cover
Contact Name
Argyo Demartoto
Contact Email
jas@mail.uns.ac.id
Phone
+62271637277
Journal Mail Official
jas@mail.uns.ac.id
Editorial Address
https://jurnal.uns.ac.id/jas/about/editorialTeam
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Analisa Sosiologi
ISSN : 23387572     EISSN : 26150778     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Analisa Sosiologi (JAS) diterbitkan per semester pada bulan April dan Oktober oleh Program Studi Magister Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan ISSN : 2338 - 7572 (Print) dan ISSN: 2615-0778 (Online). JAS berdasarkan kutipan dan keputusan Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor: 21/E/KPT/2018, tanggal 9 Juli 2018 tentang hasil akreditasi jurnal ilmiah periode 1 tahun 2018, telah terakreditasi Peringkat 4 yang berlaku 5 Tahun, yaitu Volume 5 Nomor 1 tahun 2016 sampai Volume 9 Nomor 2 Tahun 2020. JAS memfokuskan diri pada hasil penelitian terkait isu-isu sosial-kontemporer di Indonesia, khususnya yang berkenaan dengan perkembangan masyarakat dari berbagai aspek. Selain itu, JAS juga menerima artikel yang bersumber pada telaah pustaka terkait dengan upaya pengembangan teori-teori sosiologi. Informasi mengenai JAS juga bisa diperoleh melalui media sosial.
Articles 100 Documents
PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM MEMILIH PASANGAN PADA DEWASA AWAL BERDASARKAN KEPERCAYAAN TRADISI PETUNG WETON Sujari, Ratih Putri Happy; Bawono, Yudho
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 12, No 3 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v12i3.72457

Abstract

This study aims to determine the influence of petung weton tradition beliefs on decision-making in choosing a partner in early adulthood in Bojonegoro. The respondents in this study were 100 Bojonegoro people aged 18-40 years, who will or plan to marry, and still, use weton calculations to choose a partner. The research method used is quantitative. The instruments used are a belief scale of 42 items with reliability of 0.905 and a decision-making scale of 38 items with reliability of 0.949. The data analysis used in this study is a simple linear regression analysis with SPSS 25.0 for windows. The results show a significance value of 0.000. The value is smaller than 0.05 (0.000 < 0.05) so that means that there is an influence between the variable X and Y. Correlation number (r) is 0.796 where the value is in a strong category. While the R Square value is 0.634, indicating that the contribution of the variable X to Y is 63.4% and the rest is influenced by other factors. The direction of the relationship is positive, which means that the higher the trust in the petung weton tradition, the higher the decision-making in choosing a partner using weton calculations. So that the hypothesis in this study is accepted, namely that the belief in the petung weton tradition influences decision-making in choosing a partner in early adulthood in Bojonegoro. Keywords: petung weton, decision making AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepercayaan tradisi petung weton terhadap pengambilan keputusan dalam memilih pasangan pada dewasa awal di Bojonegoro. Responden pada penelitian ini adalah 100 masyarakat Bojonegoro yang berusia 18 – 40 tahun, akan atau berencana untuk menikah dan masih menggunakan perhitungan weton dalam memilih pasangan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif. Instrumen yang digunakan adalah skala kepercayaan tradisi petung weton sebanyak 42 aitem dengan reliabilitas 0,905 dan skala pengambilan keputusan sebanyak 38 aitem dengan reliabilitas 0,949. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier sederhana dengan SPSS 25.0 for windows. Hasilnya menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000. Nilai tersebut lebih kecil daripada 0,05 (0,000 < 0,05) sehingga artinya terdapat pengaruh antara variabel X terhadap Y. Angka korelasi (r) sebesar 0,796 di mana nilai tersebut masuk dalam kategori kuat. Sedangkan nilai R Square sebesar 0,634, menunjukkan bahwa kotribusi variabel X terhadap Y sebesar 63,4% dan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Arah hubungan bernilai positif artinya semakin tinggi kepercayaan tradisi petung weton, maka semakin tinggi juga pengambilan keputusan dalam memilih pasangan menggunakan perhitungan weton. Sehingga hipotesis dalam penelitian ini diterima yaitu terdapat pengaruh kepercayaan tradisi petung weton terhadap pengambilan keputusan dalam memilih pasangan pada dewasa awal di Bojonegoro. Kata Kunci: petung weton, pengambilan keputusan
DISORGANISASI SOSIAL TENAGA KERJA VIETNAM DI JEPANG Ayyub, Ichlasul
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 12, No 3 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v12i3.67791

