cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Chimica et Natura Acta
ISSN : 23550864     EISSN : 25412574     DOI : -
Chimica et Natura Acta diterbitkan oleh Departemen Kimia, FMIPA, Universitas Padjadjaran tiga kali setiap tahun pada bulan April, Agustus dan Desember. Artikel yang dimuat mencakup Kimia Analisis dan Pemisahan, Kimia Material, Kimia Energi dan Lingkungan, Kimia Organik Bahan Alam dan Sintesis, Biomolekular Pangan dan Kesehatan serta topik-topik lain yang berhubungan dengan ilmu Kimia.
Arjuna Subject : -
Articles 372 Documents
Review Article: Effect of Co-Expression Chaperones on the Expression of Intracellular Recombinant Proteins in Escherichia coli Diandra Firdiani Utami; Mamlikatu Ilmi Azizah; Sriwidodo Sriwidodo; Ryan Adibagus Haryanto; Riyona Desvy Pratiwi; Iman Permana Maksum
Chimica et Natura Acta Vol 11, No 2 (2023)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/cna.v11.n2.46480

Abstract

Escherichia coli is widely used as a host for expressing recombinant proteins due to its well-studied genetics, fast growth, relatively low production costs, and high rate of protein expression. However, despite the high rate of protein expression, the availability of chaperone proteins was often insufficient, resulting in the formation of inclusion bodies due to errors in protein folding. These inclusion bodies can cause the protein to become inactive, and proper protein folding is crucial for maintaining the structure and function of proteins in living organisms. To overcome this limitation, chaperones have been developed as a strategy to help prevent protein folding errors and increase the recovery of soluble protein. In this review, we summarize several experiments related to co-expressing chaperones to enhance the expression of recombinant proteins in E. coli.
Steroid dari Kulit Batang Aglaia glabrata dan Aktivitas Sitotoksinya terhadap Sel Kanker Leukemia P-388 Risyandi Anwar; Desi Harneti; Vidia Afina Nuraini; Faizah Maira; Nurlelasari Nurlelasari; Tri Mayanti; Rani Maharani; Unang Supratman; Khalijah Awang
Chimica et Natura Acta Vol 11, No 2 (2023)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/cna.v11.n2.48980

Abstract

Steroid saponin baru, b-sitosterol-3-O-beta-D-galaktopiranosil-(1-4)-beta-D-glukopiranosida (1), bersama dengan empat steroid yang diketahui (2-5) diisolasi dari kulit batang dari Aglaia glabrata. Struktur kimia senyawa baru dijelaskan berdasarkan data-data spektroskopi. Semua senyawa diuji aktivitas sitotoksiknya terhadap sel kanker leukemia murine P-388. Diantara senyawa yang diisolasi tersebut, stigmasterol (4) menunjukkan aktivitas sitotoksik terkuat dengan nilai IC50 sebesar 12.2 mg/mL.
The Impact of Blood Cupping (Al-Hijama) on Serum Creatinine and Uric Acid Levels in Patients from Hadhramout, Yemen Sumaidea, Saleh Bin; Hassan, Hassan Pyar Ali; Bakaduem, Adnan Ali; Almashjari, Abdulrahman Omar; Bashumail, Abdullah Shamlan; Blhamed, Mohammed Saeed
Chimica et Natura Acta Vol 11, No 3 (2023)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/cna.v11.n3.46396

Abstract

Cupping is a wonderful healing tool that has been employed for hundreds of years by numerous traditional folklore practitioners. Cupping treats many diseases including eliminating blood pollutants like uric acid and creatinine. The aim of this study to evaluate the impact of cupping on blood pressure, uric acid concentration, and creatinine levels. Sixty (60) random patient between the ages of (20 -70) years were selected, the blood samples were collected before cupping and after cupping for the evaluation. The result showed that the levels of creatinine and uric acid decreased significantly (p < 0.05) after cupping for both creatinine and uric acid. Moreover, the study showed that blood pressure decreased significantly (p < 0.05) after cupping. The result concluded that cupping has positive impact on health by modulating creatinine, uric acid blood levels and decreasing blood pressure.
Studi Penambatan Molekul Senyawa Metabolit Sekunder Batang Kayu Manis (Cinnamomum burmanni) sebagai Kandidat Obat Antidiabetes Mellitus Tipe II Puspitasari, Anita Dwi; Murti, Nugrahaeni Kresna; Samsuri, Ahmad; Shofiyah, Jihan Labiba Nur
Chimica et Natura Acta Vol 12, No 2 (2024)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/cna.v12.n2.53563

