Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

UJI EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK PARE BELUT (TRICHOSANTHES CUCUMERINA L) TERHADAP BAKTERI PSEUDOMONAS AERUGINOSA DAN KLEBSIELLA PNEUMONIAE PENYEBAB INFEKSI SALURAN KEMIH Kelen, Intan Chayati Anum; Astuti, Tri Dyah
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 3 (2024): SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i3.32054

Abstract

Infeksi saluran kemih (ISK) adalah suatu reaksi inflamasi pada sel urothelial yang melapisi saluran kemih. Infeksi saluran kemih dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, seperti bakteri, virus dan jamur. Namun, infeksi ini sering disebabkan oleh bakteri. Salah satu bakteri penyebab ISK yaitu bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Klebsiella pneumoniae. Infeksi bakteri dapat diobati dengan antibiotik (sintetis), namun penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan resistensi antibiotik. Saat ini sebagian masyarakat memanfaatkan tanaman herbal atau obat tradisional sebagai pengobatan alternatif, salah satunya tanaman pare belut. Pare belut memiliki kandungan senyawa Tanin, Flavonoid, Alkaloid, dan Saponin sebagai antibakteri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui uji efektivitas antibakteri ekstrak pare belut (Trichosanthes cucumerina l) terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Klebsiella pneumoniae Penyebab ISK. Penelitian ini dilakukan dengan metode difusi cakram yang hasilnya dapat dilihat dari zona hambat yang terbentuk. Data yang diperoleh diolah menggunakan statistik uji Two Way ANOVA dilanjutkan dengan uji Post Hoc Tes untuk menentukan perlakuan yang terbaik yang sebelumnya sudah dilakukan uji kesamaan varian dengan uji levene. Jika hasil uji variannya sama maka dilakukan uji SNK (Uji Student Newman-Keuls). Kesimpulan penelitian menunjukkan ekstrak pare belut konsentrasi 100% memiliki zona hambat yang terbesar dalam menghambat pertumbuhan bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Klebsiella pneumoniae, dengan rerata diameter zona hambat terbesar sebesar 18,2 mm untuk Pseudomonas aeruginosa dan 21,2 mm untuk Klebsiella pneumoniae.  
ANALISIS KADAR SGOT DAN SGPT PADA PASIEN TUBERKULOSIS DALAM PENGOBATAN OAT DI RSU PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA Wabula, Supardin; Widyantara, Aji Bagus; Astuti, Tri Dyah
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 3 (2024): SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i3.32428

Abstract

Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan dengan angka kasus dan kematian yang signifikan. Kota Yogyakarta merupakan salah satu daerah dengan angka kejadian tuberkulosis yang masih relatif tinggi, dengan jumlah kasus 1.335 kasus pada tahun 2022. Terjadi peningkatan dari tahun 2021 sebelumnya dengan jumlah kasus 879 kasus. Pengobatan tuberkulosis dapat menyebabkan kerusakan hati. Parameter untuk menentukan adanya kerusakan hati adalah dengan melihat kadar SGOT dan SGPT. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kadar enzim SGOT dan SGPT pada pasien tuberkulosis dalam pengobatan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) selama enam bulan di RSU PKU Muhammadiyah Kota Yogyakarta. Jenis penelitian ini deskriptif kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Pengambilan sampel berdasarkan purposive sampling dengan ketentuan pasien hanya penderita tuberkulosis paru dalam pengobatan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) selama masa pengobatan bulan 1 sampai dengan bulan 6. Hasil penelitian menunjukan bahwa laki-laki lebih tinggi daripada perempuan yaitu sebesar 55,9% sedangkan perempuan 44,1%. Hasil pemeriksaan juga menunjukan bahwa kelompok usia <60 tahun sebagian besar pasien tuberkulosis yang menjalani pengobatan OAT sebesar 67,6% sedangkan usia 60 tahun 42,4%. Hasill pemeriksaan berdasarkan lama pengobatan, kadar SGOT dan SGPT yang meningkat sebagian besar lama pengobatan 6 bulan dengan persentase sebesar 5,9% sedangkan kadar SGOT normal persentase sebesar 94,1%. Hasil pemeriksaan SGPT juga menunjukan bahwa terjadi peningkatan berdasarkan lama pengobatan sebagian besar lama pengobatan 6 bulan dengan persentase 5,9% sedangkan kadar SGPT normal persentase sebesar 94,1%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat kenaikan kadar sgot dan sgpt pada pasien tuberkulosis dalam pengobatan OAT selama 6 bulan.
GAMBARAN CROSSMATCH METODE COLUMN AGGLUTINATION TEST DENGAN INKUBASI DAN TANPA INKUBASI PADA PASIEN TALASEMIA Sukma, Latifah; Hadi, Wahid Syamsul; Astuti, Tri Dyah
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 4 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i4.37917

