cover
Contact Name
Rachmad Mulyadi
Contact Email
-
Phone
0541-6525067
Journal Mail Official
ulin.jhuttrop@fahutan.unmul.ac.id
Editorial Address
Jl. Penajam Kampus Gunung Kelua PO. Box 1013
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
ULIN: Jurnal Hutan Tropis
Published by Universitas Mulawarman
ISSN : 25991205     EISSN : 25991183     DOI : -
Core Subject : Social,
ULIN: Jurnal Hutan Tropis published by Forestry Faculty of Mulawarman University, which is published twice a year in March and September with p-issn 2599-1205 and e-issn 2599-1183. It contains articles of research or study of literature in the field of Forest Management, Forest Conservation, Silviculture, and Forest Product. Language used for full article in this journal is Bahasa Indonesia, abstract in English and Bahasa Indonesia.
Articles 261 Documents
Identifikasi Faktor Keberadaan Spesies Burung Langka di Desa Artain Kalimantan Selatan Basuki Rahman; Abdi Fithria; Verlina Intan Wulandari; Krisologus Genesa Ruby Atmadja; Rizqi I'anatus Sholihah; Lenalda Febriany Santosa
ULIN: Jurnal Hutan Tropis Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32522/ujht.v10i1.22609

Abstract

Pengamatan menunjukkan pola persebaran yang tidak merata, dengan keberadaan spesies sangat ditentukan oleh karakteristik habitat dan ketersediaan sumber pakan. Spesies sensitif seperti Rangkong badak (Buceros rhinoceros) dan Cica-daun besar (Chloropsis sonnerati) hanya dijumpai di hutan primer yang menyediakan pohon tinggi dan minim aktivitas manusia. Sebaliknya, Elang-ular bido (Spilornis cheela) tercatat di habitat hutan primer dan sekunder yang masih mendukung ketersediaan mangsa. Beberapa spesies seperti Kipasan belang (Rhipidura javanica) dan Sepah raja (Aethopyga siparaja) menunjukkan toleransi yang lebih baik terhadap aktivitas manusia selama habitat masih menyediakan kebutuhan spesifik mereka. Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi konservasi perlu mempertimbangkan karakteristik spesifik setiap spesies, dengan kombinasi perlindungan habitat kunci dan pengelolaan terhadap habitat dengan aktivitas manusia yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor penentu persebaran burung langka tersebut guna menjadi bahan kajian terhadap kepentingan konservasi.
Pengelolaan dan pemanfaatan kemiri (Aleurites moluccana) di Kebun Hutan (Forest Garden) oleh masyarakat suku dayak meratus di desa Emil Baru Kecamatan Mantewe Agustino Agustino; Zainal Abidin; Trisnu Satriadi
ULIN: Jurnal Hutan Tropis Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32522/ujht.v10i1.25870

