cover
Contact Name
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students
Contact Email
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students
ISSN : 26569868     EISSN : 2656985X     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students adalah open access journal berbahasa Indonesia, yang menerbitkan artikel penelitian dari para peneliti pemula dan mahasiswa di semua bidang ilmu dan pengembangan dasar kesehatan gigi dan mulut melalui pendekatan interdisipliner dan multidisiplin. Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran dua kali setahun, setiap bulan Februari dan Oktober. Bidang cakupan Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; ilmu kedokteran gigi anak; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya. Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students mengakomodasi seluruh karya peneliti pemula dan mahasiswa kedokteran gigi untuk menjadi acuan pembelajaran penulisan ilmiah akademisi kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 310 Documents
Hubungan teknik menyikat gigi horizontal scrub murni dan horizontal scrub kombinasi dengan kejadian resesi gingiva pada pra-lansia dan lansia di kota cimahi: Studi cross-sectional Djohan, Frita Ferlita Shafri; Mubaraq, Rizky Anzal
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 10, No 2 (2026): June 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v10i2.70058

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Menyikat gigi merupakan salah satu metode membersihkan gigi, namun jika dilakukan dengan teknik yang keliru dapat mengakibatkan resesi gingiva. Teknik menyikat gigi Horizontal scrub adalah teknik yang sederhana tetapi memiliki potensi menyebabkan resesi gingiva. Sebagian individu menyikat gigi dengan teknik Horizontal scrub kombinasi. Informasi penelitian yang menjelaskan hubungan teknik horizontal scrub murni dan Horizontal scrub kombinasi terhadap kejadian resesi gingiva masih terbatas. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis hubungan teknik menyikat gigi Horizontal scrub murni dan horizontal scrub kombinasi terhadap kejadian resesi gingiva pada pra-lansia dan lansia di Kota Cimahi Metode: Desain penelitian yaitu analitik observasional cross-sectional. Subjek penelitian adalah pra-lansia dan lansia pada tiga kecamatan di Kota Cimahi sebanyak 165 orang. Analisis korelasi antara teknik menyikat gigi dengan resesi gingiva dengan uji Fisher dengan p-value (p<0,05) (OR<1 dan CI=95%). Hasil: Prevalensi resesi gingiva pada kelompok horizontal scrub murni sebesar 97,7% lebih tinggi dibandingkan kelompok Horizontal scrub kombinasi sebesar 82,9%. Secara statistik menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara teknik menyikat gigi dengan kejadian resesi gingiva (p=0,003). Subjek yang menggunakan teknik horizontal scrub murni memiliki resiko lebih tinggi mengalami resesi gingiva dibandingkan kelompok horizontal scrub kombinasi (OR= 0,114; 95%CI: 0,027-0,484) Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara teknik menyikat gigi Horizontal scrub murni dan Horizontal scrub kombinasi dengan kejadian resesi gingiva (p=0,003; OR=0,114; 95% CI: 0,027-0,484). Perlu penguatan kembali edukasi teknik menyikat gigi pada pasien 45 tahun ke atas sebagai upaya pencegahan resesi gingiva.KATA KUNCI: Horizontal scrub; menyikat gigi; resesi gingivaThe association between pure and combined horizontal scrub technique and gingival recession among pre-elderly and elderly individuals in cimahi city: Study cross-sectional  ABSTRACT Introduction: Toothbrushing is one of the most common methods of maintaining oral hygiene, however, when performed incorrectly, it may lead to gingival recession. The horizontal scrub technique is simple and widely used, but it may pose a risk of gingival recession. In practice, some individuals apply the horizontal scrub technique in combination with other brushing movements. Information regarding the association between pure horizontal scrub and combined horizontal scrub toothbrushing techniques and the occurrence of gingival recession remains limited. This study aimed to analyze the association between pure horizontal scrub and combined horizontal scrub toothbrushing techniques and the occurrence of gingival recession among pre-elderly and elderly individuals in Cimahi City.  