Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

STUDY OF POTENTIAL DRUG INTERACTIONS IN PULMONARY TB PATIENTS IN dr. GONDO SUWARNO HOSPITAL SEMARANG DISTRICT 2021 Iswandi Iswandi
Indonesian Journal of Pharmaceutical Research Vol 2, No 2 (2022): Indo J Pharm Res 2022 2(2)
Publisher : Department of Pharmacy, Muhammmadiyah University of Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/ijpr.v2i2.3941

Abstract

Tuberkulosis (TB) adalah salah satu penyakit menular dengan tingkat kematian tertinggi di dunia yang disebabkan oleh Bakteri Mycobacterium tuberculosis. Pasien tuberkulosis dengan penyakit penyerta diobati dengan obat tambahan untuk mengobati penyakit penyerta, hal ini menyebabkan peningkatkan potensi interaksi obat. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui obat yang berpotensi menyebabkan interaksi obat terhadap pasien TB paru di RSUD dr. Gondo Suwarno Tahun 2021. Jenis penelitian ini deskriptif non eksperimental dengan pengumpulan data retrospektif. Sampel dalam penelitian ini adalah pasien TB Paru yang tertera di rekam medis dan mendapat pengobatan antituberkulosis (OAT) dan non-OAT di RSUD dr. Gondo Suwarno tahun 2021 dan disesuaikan dengan kriteria inklusi. Potensi interaksi obat antar OAT meliputi interaksi farmakokinetik (34%), farmakodinamik (66%) dan unknown tidak teridentifikasi. Berdasarkan tingkat keparahan, major (194 kasus), moderate (96 kasus), dan minor tidak teridentifikasi. Pada potensi interaksi obat OAT dengan non-OAT meliputi interaksi farmakokinetik (94%), farmakodinamik (4%) dan unknown (2%). Berdasarkan tingkat keparahan, major (23 kasus), moderate (214 kasus), dan minor (42 kasus).
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN KOMBINASI EKSTRAK BATANG PEPAYA (Carica payaya L) DAN EKSTRAK KULIT BATANG KELOR (Moringaaoleifera L.) DENGAN METODE DPPH: ANTIOXIDANT ACTIVITY TEST OF THE COMBINATION OF ACTIVE FRACTION OF PAPAYA (Carica papaya L.) AND OF ACTIVE FRACTION MORINGA STEM BARK (Moringa oleifera L) USING DPPH METHOD Bangkit Riska Permata; Iswandi; TN Saifullah
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 8 No 2 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v8i2.663

Abstract

Tanaman Indonesia banyak yang berpotensi memiliki aktivitas antioksidan, antara lain  tanaman pepaya (Carica papaya L.) dan tanamanakelor ( Moringanoleifera L). Tanaman pepaya dan kelor mengandung metabolit sekunder yang mempunyai aktivitas antioksidan. Tujuan dari penelitian ini menguji aktivitas antioksidan ekstrak/fraksi aktif dari batang pepaya dan kulit batang kelor sebagai antioksidan dengan DPPH. Penelitian ini bersifat  eksperimental, menentukan aktivitas penghambatan antioksidan tertinggi kombinasi ekstrak dan fraksi aktif batang pepaya dan kulit batang kelor dengan pelarut yang berbeda polaritasnya dengan metode spektrofotometri dengan senyawa DPPH. Berdasarkan uji antioksidan menggunakan DPPH didapatkan kombinasi ekstrak batang pepaya dan ekstrak kulit batang kelor yang paling poten sebagai antioksidan yaitu perbandingan (1:2) nilai IC50 47,517 µg/mL dan kombinasi fraksi etil asetat batang pepaya dan kulit batang kelor perbandingan 1:2 memiliki nilai IC50 31,590 µg/mL, Kata kunci: Batang Pepaya, Kulit Batang Kelor, Antioksidan, DPPH
Evaluasi Standar Pelayanan Minimum pada Pelayanan Resep Pasien Rawat Jalan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah dr. Gondo Suwarno Nilam Cahya Aprilia; Iswandi Iswandi; Sumaryana Sumaryana
Jurnal Ilmu Farmasi dan Farmasi Klinik Vol 21, No 1 (2024): Jurnal Ilmu Farmasi & Farmasi Klinik
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/jiffk.v21i1.7653