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengelolaan dan pemanfaatan kemiri (Aleurites moluccana) sebagai hasil hutan bukan kayu (HHBK) dalam sistem kebun hutan yang dipraktikkan oleh masyarakat Dayak Meratus di Desa Emil Baru, Kecamatan Mantewe, Kalimantan Selatan. Data dianalisis menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk mengidentifikasi tahapan pengelolaan, pola pemanfaatan, dan kontribusi pendapatan rumah tangga. Penelitian ini menggunakan metode observasi lapangan, wawancara mendalam, serta teknik purposive sampling terhadap 10 orang petani kemiri aktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan kemiri dilakukan melalui tahapan yang beradaptasi dengan kearifan lokal, meliputi persiapan lahan dengan sistem tebas bakar terkendali, penggunaan sumber benih lokal, penanaman manual tanpa jarak tanam tetap, pemeliharaan minimal, serta pemanenan tradisional dengan cara mengumpulkan buah yang gugur secara alami. Kebun hutan yang dikelola memiliki luas lahan antara 2–6 ha dan telah diusahakan selama 6–13 tahun oleh petani berusia 35–52 tahun. Produksi kemiri berkisar antara 22–35 kg per rumah tangga per tahun, dengan rata-rata produksi sebesar 28,5 kg per rumah tangga dan frekuensi panen sekitar dua kali per tahun. Harga jual kemiri berada pada kisaran Rp17.500–Rp40.000 per kg. Produksi tersebut menghasilkan tambahan pendapatan rumah tangga sebesar Rp385.000–Rp1.400.000 per tahun, dengan rata-rata kontribusi pendapatan rumah tangga sebesar Rp1.116.000 per tahun. Kontribusi pendapatan kemiri terhadap total pendapatan rumah tangga mencapai 4,0–6,4%, dengan rata-rata kontribusi sebesar 5,4%. Secara ekologis, kebun hutan berbasis kemiri berperan dalam mendukung konservasi tanah, pemeliharaan keanekaragaman hayati, pengendalian erosi, serta stabilitas lanskap pada ekosistem pegunungan. Penelitian ini menegaskan pentingnya kebun hutan kemiri sebagai model pengelolaan HHBK berbasis kearifan lokal yang mendukung keberlanjutan ekosistem pegunungan.
Peran Keanekaragaman Jenis Pohon pada Jalur Hijau terhadap Cadangan Karbon (Studi Kasus: Jalan Jenderal Sudirman Kota Prabumulih, Sumatera Selatan) Yuniar Pratiwi; Ari Sugiarto; Yuntari Purbasari
ULIN: Jurnal Hutan Tropis Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32522/ujht.v10i1.23414

Abstract

Ruang Terbuka Hijau (RTH) berperan penting dalam menyerap karbon dioksida (CO₂) dan menghasilkan oksigen (O₂), sehingga berkontribusi terhadap pengendalian emisi gas rumah kaca (GRK) di kawasan perkotaan. Namun, peningkatan aktivitas pembangunan di kota-kota berkembang seperti Prabumulih berpotensi menurunkan luas lahan bervegetasi yang berfungsi sebagai penyerap karbon. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis keanekaragaman jenis dan profil vegetasi, serta (2) mengestimasi cadangan karbon pada jalur hijau Jalan Jenderal Sudirman, Kota Prabumulih, Sumatera Selatan. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif melalui pengumpulan data primer meliputi jenis dan jumlah vegetasi, diameter, serta tinggi pohon. Data dianalisis untuk menentukan struktur vegetasi dan estimasi cadangan karbon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pohon dominan adalah Lagerstroemia speciosa (165 pohon), Polyalthia longifolia (125 pohon), dan Mimusops elengi (114 pohon). Total cadangan karbon pada jalur hijau tersebut mencapai 791,67 ton, dengan serapan tertinggi dimiliki Pterocarpus indicus (169,48 ton) dan terendah Muntingia calabura (0,007 ton). Hasil ini menegaskan bahwa keanekaragaman vegetasi berkontribusi signifikan terhadap kapasitas serapan karbon di kawasan perkotaan.
Ethnobotanical Evaluation of Medicinal Plants of High Cultural Value: A Moronene Indigenous Perspective Ricky Astawan; Ervizal Zuhud; Syamsul Hidayat
ULIN: Jurnal Hutan Tropis Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32522/ujht.v10i1.21510