Abstract

Talasemia merupakan penyakit langka yang memiliki kelainan pada darah dan membuat penderitanya mengalami anemia parah serta memiliki resiko pembengkakan hati juga limpa. Kabupaten Banyumas merupakan salah satu wilayah yang menyumbang angka penyandang talasemia yang cukup besar di Jawa Tengah, setidaknya ada sekitar 220 pasien talasemia. Sampai saat ini belum ditemukan obat untuk pasien talasemia yang dapat menyembuhkan secara total selain melakukan transfusi. Pemeriksaan pada crossmatch sampel pasien talasemia sering terjadinya inkompatibilitas yaitu antigen pada darah donor dan antibodi pada serum pasien tidak bereaksi dengan optimal sehingga terjadi aglutinasi, karena pasien talasemia sering mendapatkan transfusi berulang sehingga membentuk antibodi baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran crossmatch dengan inkubasi dan tanpa inkubasi pada pasien talasemia. Jenis penelitian ini adalah Deskriptif kuantitatif experimental dengan desain One-shot case study. Pengambilan sampel dilakukan secara random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 14 sampel. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan hasil crossmatch menggunakan sampel darah pasien talasemia dengan inkubasi dan tanpa inkubasi. hasil yang didapatkan yaitu kompatibel sebesar 64,3%, inkompatibel sebesar 35,7% dengan proses inkubasi begitupun juga proses tanpa inkubasi didapatkan hasil dengan besaran yang sama. Tidak didapatkan perbedaan yang signifikan antara hasil crossmatch metode column agglutination test dengan inkubasi dan tanpa inkubasi.
GAMBARAN JUMLAH LEUKOSIT DAN NILAI LED PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI RS PARU RESPIRA YOGYAKARTA Elfany, Vivi; Astuti, Tri Dyah; Hadi, Wahid Syamsul
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 4 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i4.38879

Abstract

Tuberkulosis merupakan suatu penyakit yang sebagian besar disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dimana penularan dapat melalui udara dan dapat terjadi melalui batuk dan juga bisa berupa bersin yang melepaskan basil tuberkulosis ke udara dalam bentuk aerosol atau butiran kecil. Tuberkulosis paru adalah suatu penyakit infeksius yang menyerang parankim paru. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jumlah dari leukosit dan nilai dari laju endap darah (LED) pada cakupan berupa penderita tuberkulosis paru di Rumah Sakit Paru Respira Yogyakarta. jenis dari penelitian ini adalah berupa deskriptif kuantitatif dengan suatu pendekatan cross-sectional, melibatkan 22 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data sekunder diperoleh dari rekam medis pada rentang bulan Januari-Desember 2023. Data dianalisis menggunakan uji Spearman menunjukkan hubungan yang bermakna antara jumlah dari leukosit dan juga nilai dari laju endap darah (LED) pada penderita sebelum melaksanakan suatu pengobatan (P=0,016), setelah tahap intensif (P=0,012), dan setelah tahap lanjutan (P=0,004). Uji Friedman menunjukkan perbedaan signifikan dalam kadar leukosit dan LED sebelum dan setelah pengobatan (P=0,000). Analisis Post-Hoc dengan uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan signifikan pada jumlah leukosit setelah tahap intensif dan lanjutan (P=0,013) serta pada nilai LED sebelum dan setelah tahap intensif (P=0,009) dan antara tahap intensif dan lanjutan (P=0,000), yang menunjukkan pengobatan lanjutan efektif dalam mengurangi inflamasi. Terdapat hubungan bermakna dan perbedaan signifikan antara jumlah dari leukosit dan juga nilai dari laju endap darah (LED) pada penderita tuberkulosis paru pada sebelum dan juga ketika sesudah melakukan suatu pengobatan.
Perbandingn Jumlah Eritrosit, Trombosit Mode Whole Blood dan Prediluted Menggunakan Hematology Analyzer Murtitono, Murtitono; Astuti, Tri Dyah; Solikah, Monika Putri
JURNAL KESEHATAN PERINTIS Vol. 11 No. 1 (2024): Jurnal Kesehatan Perintis
Publisher : LPPM UNIVERSITAS PERINTIS INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33653/jkp.v11i1.1062