Abstract

Japan is one of the most powerful economies in the world. A high economy makes the lives of Japanese residents happier, the proof that crime cases in Japan is low. Crime’s can be caused by various factors and can be committed by anyone, indigenous people, or immigrants. Japan, which incidentally has a good economy condition, will certainly attract people from all over the world to come to Japan, as workers, students, or as tourists. From that many immigrants, not all of them obey the rules in Japan, few of them commit crimes. Immigrants who commit crimes come from various countries, but the most significant are immigrants from Vietnam. The number of Vietnamese immigrants who commit crimes in Japan is relatively increasing every year. The purpose of this study is to analyze the phenomenon of increasing crime committed by Vietnamese immigrants using the perspective of social disorganization and the concept of poverty, a concept from Anthony Giddens. This research is a qualitative descriptive research using literature study method. The results of the analysis show that the unstable economy in the country of origin and the large number of Japanese companies investing in Vietnam have made many parents send their children to work in Japan. Sometimes because of the strong desire of parents who are not balanced with the mental maturity of the child. Mental instability triggers people to do things that are forbidden. Differences in norms, economics, and high socio-cultural differences between Vietnam and Japan also led to social disorganization.Keywords: Vietnamese Crime; Japan; Social Disorganization; The Concept of Poverty AbstrakJepang adalah salah satu negara dengan perekonomian yang kuat di dunia. Perekonomian yang tinggi membuat kehidupan penduduk Jepang lebih bahagia, ini terbukti dengan jumlah kasus kejahatan di Jepang yang rendah. Kasus kejahatan bisa disebabkan oleh berbagai faktor dan bisa dilakukan oleh siapa saja, warga pribumi, maupun warga pendatang. Jepang yang notabene memiliki kondisi perekonomian yang bagus tentu akan menarik minat warga dari berbagai penjuru dunia untuk datang ke Jepang, sebagai pekerja, pelajar, maupun sebagai wisatawan. Dari sekian banyak pendatang tersebut tidak semuanya mematuhi peraturan yang ada di Jepang, beberapa dari mereka ada yang melakukan kejahatan. Pendatang yang melakukan kejahatan berasal dari berbagai negara, namun yang paling signifikan adalah pendatang dari Vietnam. Jumlah pendatang Vietnam yang melakukan kejahatan di Jepang semakin meningkat setiap tahun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa fenemona meningkatnya kriminalitas yang dilakukan oleh pendatang Vietnam menggunakan perspektif disorganisasi sosial dan konsep poverty atau kemiskinan, suatu konsep dari Anthony Giddens. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan metode studi pustaka. Hasil analisis menunjukkan bahwa perekonomian yang tidak stabil di negara asal dan banyaknya perusahaan Jepang yang berinvestasi di Vietnam membuat banyak orang tua menyuruh anaknya bekerja di Jepang. Kadang karena keinginan keras dari orang tua yang tidak diimbangi dengan kematangan mental anak. Mental yang tidak stabil memicu orang untuk melakukan hal yang dilarang. Perbedaan norma, ekonomi, dan sosial budaya yang tinggi antara Vietnam dan Jepang juga menyebabkan terjadinya disorganisasi sosial.Kata Kunci: Kejahatan Orang Vietnam; Jepang; Disorganisasi Sosial, Konsep Poverty
TRANSFORMASI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DAYAK IBAN DALAM ERA INDUSTRIALISASI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI KABUPATEN SANGGAU Leli, Kornelia; Juliansyah, Viza; Efriani, Efriani
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 12, No 3 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v12i3.71292