Abstract

Masyarakat adat Moronene yang tinggal di dalamnya memanfaatkan banyak tanaman untuk kesehatan dan sebagai sumber makanan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tanaman yang digunakan oleh masyarakat adat Moronene. Metode yang digunakan adalah wawancara semi-terstruktur dengan informan. Informan dalam penelitian ini adalah tabib (sando), pemimpin adat, dan orang-orang di lokasi yang memanfaatkan tanaman sebagai obat. Terdapat 57 tanaman yang digunakan oleh masyarakat, 10 tanaman yang berpotensi untuk dikembangkan oleh masyarakat berdasarkan hasil analisis indeks konteks, nilai guna, dan indeks signifikansi budaya. Ada 4 kelompok tanaman yang digunakan secara bersamaan. Selain obat-obatan, ada 21 tanaman yang dapat digunakan sebagai obat dan bahan makanan lokal, dan 2 jenis tanaman yang digunakan sebagai pewarna untuk minuman. Melalui penemuan ini, diharapkan dapat menemukan spesies tanaman yang tidak hanya memiliki khasiat tradisional, tetapi juga memiliki nilai ekonomi jika diolah menjadi produk inovatif seperti obat herbal, teh herbal, atau obat luar. Pengembangan ini diharapkan dapat mendorong kemandirian ekonomi masyarakat dengan tetap menjaga kearifan lokal dan melakukan praktik tradisional secara berkelanjutan tanpa mengabaikan nilai-nilai budaya yang menyertainya.
Performa Pertumbuhan Tanaman Kayu-kayuan dan MPTS Pasca Serah Terima Pada Penanaman Rehabilitasi Hutan Lindung DAS Waromge Papua Barat Daya Azis Maruapey; Nini J Maipaw; Irnawati Irnawati
ULIN: Jurnal Hutan Tropis Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32522/ujht.v10i1.23148

Abstract

Riset ini dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kelangsungan hidup Survival Rate dan persentasi tumbuh tanaman kehutanan dan MPTS. Penelitian ini  dilaksanakan di areal penanaman tanaman kehutanan dan MPTS pada Blok IV areal penanaman Rehabilitasi Hutan Lindung Daerah Aliran Sungai Waromge Kabupaten Maybrat. Pelaksanaan penelitian selama ± 1 bulan yakni dari bulan  Oktober sampai November 2022. Metode penelitian menggunakan metode Systematic Sampling With Transect yang dilakukan melalui penarikan contoh secara line plot system. Hasil riset terlihat bahwa tingkat kelangsungan Hidup (Survival Rate/SR) Tanaman Kehutananan dan MPTS dari 750 tanaman, yang hidup sebanyak 561 tanaman, dengan tingkat kelangsungan Hidup (Survival Rate/SR) sebesar 74,8 % (> 70 %) sehingga dikatakan sangat baik. Persentase tumbuh tanaman per petak bervariasi dengan persen tumbuh tanaman terendah yakni hanya sebanyak 16 tanaman (53,33 %). Sedangkan persen tumbuh tanaman tertinggi sebanyak 29 tanaman (96,67 %) yakni pada petak 5 jalur 5 dengan persentasi tumbuh Matoa (87,01 %), Gaharu  (81,13 %) dan Marbau (72,81) merupakan jenis-jenis dengan persen tumbuh tanaman yang baik yakni > 70 %.
Evaluasi Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Tanaman Alpukat dan Petai pada Areal Rehabilitasi di Desa Cipicung, Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang Dwi Wahyuni; Arifin Hidayat; Sri Wilujeng; Dina Tiara Kusumawardhani; Rosalia Silaban
ULIN: Jurnal Hutan Tropis Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32522/ujht.v10i1.25912

Abstract

Kerusakan lahan merupakan permasalahan serius akibat ketidakseimbangan pengelolaan hutan antar aspek ekologi dan sosial – ekonomi. Lahan yang teridentifikasi sebagai lahan rusak dikenal dengan lahan kritis. Upaya pengendalian lahan kritis dapat dilakukan melalui kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) dengan penanaman jenis Multi Purpose Tree Species (MPTS) yang memiliki nilai ekologis dan ekonomis, seperti alpukat (Persea americana) dan petai (Parkia speciosa). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian lahan bagi pengembangan alpukat dan petai di Desa Cipicung, Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Metode penelitian menggunakan purposive sampling dengan intensitas sampling 5% pada lima plot untuk masing-masing jenis tanaman. Analisis kesesuaian lahan dilakukan menggunakan metode matching dan scoring terhadap delapan parameter, yaitu temperatur, curah hujan, kelembapan, tekstur tanah, permeabilitas tanah, pH tanah, kemiringan lereng, dan bahaya erosi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas kesesuaian lahan aktual untuk tanaman alpukat dan petai pada lahan RHL Desa Cipicung termasuk dalam kategori cukup sesuai (S2) dengan nilai rata-rata skor masing-masing 21,8 dan 24,2. Faktor pembatas utama meliputi temperatur, curah hujan, permeabilitas tanah, kemiringan lereng, dan bahaya erosi. Upaya peningkatan kesesuaian lahan secara potensial dapat dilakukan melalui penerapan teknik konservasi tanah dan air secara mekanik dan vegetatif yang tepat untuk mendukung keberhasilan rehabilitasi hutan secara berkelanjutan.
Model Bisnis Berkelanjutan dalam Perhutanan Sosial: Studi Kasus Pemanfaatan Getah Pinus di Desa Kongga Mea Kabupaten Konawe La De Ahmaliun; Sarwinda Intan Putri; Sahindomi Bana; Abdul Sakti; Nur Arafah; Arniawati Arniawati; Marsyalin Maharanu Pandin
ULIN: Jurnal Hutan Tropis Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32522/ujht.v10i1.24489

