cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
ISSN : 23388528     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Ranah: Journal of Language Studies is published by the National Agency for Language Development and Cultivation. It is a research journal which publishes various research reports, literature studies and scientific writings on phonetics, phonology, morphology, syntax, discourse analysis, pragmatics, anthropolinguistics, language and culture, dialectology, language documentation, forensic linguistics, comparative historical linguistics, cognitive linguistics, computational linguistics, corpus linguistics, neurolinguistics, language education, translation, language planning, psycholinguistics, sociolinguistics and other scientific fields related to language studies. It is published periodically twice a year in June and December. Each article published in Ranah will undergo assessment process by peer reviewers.
Arjuna Subject : -
Articles 312 Documents
Syair Lagu Melayu Sambas Karya Bullyan Musthafa sebagai Media Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar Djarot, Muchammad; Ali, Roslan bin; Aditya, Farninda
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8317

Abstract

This study aims to describe and analyze the values contained in, as well as the utilization of, Syair Lagu Melayu Sambas (Malay Sambas song lyrics) composed by Bulyan Musthafa as a medium for teaching Indonesian language in elementary schools in Pontianak. The song lyrics such as Passan Nek Allong, Tikannang Urang Tue, and Kaing Lunggi embody strong elements of local cultural values and exhibit linguistic structures that support students’ listening, reading, and writing skills. The research employed a qualitative approach with data collected through observation, interviews, and documentation. Data analysis was carried out using an interactive model consisting of three stages: (1) data reduction, involving the selection and simplification of relevant data; (2) data presentation, in both narrative and visual forms; and (3) conclusion drawing and verification. The findings reveal that the songs Passan Nek Allong, Kaing Lunggi, Tikannang Urang Tue, and Allok Galing Lassong Labban contain diverse religious, moral, social, and educational values that can serve as contextual learning resources. The integration of regional song lyrics into Indonesian language learning not only enhances students’ learning interest and literacy but also instills character values and love for local culture. Teachers use these syair as authentic and contextual texts to create meaningful learning experiences. This study recommends the development of local culture-based teaching materials to improve the effectiveness of Indonesian language instruction at the elementary school level. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan, menganalisis nilai yang terkandung dan pemanfaatan syair lagu Melayu Sambas karya Bulyan Musthafa sebagai media pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar Pontianak. Lirik-lirik lagu seperti Passan Nek Allong, Tikannang Urang Tue, dan Kaing Lunggi mengandung nilai-nilai budaya lokal yang kuat serta memiliki struktur bahasa yang mendukung keterampilan menyimak, membaca, dan menulis siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan menggunakan model analisis interaktif yang terdiri atas tiga tahap: (1) reduksi data, yaitu proses seleksi dan penyederhanaan data yang relevan; (2) penyajian data dalam bentuk naratif atau visual; dan (3) penarikan kesimpulan serta verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa syair-syair seperti Passan Nek Allong, Kaing Lunggi, Tikannang Urang Tue, dan Allok Galing Lassong Labban mengandung beragam nilai religius, moral, sosial, dan pendidikan yang dapat dijadikan sumber pembelajaran kontekstual. Integrasi syair lagu daerah dalam pembelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya meningkatkan minat belajar dan literasi siswa, tetapi juga menanamkan nilai-nilai karakter dan kecintaan terhadap budaya lokal. Guru memanfaatkan syair sebagai teks autentik yang kontekstual untuk membangun pembelajaran yang bermakna. Studi ini merekomendasikan pengembangan bahan ajar berbasis budaya lokal untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran Bahasa Indonesia di tingkat dasar.
Analisis Kesalahan Berbahasa dalam Fonologi Bahasa Indonesia Pada Penutur Bahasa Korea di Media Youtube Mulyanto, Agus; Rakhmat, Moh; Mulyani, Sri
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.7835