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) tipe II merupakan penyakit kronis yang prevalensinya semakin meningkat setiap tahunnya. Salah satu strategi terapi untuk pengobatan DM tipe II melalui penghambatan enzim α-glucosidase. Dalam beberapa tahun terakhir, pencarian obat antidiabetes alami semakin populer. Ekstrak batang kayu manis (Cinnamomum burmanni) diketahui berpotensi sebagai antidiabetes. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder dari batang kayu manis (Cinnamomum burmanni) yang paling potensial sebagai inhibitor α-glucosidase secara in silico. Sembilan senyawa metabolit sekunder hasil isolasi batang kayu manis dari penelitian sebelumnya dilakukan penambatan molekul terhadap enzim α-glucosidase kode PDB 2JKE dengan pembanding miglitol dan dianalisis berdasarkan energi pengikatannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kode PDB 2JKE valid dengan nilai RMSD 0,2912 Å. Berdasarkan analisis penambatan molekul, senyawa nerolidol memiliki score docking (-81,165) yang lebih kecil dibandingkan miglitol (-80,2642) sehingga secara teoritis senyawa nerolidol memiliki penghambatan yang lebih baik terhadap enzim α-glucosidase dibandingkan miglitol. Selain itu, profil ADMET menunjukkan bahwa nerolidol tidak melanggar Lipinski Rules dan tidak toksik.
In vitro antimicrobial screening of Manihot esculenta Sao Pedro Petro Extract and Identification of Active Compounds Widiastuti, Diana; Sinaga, Siska Elisahbet; Sofian, Yayan; Mulyati, Ade Heri; Warnasih, Siti; Sadjarwa, Boedi; Dhiandani, Sri Boedi; Herlina, Eka; Triastinurmiatiningsih, Triastinurmiatiningsih; Agustine, Dine
Chimica et Natura Acta Vol 12, No 1 (2024)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/cna.v12.n1.50154

Abstract

Sao Pedro Petro cassava tubers (Manihot esculenta Ctro) are one of the cassava varieties, generally cultivated in tropical and subtropical areas. This plant has the potential to contain antimicrobial bioactive compounds. This research aimed to demonstrate the antibacterial activity of each fraction and subsequently identify the specific active fraction for in-depth analysis of its bioactive compounds. The evaluation of antimicrobial activity and the identification of bioactive compounds were conducted using the well-diffusion method and UPLC-QTOF MS (Ultra Performance Liquid Chromatography-Quadrupole Time of Flight Mass Spectrometry). Results indicated that the ethanol, n-hexane, and n-butanol fractions exhibited no inhibitory effects on the tested microorganisms. In contrast, the ethyl acetate fraction displayed the highest level of antimicrobial activity (Staphylococcus aureus ATCC 6538, Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853, and Candida albicans ATCC 1023). Further analysis of the ethyl acetate fraction revealed key bioactive compounds, including Coixol (phenol-group), Trigonelline and 2,6-Dimethyl quinoline (alkaloid-group), and Chebuloside-II (terpenoid-group). In summary, this pioneering research represents the first-ever exploration of the antimicrobial potential of cassava tubers, specifically focusing on the Sao Pedro Petro variety. The study not only underscores the antimicrobial properties of Manihot esculenta tubers but also identifies specific bioactive compounds within them, providing valuable insights into their potential therapeutic applications
Tempe Kedelai Hitam (Glycine soja) dan Kacang Buncis Putih (Phaseolus vulgaris L.) sebagai Pangan Fungsional Antioksidan
Chimica et Natura Acta Vol 11, No 3 (2023)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/cna.v11.n3.47039

Abstract

Kedelai hitam dan biji kacang buncis mengandung senyawa flavonoid dan fenolik yang berpotensi dikembangkan sebagai pangan fungsional antioksidan. Campuran kedelai hitam dan biji kacang buncis putih 1:1 difermentasi dengan ragi tempe 0,2% (b/b) dan angkak divariasikan sebesar 1; 1,5; 2% (b/b) dengan waktu fermentasi 0, 12, dan 24 jam. Jumlah angkak dan waktu fermentasi optimum ditentukan berdasarkan karakteristik tempe dari uji organoleptik meliputi warna, bau, dan tekstur tempe oleh 25 orang panelis. Tempe diekstrak menggunakan aseton 80% (v/v) dan diukur aktivitas antioksidan dengan metode 2,2-diphenyl-1-picryhydrazyl (DPPH) serta total fenolik dan total flavonoid. Hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa fermentasi selama 24 jam menghasilkan tempe dengan tekstur, aroma, serta warna yang disukai panelis. Aktivitas antioksidan (IC50), kadar flavonoid total tertinggi didapatkan pada tempe dengan penambahan kulit ari kedelai hitam. Tempe dengan penambahan angkak 2% (b/b) memiliki aktivitas antioksidan dan kadar flavonoid sebesar 34,46 ± 0,08 ppm dan 45,06 ± 0,71 mg CE/g. Campuran kedelai hitam dan biji kacang buncis tanpa kulit ari kedelai hitam dan angkak 2% (b/b) mengandung total fenolik tertinggi sebesar 565,37 ± 3,41 mg GAE/g dan total flavonoid sebesar 45,06 ± 0,71 mg CE/g). Fermentasi kedelai hitam dan biji kacang buncis dengan ragi tempe dan angkak mampu meningkatkan aktivitas antioksidan sehingga berpotensi dikembangkan menjadi pangan fungsional antioksidan.
Characterization and Antidiabetic Potential of Durian Leaf (Durio zibethinus Linn.) Ethyl Acetate Extract Aruan, Dyna Grace Romatua; Barus, Tonel; Haro, Gindo; Simanjuntak, Partomuan
Chimica et Natura Acta Vol 12, No 2 (2024)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/cna.v12.n2.47817

