Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Pertumbuhan Mikroba dan Derajat Keasaman Susu Sapi Yang Mengalami Pemalsuan Dengan Air Afduha Nurus Syamsi; Merryafinola Ifani; Hermawan Setyo Widodo; Yusuf Subagyo
JAS Vol 8 No 1 (2023): Journal of Animal Science (JAS) - Januari 2023
Publisher : Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian Universitas Timor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (579.245 KB) | DOI: 10.32938/ja.v8i1.3700

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk memberikan gambaran potensi percepatan kerusakan susu yang dipalsukan dengan air berdasarkan angka mikroba dan total keasaman. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan materi utama yaitu susu sapi yang diambil segera setelah pemerahan. Rancangan acak lengkap (RAL) faktorial diterapkan dengan faktor A adalah 3 jenis susu (susu tidak dipalsukan (TD), susu dipalsukan dengan air sekitar kandang (DAK), dan susu dipalsukan dengan air rumah (DAR)). Faktor B adalah 6 selang waktu pengamatan (0, 4, 8, 12, 16, dan 20 jam). Penelitian dilakukan dengan 18 kombinasi perlakuan dan masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga terdapat 54 unit percobaan. Peubah Total Plate Count (TPC), pH, serta Soxhlet Henkel (SH) dianalisis variansi dan diuji lanjut dengan orthogonal polynomial, sedangkan indentifikasi kapang dibahas secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara jenis pemalsuan susu dan waktu pengamatan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap TPC, pH, dan SH. Analisis regresi menunjukkan bahwa susu TD pada TPC memperoleh persamaan y= 70.246x+137.952 (R2=0.77); DAK yaitu y= 44.925x+203.500 (R2=0.94); dan DAR yaitu y= 67.007x+70.095 (R2=0.72). Susu TD pada pH memperoleh persamaan y=-0.0685x+6.7067 (R2=0.94); DAK yaitu y= -0.097x+6.7767 (R2=0.98); DAR yaitu y= -0.0929x+6.741 (R2=0.96). Susu TD pada 0SH menunjukkan persamaan y= 0.9029x+4.2381 (R2= 0.85); DAK yaitu y= 0.9464x+3.5857 (R2=0.87); DAR yaitu y= 0.9357x+3.4095 (R2=0.88). Identifikasi kapang menunjukkan angka positif pada pengamatan selama 8 dan 12 jam; dan tertinggi ditemukan pada susu DAK. Disimpulkan bahwa susu yang dipalsukan dengan DAK mengalami percepatan pertumbuhan mikroba dan akumulasi asam paling cepat dibandingkan dengan susu yang dipalsukan dengan DAR atau susu TD.
ESTIMASI ENERGI DAN PRODUK SAMPING FERMENTASI RANSUM BERBASIS INDEKS SINKRONISASI PROTEIN-ENERGI BERDASARKAN STOIKIOMETRI VOLATILE FATTY ACIDs: KAJIAN IN VITRO Syamsi, Afduha Nurus; Widodo, Hermawan Setyo; Candrasari, Dewi Puspita; Subagyo, Yusuf; Ifani, Merryafinola; Safitri, Lis
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Vol. 12 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jitp.v12i1.32458

Abstract

Ransum berbasis indeks sinkronisasi protein-energi (SPE) merupakan pengembangan nutrisi ruminansia yang ditujukan pada optimalisasi sintesis protein mikroba (SPM). Optimalisasi SPM diupayakan dengan sinkronisasi ketersediaan ammonia dan energi melalui indeks antara 0-1. Semakin simultanya kedua senyawa tersebut diharapkan mampu meningkatkan kecernaan, produksi volatile fatty acid (VFA), dan estimasi energi yang dihasilkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghitung estimasi produksi energi dan produk samping pada ransum berbasis indeks SPE melalui stoikiometri pembentukan VFA. Materi penelitian adalah cairan rumen kambing jawa randu yang di ambil sesaat setelah ternak dipotong. Penelitian menggunakan Rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan (Indeks ransum 0,55; 0,6; 0,65; dan 0,7) dan 4 ulangan. Estimasi energi dan produk hasil samping fermentasi dihitung berdasarkan stoikiometri pembentukan VFA. Data dianalisis dengan analisis variansi. Hasil menunjukkan bahwa ransum berbasis indeks SPE tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap semua variablel (estimasi energi reaktan, total produksi energi, efisiensi produksi energi, methane, energi terbuang, hidrogen, karbon dioksida, dan air). Disisi lain, penelitian menunjukkan bahwa ransum berbasis indeks SPE menghasilkan estimasi efisiensi produksi energi yang rendah, karena estimasi produksi methane yang tinggi. Hal ini disebabkan karena tingginya proporsi serat ransum, pembentukan asetat, serta H2 dan CO2.
The Exploration of Bioactive Peptides that Docked to SARS-CoV-2 Spike Protein from Goats’ Milk Beta-Casein by In Silico Widodo, Hermawan Setyo; Murti, Tridjoko Wisnu; Agus, Ali; Pertiwiningrum, Ambar
Molekul Vol 18 No 3 (2023)
Publisher : Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jm.2023.18.3.7297