Abstract

The aim of this research is to analyze language errors in phonetics in the use of Indonesian by foreign speakers and as a guide or reference in learning Indonesian for foreign speakers. The data obtained was taken from one of the video content on the Hello82 YouTube channel with guest star NCT DREAM. The research method uses descriptive qualitative by collecting data analyzing errors in language, recording and describing all the data, analyzing in more detail and describing errors in each data, classifying each data in phonetic studies. Phonetics is a field of study in language that focuses on the mechanisms and speech sounds produced by the speech apparatus. There are 24 Indonesian words that have errors in pronunciation. Language errors made by speakers include the vowel phonemes /a/, /i/, /u/, /e/, /ə/, and /o/ while the consonant phonemes /i/, /k/, /g/ , /n/, /r/, /p/, /t/, and /b/. Based on the form of sound change, it is divided into 18 forms of sound change, 10 forms of adding phoneme sounds, and 4 forms of removing phoneme sounds. From this research, the forms of phoneme sound changes include neutralization, vowel harmonization, assimilation, aspiration, epenthesis anaphtysis, paragog anaptysis, apocope contractions, and syncope contractions. Errors that occur can be influenced by the speaker's native grammar or the speaker's habits. In the rules of the Korean language, there are several phonemes that are pronounced and written the same, following the rules of the language. Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kesalahan berbahasa dalam fonetik pada penggunaan bahasa Indonesia oleh penutur asing dan sebagai pedoman atau acuan dalam pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing. Data yang diperoleh diambil dari salah satu konten video yang ada pada kanal Youtube Hello82 dengan bintang tamu NCT DREAM. Metode penelitian menggunakan deskriptif kualitatif dengan mengumpulkan data analisis kesalahan dalam berbahasa, mencatat dan menguraikan keseluruhan data, menganalisis lebih detail dan mendeskripsikan kesalahan setiap data, mengklasifikasikan setiap data dalam kajian fonetik. Fonetik merupakan suatu bidang kajian dalam bahasa yang berfokus pada mekanisme dan bunyi ujaran yang dihasilkan oleh alat ucap. Terdapat 24 kata bahasa Indonesia yang mengalami kesalahan dalam pengucapan. Kesalahan berbahasa yang diucapkan oleh penutur antara lain pada fonem vokal /a/, /i/, /u/, /e/, /ə/, dan /o/ sedangkan pada fonem konsonan /i/, /k/, /g/, /n/, /r/, /p/, /t/, dan /b/. Berdasarkan bentuk perubahan bunyi dibagi menjadi 18 bentuk perubahan bunyi, 10 bentuk penambahan bunyi fonem, dan 4 bentuk penghilangan bunyi fonem. Dari hasil analisis pada penelitian ini, terdapat bentuk perubahan bunyi fonem yang berbeda diantara lain adanya netralisasi, harmonisasi vokal, asimilasi, aspirasi, anaptiksis epentesis, anaptiksis paragog, kontraksi apokop, dan kontraksi sinkop. Kesalahan yang terjadi dapat dipengaruhi dari tata bahasa asli penutur ataupun kebiasaan penutur. Pada aturan bahasa Korea terdapat beberapa fonem yang pengucapan dan penulisannya sama, mengikuti aturan bahasanya.
Representasi Ekologi dalam Teks Bertema Lingkungan oleh Pemelajar BIPA Tingkat Tinggi: Pendekatan Linguistik Fungsional Nirmalasari, Yohanna
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8032