Methods: This study employed an observational analytic cross-sectional design. The study subjects were pre-elderly and elderly individuals from three sub-districts in Cimahi City, with a total of 165 participants. The association between toothbrushing technique and gingival recession was analyzed using Fisher’s Exact Test with a significance level of p<0.05 and 95% confidence interval. Results: The prevalence of gingival recession in the pure horizontal scrub technique group (97.7%) was higher than that in the combined horizontal scrub technique group (82.9%). Statistical analysis revealed a significant association between toothbrushing technique and the occurrence of gingival recession (p=0.003). Subjects using the pure horizontal scrub technique were at a significantly higher risk of developing gingival recession compared to those using the combined horizontal scrub technique (OR=0.114; 95% CI: 0.027-0.484) Conclusions: There was a significant association between the pure horizontal scrub technique and combined horizontal scrub toothbrushing techniques of gingival recession. Reinforcement of toothbrushing technique education for patients aged 45 years and older is needed as an effort to prevent gingival recession.KEY WORDS: Horizontal scrub; toothbrushing; gingival recession
Physicochemical characteristics evaluation of commercial artificial saliva based on hydroxyethyl cellulose Pratiwi, Wening; Tjahajawati, Sri; Kuswandani, Faisal; Budiman, Arif; Malinda, Yuti
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 10, No 2 (2026): June 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v10i2.70045

Abstract

ABSTRACT Introduction: Artificial saliva is used to manage xerostomia, a medical disorder primarily caused by impaired salivary gland function, by serving as a substitute for natural saliva. Because of its favorable viscosity and stability, hydroxyethyl cellulose (HEC) is frequently used as a thickening agent and lubricant in artificial saliva. Artificial saliva should be evaluated for its physicochemical characteristics to ensure that the formulation closely mimics natural saliva. This study aimed to evaluate the physicochemical characteristics of HEC-based artificial saliva commercially available in Indonesia. Methods: Based on market availability, two artificial saliva products in liquid formulations were obtained and analyzed. Sample 1 was an HEC-based formulation with a combination of polyethylene glycol (PEG) and methylparaben, whereas sample 2 was an HEC-based formulation with Aloe vera and cetylpyridinium chloride (CPC). The physicochemical characteristics of the samples were evaluated based on chemical properties (pH and buffer capacity) and physical properties (viscosity, density, and surface tension). Results: The results showed that sample 1 had an average pH of 6.81±0.32, a buffer capacity of 0.288 mmol H+/L, a viscosity of 10.33 mPa.s, a density of 1.065 g/cm³, and a surface tension of 44.8 mN/m. Meanwhile, sample 2 had an average pH of 5.08±0.52, a buffer capacity of 0.158 mmol H+/L, a viscosity of 2.50 mPa.s, a density of 1.113 g/cm³, and a surface tension of 45.6 mN/m. Conclusion: This study found that sample 1 demonstrated chemical and physical characteristics more similar to natural saliva, whereas sample 2 had a lower pH, buffer capacity, and viscosity but a slightly higher density and surface tension.KEY WORDS: Hydroxyethyl cellulose, artificial saliva, saliva substitute, physicochemical characteristics.Evaluasi karakteristik fisikokimia air liur buatan komersial berbasis hidroksietil selulosa ABSTRAKPendahuluan: Air liur buatan digunakan untuk mengobati xerostomia, suatu gangguan medis yang terutama disebabkan oleh gangguan kelenjar ludah, dengan menggantikan air liur alami. Karena viskositas dan stabilitasnya yang menguntungkan, hidroksietil selulosa (HEC) sering digunakan sebagai pengental dan pelumas dalam air liur buatan. Air liur buatan perlu dievaluasi dari segi karakteristik fisikokimia untuk memastikan bahwa formulasi tersebut menyerupai air liur alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik fisikokimia air liur buatan berbasis HEC yang tersedia secara komersial di Indonesia. Metode: Berdasarkan ketersediaan di pasaran, dua air liur buatan dalam formulasi cair diperoleh dan dianalisis. Sampel 1 adalah formulasi berbasis HEC dengan kombinasi polietilen glikol (PEG) dan metilparaben, sedangkan sampel 2 adalah formulasi berbasis HEC dengan lidah buaya dan setilpiridinium klorida (CPC). Karakteristik fisikokimia sampel diukur, baik sifat kimia (pH, kapasitas buffer) maupun sifat fisik (viskositas, densitas, tegangan permukaan) dievaluasi. (3) Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel 1 memiliki pH rerata 6,81±0,32, kapasitas buffer 0,288 mmol H+/L, viskositas 10,33 mPa.s, densitas 1,065 g/cm³, dan tegangan permukaan 44,8 mN/m. Sementara itu, sampel 2 memiliki pH rata-rata 5,08±0,52, kapasitas buffer 0,158 mmol H+/L, viskositas 2,50 mPa.s, densitas 1,113 g/cm³, dan tegangan permukaan 45,6 mN/m. (4) Simpulan: Penelitian ini menemukan bahwa sampel 1 menunjukkan karakteristik kimia dan fisik yang lebih mirip dengan air liur alami, sedangkan sampel 2 memiliki pH, kapasitas buffer, dan viskositas yang lebih rendah tetapi densitas dan tegangan permukaan yang sedikit lebih tinggi.KATA KUNCI: Hidroksietil selulosa, air liur buatan, pengganti air liur, karakteristik fisikokimia.