Abstract

This study aims to describe the socio-economic transformation of the Dayak Iban Sebaruk community since the industrialization of oil palm plantations in Sungai Daun Hamlet, Sekayam District, Sanggau Regency. This study has focused on three main things: socio-economic life before the industrialization of oil palm, socio-economic life after the industrialization of oil palm, and the phenomenon of socio-economic transformation seen in the Dayak Iban Sebaruk in Sungai Daun Hamlet. This research has used a descriptive qualitative method using the theory of social change from traditional society to modern society. The results of this study have shown that the Dayak Iban Sebaruk community has experienced socio-economic changes due to the industrialization of oil palm plantations. This transformation can be seen in 5 aspects: livelihood shifts, social and cultural changes, infrastructure strengthening, environmental changes, and socio-political changes.Keywords: Socio-Economic Changes, Palm Oil Plantations, Industrialization and the Dayak Iban Sebaruk Community AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan transformasi sosial ekonomi Masyarakat Dayak Iban Sebaruk sejak adanya Industrialisasi Perkebunan Kelapa Sawit di Dusun Sungai Daun Kecamatan Sekayam Kabupaten Sanggau. Kajian ini berfokus pada 3 hal utama, yakni kehidupan social ekonomi sebelum industrialisasi kelapa sawit, kehidupan social ekonomi sesudah industrialisasi kelapa sawit, dan fenomena transfomasi social ekonomi yang tampak pada Dayak Iban Sebaruk di Dusun Sungai Daun.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif dengan menggunakan teori perubahan masyarakat dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat Dayak Iban Sebaruk telah mengalami perubahan sosial ekonomi akibat industrialisasai Perkebunan KElapa sawit.Transformasi itu tampak dalam 5 aspek, yakni pergeseran mata pencaharian, perubahan sosial dan budaya, penguatan infrastruktur, perubahan lingkungan, dan perubahan sosial-politik.Kata Kunci: Perubahan Sosial Ekonomi, Perkebunan Kelapa Sawit, Industrialisasi dan Masyarakat Dayak Iban Sebaruk
DINAMIKA STRUKTURAL FUNGSIONAL DALAM EKSISTENSI USAHA PATUNG BATU ANDESIT DI DUSUN JATISUMBER, KABUPATEN MOJOKERTO Sari, Devy Agustin; Yuniar, Ananda Dwitha; Hadi, Nur; Perguna, Luhung Achmad
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 12, No 3 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v12i3.68760

