cover
Contact Name
Lira Mufti Azzahri Isnaeni
Contact Email
liramuftiazzahri.isnaeni@gmail.com
Phone
+6285271651482
Journal Mail Official
prepotifjurnalkesmas.up@gmail.com
Editorial Address
Jl. Tuanku Tambusai 23 Bangkinang, Kampar, Riau
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
PREPOTIF : Jurnal Kesehatan Masyarakat
ISSN : 26231573     EISSN : 26231581     DOI : https://doi.org/10.31004/prepotif
Core Subject : Health,
PREPOTIF Jurnal Kesehatan Masyarakat adalah bidang kesehatan yang luas seperti kesehatan masyarakat, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Epidemiologi, keperawatan, kebidanan, kedokteran, farmasi, psikologi kesehatan, nutrisi, teknologi kesehatan, analisis kesehatan, sistem informasi kesehatan, hukum kesehatan, rumah sakit manajemen, Ekonomi Kesehatan, Kebijakan Kesehatan, kesehatan lingkungan dan sebagainya.
Articles 2,155 Documents
MUSCULOSKELETAL MANIFESTATIONS OF PEDIATRIC SCURVY IN PATIENTS WITH RESTRICTED DIETS : CASE SERIES Aurellya, Najwa; Alkarni, Muhammad Dedy; Santoso, Alexander Halim
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.48481

Abstract

Kekurangan vitamin C (skurvi) merupakan kondisi yang jarang namun semakin sering ditemukan pada anak-anak dengan pola makan yang sangat selektif. Gejala awal meliputi kelelahan, perdarahan gusi, dan mudah memar. Pada tahap lanjut, gejala muskuloskeletal seperti pembengkakan anggota tubuh, nyeri, dan pseudoparalisis dapat menyerupai kondisi serius seperti osteomielitis atau keganasan sehingga diagnosis menjadi sulit. Kami melaporkan dua kasus pediatrik, yang pertama adalah seorang anak perempuan berusia 4 tahun 7 bulan dengan pembengkakan anggota tubuh bagian bawah yang progresif selama tiga bulan, kontraktur sendi, perdarahan gusi, anemia, dan penolakan berjalan. Kasus kedua adalah anak laki-laki berusia 5 tahun 2 bulan dengan demam berkepanjangan, pembengkakan kaki, ulkus mulut, dan pembatasan diet yang parah. Kedua anak sama-sama tidak mengonsumsi buah dan sayur. Pemeriksaan fisik menunjukkan keadaan malnutrisi, pseudoparalisis, dan gusi hiperemik yang rapuh. Temuan radiologi menunjukkan osteopenia, garis metafise yang padat (garis Frankel), fraktur sudut metafise, dan pergeseran epifise posterior. Tes kadar asam askorbat plasma tidak tersedia. Terapi vitamin C empiris memberikan perbaikan klinis yang cepat, termasuk hilangnya perdarahan, reversi pseudoparalisis, dan kemampuan berjalan kembali dalam dua minggu. Skuvi pediatrik harus dipertimbangkan pada anak dengan anemia tidak jelas, nyeri muskuloskeletal, dan tanda perdarahan, terutama jika riwayat diet menunjukkan pembatasan yang lama. Pengakuan dini dan suplementasi vitamin C dapat menghasilkan pemulihan penuh serta mencegah tindakan invasif.
ANALISIS PERAN RADIOGRAFER PADA TINDAKAN PERCUTANEOUS CORONARY INTERVENTION (PCI) PADA KASUS STEMI INFERIOR DI UNIT BRAIN HEART CENTER (BHC) RSUD KABUPATEN BULELENG Putra, I Made Deny Anggara; Prasetya, Made Lana
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.48524