Efektivitas tablet hisap probiotik Lactobacillus reuteri terhadap penurunan populasi bakteri anaerob pada cairan sulkus gingiva pasca scaling and root planing: Studi eksperimental Shabha, Fatharani Tsaniya Muti; Suhesti, Tuti Sri; Cahyani, Inneke
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 10, No 2 (2026): June 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v10i2.69555

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Periodontitis kronis merupakan penyakit peradangan destruktif jaringan periodontal yang disebabkan oleh bakteri patogen jenis anaerob yang dapat ditemukan di plak subgingiva dan cairan sulkus gingiva. Terapi periodontal perlu dilakukan untuk mengeliminasi bakteri periodontopatogen dengan perawatan non-bedah scaling & root planing didukung dengan mengkonsumsi obat yang bersifat antimikroba sebagai terapi adjuvan. Probiotik seperti Lactobacillus reuteri berpotensi sebagai terapi adjuvan karena mampu memproduksi zat antibakteri berupa bakteriosin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas tablet hisap probiotik Lactobacillus reuteri terhadap penurunan populasi bakteri anaerob dalam cairan sulkus gingiva pasien periodontitis kronis pasca scaling & root planing. Metode: Studi eksperimental klinis uji coba terkontrol acak pendahuluan (preliminary RCT) dengan rancangan pre-test post-test with control group design melibatkan 8 subjek yang terbagi menjadi kelompok kontrol (hanya SRP, n=4) dan kelompok perlakuan (SRP + konsumsi tablet hisap L. reuteri 2x/hari selama 7 hari, n=4). Sampel CSG diambil pada hari ke-0 (pasca SRP) dan hari ke-8 (setelah 7 hari masa perlakuan). Perhitungan koloni bakteri dilakukan menggunakan colony counter dengan metode total plate count (TPC) (CFU/mL), lalu dianalisis statistik menggunakan Uji Paired t-test dan Unpaired t-test. Hasil: Hasil rerata penurunan jumlah koloni bakteri anaerob (105 CFU/mL) pada kelompok perlakuan dan kontrol secara berturut-turut sebesar 242,25 ± 10,1 dan 165,75 ± 52,6 (p≤0,05). Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan bermakna rerata penurunan jumlah koloni bakteri anaerob antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol (p≤0,05). Simpulan: Scaling & root planing dikombinasikan dengan mengkonsumsi tablet hisap probiotik Lactobacillus reuteri efektif dalam menurunkan populasi bakteri anaerob penyebab periodontitis kronis.KATA KUNCI: probiotik lactobacillus reuteri, bakteri anaerob, periodontitis kronis, scaling and root planing, cairan sulkus gingiva.Effectiveness of Lactobacillus reuteri probiotic lozenges in reducing anaerobic bacterial population in gingival crevicular fluid after scaling and root planning: Study experimentalABSTRACTIntroduction: Chronic periodontitis is a destructive inflammatory periodontal disease caused by anaerobic pathogenic bacteria found in subgingival plaque and gingival crevicular fluid. Periodontal treatment is needed to eliminate periodontopathogenic bacteria through nonsurgical treatment with scaling and root planing, supported by the use of antimicrobial medicine as adjuvant therapy. Probiotics such as Lactobacillus reuteri have potential as adjuvant therapy because they can produce bacteriocins, which are antibacterial substances. This study aimed to analyze the effectiveness of L. reuteri probiotic lozenges in reducing anaerobic bacterial populations in the GCF of patients with chronic periodontitis after scaling and root planing. Methods: A preliminary randomized controlled trial (RCT) with a pre-test post-test with control group design was conducted involving 8 subjects, divided into a control group (SRP only, n=4) and a treatment group (SRP + use of L. reuteri lozenges twice daily for 7 days, n=4). GCF samples were collected on day 0 (post-SRP) and day 8 (after the 7-day treatment period). Bacterial colony counting was performed using a colony counter with the total plate count (TPC) method (CFUs/mL), and the data were statistically analyzed using paired and in paired t-tests. Results: Anaerobic bacterial colonies (105 CFU/mL) decreased at 242.25 ± 10.1 in the treatment group and 165.75 ± 52.6 in the control group. The results showed a significant difference in the mean reduction in the number of anaerobic bacterial colonies between the treatment group and the control group (p≤0.05). Conclusion: Scaling & root planing combined with the use of probiotic Lactobacillus reuteri lozenges is effective in reducing the population of anaerobic bacteria associated with chronic periodontitis.KEY WORDS: Lactobacillus reuteri probiotic, anaerobic bacteria, chronic periodontitis, scaling and root planing, gingival crevicular fluid.
Uji aktivitas antibakteri ekstrak daun nipah (Nypa fruticans Wurmb) dalam menghambat pertumbuhan Porphyromonas gingivalis ATCC 33277 pada permukaan resin akrilik polimerisasi panas: Studi eksperimental Anggraeni, Lulu Miftakhul Izzah; Ferdina, Resa; Fadriyanti, Okmes; Sari, Widya Puspita
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 10, No 2 (2026): June 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v10i2.69569