Abstract

Most of the people of Jatisumber Hamlet work as craftsmen of andesite stone statues. However, the occurrence of various problems led to a decrease in the number of andesite stone sculpture craftsmen in Jatisumber Hamlet. The purpose of this research is to analyze the structural-functional dynamics in the existence of the andesite stone sculpture business in Jatisumber Hamlet. This study applies a qualitative research method with a descriptive approach. The research location is in Jatisumber Hamlet, Watesumpak Village, Trowulan, Mojokerto. Data collection techniques were obtained from non-participant observation, structured interviews, and documentation. The results of this study found that the decline in andesite stone sculpture craftsmen in Jatisumber Hamlet was caused by the 1st Bali bombing incident in 2002, the place where cast statues were made in Jatisumber Hamlet in 2005, and the global economic crisis in 2008. Craftsmen who did not continue their business could change professions or become sculptors andesite stone statues in other places of business, so that only a few of the andesite stone sculpture craftsmen remained who decided to survive. The craftsmen who survived implemented 10 adaptation strategies to overcome obstacles and maintain the andesite stone sculpture business. As with the structural-functional theory from Talcott Parsons that the decline of craftsmen forms a system in the andesite stone sculpture business, the roles of craftsmen and sculptors are interrelated in the system. So that part of AGIL is carried out so that the system can survive which includes: determining 10 adaptation strategies (adaptation), adaptation strategies are applied to achieve goals (goal attainment), implementation of adaptation strategies through cooperation (integration), maintaining andesite stone sculpture business by implementing strategies adaptation (latency).Keywords: Craftsmen, Adaptation Strategy, Andesite Stone Sculpture Business AbstrakSebagian besar masyarakat Dusun Jatisumber berprofesi sebagai pengrajin patung batu andesit. Namun terjadinya berbagai permasalahan menyebabkan semakin menurunnya jumlah pengrajin patung batu andesit di Dusun Jatisumber. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis dinamika struktural fungsional dalam eksistensi usaha patung batu andesit di Dusun Jatisumber. Penelitian ini menerapkan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Lokasi penelitian berada di Dusun Jatisumber, Desa Watesumpak, Trowulan, Mojokerto. Teknik pengumpulan data diperoleh dari observasi non partisipan, wawancara terstruktur, serta dokumentasi. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa penurunan pengrajin patung batu andesit di Dusun Jatisumber disebabkan karena insiden bom Bali 1 tahun 2002, tempat pembuatan patung cor di Dusun Jatisumber tahun 2005, serta krisis ekonomi global tahun 2008. Pengrajin yang tidak meneruskan usahanya dapat beralih profesi maupun menjadi pemahat patung batu andesit di tempat usaha lain, sehingga hanya tersisa beberapa dari pengrajin patung batu andesit yang memutuskan untuk bertahan. Adapun pengrajin yang bertahan menerapkan 10 strategi adaptasi untuk mengatasi kendala serta mempertahankan usaha patung batu andesit. Sebagaimana teori struktural fungsional dari Talcott Parsons bahwa penurunan pengrajin membentuk sistem pada usaha patung batu andesit, hal ini peranan yang dimiliki pengrajin serta pemahat saling berkaitan dalam sistem. Sehingga bagian dari AGIL dilakukan agar sistem dapat bertahan yang diantaranya meliputi: penentuan 10 strategi adaptasi (adaptation), strategi adaptasi diterapkan untuk mewujudkan tujuan (goal attainment), pelaksanaan strategi adaptasi melalui kerja sama (integration),  menjaga usaha patung batu andesit dengan menerapkan strategi adaptasi (latency).Kata Kunci: Pengrajin, Strategi Adaptasi, Usaha Patung Batu Andesit
DINAMIKA MARKETPLACE DAN TOKO KELONTONG: STUDI KASUS DI DESA TAMBAKSAWAH, SIDOARJO Alfafa, Rahmah Utari; Anshori, Isa
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 12, No 3 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v12i3.69604

Abstract

The influence of technological developments gave rise to online shopping places which are now known as marketplaces. Many people are switching to shopping through the marketplace compared to shopping directly at the store. The existence of a marketplace has both negative and positive impacts on the existence of a grocery store in Tambaksawah Village. However, there are still some people who choose to shop at grocery stores. One of the reasons they shop at grocery stores is because of the convenience felt by shoppers. If the shop owner is friendly to the buyer, then the buyer is likely to shop at that store again. The interaction between individuals produces several aspects, one of which is reciprocity. This is relevant to the theory put forward by George C. Homans, namely Social Exchange Theory. The most visible characteristics of exchange theory are costs and rewards. When interacting socially, someone will always consider the cost (sacrifice or cost) against the reward (profit or benefit) they receive from that interaction. The purpose of writing this article is to understand the relationship between the existence of a marketplace and a grocery store based on a social exchange perspective. This research belongs to the qualitative method and the source of data collection is through interviews. The results of this study are exchange theory understanding the complexity of social interaction and the dynamics that occur between grocery stores and marketplaces as well as the factors that influence consumer decisions in shopping.Keywords: Marketplace, Exchange Theory, Grocery Store, ExistenceAbstrak Pengaruh dari perkembangan teknologi memunculkan tempat berbelanja online yang kini dikenal dengan marketplace. Banyak masyarakat yang beralih berbelanja lewat marketplace dibandingkan berbelanja secara langsung di toko. Keberadaan marketplace memberi dampak negative maupun positif terhadap keberadaan toko kelontong di Desa Tambaksawah.  Namun, masih ada beberapa masyarakat yang memilih berbelanja di toko kelontong. Salah satu alasan mereka berbelanja di toko kelontong adalah karena adanya suatu kenyamanan yang dirasakan oleh pembeli. Apabila pemilik toko bersikap ramah kepada pembeli, maka pembeli kemungkinan akan berbelanja ke toko itu lagi. Hubungan interaksi antar individu menghasilkan beberapa aspek salah satunya seperti terdapat timbal balik. Hal tersebut relevan pada teori yang dikemukakan oleh George C. Homans   yakni Teori Pertukaran Sosial. Karakteristik yang paling terlihat dari teori pertukaran adalah biaya (cost) dan imbalan (reward). Ketika berinteraksi sosial, seseorang akan selalu mempertimbangkan cost (pengorbanan atau biaya) terhadap reward (keuntungan atau benefit) yang mereka terima dari interaksi itu. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk memahami hubungan eksistensi marketplace terhadap toko kelontong berdasarkan perspektif pertukaran sosial. Penelitian ini tergolong ke dalam metode kualitatif dan sumber pengumpul data melalui wawancara. Hasil penelitian ini yaitu teori pertukaran memahami tentang kompleksitas interaksi sosial dan dinamika yang terjadi antara toko kelontong dengan marketplace serta faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam berbelanja.Kata Kunci: Marketplace, Teori Pertukaran, Toko Kelontong , Eksistensi
TREN KECANTIKAN DAN IDENTITAS SOSIAL: ANALISIS KONSUMSI KOSMETIK DAN OBJEKTIFIKASI DIRI DI KALANGAN PEREMPUAN KOTA PALOPO Hasrin, Awaluddin; Sidik, Sangputri
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 12, No 4 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v12i4.71618

