec. Wajak, Kabupaten Malang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2025. Populasi penelitian adalah seluruh siswi Mts Darul Huda pada tingkat kelas VII, VIII, dan IX yang berusia antara 12–15 tahun dengan jumlah populasi 53. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan total sampling.  Hasil penelitian ini berupa peran orang tua (khususnya dalam aspek komunikasi) pada remaja MTs Darul Huda mayoritas berada pada kategori rendah atau bermasalah, yaitu sebesar 62,3% hingga 64,2%, Mayoritas remaja memiliki sikap kesehatan reproduksi dalam kategori kurang (69,8%), perilaku kesehatan reproduksi remaja menunjukkan kondisi yang memprihatinkan, di mana 73,6% responden memiliki perilaku berisiko. Kondisi ini mencakup aspek higiene reproduksi yang rendah serta kurangnya pengendalian diri dalam interaksi sosial.  Kesimpulan Terdapat hubungan yang signifikan antara peran orang tua dengan sikap kesehatan reproduksi remaja (p-value = 0,015). Kekuatan hubungan bersifat negatif (r = -0,331) dan terdapat hubungan yang signifikan antara peran orang tua dengan perilaku kesehatan reproduksi remaja (p-value = 0,002).  
Hubungan Kecerdasan Emosional Dengan Perilaku Pencegahan Penyakit Diabetes Melitus Pada Remaja SMP Elvina Yoandrawati; Rif’atul Fani; Shinta Wahyusari
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.641

Abstract

Pendahuluan: Diabetes melitus merupakan penyakit yang semakin meningkat prevalensinya di kalangan remaja, termasuk di Indonesia. Faktor kecerdasan emosional dianggap berpengaruh terhadap perilaku pencegahan diabetes pada remaja. Kecerdasan emosional berperan dalam pengambilan keputusan dan pengendalian diri terhadap perilaku berisiko. Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan kecerdasan emosional dengan perilaku pencegahan diabetes pada remaja SMP. Metode: Desain penelitian korelasional dengan pendekatan cross-sectional dilakukan pada siswa SMP Kristen Aletheia Malang bulan November hingga Desember 2025. Sampel sebanyak 54 siswa dipilih melalui total sampling. Instrumen yang digunakan meliputi Trait Kecerdasan Emosional Questionnaire–Adolescent Short Form (TEIQue-ASF) untuk mengukur kecerdasan emosional, dan Diabetes-related Instrument to Assess Preventive Behaviors among Adolescents (DIAPBA) untuk mengukur perilaku pencegahan diabetes melitus. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan perilaku pencegahan diabetes (r = 0,491; p<0,001). Kesimpulan: Kecerdasan emosional memiliki pengaruh yang cukup kuat terhadap perilaku pencegahan diabetes pada remaja SMP. Hal ini menegaskan pentingnya pengembangan aspek kecerdasan emosional dalam upaya meningkatkan perilaku pencegahan diabetes di kalangan remaja.
LEVEL OF KNOWLEDGE AND PERSONAL GENITAL HYGIENE BEHAVIORS WITH THE DEGREE OF VAGINAL DISCHARGE IN ADOLESCENT GIRLS Auriel Jasmine; Shinta Wahyusari; Rif'atul Fani
HEARTY Vol 14 No 2 (2026): APRIL
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Ibn Khaldun, Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/hearty.v14i2.22231

Abstract

Vaginal discharge is a reproductive health problem that is often experienced by adolescent girls, but is often considered normal so it is not taken seriously. In fact, vaginal discharge can be a sign of certain diseases so good knowledge is needed to prevent the risks. Increasing knowledge and behavior of genetically modified personal hygiene is important to form adolescent awareness in maintaining the cleanliness of the reproductive organs. This study aims to determine the relationship between the level of knowledge and personal hygiene genetalia with the degree of vaginal discharge in adolescent girls. This study used a cross sectional analytical design with a research sample consisting of 182 adolescent girls in grades 7 and 8 at SMPN 1 Wajak. Data collection was carried out using a questionnaire, then the data was analyzed using a Gamma statistical test. The research instruments used were based on indicators of knowledge, personal hygiene behavior, and degree of vaginal discharge. The results of this study show that there is a relationship between the level of knowledge and vaginal discharge in adolescent girls with a ρ value of 0.011 and there is also a relationship between genetic personal hygiene behavior and the degree of vaginal discharge in adolescent girls with a ρ value of 0.042. These findings indicate that adolescent girls' understanding of vaginal discharge and genetic personal hygiene behaviors still needs to be improved, so schools and health workers need to strengthen reproductive education, and further research is recommended to develop.
Correlation of Prior Experience and Self-Efficacy with the Action Awareness of Scabies Prevention Kurniawan, Ardhiles Wahyu; Nurbadriyah, Wiwit Dwi; Wahyusari, Shinta; Hastuti, Apriyani Puji
Journal of Ners and Midwifery Vol 13 No 1 (2026)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk..v13i1.ART.p040-050

Abstract

Scabies prevention faces significant behavioral challenges, where self-efficacy and prior experiences play crucial roles in influencing individual awareness. This study aims to evaluate the relationship between prior experiences and self-efficacy with action awareness in scabies prevention within Islamic boarding schools (pesantren). The study employed a correlational cross-sectional design involving a population of 213 Islamic boarding administrators from eight pesantren in Malang Regency. A total of 140 respondents were selected using proportional random sampling to ensure proportional representation. Data analysis was conducted using Somers’d and Gamma statistical tests. The results revealed a significant relationship between prior experiences and action awareness (p = 0.002) with a moderate negative correlation (R = -0.459), indicating that negative experiences are associated with lower levels of action awareness. Furthermore, a highly significant relationship was found between self-efficacy and action awareness (p = 0.000) with a very strong positive correlation (R = 0.867), demonstrating that higher self-efficacy is associated with increased action awareness. These findings highlight the importance of positive experiences and enhancing self-efficacy in fostering better scabies prevention behaviors in Islamic Boarding School settings.