Filter By Year

1945 2024


Found 840 documents
Search RADIOLOGI

Pengaruh Efktivitas Komunikasi Radiografer Pada Kepuasan Pasien di Instalasi Radiologi RS XYZ Erwin; Suharlim, Edwin; Kusmiati, Evie; Masita Hayati, Intan; Andriyani, Ria
Jurnal Teknologika Vol 15 No 2 (2025): Jurnal Teknologika
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Wastukancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51132/teknologika.v15i2.478

Abstract

The effectiveness of communication is a crucial component in healthcare services, significantly contributing to patient satisfaction. In conventional contrast examination procedures, effective communication is essential for conveying information about the methods, benefits, risks, and preparation required for the examination. A survey conducted through interviews with 30 patients and their families at the Radiology Department of RS XYZ revealed that 23 respondents expressed dissatisfaction with the communication provided by radiology staff. They reported difficulties in understanding instructions and explanations, noted that explanations were poorly structured, some components were omitted prior to the examination, and the language used was often difficult to comprehend. This study aims to evaluate the effectiveness of radiographer communication in relation to patient satisfaction during conventional contrast examinations at RS XYZ. Employing a quantitative descriptive design with a survey method, data were collected via questionnaires distributed to 30 respondents undergoing conventional contrast examinations or their family members. The data were analyzed using the Percentage Index formula to measure satisfaction levels. The study was conducted between May and June 2025. Key factors assessed included respect, empathy, listening ability, clarity, and humility. The results showed that respect scored 68% (categorized as fairly satisfied), empathy 81% (satisfied), listening ability 88% (satisfied), clarity 85% (satisfied), and humility 75% (satisfied). The lowest score was for respect, while the highest was for listening ability. Overall, the effectiveness of radiographer communication in relation to patient satisfaction during conventional contrast examinations at RS XYZ reached 61%, categorized as satisfied.
Teknik Pemeriksaan Radiografi Region Antebrachii pada Pediatrik dengan Kasus Close Fraktur di Instalasi Radiologi RSUD Perpetua J. Safanpo Papua Prama Sugara; Muslimah Putri Utami; Anisah
JURNAL LENTERA ILMIAH KESEHATAN Vol. 3 No. 2 (2025): Desember
Publisher : CV. Q2 Lantera Ilmiah Institut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52120/8pp7c495

Abstract

Pada tahun 2020, World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa tingkat kejadian patah tulang mencapai 2,7% dan terdapat sekitar 13 juta orang yang mengalami patah tulang. Pemeriksaan radiografi region antebrachii menjadi modalitas penting dalam membantu menegakkan diagnosa radiologi, namun pada pasien pediatrik hasil kualitas citra gambaran yang diperoleh dapat dipengaruhi pada persiapan pasien, proyeksi dan faktor eksposi. Fraktur tertutup (close fraktur) ialah sebuah contoh patah tulang di mana tulang yang patah tidak terlihat dari lingkungan luar karena tidak ada luka pada permukaan luar kulit. Metode penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif dengan pendekatan observasi dengan melibatkan radiografer dan radiologi sebagai informan. Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan proses wawancara, observasi dan dokumentasi dilapangan secara langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemeriksaan radiografi region antebrachii pada pediatrik dengan kasus close fraktur menggunakan proyeksi PA dan lateral serta tidak ada persiapan khusus yang dilakukan.
PROSEDUR PEMERIKSAAN RADIOGRAFI COLON IN LOOP PADA PEDIATRIK DENGAN KASUS HIRSCHSPRUNG DISEASE DI INSTALASI RADIOLOGI RS MUHAMMADIYAH LAMONGAN Rumaf, As`syifa Distia; Mukmin, Amril; Liscyaningsih, Ike Ade Nur
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v5i4.7804