Abstract

Beta-casein in milk is known to be a bioactive peptide producer because of its amino acid sequence. Bioactive peptides have prospected molecules that can adhere with SARS-CoV-2 spike protein, so they can inhibit the virus from hooking up with human cell receptor protein. The research is aimed to find any peptides from goat’s milk beta-casein that are prospective candidates as SARS-CoV-2 spike protein inhibitors. Goat’s milk beta-casein was simulated as being digested by the digestive tract. Pepsin, trypsin, and chymotrypsin enzymes cut the beta-casein amino acids sequence into small peptides. Then, their bioavailability was predicted by Lipinski’s Rules of 5 (Ro5), any most fitted peptides to the rules will be simulated to dock to SARS-CoV2 spike protein besides Curcumin as the control ligand. Peptides with the best bind activity with the spike protein will be selected as inhibitor candidates. Peptide QPK is selected as a SARS-CoV-2 inhibitor candidate because it has better affinity energy than Curcumin or other selected peptides.
The Comparison of Tannin Fractions in Calliandra calothyrsus Leaves Utilizing Butanol-HCl4 and Protein-Precipitation Methods Subagyo, Yusuf; Sumaryadi, Mas Yedi; Ifani, Merryafinola; Widodo, Hermawan Setyo; Yusan, Rizak Tiara
Molekul Vol 19 No 2 (2024)
Publisher : Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jm.2024.19.2.8636

Abstract

ABSTRACT. Butanol-HCl4 (Bu-HCl4) and Protein-Precipitation (P-P) are methods that proposed to determine the content of free tannins, protein-bound tannins, and fiber-bound tannins. This study aims to determine the feasibility of tannin measurements by both methods and validation of Analytical Methods (VMA) evaluates specific parameters like accuracy, precision, specificity, and linearity through lab testing. The material used was twenty C. calothyrsus leaves which collected randomly from different trees. The samples were measured by both methods in triplicates for qantification and validation. The obtained data were analyzed by descriptive and t-test to compare both methods. The analysis of VMA shows that the P-P method yields higher accuracy compared to the Bu-HCl method in percentage recovery rates. The quantification of free tannins, protein-bound tannin, tannin fiber, and total tannin by the Bu-HCl4 method versus the P-P method showed significantly higher values (p<0.01) for the Bu-HCl4 method: free tannins (13.44±0.54 vs. 7.11±0.16), protein-bound tannin (2.80±0.44 vs. 1.52±0.20), tannin fiber (5.20±0.45 vs. 1.00±0.21), and total tannin (21.50±0.88 vs. 9.59±0.36). The methode validation result of Bu-HCl4 and P-P methods in the accuracy was different, but the linearity test showed a good response. In conclusion, the tannin quantivication by the P-P and Bu-HCl4 can be applied for C. calothyrsus analysis. The total tannin content was higher if quantified by the Bu-HCl4 method compared to P-P. The accuracy of the P-P found higher than the Bu-HCl4 method. Keywords: Butanol-HCl4, leaves C. calothyrsus, protein-precipitation methods, tannin.
Protein-Energy Synchronization Index of Various Energy Source of Feed Concentrate for Ruminants Afduha Nurus Syamsi; Hermawan Setyo Widodo; Harwanto Harwanto
Jurnal Agripet Vol 21, No 2 (2021): Volume 21, No. 2, Oktober 2021
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v21i2.18409