Abstract

Tindakan PCI pada kasus STEMI Inferior merupakan suatu tindakan memperbaiki aliran darah arteri koroner dengan menggunakan balon atau stent yang diarahkan melalui kateter yang dilakukan segera dalam waktu 12 jam sejak terjadi serangan jantung. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui lebih lanjut tentang peran radiografer pada tindakan PCI pada kasus STEMI Inferior, ditinjau dari SKKNI Radiografer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan melakukan pendekatan survei analitik untuk mengetahui kesesuaian kompetensi radiografer pada tindakan PCI pada kasus STEMI Inferior di Unit BHC RSUD Kabupaten Buleleng, ditinjau dari SKKNI Radiografer. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi langsung dan wawancara mendalam dengan radiografer. Data dianalisis secara deskriptif melalui reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini menunjukan peran radiografer pada tindakan PCI pada kasus STEMI Inferior di Unit BHC RSUD Kabupaten Buleleng dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu peran radiographer sebelum dilakukan pemeriksaan, peran radiografer saat dilakukan pemeriksaan dan peran radiografer setelah dilakukan pemeriksaan. Peran radiografer pada tindakan PCI pada kasus STEMI Inferior sudah sesuai SKKNI Radiografer dan termasuk ada kompetensi tambahan yang wajib dilaksanakan di Unit BHC RSUD Kabupaten Buleleng. Kesimpulannya, radiografer yang bekerja di Unit BHC RSUD Kabupaten Buleleng sudah bekerja sesuai pedoman yang tercantum pada SKKNI Radiographer. Radiographer tidak hanya melakukan standar kompetensi nasional SKKNI Radiografer dalam aspek pengetahuan dan keterampilan, namun juga memiliki kompetensi tambahan yang wajib dimiliki yaitu Basic Cardiac Life Support (BCLS) sebagai syarat pelayanan BPJS di Unit BHC RSUD Kabupaten Buleleng.
FAKTOR RISIKO KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU DI PULAU SABU TAHUN 2024 Pelle, Santy Nurfiani; Landi, Soleman; Riwu, Yuliana Radja; Wahyuni, M. M. Dwi
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.48529

Abstract

Tuberkulosis (TB) paru masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia, termasuk di Pulau Sabu, yang dikenal sebagai wilayah endemis dengan angka kasus yang cukup tinggi. Kondisi tersebut menuntut adanya analisis komprehensif terhadap faktor-faktor risiko yang berperan dalam penularannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis enam faktor risiko yang diduga berkaitan dengan kejadian TB paru, yaitu perilaku merokok, pencahayaan, kelembaban, ventilasi, kepadatan hunian, dan riwayat kontak. Penelitian ini menggunakan desain kasus kontrol dengan pendekatan analitik observasional. Sampel penelitian terdiri dari 59 responden kasus yang terdiagnosis TB paru dan 59 responden kontrol yang tidak menderita TB paru. Pemilihan sampel dilakukan melalui metode matching berdasarkan usia, jenis kelamin, dan lokasi tempat tinggal untuk meminimalkan bias. Pengumpulan data diperoleh melalui wawancara terstruktur menggunakan kuesioner serta pengukuran kondisi lingkungan rumah dengan instrumen berupa lux meter, hygrometer, dan roll meter. Analisis bivariat dengan uji chi-square menunjukkan adanya hubungan signifikan antara empat variabel dengan kejadian TB paru, yaitu perilaku merokok (OR=4,471; p=0,000), pencahayaan (OR=6,268; p=0,000), ventilasi rumah (OR=8,509; p=0,000), dan riwayat kontak (OR=2,135; p=0,019). Sedangkan kelembaban (p=0,829) dan kepadatan hunian (p=0,067) tidak berhubungan secara bermakna. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa faktor perilaku dan kondisi lingkungan rumah sangat berperan dalam proses penularan TB paru di Pulau Sabu. Oleh karena itu, upaya pengendalian perlu difokuskan pada intervensi perilaku merokok, perbaikan pencahayaan dan ventilasi rumah, serta pelacakan kontak erat. Strategi yang terintegrasi diharapkan mampu menekan beban TB paru di wilayah tersebut dan berkontribusi terhadap pencapaian target eliminasi TB nasional.
HUBUNGAN KONSUMSI SAYUR DAN BUAH DENGAN STATUS GIZI REMAJA DI SMK NEGERI 4 SURAKARTA Ismiranti, Delia; Isnaeni, Farida Nur
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.48563