Abstract

Hirschsprung Disease is a functional obstruction of the colon characterized by the absence of ganglion cells in the myenteric and submucosal plexuses of the distal segment, resulting in the absence of peristaltic movement. One of the radiographic methods used to assess this condition is the colon in loop examination, a technique involving retrograde administration of positive or negative contrast media into the colon. This study aims to describe the radiographic procedure of colon in loop in pediatric patients with suspected Hirschsprung Disease and to determine the reasons for not performing a post-evacuation radiograph at the Radiology Department of Muhammadiyah Hospital Lamongan. This research employed a qualitative case study approach, with data collected in July 2025 through observation, interviews, and documentation. The research subjects consisted of one radiologist and three radiographers. The findings indicate that the procedure was performed without specific preparations, except for changing the patient’s clothing to examination attire. The examination began with a plain abdominal radiograph in the AP projection, followed by contrast images in the Lateral, AP, LPO, and RPO projections using a water-soluble contrast medium with a single-contrast technique at a 1:8 ratio, totaling 200 cc. The contrast was introduced slowly through a catheter inserted approximately 2.5 cm into the anus and secured with a balloon filled with sterile water. A post-evacuation radiograph was not performed because the contrast medium used is easily absorbed by the body. In conclusion, the colon in loop procedure at the Radiology Department of Muhammadiyah Hospital Lamongan is carried out in a straightforward manner with specific projection sequences, the use of water-soluble contrast suitable for pediatric patients, and without the need for a post-evacuation radiograph due to the rapid absorption characteristics of the contrast medium. ABSTRAKHirschsprung Disease adalah gangguan fungsi kolon yang ditandai dengan tidak adanya sel ganglion pada pleksus mienterikus dan submukosa di segmen distal, sehingga pergerakan peristaltik tidak terjadi dan menimbulkan obstruksi fungsional. Salah satu metode radiografi yang digunakan untuk mengevaluasi kondisi tersebut adalah pemeriksaan colon in loop, yakni teknik pengisian kolon menggunakan media kontras positif atau negatif secara retrograd. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan prosedur pemeriksaan radiografi colon in loop pada pasien pediatrik dengan dugaan Hirschsprung Disease serta mengidentifikasi alasan tidak dilaksanakannya foto post-evakuasi di Instalasi Radiologi RS Muhammadiyah Lamongan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kasus, dengan pengumpulan data pada Juli 2025 melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian terdiri atas seorang dokter spesialis radiologi dan tiga radiografer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemeriksaan dilakukan tanpa persiapan khusus, kecuali penggantian pakaian pasien. Pemeriksaan diawali dengan foto polos abdomen proyeksi AP, dilanjutkan dengan proyeksi kontras Lateral, AP, LPO, dan RPO menggunakan media kontras water soluble teknik single contrast dengan perbandingan 1:8 sebanyak 200 cc. Kontras dimasukkan perlahan melalui kateter yang dimasukkan sekitar 2,5 cm ke anus dan distabilkan menggunakan balon berisi aquabidest. Foto post-evakuasi tidak dilakukan karena jenis kontras yang digunakan mudah diserap tubuh. Penelitian ini menyimpulkan bahwa prosedur colon in loop di rumah sakit tersebut dilakukan secara sederhana dengan urutan proyeksi tertentu, pemilihan media kontras yang aman bagi pasien pediatrik, serta tanpa perlunya foto post-evakuasi akibat sifat kontras yang cepat terabsorpsi.
ANALISIS PENGULANGAN CITRA COMPUTED RADIOGRAPHY DI INSTALASI RADIOLOGI RSUD KOTA SALATIGA Alicia Prabawati; Retno Wati; Muhamad Faik
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 7 (2025): Desember 2025
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Radiologi memiliki peran penting dalam penegakan diagnosis, salah satunya melalui penggunaan Computed Radiography (CR) yang lebih cepat dan efisien, namun dalam praktiknya masih ditemukan kasus pengulangan (repeat) yang berdampak pada meningkatnya beban kerja, biaya operasional, serta paparan radiasi berulang pada pasien. Papp (2011) menyebutkan bahwa batas ideal reject dan repeat berada pada kisaran 4–6%, tetapi di Instalasi Radiologi RSUD Kota Salatiga pemantauan mutu selama ini masih berfokus pada angka reject sehingga repeat belum dievaluasi secara komprehensif, padahal keduanya merupakan indikator penting dalam menilai kualitas pelayanan radiologi. Berdasarkan penelitian deskriptif kuantitatif yang dilakukan pada April–Juni 2025 melalui observasi penggunaan CR, wawancara dengan tiga radiografer, dan dokumentasi hasil repeat, diperoleh bahwa persentase pengulangan berada di atas standar Papp, yaitu 5,49% pada April, 5,63% pada Mei, dan 6,50% pada Juni. Faktor utama penyebab repeat meliputi citra terpotong, kesalahan posisi pasien, artefak, kesalahan eksposi, citra blur, serta ketidaktepatan kolimasi. Hasil ini menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh dan pencatatan repeat secara sistematis di Instalasi Radiologi RSUD Kota Salatiga guna meningkatkan mutu layanan serta mengurangi paparan radiasi berulang.
ANGKA REJECT DAN UPAYA MENGURANGI REJECT FILM PADA PEMERIKSAAN RADIOLOGI PERIAPIKAL GIGI Sinta Sulastri; Ildsa Maulidya Mar'atush; Widya Mufida
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 7 (2025): Desember 2025
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53625/jirk.v5i7.11913