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Kehilangan gigi merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut dengan prevalensi yang masih tinggi sehingga penggunaan gigi tiruan menjadi salah satu pilihan rehabilitasi. Basis gigi tiruan umumnya terbuat dari resin akrilik polimerisasi panas yang memiliki porositas mikro dan kekasaran permukaan sehingga memudahkan penumpukan plak serta mendukung perlekatan bakteri patogen, seperti Porphyromonas gingivalis. Pembersihan gigi tiruan umumnya menggunakan sodium hipoklorit, namun penggunaannya dalam jangka panjang dapat memberikan efek yang merugikan terhadap bahan gigi tiruan maupun jaringan rongga mulut. Daun nipah (Nypa fruticans Wurmb) mengandung senyawa antibakteri seperti flavonoid, alkaloid, tanin, fenol, saponin, polyisoprenoid, dan terpenoid sehingga berpotensi sebagai bahan pembersih alami gigi tiruan. Tujuan untuk menganalisis ini yaitu aktivitas antibakteri ekstrak daun nipah (Nypa fruticans Wurmb) konsentrasi 10%, 15%, dan 20% terhadap pertumbuhan Porphyromonas gingivalis ATCC 33277 pada resin akrilik polimerisasi panas serta mengetahui perbedaan efektivitas antara konsentrasi. Metode: Penelitian eksperimental laboratoris dengan rancangan post-test only control group design. Sebanyak 25 lempeng resin akrilik polimerisasi panas berukuran 10 × 10 × 1 mm dibagi menjadi lima kelompok, yaitu ekstrak daun nipah konsentrasi 10%, 15%, 20%, kontrol positif, dan kontrol negatif. Data dianalisis menggunakan uji One-Way ANOVA yang dilanjutkan dengan uji Tukey HSD. Hasil: Terdapat pengaruh yang signifikan pemberian ekstrak daun nipah terhadap pertumbuhan P. gingivalis (p<0,001). Uji Tukey HSD menunjukkan bahwa konsentrasi 20% memberikan aktivitas antibakteri tertinggi dibandingkan konsentrasi lainnya. Simpulan: Ekstrak daun nipah (Nypa fruticans Wurmb) mampu menghambat pertumbuhan Porphyromonas gingivalis ATCC 33277 pada resin akrilik polimerisasi panas, dengan efektivitas terbaik pada konsentrasi 20%.KATA KUNCI: aktivitas antibakteri, ekstrak daun nipah (Nypa fruticans wurmb), Porphyromonas gingivalis, resin akrilik polimerisasi panasAntibacterial activity test of nipah leaf extract (Nypa fruticans Wurmb) in inhibiting the growth of Porphyromonas gingivalis ATCC 33277 on the surface of heat-polymerized acrylic resin: Study experimentalABSTRACTIntroduction: Tooth loss remains a common dental and oral health problem, making dentures one of the most widely used rehabilitation options. Heat-polymerized acrylic resin is the most common denture base material; however, its surface roughness and microporosity facilitate plaque accumulation and bacterial adhesion, including Porphyromonas gingivalis. Denture cleansing is commonly performed using sodium hypochlorite, but prolonged use may adversely affect denture materials and oral tissues. Nipa palm leaves (Nypa fruticans Wurmb) contain antibacterial compounds, including flavonoids, alkaloids, tannins, phenols, saponins, polyisoprenoids, and terpenoids, making them a potential natural denture cleanser. This study aimed to analyze the antibacterial activity of Nypa fruticans leaf extract at concentrations of 10%, 15%, and 20% against Porphyromonas gingivalis ATCC 33277 on heat-polymerized acrylic resin and to determine differences in antibacterial effectiveness among the tested concentrations. Methods: This laboratory experimental study used a post-test-only control group design. Twenty-five heat-polymerized acrylic resin plates (10 × 10 × 1 mm) were randomly allocated into five groups: 10%, 15%, and 20% Nypa fruticans leaf extract, a positive control, and a negative control. Data were analyzed using one-way ANOVA followed by Tukey's HSD post hoc test. Results: Different concentrations of Nypa fruticans leaf extract had a significant effect on the growth of P. gingivalis (p<0.001). Tukey's HSD test demonstrated that the 20% extract exhibited the highest antibacterial activity compared with the other concentrations. Conclusion: Nypa fruticans Wurmb leaf extract was able to inhibit the growth of Porphyromonas gingivalis ATCC 33277 on heat-polymerized acrylic resin, with the greatest antibacterial activity observed at the 20% concentration.KEYWORDS: antibacterial activity, nipah leaf extract (Nypa fruticans Wurmb), Porphyromonas gingivalis, heat-polymerized acrylic resin.
Uji toksisitas karbon aktif dari Cocos nucifera L. terhadap jaringan gingiva tikus wistar dengan aplikasi perawatan ortodonti menggunakan MTT Assay: Studi eksperimental Alamsyah, Yenita; Mareta, Cindy Putri; Anggraini, Netta; Kornialia, Kornialia
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 10, No 2 (2026): June 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v10i2.69658