Abstract

ABSTRACT. The study aimed to determine the protein-energy synchronization (PES) index of the various energy source of feed concentrate in vitro, as a database for the preparation of ruminant rations based on the PES index. The research was conducted from May to August 2020. The research was carried out experimentally through three stages: proximate analysis, in vitro digestibility test, and index calculation. The materials used were rumen fluid of three Jawa Randu Goats, taken shortly after being slaughtered at Sokaraja Goat Slaughterhouse, and seven types of energy sources of feed concentrate. Each feedstuff was duplicated for 3 replications, then the digestibility data for organic matter and protein of each feedstuff were collected at the 2nd, 4th, 6th, 8th, 12th, 24th, and 48th hour by in vitro fermentation. The data collection results were then regressed and the results were included in the PES index equation. The variable measured was the PES synchronization index. The results showed that the PES index of rice bran was 0.54, rice polish 0.50, pollard 0.57, corn 0.87, dried cassava 0.94, dried cassava dreg 0.90, and bread flour 0.94. The study concluded that the energy source of feed concentrate are potential as the medium to the high category of PES index values in the preparation of ruminant rations, where corn, dried cassava, dried cassava dreg, and bread flour have a PES index in the high category, while rice bran, rice polish, and pollard in the medium category. (Indeks sinkronisasi protein-energi berbagai bahan pakan konsentrat sumber energi bagi ruminansia) ABSTRAK. Tujuan penelitian ini adalah menginventarisasi indeks sinkronisasi protein-energi (SPE) berbagai bahan pakan konsentrat sumber energy, sebagai basis data penyusunan ransum ruminansia berbasis indeks SPE secara in vitro. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Mei hingga Agustus 2020. Penelitian dilaksanakan secara eksperimental melalui tiga tahap yaitu analisis proksimat, kecernaan in vitro, dan perhitungan indeks. Materi yang digunakan adalah cairan rumen 3 Kambing Jawa Randu yang diambil sesaat setelah disembelih di Rumah Potong Hewan Sokaraja, serta 7 jenis bahan pakan konsentrat sumber energi. Masing-masing bahan pakan diduplikasi sebanyak 3 ulangan, kemudian masing-masing diukur kecernaan bahan organik dan protein pada waktu fermentasi in vitro ke 2, 4, 6, 8, 12, 24 dan 48 jam. Data yang dikoleksi selanjutnya di uji regresi dan hasilnya dimasukkan dalam persamaan indeks SPE. Variabel yang diukur adalah indeks SPE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks SPE dedak sebesar 0,54, bekatul 0,50, pollard 0,57, jagung 0,87, gaplek 0,94, onggok kering 0,90 dan tepung roti 0,94. Penelitian menyimpulkan bahwa, konsentrat sumber energi memiliki potensi nilai indeks sinkronisasi protein-energi pada kategori sedang hingga tinggi dalam penyusunan ransum ruminansia. Jagung, gaplek, onggok kering dan tepung roti memiliki indeks sinkronisasi protein-energi pada kategori tinggi, sedangkan dedak, bekatul dan pollard pada kategori sedang.
PENERAPAN PROSEDUR HIGIENE PEMERAHAN UNTUK MENGINGKATKAN KUALITAS SUSU SEBAGAI IMPLEMENTASI GOOD DAIRY FARMING PRACTISE ifani, Merryafinola; Syamsi, Afduha Nurus; Subagyo, Yusuf; Widodo, Hermawan Setyo
Sinergi Abdimas Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 3 No 2 (2024): Sinergi Abdimas Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32424/siabdi.v3i2.11502

Abstract

The Andhini Lestari and Andhini Rahayu Livestock Groups are groups of smallholder breeders whose maintenance is still carried out conventionally. Poor milking sanitation and hygiene management is still a problem for this group of farms. Farmers conventionally carry out milking with a very low level of hygiene. Milking hygiene needs to be considered because it will affect udder health. Udder health affects the quality and quantity of milk produced. Unhealthy milking hygiene will cause the udder to suffer from mastitis which is very detrimental to the farmer. So, to maintain good milk quality, farmers must follow milking hygiene procedures as an implementation of Good Dairy Farming Practices. A series of activities that will be carried out are training in making disinfectant solutions and dipping teas, making milking SOPs, applying Good Dairy Farming Practices. The aim of carrying out this PKM is to form cadres of breeders in the Andhini Lestari and Andhini Rahayu groups, Karangtengah Village, Cilongok District, Banyumas and breeders in the surrounding areas; Maintaining good milk quality at the smallholder level through implementing good milking hygiene; And prevents the occurrence of mastitis in dairy cows.
PERBANDINGAN PENGUKURAN PROTEIN METODE BRADFORD DAN TITRASI FORMOL PADA SUSU SEGAR TERHADAP KADAR PROTEIN, LAMA ANALISIS, DAN BIAYA Susanto, Jodi; Setyawardani, Triana; Widodo, Hermawan Setyo
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Vol. 13 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jitp.v13i1.34582