Abstract

Masa remaja merupakan fase penting dalam siklus kehidupan yang dicirikan secara laju kembang tumbuh, menjadikan keperluan gizi pada remaja sangat krusial. Konsumsi sayur serta buah yang memadai penting untuk memelihara status gizi. Namun, tingkat konsumsi pada remaja Indonesia masih rendah. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsumsi sayur dan buah dengan status gizi remaja di SMK Negeri 4 Surakarta. Studi ini memakai pendekatan kuantitatif secara rancangan cross-sectional dari 61 responden dari siswa kelas XI jurusan Tata Boga dan Perhotelan yang dipilih secara acak. Data konsumsi sayur serta buah dikumpulkan mempergunakan kuesioner Food Frequency Questionnaire(FFQ) dan wawancara. Status gizi diukur mempergunakan IMT/U dan dikategorikan berdasarkan standar Kementrian RI tahun 2023. Uji statistik yang dipergunakan ialah Chi-Square. Temuan analisis mengindikasikan jika 75,4% narasumber mempunyai status gizi normal, sementara 24,6% mengalami status gizi tidak normal (gizi kurang, lebih, serta obesitas). Sebanyak 60,7% responden tergolong memiliki konsumsi sayur serta buah yang cukup dan baik, sedangkan 39,3% tergolong rendah. Perolehan pengujian Chi-Square mengindikasikan, tak terdapatnya hubungan signifikan dari konsumsi sayur serta buah secara status gizi (p=0,202). Meskipun demikian, konsumsi sayur serta buah tetap berkontribusi utama untuk menunjang kesehatan remaja secara menyeluruh. Oleh karena itu, dibutuhkan intervensi edukatif dan promotif dalam meningkatkan kesadaran gizi seimbang di lingkungan sekolah untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan remaja yang optimal.
HUBUNGAN KEBIASAAN SARAPAN DENGAN STATUS ANEMIA PADA REMAJA PUTRI SMAN 1 KARTASURA Nabila, Syahira Yuma; Widiyaningsih, Endang Nur
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.48587

Abstract

Anemia merupakan masalah kesehatan global yang signifikan, terutama pada negara Indonesia, dengan prevalensi yang terus meningkat pada remaja putri, termasuk di Kabupaten Sukoharjo dan khususnya di SMAN 1 Kartasura. Kondisi ini ditandai oleh rendahnya kadar hemoglobin yang berperan penting dalam mengangkut oksigen ke seluruh tubuh, dan salah satu faktor penyebabnya adalah asupan gizi yang buruk, termasuk kebiasaan tidak sarapan. Sarapan berperan penting dalam memenuhi 15–30% kebutuhan energi harian dan mendukung pembentukan eritrosit yang memengaruhi kadar hemoglobin. Berbagai penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kebiasaan sarapan dan status anemia, di mana remaja putri yang tidak sarapan memiliki risiko lebih tinggi mengalami anemia dibandingkan dengan yang rutin sarapan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan sarapan dengan status anemia pada remaja putri di SMAN 1 Kartasura. Penelitian ini merupakan observasional analitik dengan desain studi cross sectional. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini yaitu dengan menggunakan teknik simple random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 83 responden. Pengumpulan data kebiasaan sarapan diperoleh melalui recall asupan dan data status anemia diperoleh dari pengecekan kadar hemoglobin dengan metode Cyanmethemoglobin. Hasil penelitian yang telah dilakukan di SMAN 1 Kartasura menunjukkan bahwa p-value 0,001 (<0,05) yang berarti terdapat hubungan antara kebiasaan sarapan dengan status anemia pada remaja putri di SMAN 1 Kartasura.
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN ANEMIA DENGAN KADAR HEMOGLOBIN PADA REMAJA PUTRI DI SMAN 1 KARTASURA Heriaskalma, Irma Jauza; Widiyaningsih, Endang Nur
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.48588