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Orthodontic tooth movement (OTM) memicu inflamasi gingiva yang umumnya diatasi dengan triamcinolone acetonide 0,1% yang berisiko efek samping. Karbon aktif tempurung kelapa (Cocos nucifera L.) berpotensi mengadsorpsi mediator inflamasi lokal. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi biokompatibilitas dan viabilitas sel fibroblas gingiva pasca-aplikasi gel karbon aktif C. nucifera L. menggunakan MTT Assay. Metode: Studi eksperimental post-test only control group design menggunakan 30 ekor tikus Wistar jantan (Rattus norvegicus) yang dibagi menjadi 6 kelompok (n=5). Model OTM dibuat menggunakan closed coil spring (gaya 100–150 g). Kelompok perlakuan terdiri atas kontrol normal (K1), kontrol negatif OTM (K2), kontrol positif triamcinolone 0,1% (K3), serta gel karbon aktif 10% (K4), 5% (K5), dan 3,33% (K6) yang diaplikasikan hingga 30 hari. Viabilitas fibroblas gingiva diukur dengan MTT assay (λ = 570 nm) dan dianalisis menggunakan One-way ANOVA serta post-hoc Tukey (p<0,05). Hasil: Rata-rata viabilitas sel kelompok gel karbon aktif 10%, 5%, dan 3,33% berturut-turut adalah 87,4%, 89,1%, dan 91,2%. Selama masa pengamatan (hari ke-7, 14, 21, dan 30), viabilitas berkisar 76%–98% (non-toksik, >80% berdasarkan ISO 10993-5). Simpulan: Gel karbon aktif C. nucifera L. bersifat biokompatibel dan tidak toksik terhadap gingiva tikus Wistar pada model OTM.KATA KUNCI: Karbon aktif (Cocos nucifera L.), jaringan gingiva, toksisitas, perawatan ortodonti, viabilitas selToxicity test of activated carbon from Cocos nucifera L. on Wistar rat gingival tissue during orthodontic treatment using  MTT assayABSTRACTIntroduction: Orthodontic tooth movement (OTM) induces gingival inflammation, typically treated with triamcinolone acetonide 0.1%; however, its use carries a risk of side effects. Activated carbon from coconut shells (Cocos nucifera L.) has the potential to adsorb local inflammatory mediators. This study aimed to evaluate the biocompatibility and gingival fibroblast cell viability following application of C. nucifera L. activated carbon gel using the MTT assay. Methods: This experimental study used a post-test-only control group design and evaluated 30 male Wistar rats (Rattus norvegicus) divided into six groups (n=5). An OTM model was induced using a closed coil spring (100–150 g force). Groups included a normal control (K1), a negative OTM control (K2), a positive control treated with triamcinolone 0.1% (K3), and groups treated with activated carbon gels at 10% (K4), 5% (K5), and 3.33% (K6), with applications performed for up to 30 days. Gingival fibroblast viability was assessed via MTT assay (λ = 570 nm) and analyzed using one-way ANOVA followed by Tukey’s post hoc test (p<0.05). Results: Mean cell viability in the 10%, 5%, and 3.33% activated carbon gel groups was 87.4%, 89.1%, and 91.2%, respectively. Viability ranged from 76%–98% across all observation periods (days 7, 14, 21, and 30), indicating non-toxicity (>80% per ISO 10993-5). Conclusion: C. nucifera L. activated carbon gel is biocompatible and does not exhibit a cytotoxic effect on the gingival tissue of Wistar rats  in an OTM model.KEY WORDS: Activated carbon (Cocos nucifera L.), gingival tissue, toxicity, orthodontic treatment, cell viability
Analisis potensi ekstrak etanol kulit buah dan kulit bulir jeruk nipis (C. aurantifolia) sebagai pembersih smear layer dengan Confocal Laser Scanning Microscopy: Studi eksperimental Asmah, Nur; Aslan, Sarahfin; Mattulada, Indry Kirana; Febriany, Mila; Rahmawati, Rahmawati
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 10, No 2 (2026): June 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v10i2.69899

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Keberhasilan perawatan saluran akar dipengaruhi oleh efektivitas bahan irigasi dalam menghilangkan smear layer, yaitu lapisan sisa hasil preparasi yang terdiri atas komponen organik dan anorganik akibat proses instrumentasi. Ethylenediaminetetraacetic acid (EDTA) 17% merupakan bahan irigasi yang sering digunakan, tetapi penggunaannya berpotensi menyebabkan erosi dentin. Oleh karena itu, diperlukan alternatif bahan irigasi alami yang lebih biokompatibel. Ekstrak etanol kulit buah dan kulit bulir jeruk nipis (Citrus aurantifolia) mengandung senyawa saponin dan asam sitrat yang berpotensi membantu membersihkan smear layer. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi ekstrak etanol kulit buah dan kulit bulir jeruk nipis sebagai bahan pembersih smear layer menggunakan Confocal Laser Scanning Microscopy (CLSM). Metode: Penelitian ini merupakan eksperimen laboratoris dengan desain post-test only control group. Ekstrak etanol kulit buah dan kulit bulir jeruk nipis diperoleh melalui metode maserasi menggunakan etanol 96%, kemudian diuapkan menggunakan rotary evaporator hingga diperoleh ekstrak kental dan diencerkan menjadi konsentrasi 10%, 15%, dan 20%. Sebanyak 24 gigi permanen berakar tunggal dibagi menjadi empat kelompok, yaitu ekstrak konsentrasi 10%, 15%, 20%, dan EDTA 17% sebagai kontrol positif. Kebersihan smear layer dievaluasi menggunakan CLSM berdasarkan skor Hülsmann. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal–Wallis yang dilanjutkan dengan uji Mann–Whitney. Hasil: Ekstrak konsentrasi 10% dan 15% menunjukkan efektivitas yang lebih rendah dibandingkan EDTA 17%. Konsentrasi 20% tidak menunjukkan perbedaan bermakna dengan EDTA 17% (p = 0,093; p > 0,05), sehingga menunjukkan efektivitas yang relatif setara.Simpulan: Ekstrak etanol kulit buah dan kulit bulir jeruk nipis konsentrasi 20% efektif membersihkan smear layer dan berpotensi sebagai alternatif bahan irigasi saluran akar alami.KATA KUNCI: ekstrak etanol jeruk nipis, smear layer, irigasi saluran akar, confocal laser scanning microscopy (CLSM)Analysis of the potential of ethanol extract of lime (C. aurantifolia) and segment membran as a smear layer cleansing agent using Confocal Laser Scanning MicroscopyABSTRACTIntroduction: Dental implants are used to restore oral function and aesthetics and require adequate stability within the surrounding bone. In patients with maxillary atrophy, the vertical sinus lift approach without bone graft may facilitate implant placement by increasing the available bone height. This study aimed to map the available evidence regarding the outcomes and success of dental implant placement using the vertical sinus lift approach without bone graft. Methods: This study employed a scoping review design following the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses Extension for Scoping Reviews (PRISMA-ScR) guidelines. Articles were identified from three databases, namely PubMed, Scopus, and Cochrane, based on predetermined inclusion and exclusion criteria. The review focused on randomized controlled trials (RCTs) published between 2014 and 2023. Extracted data included publication year, study design, number and characteristics of patients, implant length, follow-up duration, sinus lifting technique, outcome assessment methods, implant survival rate, bone height gain, other indicators of treatment success, and complications. Results: Nine articles met the inclusion criteria, comprising six two-group RCTs and three three-group RCTs. The reviewed studies demonstrated high implant survival rates, ranging from 94.1% to 100%. Bone height gain reached up to 4.1 ± 1.0 mm. Reported complications were generally limited and included mucositis and perforation of the sinus membrane. Conclusion: The vertical sinus lift approach without bone graft demonstrates favorable clinical outcomes and may be considered a valid technique for dental implant placement in patients with atrophic maxillae when additional bone height of less than 4 mm is required. The findings support its potential as a less invasive approach while highlighting the need for further high-quality clinical studies to establish standardized indications and long-term outcomes.KEY WORDS: Lime ethanol extract, smear layer, root canal irrigation, Confocal Laser Scanning Microscopy (CLSM)
Efek medikamen kalsium hidroksida terhadap Enterococcus faecalis dan Candida albicans : ulasan sistematik Nurrohmah, Titis; Malinda, Yuti; Prisinda, Diani
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 10, No 2 (2026): June 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v10i2.69767

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Keberhasilan perawatan saluran akar (PSA) bergantung pada efektivitas eliminasi mikroorganisme dari saluran akar, salah satunya melalui penggunaan kalsium hidroksida [Ca(OH)₂] sebagai medikamen intrakanal. Enterococcus faecalis (E. faecalis) dan Candida albicans (C. albicans) sering dikaitkan dengan kegagalan PSA karena kemampuannya bertahan dalam saluran akar. Studi ini bertujuan untuk mengkaji secara sistematis efektivitas Ca(OH)₂ dibandingkan dengan medikamen lain terhadap E. faecalis dan/atau C. albicans berdasarkan penelitian-penelitian yang sudah ada sebelumnya. Metode: Penelitian tinjauan sistematis ini menggunakan pedoman PRISMA dan dilakukan menggunakan basis data PubMed, ScienceDirect, dan Web of Science dengan kata kunci yang telah ditentukan sesuai kriteria inklusi dan eksklusi serta publikasi dalam rentang waktu 2015-2025. Penilaian risk of bias dilakukan menggunakan QUIN Tool. Hasil: Terdapat 658 artikel yang didapatkan dan 15 artikel terpilih digunakan dalam tinjauan sistematis ini. Sebagian besar penelitian membandingkan Ca(OH)₂ tunggal terutama dalam bentuk pasta dibandingkan dengan medikamen lain. Simpulan: Medikamen Ca(OH)₂ memiliki efektivitas antimikroba yang lebih rendah terhadap E. faecalis dan C. albicans jika digunakan secara tunggal dibandingkan medikamen lainnya. Penggunaan secara kombinasi dengan medikamen lain seperti Ledermix, Odontopaste, Bioactive Glass S53P4, Silver Nano Particles, dan Gliserin 60% lebih efektif.KATA KUNCI: kalsium hidroksida, enterococcus faecalis, candida albicans, dental, medikamen intrakanalThe effect of calcium hydroxide medicament on Enterococcus faecalis and Candida albicans: a systematic reviewABSTRACTIntroduction: The success of root canal treatment is influenced by the effective elimination of microorganisms from the root canal, including through the use of calcium hydroxide [Ca(OH)₂] as an intracanal medicament. Enterococcus faecalis (E. faecalis) and Candida albicans (C. albicans) are frequently associated with RCT failure due to their ability to persist within the root canal. This study aimed to systematically review the effectiveness of Ca(OH)₂ compared to other medicaments against E. faecalis and/or C. albicans based on previously published studies. Methods: This systematic review was conducted according to the PRISMA guidelines and used three databases (PubMed, ScienceDirect, and Web of Science) with predetermined keywords and established inclusion and exclusion criteria. Studies published between 2015 and 2025 were considered for inclusion. Risk of bias assessment was conducted using the QUIN Tool. Results: A total of 658 articles were identified, of which 15 articles were included in this systematic review. Most studies compared Ca(OH)₂ used as a single medicament, primarily in paste form, with other intracanal medicaments. Conclusion: Ca(OH)₂ used as a single medicament demonstrated lower antimicrobial efficacy against E. faecalis and C. albicans than other medicaments. The combination of Ca(OH)₂ with other intracanal medicaments, such as Ledermix, Odontopaste, bioactive glass S53P4, silver nanoparticles, and 60% glycerin, was more effective.KEY WORDS: calcium hydroxide, enterococcus faecalis, candida albicans, dental, intracanal medicament 