Abstract

Pelayanan kefarmasian merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mengidentifikasi, mencegah, dan menyelesaikan masalah terkait obat. Perlunya dilakukan evaluasi terhadap waktu tunggu pelayanan kefarmasian di instalasi farmasi adalah untuk mengetahui kelemahan yang dapat memperlambat pelayanan resep, sehingga dapat segera dilakukan perbaikan dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketersediaan formularium, lama waktu tunggu pelayanan resep rawat jalan, tidak adanya kesalahan dalam pemberian obat dan kepuasan pasien di Instalasi Farmasi RSUD dr. Gondo Suwarno. Rancangan penelitian ini menggunakan analisis deskriptif observasional menggunakan pendekatan cross sectional.  Teknik sampling probabilitas sampling dengan cara simple random sampling (SRS). Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa ketersediaan formularium tersedia dan diperbaharui setiap 3 tahun sekali dengan evaluasi 1 tahun sekali, waktu tunggu pelayanan obat non racikan yaitu 38,07 menit ≥ 30 menit, waktu tunggu pelayanan obat racikan yaitu 41,03 menit ≤ 60 menit, tidak adanya kesalahan pemberian obat sebesar 100 % dan kepuasan pasien 78,79 % ≤ 80 %. Berdasarkan standar pelayanan minimum yang terdapat di RSUD dr. Gondo Suwarno telah memenuni standar minimal dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Implikasi penelitian ini adalah mempersingkat lama waktu tunggu pelayanan resep obat dimana sumber daya manusia yang kurang terampil akan menyebabkan durasi pelayanan semakin lama.
Analisis Metampiron, Vitamin B1, B6, dan B12 secara Simultan menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi Kolom Zic-HILIC Moh. Rivaldi Mappa; Iswandi Iswandi; Supriyadi Supriyadi
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES 2022
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf13nk414

Abstract

Determination of dosage levels needs to be done to maintain the quality of the preparation itself, so that the analytical method becomes an important part in examining pharmaceutical formulations in terms of quality control and safety. Therefore, it is necessary to study the determination of the levels of methampyrone, vitamins B1, B6, and B12 in multicomponent drugs simultaneously using Zic-HILIC column high performance liquid chromatography (HPLC). This literature review involved national and international research articles related to the analysis of methampyrone, vitamins B1, B6, and B12 in multicomponent drugs using the Zic-HILIC column HPLC method. Literature was obtained from several Elsevier, National Center for Biotechnology Information (NCBI), and Google Scholar. Based on the results of the literature study, it can be seen that the conditions of high performance liquid chromatography using a Zic-HILIC column which includes the composition of the mobile phase, the velocity of the mobile phase, the type of buffer, the pH of the mobile phase, the concentration of the buffer and the type of organic solvent affect the analysis process of methampyrone, vitamins B1, B6, and B12 simultaneously based on chromatographic parameters namely retention time, selectivity, retention factor, resolution, tailings factor, and the number of theoretical plates. The wavelengths that can be used to detect drug and vitamin mixtures are 272 and 275 nm. The solvent composition that can be used is a mixture of water, acetonitrile and buffer. The best speed of the mobile phase in the analysis process is 0.8 mL/minute. The types of buffers that can be used are ammonium formate, ammonium acetate, sodium dihydrogen phosphate and sodium sulfite with a buffer concentration of 10 mM and a pH of the mobile phase ranging from 3-6.Keywords: high performance liquid chromatography; Zic-HILIC; methampyron; vitamin; multicomponent ABSTRAK Penetapan kadar sediaan perlu dilakukan untuk menjaga mutu dari sediaan itu sendiri, sehingga metode analisis menjadi bagian penting dalam pemeriksaan formulasi sediaan farmasi dalam hal kontrol kualitas dan keamanannya. Maka diperlukan kajian penetapan kadar metampiron, vitamin B1, B6, dan B12 dalam obat multikomponen secara simultan menggunakan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) kolom Zic-HILIC. Kajian literatur ini melibatkan artikel-artikel penelitian nasional maupun internasional, yang berhubungan dengan analisis metampiron, vitamin B1, B6, dan B12 dalam obat multikomponen menggunakan metode KCKT kolom Zic-HILIC.Literatur diperoleh dari beberapa Elsevier, National Center for Biotechnology Information (NCBI), dan Google Scholar. Berdasarkan hasil studi literatur dapat diketahui bahwa kondisi kromatografi cair kinerja tinggi menggunakan kolom Zic-HILIC yang meliputi komposisi fase gerak, kecepatan fase gerak, jenis buffer, pH fase gerak, konsentrasi buffer dan jenis pelarut organik mempengaruhi proses analisis metampiron, vitamin B1, B6, dan B12 secara simultan berdasarkan parameter kromatografi yakni waktu retensi, selektivitas, faktor retensi, resolusi, faktor tailing, dan jumlah lempeng teori. Panjang gelombang yang dapat digunakan untuk mendeteksi campuran obat dan vitamin adalah 272 dan 275 nm. Komposisi pelarut yang dapat digunakan adalah campuran air, asetonitril dan buffer. Kecepatan fase gerak pada proses analisis yang paling baik adalah 0,8 mL/menit. Jenis buffer yang dapat digunakan adalah amonium format, amonium asetat, natrium dihidrogen fosfat dan natrium sulfit dengan konsentrasi buffer 10 mM serta pH fase gerak berkisar antara 3-6.Kata kunci: kromatografi cair kinerja tinggi; Zic-HILIC; metampiron; vitamin; multikomponen
Karakteristik Protein dan Asam Amino Rhynchophorus ferrugineus, Rhynchophorus palmarum L dan Rhynchophorus phoenicis Cut Bidara Panita Umar; Iswandi Iswandi; Asmiyenti Djaliasrin Djalil
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES 2022
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf13nk306