Abstract

Komposisi yang terkandung pada susu merupakan indikator dalam menilai kualitas susu segar. Pemeriksaan kualitas susu sangat penting karena berbagai alasan yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat, kepuasan konsumen, dan keberhasilan komersial produk susu.  Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan metode pengujian protein (Bradford dan Titrasi  formol) pada susu segar terhadap kadar protein, lama analisis, dan biaya. Materi yang digunakan pada penelitian ini adalah sampel susu sapi segar yang diperoleh dari 30 ekor sapi perah. Variabel yang diukur yaitu kadar protein, lama analisis dan biaya yang dibutuhkan untuk setiap metode analisis protein. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif, dan uji T. Nilai kadar protein yang diperoleh dengan metode Bradford berkisar  antara 1,81 - 2,74% dan Titrasi  formol antara 2,2 - 3,7%. Rataan kadar protein dengan metode Bradford 2,23±0,26% dan titrasi  formol 2,96±0,43%. Waktu analisis yang dibutuhkan pada metode Bradford 17 menit dan titrasi  formol  5,15 – 5,6 menit. Rataan waktu dengan metode  Bradford 17±0 menit dan titrasi  formol 5,37±0,12 menit sedangkan biaya yang dibutuhkan pada metode Bradford 2.000,00 Rupiah/sampel dan titrasi  formol 1.164,55-1.170,88 Rupiah/sampel. Rataan biaya yang di butuhkan pada metode Bradford 2.000,00±0 Rupiah/sampel dan Titrasi  formol 1.167,76±1,82 Rupiah/sampel. Hasil Uji T menunjukkan bahwa pengujian kadar protein menggunakan metode Bradford dan titrasi  formol berbeda nyata (P<0,05) terhadap kadar protein, lama analisis dan biaya. Pengukuran kadar protein dengan metode titrasi  formol memberikan hasil yang lebih sensitif terhadap kadar protein susu segar lebih cepat dan biaya analisis lebih murah.
PERBANDINGAN PENGUKURAN PROTEIN METODE BRADFORD DAN TITRASI FORMOL PADA SUSU SEGAR TERHADAP KADAR PROTEIN, LAMA ANALISIS, DAN BIAYA Susanto, Jodi; Setyawardani, Triana; Widodo, Hermawan Setyo
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Vol. 13 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jitp.v13i1.34582

Abstract

Komposisi yang terkandung pada susu merupakan indikator dalam menilai kualitas susu segar. Pemeriksaan kualitas susu sangat penting karena berbagai alasan yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat, kepuasan konsumen, dan keberhasilan komersial produk susu.  Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan metode pengujian protein (Bradford dan Titrasi  formol) pada susu segar terhadap kadar protein, lama analisis, dan biaya. Materi yang digunakan pada penelitian ini adalah sampel susu sapi segar yang diperoleh dari 30 ekor sapi perah. Variabel yang diukur yaitu kadar protein, lama analisis dan biaya yang dibutuhkan untuk setiap metode analisis protein. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif, dan uji T. Nilai kadar protein yang diperoleh dengan metode Bradford berkisar  antara 1,81 - 2,74% dan Titrasi  formol antara 2,2 - 3,7%. Rataan kadar protein dengan metode Bradford 2,23±0,26% dan titrasi  formol 2,96±0,43%. Waktu analisis yang dibutuhkan pada metode Bradford 17 menit dan titrasi  formol  5,15 – 5,6 menit. Rataan waktu dengan metode  Bradford 17±0 menit dan titrasi  formol 5,37±0,12 menit sedangkan biaya yang dibutuhkan pada metode Bradford 2.000,00 Rupiah/sampel dan titrasi  formol 1.164,55-1.170,88 Rupiah/sampel. Rataan biaya yang di butuhkan pada metode Bradford 2.000,00±0 Rupiah/sampel dan Titrasi  formol 1.167,76±1,82 Rupiah/sampel. Hasil Uji T menunjukkan bahwa pengujian kadar protein menggunakan metode Bradford dan titrasi  formol berbeda nyata (P<0,05) terhadap kadar protein, lama analisis dan biaya. Pengukuran kadar protein dengan metode titrasi  formol memberikan hasil yang lebih sensitif terhadap kadar protein susu segar lebih cepat dan biaya analisis lebih murah.
ANALISIS HUBUNGAN ANTARA BAHAN KERING TANPA LEMAK DAN TOTAL PADATAN PADA BERAT JENIS SUSU KAMBING SAPERA Cahyani, Linda Arum; Widodo, Hermawan Setyo; Ifani, Merryafinola; Subagyo, Yusuf
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Vol. 13 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jitp.v13i1.44076