Abstract

Background: Periapical radiography is an intraoral imaging technique used to visualize the structures of the teeth and periapical tissues. During the Field Practice Program (PKL) at RS TK III dr. Soetarto Yogyakarta, it was found that the incidence of film rejects remained relatively high. Several contributing factors include unstable patient positioning, sudden movements during the procedure, and suboptimal communication of instructions during image acquisition. This condition is further exacerbated by the absence of fixation devices that could help maintain patient positioning, leaving radiographers to rely solely on verbal guidance. Therefore, research is needed to identify the factors contributing to the high rate of film rejects and to explore efforts that can be implemented to reduce them, thereby optimizing the quality of periapical radiographic images. Methods: This study used a descriptive qualitative approach with data collected through interviews with 5 patients and 3 radiographers, observation of examination procedures, and documentation of film reject data from July 1 to September 23, 2025. Data analysis was conducted through reduction, presentation, and conclusion drawing to obtain a comprehensive overview of the conditions in the Radiology Department of RS TK III dr. Soetarto Yogyakarta. Results: Film reject data showed consistently high rates: 31.4% in July, 28.2% in August, and 30% in September 2025. The dominant contributing factors were patient movement, improper cassette positioning, and miscommunication during radiographic procedures. Based on interviews, several patients reported difficulties in maintaining position and following the radiographer’s instructions, while radiographers stated that the absence of fixation aids posed an additional challenge in maintaining accurate positioning. Clearer communication efforts were found to help reduce positioning errors and patient movement. Conclusions:The high rate of film rejects in periapical radiography at RS TK III dr. Soetarto Yogyakarta is primarily caused by patient movement, cassette positioning errors, and suboptimal communication. Improving communication, providing pre-examination education, and supplying fixation tools have the potential to reduce film reject rates and improve the quality of periapical radiographic images
Prosedur Pemeriksaan Radiografi Os Femur Pada Kasus Fraktur Tertutup Di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang Tahun 2025 Yulitasari, Deby; Utama, Harry Wahyudhy; Novianti, Leni; Anisah, Anisah
Jurnal Berita Kesehatan Vol 18 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Gunung Sari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58294/jbk.v18i2.313

Abstract

Fraktur femur adalah hilangnya kontinuitas pada tulang paha. Fraktur femur dibagi menjadi dua jenis yaitu fraktur terbuka atau fraktur femur tertutup, fraktur terbuka melibatkan kerusakan pada kulit yang bisa meningkatkan resiko infeksi sedangkan, Fraktur tertutup ditandai dengan tidak adanya komplikasi dimana kulit tetap utuh dan tulang tidak menembus permukaan kulit. Penelitian ini bertujuan agar mengetahui Prosedur Pemeriksaan Radiografi Os Femur Pada Kasus Fraktur Tertutup di Instalasi Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang Tahun 2025. Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan pendekatan studi kasus yang bertujuan menggambarkan secara sistematis prosedur pemeriksaan radiografi os femur pada kasus fraktur tertutup di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang. Penelitian dilaksanakan pada Juni–Agustus dengan metode purposive sampling terhadap satu pasien dengan diagnosis fraktur tertutup os femur yaitu Pemeriksaan ini dilakukan pada pasien Bernama Ny. B dengan klinis Fraktur Tertutup. Analisis data dilakukan dengan mengumpulkan data melalui observasi, wawancara, dan studi kepustakaan, kemudian diolah secara deskriptif untuk memperjelas prosedur pemeriksaan yang dilakukan dan ditarik kesimpulannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Prosedur Pemeriksaan Radiografi Os Femur Pada Kasus Fraktur Tertutup dilakukan dengan menggunakan proyeksi AP (Antarior Posterior) dan Lateral dengan Faktor kv 66 dan mAs 6. Kesimpulan terdapat perbedaan Teknik radiografi Os Femur pada kasus fraktur tertutup di Instalasi Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang dengan teknik radiografi Os femur kasus fraktur tertutup yang ada di teori, faktor ekposi yang digunakan jika secara teori menggunakan kv 70 dan mAs 22,34 dan jika Di Instalasi Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang menggunakan kv 66 dan mAs 6. Diharapkan penelitian ini menjadi sumber informasi dan menjadi masukan pada pelayanan kesehatan.
Prosedur Pemeriksaan Radiografi Lumbosacral Dengan Kasus LBP (Low Back Pain) Di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang Tahun 2025 Pramita, Rensalia; Utama, Harry Wahyudhy; Susanti, Devi; Utami, Muslimah Putri
Jurnal Berita Kesehatan Vol 18 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Gunung Sari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58294/jbk.v18i2.314