Abstract

This study aims to describe how ecological representations are manifested through processes in the ideational meaning of written texts by advanced BIPA learners. This study uses a qualitative method with Halliday's systemic functional linguistics (SFL) approach. The data in this study are learners' written sentences containing ideational processes in argumentative texts written by learners. Data collection techniques were carried out through documentation of learners' writings on the theme of ecology in response to environmental issues in Indonesia. Data analysis techniques were carried out through the stages of identification, classification, and interpretation. First, each clause in the learners' texts was identified to find the type of ideational process used based on Halliday's theory. This included material, raw, verbal, behavioral, relational, and existential processes. Second, the clauses were classified according to the type of process to see the tendency of ecological meaning representation. Third, the classification results are interpreted tol reveal how BIPA learners represent ideas and attitudes towards environmental issues through their choice of linguistic processes. The results show that learners often use material processes when arguing about environmental issues. In addition to material processes, learners also use mental, existential, and relational processes. This study found that learners do not use verbal and behavioral processes. Based on these findings, it can be concluded that learners demonstrate fairly good language skills in conveying ecological ideas, even though they do not yet fully utilize all types of processes in the Indonesian language transitivity system. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana representasi ekologi diwujudkan melalui proses-proses dalam makna ideasional pada teks tulis pemelajar BIPA tingkat tinggi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan linguistik fungsional sistemik (LFS) Halliday. Data dalam penelitian ini adalah kalimat tulis pemelajar yang mengandung proses ideasional dalam teks argumen yang ditulis oleh pemelajar. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi terhadap hasil tulisan pemelajar dengan tema ekologi yang menanggapi permasalahan lingkungan di Indonesia. Teknik analisis data yang dilakukan melalui tahapan identifikasi, klasifikasi, dan interpretasi. Pertama, setiap klausa dalam teks pemelajar diidentifikasi guna menemukan jenis proses ideasional yang digunakan berdasarkan teori Halliday. Hal ini mencakup proses material, mental, verbal, behavioral, relasional, dan eksistensial. Kedua, klausa tersebut diklasifikasi menurut jenis prosesnya untuk melihat kecenderungan representasi makna ekologi. Ketiga, hasil klasifikasi diinterpretasi untuk mengungkap bagaimana pemelajar BIPA merepresentasikan ide dan sikap terhadap isu lingkungan melalui pilihan proses linguistik yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemelajar banyak menggunakan proses material dalam berargumen terkait dengan isu lingkungan. Selain proses material, pemelajar juga menggunakan proses mental, eksistensial, dan relasional. Di dalam penelitian ini dapat diketahui bahwa pemelajar tidak menggunakan proses verbal dan proses behavioral. Berdasarkan temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa pemelajar menunjukkan kemampuan berbahasa yang cukup baik dalam menyampaikan gagasan ekologi meskipun belum sepenuhnya memanfaatkan seluruh jenis proses dalam sistem transitivitas bahasa Indonesia.
Exploring Linguistic Distinctions: A Comparative Analysis of Baduy and Priangan Sundanese Lexical Choice Rahayu, Sri; Kurniawan, Eri; Isnendes, Retty; Ramadani, Ramadani
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8425