Abstract

Beauty is a fundamental aspect of women's existence. They have aspirations to fulfill society's beauty norms. This research seeks to examine the complexity of the idea of beauty among Palopo City and emphasize its impact on women's consumer behavior. Data was collected using qualitative methodology by conducting in-depth interviews and observations of women from various age groups in Palopo City. Research findings show that women in the city of Palopo conceptualize beauty as a combination of physical aspects that can be measured and non-physical aspects, such as self-confidence and self-perception. Beauty is partly formed by advertisements in the mass media, which align with the goals of capital owners in the beauty business, giving rise to the concept of the beauty myth. Apart from that, this concept is also formed by self-objectification that arises from the social environment. The use of cosmetics has become a basic need for women and increases self-confidence. However, this consumptive behavior also has a negative impact, encouraging a wasteful lifestyle and forming a false consciousness because someone feels valued in society only when they have made an effort to look beautiful.   Keywords: Women, Beauty, Consumerism, Palopo City AbstrakKecantikan merupakan aspek mendasar dari eksistensi perempuan. Mereka memiliki cita-cita untuk memenuhi norma kecantikan dalam masyarakat. Penelitian ini berupaya untuk mengkaji kompleksitas gagasan kecantikan di kalangan warga Kota Palopo dan menekankan dampaknya terhadap perilaku konsumtif perempuan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metodologi kualitatif, yaitu dengan melakukan wawancara mendalam dan observasi terhadap perempuan dari berbagai kelompok umur di Kota Palopo. Temuan penelitian menunjukkan bahwa perempuan di kota Palopo mengonseptualisasikan kecantikan sebagai perpaduan pada aspek fisik yang dapat diukur dan aspek nonfisik, seperti kepercayaan diri dan persepsi diri. Konsep kecantikan sebagian dibentuk oleh iklan-iklan di media massa yang sejalan dengan tujuan pemilik modal dalam bisnis kecantikan sehingga memunculkan konsep mitos kecantikan. Selain itu, konsep ini juga dibentuk oleh objektifikasi diri yang muncul dari lingkungan sosialnya. Penggunaan kosmetik telah menjadi kebutuhan mendasar bagi perempuan, dan meningkatkan rasa percaya diri. Namun demikian, perilaku konsumtif ini juga menimbulkan dampak buruk, mendorong gaya hidup boros dan membentuk suatu kesadaran palsu bagi mereka karena seseorang merasa dihargai dalam suatu masyarakat hanya ketika mereka telah berupaya untuk tampil cantik Kata Kunci: Perempuan, Kecantikan, Konsumerisme, Kota Palopo
DINAMIKA SOSIAL PENGUASAAN LAHAN DI DESA BISSOLORO (STUDI KASUS DATARAN SEDANG KABUPATEN GOWA) Mappa, Nurdin; Molla, Saleh
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 12, No 4 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v12i4.72088