Abstract

Nyeri punggung bawah (Low Back Pain/LBP) umumnya dirasakan di area pinggang antara tulang rusuk bagian bawah dan daerah gluteal, sering disertai nyeri yang menjalar ke punggung. Gangguan neuromuskuloskeletal seperti perubahan pada otot, saraf, vertebra, dan diskus intervertebralis sering menjadi penyebabnya. Penelitian ini bertujuan menggambarkan temuan radiograf dan protokol pemeriksaan vertebrae lumbosacral pada kasus LBP di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang pada bulan Mei 2025. Populasi penelitian adalah pasien yang menjalani pemeriksaan lumbosacral. Sampel pada kasus ini adalah Ny. Id yang melakukan pemeriksaan lumbosacral pada pasien Low Back Pain (LBP) yang datang ke Instalasi Radiologi Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei pada tahun 2025. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk mengambil kesimpulan. Hasil pemeriksaan radiograf menunjukkan dextroscoliosis ringan, instabilitas lumbal, spondyloarthrosis lumbalis, serta penyempitan sela diskus pada segmen L5–S1, yang mendukung adanya perubahan degeneratif sebagai faktor penyebab LBP. Protokol pemeriksaan di instalasi tersebut meliputi proyeksi anteroposterior dan lateral, eksposi 77 kV mAs 16 untuk AP dan 80 kV mAs 25 untuk lateral, FFD 100–150 cm, ukuran film 14×17 inci, serta batas pemeriksaan dari umbilikus hingga simpisis pubis, pasien diposisikan berdiri untuk memaksimalkan visualisasi pergeseran tulang belakang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pentingnya ketelitian teknis dan interpretatif radiografer serta penerapan standar keselamatan pasien untuk meminimalkan kesalahan pemeriksaan dan meningkatkan akurasi diagnostik. Penelitian ini di harapkan untuk menjadi referensi dan menjadi lanjutan dengan sampel lebih besar disarankan untuk memvalidasi temuan. Implementasi rekomendasi ini dapat meningkatkan mutu layanan radiologi di rumah Sakit atau fasilitas kesehatan lainnya.
Prosedur Pemeriksaan Colon In Loop Dengan Klinis Tumor Colorectal Di Instalasi Radiologi RSUD DR Soehadi Prijonegoro Sragen Aulia Putri, Iga; Wati, Retno; Nur Istiqomah, Anisa
Catha : Jurnal Penelitian Kreatif dan Inovatif Vol. 3 No. 1 (2026): Januari
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/catha.v3i1.160

Abstract

Latar Belakang: Instalasi Radiologi RSUD Dr. Soehadi Prijonegoro Sragen memiliki perbedaan prosedur pemeriksaan colon in loop dan penggunaan media kontras dengan penelitian sebelumnya, Media kontras diberikan menggunakan spuit melalui kateter dengan volume kontras negatif yang lebih sedikit sekitar 800 cc, serta prosedur pemeriksaannya hanya menggunakan proyeksi Anterior Posterior dan Lateral. Perbedaan prosedur dan volume media kontras ini menimbulkan pertanyaan mengenai kesesuaian dengan standar pemeriksaan serta alasan penerapan metode tersebut pada kasus tumor colorectal . Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prosedur pemeriksaan colon in loop pada kasus tumor colorectal  serta menganalisis perbedaan penggunaan volume media kontras dibandingkan standar umum. Metode: Jenis penelitian adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian dilakukan di Instalasi Radiologi RSUD Dr Soehadi Prijonegoro Sragen pada Agustus 2024 – Juli 2025. Subjek dari penelitian ini adalah 3 Radiografer dan 1 Dokter Spesialis Radiologi. Pengambilan data dilakukan dengan observasi partisipatif, wawancara langsung dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan melalui  pengolahan data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil: Pemeriksaan colon in loop klinis tumor colorectal  di Instalasi Radiologi RSUD Dr. Soehadi Prijonegoro Sragen dilakukan dengan persiapan pasien berupa diet rendah serat selama dua hari, pemberian obat urus-urus, makan terakhir pukul 19.00, serta puasa 6–8 jam sebelum pemeriksaan. Alat yang digunakan meliputi pesawat sinar-X, meja pemeriksaan, kaset 35x43 cm, kateter, spuit, media kontras barium sulfat, serta peralatan pendukung lainnya. Prosedur pemasukan kontras dilakukan dengan posisi pasien miring kiri, kateter dimasukkan ke dalam rektum, kemudian media kontras disuntikkan perlahan menggunakan spuit hingga mencapai volume ±800 cc. Pemeriksaan radiografi dilakukan dengan proyeksi AP dan lateral disertai perubahan posisi pasien untuk membantu distribusi kontras. Penggunaan volume media kontras negatif sebesar 800 cc disesuaikan dengan kondisi pasien tumor colorectal, bertujuan untuk mengurangi ketidaknyamanan dan risiko nyeri berlebih, namun tetap memberikan gambaran radiologis yang memadai terhadap colon distal. Kesimpulan: Prosedur pemeriksaan colon in loopklinis tumor colorectal mengalami modifikasi berupa penggunaan volume kontras lebih sedikit (±800 cc) dan pemasukan dengan spuit secara perlahan. Modifikasi ini dilakukan untuk menyesuaikan kondisi pasien dengan tumor colorectal, mengurangi risiko nyeri dan komplikasi, serta tetap menghasilkan gambaran radiologis yang jelas. Sebaiknya pada pemeriksaan colon in loop ditambahkan beberapa proyeksi seperti proyeksi RPO dan LPO untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat. Kata Kunci: Colon in loop, tumor colorectal, AP, Lateral
Karakteristik Radiologi Foto Toraks Terhadap Penderita Pneumonia Anak di Rumah Sakit Royal Prima Ayahanda Medan Sulistiawati, Sulistiawati; Pulungan, Ica Yulianti; Nadapdap, Marshall Jeremia
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i11.62496