Abstract

This study aims to analyze lexical variation between Baduy and Priangan Sundanese and to explain how sociocultural factors shape lexical choices, language use, and speaker identity. A qualitative approach with a descriptive–comparative design was employed. Data were collected through observation, interviews, natural conversation recordings, and document analysis involving native speakers in Kanekes (Baduy) and the Priangan region (Bandung, Tasikmalaya, Garut, and Cianjur). The data were analyzed through data reduction, comparative data display, and lexical analysis using theoretical frameworks from contact linguistics and ecolinguistics to examine the influence of isolation, modernization, and language contact.The findings reveal that Baduy Sundanese preserves archaic vocabulary (e.g., kula, kakang), distinctive particles (mah, pan, teh), and specific semantic distinctions, such as the meaning of saung as a primary dwelling. In contrast, Priangan Sundanese reflects modernization and codification through the use of more standardized forms and stronger influence from Indonesian. Additional differences were observed in phonology (vowel lengthening), morphology (retention of traditional derivational forms), syntax (frequent subject/object omission), and levels of Indonesian interference. Sociocultural factors underlying these variations include the geographical isolation of the Baduy community, strong adherence to tradition, politeness norms, and the Priangan community’s openness to modern education and external contact. Overall, lexical choices function as markers of linguistic identity: the Baduy community demonstrates linguistic conservatism as a form of resistance to homogenization, whereas Priangan speakers exhibit adaptation to modernity. These findings contribute to studies on Sundanese variation, contact linguistics, and ecolinguistics, while supporting efforts to preserve endangered dialects. Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis variasi leksikal antara Bahasa Sunda Baduy dan Priangan serta menjelaskan pengaruh faktor sosiokultural terhadap pilihan leksikal, penggunaan bahasa, dan identitas penuturnya. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan desain deskriptif-komparatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, perekaman percakapan alami, dan studi dokumen yang melibatkan penutur asli di Kanekes (Baduy) dan wilayah Priangan (Bandung, Tasikmalaya, Garut, dan Cianjur). Data dianalisis melalui reduksi data, penyajian data dalam tabel komparatif, serta analisis leksikal berbasis teori linguistik kontak dan ekolinguistik untuk menelusuri pengaruh isolasi, modernisasi, dan kontak bahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bahasa Sunda Baduy mempertahankan kosakata arkais seperti kula dan kakang, partikel khas seperti mah, pan, dan teh, serta sejumlah perbedaan semantis, misalnya makna saung sebagai rumah utama. Sebaliknya, Bahasa Sunda Priangan memperlihatkan kecenderungan modernisasi dan kodifikasi melalui penggunaan bentuk baku serta dipengaruhi lebih kuat oleh Bahasa Indonesia. Ditemukan pula perbedaan fonologis (pemanjangan vokal), morfologis (penggunaan bentuk turunan tradisional), sintaksis (penghilangan subjek/objek), serta tingkat interferensi bahasa Indonesia yang berbeda antar kedua komunitas. Faktor sosiokultural yang memengaruhi variasi ini meliputi isolasi geografis Baduy, keterikatan pada tradisi, norma kesantunan, serta keterbukaan Priangan terhadap pendidikan modern dan interaksi eksternal. Secara keseluruhan, pilihan leksikal berfungsi sebagai penanda identitas: komunitas Baduy mempertahankan konservatisme linguistik sebagai bentuk resistensi terhadap homogenisasi, sedangkan komunitas Priangan menampilkan adaptasi terhadap modernitas. Temuan ini berkontribusi pada kajian variasi Sunda, linguistik kontak, dan ekolinguistik, sekaligus mendukung upaya pelestarian dialek yang terancam punah.
Analisis Pola Kata dan Frasa dalam Artikel Ilmiah Bahasa Indonesia: Kajian Morfosintaksis dan Semantik Rasyid, Nirwana; Fatimah, Fatimah; Hamzah, Muh.Zuhdy; Ramadan, Syahru
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8379

Abstract

This study aims to analyze the patterns of words and phrases in Indonesian scientific articles through a morphosyntactic and semantic approach. The research employs a qualitative descriptive method, with data collection techniques including documentation, reading, and note-taking. Data analysis is conducted through stages of data reduction, presentation, and conclusion drawing. The findings indicate that word and phrase patterns in scientific articles are influenced by morphosyntactic and semantic rules, with specific patterns reflecting the choice of words and sentence structures used by the authors. This research contributes to the understanding of language use in academic writing, particularly in how linguistic structures affect the clarity and precision of scientific communication in Indonesian. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola kata dan frasa dalam artikel ilmiah bahasa Indonesia melalui kajian morfosintaksis dan semantik. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data berupa dokumentasi, baca, dan catat. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola kata dan frasa dalam artikel ilmiah dipengaruhi oleh kaidah morfosintaksis dan semantik, dengan pola tertentu yang mencerminkan pemilihan kata dan struktur kalimat yang digunakan penulis. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman penggunaan bahasa dalam penulisan ilmiah, khususnya bagaimana struktur linguistik mempengaruhi kejelasan dan ketepatan komunikasi ilmiah dalam bahasa Indonesia.
Makna Simbolik “Popene’e” Pada Prosesi Pernikahan Etnik Tialo di Kabupaten Parigi Moutong: Kajian Semiotik Fauzan, Arfan; Yunidar, Yunidar; Sukma, Sukma
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8304