Abstract

Durian leaves (Duiro zibethinus Linn.) are one of the plants whose leaves are used as a fever reducer (antipyretic). The aim of this research is to isolate natural ingredients using natural ingredient extraction techniques by maceration and identify steroid compounds from durian leaves that have anti-diabetic potential. Isolation was carried out through several stages, namely maceration, fractionation, subfractionation using column chromatography, purification using preparative TLC, and testing the purity of the isolate using TLC and determining the melting point of the isolate. The antidiabetic potential of the isolation was carried out using the α-glucosidase enzyme inhibition method. The chemical structure of the isolate was characterized using IR and UV-Vis spectroscopy. Based on IR spectroscopy analysis, the isolation has C=C, OH, O-C functional groups, C-H aromatic functional groups. UV-Vis spectroscopy data shows that there are maximum peaks at 207 nm and 247 nm, meaning that the isolated steroid compound has unconjugated double bonds. Based on spectroscopic data and comparison with reference compounds, it could be identified that the isolate obtained was β-sitosterol.
Kinerja Inhibisi Antioksidan Ekstrak Daun Miana (Coleus scutellarioides (L.) Benth.) pada Variasi Waktu Ekstraksi dan sebagai Bahan Tambahan Sabun Mandi Cair Sakalaty, Evanda Enggelina; Nugrahani, Ratri Ariatmi; Fithriyah, Nurul Hidayati
Chimica et Natura Acta Vol 12, No 1 (2024)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/cna.v12.n1.47348

Abstract

Kulit menjadi salah satu organ penting dari tubuh manusia, sehingga perlu untuk dijaga dan dilindungi. Sabun mandi merupakan salah satu produk yang dapat membersihkan kulit, sehingga diharapkan selain dapat membersihkan kulit sabun mandi juga harus dapat melindungi kulit dari reaksi oksidasi. Daun miana (Coleus scutellarioides (L.) Benth.)dapat dimanfaatkan sebagai salah satu zat tambahan dalam sabun mandi, hal ini karena daun miana memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder yang dapat bermanfaat sebagai antioksidan alami.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh waktu ekstraksi ultrasonikasi dan pengaruh penambahan ekstrak daun miana terhadap inhibisi antioksidan dalam pembuatan sabun mandi cair. Penelitian ini menggunakan dua variabel bebas yaitu waktu ekstraksi (60, 90, 120, 150 dan 180 menit) dan konsentrasi ekstrak (0%, 1%, 2%, 3% dan 4%) dalam formula sabun, dengan menggunakan metode ekstraksi ultrasonikasi. Adapun proses ekstrasi dengan menggunakan pelarut etanol 96%. Hasil perhitungan rendemen tertinggi yaitu pada ekstraksi 150 menit, dengan nilai 2,30. %Inhibisi antioksidan tertinggi juga didapat pada ekstrak dengan waktu ekstraksi 150 menit, yaitu 81,486. Persamaan regresi yang diperoleh yaitu y = -0,4427x4 + 4,9163x3 - 19,212x2 + 32,665x + 56,91 dan R² = 1. Kemudian untuk %inhibisi antioksidan sabun mandi cair yang paling tinggi yaitu pada sabun mandi dengan konsentrasi esktak daun miana 4% (v/v) yaitu sebesar 59,322. Dengan persamaan regresi yang diperoleh yaitu y = -1,1874x2 + 17,939x - 1,7731 dan R² = 0,9866. Hasil pengujian organoleptik dari 30 Panelis didapatkan bahwa konsentrasi ekstrak yang ditambahkan dalam sabun tidak mempengaruhi hasil pengujian organoleptik.
Fraksinasi Isolat Fungi Tanah dari Biak-Papua BioMCC-f.T.7720 Berbasis Uji Aktivitas Penghambatan Enzim Dihydroorotate Dehydrogenase Plasmodium falciparum Rachmawati, Indra; Yusuf, Muhammad; Chrisnayanti, Evita
Chimica et Natura Acta Vol 12, No 2 (2024)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/cna.v12.n2.52447