Abstract

Remaja merupakan individu yang mengalami masa peralihan antara fase kanak-kanak dan fase dewasa. Pada masa remaja perkembangan dan pertumbuhan terjadi sangat cepat. Namun, remaja juga rentan mengalami masalah kesehatan seperti anemia. Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2018 prevalensi anemia pada remaja putri di Indonesia sebesar 32%. Faktor penyebab terjadinya anemia meliputi tingkat pengetahuan tentang anemia rendah, kebiasaan konsumsi suplemen zat besi atau biasa dikenal tablet tambah darah (TTD), dan kecukupan konsumsi pangan dan pemenuhan kebutuhan zat gizi. studi pendahuluan menunjukkan bahwa SMAN 1 Kartasura memiliki prevalensi anemia sebesar 28,03% dan menjadi alasan peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di SMAN 1 Kartasura. Penelitian ini menggunakan metode observasional dengan pendekatan cross sectional . Sampel yang digunakan sebanyak 83 orang dan dipilih dengan teknik proportional random sampling . Instrumen kuesioner pilihan ganda digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan anemia dan pemeriksaan kadar hemoglobin dengan metode cyanmethemoglobin digunakan untuk menentukan status anemia. Uji statistik yang digunakan untuk menganalisis hubungan adalah uji korelasi Rank Spearman’s dikarenakan data berdistribusi tidak normal. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan anemia dengan kadar hemoglobin pada remaja putri di SMAN 1 Kartasura dengan p 0,002 (< 0,05). Pihak sekolah diharapkan dapat memberikan edukasi mengenai anemia dan pencegahannya dengan kerjasama puskesmas terdekat maupun instansi kesehatan lainnya
HUBUNGAN ANTARA BEBAN KERJA DAN MASA KERJA DENGAN KELELAHAN KERJA PADA PERAWAT RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT GUNUNG MARIA TOMOHON Rumengan, Selin R.; Kandou, Grace D.; Kawatu, Paul A. T.
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.48627

Abstract

Kelelahan kerja merupakan kondisi menurunnya kapasitas fisik dan mental akibat aktivitas kerja yang berlebihan. Kelelahan kerja menjadi salah satu permasalahan penting yang dihadapi oleh tenaga kerja, khususnya perawat, yang memiliki tanggung jawab kompleks dan jam kerja panjang hampir 24 jam. Kondisi kerja ini, berpotensi menimbulkan kelelahan terhadap pekerjaan maupun aktivitas sehari-hari pekerja. Data dari ILO menunjukkan bahwa sekitar dua juta pekerja di seluruh dunia meninggal setiap tahun akibat kelelahan, sedangkan di Indonesia terjadi rata-rata 414 kasus kecelakaan kerja per hari, dengan 27,8% disebabkan oleh tingkat kelelahan yang tinggi. Tingginya beban kerja yang harus diselesaikan sesuai target dan standar pelayanan turut menjadi faktor pemicu kelelahan. Selain itu, masa kerja yang panjang juga dapat memengaruhi tingkat kelelahan karena adanya akumulasi tugas rutin yang monoton dan bertambahnya beban kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara beban kerja dan masa kerja dengan kelelahan kerja pada perawat ruang rawat inap Rumah Sakit Gunung Maria Tomohon. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain cross sectional. Sampel terdiri dari 63 perawat yang diambil dengan metode total sampling. Hasil uji Chi-Square menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara beban kerja dengan kelelahan kerja (p = 0,003 < α = 0,05). Namun, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara masa kerja dengan kelelahan kerja (p = 0,066 > α = 0,05). Dengan demikian, disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara beban kerja dengan kelelahan kerja dan tidak terdapat hubungan antara masa kerja dengan kelelahan kerja pada perawat ruang rawat inap Rumah Sakit Gunung Maria Tomohon.
EFIKASI TERAPI BEKAM SEBAGAI TERAPI ALTERNATIF DALAM MANAJEMEN HIPERTENSI: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Abdillah, Andi Rachmat; Hidayati, Prema Hapsari; Katu, Sudirman
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.48635