Abstract

The purpose of this research is to describe the forms of symbolic meaning and the functions of symbolic meaning in the "popene'e" wedding procession of the Tialo ethnic group. The research method used in this study is descriptive qualitative, with data collection techniques including observation, interviews, recording, note-taking, and documentation. As for the data analysis technique using Miles and Huberman's theory, it involves data collection, data reduction, data presentation, and conclusion. Based on the research findings, the "Popene'e" procession consists of eight main stages: (1) welcoming the bride and groom; (2) peeling, splitting coconuts, cutting and splitting wood; (3) slicing banana leaves; (4) stepping on the tray; (5) bringing kitchen utensils and cooking bananas; (6) praying for well-being; (7) feeding each other; and (8) shaking hands. Meanwhile, the results related to the symbolic meaning in this procession are divided into two: verbal meaning (in the form of mantras/ganes) and nonverbal meaning (through tools and equipment). Overall, these symbols reflect the hope for responsibility, harmony, fertility, and protection in family life. The functions of this traditional procession include (1) communication; (2) knowledge and cultural inheritance; (3) mediation with ancestors and God; and (4) social participation. Abstrak Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan bentuk makna simbolik dan fungsi makna simbolik pada prosesi pernikahan “popene’e” Etnik Tialo. Metode penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, perekaman, pencatatan, dan dokumentasi. Adapun Teknik analisis data menggunakan teori Miles dan Huberman yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian bentuk prosesi “Popene’e” terdiri dari delapan tahapan utama: (1) monyambute nu pungantinge (menyambut pengantin); (2) monimbaluse, mombiase niuge kangkai mongkolge, mombiasi ayu (mengupas, membelah kelapa dan memotong, membelah kayu); (3) monesege longu pensae (mengiris daun pisang); (4) mongunjae baki (menginjak baki); (5) mongkoni alatu wahu jopa monjaane pensae (membawa alat dapur dan memasak pisang); (6) mondo’a salamate (doa selamat); (7) mepea’anane (saling menyuap); dan (8) mondasi (jabat tangan). Sedangkan hasil terkait makna simbolik dalam prosesi ini terbagi menjadi dua, yaitu makna verbal (berupa mantra/gane) dan makna nonverbal (melalui alat dan perlengkapan). Secara keseluruhan, simbol-simbol ini merefleksikan harapan akan tanggung jawab, kerukunan, kesuburan, dan perlindungan dalam kehidupan berumah tangga. Fungsi dari prosesi adat ini mencakup (1) fungsi komunikasi; (2) fungsi pengetahuan dan pewarisan budaya; (3) fungsi mediasi dengan leluhur dan Tuhan; serta (4) fungsi partisipasi sosial.
Pengembangan Model Pembelajaran Bahasa Indonesia Inklusif Berbasis Aplikasi AI Bagi Siswa Disleksia di SMA Sukarno, Sukarno; Kusumaningsih, Dewi; Nurlina, Laily; Arifah, Irma; Muryati, Sri; Naimah, Myatun
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8378