The difference of compressive strength between mixture of nanoparticle- indonesia white portland cement-resin and resin-modified calcium silicate: study experimental Sabila, Armybet Itaq Fitri; Primathena, Indra; Nurdin, Denny; Cahyanto, Arief
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 10, No 2 (2026): June 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v10i2.69743

Abstract

ABSTRACTIntroduction: Dental caries has a high prevalence in Indonesia and requires restorative treatment to maintain pulp vitality. Pulp capping is one treatment option, and its success is influenced by the material used. Indonesian White Portland Cement (IWPC) has potential as an alternative pulp-capping material, particularly in nanoparticle form combined with resin; however, its mechanical strength requires evaluation. This study aimed to formulate a nano-IWPC-resin mixture and evaluate its compressive strength compared with that of resin-modified calcium silicate (TheraCal LC), with and without incubation in Ringer's lactate. Methods: This true experimental study used 32 samples divided into four groups: Group 1, incubated nano-IWPC-resin; Group 2, non-incubated nano-IWPC-resin; Group 3, incubated resin-modified calcium silicate (TheraCal LC); and Group 4, non-incubated TheraCal LC. Samples were irradiated using a light-curing unit and tested for compressive strength using a universal testing machine with a 5 kN load cell at 1.0 mm/min until failure. Data were analyzed using normality, homogeneity, One-Way ANOVA, and the Games-Howell post hoc test. Results: The incubated nano-IWPC-resin mixture showed the highest compressive strength value (104.46 ± 8.55 MPa), followed by the non-incubated control group (83.85 ± 16.57 MPa), non-incubated nano-IWPC-resin (67.21 ± 6.60 MPa), and incubated control (39.04 ± 7.37 MPa). Statistical analysis showed a significant difference among the four groups (p < 0.001). Conclusion: The incubated nano-IWPC-resin mixture exhibited higher compressive strength than TheraCal LC after incubation in Ringer's lactate, supporting its potential as an alternative pulp-capping material.KEY WORDS: indonesian white portland cement, nanoparticle, compressive strength, resin-modified calcium silicate.Perbedaan compressive strength antara campuran resin - nanopartikel - semen portland putih indonesia dan resin-modified calcium silicate : studi eksperimentalABSTRAKPendahuluan: Karies gigi memiliki prevalensi tinggi di Indonesia dan memerlukan perawatan restoratif untuk mempertahankan vitalitas pulpa. Salah satu pilihan perawatan adalah pulp capping dan keberhasilannya dipengaruhi oleh bahan yang digunakan. Semen Portland putih Indonesia (SPPI) memiliki potensi sebagai bahan alternatif pulp capping, terutama dalam bentuk nanopartikel yang dikombinasikan dengan resin; namun, kekuatan mekanisnya perlu dievaluasi. Tujuan penelitian ini bertujuan memformulasikan campuran nanopartikel-SPPI-resin dan menganalisis kekuatan tekannya dibandingkan dengan resin-modified calcium silicate (TheraCal LC), dengan dan tanpa inkubasi dalam larutan Ringer laktat. Metode: Penelitian eksperimental murni ini menggunakan 32 sampel yang dibagi menjadi empat kelompok: Kelompok 1, campuran nanopartikel-SPPI-resin yang diinkubasi; Kelompok 2, nanopartikel-SPPI-resin tanpa inkubasi; Kelompok 3, resin-modified calcium silicate (TheraCal LC) yang diinkubasi; dan Kelompok 4, TheraCal LC tanpa inkubasi. Sampel disinar menggunakan light-curing unit dan diuji kekuatan tekannya menggunakan universal testing machine dengan load cell 5 kN pada kecepatan 1,0 mm/menit hingga terjadi kegagalan. Data dianalisis menggunakan uji normalitas, homogenitas, One-Way ANOVA, dan uji post hoc Games-Howell. Hasil: Campuran nanopartikel-SPPI-resin yang diinkubasi menunjukkan nilai kekuatan tekan tertinggi (104,46 ± 8,55 MPa), diikuti oleh kelompok kontrol tanpa inkubasi (83,85 ± 16,57 MPa), nanopartikel-SPPI-resin tanpa inkubasi (67,21 ± 6,60 MPa), dan kelompok kontrol dengan inkubasi (39,04 ± 7,37 MPa). Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan signifikan antar kelompok (p < 0,001). Simpulan: Campuran nanopartikel-SPPI-resin yang diinkubasi menunjukkan kekuatan tekan lebih tinggi dibandingkan TheraCal LC setelah inkubasi dalam larutan Ringer laktat, sehingga berpotensi menjadi bahan alternatif pulp capping.           KATA KUNCI: semen portland putih indonesia, nanopartikel, compressive strength, resin modified calcium silicate.