Abstract

Land control for farmers is very important, without land farming cannot be carried out, however, this condition is increasingly worrying because of the large amount of land being converted into non-agricultural land. Every year the land converted into non-agricultural land reaches 110,000 hectares per year (Ayun et al., 2020). This condition is getting more and more uncontrollable so that it is very worrying about the sustainability of agriculture as well as threatening national food security at the same time it can affect human life itself because food is a primary human need, therefore research is very important to carry out as academic study material to be able to make all parties aware. This research aims to analyze the social dynamics of farmers' agricultural land control in the temperate plains in Bissoloro Village, Bongaya District, Gowa Regency. The data collection technique is through interviews using question sheets, while the data analysis technique is a qualitative analysis using a case study approach. The analysis steps are carrying out data verification, data display, and conclusion. The results of the analysis show that there are social dynamics of land tenure in Bissoloro Village, where the average area of land controlled by farmers is 1.1 Ha with land tenure status in the form of ownership of 80.5% and land rental of 18.5%. Land ownership was obtained from inheritance 76.2% or 15.9 Ha and through purchase 9.52% or 1.6 Ha. When compared with the national average land tenure of 0.5 Ha, farmers' control of agricultural land in Bisssoloro is still wider so it can still be sustainable.Keywords:  Farmers, Land,  Mastery, Medium, Plains AbstrakPenguasaan lahan bagi petani sangat penting, tanpa lahan usahatani tidak dapat dijalankan, akan tetapi kondisi ini semakin memprihatinkan oleh karena banyaknya lahan yang dikonversi menjadi lahan non pertanian. Setiap tahun lahan yang terkonversi menjadi lahan non pertanian mencapai 110.000 hektar pertahun (Ayun et al., 2020).  Kondisi ini  semakin lama semakin tak terkendali sehingga sangat mengkhawatirkan akan keberlanjutan pertanian sekaligus mengancam ketahanan pangan secara nasional dan sekaligus dapat mempengaruhi kehidupan manusia sendiri oleh karena pangan merupakan kebutuhan primer manusia, oleh karena itu penelitian sangat penting dilakukan sebagai bahan kajian akademik untuk dapat menyadarkan semua pihak. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis dinamika sosial  penguasaan lahan pertanian petani pada dataran sedang di Desa Bissoloro Kecamatan  Bongaya Kabupaten Gowa.  Teknik pengumpulan data melalui wawancara dengan menggunakan lembar pertayaan,  sedangkan tehniks analisis data dengan analisis kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Adapun langkah analisis yaitu melakukan previkasi data, displai data,  dan penarikan kesimpulan. Hasil analisis menunjukkan  bahwa ada dinamika sosial  penguasaan lahan di Desa Bissoloro,  dimana rata-rata luas lahan  yang dikuasai perpetani adalah 1,1 Ha  dengan status penguasaan lahan berupa kepemilikan 80,5% dan sewa lahan 18,5%.  Kepemilikan lahan diperoleh dari warisan 76,2% atau 15,9 Ha, dan melalui pembelian  9,52%  atau 1,6 Ha.  Jika dibandingkan dengan rata-rata   penguasaan lahan   nasional  yaitu 0,5 Ha maka penguasaan petani terhadap lahan pertanian di Bisssoloro masih lebih luas sehingga masih dapat  berkelanjutan.Kata kunci: dinamika,  penguasaan, lahan, petani, sosial
RELASI SOSIAL DAN KEPERCAYAAN DALAM INDUSTRI JAMU MADURA: STUDI KASUS PERAMU JAMU DAN POLA KONSUMSI MASYARAKAT Muarif, Samsul; Satriyati, Ekna
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 12, No 4 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v12i4.72452