Abstract

Studi ini menunjukkan bahwa pemanfaatan getah pinus dalam skema kehutanan sosial di Indonesia memiliki potensi ekonomi yang signifikan bagi masyarakat pedesaan, namun masih dibatasi oleh kelemahan struktural dalam institusi lokal, teknologi produksi, dan akses pasar. Analisis model bisnis yang ada mengungkapkan bahwa teknologi pemanenan yang terbatas, ketergantungan pada satu saluran pemasaran, kapasitas organisasi yang lemah, dan kurangnya diversifikasi produk membatasi daya tawar dan mengurangi nilai tambah ekonomi bagi para penyadap getah. Integrasi Business Model Canvas dan SWOT menempatkan bisnis tersebut dalam kuadran kelemahan-peluang, menunjukkan perlunya analisis perubahan strategi untuk mengatasi keterbatasan internal sambil memanfaatkan peluang pasar yang muncul. Model bisnis berkelanjutan yang menjamin tekanan penguatan institusi masyarakat, peningkatan praktik pemanenan, formalisasi kemitraan, diversifikasi pasar dan proposisi nilai, serta investasi pada produk-produk baru dengan nilai tambah yang lebih tinggi untuk meningkatkan stabilitas pendapatan dan ketahanan bisnis jangka panjang. Temuan ini berkontribusi pada pengetahuan yang berkembang tentang model bisnis berkelanjutan untuk produk hutan non-kayu dalam konteks kehutanan sosial, yang menggambarkan bagaimana strategi integrasi desain model bisnis dan penguatan kelembagaan dapat mendukung hasil triple-bottom-line. Studi ini menggarisbawahi peran diversifikasi pasar, peningkatan kapasitas, dan kolaborasi kelembagaan sebagai pendorong utama untuk meningkatkan daya saing usaha resin berbasis komunitas.
Laju dan Kapasitas Infiltrasi pada Berbagai Tipe Habitus Tumbuhan di Taman Pendidikan Universitas Sriwijaya Luthfi Mei Damayanti; Susy Amizera; Didi Jaya Santri
ULIN: Jurnal Hutan Tropis Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32522/ujht.v10i1.19767