Abstract

The development of inclusive Indonesia learning needs special attention. The purpose of this study is to describe an in-depth understanding of the inclusive Indonesia learning model in high school for people with dyslexia. This research is a descriptive qualitative research. The source of data is obtained from information and documentation. Inclusive learning research design. The data collection technique uses interview analysis, observation, and documentation. The data analysis technique uses the Milles and Huberman interactive model, which includes three main stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The data validity test used in this study is the method triangulation technique and source triangulation. Based on dyslexic research, applying multimedia learning theory developed by Richard E. Mayer. This research focuses on how students learn more effectively through the combination of text, images, sound, and other multimedia elements. AI technology that supports students with dyslexia is in the form of Text-to-Speech (TTS), Grammar Deep Check, Lexia and Nessy, and OrCam Learn. The integration of model and strategy development in Indonesia learning with AI requires inclusive attention so that students do not lose their identity as outstanding students and are equal to other students. Abstrak Pengembangan pembelajaran Bahasa Indonesia yang inklusif perlu perhatian yang khusus. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan pemahaman mendalam tentang model pembelajaran Bahasa Indonesia secara inklusif di SMA bagi penyandang disleksia. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Sumber data diperoleh dari informasi dan dokumentasi. Desain penelitian pembelajaran inklusif. Teknik pengumpulan data menggunakan analisis wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan model interaktif Milles dan Huberman, yang mencakup tiga tahapan utama reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Uji validitas data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik triangulasi metode dan triangulasi sumber. Berdasarkan penelitian disleksia menerapkan teori multimedia learning yang dikembangkan oleh Richard E. Mayer. Penelitian ini berfokus pada cara siswa belajar lebih efektif melalui gabungan teks, gambar, suara, dan elemen multimedia lainnya. Teknologi AI yang mendukung siswa penyandang disleksia berupa Text-to-Speech (TTS), Grammar Deep Check, Lexia dan Nessy, dan OrCam Learn. Integrasi pengembangan model dan strategi pada pembelajaran Bahasa Indonesia dengan AI diperlukan perhatian yang inklusif supaya peserta didik tidak kehilangan jati dirinya sebagai siswa yang berprestasi dan setara dengan siswa lainnya.
Exploring Conceptual Metaphors in a Corpus of Sanggau Malay Songs: Cognitive Semantic Perspective Syahrani, Agus; Irvansyah, Alif; Ermanto, Ermanto; Ardi, Havid; Asfar, Dedy Ari
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8418

Abstract

This study aims to analyze the forms and types of conceptual metaphors and image schemas found in the corpus of Malay Sanggau song lyrics using a cognitive semantic approach. This study uses a qualitative descriptive method with data sources in the form of a corpus of seven Malay Sanggau songs taken from YouTube channels: Pancur Aji, Posan Ini, Riyak Sekayam, Lanau Idau, Borita Kalengkang, Ngapai Kapuas, and Biar Gonting Inang Putus. Data were collected through audiovisual and digital document analysis, as well as interviews with native speakers of Malay Sanggau to verify meanings. The analysis process was carried out through the stages of transcription, translation, identification of metaphors based on Lakoff and Johnson's Conceptual Metaphor theory, and application of Croft and Cruse's Image Schema theory to find cognitive relationships between the source domain and the target domain. The results of the study show that in the Sanggau Malay song corpus, there are three orientational metaphors, three structural metaphors, and three ontological metaphors. Each type of metaphor describes how the Sanggau Malay community interprets their life experiences, emotions, and cultural values through figurative language. These findings reinforce the view that conceptual metaphors function as a mirror of the cognition and local cultural identity of the Sanggau Malay community. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk dan jenis metafora konseptual dan skema citra yang terdapat dalam korpus lirik lagu Melayu Sanggau dengan menggunakan pendekatan semantik kognitif. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan sumber data berupa korpus tujuh lagu Melayu Sanggau yang diambil dari kanal YouTube: Pancur Aji, Posan Ini, Riyak Sekayam, Lanau Idau, Borita Kalengkang, Ngapai Kapuas, dan Biar Gonting Inang Putus. Data dikumpulkan melalui analisis dokumen audiovisual dan digital, serta wawancara dengan penutur asli Melayu Sanggau untuk verifikasi makna. Proses analisis dilakukan melalui tahapan transkripsi, penerjemahan, identifikasi metafora berdasarkan teori Metafora Konseptual Lakoff dan Johnson dan penerapan teori Skema Citra Croft dan Cruse untuk menemukan hubungan kognitif antara domain sumber dan domain sasaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam korpus lagu Melayu Sanggau terdapat tiga metafora orientasional, tiga metafora struktural, dan tiga metafora ontologis. Setiap jenis metafora menggambarkan cara masyarakat Melayu Sanggau memaknai pengalaman hidup, emosi, dan nilai budaya mereka melalui bahasa kiasan. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa metafora konseptual berfungsi sebagai cermin kognisi dan identitas budaya lokal masyarakat Melayu Sanggau.
Komparasi Lanskap Linguistik Wilayah Entikong dan Tebedu sebagai Potret Negosiasi Identitas di Perbatasan Indonesia-Malaysia Hilaliyah, Hilda; Setiawati, Sulis; Muzaki, Ahmad; Anam, Ahmad Khoiril; Rahman, Fauzi
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8382