Abstract

Enzim dihydroorotate dehydrogenase Plasmodium falciparum (PfDHODH) merupakan target menarik untuk mencari kandidat antimalaria. Enzim ini beperan penting untuk kehidupan Plasmodium karena diperlukan dalam jalur biosintesis de novo pirimidin parasit. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan fraksi aktif ekstrak fungi yang menunjukkan penghambatan terhadap aktivitas enzim PfDHODH. Pada penelitian ini telah dilakukan skrining penghambatan aktivitas enzim PfDHODH terhadap 80 ekstrak fungi yang diisolasi dari tanah. Berdasarkan hasil skrining diketahui bahwa ekstrak butanol kaldu fermentasi isolat fungi BioMCC-f.T.7720 dari Biak, Papua menunjukkan penghambatan paling tinggi terhadap aktivitas enzim PfDHODH, dengan nilai penghambatan mencapai 90% pada konsentrasi 0,5 μg/mL dan tidak menunjukkan aktivitas penghambatan terhadap enzim homolog manusia (HsDHODH). Metode pemurnian ekstrak akfif dilakukan dengan fraksinasi berbasis uji aktivitas terhadap ekstrak butanol isolat fungi tersebut. Ekstrak aktif dimurnikan dengan kromatografi kolom silika gel dan dilanjutkan dengan High Performance Liquid Chromatography (HPLC) preparatif. Diperoleh 2 fraksi aktif, yaitu Fr2A-2 dan Fr2A-3 dengan puncak dominan pada waktu retensi (Rf)14.654 menit dan 15.060 menit, secara berturut – turut. Fraksi aktif menunjukkan penghambatan terhadap enzim PfDHODH sebesar 57,09% (Fr2A-2) dan 83,52% (Fr2A-3) pada konsentrasi 50 μg/mL. Fraksi Fr2A-3 lebih poten dalam menghambat enzim PfDHODH dibanding fraksi Fr2A-2, dengan nilai IC50 2,76 μg/mL.
Chemical Fingerprint Berbasis Spektroskopi Inframerah (ATR-FTIR) Dipadukan dengan Kemometrik Untuk Kontrol Kualitas Daun Kratom (Mitragyna Speciosa Korth.) Ragil, Ragil; Aninda, Dea; Pitri, Rosiana; Sailendra, Pingkan Ramadhan; Masriani, Masriani; Heryanto, Rudi
Chimica et Natura Acta Vol 12, No 1 (2024)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/cna.v12.n1.51276

Abstract

Kratom dijuluki sebagai daun narkotika dari Kalimantan yang memiliki berbagai efek biologi seperti antiinflamasi dan antinoseptif. Secara tradisional daun kratom digunakan untuk menambah stamina, mengobati diare, sakit perut, susah tidur, kolesterol, asam urat, dan diabetes. Permintaan daun kratom di pasaran begitu tinggi sehingga memunculkan masalah berupa pemalsuan daun tersebut dari tanaman yang memiliki kemiripan morfologi.Penelitian ini bertujuan mengembangkan metode  analisis  untuk mengidentifikasi dan mengautentikasi  daun kratom  dari daun jambu biji. Data hasil analisis ATR-FTIR dikombinasikan dengan analisis kemometrika untuk mengklasifikasikan serta mengelompokan data tersebut, sehingga dapat membedakan daun kratom dan daun jambu biji. Metode analisis ATR-FTIR yang dipadukan dengan analisis kemometrik melalui pemodelan PCA (Principal Component Analysis) dan PLS-DA (Partial Least SquaresDiscriminant Analysis) mampu membedakan daun kratom dan daun jambu biji. PCA dengan nilai PC 90% mampu mengelompokkan sampel daun kratom dan daun jambu biji. Model PLSDA berhasil memprediksi keaslian sampel uji daun kratom yang telah dicampur dengan daun jambu biji. Pembuatan model prediksi daun kratom dengan PLS menghasilkan R2 kalibrasi, R2 prediksi, RMSEC, dan RMSEV masing-masing sebesar 0,9068; 0,8641; 0,1366 dan 0,1666.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa spektra ATR-FTIR dan kemometrik dapat digunakan untuk membedakan daun kratom dengan daun jambu biji serta mampu memprediksi keaslian daun kratom yang dipalsukan.