Abstract

This study aims to examine more deeply Juduh as a from of trust and the relationship between herbalists and Madurese herbal users. Juduh is term of belief in Madurese society. This research is motivated by the fact that the use of herbal medicine in Madurese society is believed to have many benefits. The method in this research is descriptive qualitative with a case study approach. Meanwhile, the data collection techniques are interviews, observations, and documentation. The results of this study found that Juduh is a from of consumer relations and trust in this case it becomes social capital for herbalists so that they can survive in marketing their herbal products. People who are Juduh by drinking herbal medicine will give recommendations to their relatives or people closest to them. The coming of trust in this case is obtained from consumes who are grateful after drinking herbal medicine so that herbalists will gain trust and social relations that can expand the herbal medicine industry. Keywords: Herbal Concoction, Juduh, Madura, Social Capital AbstrakStudi ini memiliki tujuan untuk menelaah lebih dalam terkait Juduh sebagai bentuk kepercayaan dan relasi antara peramu jamu dengan pengguna jamu Madura. Juduh merupakan istilah kepercayaan masyarakat Madura. Penelitian ini dilatarbelakangi atas fakta bahwasannya penggunaan jamu di masyarakat Madura yang dipercaya memiliki banyak manfaat. Metode dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Sementara itu, teknik pengambilan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa Juduh adalah bentuk dari relasi dan kepercayaan konsumen dalam hal ini menjadi modal sosial bagi peramu jamu sehingga bisa bertahan dalam memasarkan produk jamunya. Masyarakat yang Juduh dengan meminum jamu akan memberikan rekomendasi pada saudaranya atau orang terdekatnya. Datangnya kepercayaan dalam hal ini didapatkan dari konsumen yang Juduh setelah meminum jamu, sehingga peramu jamu akan mendapatkan kepercayaan dan relasi sosial yang mampu melebarkan industri jamu. Kata Kunci: Juduh, Modal Sosial, Madura, Peramu Jamu 
DUALITAS STRUKTUR PERTANIAN DAN PEMBANGUNAN PARIWISATA (STUDI KASUS DI DESA ORO-ORO OMBO KECAMATAN BATU KOTA BATU) Winarsih, Siti Nurul Fitriyah; Susilo, Rachmad K. Dwi; Hayat, Muhammad
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 12, No 4 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v12i4.64934

Abstract

Batu City was originally famous for its branding as the City of Apples which lifted from the structure, but with the change of the Mayor of Batu, Batu City has changed the direction of the development of Batu City into an agricultural-based tourism city. The actors have used the traditional structure of agriculture into a new structure for tourism development. This study aims to explain the duality of agricultural structures and tourism development in Oro-oro Ombo Village, Batu District, Batu City. The researcher uses a qualitative research approach with the type of case study research. Determination of the selected subjects using snowball sampling technique. Collecting data using observation, interview, and documentation techniques. The data analysis technique uses time series analysis. Anthony Giddens’ structuration theory is used as a supporting equipment for research analysis. The results of the research are as follows: (1) The presence of a new structure in the form of development and encouraging farmers in Oro-oro Ombo Village to sell agricultural land to investors. (2) Actors who used to play an active role in the agricultural structure are now shifting to become actors in the tourism structure. (3) The duality of the agency-structure relationship which is characterized by the bargaining conditions that occur, the structure of agriculture and tourism in Oro-oro Ombo Village attracts each other (constrains), actually can help each other but the actors involved in the two structures still do not know how.Keywords: Actor, Agriculture, Duality of Structure, and Tourism AbstrakKota Batu semula terkenal dengan branding Kota Apel yang mengangkat eksistensi dari struktur pertanian, namun dengan bergantinya periode pemerintahan Wali Kota Batu telah mengubah arah pembangunan Kota Batu menjadi kota pariwisata berbasis pertanian. Para aktor telah menggeser struktur tradisional berupa pertanian menjadi struktur baru pembangunan pariwisata. Penelitian ini bertujuan menjelaskan bentuk dualitas struktur pertanian dan pembangunan pariwisata di Desa Oro-oro Ombo, Kecamatan Batu, Kota Batu. Peneliti menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Penentuan subjek dipilih menggunakan teknik snowball sampling. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis deret waktu. Teori Strukturasi Anthony Giddens digunakan sebagai alat pendukung analisis penelitian. Hasil penelitian adalah sebagai berikut: (1) Hadirnya struktur baru berupa pembangunan pariwisata mendorong petani di Desa Oro-oro Ombo untuk menjual lahan pertanian kepada para investor. (2) Aktor yang dulu aktif berperan dalam struktur pertanian kini bergeser peran menjadi aktor dalam struktur pariwisata. (3) Dualitas hubungan struktur-agensi ditandai dengan kondisi tawar menawar yang terjadi, struktur pertanian dan struktur pariwisata di Desa Oro-oro Ombo saling tarik menarik (constrain), sebenarnya bisa saling menunjang namun aktor yang terlibat di kedua struktur tersebut masih belum tahu harus bagaimana.Kata Kunci : Aktor, Dualitas Struktur, Pariwisata, dan Pertanian
SMART CITY DAN (RE)PRODUKSI RUANG: ANALISIS IMPLEMENTASI SMART CITY DI BALI DAN YOGYAKARTA Dewi, Ambar Sari; Saputro, Agus
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 12, No 4 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v12i4.78848