Abstract

Pneumonia is as an acute respiratory infection that affects lung tisuue and stands as one of the primary causes of mortality among children worldwide.. According to the World Health Organization (WHO, 2022), pneumonia is caused by infectious agents such as Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae type b (Hib), and Respiratory Syncytial Virus (RSV). UNICEF (2024) reports that more than 700,000 children under the age of five die annually due to pneumonia. Radiological chest X-ray examination plays an essential role in detecting pulmonary abnormalities such as infiltrates, consolidation, and bronchopneumonia (Az et al., 2021). It also assists in distinguishing between bacterial and viral pneumonia (Aprilia et al., 2024). Objective to determine the radiological characteristics of chest X-ray findings in pediatric patients with pneumonia at Royal Prima Ayahanda Hospital Medan. Methods this research employed a descriptive retrospective study design using a cross sectional approach. Secondary data were collected from the medical records of pediatric pneumonia patients at Royal Prima Ayahanda Hospital, Medan, during 2022–2023. A total of 57 pediatric patients who met the inclusion and exclusion criteria were included. Data were analyzed univariately and presented in frequency and percentage distributions based on variables such as age, gender, infiltrate, and consolidation findings. The results showed that the most common age group was 0–1 years (42.1%), with females predominating (61.4%). Chest X-ray examination revealed that 75.4% of patients had abnormal radiological findings. The most frequent feature was pulmonary infiltrate (77.2%), while consolidation was found in 21.1% of patients. Conclusion most pediatric pneumonia patients demonstrated abnormal radiological chest X-ray findings, predominantly alveolar infiltrates. Chest X-ray examination remains an important diagnostic tool in assessing lung involvement and determining the severity of pneumonia in children.
Uji Kelayakan Single Piece Lead Apron Pada Instalasi Radiologi Rumah Sakit XYZ Hamdi Rubiyanto
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.4812

Abstract

Latar Belakang:Single piece lead apron merupakan alat pelindung radiasi penting dalam praktik radiologi, namun efektivitasnya dapat menurun akibat usia penggunaan, penyimpanan yang tidak sesuai, dan kerusakan material. Di Instalasi Radiologi Rumah Sakit XYZ, sebagian besar apron belum diuji kelayakannya selama lebih dari satu tahun.Tujuan:Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kelayakan 10 single piece lead apron berdasarkan kondisi fisik dan hasil uji radiografi menggunakan fluoroscopy.Metode:Penelitian ini bersifat kuantitatif deskriptif. Pengambilan data dilakukan melalui observasi, dokumentasi, dan pengujian fisik serta fluoroscopy terhadap apron yang dibagi menjadi empat kuadran lalu dibandingkan berdasarkan teori Lambert (2001).Hasil:Dari 10 apron yang diuji, 5 apron dinyatakan tidak layak karena mengalami kebocoran signifikan di area vital, seperti organ reproduksi dan tulang belakang. Beberapa apron menunjukkan retakan dan lipatan pada area non-vital, sementara 5 apron dinyatakan layak pakai tanpa kerusakan signifikan.Kesimpulan: Kerusakan apron 20% berada di Kuadran I, 40% berada di Kuadran II dan III, dan 50% kerusakan apron berada di Kuadran IV.

Page 79 of 84 | Total Record : 840