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia. Meskipun terapi farmakologis terbukti efektif dalam mengendalikan tekanan darah, penggunaannya sering kali disertai dengan efek samping yang tidak diinginkan, sehingga mendorong pencarian terapi alternatif yang lebih aman. Salah satu terapi alternatif yang mulai banyak diminati adalah terapi bekam, khususnya bekam basah. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau efektivitas, jumlah sesi optimal, serta aspek keamanan dari terapi bekam pada penderita hipertensi melalui metode systematic literature review. Sebanyak 24 studi dengan total 798 partisipan yang diperoleh dari database PubMed, Science Direct, dan Google Scholar dianalisis. Hasil menunjukkan bahwa 93,8% studi melaporkan penurunan signifikan tekanan darah sistolik, berkisar antara 3,07 hingga 41,5 mmHg. Sementara itu, 79,7% studi mencatat penurunan signifikan tekanan darah diastolik, dengan penurunan tertinggi mencapai 14,4 mmHg. Meskipun jumlah sesi bekam yang optimal belum dapat disimpulkan secara pasti, terapi dengan dua sesi atau lebih cenderung memberikan hasil penurunan tekanan darah yang lebih besar dibandingkan dengan satu sesi. Tidak ditemukan laporan mengenai efek samping serius dalam studi yang ditinjau. Dengan demikian, terapi bekam dinilai efektif dan relatif aman sebagai terapi tambahan atau alternatif dalam pengelolaan hipertensi.
PERSEPSI MUTU LAYANAN KESEHATAN PENGGUNA APLIKASI TELEMEDICINE PADA MAHASISWA KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO Tikupasang, Caltha Samanlangi; Tucunan, Ardiansa A.T.; Korompis, Grace E. C.
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.48681

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi persepsi mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi terhadap mutu layanan aplikasi telemedicine. Telemedicine, yang didefinisikan sebagai pelayanan kesehatan jarak jauh menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, mengalami peningkatan penggunaan yang pesat, terutama sejak pandemi COVID-19. Tren ini juga terlihat di kalangan mahasiswa yang cenderung melek teknologi. Oleh karena itu, evaluasi mutu layanan telemedicine di kalangan mahasiswa sangat penting, mengingat telemedicine merupakan solusi kesehatan yang semakin digunakan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan populasi mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi tahun ajaran 2024/2025 yang berjumlah 1.137 mahasiswa. Sampel berjumlah 100 responden yang ditentukan menggunakan rumus Lemeshow dan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner online menggunakan Google Form dan dianalisis secara univariat dengan distribusi frekuensi dan persentase. Penilaian dilakukan berdasarkan empat dimensi mutu layanan, yaitu efisiensi, pemenuhan, ketersediaan sistem, dan privasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memberikan penilaian 'baik' pada dimensi efisiensi (59%), dan 'cukup' pada dimensi pemenuhan (67%), ketersediaan sistem (56%), serta privasi (58%). Secara keseluruhan, persepsi mahasiswa terhadap layanan telemedicine cenderung positif, namun terdapat beberapa area yang memerlukan perbaikan, terutama dalam hal privasi dan aspek teknis, agar layanan telemedicine lebih optimal dan memenuhi harapan pengguna di masa mendatang.
HUBUNGAN ANTARA FREKUENSI KONSUMSI BUAH DAN SAYUR DENGAN DERAJAT DISMENORE PADA REMAJA PUTRI DI SMKN 4 SURAKARTA Fatahillah, Brilian; Isnaeni, Farida Nur
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.48712

Abstract

Dismenore merupakan gangguan menstruasi yang paling umum dialami oleh remaja putri dan dapat memengaruhi kualitas hidup serta aktivitas sehari-hari. Salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi kejadian Dismenore adalah pola makan, termasuk frekuensi konsumsi buah dan sayur yang mengandung berbagai zat gizi penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara frekuensi konsumsi buah dan sayur dengan kejadian Dismenore pada remaja putri di SMKN 4 Surakarta. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 57 siswi kelas XI yang dipilih menggunakan teknik random sampling. Data konsumsi buah dan sayur dikumpulkan menggunakan kuesioner Food Frequency Questionnaire (FFQ), sedangkan tingkat Dismenore diukur menggunakan WaLIDD Score. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 50,9% responden memiliki asupan buah dan sayur yang cukup, sementara 49,1% memiliki asupan yang kurang. Sebanyak 93% responden dilaporkan mengalami Dismenore dengan berbagai tingkat keparahan. Analisis statistik menggunakan uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara frekuensi konsumsi buah dan sayur dengan kejadian Dismenore (p=0,042; r=0,261). Dapat disimpulkan bahwa konsumsi buah dan sayur yang cukup berperan dalam menurunkan kejadian Dismenore, meskipun kekuatan hubungan berada pada tingkat korelasi rendah. Upaya peningkatan konsumsi buah dan sayur dapat menjadi langkah preventif dalam mengurangi risiko Dismenore pada remaja putri.