Implementasi sistem informasi manajemen rumah sakit (periksa.id) menggunakan model human organization technology (hot)-fit: studi kualitatif Pakci, Drajat Handika; Prasetyadi, Tjokro; Marwan, Jubery
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 10, No 2 (2026): June 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v10i2.69679

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Penerapan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) merupakan bagian dari transformasi digital pelayanan kesehatan. RSGMP Moestopo telah mengimplementasikan SIMRS Periksa.id untuk mendukung pelayanan klinis dan administrasi. Keberhasilan implementasi sistem informasi dipengaruhi oleh aspek teknologi, manusia, dan organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi SIMRS Periksa.id di RSGMP Moestopo menggunakan kerangka Human–Organization–Technology Fit (HOT-Fit). Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan dipilih secara purposive dari unsur manajemen, pengguna SIMRS, dan tim teknologi informasi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen, kemudian dianalisis secara tematik berdasarkan komponen HOT-Fit. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa SIMRS Periksa.id telah mendukung operasional rumah sakit melalui kemudahan penggunaan, keamanan data, dan dukungan teknis, meskipun masih terdapat kendala pada stabilitas sistem, perbedaan kebutuhan antar unit, serta keterbatasan integrasi modul. Simpulan: Sistem digunakan secara rutin dengan tingkat kepuasan pengguna yang relatif tinggi, namun pemanfaatannya belum optimal. Dukungan organisasi terlihat melalui penyediaan sarana dan pelatihan, meskipun pemeliharaan sistem masih bersifat reaktif. SIMRS memberikan manfaat berupa peningkatan efisiensi kerja dan percepatan pelayanan, namun belum dirasakan secara merata.KATA KUNCI: Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit, HOT-Fit, transformasi digital, pelayanan kesehatanImplementation of the Periksa.id Hospital Management Information System Using the Human, Organization, and Technology (HOT)-Fit Framework : study qualitative ABSTRACTIntroduction: The implementation of a Hospital Management Information System (HMIS) is part of the digital transformation of healthcare services. RSGMP Moestopo has implemented the Periksa.id HMIS to support clinical and administrative services. The success of information system implementation is influenced by technological, human, and organizational factors. This study aimed to evaluate the implementation of the Periksa.id HMIS at RSGMP Moestopo using the Human–Organization–Technology Fit (HOT-Fit) framework. Methods: This study employed a qualitative case study design. Informants were purposively selected from hospital management, HMIS users, and information technology personnel. Data were collected through in-depth interviews, observation, and document review and analyzed thematically based on the HOT-Fit components. Result: The findings indicate that the Periksa.id HMIS supports hospital operations through usability, data security, and technical support, although challenges remain related to system stability, differences in needs across units, and limited module integration. Conclusion: The system is routinely used with relatively high user satisfaction, yet its utilization has not been fully optimized. Organizational support is reflected in the provision of facilities and training, while system maintenance remains largely reactive. The HMIS provides benefits in terms of improved work efficiency and faster service delivery, although these benefits are not evenly distributed across all units.KEY WORDS: hospital management information system, HOT-Fit, digital transformation, healthcare services
Aktivitas antibakteri ekstrak tulang ikan patin (Pangasius djambal) terhadap pertumbuhan bakteri Fusobacterium nucleatum: Studi eksperimental Handayani, Fitri; Yani, Sinar; Anitasari, Silvia; Asfirizal, Verry; Agustin, Sylvia
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 10, No 2 (2026): June 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v10i2.70379

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Penyakit periodontal merupakan inflamasi kronis akibat biofilm bakteri. Salah satu bakterinya ialah Fusobacterium nucleatum yang dikenal sebagai bridging organism. Bakteri ini berperan dalam pembentukan biofilm dan progresivitas penyakit dan menunjukkan resistensi terhadap antibiotik. Tulang ikan patin (Pangasius djambal) mempunyai potensi sebagai antibakteri alami. Studi ini bertujuan mengevaluasi aktivitas antibakteri ekstrak tulang ikan patin terhadap Fusobacterium nucleatum berdasarkan nilai konsentrasi hambat minimum (KHM) dan konsentrasi bunuh minimum (KBM). Metode: Jenis metode studi kualitatif berupa true experimental memakai uji mikrodilusi. Terdapat 3 kelompok perlakuan, yakni kelompok uji ekstrak tulang ikan patin dengan konsentrasi 2,5%, 5%, 10%, 20%, 40% serta kelompok kontrol positif meliputi CHX 0,2% serta kelompok kontrol negatif meliputi PBS. Hasil: Ekstrak tulang ikan patin menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Fusobacterium nucleatum. Nilai KHM diperoleh pada konsentrasi 5%, yang ditandai dengan tidak adanya perubahan warna setelah penambahan MTT. Namun, nilai KBM tidak diperoleh pada seluruh rentang konsentrasi yang diuji karena masih ditemukan pertumbuhan bakteri pada media lanjutan. Simpulan: Ekstrak tulang ikan patin (Pangasius djambal) menunjukkan aktivitas penghambatan terhadap pertumbuhan Fusobacterium nucleatum dengan KHM sebesar 5%, sedangkan KBM tidak tercapai pada rentang konsentrasi yang diuji. KATA KUNCI: Antibakteri, tulang ikan patin, Fusobacterium nucleatum, KHM, KBMAntibacterial activity of catfish bone extract (pangasius djambal) against the growth of fusobacterium nucleatum: Study experimental  ABSTRACT Introduction: Periodontal disease is a chronic inflammatory condition caused by bacterial biofilm. One of the bacteria involved is Fusobacterium nucleatum, which is recognized as a bridging organism. This bacterium plays a role in biofilm formation and disease progression and has shown resistance to certain antibiotics. Catfish bone (Pangasius djambal) has potential as a natural antibacterial agent. This study aimed to evaluate the antibacterial activity of catfish bone extract against Fusobacterium nucleatum based on minimum inhibitory concentration (MIC) and minimum bactericidal concentration (MBC) values. Methods: This study was a true experimental laboratory study using the microdilution method. The study consisted of three groups: the treatment group with catfish bone extract at concentrations of 2.5%, 5%, 10%, 20%, and 40%; the positive control group using chlorhexidine (CHX) 0.2%; and the negative control group using PBS. Results: Catfish bone extract demonstrated antibacterial activity against Fusobacterium nucleatum. The MIC was 5%, as indicated by the absence of color change after MTT addition. However, no MBC was identified within the tested concentration range, as bacterial growth was still observed on the subculture medium. Conclusions: Catfish bone extract (Pangasius djambal) demonstrated inhibitory activity against the growth of Fusobacterium nucleatum, with a MIC of 5%, whereas no MBC was identified within the concentration range tested.KEY WORDS: Antibacterial, catfish bone, Fusobacterium nucleatum, MIC, MBC