Abstract

Tebedu (Malaysia) as a form of representation of identity negotiation in the Indonesia-Malaysia border area. The method used in this study is qualitative with a descriptive-comparative type of research. The data collection was carried out through participatory observation and visual documentation carried out in the Entikong area, Sanggau Regency, West Kalimantan and Tebedu, Sarawak State, Malaysia. The collected data were then analyzed based on Landry & Bourhis' linguistic landscape concept which consists of informational and symbolic functions of linguistic markers of public space. The results showed that the linguistic landscape in Entikong represented symbolic messages such as nationalism, anti-corruption and anti-drug campaigns, hero honor, and the strengthening of the rupiah currency. In contrast, the linguistic landscape in Tebedu displays symbolic messages in a more limited form through directional markers, usage instructions, appeals, prohibitions, local cultural icons, and local political slogans. This difference confirms that Entikong makes language a means of state ideology, while Tebedu positions the language of the public space as a means of functional communication. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan lanskap linguistik di wilayah Entikong (Indonesia) dan Tebedu (Malaysia) sebagai bentuk representasi negosiasi identitas di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif-komparatif. Adapun pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif dan dokumentasi visual yang dilakukan di wilayah Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat dan Tebedu, Negara Bagian Sarawak, Malaysia. Data yang terkumpul kemudian dianalisis berdasarkan konsep lanskap linguistik Landry & Bourhis yang terdiri atas fungsi informatif dan simbolis terhadap penanda linguistik ruang publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lanskap linguistik di Entikong merepresentasikan pesan simbolik seperti nasionalisme, kampanye anti-korupsi dan anti-narkoba, penghormatan pahlawan, serta penguatan mata uang Rupiah. Sebaliknya, lanskap linguistik di Tebedu menampilkan pesan simbolik dalam bentuk lebih terbatas melalui penanda-penanda petunjuk arah, petunjuk penggunaan, imbauan, larangan, ikon budaya lokal, dan slogan politik setempat. Perbedaan ini menegaskan bahwa Entikong menjadikan bahasa sebagai sarana ideologi negara, sementara Tebedu memosisikan bahasa ruang publik sebagai sarana komunikasi fungsional.
Simbolisasi dalam Naskah Kitab Pengajaran: Sebuah Kajian Semiotika Pierce. Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Ardiansah, Muhammad; Wirajaya, Asep Yudha
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.6569

Abstract

The dissemination of information and knowledge can take various forms, one of which is through manuscripts. Manuscripts may originate from different parts of the world, using various scripts, requiring further adjustments for broader accessibility. This study aims to analyze the meaning and significance of the writings in the Kitab Pengajaran in order to extract information regarding its content through a semiotic approach. The data for this study consists of manuscripts written in Arabic script and Malay language, with the data sourced from the Kitab Pengajaran in the digital collection of the British Library. The research employs a qualitative method with a literature study approach. The results indicate that the Kitab Pengajaran outlines various behaviors and actions related to goodness that humans should implement in their lives. Abstrak Penyebaran informasi dan pengetahuan dapat dilakukan melalui beberapa bentuk, salah satunya adalah dalam bentuk naskah. Naskah dapat berasal dari berbagai penjuru dunia dengan menggunakan huruf yang berbeda-beda sehingga diperlukan lagi penyesuaian agar naskah tersebut dapat diakses secara luas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis makna dan arti dari tulisan yang terdapat dalam Kitab Pengajaran untuk mendapatkan informasi mengenai isi kitab tersebut melalui kajian semiotika. Wujud data dalam penelitian ini berupa naskah beraksara Arab dan berbahasa Melayu, serta sumber datanya berasal dari naskah kitab pengajaran yang terdapat pada koleksi digital British Library. Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode kualitatif dengan studi kepustakaan. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini diketahui bahwa Kitab Pengajaran menjelaskan berbagai perilaku dan tindakan dalam hal kebaikan yang harus diterapkan manusia dalam hidupnya.