cover
Contact Name
I Gusti Agung Paramita
Contact Email
vidyawertta@unhi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
vidyawertta@unhi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
ISSN : 08527776     EISSN : 26557282     DOI : -
Core Subject : Education,
Vidya Wertta Journal published by the Religion and Culture Fakulty of the Indonesian Hindu University. Publish twice a year, on April and October. The focus and reach of issues raised in the Vidya Wertta Journal include religion, philosophy, religious and cultural law.
Arjuna Subject : -
Articles 166 Documents
PERGESERAN MAKNA RITUAL YOGA DALAM AGAMA HINDU DARI SAKRAL HINGGA MENJADI KONSUMSI PUBLIK Ni Putu Oka Ariantini; Irawinne Rizki Wahyu Kusuma
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 4 No 2 (2021): Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ritual yoga dalam Agama Hindu menjadi salah satu hal yang dianggap sakral. Sebagian besar masyarakat Bali yang beragama Hindu masih memegang teguh ritual sebagai salah satu kewajiban agamanya. Yoga merupakan ilmu yang menjelaskan keterkaitan antara fisik, mental, dan spiritual manusia untuk mencapai sistem kesehatan menyeluruh (holistik) yang awal terbentuknya dari kebudayaan India kuno. Pada masa sekarang kebanyakan masyarakat lebih memilih mengadopsi budaya luar karena masuknya arus modernisasi. Sejauh ini pengembangan pariwisata selalu memaksakan adanya inovasi yang mampu berperan penting bagi daya tarik wisata budaya. Sehingga kedepannya Yoga diarahkan menjadi salah satu tujuan untuk menarik pariwisata. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis semiotika yang dikemukakan oleh Roland Barthes. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pergeseran makna secara denotatif, konotatif, serta mitos dan ideologi yang terkandung dalam ritual yoga. Penelitian kualitatif digunakan karena berkaitan dengan pembahasan yang diteliti mengenai analisis semiotika yang dikemukakan oleh Roland Barthes pada ritual Yoga dalam agama Hindu di Bali.
TRADISI MEPAJAR PADA UPACARA PEDATENGAN DI PURA BATUR SUMERTA DENPASAR Ni Nyoman Sri Winarti; Ni Made Surawati; Ni Ketut Sukarmi
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol. 4 No. 1 (2021): Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas fungsi tradisi Mepajar pada upacara Pedatengan di Pura Batur Sumerta. Tradisi ini merupakan bagian dari seni sakral yaitu Tari Wali, yang biasanya dibawakan setiap Piodalan Ageng di Pura Batur Sumerta. Piodalan di Pura Batur jatuh pada hari Rabu, Buda Wage Wuku Langkir. Studi ini dirancang dengan pendekatan kualitatif, pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam dan studi dokumen. Analisis dilakukan secara deskriptif. Berdasarkan hasil analisis dapat dijelaskan bahwa tradisi Mepajar di Pura Batur Sumerta memiliki fungsi yang sangat penting, yaitu: (a), berfungsi sebagai persembahan kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa dan para dewa yang bersemayam di Pura Batur Sumerta, (b) melayani sebagai sarana penguatan sistem sosial kemasyarakatan, sehingga menimbulkan rasa kebersamaan antar masyarakat.
PENGLUKATAN PANCORAN SOLAS PURA TAMAN MUMBUL DI DESA SANGEH KECAMATAN ABIANSEMAL KABUPATEN BADUNG I Putu Sarjana; Ni Nyoman Raka Astrini; I Gusti Ayu Juniari
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 4 No 2 (2021): Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas perihal keberadaan Pancoran Solas di Pura Taman Mumbul dari kacamata teologis, terapis dan sosiologis. Pengumpulan data lapangan melalui observasi, wawancara dan studi dokumen. Analisanya dilakukan secara deskriptif. Berdasarkan analisa data lapangan didapatkan hasil yakni secara teologis penglukatan Pancoran Solas Taman Mumbul di Sangeh ini memiliki sebelas buah pancuran yang mana setiap pancuran sebagai simbol dari kekuatan Tuhan, yaitu simbol dari kekuatan Dewata Nawasanga yang menjaga sembilan penjuru mata angin. Secara terapis, penglukatan Pancoran Solas diyakini dapat meningkatkan vibrasi spiritual dan menetralisir kekuatan-kekuatan negatif di dalam tubuh manusia. Tempat wisata religi ini dikelola oleh Desa Adat Sangeh.