Abstract

Kambing Sapera mampu memproduksi susu cukup tinggi dan mengandung kadar lemak yang lebih tinggi daripada susu sapi. Kadar lemak susu berkorelasi negatif dengan berat jenis, tetapi berkorelasi positif dengan total padatan, sehingga digunakan parameter berat jenis, bahan kering tanpa lemak, dan total padatan untuk menentukan kualitas dan harga susu. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kadar berat jenis, bahan kering tanpa lemak, dan total padatan pada susu Kambing Sapera serta hubungan antar peubah tersebut. Materi penelitian yang digunakan berjumlah 30 sampel susu yang terdiri 15 dari masing-masing Siliwangi Farm dan Gaza Farm. Hasil penelitian menunjukkan berat jenis memiliki rata-rata, maksimal, dan minimal berturut-turut 1,028g/ml; 1,030g/ml; 1,024g/ml. Bahan kering tanpa lemak memiliki rata-rata, maksimal, dan minimal berturut-turut 7,992%; 8,635%; 7,17%. Total padatan memiliki rata-rata, maksimal, dan minimal berturut-turut 12,572%; 14,640%; 11,165%. Hasil Uji-T menunjukkan bahwa kadar berat jenis, bahan kering tanpa lemak, dan total padatan antara kedua farm tersebut berbeda tidak nyata (P>0,05). Terdapat hubungan positif yang sangat kuat dan pengaruh yang lebih besar antara berat jenis dan bahan kering tanpa lemak dimana nilai R2 = 0,8005 dan R = 0,895 dengan persamaan y = 0,0032x + 1,0023. Indikator kualitas susu dapat ditentukan berdasarkan berat jenis, bahan kering tanpa lemak, dan total padatan pada susu. Kata Kunci : bahan kering tanpa lemak, berat jenis, susu kambing sapera, total padatan
ANALISIS HUBUNGAN ANTARA BAHAN KERING TANPA LEMAK DAN TOTAL PADATAN PADA BERAT JENIS SUSU KAMBING SAPERA Cahyani, Linda Arum; Widodo, Hermawan Setyo; Ifani, Merryafinola; Subagyo, Yusuf
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Vol. 13 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jitp.v13i1.44076

Abstract

Kambing Sapera mampu memproduksi susu cukup tinggi dan mengandung kadar lemak yang lebih tinggi daripada susu sapi. Kadar lemak susu berkorelasi negatif dengan berat jenis, tetapi berkorelasi positif dengan total padatan, sehingga digunakan parameter berat jenis, bahan kering tanpa lemak, dan total padatan untuk menentukan kualitas dan harga susu. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kadar berat jenis, bahan kering tanpa lemak, dan total padatan pada susu Kambing Sapera serta hubungan antara bahan kering tanpa lemak dan total padatan dengan berat jenis susu. Materi penelitian yang digunakan berjumlah 30 sampel susu yang terdiri 15 dari masing-masing Siliwangi Farm dan Gaza Farm. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata berat jenis, bahan kering tanpa lemak dan total padatan secara keseluruhan berturut-turut sebesar 1,028±0,001 g/ml, 7,992±0,349%, dan 12,572± 0,888%. Hasil Uji-T menunjukkan bahwa kadar berat jenis, bahan kering tanpa lemak, dan total padatan antara kedua Farm tersebut tidak berbeda nyata (P>0,05). Terdapat hubungan positif yang sangat kuat dan pengaruh yang lebih besar antara berat jenis dan bahan kering tanpa lemak dimana nilai R2=0,8005 dan r=0,895 dengan persamaan Y = 0,0032X + 1,0023. Hasil analisis menunjukkan bahwa berat jenis memiliki perbandingan pengaruh yang lebih besar terhadap bahan kering tanpa lemak daripada total padatan.