Abstract

Smart city is the is the integration of technology infrastructure, development strategies for social/human capital, and a network of stakeholders to ensure the city’s interest. It is implemented to help government overcome urbanisation problems. However, the massive use of ICT in smart city raises questions on production of space in urban areas. Thus, this research aims to examine how production of space occurs in smart cities in Indonesia, namely in Badung (Bali), Sleman, and Bantul Regencies (Yogyakarta). Using qualitative multiple-case studies, this research characterised smart cities studied as proposed by Giffinger and Gudrun and analyzes them in the Lefebvrian’s concept of production of space. Data was collected in two stages: observation of smart city services on the official website and semi-structured interviews with smart city users in the three cities studied. The results show that the three official websites provide smart city services, although further development is required. Although, informants in this study knew about the program, their use of the services is limited due to technical obstacles, lack of interest, and lack of socialization of the services. As conclusion, the implementation of smart cities in three cities is still at the normative and top-down policy level. Hence, citizen might not understand or need these services. Regarding the production of space in smart cities, this research concludes that it occurs in spatial space and representational space. Therefore, the right to the city in the production of space to live and solve the city's social and economic problems is crucial.Keywords: Production of Space, City, Smart city, Yogyakarta, Bali AbstrakSmart city adalah tata kelola kota yang mengintegrasikan infrastruktur teknologi, strategi pengembangan modal sosial/manusia, dan jaringan pemangku kepentingan untuk menjamin kepentingan kota. Smart city diterapkan untuk membantu pemerintah mengatasi permasalahan urbanisasi. Namun, masifnya penggunaan TIK di kota pintar menimbulkan pertanyaan mengenai produksi ruang di kawasan perkotaan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana produksi ruang terjadi di smart city di Indonesia, yaitu di Kabupaten Badung (Bali), Sleman, dan Bantul (Yogyakarta). Dengan menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus ganda, penelitian ini mengelompokkan kota pintar berdasarkan karakteristik smart city yang ditawarkan oleh Giffinger dan Gudrun, kemudian menganalisisnya dalam konsep produksi ruang Lefebvrian. Pengumpulan data dilakukan melalui dua tahap yaitu observasi layanan smart city di website resmi dan wawancara semi terstruktur terhadap pengguna smart city di tiga kota yang diteliti. Hasilnya menunjukkan bahwa ketiga situs resmi tersebut telah menyediakan layanan smart city, meskipun masih diperlukan pengembangan lebih lanjut. Meskipun informan dalam penelitian ini mengetahui tentang program ini, namun penggunaan layanan tersebut masih terbatas karena kendala teknis, kurangnya minat pengguna, dan kurangnya sosialisasi mengenai layanan tersebut. Berdasarkan temuan penelitian, dapat disimpulkan bahwa penerapan smart city di tiga kota tersebut masih berada pada level kebijakan normatif dan bersifat top-down. Oleh karena itu, masyarakat mungkin tidak memahami atau bahkan membutuhkan layanan ini. Terkait produksi ruang di smart city, penelitian ini menyimpulkan hal ini terjadi pada ruang spasial dan ruang representasional. Oleh karena itu, hak atas kota dalam produksi ruang bagi warga kota untuk hidup dan menyelesaikan permasalahan sosial dan ekonomi kota menjadi sangat penting.Kata Kunci: Produksi Ruang, Kota, Kota Pintar, Yogyakarta, Bali

Page 3 of 10 | Total Record : 100