Abstract

Alih fungsi lahan mengakibatkan kawasan hutan yang semula berfungsi secara alamiah sebagai penyangga ketersediaan air bersih kini berubah menjadi kawasan pemukiman hingga perindustrian. Hal ini mengakibatkan gangguan pada siklus hidrologi dan berdampak negatif terhadap keseimbangan lingkungan. Penelitian ini menganalisis dan membandingkan laju infiltrasi pada berbagai tipe habitus tumbuhan serta mengkaji hubungannya dengan faktor-faktor lingkungan di Taman Pendidikan Universitas Sriwijaya. Dilaksanakan selama Desember 2024 hingga Januari 2025, penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pengujian laju infiltrasi menggunakan double ring infiltrometer. Data dianalisis secara kuantitatif menggunakan metode Horton. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan signifikan pada laju infiltrasi antar tipe habitus yang diteliti. Kapasitas infiltrasi tertinggi terjadi pada habitus pohon (148,76 cm/jam), diikuti semak (67,09 cm/jam), dan herba (36,03 cm/jam), yang semuanya tergolong dalam kategori sangat cepat. Sementara itu, lahan terbuka tanpa tutupan tumbuhan memiliki kapasitas infiltrasi terendah (19,76 cm/jam) dan hanya termasuk dalam kategori cepat. Variasi laju dan kapasitas infiltrasi pada setiap habitus dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti kadar air tanah, tekstur tanah, suhu tanah, kelembaban tanah, dan pH tanah. Penelitian ini membuktikan bahwa keberadaan vegetasi dengan tipe habitus berbeda berperan penting dalam meningkatkan laju infiltrasi tanah, dengan habitus pohon menunjukkan kemampuan terbaik dalam memfasilitasi proses infiltrasi air ke dalam tanah.
Analisis Potensi Hutan Kemasyarakatan Dalam Meningkatkan Partisipasi Masyarakat di Desa Bukit Rawi Kabupaten Pulang Pisau Marlina, Sari; Ani, Mahdiani
ULIN: Jurnal Hutan Tropis Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32522/ujht.v10i1.20732

Abstract

Hutan kemasyarakatan bertujuan untuk melibatkan masyarakat dalam pengelolaan hutan yang berkelanjutan. HKm meningkatkan partisipasi masyarakat di Desa Bukit Rawi, Pulang Pisau. Metode yang digunakan adalah kualitatif pengumpulan data melalui wawancara, observasi, analisis dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hutan memiliki keanekaragaman hayati, ketersediaan lahan, dan selaras dengan kondisi sosial setempat. Partisipasi masyarakat meningkat melalui budidaya, perlindungan hutan, dan manajemen organisasi. Faktor-faktor yang mendukung partisipasi meliputi akses legal ke lahan hutan, pelatihan dari KPH, dan bimbingan dari lembaga swadaya masyarakat. Analisis menunjukkan bahwa Hutan Kemasyarakatan memiliki potensi besar untuk mendorong keterlibatan masyarakat secara aktif, asalkan ada struktur organisasi yang baik dan program pemberdayaan yang berkelanjutan.
Analisis Biaya Produksi dan Pendapatan dalam Pemanfaatan Serat Semi Sintetis Kayu (Lyocell) pada Manufaktur Busana Siap Pakai: Studi Kasus Kemintang.id R, Syukri.; Sribudiani, Evi; Maharani, Evy
ULIN: Jurnal Hutan Tropis Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32522/ujht.v10i1.19093

Abstract

Manufaktur busana siap pakai saat ini telah banyak menggunakan kain serat lyocell untuk memproduksi produknya. Kemintang.id menggunakan kain serat lyocell karena mengusung konsep produk fesyen yang ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai pembiayaan yang secara spesifik meliputi biaya produksi, penerimaan, pendapatan, titik impas, rasio penerimaan dalam manufaktur busana siap pakai yang menggunakan kain serat lyocell melalui studi kasus Kemintang.id. Metode penelitian yang digunakan adalah metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Struktur biaya produksi di Kemintang.id terbagi menjadi biaya produksi tetap dan biaya produksi variabel. Kemintang.id mengeluarkan biaya produksi Rp.60.620.500 per tahun untuk memproduksi produk selama tahun 2022. Jumlah biaya produksi tetap Rp.12.660.000 per tahun dan biaya produksi variabel Rp.47.960.500 per tahun. Kemintang.id mendapatkan penerimaan Rp.120.286.200 per tahun dan jumlah pendapatan yang diterima Rp.59.665.700 per tahun. Nilai break even point Kemintang.id Rp.21.055.079 per tahun, Kemintang melewati nilai break even point dari pendapatan yang diterima. Nilai rasio penerimaan biaya Kemintang.id 1,98 yang telah mencapai batas nilai > 1. Kemintang.id menguntungkan secara ekonomi dan dipertimbangkan untuk dilanjutkan.