Abstract

Insect larvae are a popular food source in many cultures around the world, famous for their delicacy as food because they contain good sources of protein, minerals, vitamins, energy such as in the species Rhynchophorus ferrugineus, Rhynchophorus palmarum L, and Rhynchophorus phoenicis L. Little is known about how realize the full potential of insects as food, especially edible insect species in rural communities, as their nutritional and economic value is often overlooked. So a study is needed that aims to determine the characteristics of proteins and amino acids and compare the similarities and differences found in Rhynchophorus ferrugineus, Rhynchophorus palmarum L, and Rhynchophorus phoenicis L, so as to provide information to the public about the importance of protein and amino acids for the body in daily life. This study is a literature review of national and international articles. The highest protein is in Rhynchophorus palmarum (45.82%), the second is Rhynchophorus phoenicis (31.4%), the last is Rhynchophorus ferrugineus (13.80%). Rhynchophorus contains essential amino acids such as aspartic acid, glutamic acid, methionine, lysine and leucine. It was concluded that all three have high levels of protein nutrition and essential amino acids that the body needs.Keywords: Rhynchophorus ferrugineus; Rhynchophorus palmarum L; Rhynchophorus phoenicis L; proteins; amino acid ABSTRAK Larva serangga adalah sumber makanan populer di banyak budaya di seluruh dunia, terkenal dengan kelezatan sebagai makanan karena mengandung sumber protein, mineral, vitamin, energi yang baik seperti pada spesies Rhynchophorus ferrugineus, Rhynchophorus palmarum L,dan Rhynchophorus phoenicis L. Sedikit yang diketahui tentang bagaimana mewujudkan potensi penuh serangga sebagai makanan, terutama spesies serangga yang dapat dimakan di masyarakat pedesaan, karena nilai nutrisi dan ekonominya sering diabaikan. Maka diperlukan studi yang bertujuan untuk mengetahui karakteristik protein dan asam amino serta membandingkan kesamaan dan perbedaan yang terdapat pada Rhynchophorus ferrugineus, Rhynchophorus palmarum L, dan Rhynchophorus phoenicis L, sehingga dapat memberikan informasi kepada masyarakat pentingnya protein dan asam amino bagi tubuh dalam kehidupan sehari-hari. Studi ini merupakan literature review dari artikel-artikel nasional maupun internasional. Protein tertinggi ada dalam Rhynchophorus palmarum (45,82%), kedua adalah Rhynchophorus phoenicis (31,4%), terakhir adalah Rhynchophorus ferrugineus (13,80%). Rhynchophorus mengandungan asam amino esensial seperti asam aspartat, asam glutamat, metionin, lysine dan leucine. Disimpulkan bahwa ketiganya memiliki kadar nutrisi protein yang tinggi serta asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh.Kata kunci: Rhynchophorus ferrugineus; Rhynchophorus palmarum L; Rhynchophorus phoenicis L; protein; asam amino
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI FRAKSI EKSTRAK DAUN KERSEN (Muntingia calabura L.) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus Brigita Aguilera Evarlin Jeharum; Iswandi; Destik Wulandari
Jurnal Farmasi IKIFA Vol. 4 No. 3 (2025): JURNAL FARMASI IKIFA VOL. 4 NO. 3 OKTOBER TAHUN 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan IKIFA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Staphylococcus aureus is a gram-positive bacterium that is part of the normal flora of human skin and mucous membranes. Staphylococcus aureus can cause infectious diseases. Cherry leaves are known to contain active compounds with antibacterial potential. The purpose of this study was to determine the antibacterial activity of cherry leaf extract fractions against Staphylococcus aureus bacteria, determine the MIC and MBC values, and detect the active fraction content. This study used an extraction method by maceration using 70% ethanol solvent and fractionation of cherry leaf extract using n-hexane, ethyl acetate, and water solvents. The disk diffusion method used a dilution series of 50%; 25%; 12.5% to obtain the most active fraction activity. The dilution method to determine the effectiveness of the concentration of the diffusion test with a dilution series of 50%; 25%; 12.5%; 6.25%; 3.12%; 1.56%; 0.78%; 0.39%. Data in the diffusion test were analyzed using SPSS to obtain the best activity. The normality test used the Shapiro Wilk test and homogeneity with Levene Statistic, then continued with the One Way ANOVA test. The results of the study showed that the most active extract fraction tested by the diffusion method was in the ethyl acetate fraction with a diameter of 26.95 mm. The ethyl acetate fraction tested by the dilution method had a MBC value of 6.25%. The ethyl acetate fraction was tested for content detection by Thin Layer Chromatography containing flavonoids, tannins, saponins, and alkaloids.