KONSTRUKSI PEMBENTUKAN KARAKTER PADA KELUARGA SUKHINAH DI GRAHA PASEK BANJAR KAJA KELURAHAN SESETAN KECAMATAN DENPASAR SELATAN KOTA DENPASAR Nyoman Riyanti; Ni Made Surawati; Ni Nyoman Sri Winarti; Dayu Putu Sari
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 4 No 2 (2021): Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keluarga merupakan tempat pendidikan pertama dan utama bagi anak-anak. Namun akibat pengaruh globalisasi dan modernisasi, muncul fenomena gaya hidup materialistis dan konsumeris, sehingga kebahagiaan yang hakiki diukur berdasarkan materi (artha). Gaya hidup demikian tentu dapat menyebabkan tergesernya makna keluarga, seperti halnya maraknya angka perceraian, disorganisasi keluarga, kurangnya perhatian orang tua pada anak, kekerasan rumah tangga dan degradasi pada generasi muda. Kehidupan masyarakat demikian, dikhawatirkan dapat menyebabkan nilai-nilai kearifan sosial, nilai-nilai spiritual, dan tugas orang tua dalam pembentukan karakter pada anak menjadi terabaikan. Terkait hal itu, terdapat suatu fenomena keluarga di kota Denpasar yaitu keluarga Graha Pasek yang diduga mampu mendidik karakter baik pada putranya, serta diduga mampu menjaga nilai keharmonisan antar anggota keluarga lainnya, sehingga peneliti merasa tertarik untuk melakukan pengkajian lebih dalam mengenai “Konstruksi Pembentukan Karakter pada Keluarga Sukhinah di Graha Pasek Banjar Kaja, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar”.
PENANAMAN NILAI SRADHA MELALUI DHARMAGITA I Wayan Dauh; Ni Ketut Sukiani; Ni Ketut Mustiari
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 4 No 2 (2021): Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemajuan teknologi dan informasi berlangsung sangat cepat. Generasi kini sudah mudah mengakses segala jenis informasi dan pengetahuan, baik itu informasi yang positif bagi tumbuh kembang anak dan pembentukan karakternya, begitu juga informasi yang justru membuat generasi berkembang tanpa arah. Hanya saja jika perkembangan teknologi yang sangat canggih tidak dibarengi dengan penanaman nilai dan moralitas akan berdampak buruk pada generasi muda. Mereka akan tercerabut dari ruang-ruang sosial, budaya dan keagamaannya. Maka dari itu, penelitian ini berupaya untuk mengkaji perihal peranan budaya khususnya aktivitas dharmagita dalam upaya penanaman nilai untuk memperkuat keimanan generasi muda Hindu.
ETIKA DAN SISTEM PENDIDIKAN TRADISIONAL DI BALI Ida Bagus Ngurah
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 4 No 2 (2021): Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas nilai etika dan sistem Pendidikan tradisional Bali yang disebut dengan aguron-guron. Sebelum mengenal sistem pendidikan formal, di Bali terdapat sistem pendidikan yang berbasis kultural dan religius. Aguron-guron adalah proses pembelajaran yang diberikan seorang guru kepada muridnya. Namun istilah ini dan proses ini telah lama dilupakan karena sangat susah mendapatkan guru yang memiliki kualifikasi tertentu dan juga sangat sedikit orang yang menaruh perhatian dan minat terhadap hal ini.
IMPLEMENTASI NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM NOVEL MAHABHARATA KARYA NYOMAN S. PENDIT Ni Made Surawati; I Nyoman Winyana; I Putu Pramana Andi Wiguna
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 5 No 1 (2022): Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas pentingnya pendidikan karakter diberikan kepada peserta didik di era globalisasi. Nilai pendidikan karakter ini diambil dari sebuah Novel Mahabharata karya Nyoman. S. Pendit dan diberikan kepada peserta didik. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penyebaran quisioner kepada peserta didik. Kemudian menggunakan teknik analisis data deskriptif. Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini yakni nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam novel Mahabharata karya Nyoman S. Pendit seperti; pendidikan karakter cinta damai, pendidikan karakter cinta tanah air, pendidikan karakter kerja keras, pendidikan karakter jujur, pendidikan karakter kreatif, pendidikan karakter religius, dan pendidikan karakter tanggung jawab, mampu diterapkan oleh siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Atap Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung dengan baik.