Abstract

Pemeriksaan laboratorium yang sering digunakan dalam menunjang diagnosis salah satunya pemerksaan eritrosit dan trombosit. Pemeriksaan tersebut dapat dilakukan dengan metode otomatis hematology analyzer. Alat ini memiliki 2 mode yaitu whole blood dan prediluted. Mode whole blood digunakan ketika sampel darah yang digunakan minimal 1 mL dan mode prediluted digunakan minimal sampel 20 µL (kesulitan dalam pengambilan sampel). Tujuan penelitian untuk membandingkan jumlah eritrosit, trombosit mode whole blood dan prediluted menggunakan hematology analyzer. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dan sampel penelitian ini yaitu pasien yang melakukan pemeriksaan darah lengkap di Puskesmas Pengasih II. Sampel dilakukan pemeriksaan menggunakan kedua mode, kemudian data dianalisis menggunakan uji paired t-test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada parameter eritrosit didapatkan nilai rata rata mode whole blood dan prediluted yaitu 4,5577 dan 4,2397. Nilai sig uji paired t-test yaitu 0,00 (<0,05). Pada parameter trombosit didapatkan nilai rata rata mode whole blood dan prediluted yaitu 291700 dan 278133,33. Nilai sig uji paired t-test yaitu 0,01 (<0,05). Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna antara jumlah sel eritrosit, trombosit mode whole blood dan prediluted, namun tidak mempengaruhi interpretasi hasil pemeriksaan.
Perbandingan Hasil Hitung Jumlah Sel Darah Spesimen Darah Vena EDTA Menggunakan Metode Manual Dan Otomatis: Comparison Of Result Counting Blood Cell Number Of EDTA Vena Blood Specimen Using Manual And Automatic Methods Kurniasih, Erin; Astuti, Tri Dyah
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 6 No. 2 (2024): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v6i2.5876

Abstract

Pemeriksaan hematologi merupakan pemeriksaan darah yang paling awal untuk mengetahui diagnosis penyakit. Pemeriksaan hematologi yang lazim digunakan yaitu pemeriksaan hitung jumlah sel eritrosit, leukosit, trombosit. Pemeriksaan hematologi ini bisa menggunakan metode manual dan metode otomatis. Dengan metode perhitungan yang berbeda tentunya akan menimbulkan variasi hasil perhitungan sel darah. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan hasil hitung jumlah sel darah spesimen darah vena EDTA menggunakan metode manual dan otomatis. Metode penelitian yang digunakan adalah tinjauan literatur, pencarian data dilakukan dengan metode PICO dari database Google Scholar, Wiley Online Library, dan PubMed. Hasil penelitian ini ditemukan 11 jurnal yang sesuai dengan topik dan kriteria penelitian. Berdasarkan uji Independent sample t-test didapatkan nilai signifikasi sel eritrosit sebesar 0.0253 (>0.05), nilai signifikasi sel leukosit sebesar 0.242 (>0.05), dan nilai signifikan sel trombosit sebasar 0.273 (>0.05) yang artinya tidak ada perbedaan yang signifikan pada hitung jumlah sel darah dengan metode manual dan otomatis. Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian secara langsung dengan metode manual maupun otomatis menggunakan sampel darah vena EDTA dari pupulasi yang beragam, termasuk kondisi pasien dan kondisi klinis yang berbeda untuk melihat perbedaan terhadap hasil pemeriksaan hitung sel darah dan menambah literatur yang lebih banyak lagi supaya dapat mengembangkan penelitian ini.
Potensi Dan Uji Stabilitas Ekstrak Lawsonia Inermis Sebagai Cat Penutup Pada Gram Staining Dengan Variasi Suhu: Potency and Stability Test of Lawsonia inermis Extract as Counterstain on Gram Staining with Temperature Variation Asfiya, Nida Azki; Novalina, Dhiah; Astuti, Tri Dyah
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 6 No. 2 (2024): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v6i2.6736

Abstract

Gram staining is one of the methods used for bacterial identification. Safranin is one of the dye substances employed in Gram staining. The toxicity and health hazards associated with the use of safranin have been extensively reported, especially the risk of contamination from synthetic dye waste. The use of synthetic dyes is highly hazardous as it can lead to cancer, kidney, and liver damage. A potential alternative for Gram staining is the use of henna leaves (Lawsonia inermis), which contain the dye substance lawsone. However, natural dyes are susceptible to temperature changes.This research aims to determine the ability of henna leaves to stain bacteria as a counterstain in Gram staining and to assess the temperature stability of the henna leaf extract under various temperature variations. This study is a qualitative descriptive research with an experimental design conducted in the Microbiology Laboratory of the Faculty of Health Sciences at 'Aisyiyah University Yogyakarta. The results of Gram staining for Gram-negative bacteria (Escherichia coli) at temperatures of 40°C and 80°C show no contrast with the background, while Gram-positive staining for Staphylococcus aureus appears contrasting against the background. It can be concluded that the Gram staining of Escherichia coli bacteria with Lawsonia inermis extract at temperatures of 40°C and 80°C yields staining results that lack contrast between bacterial cells and the background. In contrast, Staphylococcus aureus bacteria exhibit contrasting staining results between bacterial cells and the background. The stability test of Lawsonia inermis extract indicates greater stability at 40°C compared to 80°C