KEDUDUKAN TANAH DRUWE PURA SETELAH BERLAKUNYA UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1960 I Dewa Gede Budiarta; Putu Andhika Kusuma Yadnya; I Kadek Adi Surya
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 5 No 1 (2022): Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan ini adalah untuk mengetahui kewenangan bendesa adat selaku kepala adat terhadap tanah druwe Pura dan kedudukan tanah druwe Pura setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria. Pendekatan yang digunakan adalah penelitian hukum normatif. Bendesa Adat selaku Kepala Adat memiliki peranan besar akan keberadaan tanah druwe Pura namun tidak memiliki kewenangan penuh terhadap tanah druwe Pura itu sendiri, baik dari segi pemanfaatan maupun dari segi pemungutan hasil. Bendesa Adat hanya memiliki kewenangan untuk mengatur cara pengelolaan tanah tersebut dengan baik yang pengelolaannya diserahkan kepada warga Desa setempat serta tokoh agama dari masing-masing Pura untuk mengerjakan maupun mengatur hasil dari tanah tersebut untuk keperluan upacara keagamaan rutin serta perbaikan Pura dan dengan diakuinya keberadaan hak ulayat dan hak-hak lainnya yang serupa dalam UUPA, maka tanah druwe Pura yang pada dasarnya merupakan bagian dari tanah hak ulayat memiliki kepastian hukum. Selanjutnya dengan dikeluarkannya Keputusan Menteri Dalam Negeri No. SK 556/DJA/ 1986 tentang Penunjukan Pura Sebagai Badan Hukum Keagamaan Yang Mempunyai Hak Milik Atas Tanah, maka tanah druwe Pura dapat didaftarkan dan disertifikatkan dengan dasar hak milik.
KETERLIBATAN DESA ADAT DALAM PENGELOLAAN OBJEK WISATA TUKAD UNDA DI DESA PAKSEBALI KECAMATAN DAWAN KABUPATEN KLUNGKUNG I Gusti Ayu Ngurah; Desak Nyoman Seniwati; Ida Bagus Gede Sasmara
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 5 No 1 (2022): Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas perihal peran Desa Adat Paksebali Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung dalam pengelolaan obyek wisata. Ada beberapa persoalan yang dibahas yakni hambatan desa adat dalam pengelolaan obyek wisata dan strategi yang dilakukan. Penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara, dan studi dokumen. Analisis dilakukan secara deskriptif. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara maka dapat dijelaskan sebagai berikut: Peran Desa Adat Paksebali dalam pengelolaan Obyek Wisata Kali Unda sangat besar. Pada awal tahun 2017 pengelolaan meliputi perencanaan, pemeliharaan tempat, kebersihan, dan keamanan. Dalam perjalanannya, ada beberapa hambatan yang dirasakan oleh Desa Adat Paksebali yakni sulitnya mengajak masyarakat ikut bersama-sama memelihara, mengayomi dan menjaga obyek wisata tersebut. Strategi yang diterapkan adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia, peningkatan program promosi, peningkatan fasilitas sarana dan prasarana serta pengembangan kerjasama dengan lembaga-lembaga lain atau kelompok masyarakat sekitar. Hal ini dilakukan agar pengelolaan dapat berjalan dengan maksimal sehingga akan menimbulkan dampak yang baik bagi keberlangsungan kehidupan sosial dan ekonomi di lingkungan sekitar Wisata Kali Unda.
PENYELESAIAN SENGKETA TANAH WARIS ANTARA AHLI WARIS YANG BERALIH AGAMA DENGAN YANG BERAGAMA HINDU DI DESA ADAT PADANG LUWIH PERSPEKTIF PLURALISME HUKUM I Gusti Ayu Ketut Artatik; I Gusti Ngurah Alit Saputra; Ni Luh Made Elida Rani
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 5 No 1 (2022): Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Bali dikenal dua macam hak atas tanah yaitu hak–hak perseorangan atas tanah dan hak–hak masyarakat hukum adat (desa, pura). Jenis-jenis hak atas tanah perseorangan adalah seperti yang disebutkan dalam Pasal 16 ayat (1) UUPA, yaitu hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan, hak pakai, hak sewa, dan lain-lain. Tanah–tanah perseorangan sepenuhnya tunduk kepada hukum tanah nasional sedangkan tanah-tanah yang merupakan hak-hak masyarakat adat di samping tunduk kepada hukum nasional masih terikat oleh ketentuan-ketentuan adat, seperti yang tertuang melalui awig-awig, pararem, dan dresta. Tanah yang dulunya kurang berfungsi dan tidak bertuan kini menjadi rebutan. Masalah perebutan sumber daya alam seperti tanah dan air ini sering menjadi sumber konflik. Seperti sengketa tanah waris yang terjadi di desa adat Padang Luwih antara ahli waris yang pindah agama dengan ahli waris yang beragama Hindu. Kalau dalam satu keluarga memiliki keyakinan yang berbeda, sangat disadari kemungkinan terjadinya konflik atau sengketa antara keluarga berkaitan dengan perebutan harta warisan. Tentu saja dalam penyelesaian sengketa ini tidak terlepas dari peran hukum negara, hukum agama dan hukum adat.

Page 9 of 17 | Total Record : 166